Pertama kali turun dari kereta di stasiun kereta Edinburgh Waverley mata langsung disuguhi kota tua dengan sederet bangunan batu di pinggiran bukit. Sangat indah. Hujan yang memang menjadi keseharian di Skotlandia (dan seluruh dataran Inggris) turun sore itu, namun tidak mengurangi sambutan hangat kota seni itu. Keluar dari stasiun, tampak kota berbukit Edinburgh yang tua, sekaligus moderen dalam hal fasilitas umum. Tempat sampah yang menjamur dan membuat kota rapi dan bersih, pertokoan bergaya mutakhir di dalam bangunan tua dari batu berlumut yang terlihat klasik, kotak telepon umum merah yang lucu khas Britania Raya, bis tingkat (double decker) dan penumpang sabar berjejer di halte bus tanpa harus dikejar seperti di Jakarta.
Ratusan ribu orang (bahkan jutaan bila dihitung selama sebulan), tua-muda, miskin-kaya, berkulit hitam-putih-kuning-coklat, berkelamin lelaki-perempuan-gay, kumpul di Edinburgh sepanjang bulan Agustus. Ada apa? Edinburgh Festival yang dilaksanakan setahun sekali tengah berlangsung. Di bawah Edinburgh Festival sebagai “payung,” ada International Jazz and Blues Festival, Edinburgh Military Tattoo, International Book Festival, International Festival, International Film Festival, dan tentunya, Edinburgh Festival Fringe yang mahsyur itu.Tak kurang dari 2000 pertunjukkan (setidaknya angka itu yang disodorkan oleh buku panduan resmi Fringe Festival) dan 242 venues dilibatkan dalam Festival Fringe yang berlangsung dari tanggal 4 sampai 26 Agustus 2002. Teater, komedi, pertunjukkan untuk anak-anak, musik, pertunjukkan jalanan (street plays dan pengamen), tari, happening art, opera, diskusi seni dan buku, serta pameran lukisan, fotografi, dan perhiasan meramaikan Fringe Festival.
Sarapan bersama Shakespeare
Malam pertama di Edinburgh dihabiskan dengan menjelajah kehidupan malam yang hangat dan nonton The Bing Show, pertunjukan teater kontemporer yang, terus terang, membingungkan walau sedikit unik. Di situ memang uniknya Fringe Festival. Ribuan tontonan disuguhkan tanpa batasan dan pengkotakan. Calon penonton harus pandai memilih berdasarkan ulasan dari berbagai media dan obrolan di pinggir jalan dan warung kopi. Kalau tidak terlalu beruntung, 3.5 sampai 8 pound (begitu kisaran harga tiket pertunjukan) uang bisa berujung pada pertunjukan yang tidak menimbulkan kesan.
Namun hari kedua (dan satu-satunya hari penuh yang saya habiskan di Edinburgh) adalah yang terbaik. Bukan saja matahari bersinar seharian, tapi hari itu juga diawali dengan pertunjukan yang sangat menarik. Berdasarkan saran seorang teman yang rajin menyambangi Edinburgh Festival Fringe (“Edfringe”), Shakespeare for Breakfast biasanya menjadi salah satu tontonan yang ditunggu tiap tahun. Dengan membayar 4.5 pound, kita bisa nonton mutasi dari salah satu karya Shakespeare, yang dibuat interaktif, segar, dan disuguhkan bersama secangkir kopi dan sepotong croissant untuk sarapan.
Seperti umumnya setting panggung yang minimalis di Edfringe, deretan kursi biasa dan kain hitam sebagai latar belakang juga ada di Shakespeare for Breakfast. Bedanya cuma ada sepotong croissant dan brosur di tiap kursi dan tumpukan croissants di sudut-sudut “panggung”. Romeo and Juliet versi “croissant family war” dimainkan. Sedikit nakal dan vulgar, lucu, dan interaktif. Itu mungkin empat kata yang bisa menggambarkan sarapan bersama Shakespeare pagi itu. Komunikasi langsung dengan penonton dimainkan dengan permintaan Nursy kepada penonton, misalnya, untuk meneriakkan “Oy, Nursy, how is you floury bubs?” setiap kali ia muncul di panggung, yang akan dijawabnya dengan jawaban yang nakal dan lucu. Nursy adalah pemain laki-laki yang berdandan sebagai dayang perempuan Juliet yang jagoan membuat croissant dan ada main dengan ayah Juliet yang suka bila “people come and see my balls” (maksudnya ball sebagai resepsi, tapi kan bisa diartikan lain). Juga saat penonton diajari bernyanyi dan disirami air karena dianggap bunga oleh Pendeta yang akan mengawinkan Romeo dan Juliet.Humor India dan Film Hollywood Dalam Teater
Sore di hari kedua, giliran Funjabi yang ditonton. Sebuah drama komedi India yang mengekspos kebiasaan penduduk Britania Raya asal mantan negara jajahannya, India, dan goyang pinggul a la Bollywood. Pertunjukkan yang agak mewah karena diadakan di hotel dan didukung video sebagai latar belakang yang membantu plot cerita sekaligus sebagai dekor.
Sayangnya, walau sedikit lucu, drama komedi ini jadi kurang berkesan karena ada “pesan sponsor” yang disampaikan secara vulgar seperti layaknya Ria Jenaka di TVRI di tahun 1980-an, yaitu soal keberagaman dan kampanye anti rasisme di Britania Raya.Malam harinya, sebuah pertunjukan teater yang dimainkan kelompok asal Amerika Serikat memberikan kesan tontonan film hollywood. Popcorn judulnya. Untuk pertunjukan malam itu, setiap tiket dapat digunakan untuk mengambil bir gratis di bar di Bedlam venue. Itu memang salah satu strategi yang digunakan kelompok-kelompok teater yang berpromosi untuk merebut hati calon penonton. Sekali lagi, layar besar digunakan untuk membantu dekorasi dan jalannya cerita. Setting tunggal menggambarkan rumah seorang sutradara Hollywood langganan Oscar dengan tulisan besar “Hollywood” di bukit terlihat dari “jendela”. Memang, sang sutradara menjadi tokoh sentral dalam pertunjukkan berbau dar-der-dor dan kehidupan glamour Hollywood dengan kostum mengkilap, seks, dan obat-obatan yang digambarkan dengan cukup vulgar.
Tensi sekaligus puncak bertutur terjadi saat rumah si Sutradara cabul didatangi oleh pasangan pembunuh “Mall Murderers” yang menginginkan agar Sutradara mengakui bahwa pembunuhan kejam yang mereka lakukan adalah akibat film-film bikinannya yang mengakibatkan masyarakat Amerika sakit jiwa dan menumbuhkan naluri membunuh.Pembicaraan-pembicaraan dalam skenario mengenai fenomena sosial, politik dan hukum di Amerika menarik untuk disimak. Misalnya saja soal bagaimana peradilan dapat dengan mudah dimainkan oleh para pengacara dengan argumen yang cenderung mengada-ada. Atau bagaimana industri film Hollywood mempengaruhi pola pikir masyarakat Amerika. Namun tentunya, bagi penonton yang mengharapkan hiburan (pure entertainment), dialog semacam ini terdengar bertele-tele dan membosankan.
Buat saya, Popcorn adalah pertujukkan yang menarik, walau untuk bercerita soal Hollywood, ia harus menggunakan model bertutur a la Hollywood pula. Hal yang menimbulkan kesan bahwa yang baru saja saya tonton bukanlah sebuah pertunjukkan teater, tetapi sebuah film Hollywood, lengkap dengan bunyi tembakan, aksen Texas yang kental, perempuan-perempuan seksi yang berbaju mengkilap dan jagoan yang tidak mati walau seluruh tokoh mati terbunuh. Sindirankah ini?
Pertunjukan Jalanan
Dana terbatas? Harga tiket yang termasuk murah bila dibandingkan dengan pertunjukkan di London memang cukup mahal bila dikonversikan ke rupiah. Tapi jangan kuatir, konsesi buat pelajar dan orang tua selalu tersedia, dan yang lebih penting, tontonan gratis juga cukup banyak. Di sela waktu senggang di antara dua pertunjukan, kita juga bisa nongkrong di pinggir jalan melihat berbagai pertunjukan jalanan dan stand yang menjual benda-benda seni.
Beberapa kelompok teater menawarkan satu tiket nonton gratis bagi tiap orang yang bersedia membagikan setumpuk flyers di jalanan. Youth hostels yang murah, baik dan bersih penuh dengan backpackers yang kadang datang dari jauh dengan membawa gitar dan berbagai alat pertunjukkan. Di sela pertunjukan teater yang tidak gratis, mereka berbaur dengan puluhan kelompok-kelompok pertunjukkan jalanan. Mencari sebuah sudut untuk ngamen, mengumpulkan uang untuk pertunjukkan berikutnya.
Sebagian besar jalanan berbukit-lembah yang beralas batu tua di Edinburgh memang penuh dengan berbagai pertunjukan, termasuk pertunjukan “dadakan” dari orang-orang yang ingin cari dana tambahan untuk nonton teater. Tapi pertunjukan jalanan yang ‘resmi’ terpusat di High Street dan Hunter Square. Pantomim, orkestra kecil, one man band, akrobat, tarian flaminggo, paduan suara, dan tak lupa pemain bag pipe khas Skotlandia, bertaburan sepanjang jalan.
Yang menarik lagi, karena persaingan ketat dari tiap kelompok, promosi dan penyebaran flyers untuk pertunjukan-pertunjukan juga dilakukan dengan cara yang sangat unik dan artistik. Promosi pertunjukan pun menjadi pertunjukan itu sendiri. Jangan kaget kalau tiba-tiba ada seseorang berbaju hijau compang camping dan bermuka hijau mendekati kita dan menawarkan flyer dengan ekspresi aneh sambil merangkak. Atau bila seseorang berbaju papan poster dan bermuka putih meneriakkan potongan dialog dalam salah satu plays.

Patung "perunggu" atau patung gips yang bergerak dan berbicara pada kita dengan ekspresinya bila kita meletakkan uang di hadapannya atau pemain akrobat Cina yang berjalan dengan enggrang. Semua bisa ditemukan di High Street. Di jam makan siang dan sore hari, jalanan, yang memang ditutup untuk pertunjukan, itu penuh dengan manusia dari berbagai belahan dunia dan golongan umur.
Edinburgh: Kota Seni
Seperti digambarkan secara singkat di awal tulisan ini, Edinburgh memang kota yang indah. Ia dijuluki Kota Seni bukan hanya karena di sini lahir pertunjukan yang kini sudah mendunia (Fringe Festival), tapi juga karena tata kota tersebut yang sangat berseni dan indah.
Berjalan sedikit ke tengah kota dengan sedikit “mendaki,” Edinburgh Castle yang seakan menempel di bibir sebuah bukit dapat dicapai. Lorong-lorong tua kota Edinburgh dan monumen-monumen dan gereja dari batu yang menjulang tinggi sangat sedap dipandang. Di sebelah utara Castle, ada bukit Calton di mana kita bisa memandang seluruh kota Edinburgh, bukit-bukit highlands yang terkenal karena Duncan MacLeod di film Highlander di sekeliling, hingga ke pantai. Di bukit itu pun, sebuah gereja tua, meriam tua, beberapa rumah batu, dan pilar-pilar batu yang mirip pilar di Akropolis di Yunani bisa ditemukan. Makan siang di halaman rumput yang luas sambil memandang kota tua yang cantik dan bersih sungguh pengalaman yang tiada duanya.
Sejak 1947
Fringe Festival diawali pada tahun 1947 sebagai inisiatif pasca-Perang Dunia II yang ditujukan untuk menyatukan kembali Eropa melalui budaya, terutama musik dan drama (the Edinburgh Festival of Music and Drama). Menyadari bahwa perhatian orang banyak akan terpusat di festival itu, enam kelompok teater kecil Skotlandia dan dua kelompok teater kecil asal Inggris memutuskan untuk ikut serta, namun ditolak karena mereka terlampau kecil untuk industri seni Eropa yang gegap gempita. Tanpa kenal menyerah, kelompok-kelompok gurem ini berhasil menyedot perhatian orang dari pinggiran (fringe) Edinburgh Festival of Music and Drama yang megah itu. Sejak saat itulah, kata Fringe kemudian diasosiasikan dengan pertunjukan teater yang inovatif, bersemangat, dan penuh tantangan.
Istilah Fringe kemudian mendunia dan digunakan untuk festival seni yang terbuka, dalam arti tanpa sensor dan batasan artistik, bagi kelompok teater manapun besar mau pun kecil. Saat ini, tidak kurang dari 48 Fringe Festivals dilaksanakan setiap tahunnya di berbagai negara, dari Hongkong hingga Australia. Di Britania Raya saja, ada tujuh Fringe Festivals, sementara Kanada memiliki 20.
Khusus di Edinburgh, Fringe Festival diluaskan menjadi Edinburgh Festival yang mencakup tidak hanya teater dan musik, tapi juga buku, film, dan pertunjukan tradisional macam Edinburgh Military Tattoo. Di Military Tattoo itu, para prajurit berpakaian tradisional kilt (kain kotak-kotak khas Skotlandia yang dililitkan di seputar pinggul dan dada) beratraksi di halaman Castle, sementara angin kencang dari bukit-bukit di sekelilingnya akan menerbangkan kilt mereka dan menampakkan tato yang selama ini tersembunyi dengan baik di balik kilt!
Acungan jempol patut diberikan kepada penyelenggara yang tergabung di bawah Fringe Society di Edinburgh. Mereka mengorganisasikan keseluruhan acara dengan baik. Website yang sangat informatif dan sistem pemesanan tiket yang terorganisasi dengan baik, hingga buku informasi dan tabloid ulasan pertunjukan yang terbit tiap hari disediakan bagi seluruh pengunjung secara cuma-cuma.
Pesta seni tahunan ini juga menjadi sumber pendapatan Skotlandia yang penting, obral musim panas (summer sale) tahunan jadi punya pasar yang lebih besar dari biasanya karena didukung oleh festival ini. Petugas Pemda, yang kondisinya berbeda 180 derajat dari Pemda Jakarta tercinta, menyediakan fasilitas umum yang bersih dan layak pakai. Mobil pembersih jalanan yang datang tiap sore dan tempat sampah berhias yang menarik, kamar mandi umum yang bersih (walau harus membayar 20 pence, tapi rasanya rela), pusat informasi turis yang lengkap, dan pengorganisasian penginapan murah untuk pelajar yang dananya terbatas macam saya. Pak dan Bu Polisi pun siap sedia membantu tanpa bermaksud menilang dan minta “uang rokok” seperti di Jakarta. Stasiun-stasiun polisi kecil untuk perlindungan turis dan website gratis untuk menghubungi polisi ada di mana-mana.
***
Di hari ketiga, stand up comedy bar, dan drama Emma yang buat saya membosankan dan saya tonton setengah jalan karena harus mengejar kereta jam lima sore, menutup kunjungan saya ke Edinburgh. Pesta Seni Pinggiran di kota tua Skotlandia yang indah. Buat pencinta seni, ini salah satu surganya pertunjukkan!Warwick, 14 Agustus 2002