Ngur Bloat, Desa Ngilngof, Maluku Tenggara, 4 agustus 2004
Nah, sekarang gue lagi di Maluku Tenggara. Diundang Yappika untuk menjadi trainer dalam LDT yg mereka selenggarakan dengan mitra mereka di Tual, LSM yg namanya Hivlak. Tual itu di Kepulaian Kei, Maluku Tenggara. Tapi pelatihan ini diadakan di Ngur Bloat, suatu daerah di desa Ngilngof, sekitar 5km dari Tual. Ke sini naik pesawat Mandala ke Ambon via Makassar. Dari Ambon naik pesawat Bali Air yg fokker (kayaknya), penumpangnya cuma 35-an orang, ke Langgur. Di Langgur itulah airportnya kalau mau ke kepulauan Kei. Lucu, begitu selesai semua penumpang turun dari pesawat, airportnya dikunci! Hehe, kayak gue ngunci kantor kalo udah malem gitu... terus juga nggak ada conveyor belt, semua barang dikeluarkan dari loket raksasa, terus orang ambil aja barangnya masing-masing.
Di Tual jarang sekali ada internet. Di sini, di Ngilngof malah “seng” (tidak) ada listrik, telepon, dan bahkan sinyal hp! So, gue menghilang dari the modern global network communication selama enam hari! :-) Asik yah! Beberapa langkah di depan penginapan sudah pantai. Ngur Bloat sendiri artinya pasir panjang. Ngur=pasir. Pasirnya amazingly white!! I mean, really white!! Dan sangat halus, seperti tepung. Susah memang untuk dideskripsikan. Tapi bayangkanlah begini:
Di suatu sore, saya berjalan di atas pasir yang halus dan putih, seperti pupur putih perempuan yang membuat wajah sedap dipandang, seperti tepung yang membuat kue yang enak.
Putihnya pasir memanjang sejauh mata bisa memandang ke kanan dan ke kiri yang lantas dihalangi oleh hijaunya semak dan pepohonan kelapa.
Pohon kelapa membentang seperti lukisan indah yang klasik tentang “nyiur melambai” yang melambangkan eloknya negeri ini.
Seperti leher jenjang seorang gadis, miring menjorok ke laut dengan lambaian daunnya yang seakan memanggil birunya laut untuk menyentuh pasir putih.
Anjing menggonggongi saya dari jauh, mungkin karena bau saya asing buat dia. Moncongnya yang hitam seperti warna tubuhnya yang lain sedikit tercoreng oleh pasir putih yang menyilaukan mata. Seperti Piet Hitam yang diam-diam memakan krim putih di kue tart Sinter Klas, krimnya tertinggal di ujung hidungnya.
Di ujung kiri segerombolan anak laki-laki kecil, berkulit hitam, berambut keriting, bermain bola bersama. Seekor anjing mengikuti mereka
Sedikit menjauh dari pantai, empat buah kapal kayu tertambat. Warna warni. Satu di antaranya bersiap berangkat untuk menangkap ikan.
Senja hampir tiba, sayangnya ujung langit tertutup awan kelabu, walau langit di atas birunya indah tiada terkira.
Mata saya tertumbuk pada segerombolan kilau putih yang menarik. Lempengan kerang dan batu laut. Semuanya putih! Saya kira itu sebabnya pantai ini begitu putih.
Ketika kaki dicelupkan ke dalam laut, mata masih bisa memandang semua isi pantai dari atas, karena lautnya begitu jernih! Jernih, biru, tiada ombak. Tenang. Suara-suara burung terdengar dari jauh, disertai gonggongan anjing dan suara anak-anak bermain.
Begitu indahnya! Gue kira hanya penyair hebat yang bisa menggambarkannya melalui kata-kata. Itu senja dua hari yang lalu. Sekarang coba lihat senja tadi:
Berdiri di dermaga desa Debut. Orang ramai turun dari angkot, berlomba naik ke kapal-kapal kecil yang akan mengangkut mereka ke pulau seberang.
Senja masih menggayut di barat, membentuk bayang-bayang indah gadis-gadis berambut hitam keriting dan laki-laki bersuara dan bertawa ria keras.
Sinar senja yang jingga menerangi sebagian wajah mereka dari samping. Menimbulkan siluet yang menarik. Cantik dan rupawan!
Sebagian makan kacang rebus, perahu yang satu beranjak meninggalkan tepian laut. Di pulau seberang, sebuah mesjid putih megah berdiri. Di belakang, pujian-pujian terhadap yesus kristus didirikan.
“Kampung di sini biasanya terbagi antara kampung Islam, Kristen, dan Katolik. Tapi tidak seperti Ambon, kami hanya sebentar saja bisa diprovokasi, hanya 3 bulan. Karena kami punya adat Aini Ain (semua bersaudara) masih sangat kuat. Desa Debut adalah salah satu contoh desa yang plural,” Pak Bosco bicara.
Tiga anak lelaki kecil berceloteh keras di atas perahu, mengkhayalkan mereka akan segera buang sauh. Jangkar berkarat ditarik, mereka menjauh sedikit, kemudian kembali lagi. Dalam hati saya bernyanyi: “Nenek moyangku orang pelaut...”
Angin kencang bertiup. Dingin. Di seberang ada pulau yang terdiri dari satu kampung saja, kampung Islam dengan mesjid putih megahnya. Di belakangnya ada pulau dengan kampung Kristen, dihubungkan dengan jembatan sederhana.
Sungguh, tidak pernah sebelumnya saya melihat jingga senja yang muncul bersama biru muda langit yang demikian indah!
Gue semakin banyak berpikir soal pluralisme. Begitu beragamnya! Gue sempat bingung kenapa Kepulauan Kei yang ada di bawah, dekat Papua disebut sebagai Maluku “Tenggara”. Ternyata, sebenarnya memang “Maluku Selatan”, tapi itu tidak politically correct karena dulu ada pemberontakan RMS.
Hivlak, nama lembaga mitra Yappika yang menyelenggarakan pelatihan ini (di mana pak bosco di atas adalah direkturnya) berarti nama sejenis perahu yang isinya macam-macam.
Enbal: sejenis ubi, katanya dari Bali, makanya disebut Ubi Bali dan jadi “Enbal”. Diolah menjadi tepung dan bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan: gorengan untuk penganan sore, lempengan putih untuk teman makan nasi, lempengan putih dengan kacang untuk makanan teman minum teh. Dll. Menarik betapa beragamnya sebenarnya makanan pokok penyuplai karbohidrat bagi berbagai suku bangsa di Indonesia. Kepulauan Kei dengan enbalnya, kupang dengan jagungnya, ternate dengan sagu, papua dengan sagu, dll. Tapi suharto dulu memaksakan semua makan nasi...
Untuk mengolah enbal, akarnya harus diparut dulu kemudian diperas, karena sebenarnya beracun.
Satu-satu radio swasta di sini baru saja diresmikan 2 hari lalu. Menjadi radio kedua di Tual setelah RRI, namun jangkauannya sampai ke Fakfak. Didirikan oleh orang-orang LSM. Namanya “Radio Gelora Tavlul.” Tavlul berasal dari legenda di sini. Ada sebuah selat yang sangat berbahaya dan sering makan korban jiwa pelaut2 yang melayarinya, maka nenek moyang mereka tinggal di sebuah tanjung yang bernama tavlul untuk memandu pelaut agar tidak terjebak gelombang ganas.
Di dekat sini ada danau yang bernama Abel. Ada legendanya juga. Ketika seorang nenek perawan tua marah karena sering diolok oleh anak2 muda. Nenek marah dan menancapkan sebatang bambu sehingga desanya menjadi danau. Maka orang2 kaya berubah menjadi buaya, orang kelas menengah menjadi bangau putih, dan orang-orang kelas pekerja menjadi burung kecil-kecil (gue lupa namanya).
Kalau ada perayaan besar, termasuk pernikahan, akan digunakan “Lela,” meriam tua peninggalan portugis sebagai salah satu perangkat upacara. Berat, sehingga melambangkan keseriusan. Untuk pernikahan, lela menjadi harta nikah.
Nama-nama desa lain yang teringat: selayar (muslim), tet’oat, ramadian (kampung raja), somlain, namar. Ada ikan bobo, ikan semanda.
Baru dapet nih, sementara ngobrol sama Bang Afrizal di depan: kecoa=kedud :-)
Sebenarnya ada satu perjalanan lagi yang luput diceritakan di sini karena terlalu sibuk, yaitu Kendari. LDT juga. Kendari menarik karena daerah itu urban, banyak pendatang sehingga bahasanya campur2, makassar, buton, dll. Daerahnya sendiri tidak terlalu menarik. Pantainya biasa saja. tidak ada tempat wisata menarik. Tidak punya makanan khas, sama dengan makassar saja: pisang epe, dll. Kita di sana sempat diundang minum Sarabba, sejenis STMJ. Yang menarik buat gue adalah komunitas aktivisnya. Mereka begitu menyatu dalam kelompok prodem. Kekurangan lawyers, apalagi yg memberi bantuan hukum. Sehingga akhirnya tahun lalu mereka baru saja mendirikan IPR: institusi pembela rakyat. Gue sendiri suka menyuplai informasi buat mereka. Semangat mereka begitu luar biasa, tantangannya juga luar biasa, tapi informasi kurang. Gue cuma berharap gue setidaknya bisa membantu mengisi gap ini.
Wednesday, August 04, 2004
Monday, June 28, 2004
Kupang Juni 2004
Kamar 112 Hotel Maya, Kupang, 22.20 waktu si iteung or 23.20 waktu Kupang
Yep, gue lagi di Kupang. Everything’s interesting for me. It’s always the best thing for me to know many new people and make new friends and esp. to hear many stories about injustices everywhere in Indonesia. Bukannya berarti gue senang mendengar penderitaan mereka. Tapi gue selalu merasa lebih punya gairah hidup dan keyakinan untuk kerja ketika gue tahu bahwa apa yang gue lakukan bisa punya arti dan pengorbanan yang gue berikan sama sekali nggak ada apa-apanya dengan pengorbanan banyak orang lain di daerah lain seperti di Kupang ini. Mereka yang digusur, mereka yang ditipu pemerintah, mereka yang berjuang nggak kenal lelah mendampingi rakyat di lapangan, dll dll. Beberapa cerita yang menarik misalnya soal lahan untuk menggembala mau diambil oleh pemda untuk investasi (gue lupa untuk apa, sepertinya untuk HTI), padahal sudah jadi ketentuan adat bahwa itu empat desa memiliki secara bersama-sama satu lahan luas untuk menggembala ternak. Seperti biasa pemerintah arogan dan tidak mau bernegosiasi, hanya mau merampas begitu saja (gue nggak tanya apa ada ganti rugi atau tidak). Akhirnya rakyat sana mengumpulkan ternak2nya dan memboyong mereka dengan truk ke halaman pemda dan dprd untuk menunjukkan masalah konkrit bahwa mereka butuh tempat buat menggembala. Unthinkable and remarkable how they did it kan?
Ada cerita juga soal seorang ketua DPRD daari PDIP yang selama lima tahun ini tidak pernah memimpin sidang, selalu sakit perut alasannya! Padahal dia memang tidak bisa karena bekas tukang sayur.
Menarik juga untuk melihat betapa aktivis di sini semakin sinis dengan agama. Mungkin sama seperti gue, rival di PSHK. Kita tidak menggugat Tuhan, tapi menggugat agama-agama yang jadi mengkotak-kotakkan, lembaga bikinan manusia yang mengatasnamakan Tuhan sehingga lantas merasa punya otoritas dengan nama Tuhan untuk berbuat apa saja, hingga ke hal-hal yang sebenarnya melanggar hakekat “Ketuhanan.” Buat gue, itu justru tandanya kita berpikir. Tandanya bahwa kita “percaya” pada sesuatu yang ketuhanan. Agama itu lembaga. Mempercayai Tuhan bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk dengan melakukan ritual sesuai dengan kepercayaan terhadap Tuhan yang kita anut. Masalahnya muncul ketika lembaga-lembaga agama mengatasnamakan tuhannya untuk membunuh, berpolitik kotor, menindas, dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan moral. Anyway, di luar pandangan gue, di sini juga mereka berpikir begitu... mereka begitu kecewa melihat gereja yang mereka pandang tidak responsif terhadap kondisi masyarakat, justru jadi sama menindasnya dengan negara (that’s what they say). Mungkin sama saja dengan bagaimana para Haji-haji di Islam sok menyerukan moral padahal menindas masyarakat dengan berbagai cara. Begitu kecewanya mereka sehingga gereja mereka persamakan dengan negara, keuangan, kekuasaan. Apalagi ketika agama dibuat alat politik dalam pilpres sekarang2 ini. Lucunya, Pak Blasius cerita bagaimana ketika dia mendampingi suatu desa untuk membuat Perdes, masyarakat sana bertanya apa dasar hukumnya harus ada “tuhan” dalam kepala setiap peraturan termasuk peraturan desa. Buat mereka memang nggak konkrit. Apa hubungannya Tuhan dengan Perdes dan bagaimana kalau suatu peraturan yang membawa nama Tuhan justru menindas? Suatu pertanyaan genuine yang sangat menggelitik. Memang itu adalah sebuah tradisi universal. Besar kemungkinannya karena negara hukum modern merupakan evolusi tradisi barat yang dikuasai gereja. Pemimpin2 juga dulu dengan otoritas gereja. Karenanya hukum2 yang dibuat pun dianggap dengan nama Tuhan. Lepas dari itu, terlihat betapa satu hal yang kelihatannya remeh jadi persoalan ketika dalam kenyataannya hukum sudah dianggap menjadi penindas.
Cendana. Timor adalah penghasil cendana. Tapi apa yg terjadi? Pemda menarik pajak yg besar (20%) kepada penduduk yg menanam cendananya sendiri di tanahnya sendiri. Akibatnya mereka malah kesal dan menebang cendananya sehingga malah dikuatirkan cendana bisa punah! Gila kan?
Makanan di sini mahal. Mungkin karena letaknya yg jauh. Mereka nggak gemuk2, bang sony bingung. Menurut gue karena mereka ga makan santan ?, tp bang sony tambah bingung karena bukankah di sini provinsi kepulauan yg seharusnya kaya kelapa?? Gue juga ga ngerti ?. Gue belum makan makanan khas sini kecuali Sei, daging asap. Katanya banyaknya jagung, dengan daun dan bunga pepaya.
Bahasanya lucu. Seperti bahasa Ambon, sedikit manado juga. Banyak adopsi bahasa belanda. Sa pi makan= saya pergi makan. Su=sudah. Mama-bapa-nona. Bu=bung. Beta=saya. Sonde=tidak/bukan (dari zonder belanda?). torang=kita. Pakai “toh” juga sebagai tambahan, sama seperti di ambon atau makassar dengan ki, mi, ji. Aksennya seperti ambon.
Wuih banyak banget yg kepingin gue tulis. Niatnya memang kalau bepergian mencatat seperti ini. Mau kerja dulu.
Yep, gue lagi di Kupang. Everything’s interesting for me. It’s always the best thing for me to know many new people and make new friends and esp. to hear many stories about injustices everywhere in Indonesia. Bukannya berarti gue senang mendengar penderitaan mereka. Tapi gue selalu merasa lebih punya gairah hidup dan keyakinan untuk kerja ketika gue tahu bahwa apa yang gue lakukan bisa punya arti dan pengorbanan yang gue berikan sama sekali nggak ada apa-apanya dengan pengorbanan banyak orang lain di daerah lain seperti di Kupang ini. Mereka yang digusur, mereka yang ditipu pemerintah, mereka yang berjuang nggak kenal lelah mendampingi rakyat di lapangan, dll dll. Beberapa cerita yang menarik misalnya soal lahan untuk menggembala mau diambil oleh pemda untuk investasi (gue lupa untuk apa, sepertinya untuk HTI), padahal sudah jadi ketentuan adat bahwa itu empat desa memiliki secara bersama-sama satu lahan luas untuk menggembala ternak. Seperti biasa pemerintah arogan dan tidak mau bernegosiasi, hanya mau merampas begitu saja (gue nggak tanya apa ada ganti rugi atau tidak). Akhirnya rakyat sana mengumpulkan ternak2nya dan memboyong mereka dengan truk ke halaman pemda dan dprd untuk menunjukkan masalah konkrit bahwa mereka butuh tempat buat menggembala. Unthinkable and remarkable how they did it kan?
Ada cerita juga soal seorang ketua DPRD daari PDIP yang selama lima tahun ini tidak pernah memimpin sidang, selalu sakit perut alasannya! Padahal dia memang tidak bisa karena bekas tukang sayur.
Menarik juga untuk melihat betapa aktivis di sini semakin sinis dengan agama. Mungkin sama seperti gue, rival di PSHK. Kita tidak menggugat Tuhan, tapi menggugat agama-agama yang jadi mengkotak-kotakkan, lembaga bikinan manusia yang mengatasnamakan Tuhan sehingga lantas merasa punya otoritas dengan nama Tuhan untuk berbuat apa saja, hingga ke hal-hal yang sebenarnya melanggar hakekat “Ketuhanan.” Buat gue, itu justru tandanya kita berpikir. Tandanya bahwa kita “percaya” pada sesuatu yang ketuhanan. Agama itu lembaga. Mempercayai Tuhan bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk dengan melakukan ritual sesuai dengan kepercayaan terhadap Tuhan yang kita anut. Masalahnya muncul ketika lembaga-lembaga agama mengatasnamakan tuhannya untuk membunuh, berpolitik kotor, menindas, dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan moral. Anyway, di luar pandangan gue, di sini juga mereka berpikir begitu... mereka begitu kecewa melihat gereja yang mereka pandang tidak responsif terhadap kondisi masyarakat, justru jadi sama menindasnya dengan negara (that’s what they say). Mungkin sama saja dengan bagaimana para Haji-haji di Islam sok menyerukan moral padahal menindas masyarakat dengan berbagai cara. Begitu kecewanya mereka sehingga gereja mereka persamakan dengan negara, keuangan, kekuasaan. Apalagi ketika agama dibuat alat politik dalam pilpres sekarang2 ini. Lucunya, Pak Blasius cerita bagaimana ketika dia mendampingi suatu desa untuk membuat Perdes, masyarakat sana bertanya apa dasar hukumnya harus ada “tuhan” dalam kepala setiap peraturan termasuk peraturan desa. Buat mereka memang nggak konkrit. Apa hubungannya Tuhan dengan Perdes dan bagaimana kalau suatu peraturan yang membawa nama Tuhan justru menindas? Suatu pertanyaan genuine yang sangat menggelitik. Memang itu adalah sebuah tradisi universal. Besar kemungkinannya karena negara hukum modern merupakan evolusi tradisi barat yang dikuasai gereja. Pemimpin2 juga dulu dengan otoritas gereja. Karenanya hukum2 yang dibuat pun dianggap dengan nama Tuhan. Lepas dari itu, terlihat betapa satu hal yang kelihatannya remeh jadi persoalan ketika dalam kenyataannya hukum sudah dianggap menjadi penindas.
Cendana. Timor adalah penghasil cendana. Tapi apa yg terjadi? Pemda menarik pajak yg besar (20%) kepada penduduk yg menanam cendananya sendiri di tanahnya sendiri. Akibatnya mereka malah kesal dan menebang cendananya sehingga malah dikuatirkan cendana bisa punah! Gila kan?
Makanan di sini mahal. Mungkin karena letaknya yg jauh. Mereka nggak gemuk2, bang sony bingung. Menurut gue karena mereka ga makan santan ?, tp bang sony tambah bingung karena bukankah di sini provinsi kepulauan yg seharusnya kaya kelapa?? Gue juga ga ngerti ?. Gue belum makan makanan khas sini kecuali Sei, daging asap. Katanya banyaknya jagung, dengan daun dan bunga pepaya.
Bahasanya lucu. Seperti bahasa Ambon, sedikit manado juga. Banyak adopsi bahasa belanda. Sa pi makan= saya pergi makan. Su=sudah. Mama-bapa-nona. Bu=bung. Beta=saya. Sonde=tidak/bukan (dari zonder belanda?). torang=kita. Pakai “toh” juga sebagai tambahan, sama seperti di ambon atau makassar dengan ki, mi, ji. Aksennya seperti ambon.
Wuih banyak banget yg kepingin gue tulis. Niatnya memang kalau bepergian mencatat seperti ini. Mau kerja dulu.
Wednesday, May 05, 2004
Dia adalah puisi
Dia adalah puisi.
Dia jadi seperti bayang-bayang dan rangkaian kata dalam puisi
karena begitu penuh perlambang namun tidak kasat mata.
karena dia hanya ada dalam angan
Dia adalah puisi
karena dia seperti potongan hidup yang begitu indahnya
dan juga begitu pahitnya
sehingga dia menjadi puisi
yang begitu indah
justru karena kegetiran dan keindahannya
Dia jadi seperti bayang-bayang dan rangkaian kata dalam puisi
karena begitu penuh perlambang namun tidak kasat mata.
karena dia hanya ada dalam angan
Dia adalah puisi
karena dia seperti potongan hidup yang begitu indahnya
dan juga begitu pahitnya
sehingga dia menjadi puisi
yang begitu indah
justru karena kegetiran dan keindahannya
Thursday, February 12, 2004
Akbar Tanjung Bebas.
Akbar Tanjung Bebas. Yes, so what's new about that? Nothing. Of course we all knew from the start that would be the verdict. We also knew that Bang Arman would give his dissenting opinion cos we assisted him in finding the materials. But still....
Semua rasa campur aduk. Marah. Sedih. Kecewa. Bingung. Entah kenapa? Bukankah semua sudah tahu betapa brengseknya negara ini. Mulai dari atas sampai bawah. MA juga kasihan. Bukankah dari awal tuntutannya Jaksa juga sudha amburadul? MA cuma jadi keranjang sampah. Tapi seperti yang waktu itu didiskusikan dengan Arbo, dalam negara yang chaotic seperti ini kita kadang memang harus melupakan akal sehat. Lupakanlah segala dalil legal formalistik. Berat memang.
Apa efeknya buat proses pembaruan hukum? semua orang kecewa. Ureh barusan telepon cuma untuk marah-marah dan menyatakan kekecewaan. Itu aja. Dia bilang karena dia begitu kecewa tapi nggak tahu mesti bilang ke siapa? tidakkah itu terjado di benak banyak orang Indonesia? makanya lantas ketidakpercayaan terhadap hukum makin runtuh. Juga ketidakpercayaan negara-negara lain yang selama ini mendukung proses pembaruan hukum di sini. Saya sama sekali tidak takut terhadap donor-donor. Bukan, ini bukan soal uang buat NGOs. Tapi memang peristiwa setitik ini bisa bikin kemunduran yang cukup luar biasa untuk pembaruan hukum Indonesia. Terutama soal skeptisisme dari banyak lay people.
Entahlah. Sama seperti Ureh. Saya juga cuma mau merenung nggak berguna di sini. That's all. Karena saya nggak tahu mau apa lagi? Ya, besok memang mau kita sikapi bareng LeIP, Demos, dan MAPPI. Tapi itu semua reaksioner dan sebentar. Bagaimana ke depannya?
Yang jelas saya sedih luar biasa. Sebab makin terasa negara ini sama sekali belum berubah. Semoga frustasi saya nggak jadi berkepanjangan kali ini.
Semua rasa campur aduk. Marah. Sedih. Kecewa. Bingung. Entah kenapa? Bukankah semua sudah tahu betapa brengseknya negara ini. Mulai dari atas sampai bawah. MA juga kasihan. Bukankah dari awal tuntutannya Jaksa juga sudha amburadul? MA cuma jadi keranjang sampah. Tapi seperti yang waktu itu didiskusikan dengan Arbo, dalam negara yang chaotic seperti ini kita kadang memang harus melupakan akal sehat. Lupakanlah segala dalil legal formalistik. Berat memang.
Apa efeknya buat proses pembaruan hukum? semua orang kecewa. Ureh barusan telepon cuma untuk marah-marah dan menyatakan kekecewaan. Itu aja. Dia bilang karena dia begitu kecewa tapi nggak tahu mesti bilang ke siapa? tidakkah itu terjado di benak banyak orang Indonesia? makanya lantas ketidakpercayaan terhadap hukum makin runtuh. Juga ketidakpercayaan negara-negara lain yang selama ini mendukung proses pembaruan hukum di sini. Saya sama sekali tidak takut terhadap donor-donor. Bukan, ini bukan soal uang buat NGOs. Tapi memang peristiwa setitik ini bisa bikin kemunduran yang cukup luar biasa untuk pembaruan hukum Indonesia. Terutama soal skeptisisme dari banyak lay people.
Entahlah. Sama seperti Ureh. Saya juga cuma mau merenung nggak berguna di sini. That's all. Karena saya nggak tahu mau apa lagi? Ya, besok memang mau kita sikapi bareng LeIP, Demos, dan MAPPI. Tapi itu semua reaksioner dan sebentar. Bagaimana ke depannya?
Yang jelas saya sedih luar biasa. Sebab makin terasa negara ini sama sekali belum berubah. Semoga frustasi saya nggak jadi berkepanjangan kali ini.