Tuesday, September 03, 2002

pemberontakan hati kecil

pagi ini, gue menitikkan air mata saat membaca berita ini. Sambil minum kopi
nescafe find blend, di depan komputer toshiba portege dengan internet
connection yg mantap dan mendengar musik dari radio di Inggris di kamar yg
nyaman dan berharga sewa 65 pound seminggu. What an irony!
ini tidak lebih sedih dari banyak cerita lainnya soal kemiskinan,
penderitaan dan tekanan orang2 melarat, juga tidak lebih tidak sedih
dibanding lainnya. tapi yg jelas, sama dengan cerita muram lainnya, semua
bikin gue marah dan gemas. Gue jadi lebih perasa dan cengeng selama di sini
krn gue tau gue di sini gak bisa berbuat banyak selain baca berita dan
diskusi. Now, no body can tell me to do nothing in a comfy chair in an
office when I go back to Jakarta!

(haha.. ini dia kemarahan seorang dr kelas menengah baru yg tiap hari naek
mobil ke kantor dan suka shopping di mall dan nongkrong di cafe..hidup
memang penuh dengan ironi yg suka bikin bingung dan frustasi)

---
from:http://www.kompas.com/kompas-cetak/0209/03/utama/tkim01.htm

TKI Mulai Jual Anak

- Dua Anak Rp 2 Juta

Nunukan, Kompas - Kondisi keluarga tenaga kerja Indonesia (TKI) di Kabupaten
Nunukan, Kalimantan Timur, yang terusir dari Malaysia, makin hari makin
memprihatinkan. Karena kehabisan uang dan tak tahan hidup sengsara, sejumlah
TKI bahkan harus rela menjual anak mereka, antara lain untuk ongkos pulang
ke kampung halaman.Akibat buruknya kondisi lingkungan, jumlah kematian juga
terus bertambah. Hari Senin (2/9) kemarin, Julius Aulu -usia satu
bulan-meninggal, yang berarti menambah jumlah anggota keluarga TKI yang
meninggal menjadi 67 orang, termasuk 25 balita (bawah lima tahun).

Tiga balita keluarga TKI juga dilaporkan sudah terkena busung lapar dan
sebagian besar bocah lainnya terkena gizi buruk akibat kondisi penampungan
yang juga memprihatinkan.

Palupi, petugas Posko Relawan Bantuan Kemanusiaan, menjelaskan, ia telah
memantau ada dua anak yang dijual. Tiga bocah lainnya juga diberikan
orangtua TKI kepada orang lain di Nunukan.

"Di penampungan di daerah pelabuhan, seorang TKI menjual dua anaknya, yang
berusia satu setengah tahun seharga Rp 1,5 juta dan yang berumur delapan
bulan dijual Rp 500.000," kata Palupi.

Pasangan suami-istri asal Flores, Laurensius Liwo-Kristina Noga Magin, yang
ditemui Kompas di Nunukan, kemarin, mengaku mendapatkan anak yang mereka
panggil Aco (3) setelah hari Minggu lalu memberi uang Rp 1 juta kepada
seorang ibu bernama Musriah, untuk ongkos pulang ke Jawa.

Meski demikian, Liwo meminta agar tidak menyebut hal tersebut sebagai
"membeli anak" dan Liwo menjelaskan bahwa ibunda Aco telah pulang ke Jawa.

"Tolong ini jangan dianggap jual-beli. Kami membantu dia karena dia sama
sekali tidak punya uang setelah dua minggu di Nunukan ini. Kakak Aco
pun-perempuan berusia empat tahun-diberikan kepada orang lain di Tawau. Ia
merasa kecewa, tiga kali kawin cerai, ditinggal suami, dan anaknya yang
berusia 20 tahun di Kota Kinabalu malah pernah memukulinya," kata Kristina.

"Kami berdua memberi nama Aco itu Alfedrus Septianus dan dia langsung dekat
dengan kami," ujar Liwo, yang sehari-hari bekerja sebagai sopir angkutan
umum. Istrinya, Kristina, guru SMP. Liwo, kemarin, juga mengajak "anak
barunya" bepergian menemaninya menyopir mobil angkutan.

"Saya mendengar beberapa orangtua sudah tidak mampu memelihara anaknya,
tetapi saya selalu keduluan orang lain. Saya baru dapat sekarang," kata
Kristina, yang telah memiliki anak perempuan berusia 12 tahun. "Anak saya
senang punya adik baru," ia menambahkan.

Menurut Palupi, di tempat lain, pasangan TKI memang ada yang kembali ke
Malaysia setelah menyerahkan tiga anaknya kepada orang yang mereka kenal di
Nunukan.

Petugas relawan lain mengatakan telah mendengar banyak terjadi penjualan
anak balita TKI. Bahkan, ada pasangan TKI yang bertengkar karena suami
ngotot ingin menjual anak mereka disebabkan kebutuhan uang setelah kalah
berjudi.

Busung lapar

Ketua Posko Relawan Bantuan Kemanusiaan Aloysius Ratu Kellen mengungkapkan,
balita yang terkena busung lapar adalah Charles dan Emanuel, anak kembar
berusia 1,5 tahun. Kondisi mereka mengenaskan dengan badan kurus dan perut
membuncit. Seorang balita lainnya yang terkena busung lapar, tidak diketahui
namanya, tetapi diketahui tinggal di penampungan Sungai Sembilang.

"Sebagian besar dari mereka tidak mengonsumsi sayur, dan cuma memperoleh
sedikit nasi dengan ikan asin dua kali sehari dalam sebulan terakhir,"
Kellen menjelaskan.

Menurut Kellen, balita tersebut juga rawan terkena penyakit infeksi saluran
pernapasan atas (ISPA). Dalam data Dinas Kesehatan Nunukan, sekurangnya
2.323 balita mendapat perawatan akibat terkena gangguan ISPA.

Para relawan yang bertugas di posko tersebut meminta agar dikirimkan
tambahan tenaga medis, pelayanan tempat tinggal yang memadai, dan air bersih
bagi TKI. Upaya itu akan sangat membantu 20.000 TKI dan keluarga yang saat
ini bertahan di Nunukan, menanti kesempatan kembali ke Sabah, Malaysia.

Obat tiga hari

Kepala Dinas Kesehatan Nunukan Trisno Hadi yang dihubungi terpisah kemarin
menyatakan akan meningkatkan koordinasi sehubungan dengan buruknya kondisi
lingkungan tempat tinggal para TKI.

Ia pun mengakui makin menipisnya cadangan obat di Pusat Kesehatan Masyarakat
(Puskesmas) Nunukan sehingga kini hanya tersisa untuk tiga hari mendatang.

"Kami mengupayakan bantuan kapal rumah sakit KRI Amboina yang tiba Jumat
ini. Selain itu, didatangkan pula 10 perawat dari Balikpapan untuk membantu
di Puskesmas Nunukan yang kewalahan melayani pasien," kata Trisno.

Dari Pelabuhan Nunukan dilaporkan, sepanjang Senin, sekitar 2.000 orang
berangkat dalam 12 pelayaran dari Nunukan ke Tawau. Sebanyak 1.990 orang
yang diduga TKI menggunakan paspor untuk menyeberang, sisanya memakai Pas
Lintas Batas yang umumnya digunakan masyarakat setempat.

Pejabat Pendaratan Pelabuhan Tunon Taka, Nunukan, Novly TN Momongan
mengatakan, sepanjang hari lebih banyak orang berangkat dari Nunukan ke
Tawau. Akan tetapi, masih ada arus kapal yang masuk dari Tawau ke Nunukan
hingga malam hari sehingga masih ada kemungkinan mengalirnya TKI yang pulang
dari Sabah ke Indonesia.

Dari Kantor Imigrasi Nunukan diperoleh data masih 9.930 paspor TKI yang
diproses pihak imigrasi. Diperkirakan pembuatan paspor tersebut akan selesai
dalam dua pekan.

Presiden harus mampir

Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa (F-KB) DPR Rodjil Gufron meminta Presiden
Megawati menemui langsung para TKI yang bermasalah itu, baik di Nunukan
ataupun di Malaysia. "Kalau dia tahu langsung duduk persoalan, langkah
koordinasi akan mudah diambil. Tidak seperti sekarang, semua menteri saling
lempar tanggung jawab," ujar Rodjil.

"Tanpa kehadiran Megawati, TKI merasa pemerintah tidak serius memandang
persoalan mereka. Apalagi, seperti terjadi di Kuala Lumpur, TKI yang mau
mengurus SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor-Red) harus melalui calo, yang
harganya bisa tiga kali lipat. Ini pemandangan buruk Indonesia di negeri
orang. Itu kan sangat merugikan bangsa kita," katanya.

Menanggapi kritik dari beberapa anggota DPR yang menghendaki segera Megawati
kembali ke Tanah Air setelah usai Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi,
Menlu Hassan Wirajuda mengatakan, masalah TKI ilegal bukan hanya memulangkan
dari Malaysia ke Indonesia, tetapi juga menempatkan kembali secara resmi ke
Malaysia.

Telah ada kesepakatan antara Malaysia dan Indonesia untuk membahas masalah
TKI ini pada bulan September, katanya, tanpa menyebutkan kapan itu akan
dilaksanakan. Menlu juga menyebutkan rencana pertemuan antara Wakil PM
Malaysia Abdullah Badawi dengan Megawati selama keduanya berada di Afrika
Selatan.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) KH Hasyim
Muzadi mengatakan, Gerakan Moral Nasional yang terdiri dari pimpinan NU,
Muhammadiyah, Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), dan Persekutuan Gereja
Indonesia (PGI) akan berkunjung ke tempat penampungan TKI di Nunukan, Rabu
besok.

"Kehadiran kami di sana ingin mengetahui secara persis apa yang menjadi
keluhan mereka selama ini. Sebab, menurut berita di koran, sepertinya mereka
kurang tertangani dengan baik," ujar KH Hasyim. (ong/mh/osd/mba)

Wednesday, August 14, 2002

Pesta Seni ‘Pinggiran’ di Edinburgh

(Catatan Perjalanan 11-13 Agustus 2002. Buat Selingan Disertasi)

Pertama kali turun dari kereta di stasiun kereta Edinburgh Waverley mata langsung disuguhi kota tua dengan sederet bangunan batu di pinggiran bukit. Sangat indah. Hujan yang memang menjadi keseharian di Skotlandia (dan seluruh dataran Inggris) turun sore itu, namun tidak mengurangi sambutan hangat kota seni itu. Keluar dari stasiun, tampak kota berbukit Edinburgh yang tua, sekaligus moderen dalam hal fasilitas umum. Tempat sampah yang menjamur dan membuat kota rapi dan bersih, pertokoan bergaya mutakhir di dalam bangunan tua dari batu berlumut yang terlihat klasik, kotak telepon umum merah yang lucu khas Britania Raya, bis tingkat (double decker) dan penumpang sabar berjejer di halte bus tanpa harus dikejar seperti di Jakarta.

Ratusan ribu orang (bahkan jutaan bila dihitung selama sebulan), tua-muda, miskin-kaya, berkulit hitam-putih-kuning-coklat, berkelamin lelaki-perempuan-gay, kumpul di Edinburgh sepanjang bulan Agustus. Ada apa? Edinburgh Festival yang dilaksanakan setahun sekali tengah berlangsung. Di bawah Edinburgh Festival sebagai “payung,” ada International Jazz and Blues Festival, Edinburgh Military Tattoo, International Book Festival, International Festival, International Film Festival, dan tentunya, Edinburgh Festival Fringe yang mahsyur itu.

Tak kurang dari 2000 pertunjukkan (setidaknya angka itu yang disodorkan oleh buku panduan resmi Fringe Festival) dan 242 venues dilibatkan dalam Festival Fringe yang berlangsung dari tanggal 4 sampai 26 Agustus 2002. Teater, komedi, pertunjukkan untuk anak-anak, musik, pertunjukkan jalanan (street plays dan pengamen), tari, happening art, opera, diskusi seni dan buku, serta pameran lukisan, fotografi, dan perhiasan meramaikan Fringe Festival.

Sarapan bersama Shakespeare

Malam pertama di Edinburgh dihabiskan dengan menjelajah kehidupan malam yang hangat dan nonton The Bing Show, pertunjukan teater kontemporer yang, terus terang, membingungkan walau sedikit unik. Di situ memang uniknya Fringe Festival. Ribuan tontonan disuguhkan tanpa batasan dan pengkotakan. Calon penonton harus pandai memilih berdasarkan ulasan dari berbagai media dan obrolan di pinggir jalan dan warung kopi. Kalau tidak terlalu beruntung, 3.5 sampai 8 pound (begitu kisaran harga tiket pertunjukan) uang bisa berujung pada pertunjukan yang tidak menimbulkan kesan.

Namun hari kedua (dan satu-satunya hari penuh yang saya habiskan di Edinburgh) adalah yang terbaik. Bukan saja matahari bersinar seharian, tapi hari itu juga diawali dengan pertunjukan yang sangat menarik. Berdasarkan saran seorang teman yang rajin menyambangi Edinburgh Festival Fringe (“Edfringe”), Shakespeare for Breakfast biasanya menjadi salah satu tontonan yang ditunggu tiap tahun. Dengan membayar 4.5 pound, kita bisa nonton mutasi dari salah satu karya Shakespeare, yang dibuat interaktif, segar, dan disuguhkan bersama secangkir kopi dan sepotong croissant untuk sarapan.

Seperti umumnya setting panggung yang minimalis di Edfringe, deretan kursi biasa dan kain hitam sebagai latar belakang juga ada di Shakespeare for Breakfast. Bedanya cuma ada sepotong croissant dan brosur di tiap kursi dan tumpukan croissants di sudut-sudut “panggung”. Romeo and Juliet versi “croissant family war” dimainkan. Sedikit nakal dan vulgar, lucu, dan interaktif. Itu mungkin empat kata yang bisa menggambarkan sarapan bersama Shakespeare pagi itu. Komunikasi langsung dengan penonton dimainkan dengan permintaan Nursy kepada penonton, misalnya, untuk meneriakkan “Oy, Nursy, how is you floury bubs?” setiap kali ia muncul di panggung, yang akan dijawabnya dengan jawaban yang nakal dan lucu. Nursy adalah pemain laki-laki yang berdandan sebagai dayang perempuan Juliet yang jagoan membuat croissant dan ada main dengan ayah Juliet yang suka bila “people come and see my balls” (maksudnya ball sebagai resepsi, tapi kan bisa diartikan lain). Juga saat penonton diajari bernyanyi dan disirami air karena dianggap bunga oleh Pendeta yang akan mengawinkan Romeo dan Juliet.

Humor India dan Film Hollywood Dalam Teater

Sore di hari kedua, giliran Funjabi yang ditonton. Sebuah drama komedi India yang mengekspos kebiasaan penduduk Britania Raya asal mantan negara jajahannya, India, dan goyang pinggul a la Bollywood. Pertunjukkan yang agak mewah karena diadakan di hotel dan didukung video sebagai latar belakang yang membantu plot cerita sekaligus sebagai dekor.

Sayangnya, walau sedikit lucu, drama komedi ini jadi kurang berkesan karena ada “pesan sponsor” yang disampaikan secara vulgar seperti layaknya Ria Jenaka di TVRI di tahun 1980-an, yaitu soal keberagaman dan kampanye anti rasisme di Britania Raya.

Malam harinya, sebuah pertunjukan teater yang dimainkan kelompok asal Amerika Serikat memberikan kesan tontonan film hollywood. Popcorn judulnya. Untuk pertunjukan malam itu, setiap tiket dapat digunakan untuk mengambil bir gratis di bar di Bedlam venue. Itu memang salah satu strategi yang digunakan kelompok-kelompok teater yang berpromosi untuk merebut hati calon penonton. Sekali lagi, layar besar digunakan untuk membantu dekorasi dan jalannya cerita. Setting tunggal menggambarkan rumah seorang sutradara Hollywood langganan Oscar dengan tulisan besar “Hollywood” di bukit terlihat dari “jendela”. Memang, sang sutradara menjadi tokoh sentral dalam pertunjukkan berbau dar-der-dor dan kehidupan glamour Hollywood dengan kostum mengkilap, seks, dan obat-obatan yang digambarkan dengan cukup vulgar.

Tensi sekaligus puncak bertutur terjadi saat rumah si Sutradara cabul didatangi oleh pasangan pembunuh “Mall Murderers” yang menginginkan agar Sutradara mengakui bahwa pembunuhan kejam yang mereka lakukan adalah akibat film-film bikinannya yang mengakibatkan masyarakat Amerika sakit jiwa dan menumbuhkan naluri membunuh.Pembicaraan-pembicaraan dalam skenario mengenai fenomena sosial, politik dan hukum di Amerika menarik untuk disimak. Misalnya saja soal bagaimana peradilan dapat dengan mudah dimainkan oleh para pengacara dengan argumen yang cenderung mengada-ada. Atau bagaimana industri film Hollywood mempengaruhi pola pikir masyarakat Amerika. Namun tentunya, bagi penonton yang mengharapkan hiburan (pure entertainment), dialog semacam ini terdengar bertele-tele dan membosankan.

Buat saya, Popcorn adalah pertujukkan yang menarik, walau untuk bercerita soal Hollywood, ia harus menggunakan model bertutur a la Hollywood pula. Hal yang menimbulkan kesan bahwa yang baru saja saya tonton bukanlah sebuah pertunjukkan teater, tetapi sebuah film Hollywood, lengkap dengan bunyi tembakan, aksen Texas yang kental, perempuan-perempuan seksi yang berbaju mengkilap dan jagoan yang tidak mati walau seluruh tokoh mati terbunuh. Sindirankah ini?

Pertunjukan Jalanan

Dana terbatas? Harga tiket yang termasuk murah bila dibandingkan dengan pertunjukkan di London memang cukup mahal bila dikonversikan ke rupiah. Tapi jangan kuatir, konsesi buat pelajar dan orang tua selalu tersedia, dan yang lebih penting, tontonan gratis juga cukup banyak. Di sela waktu senggang di antara dua pertunjukan, kita juga bisa nongkrong di pinggir jalan melihat berbagai pertunjukan jalanan dan stand yang menjual benda-benda seni.

Beberapa kelompok teater menawarkan satu tiket nonton gratis bagi tiap orang yang bersedia membagikan setumpuk flyers di jalanan. Youth hostels yang murah, baik dan bersih penuh dengan backpackers yang kadang datang dari jauh dengan membawa gitar dan berbagai alat pertunjukkan. Di sela pertunjukan teater yang tidak gratis, mereka berbaur dengan puluhan kelompok-kelompok pertunjukkan jalanan. Mencari sebuah sudut untuk ngamen, mengumpulkan uang untuk pertunjukkan berikutnya.

Sebagian besar jalanan berbukit-lembah yang beralas batu tua di Edinburgh memang penuh dengan berbagai pertunjukan, termasuk pertunjukan “dadakan” dari orang-orang yang ingin cari dana tambahan untuk nonton teater. Tapi pertunjukan jalanan yang ‘resmi’ terpusat di High Street dan Hunter Square. Pantomim, orkestra kecil, one man band, akrobat, tarian flaminggo, paduan suara, dan tak lupa pemain bag pipe khas Skotlandia, bertaburan sepanjang jalan.

Yang menarik lagi, karena persaingan ketat dari tiap kelompok, promosi dan penyebaran flyers untuk pertunjukan-pertunjukan juga dilakukan dengan cara yang sangat unik dan artistik. Promosi pertunjukan pun menjadi pertunjukan itu sendiri. Jangan kaget kalau tiba-tiba ada seseorang berbaju hijau compang camping dan bermuka hijau mendekati kita dan menawarkan flyer dengan ekspresi aneh sambil merangkak. Atau bila seseorang berbaju papan poster dan bermuka putih meneriakkan potongan dialog dalam salah satu plays.


Patung "perunggu" atau patung gips yang bergerak dan berbicara pada kita dengan ekspresinya bila kita meletakkan uang di hadapannya atau pemain akrobat Cina yang berjalan dengan enggrang. Semua bisa ditemukan di High Street. Di jam makan siang dan sore hari, jalanan, yang memang ditutup untuk pertunjukan, itu penuh dengan manusia dari berbagai belahan dunia dan golongan umur.

Edinburgh: Kota Seni

Seperti digambarkan secara singkat di awal tulisan ini, Edinburgh memang kota yang indah. Ia dijuluki Kota Seni bukan hanya karena di sini lahir pertunjukan yang kini sudah mendunia (Fringe Festival), tapi juga karena tata kota tersebut yang sangat berseni dan indah.

Berjalan sedikit ke tengah kota dengan sedikit “mendaki,” Edinburgh Castle yang seakan menempel di bibir sebuah bukit dapat dicapai. Lorong-lorong tua kota Edinburgh dan monumen-monumen dan gereja dari batu yang menjulang tinggi sangat sedap dipandang. Di sebelah utara Castle, ada bukit Calton di mana kita bisa memandang seluruh kota Edinburgh, bukit-bukit highlands yang terkenal karena Duncan MacLeod di film Highlander di sekeliling, hingga ke pantai. Di bukit itu pun, sebuah gereja tua, meriam tua, beberapa rumah batu, dan pilar-pilar batu yang mirip pilar di Akropolis di Yunani bisa ditemukan. Makan siang di halaman rumput yang luas sambil memandang kota tua yang cantik dan bersih sungguh pengalaman yang tiada duanya.

Sejak 1947

Fringe Festival diawali pada tahun 1947 sebagai inisiatif pasca-Perang Dunia II yang ditujukan untuk menyatukan kembali Eropa melalui budaya, terutama musik dan drama (the Edinburgh Festival of Music and Drama). Menyadari bahwa perhatian orang banyak akan terpusat di festival itu, enam kelompok teater kecil Skotlandia dan dua kelompok teater kecil asal Inggris memutuskan untuk ikut serta, namun ditolak karena mereka terlampau kecil untuk industri seni Eropa yang gegap gempita. Tanpa kenal menyerah, kelompok-kelompok gurem ini berhasil menyedot perhatian orang dari pinggiran (fringe) Edinburgh Festival of Music and Drama yang megah itu. Sejak saat itulah, kata Fringe kemudian diasosiasikan dengan pertunjukan teater yang inovatif, bersemangat, dan penuh tantangan.

Istilah Fringe kemudian mendunia dan digunakan untuk festival seni yang terbuka, dalam arti tanpa sensor dan batasan artistik, bagi kelompok teater manapun besar mau pun kecil. Saat ini, tidak kurang dari 48 Fringe Festivals dilaksanakan setiap tahunnya di berbagai negara, dari Hongkong hingga Australia. Di Britania Raya saja, ada tujuh Fringe Festivals, sementara Kanada memiliki 20.

Khusus di Edinburgh, Fringe Festival diluaskan menjadi Edinburgh Festival yang mencakup tidak hanya teater dan musik, tapi juga buku, film, dan pertunjukan tradisional macam Edinburgh Military Tattoo. Di Military Tattoo itu, para prajurit berpakaian tradisional kilt (kain kotak-kotak khas Skotlandia yang dililitkan di seputar pinggul dan dada) beratraksi di halaman Castle, sementara angin kencang dari bukit-bukit di sekelilingnya akan menerbangkan kilt mereka dan menampakkan tato yang selama ini tersembunyi dengan baik di balik kilt!

Acungan jempol patut diberikan kepada penyelenggara yang tergabung di bawah Fringe Society di Edinburgh. Mereka mengorganisasikan keseluruhan acara dengan baik. Website yang sangat informatif dan sistem pemesanan tiket yang terorganisasi dengan baik, hingga buku informasi dan tabloid ulasan pertunjukan yang terbit tiap hari disediakan bagi seluruh pengunjung secara cuma-cuma.

Pesta seni tahunan ini juga menjadi sumber pendapatan Skotlandia yang penting, obral musim panas (summer sale) tahunan jadi punya pasar yang lebih besar dari biasanya karena didukung oleh festival ini. Petugas Pemda, yang kondisinya berbeda 180 derajat dari Pemda Jakarta tercinta, menyediakan fasilitas umum yang bersih dan layak pakai. Mobil pembersih jalanan yang datang tiap sore dan tempat sampah berhias yang menarik, kamar mandi umum yang bersih (walau harus membayar 20 pence, tapi rasanya rela), pusat informasi turis yang lengkap, dan pengorganisasian penginapan murah untuk pelajar yang dananya terbatas macam saya. Pak dan Bu Polisi pun siap sedia membantu tanpa bermaksud menilang dan minta “uang rokok” seperti di Jakarta. Stasiun-stasiun polisi kecil untuk perlindungan turis dan website gratis untuk menghubungi polisi ada di mana-mana.
***
Di hari ketiga, stand up comedy bar, dan drama Emma yang buat saya membosankan dan saya tonton setengah jalan karena harus mengejar kereta jam lima sore, menutup kunjungan saya ke Edinburgh. Pesta Seni Pinggiran di kota tua Skotlandia yang indah. Buat pencinta seni, ini salah satu surganya pertunjukkan!

Warwick, 14 Agustus 2002

Tuesday, August 06, 2002

Negara Preman

Negara Preman. Tesis yang lagi saya kerjakan rupanya salah. Bukan, Indonesia bukan "state capitalism", juga bukan "state socialism". Indonesia itu "State Premanism". Baru baca tadi pagi di detik, jawara banten menolak dirut Krakatau Steel. LoL. Gejala apa ini? Dirut BUMN harus dapat restu dari gerombolan Preman? Rupanya, globalisasi dan 'lokalisasi' benar-benar sudah campur aduk di sini. Bukannya pengaruh neo-liberalisme yang kental tapi, pihak lokal juga ada andilnya dalam menentukan nasib sebuah MNC (Krakatau Steel kan ada foreign capital-nya). LoL.
Rupanya (lagi) di "state premanism" ini bukan cuma tokoh-tokoh politik saja yang jadi preman, preman beneran pun diakui keabsahannya sebagai preman yang legitimate. (jadi ingat Weber, mungkin ini cocok juga dengan analisisnya Weber soal sumber legitimasi, kharisma?? kalau buat tokoh politik mungkin sumber legitimasinya legal formal, tapi sekali preman tetap preman!!). Sutiyoso juga membersihkan tanah abang dari "pemandangan tak sedap buat ibukota" dengan gerombolan preman. Begitu juga cara dia mengusir rombongan LSM yang menggugat kebijakan dia, sampai Mbak Wardah dkk luka-luka. Kelompok Preman dibentuk dan diberi label Islam. Kan kasian orang-orang Islam lainnya yang "sudah jatuh" karena label teroris di mata internasional dan kini "tertimpa tangga pula", dikasih label preman di mata nasional.
Soal anggota DPR tadi, coba aja, di Surabaya, konon, walikota baru diminta setor uang sama anggota DPRD nya supaya LPJ nya diterima. Juga di Bandung, di mana DPRD nya dibagikan 250 juta per orang. Padahal kalau saya ziarah ke makam Mbah Kakung dan Tante Nana di Sirnaraga, anak-anak kecil masih ngekor di belakang sambil merengek-rengek "Teh, seratus rupiah wae Teh...". Minta duit buat makan (mungkin juga cuma buat jajan..saya nggak pernah selidiki.:-) ). Katanya lagi, (kata hukumonline..) itu supaya LPJ Gubernur diterima sama DPRD. Apa si Anggota DPRD yang santai-santai kipas-kipas pakai uang ini bukan karakteristik premanism? kan seperti bilang "kalo loe gak kasih gue duit, gue beri loe!" ke Gubernur nya?
Sampai kapan ya orang Indonesia jadi homo premanicus seperti ini? Oh, maaf, dilarang menggeneralisasi!

Candu

Marx bilang "agama itu candu." Dalam konteks sosial politik, saya percaya itu. Pasal 29 UUD 1945. Perlukan soal syariat Islam dimasukkan? ini candunya. apa syariat islam tidak bisa diterapkan kalau soal syariat islam tidak masuk UUD? kita masih lancar beribadah, ada UU zakat, ada peradilan agama khusus buat orang Islam, ada Nangroe Aceh Darussalam.... Mau jadi negara Islam? bagaimana konsepnya? saya masih belum ngerti. Mungkin karena saya belum ngerti itu, atau mungkin juga karena saya percaya agama itu candu buat masyarakat, sampai saat ini saya tidak setuju Indonesia jadi negara Islam. Buat saya sayang bahwa energi dibuang-buang untuk berantem soal si candu, sementara masih banyak persoalan bangsa yang jauh lebih besar. Gimana dengan orang-orang yang mati ditembaki tentara di aceh? gimana dengan koruptor2 brengsek yang masih lenggang kangkung santai-santai sementara banyak orang nggak makan tiap hari? gimana dengan orang-orang DPR gila yang maunya ngambil uang rakyat padahal nggak punya perhatian sama rakyat?

Tuesday, July 23, 2002

Unforgiveable. I've been playing with my new toy --this website of mine, that is-- for almost a whole week and put my dissertation aside. OK, this should be the last thing. No new page, no new dhtml, no weblog, no diaries. This page must be empty for sometime... otherwise, I am dead!! it's only one month and a half for the submission!! Bye.