Too much alcohol in my blood. Too much smoke in my lung. Too much chemistry
in me. Too many thoughts in my mind
Monday, December 26, 2005
Too Much
Friday, December 23, 2005
(hampir) Independen
Belakangan ini gue memang semakin menikmati independensi gue. Sruntulan sana sini. Nggak perlu mobil, nggak tergantung orang, nggak perlu diurusin orang. Nikmat banget hidup seperti ini. Memang tetap tak merdeka, kartu nama bikin "berat".. direktur cuy! haha. Makanya bingung juga, mau jadi direktur lagi apa enggak. Kata Boncel gw ngomong gitu jadi kayak pejabat, kayak suharto dulu kali yeee.. kesannya semua tergantung gw. Banyak sih yg gue pikirin. Yang jelas rencana sekolah jadinya th. 2007, bukan 2006. Tapi gue sebenarnya punya banyak rencana untuk kabur dari kota gila ini. Gue mau tinggal di desa untuk sementara. Atau advokasi sesuatu yang konkrit di luar jakarta. Kepinginnya 2006 gue bisa melakukan itu semua. Tanpa ikatan. Dan semakin sruntulan, tinggal angkat ransel ke mana-mana. Kan nggak ada gantungan dan yg digantungin. Ke desa, ke DPR, banyak nulis. Banyak baca. Nggak usah mikirin laporan kayak sekarang, bikin proposal, mikirin ngecat kantor dlsb yg bikin kepala pusing.
Soal lain. Denger cerita p dan f minggu lalu soal penjara dan hidup mereka waktu masa darurat militer. They had been through so many bad things, for something that they believe in. It’s so amazing how people can believe in things so much and make sacrifices. The thought about wars that i wrote above is real. Gimana mereka disiksa di penjara dan lihat teman2 mereka disiksa dan dibunuh di depan mata. Ketakutan akan kelangsungan keluarga mereka. It’s for something that they really believe in. Maybe some people also look at me like that though. Maybe i am seen as someone who works too hard and sacrifice too much (but i don’t think i do) as this is something i believe in. I come to think how lovely it is to work for something you believe in, though it’s not war and i’m not as brave as he and his friends are. Can’t imagine if i work somewhere only to work and get money, like working as a secretary or as a ordinary lawyer or as a bank teller. What would I believe in? Maybe for people like that the belief is in money and nice life. I don’t know how strong the feeling is compare to what i feel now. Can’t judge it, will be too biased lah. Of course i’d say this is much better that working for money.

Tulisan gw ga nyambung ya. Aneh. Gila kali gue. Selain Dory, mungkin gue juga agak gila, paling enggak ery nuduh gue begitu (ery bikin blog serius euy, keren juga). Lagi banyak hal yang menyenangkan dan lagi sibuk banget, but i simply love my life.
Soal lain. Denger cerita p dan f minggu lalu soal penjara dan hidup mereka waktu masa darurat militer. They had been through so many bad things, for something that they believe in. It’s so amazing how people can believe in things so much and make sacrifices. The thought about wars that i wrote above is real. Gimana mereka disiksa di penjara dan lihat teman2 mereka disiksa dan dibunuh di depan mata. Ketakutan akan kelangsungan keluarga mereka. It’s for something that they really believe in. Maybe some people also look at me like that though. Maybe i am seen as someone who works too hard and sacrifice too much (but i don’t think i do) as this is something i believe in. I come to think how lovely it is to work for something you believe in, though it’s not war and i’m not as brave as he and his friends are. Can’t imagine if i work somewhere only to work and get money, like working as a secretary or as a ordinary lawyer or as a bank teller. What would I believe in? Maybe for people like that the belief is in money and nice life. I don’t know how strong the feeling is compare to what i feel now. Can’t judge it, will be too biased lah. Of course i’d say this is much better that working for money.

Tulisan gw ga nyambung ya. Aneh. Gila kali gue. Selain Dory, mungkin gue juga agak gila, paling enggak ery nuduh gue begitu (ery bikin blog serius euy, keren juga). Lagi banyak hal yang menyenangkan dan lagi sibuk banget, but i simply love my life.
Thursday, October 20, 2005
Ralat Soal Frustasi
Rasa frustasi, kemarahan pada situasi, merasa kalah dari kekacauan di negara ini. pasti terjadi pada semua orang yang berpikir. Itu adalah pertanda bahwa kesadaran sudah terjadi - empowered. Masalahnya: ke mana enerji kemarahan itu mau dibawa? Ke aksi? Ke luar negeri untuk lari karena enerji kemarahan tak kuat lagi ditampung? Atau tutup mata dan masuk saja ke sistem yang rusak karena memang merasa kalah dan ingin membuat kekalahan menjadi mutlak buat siapapun. Itu yang jadi soal dalam "pemberdayaan" terutama untuk "kelas menengah" yang punya pilihan.
Saya lagi frustasi, tapi saya masih menolak untuk menjadi yang kedua dan ketiga. Kalaupun saya mau pergi untuk sekolah. Semata supaya saya tidak makin tenggelam dalam lumpur frustasi saya yang sedang mengental - biar berjarak dulu. Dan supaya saya bisa berbuat lebih banyak ketika saya kembali ke negeri di mana sebenarnya "negara" tidak lagi berguna ini. Soalnya lantas tinggal satu: aksinya (yang diciptakan oleh enerji kemarahan itu) mau seperti apa? Apa frustasi akan bikin cara pandang saya soal "cara perubahan" jadi berubah? Nggak tahu ya. Saya tulis ini mungkin lebih untuk memberi terapi jiwa buat saya sendiri, yang lagi sakit jiwa karena lihat kondisi negeri ini.
Agama-Agama Manusia
Seminggu belakangan ini, gue banyak berpikir lagi soal agama. Sebagiannya karena bulan puasa, sebagiannya lagi karena gue lagi sering ke aceh dan karena rencana perkawinan beda agama gue. Gue semakin merasakan betapa "agama manusia" justru membuat konflik di banyak tempat. Ya ya kita sudah tahu soal konflik di Irlandia, Palestina, dan tentunya isu terorisme Bush. Tapi yang membuat gue prihatin karena bersentuhan langsung dengan hidup gue adalah soal kemunafikan yang ada di sekitar gue. Betapa seringnya gue marah setiap bulan puasa beberapa tahun belakangan ini karena muncul gerakan-gerakan yang mengatasnamakan umat Islam dan berteriak "Allahu Akbar" dalam melakukan kekerasan! I was so furious to see the news lately, Allah is MY God, too, and they are using his name too conduct violence!
Gue sendiri masih bimbang soal agama yang gue percayai. Yang gue percayai adalah bahwa gue percaya pada satu Tuhan. Tuhan dalam pemahaman gue. Bukan Tuhan di mana kita bisa "meminta rezeki, jodoh, dll" Kita kan selalu diberi doktrin misalnya "jodoh di tangan Tuhan" dll. Gue tidak pernah percaya Tuhan memberikan sesuatu secara langsung, menentukan suatu jalan hidup yang saklek. Tuhan gue adalah sesuatu yang menciptakan "jalan" dan pilihan hidup. Tapi kemudian gue yang harus mengambil keputusan, menentukan pilihan, termasuk untuk berbuat baik atau tidak berbuat baik. Mungkin saja Tuhan itu sebuah "sistem". Mungkin dia bukan "zat". Apalagi membayangkan Tuhan seperti manusia. Seperti yang sering dikatakan ulama bahwa kita jangan mempersonifikasi Tuhan. Karena dia suatu hal yang "maha", bukan "sosok" seperti manusia. Ya memang, gue pernah ada di satu titik di mana gue merasa Islam memang suatu pilihan cara mempercayai Tuhan buat gue, walau gue percaya "Tuhan" universal. Kenapa? Mungkin karena yang gue tahu (walau mesti gue akui bahwa yang gue tahu masih dangkal sekali), Al Quran mengajarkan hal-hal seperti yang gue percayai. Soal keberadaan Tuhan yang begitu. Tapi masalahnya kemudian para perawi, para "ulama", para "imam", para "cendekiawan muslim", memberikan berbagai pemahaman. Sementara yang gue tahu (dan mesti gue akui lagi yang gue tahu ini juga sangat dangkal) kristen dan katolik punya konsep soal yesus yang nggak cocok dengan pemahaman gue soal Tuhan, walau ada satu etik kristiani yang agak mirip juga dengan pemikiran gue, tapi ya itulah masalahnya gue nggak tahu banyak sih. Yang gue tahu memang hanya Islam karena gue dibesarkan dengan Islam. Nah, inilah yang kemudian membuat gue berpikir ulang: gue bias dong. Gue Islam karena gue dilahirkan untuk menjadi Islam oleh orang tua dan keluarga besar gue. Bukankah bahkan perbedaan agama juga kemudian tidak diperbolehkan? Karena doktrin agama manusia itu harus diturunkan.
Ya agama memang bagaimanapun sebuah kebudayaan manusia yang HARUS ada. Karena manusia harus mencari suatu "jalan" untuk memahami alam dan memahami "hidup". Manusia juga perlu suatu pegangan dalam menjalani hidup. Kan karena itu pula sejak sebelum agama-agama samawi muncul juga sudah ada semacam agama" menyembah matahari, mengorbankan perempuan untuk kesuburan, dan lain-lain. Dalam titik-titik tertentu capaian kebudayaan dan pengetahuan manusia, ia akan selalu menemukan (atau berpaling?) pada sesuatu yang tidak nyata (tidak kasat mata) untuk memahami alam.
Dengan pemikiran seperti itu, apakah lantas gue jadi bisa mempercayai bahwa Islam adalah yang paling baik? Kemudian gue pikir ya, karena gue percaya Islam membawa kedamaian, mengandung sosialisme yang gue setujui konsepnya, dan mengandung cinta kasih pada kehidupan dan sesama manusia. Tapi. bukankah pemahaman ini gue dapat karena pemahaman gue yang given karena gue lahir HARUS sebagai muslim karena kedua orang tua gue yang muslim? Bukankah semua agama akan menjadi benar bagi ummatnya karena ketidakseimbangan dalam menerima pemahaman. Karena kepercayaan yang ditumbuhkan sejak kecil oleh lingkungan kita.
Gue nggak bilang Islam itu salah. Atau Kristen itu salah. Atau Katolik itu ngaco. Enggak. Karena gue sesungguhnya nggak tahu mana yang "benar" dan "salah". Bahkan: apakah ada "benar dan salah" sama sekali??
Yang bikin gue sakit jiwa sesungguhnya adalah perilaku para "ummat" beragama ini. Gue terganggu sekali ketika di Aceh syariat Islam diterapkan dengan acara pandang "klasik" yang patriarkis. Gue terganggu sekali ketika orang-orang di aceh bisa secara kasar menegur dan melecehkan perempuan yang tidak pakai jilbab (ya, gue ini salah satu korbannya) sementara ajaran yang mendasar sekali untuk "tidak korupsi" (=tidak mencuri) ada dan subur di dalam masyarakat. Hei, lihat Abdullah Puteh! Lihat DPRD nya yang korup! Lihat orang-orang yang siangnya berpura sholat dan beribadah padahal malamnya minum bir di karaoke di hotel Sultan! Munafik. Simbol-simbol seperti jilbab, Qanun, hukuman cambuk, dll, malah jadi lebih penting buat mereka daripada esensi perdamaian dan berbuat baiknya.
Gue terganggu sekali dan risih ketika gue masuk Aphrodite bulan ramadhan ini dan minuman beralkohol disajikan dalam mug dan patung-patung dewi telanjang ditutup dengan kain dan jilbab hahahahaha. Lucu kan?? Untuk apa?? Ditutupi. Takut denda. Takut FPI. Artis-artis di bulan ramadhan pakai jilbab dan ngomong agama. Selesai ramadhan ya pakai tanktop lagi! Munafik. Kenapa sih nggak jujur aja? Mungkin karena mau menghormati? seperti gue yang nggak pakai pakaian seksi ke kantor karena menghormati kawan-kawan seperti dafi dan sholikin yang disun-tempel-pipi sama Aryani aja berasa dosa. Seperti gue yg dengan sukarela pakai kerudung kalau jadi pembicara di Aceh karena kuatir lelaki-lelaki itu merasa terganggu oleh gue yang cantik hehehe. Ya bolehlah kalau ada artis pakai jilbab untuk menghormati, tapi jangan sok ngomong seakan diri paling islami gitu dong. Tapi bagaimana dengan aphrodite dan bar-bar yang ikutan "beramadhan"? Ya karena takut ya. Nah itu dia, takut sama FPI dan kelompok Islam yang melakukan kekerasan! Itu poin gue. Mereka berteriak menghancurkan kaca-kaca bar dan menggiring orang pacaran di taman dengan nama Allah!!!! Siapa mereka? Apa mereka Tuhan? Apa mereka merasa mewakili Tuhan? Merasa kebenaran versi mereka sebagai kebenaran mutlak. Gue bersedia betul menghormati orang-orang yang percaya mengenai konsep maksiat dan lain-lain itu, tapi caranya bukan dengan kekerasan! Bukan dengan merusak barang, mengancam, dan memukul. Semua pelayan, pemilik, dan pengunjung bar dan segala tempat yang katanya maksiat itu juga manusia biasa! Apa gue terlalu liberal? Terlalu percaya konsep kebebasan individu yang mutlak. Mungkin, saya sendiri juga masih dalam proses memikirkan soal kebebasan individu versus pranata dan norma, termasuk moral. Itu masih panjang. Tapi yang jelas, sekali lagi, saya sih terserah saja kalau mereka mau percaya soal konsep-konsep kemaksiatan itu. Tapi caranya bukan dengan kekerasan dan main hakim sendiri!!! Dan mengatasnamakan saya yang masih percaya sama Islam (karena dibesarkan sebagai Islam) dan jutaan umat islam lainnya!
Orang-orang cenderung menolak ketika membicarakan soal perbedaan agama. Nanti katanya bisa berantem karena mempertentangkan sesuatu yang merupakan keyakinan zakelijk. (Gue sendiri juga begitu di milis legiun hehe, tapi itu lebih karena kubu Islam konservatif terlalu dominan hehe). Tapi mungkin sebenarnya justru kita harus bicara soal perbedaan agama secara terbuka, asalkan wilayah pembicaraannya didasarkan pada esensi-esensi agama (paling tidak dalam pemahaman gue) mengenai perdamaian. Masalahnya, seringkali debat agama di milis atau komentar spontan, didasarkan pada bahasan yang tidak dalam dan stigma yang tumbuh dalam society tertentu.
Agama-agama manusia juga bikin jerih ketika agama juga dijadikan alasan untuk tidak bisa menyatukan cinta. Lembaga perkawinan diciptakan oleh agama-agama. Tujuannya untuk ketertiban hubungan antar-manusia dan, ujungnya, perdamaian dan ketentraman, gue setuju. Masalahnya kemudian ketidakdamaian dan ketidaktentraman juga terlahir dari lembaga yang sama. Orang-orang dilarang menikah karena berbeda agama padahal tujuannya tetap bisa tercapai untuk berkomitmen dan bersepakat untuk saling memberikan hak dan kewajiban tertentu. Hidup bareng dengan cinta dan komitmen bersama. Ya, tujuannya sama. Cuma soal yang namanya agama (ya kritik yang sama buat orang-orang yang juga mempersoalkan suku). To simplify my statement: Coba, apa yang salah kalau gue dan frank mau kawin? apa? bahwa anak kita nanti bingung milih agama apa? Lah gue sih malah mau anak gue berpikir kritis seperti gue mengenai konsep-konsep alam dan hidup. Kemudian dia yang akan menentukan cara mana yang mau dia ambil untuk memahami alam ini. Katanya, nanti anak itu kalau tidak punya agama nanti tersesat dalam hidupnya. Nah, siapa yang lebih tersesat: seorang anak yg sekolah di Al Azhar dr kecil seperti Dimas tapi sekarang jadi narkoba dan hidupnya kacau, atau seorang seperti Peter misalnya yang dibebaskan memilih agama tapi bisa memahami kehidupan dengan baik hingga sekarang jadi konsultan di UN berhidup relatif lurus dalam arti tidak berbuat jahat bagi orang lain dan malah membantu pengungsi dalam pekerjaannya?? Jadi, apa yang salah kalau gue dan frank mau kawin?? Selain bahwa "agama" kita (yg dikasih sama orang tua dan lingkungan) berbeda?
Agama-agama manusia. Penuh simbol. Tanpa memahami esensi kenapa agama timbul: memahami alam dan hidup dengan alam (berikut manusianya) dengan damai dan nyaman. Ya perlu norma. Tapi norma agama itu untuk hidup bersisian dengan nyaman. Buat apa ramai-ramai teriak soal jilbab kalau korupsi? Buat apa sok puasa dan sholat jumat kalau selingkuh? Buat apa pakai jilbab kalau mengganggu suami orang? Buat apa sholat ied kalau ada ibu-ibu hamil di bis yang penuh nggak mau ngasih tempat duduk? Ah agama-agama manusia. Saya masih nggak bisa habis pikir.
Bagir Manan!
Bagir Manan...Bagir Manan...Bagir Manan. Gue lagi mengalami banyak pro kontra di otak mengenai bagir. Gue nggak pernah bisa punya prediksi apa betul dia bersalah atau tidak. Gue jelek soal prediksi politik dan investigasi. Yang jelas ketika Peter de Meij tanya apa gue setuju bagir mundur sementara untuk diperiksa. Gue bilang gue nggak setuju. Gue bilang: "Soal Bagir... saya nggak setuju dia turun dulu. Bukan apa-apa, lepas dari kemungkinan korupsi (saya nggak berani mengambil kesimpulan sampai sekarang
karena dari bbrp waktu lalu saya memang sempat dengar isu ketidakbersihan dia ini), saya kuatir kalau dia diberhentikan sementara, segala proses pembaruan di MA bisa ikutan terhenti atau agak menyimpang atau terhambat. Siapa sekarang yang bisa menggantikan dia di MA?? Paulus Effendie Lotulung? Wah, masih belum tuh! Lepas dari kemunduran semangat pembaruan Bagir (sudah baca pidato dia di Rakernas MA di Bali yang sangat defensif?), dia itu masih mau mendorong upaya-upaya pembaruan di MA. Sekarang saja sudah ada paling tidak 3 proyek besar di MA (EU, USAID, World Bank) yang membutuhkan Bagir untuk mengelolanya, karena yang lain simply masih tidak terlalu semangat reform. Kalaupun ada yg semangat reform, seperti Artidjo, posisinya bukan pengambil keputusan. Sementara staf sekretariat di MA masih saja punya budaya birokrasi dan korup, bahaya juga kalau langsung dilepas ke mereka, nanti uang-uang buat pembaruan itu malah habis tanpa guna..."
Tapi kemudian gue pikir lagi. Bukan, bukan lagi soal bagir mundur atau tidak. Tapi soal kondisi di peradilan secara umum. Betapa kasus probo ini bisa menjadi titik balik buat pembaruan peradilan. Betapa sulitnya untuk memulihkan keadaan. Sempat terpikir: apa ini upaya untuk makin menurunkan wibawa peradilan? Ah, pembela bagir banget gue kalau sampai bilang begitu! Bukan, bukan soal bagir. Ini Soal peradilan! Dan semua pekerjaan yang sudah kita lakukan. Kebongkar semua kok ya orang bagian kendaraan bisa bilang bisa mempengaruhi Ketua MA. Soal putusan palsu yang memang gue tahu udah banyak di pengadilan. Soal banyak orang berkeliaran bebas di THE SUPREME COURT bawa-bawa uang di tas. Ahhhh
Bagir belakangan memang sering gue pikirin. Waktu suatu waktu gue main ke rumahnya sama "the usual suspects". Dia agak defensif soal stafnya. Kemudian juga pidato dia di Rakernas MA di Bali. Sama, defensif. Ketika itu gue pikir dia mulai berubah, mungkin sebagiannya karena dia harus berhadapan dengan staf nya yang luar biasa tidak progresif dan korup. Kata Nisa: ya tapi dia tetap sangat pro-pembaruan sistem, dia hanya defensif karena agak kesal dengan orang-orang yang tidak mau melihat perubahan yang sebenarnya sudah dia lakukan. Ya betul, tapi kalau dia bisa sampai ke titik itu, maka artinya dia sudah terlampau jauh masuk ke dalam lingkar kekuasaan yang menyedot seperti pusaran air. Yang memang manusiawi, gue pun dalam negara kecil gue PSHK kadang hampir merasa begitu, merasa gue udah melakukan banyak hal UNTUK anak-anak dan seharusnya mereka berterima kasih. Padahal nggak bisa begitu sebagai pemimpin. Nah apalagi seorang Bagir. Tapi manusiawi bukan berarti bisa ditolerir. Dia adalah Ketua MA! Dia harus dihadapkan pada kenyataan soal tidak adanya keadilan di pengadilan buat orang yang nggak punya uang. Dia mesti dihadapkan pada kenyataan bahwa yang dia lakukan memang masih belum maksimal. Dia mesti di hadapkan pada kenyataan bahwa 240juta rakyat Indonesia memang nggak bisa melihat rincian pembaruan sistem di MA. Pikiran gue juga ke Bagir ketika dia ngomong secara terburu-buru soal hasil pilkada depok. Ah, memang begitu banyak soal pada dirinya. Karena begitu banyak soal pada pengadilan.
Gue nggak tau apa si Arbo juga pusing mikirin ini. Gue yakin iya. Maksud gue bukan "pusing" tapi "terusik" "terganggu" kepikiran karena jadi berefleksi: apa iya selama ini yang kita lakukan benar arahnya?? mungkin saja benar arahnya, tapi lantas pertanyaannya: kalau situasinya seperti ini, sampai kapan arah itu bisa kita capai???
This country have become so sickening! I often felt this, I often felt frustrated but then I always said that I have to move on, I have to be optimistic, because fixing this is what I've been working for. But I think I almost reach the nadir. I almost reach a point where I feel that maybe I've been doing nothing. Apakah yang kita lakukan selama ini ada gunanya?? Gue berharap gue bisa lebih optimis. Tapi orang-orang seperti probosutedjo yang merasa "diperas" untuk menyuap, orang-orang di pemerintah dan DPR yang cuma bisa cuap-cuap, jalan-jalan ke luar negeri sementara ada anak-anak kecil busung lapar, menaikkan BBM, terima suap, koruptor yang jadi ketua DPD, MUI yang membuat fatwa ngaco, FPI dan Koalisi2 "Ummat ISlam" Bullshit yang gebukin orang atas nama Islam, elite Aceh yang munafik, orang-orang biasa yang diam saja, SBY-JK yang bayar rakyatnya 100ribu perbulan supaya diam ketika BBM naik harganya, etc etc etc etc etc oooooooooooooh gue nggak kuat lagi ada di sini. Gue nggak tahu apa lagi yang bisa gue harapkan dari negeri ini. Mungkin cuma alamnya hahaha, itupun sudah mulai dirusak oleh perusahaan2 tambang, orang-orang yang vandal dan suka buang sampah dll. Udaranya aja polusi. Mau apapun harus nyogok, sampai2 mau bikin KTP sama SIM aja harus nyogok. Gue nggak tahu lagi sebenarnya apa gunanya gue ada di sini. Dari dulu gue suka bilang bahwa gue ada di sini untuk bekerja memperbaiki ini semua. Tapi belakangan ini semua makin nggak masuk akal. Mungkin awalnya gue masih percaya paling tidak sama society nya. Tapi society nya juga sakit! Sakit total. Pergi sekolah mungkin bisa jadi cara untuk menyembuhkan frustasi sedikit dan mulai susun strategi yang lebih baik lagi???? seperti mau kabur. mungkin. tapi saya sungguh sungguh letih.
karena dari bbrp waktu lalu saya memang sempat dengar isu ketidakbersihan dia ini), saya kuatir kalau dia diberhentikan sementara, segala proses pembaruan di MA bisa ikutan terhenti atau agak menyimpang atau terhambat. Siapa sekarang yang bisa menggantikan dia di MA?? Paulus Effendie Lotulung? Wah, masih belum tuh! Lepas dari kemunduran semangat pembaruan Bagir (sudah baca pidato dia di Rakernas MA di Bali yang sangat defensif?), dia itu masih mau mendorong upaya-upaya pembaruan di MA. Sekarang saja sudah ada paling tidak 3 proyek besar di MA (EU, USAID, World Bank) yang membutuhkan Bagir untuk mengelolanya, karena yang lain simply masih tidak terlalu semangat reform. Kalaupun ada yg semangat reform, seperti Artidjo, posisinya bukan pengambil keputusan. Sementara staf sekretariat di MA masih saja punya budaya birokrasi dan korup, bahaya juga kalau langsung dilepas ke mereka, nanti uang-uang buat pembaruan itu malah habis tanpa guna..."
Tapi kemudian gue pikir lagi. Bukan, bukan lagi soal bagir mundur atau tidak. Tapi soal kondisi di peradilan secara umum. Betapa kasus probo ini bisa menjadi titik balik buat pembaruan peradilan. Betapa sulitnya untuk memulihkan keadaan. Sempat terpikir: apa ini upaya untuk makin menurunkan wibawa peradilan? Ah, pembela bagir banget gue kalau sampai bilang begitu! Bukan, bukan soal bagir. Ini Soal peradilan! Dan semua pekerjaan yang sudah kita lakukan. Kebongkar semua kok ya orang bagian kendaraan bisa bilang bisa mempengaruhi Ketua MA. Soal putusan palsu yang memang gue tahu udah banyak di pengadilan. Soal banyak orang berkeliaran bebas di THE SUPREME COURT bawa-bawa uang di tas. Ahhhh
Bagir belakangan memang sering gue pikirin. Waktu suatu waktu gue main ke rumahnya sama "the usual suspects". Dia agak defensif soal stafnya. Kemudian juga pidato dia di Rakernas MA di Bali. Sama, defensif. Ketika itu gue pikir dia mulai berubah, mungkin sebagiannya karena dia harus berhadapan dengan staf nya yang luar biasa tidak progresif dan korup. Kata Nisa: ya tapi dia tetap sangat pro-pembaruan sistem, dia hanya defensif karena agak kesal dengan orang-orang yang tidak mau melihat perubahan yang sebenarnya sudah dia lakukan. Ya betul, tapi kalau dia bisa sampai ke titik itu, maka artinya dia sudah terlampau jauh masuk ke dalam lingkar kekuasaan yang menyedot seperti pusaran air. Yang memang manusiawi, gue pun dalam negara kecil gue PSHK kadang hampir merasa begitu, merasa gue udah melakukan banyak hal UNTUK anak-anak dan seharusnya mereka berterima kasih. Padahal nggak bisa begitu sebagai pemimpin. Nah apalagi seorang Bagir. Tapi manusiawi bukan berarti bisa ditolerir. Dia adalah Ketua MA! Dia harus dihadapkan pada kenyataan soal tidak adanya keadilan di pengadilan buat orang yang nggak punya uang. Dia mesti dihadapkan pada kenyataan bahwa yang dia lakukan memang masih belum maksimal. Dia mesti di hadapkan pada kenyataan bahwa 240juta rakyat Indonesia memang nggak bisa melihat rincian pembaruan sistem di MA. Pikiran gue juga ke Bagir ketika dia ngomong secara terburu-buru soal hasil pilkada depok. Ah, memang begitu banyak soal pada dirinya. Karena begitu banyak soal pada pengadilan.
Gue nggak tau apa si Arbo juga pusing mikirin ini. Gue yakin iya. Maksud gue bukan "pusing" tapi "terusik" "terganggu" kepikiran karena jadi berefleksi: apa iya selama ini yang kita lakukan benar arahnya?? mungkin saja benar arahnya, tapi lantas pertanyaannya: kalau situasinya seperti ini, sampai kapan arah itu bisa kita capai???
This country have become so sickening! I often felt this, I often felt frustrated but then I always said that I have to move on, I have to be optimistic, because fixing this is what I've been working for. But I think I almost reach the nadir. I almost reach a point where I feel that maybe I've been doing nothing. Apakah yang kita lakukan selama ini ada gunanya?? Gue berharap gue bisa lebih optimis. Tapi orang-orang seperti probosutedjo yang merasa "diperas" untuk menyuap, orang-orang di pemerintah dan DPR yang cuma bisa cuap-cuap, jalan-jalan ke luar negeri sementara ada anak-anak kecil busung lapar, menaikkan BBM, terima suap, koruptor yang jadi ketua DPD, MUI yang membuat fatwa ngaco, FPI dan Koalisi2 "Ummat ISlam" Bullshit yang gebukin orang atas nama Islam, elite Aceh yang munafik, orang-orang biasa yang diam saja, SBY-JK yang bayar rakyatnya 100ribu perbulan supaya diam ketika BBM naik harganya, etc etc etc etc etc oooooooooooooh gue nggak kuat lagi ada di sini. Gue nggak tahu apa lagi yang bisa gue harapkan dari negeri ini. Mungkin cuma alamnya hahaha, itupun sudah mulai dirusak oleh perusahaan2 tambang, orang-orang yang vandal dan suka buang sampah dll. Udaranya aja polusi. Mau apapun harus nyogok, sampai2 mau bikin KTP sama SIM aja harus nyogok. Gue nggak tahu lagi sebenarnya apa gunanya gue ada di sini. Dari dulu gue suka bilang bahwa gue ada di sini untuk bekerja memperbaiki ini semua. Tapi belakangan ini semua makin nggak masuk akal. Mungkin awalnya gue masih percaya paling tidak sama society nya. Tapi society nya juga sakit! Sakit total. Pergi sekolah mungkin bisa jadi cara untuk menyembuhkan frustasi sedikit dan mulai susun strategi yang lebih baik lagi???? seperti mau kabur. mungkin. tapi saya sungguh sungguh letih.
Thursday, October 06, 2005
Cabut Gigi
Minggu lalu saya cabut gigi, tepatnya: operasi gigi, supaya menimbulkan kesan seram :-). selama 3 minggu terakhir saya ke dokter gigi. Sebuah pengalaman yang menyenangkan. Mungkin karena saya jadi agak melarikan diri dari rutinitas hidup saya. Habis dari dokter gigi makan nasi goreng pinggir jalan campur asap knalpot dan segala kejorokan udara jakarta :-). Something that I hadn't done so long. Tentu saja saya masih makan di pinggir jalan dan nggak happy makan di restoran, tapi makan nasi goreng tek tek yang cuma pakai telor dan msg dan yang abangnya menyediakan bangku plastik di depan klinik kan beda! :-) Kalau Frank tahu sih dia akan protes :-) Alasan pencernaan saya yang sering kena "bug" pasti akan muncul. Pulang dari klinik naik bis kopaja P20 ke depan Menim dan terus jalan ke dalam. Sudah setahun saya nggak naik bis lagi karena tinggal di Puri Casablanca yang tanggung. Saya jadi berpikir mau naik bis lagi setiap hari seperti dulu. Toh saya sudah tidak sanggup menghadapi stress nyetir di jakarta yang terlalu macet. Taxi's ok, tapi saya jadi merasa saya punya gaya hidup yang terlalu berlebihan karena ke mana-mana naik taxi. Sempat terpikir juga untuk naik sepeda, karena saya suka main sepeda. Tapi dua-duanya belum terlaksana karena saya mungkin terlalu manja :-)
Kembali ke soal cabut gigi, eh operasi gigi. Operasi gigi membuat ulang tahun saya menjadi ulang tahun terburuk, sakit yang mengganggu dan obat yang membuat ngantuk luar biasa sehingga kehilangan momen kumpul sama mama-papa, ditambah dengan kawan-kawan lama yang mulai melupakan diriku dan tenggat waktu assessment DRSP. Ah, buruk banget. Akhirnya saya tadi tidak tahan dan minta drg. Dewi yang baik dan cantik untuk memberikan saya pain killer. Saya memang manja! :-)
[Ini iseng aja karena jenuh bikin laporan]
Monday, September 26, 2005
Dendam
Barusan saya ngobrol di telepon dengan seseorang dan menjadi sadar akan kekuatan dendam yang mendalam di dalam diri saya yang bisa merusak dan bisa saya sesali di belakangan hari.
Saya jadi memikirkan hal ini karena belakangan saya punya satu lagi kebencian yang mendalam, about which I've been bitchy. Ini tentang sebuah kontrak kerja yang tidak diselesaikan secara proper. Yang membuat saya marah sama sekali bukan soal uangnya, tapi karena cara mereka menangani situasi ini dan nada suratnya yang buat saya sangat, sangat menginggung saya. Soal International IDEA, yang membuat saya begitu marah karena tidak ada penghargaan sama sekali pada saya dalam menangani soal ini. Terlalu panjang untuk diceritakan. Oh man, you should see his letter, and then read MY responding letter that is so harsh. Padahal saya setuju untuk melakukan pekerjaan itu dari awal semata karena ketertarikan saya pada topiknya, bukan soal uangnya. Selain surat terakhir saya yang sangat kasar, kekesalan yang luar biasa membuat saya -dengan cara saya sendiri- membalas dendam.
Setelah itu, kebetulan Jumatnya saya ngomong dengan seseorang yang pernah jadi sasaran dendam saya, yang tadi saya ajak ngomong di telepon. Lantas saya jadi menyadari bahwa I am able to make things happen, including when I want to hurt someone so much in my own ways. Things got very difficult for him. I did want to make that happen, as I hurt, so so much.
Kenapa gue punya tabiat seperti ini? Saya jadi ingat betapa dulu saya bisa banyak capaian, juga karena "dendam" in a sense, ketika saya merasa dendam saya harus diwujudkan dengan membuktikan bahwa saya bisa, mungkin seperti "pembuktian". Apa bisa seseorang hidup di atas dendam-dendam? Saya sering membuat terapi untuk diri saya sendiri untuk selalu tulus dalam berbuat sesuatu. Bukan untuk meraih penghargaan, meraih hormat, mendapat pujian. Cuma untuk tujuan yang saya percaya. Tapi when it comes to being hurt, rasanya saya masih belum bisa melepaskan soal ini. Too bad. I have this urge in my mind to give a message to some people that they just cannot treat me bad. Saya berusaha menjadi orang yang lebih baik, dan menjauhkan dendam dan kebencian dari dalam pikiran saya, tapi saya kira sebagai manusia biasa ada saat-saat di mana saya tidak bisa lagi mengontrolnya. Saya kira saya hampir berhasil, hanya 2 hal belakangan ini saja kok, yang buat saya sudah terlalu luar biasa. Dan saya pun sekarang tengah belajar dari 2 hal ini.
Anyway, I feel know that what I did to this friend of mine is not good anymore. I have my message delivered, I guess. So, many things have happened. I do not regret it, after I think about what he did to me. Moreover, I want him to learn from this. I think he could have been a better person. He ruined his own life (and perhaps our lives), he could have lived in another path of life. But who am I anyway to judge which way is better for him? Now I feel pity about him and I want him to make a change in his life. And I will do it.
Saya percaya saya punya kekuatan untuk melakukan sesuatu yang saya inginkan. Dan kekuatan itu kadang menjadi berbahaya ketika ia didasarkan pada sebuah dendam pada orang lain. Saya harus belajar lebih banyak lagi untuk menjadi manusia yang lebih baik, tulus, dan jauh dari rasa benci.
Thursday, August 11, 2005
Kelemahan
Saya kira kelemahan saya yang paling besar adalah disiplin. Yang kedua mungkin kapasitas otak yang kecil. Seriously. Ini nggak becanda. Saya pernah menulis surat soal ini ke beberapa kawan waktu saya lagi sekolah. Pusing belajar teori-teori sosial dan politik, campur-campur sama soal neoliberalisme dan sejarah Indonesia. Saya sampai jungkir balik, literally :-). Sampai akhirnya saya berkesimpulan bahwa kapasitas otak saya sedikit. Kalau otak Einstein dibekukan dan sudah dipelajari karena ada kecurigaan volume otaknya agak luar biasa sehingga dia jenius, saya percaya bahwa otak saya sangat tidak berharga untuk dipelajari karena kapasitasnya terlalu sedikit. Indikasi lainnya: saya susah menghafal nama orang (waduh ini yang paling menyebalkan), susah menghafal judul film walau bisa ingat jalan ceritanya, susah menghafal jalan (Frank kadang lebih tahu jalan-jalan di Jakarta daripada saya!), dan masih banyak lagi. Untuk mengatasinya, sebenarnya, dibutuhkan disiplin. Dan itu yang saya justru lemah juga.
Pernah beberapa kali saya agak disiplin. Niat bangun jam 3 pagi untuk suatu pekerjaan. Atau bangun jam 6 pagi untuk ke gym. Tapi biasanya itu tidak bertahan lama :-P. Kadang kalaupun saya harus bangun tengah malam untuk bekerja, berarti kan ada persoalan juga bahwa saya tidak bisa memanfaatkan 12 jam waktu kerja saya untuk secara efektif bekerja. Untuk soal menulis, masalahnya bisa jadi ada pada konsentrasi. Sulit sekali untuk memulai. Ketika memulai biasanya saya akan disibukkan oleh banyak hal dan saya jadi memikirkan banyak hal lainnya. Akibatnya, proses penulisan jadi terlalu lama, bahkan kadang jadi gagal, apalagi kalau "pesanan" (karena seminar atau untuk jurnal atau untuk buku). Saya jadi berpikir, memang menulis adalah latihan yang bagus buat otak saya, karena dengan menulis ini saya jadi berpikir banyaaaaak sekali, kadang untuk sekedar menunda menulis, tapi kadang jadi bagus juga. Tapi ketika sudah mulai menulis, kadang saya tidak bisa berhenti. Beberapa tulisan selesai dalam 2 atau 3 jam saja karena tiba-tiba ide mengalir begitu cepat. Biasanya kalau saya sudah dapat "inti magma" nya yang mau meletus dan meletup-letup di dalam otak saya.
Pernah beberapa kali saya agak disiplin. Niat bangun jam 3 pagi untuk suatu pekerjaan. Atau bangun jam 6 pagi untuk ke gym. Tapi biasanya itu tidak bertahan lama :-P. Kadang kalaupun saya harus bangun tengah malam untuk bekerja, berarti kan ada persoalan juga bahwa saya tidak bisa memanfaatkan 12 jam waktu kerja saya untuk secara efektif bekerja. Untuk soal menulis, masalahnya bisa jadi ada pada konsentrasi. Sulit sekali untuk memulai. Ketika memulai biasanya saya akan disibukkan oleh banyak hal dan saya jadi memikirkan banyak hal lainnya. Akibatnya, proses penulisan jadi terlalu lama, bahkan kadang jadi gagal, apalagi kalau "pesanan" (karena seminar atau untuk jurnal atau untuk buku). Saya jadi berpikir, memang menulis adalah latihan yang bagus buat otak saya, karena dengan menulis ini saya jadi berpikir banyaaaaak sekali, kadang untuk sekedar menunda menulis, tapi kadang jadi bagus juga. Tapi ketika sudah mulai menulis, kadang saya tidak bisa berhenti. Beberapa tulisan selesai dalam 2 atau 3 jam saja karena tiba-tiba ide mengalir begitu cepat. Biasanya kalau saya sudah dapat "inti magma" nya yang mau meletus dan meletup-letup di dalam otak saya.
Friday, August 05, 2005
Friday, July 29, 2005
Penat
Kemarin saya dilanda kejenuhan yang luar biasa. Di sebuah diskusi tentang DPD (acaranya RiDEP) di Santika, bersama beberapa anggota DPD, beberapa "pakar politik" dan beberapa orang yang "sok pakar" atau kepingin dianggap tahu mengenai politik (mungkin ini saya termasuk dalam kategori ini) tiba-tiba saya merasa semua ini tak ada gunanya. Tiba-tiba saya bertanya: "what the hell am I doing here??". Dan tiba-tiba saya benci setengah mati pada seorang "sok pakar" (agaknya saya ingin dia masuk ke kategori ini, walau dia sebenarnya memang pintar dan berpengetahuan juga... tapi cara dia bicara dan bagaimana dia agak show off membuat saya tidak bisa menganggap dia pakar) yang bicara terlalu banyak dan keluar konteks.
Setelah momen itu, sesorean saya merasa jenuh luar biasa, maksud saya, di luar kebiasaan. Sebab setelah itu saya harus negosiasi budget lagi dengan Evin untuk legislative drafting training utk staf DPR, DPD dan pemerintah, lantas harus cek progress disain assessment RTI sama anak-anak, lantas harus arrange meeting untuk alterlaw. Dan untuk yg terakhir agak kacau lagi.. aduh, saya sungguh kapok kerja sama dengan orang yang tidak bisa berkonsentrasi dan tidak punya konteks dalam bekerja seperti kawan saya yang satu ini. Mau ajak Frank dinner dan minum sedikit untuk melepas penat, ternyata dia sudah ada janji sama Jan.
Akhirnya apa yang gue lakukan? Main internet, beli domain name, dan tetap kerja anyhow! Ya saya tidak tahu lagi mesti bagaimana. Semakin saya mencoba membuang kejenuhan dan kepenatan, semakin banyak waktu yang terbuang yang pada akhirnya justru akan menambah masalah. Seperti saya bilang pada Frank tadi malam: it's like you want to run away but you cannot, because you already have too many responsibilities and commitments.
Saya juga tidak tahu apa penyebab sebenarnya. Dulu-dulu, kadang karena kekecewaan atas suatu hal. Termasuk ketika saya kecewa pada DPD karena menemukan kenyataan yang jauh dari bayangan dan harapan saya yang terlalu naif untuk dunia politik. Tapi yang satu ini saya sungguh tidak tahu penyebabnya. Mungkin saya hanya capek. Penat. Bisa jadi ini malah jadi saat yang tepat untuk sekolah, untuk lari dulu dari ini semua, memberi jarak, berkontemplasi mengenai banyak hal. Memang belakangan ini saya mengeluh sendiri, juga cerita ke Pak Dan, mengenai semakin kurangnya waktu saya untuk menulis, membaca, dan memikirkan hal secara mendalam. Kesibukan saya sebagai DE membuat saya kehilangan kemewahan sebagai peneliti yang dulu begitu saya puja.
Sekali waktu memang saya sempat berefleksi. Dan terpaksa berefleksi. Tapi kerja di sini seperti tercebur ke danau yang dalam dan keruh: saat saya masih ada di dalamnya mencoba untuk menata isinya sekaligus supaya tidak tenggelam, saya tidak akan bisa melihat isinya secara jenih. Email pak Dan di bawah bikin saya senang sekali dan "takut" pada saat yang bersamaan. Sama seperti ketika ada pemikiran-pemikiran yang muncul ketika selesai ketemu orang yang tanya ini-itu mengenai law reform di Indonesia. Persis seperti email Rachel bbrp hari lalu: "And please don't be overly self-critical--the job you are doing is important, and I must say that compared to the NGOs in Eastern Europe that I have seen, you are far, far ahead in terms of understanding and political savvy within your system."Yang selalu membuat jadi gundah adalah pertanyaan reflektif: apakah yang saya lakukan ini akan ada gunanya? Benarkah marah-marah sama DPR atau mengkritik MA akan membawa perubahan bagi orang-orang yang tidak bisa makan di pinggir jalan atau orang-orang yang diusir dari tanahnya di pelosok sana? Pak Dan agaknya memang terlalu romantis. Tapi biarlah saya melihatnya sebagai setitik rasa bangga di dalam diri yang lagi penat dan jenuh dan supaya bisa mendorong saya untuk kerja lebih keras lagi.
----- Original Message -----
From: "Daniel S. Lev"
Sent: Wednesday, July 27, 2005 3:18 AM
Dear B,
--deleted--
Menurut saya, B, anda memang seharusnya teruskan saja utk PhD. Tentu berarti harus ke luar selama tiga tahun, yg berarti tidak akan bisa langsung turut proses perubahan di Indonesia selama di luar negeri. It is a sacrifice of sorts, tetapi B perlu kesempatan utk belajar, berfikit, dan menulis sebagai seorang (yg sekarang masih muda) yg akan lama mencurahkan tenaga utk meluruskan proses hukum (dan politik) di Indonesia. Kesempatan belajar dan menulis, dan memperkembangkan ide-ide dlm suatu otak yg sudah sangat kuat, B, akan mempersiapkan anda utk pekerjaan yg cukup berat. Apakah sebagai mahaguru, atau penulis, atau konseptualis, atau aktivis, atau semuanya itu, anda bisa memperkuat diri dlm tiga tahun itu, dan disertasi itu akan berguna juga sebagai salah satu sumbangan pada pengertian pendekatan pada perubahan mendlm itu.
Saya nggak mau terlalu romantis ttg ini semua, tetap ada baiknya kalau membandingkan diri dgn para pimpinan nasionalis dulu yg memperjuangan kemerdekaan. Orang seperti Sartono, Besar Martokoesoemo, Moh. Roem, Ko Tjay Sing, Maria Ulfah Santoso, Ali Sastroamidjojo, Lukman Wiriadinata, dll, semuanya juga ke luar negeri, di Belanda, selam tiga-empat tahun sebelum pulang utk meneruskan pekerjaannya politik (dll juga). So don't worry about being away, B. Kadang-kadang malah perlu dipisahkan utk memperkuatkan diri lagi. And you need the intellectual rest and opportunity to think and write and then to teach.
Salam, B
Dan
Setelah momen itu, sesorean saya merasa jenuh luar biasa, maksud saya, di luar kebiasaan. Sebab setelah itu saya harus negosiasi budget lagi dengan Evin untuk legislative drafting training utk staf DPR, DPD dan pemerintah, lantas harus cek progress disain assessment RTI sama anak-anak, lantas harus arrange meeting untuk alterlaw. Dan untuk yg terakhir agak kacau lagi.. aduh, saya sungguh kapok kerja sama dengan orang yang tidak bisa berkonsentrasi dan tidak punya konteks dalam bekerja seperti kawan saya yang satu ini. Mau ajak Frank dinner dan minum sedikit untuk melepas penat, ternyata dia sudah ada janji sama Jan.
Akhirnya apa yang gue lakukan? Main internet, beli domain name, dan tetap kerja anyhow! Ya saya tidak tahu lagi mesti bagaimana. Semakin saya mencoba membuang kejenuhan dan kepenatan, semakin banyak waktu yang terbuang yang pada akhirnya justru akan menambah masalah. Seperti saya bilang pada Frank tadi malam: it's like you want to run away but you cannot, because you already have too many responsibilities and commitments.
Saya juga tidak tahu apa penyebab sebenarnya. Dulu-dulu, kadang karena kekecewaan atas suatu hal. Termasuk ketika saya kecewa pada DPD karena menemukan kenyataan yang jauh dari bayangan dan harapan saya yang terlalu naif untuk dunia politik. Tapi yang satu ini saya sungguh tidak tahu penyebabnya. Mungkin saya hanya capek. Penat. Bisa jadi ini malah jadi saat yang tepat untuk sekolah, untuk lari dulu dari ini semua, memberi jarak, berkontemplasi mengenai banyak hal. Memang belakangan ini saya mengeluh sendiri, juga cerita ke Pak Dan, mengenai semakin kurangnya waktu saya untuk menulis, membaca, dan memikirkan hal secara mendalam. Kesibukan saya sebagai DE membuat saya kehilangan kemewahan sebagai peneliti yang dulu begitu saya puja.
Sekali waktu memang saya sempat berefleksi. Dan terpaksa berefleksi. Tapi kerja di sini seperti tercebur ke danau yang dalam dan keruh: saat saya masih ada di dalamnya mencoba untuk menata isinya sekaligus supaya tidak tenggelam, saya tidak akan bisa melihat isinya secara jenih. Email pak Dan di bawah bikin saya senang sekali dan "takut" pada saat yang bersamaan. Sama seperti ketika ada pemikiran-pemikiran yang muncul ketika selesai ketemu orang yang tanya ini-itu mengenai law reform di Indonesia. Persis seperti email Rachel bbrp hari lalu: "And please don't be overly self-critical--the job you are doing is important, and I must say that compared to the NGOs in Eastern Europe that I have seen, you are far, far ahead in terms of understanding and political savvy within your system."Yang selalu membuat jadi gundah adalah pertanyaan reflektif: apakah yang saya lakukan ini akan ada gunanya? Benarkah marah-marah sama DPR atau mengkritik MA akan membawa perubahan bagi orang-orang yang tidak bisa makan di pinggir jalan atau orang-orang yang diusir dari tanahnya di pelosok sana? Pak Dan agaknya memang terlalu romantis. Tapi biarlah saya melihatnya sebagai setitik rasa bangga di dalam diri yang lagi penat dan jenuh dan supaya bisa mendorong saya untuk kerja lebih keras lagi.
----- Original Message -----
From: "Daniel S. Lev"
Sent: Wednesday, July 27, 2005 3:18 AM
Dear B,
--deleted--
Menurut saya, B, anda memang seharusnya teruskan saja utk PhD. Tentu berarti harus ke luar selama tiga tahun, yg berarti tidak akan bisa langsung turut proses perubahan di Indonesia selama di luar negeri. It is a sacrifice of sorts, tetapi B perlu kesempatan utk belajar, berfikit, dan menulis sebagai seorang (yg sekarang masih muda) yg akan lama mencurahkan tenaga utk meluruskan proses hukum (dan politik) di Indonesia. Kesempatan belajar dan menulis, dan memperkembangkan ide-ide dlm suatu otak yg sudah sangat kuat, B, akan mempersiapkan anda utk pekerjaan yg cukup berat. Apakah sebagai mahaguru, atau penulis, atau konseptualis, atau aktivis, atau semuanya itu, anda bisa memperkuat diri dlm tiga tahun itu, dan disertasi itu akan berguna juga sebagai salah satu sumbangan pada pengertian pendekatan pada perubahan mendlm itu.
Saya nggak mau terlalu romantis ttg ini semua, tetap ada baiknya kalau membandingkan diri dgn para pimpinan nasionalis dulu yg memperjuangan kemerdekaan. Orang seperti Sartono, Besar Martokoesoemo, Moh. Roem, Ko Tjay Sing, Maria Ulfah Santoso, Ali Sastroamidjojo, Lukman Wiriadinata, dll, semuanya juga ke luar negeri, di Belanda, selam tiga-empat tahun sebelum pulang utk meneruskan pekerjaannya politik (dll juga). So don't worry about being away, B. Kadang-kadang malah perlu dipisahkan utk memperkuatkan diri lagi. And you need the intellectual rest and opportunity to think and write and then to teach.
Salam, B
Dan
Monday, July 11, 2005
Film "GiE"

Film ini bikin gue senang sekaligus sebal. Kenapa? Senang karena pasti menarik untuk melihat sosok orang yang selama ini hanya bisa dibaca karya-karya, perjalanan hidupnya, dan prinsipnya yang luar biasa. Senang karena ini jadi momen yang menarik untuk nonton film rame2 sama anak2 Isjapokal dan juga anak2 PSHK-LeIP. Senang karena sekarang kalau gue ngasih pelatihan di depan mahasiswa dan menyebut nama Soe Hok Gie nggak akan ada muka-muka kosong lagi :-). Sebal karena sekarang kalau gue menyebut nama SHG pasti orang kira gue kemakan trend, padahal dari dulu sejak mahasiswa kalau gue merasa kehilangan arah hidup gue selalu bolak balik baca catatan harian dia itu. Sebal karena imaji gue mengenai dia yang selama ini gue ciptakan dalam benak gue akan hilang dan tergantikan oleh Nicholas Saputra dan aktingnya. Gimana dong? Nonton apa enggak? :-)
Gue pernah merasa gue terlalu mempersonifikasikan diri gue sama dia: terutama untuk lari ke alam ketika menghadapi kekecewaan dan kesuntukan. Kalau gue lagi goyah sama apa yang gue kerjakan, gue juga akan berpikir soal SHG yang prinsipnya luar biasa: ga peduli zaman mau ke mana, zaman peralihan, dll, dia selalu memegang prinsip dengan kuat sampai-sampai dimusuhi kawan dan dia sama sekali nggak takut untuk itu. Seperti "prinsip pohon" yang pernah gue tulis di sini...
ini salah satu puisi dia yg paling gue suka.... sampai gue jadikan tulisan di pembatas agenda gue salah satu rangkaian kalimatnya yg buat gue pas banget:
"hidup adalah soal keberanian
menghadapi yang tanda tanya "
tanpa kita mengerti,
tanpa kita bisa menawar
'terimalah dan hadapilah
menghadapi yang tanda tanya "
tanpa kita mengerti,
tanpa kita bisa menawar
'terimalah dan hadapilah
Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang
kembali Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
"hidup adalah soal keberanian,
menghadapi yang tanda tanya "
tanpa kita mengerti,
tanpa kita bisa menawar
'terimalah dan hadapilah
dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup
Jakarta 19-7-1966
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang
kembali Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
"hidup adalah soal keberanian,
menghadapi yang tanda tanya "
tanpa kita mengerti,
tanpa kita bisa menawar
'terimalah dan hadapilah
dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup
Jakarta 19-7-1966
Friday, July 08, 2005
Kotak Pandora
Annual Meeting kemarin seperti membuka kotak pandora. Really. Gue membuka sendiri kotak itu. Gue biarkan anak-anak membuka semuanya. Memang sudah waktunya mungkin. Karena umur organisasi ini toh sudah 7 tahun. Sudah semakin besar... dari 2 orang ke 24 orang, bayangkan. Dari 2 kegiatan menjadi 20-an kegiatan setahun. Kalau kotak ini tidak dibuka barangkali setan-setannya akan semakin menumpuk dan kotaknya akan meledak sendiri.Tapi sebagai manusia biasa, diri gue agak problematik juga. Untunglah gue terbiasa kalau punya emosi yang agak di luar kebiasaan (entah sedih atau marah) selalu gue pendam dulu dan pikirkan selama beberapa lama sebelum bereaksi. Mungkin untuk soal ini gue pingin seperti Gandhi hehehe.... Tapi gue mau melawan dengan nyata, nggak cuma diam seperti dia dan ahimsanya.
It is not easy indeed. Kenapa gue bilang "untunglah"? Karena gue merasa anak-anak ill-informed dan terlalu berlebihan. Tapi lantas gue berpikir, setiap penguasa, reaksi pertama ketika dikritik memang seperti ini: ada yg belum terinformasikan dan ada permintaan yang berlebihan. Mungkin gue terlalu jumawa ya menyamakan diri gue dengan "penguasa" :-P. Tapi gue memang suka membayangkan ini sebagai "mainan" gue, alat simulasi gue mengenai kekuasaan. Mini banget memang :-). Tapi lumayan lah. Membuat gue belajar juga menghadapi orang2 di luar dan mempelajari negara dan behaviournya. Makanya gue suka ngedorong anak-anak bikin serikat buruh lah, mancing-mancing biar ada protes dikit-dikit lah :-). Sayangnya anak2 ga terlalu antusias sama "mainan" ini hehehehe.
Anyway, kembali ke kotak pandora. Sebagai manusia biasa, pada awalnya timbul kekesalan gue untuk ill-informness (bener begini kata bendanya?) dan permintaan yang berlebihan. Gue pada saat-saat tertentu merasa transparansi kita agak berlebihan, tp ada yang merasa tidak terinformasikan, simply karena misalnya ybs tidak hadir di rapat koordinasi 2 mingguan, atau jarang buka email... ya repot kan. Ada juga permintaan tiap rekrutmen ngajak semua peneliti dan tiap bikin program harus dibahas di semua peneliti dan bikin logframe dulu. Walaaah, pada lupa kali ya, susahnya pada ngumpul bareng sampai tiap ada rpt gue yg sedang terus belajar tepat waktu harus nyuruh Uki neleponin semua orang dulu sampai hadir semua. Kitanya udah mau tp respon baliknya malah kurang. Padahal bayangkan tekanan yg di sisi gue/aria pun harus dihadapi misalnya dari donor, move-move yang sengaja dipilih misalnya untuk bereaksi cepat untuk menunjukkan responsivitas. Bayangkan kalau ada permintaan proposal masuk dalam seminggu terus proses internal menyebabkan jadi sebulan? Juga, ingatkah kawan-kawan ketika misalnya gue minta kawan2 yg bikin proposal program, dengan tujuan biar mereka belajar, udah dari 3 bulan lalu tapi sampai sekarang belum dikasih ke gue?
..... hehe... tuh, respon penguasa banget ga sih? tuh kan, gue kayak dilematis mau mencoba menerima dan mendengar tp di sisi lain gue merasa gue sudah mencoba semaksimal mungkin. Memang ada kesalahan pendekatan dan metode. Tapi gue sudah pondering agak lama dan memang merasa ada hal-hal di dalam kenyataan yang anak-anak tidak tahu sehingga menganggap segala-galanya mudah. Memang selalu ada tarik menarik antara partisipasi dan demokrasi. Mungkin seperti pembedaan Pak Dan mengenai demokrasi dan republik. Seperti evolusi negara. Kalau jaman negara-kota yunani berpenduduk dan berwilayah kecil ya boleh-boleh saja semua diputuskan bersama (itu juga laki-laki doang hehe). Tapi negara bangsa (dan negara bangsa-bangsa) modern ini kan makanya menggunakan sistem perwakilan. Yg perlu dipikirkan adalah pola pikir republiken, membatasi kekuasaan yang memang sudah harus dipegang oleh segelintir orang. Waktu jamannya organisasi ini cuma ber-8 memang segalanya relatif lebih mudah. Kerjaan juga belum banyak. Mau rapat kapan aja mau diskusi apa aja, ya gampang. Sekarang ngumpulin peneliti yang cuma 12 orang aja susah. Ada yang mesti mantau ke DPR, ada yang mesti rapat koalisi, dll... kadang ada juga yang istrinya sakit melulu (kenapa ya? hehe) atau nyuruh dia pulang! hehe...bayangkan. Coba... jadi gimana manajemen bisa jalan terus kalau terbentur sama persoalan-persoalan seperti ini dan ketika keputusan harus diambil cepat lantas kita dikatakan tidak partisipatif? Padahal bayangkan, ngambil keputusan soal kenaikan gaji dan sistem evaluasi aja bareng2?! hehehe kayak pejabat ya gue?
Yang paling bikin gue sedih dan uring2an adalah kritik yang menyatakan gue terlalu mengontrol. Ahhh... pada lupa kali ini organisasi. Program yg masih gue pegang sendiri kan cuma alterlaw, itu karena amanat temen2 gue koordinatornya. Yg lain sudah gue lepas semua ke temen2. Cuma mungkin pada lupa.. masa iya gue mau diaaaaaam terus misalnya ada deadline yang hampir terlewat atau ada output pekerjaan yang tidak sesuai rencana atau ada teamwork yang ga jalan? Apa gunanya ada organisasi??? Masa' iya pada kondisi-kondisi tertentu gue ga boleh menegur dan kalau gue menegur dikatakan sebagai kontrol yang berlebihan? :-) Untuk tidak esmosi :-), di salah satu respon gue yang gue coba seperti Gandhi (cieee...), gue cuma minta temen2 membayangkan sebuah Nakhoda dan kapalnya. Nakhoda hrs bertanggung jawab atas kapal ini, bahkan kan "kode etik"nya pelaut kalau kapan tenggelam pun nakhoda harus tenggelam bersama kapalnya. Sehingga ada tindakan yang harus gue ambil cepat, ada teguran yang justru adalah salah satu wujud fungsi gue sebagai nakhoda kapal ini. Kalau enggak ya kapal bisa oleng dong....:-). Pada kurang membandingkan aja kali sama organisasi lain. Yang bikin emosi memang karena di awal gue membawa ini ke soal personal. They don't know my sorrow, my difficulties, my problems... But I work hard anyway because of "responsibility" and my view about this organisation as a place for me to do something useful in my tiny life. If the supporting staff accused the researchers to be richer than the supporting staff, they should look at me hehehe. Enggak sih bukan soal kaya-miskin, tapi ya itulah, mereka ill-informed ada dugaan dan sangkaan yang salah. Ada kekecewaan juga di diri gue karena gue merasa kerja luar biasa (dari jam 9 sampai jam 5..... tapi jam 5 pagi! hehe) dan mereka datang siang pulang on time, jalan2 ke carefour, dll, tp complainnya kok berlebihan... ga berkaca dulu gitu lho. Yah, inilah reaksi wajar seorang manusia biasa....
Bagaimanapun, dibukanya kotak pandora kemarin penting juga. Kesel-kesel dikit itu wajar sebagai manusia biasa, bukan dewa. Karena jadi banyak masalah komunikasi yang terpecahkan dan juga masalah sistemik. Karena kuatir seperti penguasa orde baru, secara sengaja setiap keluhan gue larikan ke solusi sistemik, jadi nggak berasa personal dan menimbulkan emosi yang tidak ada gunanya. Jadinya bagus juga. Ada pembenahan struktur, ada pembenahan sistem assessment, dll. Cuma masih ada satu-dua keluhan ke anak2 dari kita malahan, yang belum terpecahkan. Seperti kesiangannya anak-anak (gue sama aria sepakat untuk mendorong dengan ngasih contoh, selalu datang pagi kecuali ada meeting di luar), terlalu lamanya nongkrong atau makan siang, dll. Kecewa juga, komplain-komplain tapi tanpa bercermin dulu bagaimana performance diri sendiri. Agaknya ini juga harus diselesaikan secara sistemik.
Ini memang penting. Untuk kesehatan organisasi ini. Dan juga kesehatan jiwa gue! :-)
Friday, April 15, 2005
Pohon
Hidup gue, mimpi-mimpi gue, rasa cinta gue, kesedihan, penghargaan, kebingungan, kemarahan, kegelisahan, semua seperti terbang. Lewat. Kadang terasa. Kadang rasanya sudah bebal. Kadang jadi beban. Kadang jadi kebanggaan atau rasa malu. Hidup selalu begitu indah bagaimanapun. Karena hidup gue rasanya begitu banyak naik-turunnya. Tapi dunia selalu terasa kelabu. Dengan bencana, dengan perang, dengan kemunafikan, dengan politik yang kotor, dengan kekuasaan yang menindas, dengan kekuasaan yang tak digunakan untuk kepentingan orang yang takpunya kuasa.
Di kepala: pribadi: soal rumah, soal punya anak, soal frank yg ga kerja. Kantor: soal PSHK ke depan. Banyak ide tulisan di kepala, banyak tugas. Malas bukan kepalang.
Mama masih demanding. Gue seperti ATM. Tapi bagaimanapun rumah begitu menyedihkan. Gue selalu berharap gue adalah orang yg berpenghasilan besar sehingga orang rumah bisa santai2 aja ga hidup susah. Pengeluaran gue sebulan gila-gilaan, dibanding pendapatan asli gue, semua untuk keluarga. Mulai dari uang kuliah Chandra sampai uang belanja mama, uang sekolah si Udin di Malingping, dan uang buat benerin mobil butut kita. Gue aja ga ngerti kenapa gue bisa survive..... Alhamdulillah aja. Kadang2 ngomong di tivi dan nulis menghasilkan uang. Kalo nggak begini ya nggak ketutup semuanya. Uang mengalir, datang dan pergi. Nggak pernah buat gue sendiri kecuali untuk ke kantor. Ya kadang2 clubbing juga... tapi ga pernah bisa dapat sesuatu achievement tertentu. Ga ada mobil, ga ada rumah. Ga ada barang bagus. Cuma handphone kali. Me and my handphone... how lovely....and my books. That’s all I’ve got. How lovely.
Entahlah... kadang gue ngiri sama temen2 gue. Yg punya “tangible achievements”, entah materi, entah keluarga. Anak, atau anak2. Mobil. Rumah. Kata frank kan gue bahagia dengan pilihan hidup gue? Ya betul. Memang mesti begini hasil dari pilihan2 gue. Memang tidak tangible. Penghargaan orang walau tidak ada materi – yg tangible. Nama baik. Kepuasan batin. Menulis. Buku-buku. Cinta Frank yg mendalam walau tidak ada perkawinan dan anak - yg tangible. Kebanggaan mama, papa, dan chandra. Semuanya tak berwujud. Apa gue bahagia? Sebenarnya gue bahagia kok. Cuma mungkin tekanan konstruksi sosial yg melihat hal2 berwujud yg bikin gue kadang merasa tak bahagia. Tidak ada perkawinan, tidak ada anak, tidak ada mobil, tidak ada rumah. Hanya handphone, buku2, frank, tulisan2. Mungkin saja yg punya barang2 yg berwujud juga kadang merasa tak bahagia karena capaian tak berwujudnya malah tidak ada: perkawinan yg mengganjal, kebebasan yang hilang, penghargaan yang tak tinggi, kebanggaan yang tak didapat. Bukan begitu? Mungkin ini untuk menghibur diri .... (senyum getir).
Yang bikin gue bahagia cuma untuk berbuat baik karena gue memang nggak punya apa-apa lagi selain itu (senyum getir lagi). Buat orang rumah, buat anak2 PSHK, buat orang-orang di sekitar gue... itupun kadang masih tak dilihat baik. Kadang sedih dan kecewa juga. Gue punya banyak keinginan untuk bikin anak2 PSHK lebih baik, lebih cerdas, lebih sejahtera. Dengan banyak cara. Tapi kadang juga ga sampe.
Ahhhh... gue memang sudah terlalu lama ga merenung untuk diri gue sendiri seperti ini. Rasanya enaaaak banget. Sedih dan kelabu. Mungkin biru warnanya. Tapi mudah-mudahan jadi bikin hati plong dan tambah ikhlas dalam hidup. Belakangan Gue banyak bertanya soal agama, banyak bertanya soal nilai-nilai. gue memang ngaco untuk ukuran orang Islam mainstream. Gue belom kawin. Gue ga peduli frank nggak islam. Gue ga suka orang islam yang terlalu fanatik. Gue suka alkohol dan merokok. Tapi apakah gue jahat? Does Allah count me as a sinner anyhow? If Allah does, then be it lah.
Mas ari. Rasanya gue udah ga bisa memaafkan dia. Ga pernah terbayang ada orang yang sejahat itu sama keluarganya – sama orang tua dan adik2nya. Dan juga sama orang lain. Mudah2an Allah memaafkan dia. Tapi gue nggak bisa memaafkan dia. Bukan karena dia menyusahkan gue. Tapi karena dia membuat papa, mama, dan chandra susah. Karena dia membuat banyak orang susah. Gue menganggap gue ga punya kakak. Kadang gue sedih kalau ingat masa kecil gue sama dia. Kita dulu kompak banget. Tapi sekarang gue begitu ingin dia ga masuk lagi dalam hidup gue.
Do you think people like Cak Munir, Mas Bambang, and other people that I admire because of their never ending work for humanity and betterment of other people ever have thought about these things? Apakah aku kebanyakan mikir dan berpikir tentang banyak hal yang tak ada gunanya? Apakah ini semua perlu dipikirkan? Atau sebaiknya hanya kerja aja terus. Aku hanya kepingin kerja dan kerja buat banyak orang. Mungkin nggak bisa langsung buat korban HAM seperti Cak Munir. Tapi aku berharap banyak orang nanti benefiting dari law reform yang aku lakukan. Sumpah aku nggak pernah pingin ngetop. Nggak pingin nongol2 di tivi atau di koran. Kalaupun bangga dan senang, bukan karena pingin ngetop, tapi pingin isunya keangkat atau bangga karena mama, papa, dan chandra bisa punya sesuatu yg dibanggakan. Tapi afterall aku cuma pingin semua ini ada impact nya buat banyak orang. Semua itu hanya cara, bukan tujuan.
Aku kepingin jadi orang yang kuat. Kuat dalam arti punya prinsip yang kuat. Punya pandangan yang kuat dan berani menyatakan pandangan2 tanpa takut dan ragu. Kuat menghadapi pandangan-pandangan orang dari konstruksi sosial soal gender dan kelaziman2 dalam hidup dan soal achievements yang berwujud. Kuat kerja. Kuat nulis. Disiplin. Kuat menghadapi persoalan rumah. Kuat sama godaan uang untuk idealisme. Aku pingin bisa berdiri seperti pohon besar yang kokoh. Nggak tumbang kena angin. Punya akar yang dalam. Punya daun2, buah, dan batang yang berguna buat orang banyak. Punya daun rindang yang bisa melindungi orang2 yang ga kuat. Nggak tumbang kena gempa. Mungkin bisa hancur terbawa kapten tsunami. Tapi mungkin karena pohon aku itu kokoh dia cuma terbawa tsunami tapi tak hancur. Dia terbawa tsunami ke tengah laut. Mungkin lama-lama dia mati, tapi dia tetap sebuah pohon yang kokoh dan tak hancur. Karena prinsip-prinsipnya kuat. Mungkin bukan agama seperti yang dibilang sama kawan2 anak pengajian. Aku punya nilai2 sendiri. Humanisme mungkin? Keadilan sosial? Hahaha. Nggak pernah dirumuskan. Tapi aku kepingin kuat seperti pohon. Mungkin dia bisa mati karena tua atau terbakar. Kalau terbakar dia akan jadi abu. Kalau tua ya mati layu. Nggak apa-apa. Tapi mungkin aku suka pohon flamboyan karena selain kokoh dia juga berwarna. Cantik.
Aku kepingin orang2 mengikuti aku, menjadikan aku teladan. Bukan karena aku pingin dikagumi dan gila hormat. Tapi aku merasa mereka bisa menjadi better people dengan bekerja lebih keras. Sebab caraku untuk "mengubah" orang adalah dengan memberi contoh. Aku nggak mau marah2, karena menurutku memberi contoh jauh lebih baik. Tapi kadang2 orang nggak ngerti maksudku. Sedih juga. Tapi aku nggak mau mengeluh. Aku mau kerja aja. Aku mau menunjukkan kerja dan impact. Walau tetap harus kokoh dan kuat, sekali-kali harus marah supaya orang ngerti.
Aku cuma kepingin jadi orang biasa aja, tapi baik dan berguna buat banyak orang. Bisa nggak ya orang nggak pernah berbuat salah? mungkin nggak bisa ya? namanya juga manusia. Tapi ya aku pingin seperti pohon tadi. Biar dibawa kapten tsunami. Kalau salah biar mati terbakar.
Aku juga pingin mati muda. Untuk alasan yang egois. Aku nggak kepingin sedih karena mama, papa, dan chandra, atau kawan2 meninggalkan aku sendirian. Biar aja mereka yg sedih aku tinggalin...hihihi... mending juga mereka sedih... Biarlah, yg penting aku nggak sedih ditinggal orang. Aku nggak suka sendirian.
Di kepala: pribadi: soal rumah, soal punya anak, soal frank yg ga kerja. Kantor: soal PSHK ke depan. Banyak ide tulisan di kepala, banyak tugas. Malas bukan kepalang.
Mama masih demanding. Gue seperti ATM. Tapi bagaimanapun rumah begitu menyedihkan. Gue selalu berharap gue adalah orang yg berpenghasilan besar sehingga orang rumah bisa santai2 aja ga hidup susah. Pengeluaran gue sebulan gila-gilaan, dibanding pendapatan asli gue, semua untuk keluarga. Mulai dari uang kuliah Chandra sampai uang belanja mama, uang sekolah si Udin di Malingping, dan uang buat benerin mobil butut kita. Gue aja ga ngerti kenapa gue bisa survive..... Alhamdulillah aja. Kadang2 ngomong di tivi dan nulis menghasilkan uang. Kalo nggak begini ya nggak ketutup semuanya. Uang mengalir, datang dan pergi. Nggak pernah buat gue sendiri kecuali untuk ke kantor. Ya kadang2 clubbing juga... tapi ga pernah bisa dapat sesuatu achievement tertentu. Ga ada mobil, ga ada rumah. Ga ada barang bagus. Cuma handphone kali. Me and my handphone... how lovely....and my books. That’s all I’ve got. How lovely.
Entahlah... kadang gue ngiri sama temen2 gue. Yg punya “tangible achievements”, entah materi, entah keluarga. Anak, atau anak2. Mobil. Rumah. Kata frank kan gue bahagia dengan pilihan hidup gue? Ya betul. Memang mesti begini hasil dari pilihan2 gue. Memang tidak tangible. Penghargaan orang walau tidak ada materi – yg tangible. Nama baik. Kepuasan batin. Menulis. Buku-buku. Cinta Frank yg mendalam walau tidak ada perkawinan dan anak - yg tangible. Kebanggaan mama, papa, dan chandra. Semuanya tak berwujud. Apa gue bahagia? Sebenarnya gue bahagia kok. Cuma mungkin tekanan konstruksi sosial yg melihat hal2 berwujud yg bikin gue kadang merasa tak bahagia. Tidak ada perkawinan, tidak ada anak, tidak ada mobil, tidak ada rumah. Hanya handphone, buku2, frank, tulisan2. Mungkin saja yg punya barang2 yg berwujud juga kadang merasa tak bahagia karena capaian tak berwujudnya malah tidak ada: perkawinan yg mengganjal, kebebasan yang hilang, penghargaan yang tak tinggi, kebanggaan yang tak didapat. Bukan begitu? Mungkin ini untuk menghibur diri .... (senyum getir).
Yang bikin gue bahagia cuma untuk berbuat baik karena gue memang nggak punya apa-apa lagi selain itu (senyum getir lagi). Buat orang rumah, buat anak2 PSHK, buat orang-orang di sekitar gue... itupun kadang masih tak dilihat baik. Kadang sedih dan kecewa juga. Gue punya banyak keinginan untuk bikin anak2 PSHK lebih baik, lebih cerdas, lebih sejahtera. Dengan banyak cara. Tapi kadang juga ga sampe.
Ahhhh... gue memang sudah terlalu lama ga merenung untuk diri gue sendiri seperti ini. Rasanya enaaaak banget. Sedih dan kelabu. Mungkin biru warnanya. Tapi mudah-mudahan jadi bikin hati plong dan tambah ikhlas dalam hidup. Belakangan Gue banyak bertanya soal agama, banyak bertanya soal nilai-nilai. gue memang ngaco untuk ukuran orang Islam mainstream. Gue belom kawin. Gue ga peduli frank nggak islam. Gue ga suka orang islam yang terlalu fanatik. Gue suka alkohol dan merokok. Tapi apakah gue jahat? Does Allah count me as a sinner anyhow? If Allah does, then be it lah.
Mas ari. Rasanya gue udah ga bisa memaafkan dia. Ga pernah terbayang ada orang yang sejahat itu sama keluarganya – sama orang tua dan adik2nya. Dan juga sama orang lain. Mudah2an Allah memaafkan dia. Tapi gue nggak bisa memaafkan dia. Bukan karena dia menyusahkan gue. Tapi karena dia membuat papa, mama, dan chandra susah. Karena dia membuat banyak orang susah. Gue menganggap gue ga punya kakak. Kadang gue sedih kalau ingat masa kecil gue sama dia. Kita dulu kompak banget. Tapi sekarang gue begitu ingin dia ga masuk lagi dalam hidup gue.
Do you think people like Cak Munir, Mas Bambang, and other people that I admire because of their never ending work for humanity and betterment of other people ever have thought about these things? Apakah aku kebanyakan mikir dan berpikir tentang banyak hal yang tak ada gunanya? Apakah ini semua perlu dipikirkan? Atau sebaiknya hanya kerja aja terus. Aku hanya kepingin kerja dan kerja buat banyak orang. Mungkin nggak bisa langsung buat korban HAM seperti Cak Munir. Tapi aku berharap banyak orang nanti benefiting dari law reform yang aku lakukan. Sumpah aku nggak pernah pingin ngetop. Nggak pingin nongol2 di tivi atau di koran. Kalaupun bangga dan senang, bukan karena pingin ngetop, tapi pingin isunya keangkat atau bangga karena mama, papa, dan chandra bisa punya sesuatu yg dibanggakan. Tapi afterall aku cuma pingin semua ini ada impact nya buat banyak orang. Semua itu hanya cara, bukan tujuan.
Aku kepingin jadi orang yang kuat. Kuat dalam arti punya prinsip yang kuat. Punya pandangan yang kuat dan berani menyatakan pandangan2 tanpa takut dan ragu. Kuat menghadapi pandangan-pandangan orang dari konstruksi sosial soal gender dan kelaziman2 dalam hidup dan soal achievements yang berwujud. Kuat kerja. Kuat nulis. Disiplin. Kuat menghadapi persoalan rumah. Kuat sama godaan uang untuk idealisme. Aku pingin bisa berdiri seperti pohon besar yang kokoh. Nggak tumbang kena angin. Punya akar yang dalam. Punya daun2, buah, dan batang yang berguna buat orang banyak. Punya daun rindang yang bisa melindungi orang2 yang ga kuat. Nggak tumbang kena gempa. Mungkin bisa hancur terbawa kapten tsunami. Tapi mungkin karena pohon aku itu kokoh dia cuma terbawa tsunami tapi tak hancur. Dia terbawa tsunami ke tengah laut. Mungkin lama-lama dia mati, tapi dia tetap sebuah pohon yang kokoh dan tak hancur. Karena prinsip-prinsipnya kuat. Mungkin bukan agama seperti yang dibilang sama kawan2 anak pengajian. Aku punya nilai2 sendiri. Humanisme mungkin? Keadilan sosial? Hahaha. Nggak pernah dirumuskan. Tapi aku kepingin kuat seperti pohon. Mungkin dia bisa mati karena tua atau terbakar. Kalau terbakar dia akan jadi abu. Kalau tua ya mati layu. Nggak apa-apa. Tapi mungkin aku suka pohon flamboyan karena selain kokoh dia juga berwarna. Cantik.

Aku kepingin orang2 mengikuti aku, menjadikan aku teladan. Bukan karena aku pingin dikagumi dan gila hormat. Tapi aku merasa mereka bisa menjadi better people dengan bekerja lebih keras. Sebab caraku untuk "mengubah" orang adalah dengan memberi contoh. Aku nggak mau marah2, karena menurutku memberi contoh jauh lebih baik. Tapi kadang2 orang nggak ngerti maksudku. Sedih juga. Tapi aku nggak mau mengeluh. Aku mau kerja aja. Aku mau menunjukkan kerja dan impact. Walau tetap harus kokoh dan kuat, sekali-kali harus marah supaya orang ngerti.
Aku cuma kepingin jadi orang biasa aja, tapi baik dan berguna buat banyak orang. Bisa nggak ya orang nggak pernah berbuat salah? mungkin nggak bisa ya? namanya juga manusia. Tapi ya aku pingin seperti pohon tadi. Biar dibawa kapten tsunami. Kalau salah biar mati terbakar.
Aku juga pingin mati muda. Untuk alasan yang egois. Aku nggak kepingin sedih karena mama, papa, dan chandra, atau kawan2 meninggalkan aku sendirian. Biar aja mereka yg sedih aku tinggalin...hihihi... mending juga mereka sedih... Biarlah, yg penting aku nggak sedih ditinggal orang. Aku nggak suka sendirian.
Thursday, April 07, 2005
Catatan Soal Award
Sabtu siang. Pulang kursus bahasa. Ponsel bunyi, DR telepon. Tumben, pikir saya. Rupanya berita gembira yang disampaikan. Saya, bersama dua kawanmenerima award dalam rangka hari ulang tahun organisasinya, untuk bidang hukum. Banyak juga woro-woro dari dia. Soal bagaimana organisasi-organisasi ini dipertimbangkan karena sudah sama-sama mendorong pembaruan hukum. Ah, namanya juga menerima award. Ya saya senang saja. Sangat senang malah, sehingga pada hari Senin saya langsung kirim email ke seluruh staf di puri dan pendiri soal ini. Siapa yang tak bangga kerja kerasnya dihargai?
Rabu malam. Hampir tengah malam. Capek karena sehari penuh lari dari pertemuan ke pertemuan dan sedikit stress karena ada bahan yang harus disiapkan untuk pertemuan program Kejaksaan besok. Ah, anyway, buka lemari dan memilih baju dan kalung –aksesoris khas saya- untuk besok pagi. Sambil menimbang-nimbang mau pakai sepatu yang hitam atau yang coklat. Tiduran sambil menatap langit-langit kamar. Tadi siang habis membahas soal rencana seminar di Aceh dengan kawan-kawan. Kemarin rapat AlterLaw, membahas soal banyak hal dengan kawan-kawan yang kompak di bidang hukum yang kebetulan kumpul di arena yang sama. Ngobrol mulai dari soal pemilihan anggota Komisi Yudisial, sikap soal KKR, kurangnya orang untuk komisi-komisi di bidang hukum sehingga perlu ada perubahan pendekatan dalam mendorong kandidat anggota Komisi Yudisial, kasus judicial review yang sedang ditangani LBH. Do I deserve the award?
Kamis pagi. Hari H, 7 April 2005 – hari penerimaan award. Agak kaget karena profil saya ditulis sangat personal. Momen penerimaan award. Kaget lagi, karena tidak seperti qq yang diwakili koleganya, Mbak Nur dan Pak Azyumardi diwakili oleh kerabatnya: anak dan istrinya. Kok seperti Academy Award? Bukannya ini karena achievement organisasi?
Masih Kamis pagi. Wwmembacakan biografi para penerima award. Profil Pak Azyumardi Azra, Mbak Nur, Mas Santoso. Saya? Ah betapa kecilnya saya! Tentu bukan dari segi umur, tapi betapa kecil yang saya kontribusikan untuk pembaruan hukum. Baru tujuh tahun! Kilatan lampu blitz, wartawan, ucapan selamat. Selamat, anda yang paling muda ya? Selamat ya menerima award! Dan berbagai “selamat” lainnya. Di mulut saya sudah otomatis keluar kata “terima kasih”, tapi di benak saya beribu perasaan berkecamuk. Pantaskah saya menerima penghargaan ini???
Kamis malam. Hampir tengah malam. Seharusnya saya kerja karena jam 9 pagi saya harus menyerahkan dokumen untuk pertemuan Kejaksaan dan jam 10 harus presentasi untuk Dubes Denmark, padahal presentasi belum selesai dibuat. Tapi saya tak tahan untuk pulang tanpa menulis ini. Ada dua hal yang sangat menganggu saya hari ini seperti serangga yang berkerumun di kepala.
Pertama, organisasi ini bukan saya dan saya bukan organisasi ini. Saya percaya bahwa semua yang ada di sini bisa seperti sekarang karena teamwork yang luar biasa dan kecerdasan dan ketekunan luar biasa dari banyak orang yang dikumpulkan jadi satu. Dan saya juga bisa menjadi seperti sekarang bukan karena saya sendiri, tetapi karena sering diskusi, saling kritik, dan saling “cela-celaan”. Banyak pemikiran saya yang lahir karena terinspirasi kawan-kawan. Banyak data yang sering saya lontarkan yang lahir dari upaya kawan-kawan dalam melakukan riset. Bukan, ini bukan soal saya.
Kedua, buat saya, award ini bukan hadiah, bukan sekadar penghargaan, tapi sebuah cambukan. Waktu masih kebingungan dan sumringah, saya pikir: ah, it’s not a big deal! Ini cuma penghargaan biasa. Toh saya “hanya” mendapat sebuah plakat dan buku yang bagus. Tapi kemudian saya pikir, mestinya saya bisa “mengambil sesuatu” dari sini. Award ini sesungguhnya adalah sebuah “pelajaran” di dalam dirinya sendiri. Bukan untuk berbangga, tapi justru untuk berefleksi. Apakah saya pantas menerima ini? Masih banyak orang yang bekerja luar biasa untuk pembaruan hukum. Alm Cak Munir, bw, dt, mas, dll yang luar biasa enerji, keberanian, dan pemikirannya. Terus berjuang puluhan tahun. Saya baru mulai! Saya kadang hampir frustasi. Saya kadang merasa “takut” pada ketidakpastian dan ketidakadilan di hadapan saya. Saya kadang gamang mengambil sikap. Saya merasa belum menyumbangkan apapun untuk pembaruan yang sesungguhnya. Pembaruan yang punya dampak pada orang-orang biasa di luar sana. Saya masih harus banyak belajar pada orang-orang itu.
Ah, memikirkan ini pun rasanya saya jadi malu. Bukan apa-apa, tapi saya jadi malu karena untuk “penghargaan” yang biasa saja dan tidak terlalu pantas saja sampai saya tulis sepanjang satu setengah halaman! Betapa jumawanya saya!
Rabu malam. Hampir tengah malam. Capek karena sehari penuh lari dari pertemuan ke pertemuan dan sedikit stress karena ada bahan yang harus disiapkan untuk pertemuan program Kejaksaan besok. Ah, anyway, buka lemari dan memilih baju dan kalung –aksesoris khas saya- untuk besok pagi. Sambil menimbang-nimbang mau pakai sepatu yang hitam atau yang coklat. Tiduran sambil menatap langit-langit kamar. Tadi siang habis membahas soal rencana seminar di Aceh dengan kawan-kawan. Kemarin rapat AlterLaw, membahas soal banyak hal dengan kawan-kawan yang kompak di bidang hukum yang kebetulan kumpul di arena yang sama. Ngobrol mulai dari soal pemilihan anggota Komisi Yudisial, sikap soal KKR, kurangnya orang untuk komisi-komisi di bidang hukum sehingga perlu ada perubahan pendekatan dalam mendorong kandidat anggota Komisi Yudisial, kasus judicial review yang sedang ditangani LBH. Do I deserve the award?
Kamis pagi. Hari H, 7 April 2005 – hari penerimaan award. Agak kaget karena profil saya ditulis sangat personal. Momen penerimaan award. Kaget lagi, karena tidak seperti qq yang diwakili koleganya, Mbak Nur dan Pak Azyumardi diwakili oleh kerabatnya: anak dan istrinya. Kok seperti Academy Award? Bukannya ini karena achievement organisasi?
Masih Kamis pagi. Wwmembacakan biografi para penerima award. Profil Pak Azyumardi Azra, Mbak Nur, Mas Santoso. Saya? Ah betapa kecilnya saya! Tentu bukan dari segi umur, tapi betapa kecil yang saya kontribusikan untuk pembaruan hukum. Baru tujuh tahun! Kilatan lampu blitz, wartawan, ucapan selamat. Selamat, anda yang paling muda ya? Selamat ya menerima award! Dan berbagai “selamat” lainnya. Di mulut saya sudah otomatis keluar kata “terima kasih”, tapi di benak saya beribu perasaan berkecamuk. Pantaskah saya menerima penghargaan ini???
Kamis malam. Hampir tengah malam. Seharusnya saya kerja karena jam 9 pagi saya harus menyerahkan dokumen untuk pertemuan Kejaksaan dan jam 10 harus presentasi untuk Dubes Denmark, padahal presentasi belum selesai dibuat. Tapi saya tak tahan untuk pulang tanpa menulis ini. Ada dua hal yang sangat menganggu saya hari ini seperti serangga yang berkerumun di kepala.
Pertama, organisasi ini bukan saya dan saya bukan organisasi ini. Saya percaya bahwa semua yang ada di sini bisa seperti sekarang karena teamwork yang luar biasa dan kecerdasan dan ketekunan luar biasa dari banyak orang yang dikumpulkan jadi satu. Dan saya juga bisa menjadi seperti sekarang bukan karena saya sendiri, tetapi karena sering diskusi, saling kritik, dan saling “cela-celaan”. Banyak pemikiran saya yang lahir karena terinspirasi kawan-kawan. Banyak data yang sering saya lontarkan yang lahir dari upaya kawan-kawan dalam melakukan riset. Bukan, ini bukan soal saya.
Kedua, buat saya, award ini bukan hadiah, bukan sekadar penghargaan, tapi sebuah cambukan. Waktu masih kebingungan dan sumringah, saya pikir: ah, it’s not a big deal! Ini cuma penghargaan biasa. Toh saya “hanya” mendapat sebuah plakat dan buku yang bagus. Tapi kemudian saya pikir, mestinya saya bisa “mengambil sesuatu” dari sini. Award ini sesungguhnya adalah sebuah “pelajaran” di dalam dirinya sendiri. Bukan untuk berbangga, tapi justru untuk berefleksi. Apakah saya pantas menerima ini? Masih banyak orang yang bekerja luar biasa untuk pembaruan hukum. Alm Cak Munir, bw, dt, mas, dll yang luar biasa enerji, keberanian, dan pemikirannya. Terus berjuang puluhan tahun. Saya baru mulai! Saya kadang hampir frustasi. Saya kadang merasa “takut” pada ketidakpastian dan ketidakadilan di hadapan saya. Saya kadang gamang mengambil sikap. Saya merasa belum menyumbangkan apapun untuk pembaruan yang sesungguhnya. Pembaruan yang punya dampak pada orang-orang biasa di luar sana. Saya masih harus banyak belajar pada orang-orang itu.
Ah, memikirkan ini pun rasanya saya jadi malu. Bukan apa-apa, tapi saya jadi malu karena untuk “penghargaan” yang biasa saja dan tidak terlalu pantas saja sampai saya tulis sepanjang satu setengah halaman! Betapa jumawanya saya!