Hari ini saya berjumpa kembali dengan Mrs. Smith, setelah 2 tahun. Saya banyak dapat update dari dia. Saya jadi banyak bertanya tentang kawans lama saya. Kawans se-gang sebenarnya. Let’s say “Panitia 9” itu. Tapi juga “orang2 hukum” secara umum. Kami bertukar cerita tentang mereka karena sebagian memang orang-orang yang “terorbitkan” sewaktu kami advokasi konsbar dulu. Sebab lainnya karena dia pengen curhat juga soal kelakuan “orang2 hukum” pada saya yang “orang hukum”.
Dari cerita-cerita itu saya jadi berpikir, mungkin salah satu keputusan terpenting dalam hidup saya memang untuk pergi dari Indonesia (sementara atau tidak, that’s the question :-)). Tentu banyak alasan untuk bilang begini. Tapi alasan yang menguat sehabis obrolan saya dengan Mrs. Smith adalah soal jebakan ketenaran. Maksud saya, “ketenaran” mendadak, dan beberapa pada usia yang relatif muda, membuat teman-teman saya yang potensial malah cenderung sekadar mencari popularitas ketimbang berkontribusi riil pada Reformasi. Tentu ini generalisasi. Ada juga yang masih ada di jalur yang benar. Tapi yang sangat saya sayangkan, upaya mendongkrak popularitas semata membuat orang jadi malas menganalisis, malas mencari informasi lengkap, malas berpikir strategis. Akibatnya, sebagian “layu sebelum berkembang”. Layu di sini tentunya perspektifnya layu untuk bisa mendukung perubahan. Orang-orang itu bisa melesat karirnya, tapi saya ingin menilai saya dan teman2 saya dari kacamata sumbangan bagi perubahan.
Di luar Indonesia pun, sesungguhnya kemalasan-kemalasan ini tentunya ada dan saya tetap kena. Jebakan batman yang saya berhasil saya hindari adalah upaya mencari popularitas itu. Nyaris jatuh juga, waktu saya jadi terlalu sibuk untuk ngomong sana-sini dan mulai malas riset dan menulis. Malas membaca dan malas menulis itu bisa jadi alasannya sibuk, tapi kesibukan kan sebenarnya juga bisa dikelola. Apalagi bila kita selektif dalam memilih isu yang ingin didalami. Pengelolaan ini bisa gagal bila nafsu ingin tenar membuat semua undangan bicara dan wawancara ingin dipenuhi. Akibatnya waktu untuk riset, menulis, dan berefleksi jadi terpakai.
Saya waktu itu betul-betul nyaris jatuh karena sebenarnya saya punya kecenderungan yang cukup kuat untuk “pengen ngetop” :-P. Padahal saya bukan orang yang bisa berpikir cepat untuk membuat komentar yang bernas dan analisis yang dalam. Dan juga bukan orang yang punya long term memory. Saya selalu butuh waktu lama untuk bisa berpikir jernih dan melihat dari banyak sudut. Bila saya jatuh, bahaya sekali. Akan banyak komentar ngaco dan akan banyak kerusakan yang bisa saya timbulkan.
Proses sekolah lagi ini benar-benar seperti bertapa buat saya. Bukan cuma dipaksa membaca dan menulis, tapi juga jadi banyak berefleksi soal sifat, kelemahan dan capaian. Ini semedi atawa meditasi. Nggak akan bisa seperti Buddha yang bisa mencapai nirvana. Tapi mudah2an paling tidak jadi belajar tenang melihat rupa diri yang sebenarnya bopeng-bopeng, tanpa perlu membandingkan dengan rupa orang lain (anak kalimat terakhir ini penting).