Monday, December 29, 2008

On addiction

I just finished smoking my last sampoerna cigarette. Oh my precious one! :-) Was sad but I intentionally finished my last pack, just before I start my reunion with mr. smoke-hater tomorrow. Oh well, I could always buy local fags.. or not, when I imagine the new life I could have here with kids and real "home" (this imagination sometimes terrifies me tho). But I am not worried, cos I am not addicted to fags. I could restrain myself from smoking for over two days, sometimes a week. Although I could smoke a pack a day sometimes. Sometimes for me it is also about proving to myself that nothing external controls me, I control myself. Yeah, ego. But hey, that's good for me, right? :-)

The other thing I like, which I could easily be categorised as an addict to, is alcohol. I love drinking alcohol. But I avoid drinking alone as much as I can although we have sometimes up to 10 bottles of different types and brands of alcoholic drink in the cupboard and some cans of beer in the fridge. Because drinking alone (too much) could easily lead to addiction. I do that sometimes, not for covering sadness but when I am enjoying my writing process and cigarettes. Another one is sex. No, I don't want to elaborate on this one :-), but this one inspired this post.

I watched a movie on tv last nite. The title is "Love Sick: Secrets of a Sex Addict". It's a true story. Call me naive, but it struck me that there is such thing as "sex addict clinic" just like those sanctuaries for drug and alcohol addicts. I googled it and there are interesting articles on bbc about how David Duchovny and Michael Douglas went to such clinics.

The term is not completely new to me, but I always thought it's only a justification. I remember a friend told me that he is a sex addict so that when his wife was pregnant for the first time and refused to have sex with him because she was too careful, he had to have sex with somebody else. What a crappy reason! (and I know that the "experienced moms" would respond to this post by saying that it is safe :-) I knew it, that's why I said it's a crappy reason :-)).

I do think it is about self-control. Well, unless you are "sick" like this woman in the movie who apparently started to have sex with her dad since she was five years old and thinks that that is the only way she exists and is loved. But other than that I think that person is either a sexual pervert or just cannot control him/herself and uses the term "addict" happily.

"Addiction" is about not being able to control yourself. There are people who have dark past, true, but I am of the opinion that some people are just lazy and do not want to work hard enough and could easily spend money to go to addiction clinics. And the rest are those who just use that justification to basically say that "hey I am an addict, that means I am sick, you know, so you have to understand me that I need to smoke/drink alcohol/have sex anytime I want." Ah, what an easy excuse!

[For me the answers are quite easy: chocolate and sport ;-)]

Ideologi

Komentar rbt (kayaknya di kompas) soal tulisan saya di buku kumpulan tulisan soal kebangkitan bangsa bikin saya agak ‘terguncang’. Ujarnya: “Tulisan b mengenai hukum berupaya mendeskripsikan muatan neo-liberal dalam konstitusi kita.
Yang jadi soal, setelah secara baik melancarkan kritik ideologisnya, b ragu-ragu menjejakkan posisi ideologisnya sendiri. Akibatnya, ia kemudian berpaku pada pandangan liberal mengenai hukum yang dikritiknya sendiri sebelumnya (hal 191).” Tulisan itu, oleh bung rbt, dikategorikan sebagai salah satu dari beberapa tulisan yang “tidak berhasil merumuskan dan menyajikan simpulan secara solid.”

Saya nggak mau berdalih dan menolak kritik ini. Kritik itu harus dikunyah, diresapi, dan ditelan; jadi energi baru, kemudian ampasnya kita buang di wc, plung, flushed! :-) Persis kayak makan lah, makanan sehat kan seringkali nggak enak :-). Soalnya, semakin banyak terpublikasi, akan semakin banyak kritik dan semakin besar kemungkinan orang nggak suka dengan kita. Seperti saya bilang pada si gendat: kalau mau selalu disukai orang, kita nggak akan pernah punya pendapat (itu gara-gara dia jerih menulis keras karena disindir dalam pertemuan-pertemuan). Ini salah satu hal berharga yang paling berat saya pelajari ketika memimpin peesahaka. Tidak hanya dalam beropini tetapi juga membuat keputusan (internal ataupun eksternal), kemudian dibenci (termasuk oleh kolega sendiri), digosipin, dihakimi (salah satu kelompok bilang saya "aktivis kolaborator asing sok sosialis" wakakak), atau disukai. Jangan dipikirin siapa yang bakal suka dan siapa yang bakal benci, keputusan harus dibuat cepat dan sikap harus disampaikan. Dan kadangkala keputusan dan opini itu salah, ya terima saja. Yang terbaik adalah belajar dari kesalahan sendiri. Bagaimanapun, menjadi “berani” itu tidak mudah. Saya masih terus menerus belajar sampai sekarang dan mungkin sampai kapanpun (baru aja ngomong sama didi soal ini). Itu sebabnya “doa” (baca: harapan) saya pada tiap jabang bayi kawan-kawan yang baru lahir via sms selalu: “semoga dia menjadi anak yang cerdas, berani, etc etc”. Orang bisa luar biasa pintar dan rajin, tapi kalau dia tidak “berani” berpendapat (verbal, menulis, beropini), maka barangkali otaknya lebih baik dibikin jadi gulai otak sama Hannibal Lecter.

Anyway, (seperti biasa saya menulis ngalor ngidul) maka saya mengorek tulisan itu di peti penyimpanan tulisan (yang sebagian tidak selesai..) dan ya, saya tahu. Saya memang selalu tidak pandai membuat kesimpulan. Sama, kritik keras bas ke tulisan saya soal reading the progress of law reform juga begitu. Saya juga seringkali tidak fokus. Terlalu banyak hal yang ingin saya sampaikan. Bercabang. Persis. Bang D juga bilang begitu. Bu V juga bilang begitu (gila, abstract tesis gw dicoret-coret total!!). Sama saja dengan ketika saya menulis blog. Saya selalu ingin mengungkapkan terlalu banyak hal dalam satu tulisan.

Tapi yang membuat saya terguncang adalah soal keragu-raguan saya untuk “menjejakkan posisi ideologis” saya sendiri. Ah! Dan yang membuat saya makin terguncang (dan agak terkapar) adalah: setelah saya membaca tulisan itu lagi, saya sadar bahwa rbt 100 persen betul!

Saya selalu mengklaim diri saya “agak kekiri-kirian”, tapi tingkah polah dan cara pandang saya seringkali sebenarnya liberal. Dalam banyak hal. Saya jadi sadar. Bahkan ketika saya pertama kali mencoba merumuskan sorelam untuk peeshaka. Astaga!

Saya kira saya seringkali menjadi liberal ketika saya harus pragmatis dan berbicara soal sistem politik yang ada sekarang. Tuh kan, justifikasi lagi hehehe (kawan-kawan di fi pasti terkekeh kekeh nih kalau saya curhat soal ini: “tuh kan gue bilang juga apa, mendingan elo gabung sama kita!”). Saya jadi ingat refleksi saya waktu diskusi sama didi soal ideologi. Saya bilang ke didi: where am I? ok, I’ll give an example. I support labor (labour!) movement conducted by my comerads, but what I could really get my hands on was when some of them actually came to me and asked me to lobby the parliament and policy makers on certain policies instead of actually organise the movement in the field." Ada nggak ya “pragmatic leftist”? Hehehe. Ah, malu deh gw sama hantunya Tan Malaka atau yang bikin film dokumenter soal revolusi Bolshevik yang barusan saya tonton.

Makasih ya bung rbt, udah nampar gue! hehehe

Saturday, December 20, 2008

Yang Datang Bersama Salju

Kamu menepis serpihan salju di rambutku
Lalu menepis salju di mukaku dan mengecup keningku
Lalu kamu menatapku lamat-lamat
dan aku menatapmu dalam-dalam
dan kita menghela napas
panjang dan berat
untuk sebuah kata yang mestinya tak pernah terucap

aku: “reality came with the snow, it bites in a strangely painful way: painful but beautiful”

kamu: “today the snow is melting, your sadness should be melting with the snow”

Lalu salju datang lagi
dan kita menjadi sedih
karena salju menandakan kepergianmu
dan perbedaan kita

Aku akan merindukan menatap salju turun
bersamamu
Aku akan menapaki jalan 22nd avenue tanpa kamu
dalam sedih yang harus kukunyah pelan-pelan
sampai ke 45 street

Akan kukatakan pada kucing tetangga:
“Sorry fat cat, our friend left us already”
dan aku akan berbagi kesedihan dengannya

Entah apakah kamu akan kembali
tapi salju selalu setia datang ke Seattle
dan kesetiaan itu yang tidak bisa kita raih
namun kita tahu kata itu tak perlu terucap
karena kita tahu
kita tidak setia seperti salju

Thursday, December 18, 2008

Every Sperm is Sacred

Didi showed me this and i think it is sooo hilarious so that I gotta put this on my blog :-). This is totally not pc but that is exactly why we like it, right? :-)

This is Monty Python's "Every Sperm is Sacred" taken from "Meaning of Life"

Sunday, December 07, 2008

On School Life

Yang ada di kepala saya minggu ini:

1. Pingin ujian. Didi lagi belajar tentang professional responsibility dan criminal procedure. Senin dan Kamis ujiannya. Saya lagi berusaha bikin komentar soal libertarianism yang ditulis oleh greg (manusia itu luar biasa pinter dan hard core libertarian) dan melanjutkan paper saya tentang the political economy of the rule of law. Lalu saya jadi kangen pada ujian. Saya kira terakhir saya ujian itu waktu autumn quarter di warwick...hmm... Desember 2001. Lama banget. Setelah itu di Warwick pun semua makalah. Di udub saya bilang saya nggak mau ujian. Saran pak bas juga begitu: just enjoy writing! Tapi melihat didi belajar saya jadi pingin ujian hehe sok banget ya. Ujian hukum itu menarik, apalagi di negara common law begini, sama kayak di Inggris. Banyak kasus yang harus dibongkar. Miranda rules, 5th amendment, 6th amendment. Akhirnya saya hanya menemani didi belajar dan jadi pendengar yang baik. Saya pingin belajar banyak soal sistem hukum yang berbeda-beda.

2. Kangen berbahasa Indonesia. Bukan berarti saya jagoan 'bahasa englan', tapi tentu saja saya (hampir) selalu berbahasa inggris di sini. Sebab (1) tidak banyak teman orang Indonesia; dan (2) waktu menelepon 'rumah' pun sama frank juga dlm bhs Inggris. Tidak banyak teman orang Indonesia, bukannya karena sombong, tapi sebagai graduate student pendatang baru dan bukan 'anak fullbright', I started on my own, try to make friends on my own (beda banget sama waktu jadi 'anak chevening'). Saya lebih sering sering bergaul sama graduate students dan professor-professor (that's why i can get here in the first place :-)); dan rada kurang gaul sama orang Indonesia karena kebanyakan anak-anak undergrad (makanya males ikutan Indonesian society di sini, terlalu banyak orang Indonesia, nggak kayak di Warwick yang sedikit tapi seru) dan anak gereja hehehe. Dan setiap saat sama didi tentu juga berbahasa inggris (lagipula dia sangat cute dengan logat amerikanya. Didi is so "typical" american, the way didi thinks, talks, eats, everything. That’s why I like hanging out with didi, i think didi is the cutest lazy ass I have ever met).

3. Menyerap logat amerika. Ya, saya mulai pakai z ketimbang s (e.g. 'realized' instead of 'realised', 'organization' instead of 'organisation'), menghilangkan ‘u’ dari ‘colour’ dan ‘neighbour’, menggunakan kata ‘pants’ ketimbang ‘trousers’ (buku catatan saya mengenai perbandingan kata british english dan american english saya tinggal di jakarta, tapi kayaknya nggak perlu, lebih seru ngobrol soal ini sama didi hehe…), mulai sering pakai kata ‘sucks’, ‘slacker’, ‘like’, dan mengubah ‘t’ inggris yang kental menjadi hampir seperti ‘d’. Frank bilang saya mulai terdengar seperti orang amerika (yang dulu sering kami cela), tapi didi masih sering meledek aksen saya yang tanggung. Susah deh. Dulu mengubah aksen american english dari film dan lagu ke british english, sekarang harus ganti lagi, termasuk ganti “spell checker” di msword supaya s jadi z dan o jadi hilang. Tapi ini hanya soal kepraktisan dan pergaulan :-), saya masih lebih memilih british english dan berusaha menjaga bahasa formal yang tentu saja diperlukan dalam jalur "akademik" ini (nggak kebayang kagetnya kolega2 professor kalau mendengar gaya berbahasa yang saya serap dari anak2 JD hehe).

4. Menyerap kebiasaan 'lokal': pulang bawa leftover food (karena porsi makan orang amerika selalu besar), bela beli online, bawa segelas kopi dari gerai kopi starbucks atau tully's atau seattle's best ke mana-mana, dan pakai ipod ke mana-mana (akyu mau iphone!!!). Yang tidak diserap: makan sambil jalan dan doyan minum soda.

5. Saya jadi semakin banyak jalan dan semakin jagoan naik bis dan keluyuran ke mana-mana sendirian (biasanya saya tukang nyasar). Berhubung frank belum datang, saya belum berani nyetir di sebelah kanan jalan :-) dan (supposedly) sibuk bikin paper, saya belum bikin sim. Tapi metro trip planner, google map, my nokia gps map bikin segalanya jadi mudah.

6. Seneng punya mainan baru: mendekorasi apartemen tua ini. Apartemen ini tua, makanya murah hehe.. maklum, saya nggak mau menghabiskan hampir seluruh stipend saya sebagai research assistant yang kecil ini hanya untuk rumah, jadi saya cari yang murah, asalkan bersih dan terang (terutama karena Seattle itu biru dan kelabu). Apartemen murah bisa jadi homy kalau kita menatanya dengan baik; tul? :-) So, saya jauh2 main ke IKEA dan main-main jadi tukang kayu, beli tivi, microwave, vacuum cleaner, kasur, water filter, dish dryer, toaster, rugs, kettle, shower curtain, comforter, bantal :-) segala macem tetek bengek - printal printil. Mulai dari titik nol. Capek juga wara wiri dan kedinginan menjelajahi Seattle ngisi apartemen ini, sendirian. Betul-betul sendirian, karena sempet ke Jakarta dulu mencari sesuap nasi :-), dan begitu balik lagi semua sudah sibuk; dan seperti biasanya saya nggak mau jadi beban dan merepotkan orang (and I knew this is doable anyway, the issue is whether you are lazy or not :-)). Maka saya menggendong barang berat-berat dari u-village, naik bis bawa barang segede bagong dari Northgate mall dan rumah Arlene, bolak balik ngurus social security number dan bank account. Pakai kehujanan pulak, biasa deh Seattle... Tapi seru! Enak malah, i'm in full control of my life :-), nggak tergantung sama siapa-siapa. Meski 4 hari pertama di sini tidur di sleeping bag-nya mbak evi (she’s great!), camping dan agak2 sempet kejepit2 dikit masang2 segala macem ini :-). Sekarang sudah lumayan nyaman. Bee the carpenter sudah beraksi :-) (bangga lho gue hehehe).




7. Lagi bikin rencana jalan-jalan dan makan-makan. Terutama setelah ujian dan sebelum didi pergi (untuk selamanya…) - lumayan 2 minggu (lalu kami menjadi sedih). Dan kemudian frank akan datang. Mungkin nanti saya harus ke rumah si monyet putih lagi di vancouver (terakhir ke sana 2002), sekalian liat killer whale dan singa laut dari boat menuju vancouver. Juga mau ke Chicago janjian sama Onic dan DC ketemu my dear miss K, ars, mw, mal, and my king of england. Seafood di seattle juga banyak yang belum dicoba mmhhh padahal salmon itu makanan favorit saya. Baru ke Cheesecake Factory (gara2 si "egg bird" :-) datang), O Asian Kitchen (sama anak2 PhD merayakan kelulusan hendri), Serafina (sama professor2). Dim Sum di Jade Garden di International District dan ‘warung’ seafood di sebelah flying fish di pike place market juga masih menunggu. Yummy, I’ll wrote more blog posts on my food blog after this exam week.




Mmmhhh.. ok, sekarang harus bikin paper dulu. I am a real slacker! hihihi

A Picture of a Girl with Men in the Background

[Ah sinting.. sinting… box ini...]

Baby, have you watched “before sunrise” and then “before sunset”? I know you only like “weird” movies, but you watch different kind of movies including cheesy ones, right?

Nope, I haven’t watched it. Why baby?

Nothing. I like the dialogues, strange that I sometimes think I can reflect my thoughts on the dialogue. It is like our dialogues. I like talking to you.

[H juga sms. Apa kabar, neng? Seperti biasanya. Jawab: Hey, gimana mas Kopi? Aku kangen mangga dan chaky (itu nama anjingnya)]

[Lalu saya teringat dia-dia yang lain. Yang ke Jakarta dari ujung Sumatera dan kehilangan kekasihnya. Dan satu makan siang yang terlewat sebelum Seattle. Dan sebuah email: hey, are you behaving in Seattle? Come to DC, love, I miss you so much.]

[Terima kasih, foto ini background nya sudah penuh dengan kalian semua. Percakapan-percakapan aneh ini adalah sebuah foto besar.]

Baby, don’t be a slacker. Stop playing with your facebook and blog and start writing your paper.

Yes, honey...

[Celine: I was thinking...
For me it's better I don't
romanticize things as much anymore.
I was suffering so much all the time.
I still have lots of dreams, but they're
not in regard to my love life.
It doesn't make me sad,
it's just the way it is.
Jesse: Is that why you're in a relationship
with somebody who's...
Celine: never around?
Yes, obviously, I can't deal with
the day to day life of a relationship.
Yeah, we have, you know,
this exciting time together
and then he leaves and I miss him,
but at least I'm not dying inside.
When someone is always
around me, I'm like suffocating!
Jesse: No, wait, you just said that
you need to love and be loved...
Celine: Yeah, but when I do,
it quickly makes me nauseous!
It's a disaster...
I mean, I'm really happy
only when I'm on my own].
(Before Sunset)

Tuesday, November 18, 2008

Mabuk, menurut wikipedia:
dalam pengertian umum, adalah keadaan keracunan karena konsumsi alkohol sampai kondisi di mana terjadi penurunan kemampuan mental dan fisik. Gejala umum antara lain bicara tidak jelas, keseimbangan kacau, koordinasi buruk, muka semburat, mata merah, dan kelakuan-kelakuan aneh lainnya. Seorang yang terbiasa mabuk kadang disebut sebagai seorang alkoholik, atau "pemabuk".
Menurut saya definisi itu kurang mantap. Mungkin begini:
kehilangan kesadaran dan kontrol atas diri sendiri sehingga melakukan hal-hal yang dalam keadaan normal tidak akan dilakukan. Dalam banyak kasus mabuk ditandai oleh muntah, misalnya mabuk kendaraan dan mabuk alkohol (catatan kaki: kata lain muntah adalah nembak atau jackpot atau apapun lah tergantung bahasa anak muda pada jamannya). Kalaupun bukan diri sendiri yg muntah, bisa jadi orang lain yang muntah atau paling tidak mau muntah alias "eneg". Misalnya mabuk kekuasaan bikin orang mau muntah. Kadang2 mabuk cinta juga begitu: bikin orang mau muntah kalau making out di tempat umum. Kadang-kadang juga eneg pada diri sendiri karena jadi norak
Jenis-jenis mabuk:
1. mabuk alkohol
2. mabuk cinta
3. mabuk kekuasaan
4. mabuk kendaraan ("darat, laut, dan udara," kata iklan antimo)

Akibat-akibat mabuk: melakukan dan mengatakan hal-hal yang nggak perlu. Mabuk alkohol: bangun-bangun sakit kepala (hangover total), kadang2 kaget ada manusia lain di samping (kalau kata Djenar Maesa Ayu), paling enggak waktu mengingat-ngingat apa yang terjadi, langsung bilang "oh sh*t! what have i done last night?!", nepuk jidat sendiri sampe sakit, kadang2 jedot2in pala ke tembok. Bangun, jalan sempoyongan cari aspirin karena kepala sakit banget (apalagi kalo nepuk jidatnya terlalu keras), bangunin orang di samping, dan di kamar mandi menertawakan diri sendiri atas kebodohan yang dilakukan (mabuk dan gila memang tipis bedanya - dan kebanyakan mabuk bisa bikin gila).

"sh*t! why the hell there are cigarette butts near the wide open window of this non-smoking apartment and dismantled fire alarm on the sofa? ummm, sorry baby, I don't have aspirin"

Thursday, October 09, 2008

Reaksi Atas Perbedaan

Sambil makan cherioos dengan Arlene tadi pagi, kami bicara soal osi, pidato arlene di levlib, dan ekstrimisme agama. Banyak hal yang sudah kami diskusikan sebulan ini tentang p, ekstrimisme, pak dan, buku, pak yap, dan segala macam, namun sekarang saya hanya ingin berbicara soal reaksi terhadap “budaya”, kultur baru yang dihadapi seseorang.

Ini sebenarnya sesuatu yang sering saya pikirkan, terutama ketika berefleksi mengenai diri sendiri. Soal apa reaksi saya ketika menghadapi perbedaan budaya, cara berpikir, gaya hidup, dan lain sebagainya. Saya termasuk orang yang beruntung karena sering menghadapi perbedaan-perbedaan dalam hidup saya. Ketika sekolah di inggris, perjalanan-perjalanan ke berbagai belahan indonesia dan dunia, dan bahkan hidup dengan seseorang yang punya latar belakang yang berbeda. Tapi saya tahu bahwa banyak orang yang punya situasi serupa. Namun reaksi mereka begitu berbeda.

Secara sederhana barangkali kita bisa membagi reaksi ini menjadi tiga. Pertama, menelan kultur baru mentah-mentah, menyerap dan menirunya tanpa saringan. Bahkan memujanya tanpa melihat kultur asli. Lari ke titik ekstrim budaya baru. Kedua, defensif, sehingga justru menutup diri dan lari ke titik ekstrim budayanya sendiri. Ketiga, menerimanya, menyesuaikan, mengeksplorasi, dan mencoba beradaptasi dengan tidak melupakan kultur asli. Mencoba mengambil yang baik dari kultur baru dan belajar dari sisi buruk kultur itu. Saya, mudah-mudahan, ada di kelompok ketiga. Tapi saya tidak hendak berbicara tentang saya sendiri. Saya ingin bicara soal kelompok yang defensif.

Beberapa orang (dan kawan) yang saya tahu justru bersikap “defensif” terhadap masuknya kultur baru. Mereka jadi menutup diri dan membangun benteng pertahanan yang kokoh supaya diri mereka tidak tertindas dan terbawa oleh budaya asing yang begitu merusak (menurut mereka). Contoh konkritnya adalah kawan-kawan orang Indonesia di beberapa kota yang saya kunjungi yang hanya mau kumpul dengan orang Indonesia, membuat mesjid Indonesia sendiri yang tertutup, hanya makan-makanan Indonesia (kalau kata si uni, sekolah di amerika atau eropa tapi jaketnya bau terasi hehe karena ga pernah keluar dari apartemen kecuali untuk kuliah dan ke perpustakaan, dan masak dan makan juga di situ aja). Akibatnya pulang dari luar negeri, berlawanan dengan ekspektasi, mereka tidak berbahasa Inggris dengan baik, tidak terbuka pada perbedaan pemikiran, dan dalam hal agama justru jadi lebih “ekstrim”. Barangkali sama dengan si “pemuda kupu-kupu” dalam Bilangan Fu-nya Ayu Utami.

Saya selalu menghormati pilihan orang. Namun saya menyayangkan perilaku defensif ini. Untuk apa? Mengapa perbedaan jadi begitu menakutkan? Saya belum pernah riset soal ini, saya yakin ada penjelasan-penjelasan sosiologis, antropologis, ataupun psikologis tentang ini. Tapi dari permukaan saya kira kebanyakan hal ini terjadi justru karena mereka tidak percaya diri mengenai kulturnya sendiri. Tidak percaya bahwa dirinya sebenarnya punya pijakan yang kuat pada kulturnya. Atau pada ranah agama, ada kepercayaan yang kuat dan berlebihan. Right or wrong it is the religion I believe in. Seperti sikap kawan saya yang bilang “agama tidak bisa dipertanyakan”, titik! Mungkin sama dengan salah satu alasan tumbuhnya salah satu kelompok “moslem brotherhood”: sebagai sikap defensif.

Buat saya, justru perbedaan-perbedaan ini yang membuat saya semakin merasa bahwa akar budaya saya begitu indah. Itu sebabnya saya begitu mencintai keluarga saya, kawan-kawan nongkrong saya, anak-anak kantor, keragaman di Indonesia, keragaman agama. Justru ketika saya sudah dihadapkan pada situasi di mana ikatan keluarga hampir hilang dan masyarakat yang (buat saya) tidak memiliki “kultur” tradisional. Apa yang saya miliki menjadi terlihat lebih indah dari sebelumnya.

Orang-orang yang defensif itu, kemudian biasanya cenderung menjadi penuh “prejudice”. Tidak “adil sejak dalam pikiran” kalau menurut Pram. Penuh dugaan dan penghakiman. Dugaan kadang kita perlukan untuk kewaspadaan. It can be a matter of survival. Tapi bila dugaan menjadi penghakiman, prejudice, saya kira ia jadi menjijikkan. “Naker orang” kalau kata anak-anak isjapokal.

Penghakiman dan sikap defensif ini juga kemudian bisa menumbuhkan sikap anti-diskusi dan anti-eksplorasi. Si X itu yahudi, maka dia harus dibenci dan uang dari dia tidak boleh diterima! Apa iya semua yahudi itu mendukung “israel”? Apa iya semua yahudi itu pembunuh? Apa iya semua yahudi itu pasti menyumbang untuk membangun tanah yang dijanjikan dan mengusir orang palestina dari situ? Apakah dengan demikian orang lain juga menjadi berhak mengatakan bahwa semua orang Islam di Indonesia adalah teroris seperti presumsi dunia barat pada umumnya? Pak Dan dan Arlene, dua orang yahudi yang saya cintai, bukan pembunuh, anti-pengusiran orang palestina, dan mencintai p. Oh well, secara kultural mereka yahudi, namun mereka agnostik. Namun orang yang prejudice biasanya akan gagal melihat hal-hal ini karena mata dan kesadaran mereka sudah tertutup oleh benteng yang dibangunnya sendiri.

Jadi Arlene, jangan kuatir dengan pidatomu di levlib setahun yang lalu yang bicara soal akar yahudi pak Dan. Saya yakin, kawan-kawan p adalah orang-orang yang bisa menerima perbedaan. Kalaupun ada yang punya potensi sebaliknya, saya yakin ada kultur keterbukaan yang sedang dicoba dibangun di sana.

Tuesday, October 07, 2008

Hari burung

Di facebook saya si dimas bilang "Selamat hari burung" (Bird Day). Saya nyengir bacanya. Ya saya ulang tahun hari ini. Jadi? Nggak ada yang spesial. Bukan karena saya di Seattle. Tapi "hari burung" itu biasanya saya pakai buat momentum refleksi dan menikmati kehangatan persahabatan dan kekeluargaan. Sama seperti momentum lebaran.

Saya akan menikmati setiap sms dan telepon yang saya dapatkan dari kawan-kawan. Sekarang juga ucapan selamat di facebook :-). Kecil sekali, tapi hal-hal kecil seperti itu yang biasanya membuat saya bahagia.

Sebab, apa arti ulang tahun anyway? Waktu masih kecil pingin punya pesta ultah yang seru dengan undangan yang ada tulisan "tiada kesan tanpa kehadiranmu" dan goodie bag yang ada kue kecil-kecil dengan bunga warna warni di ujungnya. Waktu remaja pingin pesta di diskotik (wakakak, norak!). Waktu lagi demen-demennya naik gunung ingin ada di puncak gunung saat ulang tahun. Banyak betul kepinginan! Tapi semakin tua rupanya kita bisa semakin berpikir, apa sih arti ulang tahun. Ya itu cuma momentum untuk menikmati hari yang istimewa. Saat di mana semua orang tiba-tiba merasa perlu untuk memberi ucapan dan doa. Nggak lebih dari itu. Dan justru itu yang membahagiakan.

Bahkan, dari segi waktu pun relatif sekali. Waktu saya di Inggris ulang tahun saya 8 jam ketinggalan. Di sini ulang tahun saya 14 jam ketinggalan. Ada beberapa sms hari burung yang masuk pada saat di Seattle masih tanggal 4 Oktober :-). Sweet, beberapa sms dari kawan lama juga masuk.

Hari ini saya hanya makan siang dengan ats dan arlene di grand hyatt seattle. Great food and good wine :-). Selamat hari burung buat saya!

Sunday, October 05, 2008

Kremasi

Waktu saya mati nanti, saya mau dikremasi.

I talked about this with Frank at one point, when we talked about “belief”, as usual (we share many thoughts about beliefs). We concluded that we want to be cremated after death. And I came across this conversation again with Arlene just now, as she found an interesting article on New York Times about a fight between Hindus and Moslems in a neighborhood about how a son of a Hindu-mother and a Moslem-father should be treated after death, burn or bury? Apparently this article reminded her about Dan's cremation. She asked me why were many people surprised when she told them that Dan was going to be cremated. Interesting.

I answered: because it is rare in Indonesia to have a “choice” on how you want to be treated after death. And they know that Dan was “officially” a Jewish, so he should have been buried. In Indonesia generally one does not choose; the religion (your family, your community) does. It is given. You don't question it, you don't alter it. Just like in that little neighborhood of Islamic community in New York.

I remember at one point I discussed a similar topic with gepede over ym. It was actually about whether or not to have religion written in our KTPs. Although she agrees on the right to privacy, she said in the end for her it is about how she will be treated if she dies somewhere when nobody knows her. How would the caretaker of her corpse know how she has to be treated: that there should be the special Islamic prayer for the death and that she has to be buried in special ways. I was surprised at that time (of course she could not see me so she might not realise how surprised I was :-)), to realise how that thing matters to her, which means this also matters to many other Indonesians, whereas it never occurred to me at all. When I die, I die, there would be a deadbody, without soul, without brain, i will become just a "thing" in the world, just like a dust.

Yup, this is about belief. Whether or not you believe in life after death. I am an agnostic and I think more about practicality. I don’t want, for example, my family to be burdened to pay a rent for my grave and feel guilty if they don’t take care of my grave (cabutin rumput, bikin nisan yang bagus, ngasih bunga, ziarah tiap sebelum puasa dan setelah lebaran). Well, I always hate to be a burden to other people, especially when I am dead! :-) what’s the point? It is not fair for them. Just remember me (or not) for what I have done, good or bad.

But this does not mean I feel burdened with religion. Not at all. I love “religious rituals” because of its amazing cultural, psychological and community-binding effects. I love lebaran, I like taking care of my grandparents graves, I like facilitating people who want to pray (whatever religion). Because I think religion is an amazing phenomenon and I respect people who believe. And in return I only want people to respect what I want, which is to be cremated after death. I think it’s ecological friendly, too. Also, I will not waste 1x2 m2 for my dead body while many people are homeless and need land for their lives. And I hope my family will not fight among themselves because of this (ge-er banget yak hehe).

Friday, September 26, 2008

Idung Dingin

(H)idung saya sudah mulai dingin di sini, di Seattle. Musim gugur, autumn, atau fall kalau kata orang amerika, sudah mulai minggu ini. Belum terlalu dingin sebenarnya, tapi idung saya sudah dingin. Idung yang menjadi dingin adalah indikator temperatur (serta musim dan ketinggian) yang paling pas buat saya.

Kalau badan dingin, kita bisa langsung pakai baju hangat atau tutup selimut rapat-rapat. Kalau kaki dingin, kita bisa langsung pakai kaus kaki. Tapi kalau idung yang dingin gimana?

Saya selalu punya dilema ini. Sejak belum pernah ke luar negeri tapi naik gunung tinggi-tinggi yang udaranya dingin sehingga idung ikut menjadi dingin. Waktu di Cireme gerombolan pendaki gunung sruntulan (pakai jeans dan bawa gitar! haha; itu namanya “galatuping” kalau kata cholid: gabungan lelaki tukang kemping) pakai koyo di pucuk idung. Tapi saya nggak suka karena idung hangat sebentar setelah itu terasa lebih dingin. Bisa juga ditutupi selimut ketika tidur, seperti kawan saya, tapi nanti nggak bisa napas dong. Dilema dilema.

Idung dingin mengingatkan saya pada pendakian-pendakian gunung. Kedinginan dalam hujan di kerinci yang pertama (sotoy banget cuma berdua ke kerinci di umur 17 dan unexperienced) bakar-bakaran karena dingin dan luka kena percikan bara api di hampir puncak slamet, idung berkoyo di cireme, dingin dan gotong nayi di salak, dingin yang indah di gede, dan lereng semeru. Semua pendakian yang menyenangkan itu.

Idung dingin juga mengingatkan saya pada dingin di Inggris: malam-malam seru di Warwick dengan anak-anak warwick dan tahun baru yang dingin di London sama kabrut-kabrut. Juga pada malam minus dua derajat di Wiston House itu.

Begitu lama saya tidak memiliki kemewahan untuk merenung dan menengok ke belakang. Hingga saya merasakan idung dingin ini.

Idung dingin sebenarnya adalah memori. Rasa yang mengingatkan saya pada suatu ketika, suatu konteks. Seperti bau. Seperti musik.
Pada suatu saat dimana kita berhenti.
Memandang ke belakang.
Dan memberi salam.
(Mesra tetapi sayu).
Masa lampau adalah seperti mimpi.
Terlupa dan berat menarik ke belakang.
(Soe Hok Gie)

Tuesday, September 02, 2008

Berpisah (sementara) dengan buku

Kemarin dan hari ini saya membereskan barang-barang di kantor saya. Pindahan. Niatnya, saya ke Seattle hanya membawa buku tentang Indonesia. Buku lainnya saya pasti bisa cari di sana. Tapi saya punya banyak sekali buku. Sebagian bisa saya tinggal di Lev Lib. Sebagiannya lagi saya kira ingin saya simpan. Tapi di mana? Problemnya di rumah mama-papa tidak ada kultur membaca yang kuat. Maka mereka seringkali tidak tahu cara merawatnya. Dan saya tidak mau memaksa mereka merawat buku saya, bukankah mereka sudah merawat saya selama puluhan tahun? Cukuplah. Saya tahu buku-buku lama saya di sana berjamur dan sebagian hampir busuk :-(.

Yang ditinggal di Lev Lib, mudah-mudahan dihargai dan bermanfaat. Saya kuatir, sebagian anak-anak kantor agak mulai jarang baca buku. Tenggelam dalam pekerjaan yang teknis sekali. Saya juga dulu sering begitu: tenggelam dalam pekerjaan yang teknis dan jarang membaca buku kecuali untuk dikutip. Jarang baca buku sastra. Tapi kemudian saya menyadari bahwa membaca buku selalu penting untuk merangsang sel-sel otak. Baca buku itu penting. Meski cuma cerpen. Baca blog juga mungkin nggak apa-apa :-). Tapi harus baca. Jalinan kata-kata dan rentetan logika (meski kadang tidak “logis”) adalah mind gym.

Saya tidak mau bilang buku-buku saya semua bagus. Ada sebagian yang saya beli untuk dikritik, ada lagi yang dikasih orang, dan ada juga yang memang saya ternyata tidak suka setelah dibeli. Tapi semuanya itu gudang ilmu! Saya tidak mau memberi nilai pada buku, kecuali tentang suka atau tidak sukanya saya. Orang yang bisa menulis buku itu sudah suatu hal. Orang yang tidak menulis sama sekali hanya akan meninggalkan tulisan pada nisannya. Itupun mungkin akan terhapus suatu saat. Atau digusur. Itupun kalau punya nisan. Tapi orang yang menulis berarti meninggalkan pemikiran. Baik atau buruk itu urusan berikutnya.

Kemarin siang tiba-tiba saya sedih. Tidak dibuat-buat dan kegenitan. Memang betul-betul sedih harus berpisah dengan buku-buku saya. Meski untuk sementara. Dalam diam saya pelan-pelan menyusun buku-buku di boks sembari termenung. Sedih karena ada kemungkinan orang lain mungkin tidak menghargai mereka. Mungkin hanya akan ditumpuk di sudut perpustakaan. Karena somehow semua anak pshk sibuk, saya tahu banyak buku yang ditumpuk begitu saja di sudut-sudut perpustakaan. Padahal sungguh mati, sebagian besar tinggal disusun di rak karena sudah diberi nomor dan dikatalog sejak lama, karena sudah mulai dicicil.

Karena semua anak pshk sibuk, saya kuatir tidak akan ada yang pernah menyentuh mereka. Saat ini Ole sedang menumpuk mereka di kardus dan menutupnya dengan selotip rapat-rapat. Mungkin maksudnya untuk proteksi. Tapi hati saya teriris setiap mendengar sobekan selotip itu. Entah sampai kapan buku-buku itu akan ada di boks…

Saya seperti orang tua yang ragu apakah orang-orang tua baru yang akan mengadopsi anak-anak saya akan menyayangi dan merawat mereka. Guys, if you read this, please please take good care of them…

Different

Why I am a bit “different” with many friends (context: I am an Indonesian woman living in Jakarta):
  1. I don’t like talking about cooking and husband
  2. I hate aerobics but I love swimming, hiking, scuba diving, and wall-climbing. (I also hate fishing and playing chess)
  3. I don’t sing in karaokes
  4. I don't know the names of the new sinetron stars and which are getting divorce etc.
  5. I drink beer or vodka tonic rather than cappucino or ice lemon tea in bars (well, i think that's why they are called bars...)
  6. I liked hanging out and “nongkrong” with male friends at dirty corners of the streets more than hanging out having coffee and gossiping with female friends at cafes in shopping malls. Some good male friends used to say there were three genders in b: male, female, and me :-)).
  7. I don’t pray and I am not into religion. I respect all beliefs and respect people who believe in religions and being consistent with the beliefs (footnote: consistent in a way that the assumption is all religions are for peace and humanity)
  8. I think cockroach should not exist at all and should be killed
  9. I think polygamy is wrong but cheating is understandable (treespotter, this is the answer to your question)
  10. I don’t believe in fortune telling
  11. I genuinely like “rebels”, but men with “position” are always interesting
  12. I hate the fact that in most Indonesian families men must sit with men and talk about politics and the world and women must sit with women and talk about cooking and children. And I make statements about that (and for that I am strange)
  13. I hate the fact that in traditional occasions men should be separated with women (even in marriage ceremonies! Well, not in mine!)
  14. Frank and I arranged my own wedding (no panitia, no penjemput penghulu, no pagar bagus and all those crazy stuff, c'mon, it's supposed to be a party!) and for that my aunts think I am a freak
  15. I liked hiking and traveling more than learning how to cut chicken and meat properly. Now I regret it a bit, I should have balanced it, esp. with making a good sambal :-)
  16. My husband is the cook of the house. Some friends think I am crazy and my mom and I think I am lucky :-)
  17. I hate indonesian idols, american idols, and all idols thingy in the world.
  18. I don’t watch TV everyday (footnote: I did live without TV for a year!). And I think sinetron is a brain cell killer.
Well, I may not be quite different, am I? :-) But I did change a lot! I now pay attention more to my skin, body, home. And I spend quite much time to check out clothes, shoes, accessories, and make up. Like the stereotype :-). I will change more I think, the society corrupts :-). No, I sure will, esp. when I have a child. It is differences that make people learn to live the real world. Sure. But the reason why I wrote this is that being different makes me uncomfortable sometimes, when I have to be in a situation where i have to behave like how women "supposed to be". But most of the times I don’t care :-)

Wednesday, August 27, 2008

Curhat Insomnia

Belakangan ini saya uring-uringan dan sering tidak bisa tidur. Insomnia saya kembali. Barangkali karena dua minggu lagi saya pergi. Ada tiga hal penting yang akan saya tinggalkan. Pertama, kekasih-kekasih saya. Kedua, kehidupan, jaringan, dan hidup saya di sini. Ketiga, papa, mama, dan chandra (dan mas ari).

Papa, mama, chandra saya letakkan di nomor tiga, seakan saya tidak sedih meninggalkan mereka. Padahal sebenarnya saya sedih. Siang itu di taxi, setelah makan siang bersama sh, dr, dan rb, bohir-bohir itu, saya menitikkan air mata. Cengeng betul. Sepele alasannya, sembari makan, mereka tanya soal keluarga saya. Saya bilang keluarga saya biasa saja, boro-boro ada yang s3, paling top ya s1, apalagi yang sekolah di luar negeri. Saya bilang lagi (ah, cerewetnya saya!), papa cuma pegawai negeri lulusan d3 dan pns biasa yang sudah pensiun, mama cuma ibu rumah tangga lulusan sma. “wow, they must be proud of you”, kata rb. Well yeah, jawab saya, that’s the only thing I can do for them, to make them proud and happy, they are just ordinary people, they are not rich, they are not public figures, they don’t speak english. Saya senyum: sedih, tapi juga bangga pada mereka. Tidakkah mereka hebat, bisa membuat saya yang kalian beri award dan kalian beri uang saku buat sekolah? Mereka orang biasa, tidak kaya, bukan priyayi, bukan tokoh agama, tokoh adat, apalagi tokoh masyarakat, pendidikan juga standar saja. Namun justru karena itu saya bangga jadi anak mereka.

Tapi itu membuat saya jadi ingat mereka dalam perjalanan pulang. Di taxi, sendirian, saya menitikkan air mata. Saya tahu mereka bangga, tapi juga sedih luar biasa. Saya tahu dari mata papa. Dan mama nangis di telepon waktu saya ingatkan saya mau pergi. Lalu saya sok tegar dan bergurau, meski sebenernya juga dengan air di sudut-sudut mata saya.

Kadang saya merasa saya sok tahu dan takabur tentang mereka. Merasa bahwa mereka bangga dengan saya. Mungkin saja bangga, tapi sebenarnya belum tentu mereka “bahagia”. Bangga dan bahagia adalah dua hal yang berbeda. Saya dan mereka punya cara pandang yang berbeda. Saya berbeda. Berbeda dengan banyak orang di dekat kami. Saya tidak “beragama”, saya tidak kawin dengan orang seagama, saya belum punya anak, saya jarang ke acara keluarga besar kami. “Saya pikir” mereka bangga, tapi sangat mungkin saya salah. Karena cara berpikir saya berbeda, dunia saya berbeda.

Lalu hidup saya. Ya, hidup saya. Yang akan saya tinggalkan ini adalah sebuah kehidupan yang sangat menarik. Saya berkeputusan untuk pergi persis ketika saya berada dalam posisi yang mengasyikkan. Bisa jalan ke aceh sampai papua - kenya sampai london, bisa di grand indonesia dan main becekan di desa. Bisa bilang a, b, c ke pejabat-pejabat, bisa ngomong x, y, z di forum-forum, bisa ngoceh d, e, f di koran-koran. Tiba-tiba saya harus meninggalkan puluhan tawaran pekerjaan, puluhan pekerjaan menarik, dan ratusan kawan. Bledug!: ujug-ujug, semua harus saya tinggalkan. Tidakkah saya aneh? Ketika sebagian kawan cari popularitas, sebagiannya lagi ke partai, sebagian jadi konsultan berkantong tebal, sebagian membangun keluarga: saya pergi sekolah.

Lalu kekasih-kekasih saya. Ya, kekasih-kekasih saya.

Saya menghibur diri, menghibur diri, dan menghibur diri. Tapi mungkin sebenarnya saya gagal menghibur diri saya. Nomor dua, saya kira, adalah alasan utama kegundahan saya. Nomor satu dan tiga itu cuma karena cengeng, sok romantis, manja, dan jumawa.

Tapi keputusan selalu mengandung konsekuensi. Saya sudah berkeputusan meninggalkan "comfort zone" saya: tempat di mana saya hidup yang hanya tinggal menjalani dan membuat pilihan-pilihan kecil. Sebuah kenyamanan (dan karir) yang saya tinggalkan untuk menghadapi ketidakpastian. Ya, ketidakpastian: setelah ini saya mau apa? Tahun depan saya dapat uang sekolah dari mana, apa bisa saya dapat bea siswa tahun kedua, ketiga, dan seterusnya? Apa saya bisa membangun keluarga di sana? Apa frank akan bosan menemani saya sekolah? Bagaimana keluarga saya di sini? Apakah kalau saya pulang nanti kawan-kawan saya masih menjadi kawan-kawan saya? Apakah kalau saya pulang nanti pshk masih ada dan berjuang (bukan ada sekadar ada). Apakah keputusan saya benar? Soe Hok Gie bilang di pangrango: hidup adalah soal keberanian menghadapi tanda tanya, terima dan hadapilah! (Ah, saya juga akan merindukan pangrango! Seperti saya akan merindukan matahari sepanjang tahun, sawah hijau bertumpuk, dan bulir hujan besar-besar.)

*This blog is rarely being a diary. This is rubbish. Cuma karena lagi cengeng, maybe my pms :-)

Saturday, August 09, 2008

N

Apa bedanya “PEMIMPIN” dan “PEMIMPI”?

Sebuah huruf: N.

Namun barangkali sebenarnya keduanya tidak berbeda. Pemimpin adalah pemimpi yang mengajak orang-orang lain bermimpi sama dan berupaya mewujudkannya. Pemimpin bisa membuat para orang-orang menjadi pemimpi-pemimpi dengan mimpi yang sama dan bekerja untuk mewujudkan mimpi itu. Dan pemimpi bisa menjadi pemimpin bila ia bergerak dan bisa mengelola impian menjadi kenyataan.

Kita tidak perlu bicara soal pemimpin “besar” seperti Sukarno, Ketua Mao, Sultan Agung. Pemimpin buat saya adalah orang yang bisa membuat orang-orang bergerak mencapai tujuan tertentu. Siapapun dia. Bisa ketua kelas, ketua acara tujuhbelasan, ketua panitia, pemimpin rapat keluarga, sampai pemimpin besar revolusi. Dan metode dan strategi adalah soal lain. Dia bisa partisipatif, bisa diktator, bisa menindas, bisa memberdayakan, bisa lemah, bisa kuat. Tapi pemimpin adalah pemimpi dengan huruf n. Mungkin n untuk “nekad”, tetapi bukan “naif”. Bisa juga n untuk “niat”, tetapi bukan “nafsu”.

Tetapi pemimpi belaka tidak akan bisa menjadi pemimpin. Saya punya teman yang saya rasa semakin lama sepertinya semakin menjadi pemimpi. Tanpa n. Dia pergi ke arah yang sangat bertolak belakang dengan saya. Namun mungkin dia memang memilih untuk tidak menjadi pemimpin. Atau memilih untuk menjadi pemimpin bagi keluarganya atau dirinya sendiri. Apapun, saya tidak ingin mempertanyakan. Karena semua orang punya pilihannya masing-masing, saya selalu percaya itu. Yang saya kuatirkan, dia tenggelam dalam impiannya. Pemimpi yang tenggelam dalam impiannya persis seperti orang yang tenggelam di laut. Lama-lama dia akan mati.

Dan barangkali saya juga tengah menjadi seorang pemimpi. Tanpa n. Dan saya merasa hampir mati.

Monday, July 07, 2008

Aku = Syeitan!

Ini nggak masuk akal saya. Foto-foto yang saya unggah di sini. Ada sebuah lembaga pendidikan, ya, lembaga pendidikan, lembaga pendidikan Islam negeri pulak, yang menyatakan bahwa berbusana adalah cara ampuh untuk menegakkan syariat Islam. Saya bukan ahli soal Islam, pun bukan peneliti atau pengamat relasi Islam dan negara atau apapun; tapi sebagai orang biasa yang mencoba logis dan punya Islam sebagai kultur, saya tidak setuju bahwa syariat Islam bisa ditegakkan semata dengan simbol-simbol macam jilbab, baju, dan sebagainya. Kasihan sekali Nabi Muhammad bila syariat Islam hanya diterjemahkan sesederhana itu. Syariat Islam itu dalam pandangan saya adalah sesuatu yang jauh lebih luas. Ia adalah hukum yang lebih berfokus pada keadilan dan kesejahteraan daripada sekadar mengajarkan cara berpakaian.


Foto-foto ini ini saya ambil waktu main ke kantor kawan di Lhokseumawe. Sebuah brosur lembaga akademik Islam negeri yang langsung menarik hati saya dan pastinya langsung saya foto! :-) Menambah koleksi foto "aneh-aneh" saya :-). Dan yang membuat gelengan kepala saya lebih keras adalah sanksi yang bisa dijatuhkan pada seseorang yang tidak berpakaian seperti yang disyaratkan. Apa hubungannya urusan akademik dengan pakai jilbab? Sampai bisa dikeluarkan hanya karena tidak pakai jilbab?? Juga: ada apa dengan jeans? Apa yang salah dengan bahan pakaian bernama jeans. Jeans memang panas, kalau lagi terik saya juga menghindar pakai jeans, tapi kenapa jeans dianggap "melanggar syariat Islam"?

Kebetulan saya lagi membuat tulisan pendek tentang konflik sistem hukum di Aceh dan review tentang suatu program di Aceh. Artikel pendek itu nggak jadi-jadi karena saya malah disibukkan oleh pemikiran soal legal pluralism versus constitutionalism and human rights principles (inilah repotnya kalau ada agenda yang ingin diadvoksikan pada tulisan akademik). Tapi gara-gara dua pekerjaan ini saya semakin banyak menemukan hal-hal yang bikin saya tertawa, geleng kepala, dan mengerenyitkan dahi. Soal kelakuan dan pemikiran "aneh-aneh" ini.

Dengan upaya keras saya untuk menjadi lebih obyektif dan akademis, saya mencoba menempatkan diri saya dalam posisi mereka. Masalahnya memang ideologis, sehingga tawa saya ataupun gelengan kepala saya pasti akan bisa diberi bantahan oleh para pendukung "kegilaan" (maaf, menurut saya ini masih "gila" :-)) ini. Tapi memang ada kebijakan politik yang salah di sini. Salah bukan karena ketidaktahuan, tapi karena ada politik yang memang sengaja digunakan untuk menjaga "NKRI". Kebijakan politik ini kemudian dicaplok saja oleh elite yang tentu saja diuntungkan oleh cara pandang ini.

Foto-foto ini dan segala yang saya pelajari tentang Aceh dan syariat Islam ini mengingatkan saya pada film (dan buku) persepolis, kite runner, dan Charlie Wilson's war. Saya bergidik melihat bagaimana cara berlari Marjan Satrapi pun dijadikan bahan teguran oleh polisi di Iran (meski itu cuma komik :-) tapi kan dari true story..) dan merinding waktu melihat bagaimana orang-orang dirajam sampai mati sembari ditonton di lapangan sepak bola di film kite runner. Saya kira itu semua bukan "propaganda barat". Ada hal-hal di media dan lain-lain yang propaganda barat, namun bukan yang ini. Hampir serupa, pelanggar "syari'at Islam" di Aceh dicambuk di depan khalayak setelah sholat Jumat. Yang kaya bisa bayar denda, yang miskin ya dicambuk. Dalam laporan ICG akhirnya beberapa pemuda penjudi di dalam beberapa pertunjukkan cambuk menjadikannya sebagai ajang unjuk kekuatan dengan melambaikan tangan kepada "penonton". Memang dicambuknya tidak sekejam film-film itu, batasan rotan dan rincian lainnya pun lumayan ketat di Aceh. Tapi kan dari sini jadi timbul pertanyaan: jadi deterrent effect-nya mana? Ini kalau mau menjadikan sanksi hukum sebagai cara untuk mendapatkan efek jera. Tapi itulah, kalau mau menggunakan syariat Islam cara pandangnya memang lain. Ada yang pandangannya rigid untuk membagi hukuman ini berdasarkan yang hudud dan yang ta'zir. Ada juga yang lebih "lunak" untuk mendorong saja diterimanya hukuman cambuk dan menyesuaikannya dengan konteks kekinian dan mencari prosedur dan efek yang lebih baik. Namun saya semakin bergidik membayangkan hukuman untuk pencurian dan lain-lain bila kelompok "garis keras" yang menang.

Saya hanya kuatir Aceh akan jatuh ke perangkap simbolisme Islam yang sama. Sayang...

Oh well, jalan masih panjang, baru (hampir) 3 tahun sejak MoU Helsinki. Di banyak daerah pascakonflik lainnya, peacebuilding bisa berjalan puluhan tahun. Lihat Irlandia misalnya. Saya kira hal yang sering membuat saya bisa bertahan dengan Aceh (lepas dari segala keluhan saya sendiri yang senada dengan banyak kawan saya) adalah konteks pascakonflik ini. Saya pun baru bisa masuk ke konteks ini setelah banyak buku dan artikel saya baca mengenai konflik dan peacebuilding.

Tapi bagaimanapun, barangkali saya adalah syeitan untuk kelompok-kelompok pendukung simbolisme Islam ini. Begitu saya menemukan foto ini di laporan proyek access to justice undp, saya copy dan judul file foto itu di laptop saya (si Iteung) adalah: "Aku=Syeitan" :-)).

No, I was not angry or sad or concerned when I first saw this pic. My first reaction was: laughing out loud :-)) I think it is hillarious! Haven't they realised that they are making fool of themselves?? :-))

Wednesday, June 18, 2008

Sobat

Saya punya teman baru yang sebenarnya tidak baru. Kami sudah saling mengenal agak lama. Dan yang jelas saya sering membaca tulisan-tulisannya meski belum berhasil mendapatkan novelnya yang paling baru.

Di sms dia sering menulis namanya dengan sebuah singkatan namanya yang mengingatkan saya pada kata “sobat”. Maka kita panggil saja dia “Sobat”.


Dia terkenal, tapi saya baru mengenalnya dia yang sebenarnya hanya baru-baru ini. Kami berada dalam suatu rombongan (“rombongan sirkus” istilah saya pada anak-anak kantor) yang pergi ke Amerika untuk suatu program. Dia terkenal dan saya sangat membenci lembaga yang sekarang dia pimpin. Maka saya tidak pernah benar-benar “berteman” dengan Sobat sampai kami berada dalam rombongan sirkus itu.


Tapi ternyata berbincang dengan dia sangat menarik. Kami bisa berbincang mengenai berbagai soal. Mulai dari etik protestan, weber, marx, revolusi, peradaban, wayang (yang saya tidak paham), sampai john wayne. Dan dia pun mendengar. Menyenangkan. Saya merindukan teman bicara seperti dia. Saya suka ketemu mas A karena mas A juga bisa bicara banyak dan mendengar. Ada kawan-kawan yang bicara banyak hal yang menarik namun tidak mendengar.


Mendengar dia berbicara, melihat dia berpikir, dan berdiskusi dengan dia membuat saya berpikir bahwa kami adalah manusia-manusia yang sejenis: kebanyakan berpikir dan berpikir melompat-lompat. Tapi dia jauh lebih baik karena dia bisa menuangkan pemikirannya dalam tulisan-tulisan yang bagus. Kolom mingguan di koran ternama, novel-novel, cerpen dan puisi. Bandingkan dengan saya dengan blog posting yang penuh cabang cerita dan tulisan yang seringkali logika alurnya bisa dipertanyakan :D


Saya ingin menulis tentang dia barangkali karena saya cemburu. Cemburu dalam arti kagum dan berkeinginan untuk bisa memiliki kemampuan yang (hampir) sama. Sama halnya dengan orang-orang di sekitar saya yang saya ceritakan di sini. Yang pasti orang-orang yang membuat saya menghabiskan waktu untuk menulis post di sini adalah orang-orang yang menarik.


Dia menarik karena bacaan dan daya ingatnya luar biasa. Dia bisa mengutip syair-syair penyair dunia ternama sampai perkataan orang-orang terkenal. Dan bisa menirukan gaya tertawa John Wayne di salah satu filmnya. Dia menarik karena kepribadiannya yang sangat sederhana walaupun dia sebenarnya luar biasa. Dia menarik karena bisa menulis dengan indah. Dan dia menarik karena dia mengaku punya rasa minder yang terus menerus dilawannya, sama seperti saya.


Dalam salah satu perbincangan dia punya konklusi, yang masih kami perdebatkan, bahwa yang seharusnya dilakukan adalah pembangunan peradaban. Bukan reformasi. Bukan revolusi yang luar biasa seperti Revolusi Oktober di Rusia. Ini menarik dan intriguing buat saya yang lagi kebanyakan mikir.


Sobat yang saya kirimi buku, saya cari novelnya. Sobat yang suka meniru tawa john wayne. Sobat yang suka curhat pada saya. Sobat yang suka bilang “paten” atau “mantap” atau menggali kata-kata aneh ketika berbincang dengan saya. Sobat yang mendorong saya kuliah dan jadi dosen di mana-mana supaya dia bisa diundang bicara ke luar negeri. Sobat yang berusaha keras mengajak saya berpikir soal hubungan hukum dan budaya. Sobat, dia sangat menarik. Mudah-mudahan dia terus menjadi Sobat – dan juga sobat saya.

Cheating Confession

I am back! After my (another) crazy travelling experience: Banda Aceh-Jakarta-LA-DC-New York-Dallas-Jakarta-Bali-Banda Aceh-Lhokseumawe-Takengon-Bener Meriah-Meulaboh-Banda Aceh-Jakarta in a month.

Now here I am, back to crazy but lovable Jakarta. But I am still working on something else, not yet fully back to the office. “Kejar setoran” for Seattle as si uni teased me this afternoon. I need it, uni, not only the money but the experience. I have been learning a lot and reading a lot for the last three assessment/evaluations I did. Information flows like crazy into my brain. It’s tiring, but I love it. I like the moment where I talk to different people, digging stories from them, share experiences and noted down some interesting facts and anecdotes (that I can never remember in my tiny brain unless if I write them). I always wanted to tell the office kids about this crazy feeling, but I think it is just my thing – not many people can understand this crazy feeling. I think I am a nerd. Also, I keep my mouth shut as I think I have been too cerewet to them, as if I am confirming the post-power syndrom myth.


Post power sydrom to me it’s a myth. It’s about being less busy that hurts, not being less powerful. So long as I can make myself busy I do not mind being “no one” – I am someone to myself and people around me as they are to me. I think life is too beautiful and too worthy in its details to be regarded only in power, money and so forth.


So, yes, I am happy with many report/paper deadlines (as usual) to catch, networking plan to do, personal/ family admin stuff (passports, banking, apartment buying, family dinner, widhy giving birth) to take care of, catching up and socialising meet ups to arrange, and future life in Seattle (or Leiden) to plan and to dream about.


I have also been reading books and articles, many of them. And as usual, apart from the short stories collection book, I have not finished the reading the books :-). I have been jumping from one book to another, back and forth, like crazy. As crazy as I am with distractions and dynamics and variations. Like my travelling, my different groups of friends and exploring life hobbies.


So I have sooo many things in my mind. They are crawling, jumping and running around in my small brain like crazy while I did not have time to write them. You can see the result as you are reading this, right? :-D. This post has too many side stories and no focus. Oh well, I don’t know what actually I wanted to write, I just thought I need to kick start. I have stories in my mind, waiting to be written, some are already even being drafted in my brain. So some posts below that you might have read, or you will read, were actually written long after I experienced it, i.e only after I wrote this one! :-) I lied on the date of posting :-) sorry.. lucky that blogspot has that cheating facility.

Tuesday, June 17, 2008

Aku = kolonialis

Tadi malam saya begadang karena nggak bisa berhenti baca catatan harian Hasan di Tiro 1976-1979: The Price of Freedom. Saya "menemukannya" di internet, download aja kalau mau. Pascakonflik bapak-bapak bin mudah-mudahan udah males bongkar-bongkar ip address orang dan cek siapa yang download buku ini.

Begitu membuka 10 halaman pertama, saya jingkrak-jingkrak (literally! malam itu saya lompat-lompat keliling rumah) girang karena saya menemukan istilah untuk diri saya (selain syeitan): saya adalah "javanese-Indonesian colonialist"! Saya kira jingkrak-jingkrak itu (saya jadi teringat restoran Mbah Jingkrak yang namanya sudah ganti jadi "anglo") sebenarnya karena saya excited membaca catatan harian itu. Ya, serupa dengan pandangan Pram yang juga menyebut orang-orang "pusat" ini "jawa-Indonesia." Dan "kolonialis" pulak, seru! :-)

Memang selama puluhan tahun, mulai dari cara berpikir, skema pemerintahan (desa, melalui UU 5/1979), sampai dengan cara nyogok itu semuanya dibentuk berdasarkan cara-cara orang Jawa. Maaf buat yang orang Jawa. Saya tidak berbicara soal ras, tapi pemaksaan penggunaan kultur secara sistemik. Saya pun punya seperempat darah Jawa (tengah, buyut saya dari Purworedjo) dan seperempat darah Jawa Barat. Makanya saya=kolonialis! :-)

Tapi saya kepincut betul pada buku harian itu. Yang ditulis dalam bahasa Inggris yang baik, meski ada kesalahan cetak sedikit-sedikit. Tapi saya cukup kagum membaca perenungan dan pemikirannya. Termasuk ketika perayaan 17 Agustus. Dan ketika ia harus meninggalkan anaknya yang ketika itu masih berumur 6 tahun, seorang istri, dan bisnis yang cukup berhasil di Amerika Serikat, untuk sebuah kepercayaan atas sesuatu yang sesungguhnya absurd: bahwa dia ditakdirkan untuk menjadi pemimpin untuk masyarakat Aceh.

Kelihatan betul bahwa Hasan di Tiro adalah seorang intelektual yang memiliki akar tradisi dan pijakan yang kuat (mungkin sebenarnya: romantisme) pada sejarah keluarga dan masyarakat Aceh. Intelektualitasnya terlihat dari pemikiran-pemikirannya. Menarik bahwa salah satu momentum yang membuatnya mantap untuk masuk hutan di pedalaman Aceh dan meninggalkan hidupnya yang nyaman di New York adalah ketika secara tak sengaja matanya tertumbuk pada bukunya Nietzsche, "Thus Spoke Zarathustra." Dikutipkannya bagian yang menggugahnya saat itu:
I am a wanderer and a mountain climber.... And whatever may yet come to me as destiny and experience will include sane wandering and mountain climbing: in the end one experiences only oneself. The time is gone when mere accidents could still happen to me; and what could still come to me now that was not mine already? What returns, what finally comes home to me, is my own self and what of myself has long been in strange lands and scattered among all things and accidents. And one further thing I know: I stand before my final peak now and before that which has been saved up for me the longest. Alas, now I must face my hardest path! Alas, I have begun my loneliest walk! But whoever is of my kind cannot escape such an hour - the hour which says to him:"Only now are you going your way to greatness! Peak and abyss - they are now joined together... One must learn to look away from oneself in order to see much:this hardness is necessary to every climber of mountains. But you wanted to see the ground and background of all things; hence you must climb over yourself - upward, up until even your stars are under you!".. dan seterusnya.

Ya, pada sebuah toko buku di Fifth Avenue di New York tiba-tiba dia menemukan bagian dari sebuah buku yang membuatnya memutuskan untuk ke hutan.

Di hutan dia memobilisasi orang, menuliskan propaganda dan pemikiran, membangun sebuah angkatan perang yang mampu bertahan selama kira-kira 30 tahun. Luar biasa seseorang bisa mempunyai kekuatan semacam itu. Mungkin agak mirip dengan Che, meski tentu berbeda ideologi dan metode perjuangan. Tapi kharisma dan kekuatan untuk membangun itu semua buat saya selalu mengagumkan. Apalagi dengan catatan-catatan kemanusiaan yang dituliskan serta wisdom tentang menjadi seorang pemimpin yang mengenal dan menyayangi anak buahnya sebagai manusia.

Dan semakin mengagumkan ketika pada 2005 akhirnya dia mau menyetujui MoU Helsinki. Setelah perjuangan itu! Lepas dari segala spekulasi soal senjata yang masih disimpan dan segala macam, tapi seorang pejuang IRA yang sama-sama memberi pelatihan peacebuilding di Aceh ketika itu bercerita pada saya betapa luar biasanya sebuah angkatan perang yang bersedia menyerahkan senjata dan nama anggotanya dan mengubah pasukannya menjadi civilian group (meski masih banyak kritik dan tantangan, tentu saja, peacebuilding selalu lama dan penuh kerikil). Membaca catatan harian ini serta banyak artikel tentang perang di Aceh dan membandingkannya dengan cerita bagaimana Hasan di Tiro dan Malik Mahmud berunding di Helsinki dalam buku Farid Husain dan Hamid Awaludin dan ketika saya menarasikan transformasi gam ke partai aceh membuat saya takjub.

Sejak banyak menangani isu Aceh saya banyak baca soal perjuangan "negara Aceh-Sumatera ini". Sudah banyak penelitian soal mereka, enak, saya tinggal baca dan bikin catatan sedikit-sedikit :-). Sama seperti ketertarikan saya pada Irlandia (I LOVE Ireland, with the St. Patrick's day, shamrock, guinness, U2, the Cranberries, hill of slane, dublin etc etc), Che, Kuba, Zapatista, dan kemerdekaan Indonesia tentunya :-), saya kira saya tertarik pada resistensi dan perjuangan kemerdekaan. Kepercayaan yang begitu besar pada sebuah gagasan tentang kemerdekaan yang bisa menjadi enerji penggerak luar biasa sangat mengagumkan buat saya. Dan yang lebih mengagumkan adalah adanya orang-orang yang mampu menggerakkan orang-orang lainnya berdasarkan gagasan ini. Mereka adalah pemimpin sejati!

Pemimpin-pemimpin kecil adalah pemimpin untuk gagasan, tujuan, misalnya pada sebuah visi tentang pshk atau visi tentang peradilan yang lebih baik, atau visi tentang Indonesia tanpa Suharto pada 1997-1998. Tapi pemimpin memang akan selalu berbeda dengan "manajer". Don't you think so? Pemimpin adalah seseorang yang mampu mendorong perubahan untuk suatu gagasan. A "leader" could be a bad manager and a manager is not necessarily a "leader."

Friday, May 30, 2008

Kabur

Mungkin belum banyak yang mengetahui bahwa nama tengah Benny K. Harman (anggota dpr, mantan aktivis NGO) adalah "Kabur." Lucu ya? One can say: Kabur is his middle name, which is true literally. But my middle name is not Kabur, in fact I don't have any middle name, well I don't even have a last name :-). Tapi saya kabur dari media massa selama sebulan belakangan ini. Juga beberapa tawaran ceramah. Saya lebih selektif. Saya menolak tawaran 2 profiling (saya memang selalu menolak profiling kecuali untuk tujuan p) dan hampir 10 wawancara termasuk 2 talkshow. Tapi ada yang mengganggu tadi malam.

Kawan penyiar yang menyebalkan bertanya tadi malam, mengesankan adanya popularitas yang menurun karena saya muncul di tivi semata karena kedekatan saya dengan beberapa penyiar dan produser. Well, kawan: pertama, tampil di tivi dan koran itu bukan tujuan hidup saya; itu adalah cara untuk mencapai tujuan kerja saya yang perlu banyak advokasi termasuk mobilisasi opini publik. Karena itu saya tidak peduli saya masuk tivi atau tidak. Kedua, saya tersinggung berat karena seakan kualitas opini saya dipertanyakan dan kemunculan saya hanya karena saya dekat dengan orang-orang tertentu; do you really think the media readers/watchers are really that stupid? I do have qualities to deal with those issues! Ketiga, anda tidak paham bahwa semua ini saya sengaja.

Sengaja? Kenapa? Kabur is not my middle name, tapi belakangan ini saya memang lebih senang bersembunyi saja. Sudah tiba saatnya anak-anak p lain muncul ke permukaan dan akan sulit bagi mereka untuk tampil kalau saya terus menerus membayangi. Saya percaya bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa melahirkan pemimpin-pemimpin baru. Agak berat karena terus terang saja tingkat kepercayaan saya pada orang lain sangat rendah dan benih-benih kesombongan dan takabur (bukan "kabur") lumayan besar dalam diri saya :-)

Please deh, jangan sangka nongol di media itu "hobi" saya. Saya bukan selebriti (memang tipis batasan antara komentator politik/hukum dan selebriti :-)). Diwawancara jam 12 malam, dibangunin jam 6 pagi untuk wawancara. Lagi makan malam sama ff, ditanya soal dpr. Lagi jalan santai pake celana pendek dan tank top di seminyak, ditanya soal putusan mk. Lagi pertemuan keluarga, ditanya soal kejaksaan. Lagi membahas bunga yang mau dipake di kawinan, ditanya soal komisi 3 dpr. Lagi jalan-jalan beli baju di mall, ditanya soal aceh. Lagi main sama ponakan di family gathering di puncak, ditanya soal dpr. Dua hari lagi mau kawin masih bikin media briefing. Do you think it's fun?? Dan sebenernya capek lho otak kita kalau lompat-lompat membahas berbagai topik dalam 1 hari karena topik wawancara yang berbeda-beda. Lama-lama memang itu semua bisa dinikmati karena itu adalah salah satu cara untuk mendorong masukan kita, itu adalah bagian dari pekerjaan, bukan tujuan. Bodo amat saya mau ada di tivi atau enggak atau dikutip di kompas atau enggak. Yang saya kuatir kalau masukan kami nggak dikutip di media.

Jadi, aduh kawan A, maaf ya, saya pengen tampar wajah ayumu itu tadi malam.

Monday, May 19, 2008

Bad Luck with Flights

I think I have bad luck with flights.

In many occasions, it was only because I was just too crazy playing with time and last minute (but very sweet..) rendezvouses. But I stopped that game ;-). I am better with time management. Really. I don't know whether it's "the german influence" :-) or I just realised (finally) that it is better to manage my time than dealing with the stress.

Once in a city in Indonesia (I think it was Medan) I arrived okay but the check-in lady was extremely slow so that 3 people including me were late and she actually denied our check in. We complained and complained as annoying as we could be.. and finally she got us in the next flight without additional fee. Well it was HER fault! But the stress was bad for my health - I could feel it.

Last week in Banda Aceh. I was late as I had my last interview at Pendopo at 4pm (and my flight was at 5.40pm) and I had not picked up my luggage at the hotel. The driver drove like crazy and I was very stresses. Then he took over a fortuner, succesfully, until the fortuner chased us and actually stopped us! It's apparently a car of a snobbish police officer. We had to deal with him. And then I ran (literally) to the check in. And. worse thing happened: they messed up my booking because I changed my schedule too many times! They got me in the next morning flight. I was stressed so that I wanted to cry as I have 3 meetings in the morning. The stress was bad for my health and my professional life - I could feel it. I canceled had to cancel and made my evening better by meeting old friends. But losing 12 hours was bad, couldn't catch up with my work the next day as I had to leave for another trip the day after.

In Hanoi September last year. The organiser mixed up my schedule with Malaysian Air, while I actually flew SQ. I was late and the check-in lady again denied me and there is only one flight per day Hanoi-Sin. There are other companies going to Sin but it was too late. So I had to stay another night in Hanoi. I was stressed because of the feeling of being stranded in a city I am not familiar with. The stress was really bad to my health - I could feel it. But then Tina took me to the chocolate buffet at Sofitel Hanoi. Chocolate always works for me :-D

Now: I am stranded here at LAX. Great, the organiser mixed up my schedule. I left my hotel at 10am (LA time) and here I am at 5.48pm and have to wait until 10pm to fly to DC. My "rombongan sirkus" already left at 12.50. Bad. Bad. Bad. The stress is crazy - I could feel it.

I wonder how can I cope with the stress I had in this kind of situation plus the Jakarta traffic plus the deadline-passing stress and I am still alive?? I am alive!

On my effort to be more positive and become a better person :-), since 2 days ago I promised myself not to say outloud that "I am tired" or "I am stressed" or anything like that to avoid influencing my brain so that my body would be affected. But now? Oh well, I was stressed and I passed that stage already, I guess.

Thursday, May 15, 2008

Abu Solong

Saya belum pernah ketemu Abu Solong. Hanya dapat sedikit cerita tentang dia minggu lalu. Sayangnya si narasumber tidak tahu nama aslinya. Katanya, dia dipanggil Abu Solong karena dulu dia berkongsi dengan orang China bernama Solong untuk membuat sebuah warung kopi pada 1974. Nama warung kopi itu sebenarnya Jasa Ayah, di Ulee Kareng, Banda Aceh. Tapi kita semua menyebutnya "Solong".

Saya tidak mau bercerita soal kedai kopi Jasa Ayah alias Ulee Kareng alias Solong, sebab sudah banyak cerita tentang itu. Coba aja di-google dengan kata kunci "kopi solong" atau "ulee kareng", banyak cerita yang agak romantik soal warung kopi itu. Nggak tau kenapa :-). Buat saya kedai kopi itu tidak romantik. Asik, tapi bukan romantik. Stop soal itu karena nanti saya malah jadi romantik :-). Cukuplah dibilang tempat itu tempat di mana (hampir) segala jenis orang yang ada di Aceh kumpul-kumpul, tempat di mana pertukaran
gosip, proyek, wawancara, informasi, berlangsung dengan cepat.

Pernah ada beberapa feature mengenai si kedai kopi, tapi agaknya belum pernah tentang si Abu. Abu Solong punya sepeda tua. Sama dengan dirinya yang sudah tua, meski tentu sepedanya tidak setua dia. Abu Solong berhasil mempertahankan kedai kopi itu sejak jaman DOM, DM, dan tsunami. Sekarang dia menyuplai kopi untuk beberapa kedai kopi lainnya, yang dikelola keponakan-keponakannya. Di Banda Aceh misalnya ada warung taufik (sekarang ada 2, yang baru di Lam Dingin), Cek Yukee (the river side coffee place :-)), dan smea. Bubuk kopinya pun dia jual bebas (sebagai penggemar kopi, menurut saya bubuk kopi yang kita olah sendiri berbeda rasanya dengan on-the-spot-brewing) dan laku keras karena ketenaran "kopi ulee kareng" (website-nya belum jadi: http://uleekareng.com/). Sekarang dia juga menjual kaos bertuliskan "Solong Coffee, since 1974" dengan gambar biji kopi besar-besar.

Abu Solong sudah sukses. Kedai kopi melegenda, bubuk kopi disuplai ke kedai-kedai lain, dijual kilo-an, dan diekspor. Tapi sepeda tuanya masih setia, entah masih digunakan atau tidak. Saya ingin berkenalan dengan Abu. Sayangnya kawan-kawan ngopi yang masih rajin justru tidak kenal dia. Harus dengan aktivis-aktivis senior yang dulu suka diusir Abu Solong dan ngumpetin sepedanya. Saya ingin berkenalan dan mencatat hidupnya dan kopinya.

Things I want to do

Have you ever thought about other types of job you want to do? Maybe when you think different paths of life you could have taken. But no, I am talking about other jobs I would like to do when I want to totally change my life :-)
  1. Swim trainer for kids (but I only want to do it in the afternoon, my skin is dark enough!)
  2. Kindergarten teacher (though I realised I need a certification, but I don't mind to be a teacher trainee)
  3. Party planner (like David Tutera)
  4. Fashion adviser (not that my fashion taste is perfect, but I enjoy commenting on how people dressed :-))
  5. Mountain Climber

Hhmm.. what else? There were more, but I can't remember them now

Monday, April 21, 2008

Office

What can make me angry at the office:

  1. If a colleague only does things without actually THINKING about it. He/she only does things so that the deadlines are fulfilled, without thinking thouroghly what is the impact and how to make the impact bigger. How can a researcher work like this?? Brain is our means of production!
  2. If a colleague disagrees with me but never talks to me in person. He just did not do what I asked him to do and then asked for “protection” from the other colleagues. You should stand up for what you believe, man! Don’t be such a coward.
What do I do when I get angry? I don’t yell that loud, I don’t slap, I would tell the person, raise my tone and simply never trust that person anymore.

For the second case, I actually have not forgiven him, I am very very disappointed at him and continuously angry at him, for I believe I had been very kind to him and tried to do my best to understand him. But as I always say to my self: I cannot afford being angry at someone. It’s just a waste of time and energy, especially that he is not around anymore. So, everytime I think about it I just think that he’s a loser that does not deserve my energy and time.

I am having the first and a bit annoyed.

For me my work is my life and I believe I can do something useful in my life and therefore I work usually all out and full of concentration and passion. I guess it is the disappointment that I cannot deal with.

Ratu Semut

Di Gorontalo saya menemukan hal-hal baru dan info yang menyenangkan (dan seperti biasanya lelaki-lelaki aneh dan menyebalkan).

Info asik: bagian depan dari nama depan saya ternyata berarti "semut" dalam bahasa Gorontalo. Jadi di sana kawan saya memanggil saya Ratu Semut.

Info asik lainnya: ikan nike ternyata punya kelakuan yang sama dengan ikan salmon: dia ikan hulu tapi pada waktu tertentu setiap bulan (mungkin karena gravitasi bulan), dia akan melancong ke laut dan kemudian kembali ke hulu dengan ukuran yang sudah sedikit besar (sebesar2nya ikan nike..). Sebagai penggemar perkedel nike saya kira info ini asik sekali :-)

Hal asik: saya makan somasi. Tepatnya: ikan somasi. Asik kan? :-) Mas RM girang banget waktu ketemu saya di sana dan hampir memaksa saya makan ikan somasi. Saya pun ikutan excited. Bukan hanya karena saya penggemar ikan, tapi karena namanya! :-) (Am I a freak lawyer or what? :-)). Maka saya makan ikan somasi di restoran ester. Ternyata memang enak! Badannya dibakar dan kepalanya dimasak menjadi kuah asam. Luar biasa nikmat! Penasaran, saya google "ikan somasi", ini nama
"lokal". Ternyata dia adalah sejenis ikan "black bass". Ikannya besar! kami berlima tidak mampu menghabiskan badannya (well, we also ate very fresh and crunchy grilled squid and "jagung pulo").

Many other interesting things and info I found out. These are things I like when travelling.

Saturday, March 08, 2008

Princeton

Sial amat. Ini hari terakhir saya di Princeton: hujan dan luar biasa dingin. Sore ini saya cuma bisa minum kopi di Starbucks (!), pas di depan gerbang kampus yang indah ini. Saya hanya sempat membeli dua buah buku, lalu terpaksa berhenti di sini karena hujan terlalu deras.

[From: http://www.lamirageinn.com/images/a-princeton-university2.jpg]

Tapi menarik juga duduk sendirian di bangku tinggi di pinggir jendela, minum kopi sembari menatap kampus tua yang indah di depan saya di sela-sela rintik hujan yang selalu saya suka. Melihat orang lalu lalang, kotak-kotak penjual koran, kampus batu bata tua dengan menaranya, pohon meranggas, dan bangku kayu di depan saya.

Saya ke sini untuk workshop tentang Constitution Writing. Saya kira saya mengambil keputusan-keputusan yang tepat untuk 3 forum terakhir – keputusan yang agak sulit karena ada sekitar 6 seri acara dan banyak sekali acara-acara kecil pada saat yang bersamaan dan saya harus memilih dan berakrobat. Siap-siap membaca ini: 3 feb saya berangkat ke lombok-waingapu-bali sampai 24 feb (ya, 3 minggu), sehari di kantor dengan semua jadwal pertemuan dipadatkan untuk satu hari, 26 feb ke Hanoi sampai 1Maret. Malam sampai di rumah, 10 jam kemudian, 2 Maret pagi sekali saya berangkat lagi ke bandara untuk berangkat ke London, lalu ke acara conference di Sussex selama 3 hari, tanggal 5 nya, sehari sebelum conference di Sussex selesai, saya terbang dari Gatwick langsung ke Newark untuk ke sini, Princenton. Nanti malam, jumat jam 11 malam saya akan pulang, melewati dateline sehingga saya baru akan sampai di Jakarta Minggu pagi. Saya harus langsung ke brunch dalam rangka ulang tahunnya M (pasti akan luar biasa jetlagged, tapi nggak enak lah sama DZ). Senin akan jadi hari yang hectic lagi karena itu adalah salah satu dari hanya dua hari dalam 2 bulan ini di mana saya ada di Jakarta. Lantas malamnya saya harus ke Makassar sampai tgl. 17 Maret. Capek nggak bacanya? :-)

… dan masih ada kemungkinan saya harus langsung ke papua dari Makassar untuk 3 hari, kemudian pulang dan menginap semalam di rumah terus langsung ke Aceh untuk 3 hari. Papua mungkin masih bisa batal, mudah-mudahan :-). Saya ingin istirahat di Aceh, istirahat? Di Aceh? Mana mungkin? Hihi. Yah, let’s just say I want to be spoiled there ;-)

But anyway, sore ini saya merasa keputusan mengenai jadwal saya itu tepat semua. Saya pusing sendiri juggling on my schedule Januari lalu, dan Uki ikut pusing karena dia yang harus telepon sana sini, bantu urus visa, dan urus tiket sana sini (‘ma kasih Uki…. you’re the best!). Namun setelah semua upaya maksa-maksain jadwal dan persiapannya dilalui dan saya menjalaninya, saya menikmati sekali semua perjalanan ini. Saya harus membuat banyak paper dan presentasi untuk ini semua, tapi saya belajar luar biasa banyak.

Di sini, Princeton, refleksi saya kebanyakan soal kemampuan akademik saya dan masa depan saya. Di sini saya tidak harus menyiapkan paper. Awalnya saya bingung juga, unusual, saya selalu bikin paper dan power point untuk forum-forum yang saya ikuti (makanya tulisan saya banyak, saya membiasakan diri seperti ini karena dengan cara inilah saya jadi belajar terus dan nggak “basi” seperti beberapa “selebriti-akademisi” yang saya kenal). Tapi saya pikir, toh kalau mau bicara konstitusi Indonesia semuanya ada di kepala saya. Yang membuat deg-degan adalah karena saya tahu dari awal siapa saja yang akan ada di sini.

…and here I am, with my gurus. Pengalaman yang luar biasa. Saya.. diskusi dan ngobrol dengan Yash Ghai, dengan Kim, dengan orang-orang yang selama ini tulisannya selalu saya kagumi! Rasanya sama seperti waktu saya pertama ketemu Stephen Gill di LSA Meeting di Vancouver atau diskusi sama Mark Tushnet di World Bank Workshop di DC. Yah, kalau mau dibandingkan, rasanya sama waktu saya duduk di belakang Iwan Fals dan Tora Sudiro di pesawat kali ya, bedanya, saya nggak diskusi sama mereka berdua :-). Mungkin sama dengan ABG ketemu idolanya. Begitulah rasanya. Cuma jaim dooong hehe… sembari tetap menyatakan: “Glad to finally meet you in person, I have been reading your work and admire you.” Belakangan “si Yash” malah akrab karena dia jadi merasa pernah satu almamater (Warwick, walau dia pergi 2 tahun sebelum saya sekolah) …dan dia mau mengkopi PSHK untuk Nepal!

Saya jadi ingat tujuh tahun lalu waktu saya untuk pertama kalinya harus presentasi dalam international conference di ANU. Dan bagaimana pengalaman dan pengetahuan saya berkembang setelah itu. Lalu saya berpikir soal masa depan saya. Soal kehidupan yang akan saya jalani. Saat ini saya sangat menikmati hidup saya pasca-DE, yang lebih banyak difokuskan pada penelitian, menulis, dan memberi pelatihan, serta konsultansi untuk beberapa lembaga internasional. Saya sangat menikmatinya. Namun Agustus nanti saya harus meninggalkan ini semua. But maybe for better (yes?). Tanpa jaringan seperti ini dan sekolah lagi saya akan tetap berada di pinggiran lingkaran ini. Saya memang sudah ada di sini, tapi saya butuh advancement, kan?

Saya juga butuh lingkungan yang bisa membuat saya berkonsentrasi lebih baik dan banyak menulis di jurnal-jurnal internasional. Sudah lama saya berpikir: saya harus jadi bagian dari sedikit orang indonesia yang bicara dan menulis tentang Indonesia dalam bahasa Inggris. Bila tidak, saya akan makin sering berada pada posisi dongkol atas tulisan-tulisan yang dibuat oleh orang asing yang tidak akurat atau dengan data dan opini saya dari namun tanpa referensi yang memadai. Bukannya saya “nasionalis-sempit,” tapi sedih juga melihat banyaknya orang Indonesia cerdas yang tahu betul “kondisi lapangan” di Indonesia sementara kualitas tulisan berbahasa Inggris mengenai hukum Indonesia sangat minim karena Indonesianis di bidang hukum setelah Pak Dan sekarang rata-rata hanya kerja di belakang meja sehingga kualitas tulisannya rendah. Cukuplah SB dan TL menulis hal-hal tidak tepat mengenai hukum indonesia.

Saya harus menulis. Upen, Pak Dan, etc pernah meminta saya menulis di jurnal internasional. Tapi semuanya terbengkalai karena kerja-kerja di Jakarta. Waktu saya ngobrol dengan Christina Murray (I always think she’s cool, I knew her from 2001-2002 amendements), saya jadi sadar bahwa saya sudah luar biasa banyak menulis soal DPD dan amandemen misalnya (asli banyak, mungkin selain saya hanya Farli yang sudah menyadari hal ini, anak-anak yang lain mah mana peduli.. :-)), tapi semuanya dalam bahasa Indonesia. Sementara sama sekali belum ada referensi bagi dunia internasional yang komprehensif mengenai itu semua. Christina janji akan “memaksa” saya menulis dan mengoreksi tulisan saya. Mudah-mudahan kali ini saya berhasil.

Di forum ini saya merasa seperti di “rumah”. They are my kind! :-) makhluk-makhluk aneh sejenis saya. Yang bisa bicara begitu passionate tentang referendum, drafting, konstitusi, dan begitu banyak soal yang mungkin terdengar membosankan untuk sebagian orang. Semua yang ada di sini adalah constitutional lawyers atau political scientists yang mendalami soal konstitusi. Mereka pernah membantu membuatkan atau setidak-tidaknya memberi advis dalam pembentukan konstitusi di hampir seluruh dunia. Kenya, Afrika Selatan, Nepal, Fiji, Vanuatu, Thailand, Bolivia, you name it! Diskusinya luar biasa bermutu (tanpa bunga-bunga seperti beberapa kawan di Tim 9 yang suka bicara bunga lebih banyak daripada isinya :-)).

Terlalu banyak yang bisa saya tuliskan di sini, namun saya akan berhenti di sini saja. Saya luar biasa excited. Bukan hanya karena sel-sel kelabu otak saya dirangsang secara luar biasa 2 hari ini, tetapi juga bagian lagi di dalam benak saya berpikir: saya mau ke mana sebenernya? Mungkin seperti Yash dan Christina? Ngajar di kampus, menulis, dan konsultasi. Yah, sebenernya hampir persis dengan yang saya lakukan sekarang, hanya saja saya mengajar di pelatihan-pelatihan belaka dan bicara di berbagai forum sebagai akademisi-peneliti, tidak mengajar di kampus :-) oh well, if no campus in Indonesia wants me, I might as well be like Upen and Yash who has been teaching all around the world and framing constitutions and legal institutions alll around the world :-P boleh kan punya mimpi? :-)

Masih hujan, tapi saya harus kembali ke Nassau Inn karena belum packing. Yes, packing, flying for 20 hours home - back to reality...

Wednesday, March 05, 2008

Rasa ini Datang Lagi

[Pic from: http://www.wistonhouse.org.uk/images/backexterior.jpg]

Rasa ini datang lagi
Ada sesuatu di dalam dirinya
Saya tahu sejak 6 tahun lalu. Entah kenapa, tapi saya tahu.

Dan saya tahu rasa ini datang lagi, pada sebuah kastil tua di Inggris yang dingin
Dua derajat celcius, tapi saya menggigil bukan untuk dingin itu, juga bukan karena pelukannya yang terlepas, tapi untuk rasa yang saya temukan lagi

Saya butuh rasa ini
Saya tahu dia sama dengan yang lain
Dan rasa ini juga sama dengan rasa untuk yang lain
Tapi saya tahu bahwa saya membutuhkan rasa ini lagi untuk saya bisa merasakan hidup lagi
Dan merasakan kehadiran dia dia yang lain

Wiston House, 5 Maret 2008

[Do you think I am crazy? I think I am]

Another A

Oh it’s so inspiring! I cannot stop this huge feeling of life! Words are just flowing like a river from my mind. Suddenly they are unstoppable. No, sorry I cannot describe it well, I just can feel it. I feel that I have all the energy in the world for me and all the love in the world for me. Oh, how I love this feeling. I feel a very big energy of life! I feel like I can do anything and I can face anyone. I have songs in my mind.
Hai, terima kasih untuk membuat hidup saya manis lagi dan membuat saya bisa menulis cerpen dan puisi lagi. Lalu kita akan kembali menjadi biasa lagi. Mungkin sekali-sekali kita akan bertemu lagi untuk secangkir kopi -atau segelas red wine- dan sebatang rokok. Lalu kita akan kembali menjadi biasa lagi.


Inggris

Waktu pesawat saya mulai mendarat di Heathrow, tiba-tiba saya merasa romantik. Enam tahun yang lalu saya meninggalkan heathrow dengan setitik air mata. Air mata untuk kebahagiaan karena kerinduan yang tak tertahan, untuk penyesalan yang luar biasa karena nenek meninggal selagi saya ada di sini, dan untuk kesedihan karena meninggalkan hidup yang indah dan kawan-kawan yang luar biasa. Tapi tentu saja tahu saya akan kembali, London, mana mungkin saya tidak ke sana lagi?

Tapi ternyata enam tahun saya tidak bisa ke sana. Enam tahun! Bayangkan. Baru sekarang.

Lalu dalam perjalanan ke Gatwick, saya melihat rumah-rumah batu tua, domba-domba, english pubs, pathways di desa-desa. I was waxing lyrical. Well perhaps I over romanticised this place, but suddenly I realised that I should have looked for school here. No, not the states, it’s britain. And perhaps I should even live here. To me this a place of myriad of links and things and memories. It’s about flat 4, about warwick, about barbecue at essex, about the gank staying at my tiny room, about a and about a.