Sunday, November 25, 2012

Kafka dan Gregor si Kecoak

Baru kelar dengar Franz Kafka’s The Metamorphosis. Dengar, bukan baca. Ini hobi (nggak terlalu) baru saya: dengar audio book sambil olahraga - jogging atau brisk walking atau aerobic atau hula hooping. Saya tinggal di tepi danau. Genangan air besar sebenarnya :-). Tapi lumayan bagus juga kalau dari jauh. Dari dekat agak bau dan kadang ada ikan mati mengambang. Yang pasti jangan berenang! :-) Tapi danau ya danau. Mengelilinginya atau sekadar berada di dekat air selalu menyenangkan. Sama seperti kebiasaan kami di Seattle mengelilingi Green Lake setiap minggu :-).

 West Lake photo session in summer

Kembali ke cerita awal (kebiasaan buruk cerita ngalor ngidul masih bertahan rupanya). Jadi sejak Februari 2012, saya mulai punya hobby jogging (sampai beli sepatu jogging yg seriues loh ;-)) sembari menikmati audio book. Jadi ada motivasi. Karena saya memilih cerita-cerita klasik dunia yang memang sesungguhnya belum pernah saya baca :-). Sekali jogging, kalau bukunya Charles Dickens atau Mark Twain bisa 1 atau 2 bab. Jadi deg-degan menunggu jogging keesokan harinya karena nggak sabar nunggu bab berikutnya :-). 

Tapi the Metamorphosis jadi catatan menarik tersendiri. Karena membaca/mendengar cerita buku ini seperti terapi mengatasi phobia saya pada kecoak. Terjemahannya bagus. Ekspresi-ekspresi dan penggambaran kecoak bisa saya dapatkan dengan baik, OMG! Awalnya saya agak khawatir terbawa mimpi. Sebab memang mengerikan deskripsinya. Gregor, seorang pegawai rendahan yang ditindas manajernya, pada suatu ketika waktu bangun tidur menyadari bahwa ia berubah menjadi kecoak. Yang mengerikan adalah detail penggambaran pada bagian awal Gregor bangun tidur dan menjadi kecoak: tentang bagaimana kaki-kaki yang banyak yang bergerak tak tekontrol, ruas-ruas di badannya, wajahnya dengan mata dan sungut, dan upaya kecoak-Gregor untuk bangun dari posisi terlentang. Saya nyaris berhenti berlari dan mau muntah.

Tapi Kafka memang luar biasa dalam detail cerita ini. Saya kira pengamatannya pada hidup para kecoak, atau risetnya dan upayanya untuk membacai buku-buku soal kecoak, anatomi dan gaya hidupnya, sungguh luar biasa. Bagaimana Gregor jadi tidak suka dengan makanan segar yang dibawakan Greta, adiknya; atau bagaimana sebutir apel yang dilempar ayahnya malah jadi menempel di tubuh Gregor atau bagaimana Gregor terluka ketika memaksakan diri melewati pintu kamarnya yang menjadi terlalu sempit untuk seorang kecoak raksasa sepertinya. Semuanya terperinci secara mengerikan. He is my kecoak guru.

Source: http://indeziner.com/design/artist-worth-mentioned-cristiano-siqueira/

Idenya sendiri sangat original! Seseorang yang bangun-bangun berubah menjadi kecoak, bayangkan! Betapa brilian. Ilustrasi buku itu mestinya jadi logo di blog ini. Asalkan jangan bergambar kecoak. 
Saya kira buku Gregor si Kecoak menjadi buku favorit saya saat ini. Saya bahkan jadi punya kode #gregor untuk kecoak2 yang saya temui.

Barangkali bisa banyak makna dari metamorfosis Gregor sang pekerja menjadi kecoak. Pasti lengkap sudah kajian filosofis maupun kritik sastra terhadapnya. Ini Kafka lho! ;-P Tapi buat saya daya pikat buku ini sederhana saja: kecoak. Pekerja yang biasanya dihinakan dan dianggap kecoak. Penumpang kereta setiap pagi ke kantornya, yang tiap hari berjejalan dan menjadi tak berkepribadian laksana kecoak. Gregor adalah seorang tulang punggung keluarga, kakak yang baik, anak yang berbakti. Tapi perlakuan para anggota keluarga berubah total ketika ia menjadi kecoak. Entah karena Gregor jadi tidak bisa lagi menjadi andalan keluarga. Atau ketakutan pada serangga kecil yang nggak jelas namun serupa monster. Apakah Gregor dicintai karena pendapatannya? Apakah kecoak tak pantas disayang? (tidaaaaaaaaaaak)

Begitulah #gregor.

Thursday, November 22, 2012

Frustasi soal dunia

Yang bikin marah, sakit hati, frustasi, adalah selalu ketidakberdayaan. Dalam skala yang paling rendah, ketidakberdayaan tentang banyak ketidakadilan yang saya cuma bisa tontoni di laptop, menggerogoti saya setiap hari. Setetes air mata yang jatuh setiap pagi setiap saya membuka gambar soal Palestina belakangan ini sama sekali nggak membantu. Tapi Palestina bukan satu2nya. Masih banyak, sangat banyak, sayangnya. Soal pengungsi Syiah di Sampang, Ahmadiyah, korban Lapindo. Kepala saya penuh dengan kemarahan sekaligus kebingungan: kenapa? Pantes ada generasi bunga yang mimpi dengan lagu imagine atau yang marah dengan we shall overcome,  atau generasi berikutnya yg merengek-rengek dengan when the children cry [maaf ini tiba2 jadi bicara lagu karena nulis ini sambil denger lagu :-)]. Ada yang kerjanya cuma mimpi aja, sambil ngisep ganja, dan kemudian demonstrasi. Ya salah juga. Harus berbuat.

Lalu saya jadi membayangkan ketidakberdayaan yang luar biasa ketika kita disiksa, dikurung, dibantai, diperkosa. Salah satu yang belakangan jadi banyak saya pikirkan gara2 nonton film The Act of Killing dan baca Tempo soal 1965-66. Dan pagi ini masuk lagi ke otak saya gara2 baca tulisam Noam Chomsky soal Palestina. Rasa ketidakberdayaan lama-lama bisa meledak. Akhirnya jadi kekerasan, lalu di-label dengan terorisme. Ingin rasanya menyelesaikan sesuatunya dengan cara “beradab”, tapi apa itu “adab”? saya jadi ingat kuliah dosen gila favorit saya di UW, Wolcher. Orang2 di Suriah, di Palestina, dan yang lalu juga di Bosnia, harus banyak yang mati dulu sampai orang2 yang beradab akhirnya bersedia melakukan sesuatu. Ah, pantes banyak orang memilih mimpi, pakai baju2 bunga2, dan menghisap ganja. 

Gila, terlalu banyak selentingan isu, kegelisahan, kemarahan, bahkan potongan2 peristiwa yang sudah lalu, di kepala saya belakangan ini. Begitu banyak yang mau saya tulis, terlalu banyak, sampai saya nggak mampu menuliskannya. Dunia lagi kelabu lagi buat saya. Dulu, saya selalu bilang, masa2 ketika saya melihat dunia sebagai kelabu selalu membuat saya nggak mau punya anak. Sekarang anaknya sudah ada :-). Barangkali saya cuma bisa mendidik dia supaya jadi “beradab”, entah apa itu beradab…. Saya mau dia jadi manusia yang bisa melihat manusia lain sebagai manusia. Bukan sebagai angka-angka statistik. Bukan sebagai laporan kematian sampai gencatan senjata harus jadi solusi. Bukan sebagai parameter kapan suatu berita bisa dinaikkan jadi berita. 

Maaf, ini cuma posting nggak jelas. Saya cuma numpang curhat soal dunia yang kelabu.