Saturday, July 14, 2012

Scientology dan Sunat

Gara-gara perceraian TomKat [oh so important news], saya jadi baca-baca tentang scientology. Lucu juga ya.

How can some people really believe that Xenu, the galactic dictator, existed?!? The first time I was rather interested in knowing more about scientology was after I watched one of the South Park episodes [yes, I am a fan, never missed an episode when I lived in the US, they are simply crazy! :-))]. But I didn’t dig more at that time. I actually did think that the South Park guys were exaggerating: about Xenu, the DC8 like space craft, the detonator, and the thetans. But my goodness! They are real – I mean, those funny things I just mentioned are really in the believe system! :-)

Tapi kemudian saya jadi berpikir: tidakkah ada juga orang-orang yang berpikir bahwa hanya orang-orang kurang waras (atau setidaknya kurang bernalar) yang bisa percaya bahwa ada seseorang yang mengklaim dirinya adalah anak sebuah zat yang ternyata menciptakan alam raya. Atau percaya bahwa seseorang yang bilang bahwa ada makhluk tak berwujud yang bernama malaikat jibril yang tiba-tiba bilang pada dirinya yang sedang menyepi di gua tentang adanya tuhan itu. Atau percaya bahwa ada orang yang bisa membelah lautan. Atau percaya bahwa ada suatu tempat yang namanya neraka dan surga, malah katanya di surga ada banyak bidadari (ada bidadara ganteng nggak ya untukkyu? :-D) dan segala macam yang indah-indah. Begitu percayanya sampai-sampai mereka rela mati bunuh diri (dan membunuh orang-orang lainnya) demi menjadi pengantin di surga sana.

Saya bisa heran kenapa tom cruise, john Travolta, dan para penganut scientology rela bayar ribuan dollar untuk mencapai tingkatan OT III dan mendapat cerita tentang Xenu. Tapi keheranan ini bisa dibandingkan dengan orang yang rela bayar puluhan juta untuk ke mekah untuk mengelilingi sebuah bangunan kotak, lari-lari kecil di antara dua bukit dan melempari sebuah batu. Dan bahkan, sumbangan para thetans ini kecil dibandingkan dengan pembayaran “nyawa” untuk sebuah kepercayaan akan surga.

Ya ya, silakan hujat saya. Mungkin saya juga perlu dijumroh :-). Saya menista agama. Kalau tulisan ini disebarluaskan, nasib saya bisa seperti si PNS Ateis dari Padang yang divonis 2,5 tahun penjara (setitik muncul rasa takut, betul! Kemudian saya jadi berefleksi sendiri betapa tak nyamannya punya rasa takut bahkan untuk menulis :-( saya jadi teringat kawan-kawan di Burma dan Vietnam to some extent waktu kami membuat laporan tentang rule of law for human rights in ASEAN beberapa waktu lalu. Kalau tidak atas nama ketertiban, agamapun bisa jadi alas untuk melarang orang untuk berbicara. Ah, kenapa?). Tapi coba lihat ini dengan kaca mata bening. Jangan dengan kaca mata yang ada gambar ayat-ayat al qur’an atau salib atau dewa-dewa hindu atau ron hubbard :-). Coba melangkah keluar dulu dari box (atau kloset yang menjebak, kalau kata South Park :-)). Lihat agama-agama (apapun itu, bukan hanya Islam, all organized religions, or believes) dan imaji-imaji ketuhanan, asal usul alam raya, serta “kehidupan” pascamati yang ditawarkannya: ngga masuk akal! :-) Kalau ada yang bilang: ya tapi al Qur’an paling masuk akal, atau hinduisme lebih logis itu artinya kaca matanya sudah nggak bening. Subconsciously. Karena “percaya”. Ya makanya mereka semua adalah “believes”, sistem kepercayaan. Sebenarnya nggak ada yang bisa dinalar :-). Makanya juga jadi pada rentan berantem :-).

Lalu saya jadi teringat pada subconscious saya yang punya latar belakang (baca: dibesarkan dan dididik secara) islam ketika membaca berita tentang putusan pengadilan di Jerman bahwa sunat anak laki-laki itu melanggar hak anak. Saya mencoba mendiskusikan argumennya dengan FF (biasa, kendala bahasa) dan sesungguhnya saya masih bingung apakah saya setuju atau tidak dengan putusan kontroversial ini. Saya sempat bilang [bicara subconscious kaca mata muslim saya] bahwa sebenarnya sudah banyak riset yang menggambarkan betapa baiknya sunat untuk kesehatan, mencegah penularan hiv dan segala macam. Ini pernyataan yang nggak nyambung, didorong oleh dukungan spontan saya karena komunitas tempat saya dibesarkan percaya pada sunat sebagai ritual. Sebab pertanyaan hukumnya (yang logis) adalah: apakah orang tua punya hak untuk menentukan agama (berikut ritualnya) apa yang harus dianut oleh anaknya sejak anaknya kecil (belum cukup umur secara hukum).

Kalau jawabannya ya, apakah itu setara dengan misalnya hak orang tua untuk menikahkan anaknya sejak kecil? Siapa yang menentukan hak anak itu apa saja? Melulu orang tua? Tapi ada “hak asasi” juga, melekat sejak lahir.

Dan kemudian, kenapa saya setuju dengan sunat anak laki-laki sementara saya tidak setuju dengan sunat perempuan?
  • Karena sunat perempuan melanggar hak-hak seksual perempuan? Melanggar karena apa? Karena tanpa si anak perempuan setuju, kelaminnya dipotong. Bedanya dengan sunat anak laki-laki? Apa anak laki-laki –yang berumur 9 tahun pun- memang sudah bisa memutuskan untuk dirinya sendiri, tanpa tekanan atau “dorongan” ;-) dari ortu dan lingkungan? (ah those toys and a lot of money that my brothers got in their circumcision parties always envy me! :-))
  • Karena sunat perempuan di beberapa tempat (seperti Nawal El Sadawi) dilakukan dengan “kejam”? Lalu apa tidak kejam memotong bagian dari penis laki-laki? Ya sekarang ada segala metode yang sudah dikembangkan supaya (katanya) tidak sakit, itupun karena sunat laki-laki oleh muslim dan yahudi memang dianggap “wajar” jadi malah dikembangkan metode-metodenya. 
  • Karena sunat anak laki-laki “terbukti” baik untuk kesehatan. Bahkan ada orang yang harus disunat karena menderita penyakit tertentu. Sedangkan sunat perempuan justru tidak baik untuk perempuan. Bahkan membuat perempuan tidak bisa menikmati kehidupan seksualnya. Mengukuhkan pandangan bahwa perempuan tidak punya hak untuk menikmati seksualitasnya. Sementara kalau sunat laki-laki “ok ok saja” (hmmmm….) untuk seksualitasnya. Nah, ini yang bener. 
TAPI hey, lantas saya harus jujur untuk melihat bahwa ranah argumen yang terakhir ini berbeda dengan argumen pengadilan di Jerman tadi. Pengadilan itu tidak menilai apakah sunat anak lak-laki baik untuk kesehatan atau tidak (bahkan kasus disidangkan karena ada anak yang terkena komplikasi pascasunat), melainkan apakah “sunat atas nama agama” yang dilakukan terhadap seorang anak atas permintaan orang tuanya berdasarkan agama melanggar hak anak. Dan jawaban pengadilan adalah YA, melanggar.

Begitulah. Maka setelah semalaman saya bertarung dengan subconscious saya sendiri, saya setuju dengan putusan pengadilan Cologne, meskipun Angela Merkel pun nggak setuju :-).

Monday, July 09, 2012

Pindah jalur

Sudah lama terjadi, tapi masih saja sering jadi pikiran: pindah jalurnya sebagian teman dari penggiat gerakan sosial menjadi politisi. Cerita lama. Tidak selamanya buruk. Bahkan pada situasi tertentu jadi migrasi yang strategis dan “wajar” dilakukan untuk suatu tujuan yang dipercaya. Soalnya pada definisi “situasi tertentu” itu. Parameternya berbeda buat tiap individu.

 Tantangan berikutnya setelah menetapkan hati pindah jalur adalah untuk tetap berpegang pada visi yang menyebabkan berjuang dan berpindah jalur itu. Dan lebih penting: menjaga moral. Apalagi di dunia politik yang hiruk pikuk jualan, korupsi, dan seringkali cacat moral.

Ini perenungan lama. Entah sudah berapa blogposts yang saya tulis untuk soal yang sama. Tapi saya tergugah lagi waktu baca ini (maaf kalau ga bisa terbuka karena butuh password). Soal seorang (mantan) kampiun pembela hak-hak rakyat dan seorang kampiun pembela hak rakyat. Yang satu saya sebut mantan karena pindah jalur dan harus berseberangan dengan si kampiun yang menurut saya masih kampiun. Si mantan membela mati-matian seorang koruptor meski menurut saya kasusnya bloon betul. Sedangkan si masih sekarang memimpin lembaga anti-korupsi. Masih adalah guru saya. Mantan adalah sahabat saya.

Dan buat saya tidak ada istilah mantan sahabat, jadi meski dia mantan kampiun, dia bukan mantan sahabat saya. Terakhir kami ngebir bareng dia belum pindah jalur (betapa lamanya saya tidak pulang!). Jadi saya belum sempat menumpahkan kegelisahan saya. Sedih juga setiap baca namanya di media membela kasus bloon-bloon.

Friday, July 06, 2012

Parenting mood

I don’t know why I never shared stories about coping with your toddlers’ “rebellious” (no, not naughty, the word rebellious is even too harsh as they only want to be independent) acts when I was in Jakarta. Two possible reasons.

First, I was not in the group at that time. I was a hard-working, hard-partying selfish woman. I have always been fond of children (and I do think children like me :-)) and want to be a kindergarten teacher even when I hardly had time for myself and had to work from 4am to 2am everyday, but I always avoided a group that discusses children’s behaviours and which soap should they use for the children (seriously?!).

Second, many of my friends in Jakarta rely on nannies or pembantu or, well, those women in the baby blue or pink uniforms with big emblems from the famous nanny companies (one child one sitter, usually, so 3 children equals 3 sitters.. oh well..). Many of my “friends” are the ones I usually encountered in the office (well colleagues, but they are all also friends), so obviously those friends don’t deal in the daily nitty-gritty of their children. They are busy in the office with me. They would call their children or the nannies from the office or from where the out-of-town event is and ask about this and that, but they don’t deal with the children directly.

For whatever reason, I sometimes do wonder why I heard very little from my friends about how “nakal” their children are. Is it because Jakarta children are just generally well-behaved and those stories from the English language blogs and websites only happen in those other countries? Or simply because I never heard the real stories because of one of the reasons above.

Melati:
  • Sleeps alone since she was born (except of course when she was a baby and we fell asleep together when I was breastfeeding her in the afternoons) 
  • Eats by herself in a highchair, no one has to chase her around to feed her while she plays (as I often see with the pembantus or the nannies with uniforms in Jakarta). If she refuses that, then she simply will not get any food. 
  • Does not eat those chiki-like snacks that are full of MSG. Her snacks are cut apples, raisins, pop-corn, milk-biscuits, cookies, cut cheese, etc. 
  • Is not allowed to watch TV at all at home. No ipad or any kind of tablet for her (I know some friends bought ipads for their balita children for education purposes). She can play with my iphone sometimes or watch youtube as I work, but very very limited, basically to make me able to do MY work. 
  • Brushes her teeth since she was 1 year old 
  • Does not like candies and juice because we did not make her like them. But she loves chocolate, ice cream, and ice tea :-) 
  • Since a month ago the little miss independent insists to take off her shoes, open the doors for everyone, get her own drinks (water, milk), take off her clothes, choose which clothes and diapers she has to wear, etc. 
  • Hit me and bit me everyday 3 weeks ago for the whole week whenever I asked her to take afternoon nap (she stopped now after I caught her hands and face whenever she tried to hit or bite me). Bit her friend at the kindergarten some weeks ago only to sit in the “thinking chair” as she was the only child who had not been on the chair. 
  • Bit her friend at the kindergarten 4 days in a row this week and she bit her very hard yesterday until the friend was bleeding! Broke my blackberry charger because she insisted that it was HER phone. 
  • Woke up in the middle of the night, walked into our bedroom and INSTRUCTED me (with that  tone and gesture!) to move back to her bed. 
  • Corrects me, ff, and her friends in saying some words. She even corrects me on how to pronounce Indonesian words and FF on how to pronounce German words! “Anak sok tau”, in short. If we don’t want to follow what she thinks is correct, she would scream like hell. 
  • Fell 3 times in a row around the swimming pool because she did not want to stop jumping and running around the slippery pool 
  • Since a week ago already floats in the swimming pool and moves her legs and blows bubbles into the water - she is able to swim, yay! 
  • Sets the ipod/iphone speaker volume higher (too high sometimes) by herself when she listens to her favorite songs and argues with us if we tell her not to.
  • Able to complete 24-piece puzzles by herself 
No, this is not to brag about her – I also wrote down the bad attitudes she is having now, which is my main point actually. I made the list above just to describe her and the way we are bringing her up. Wonder if it is different with the ways my Jakarta friends do it. I just wonder if I spend too much time on learning about parenting knowledge and on thinking about her than my friends do on their children. I read about democratic parenting, toddlers’ discipline, how not to spank (or “cubit” in my case) your child, and so on and so forth bla bla bla. But nowadays I am worried very much by the ways she insists on her opinion. She has my stubbornness and FF’s combined! She would have quarrels with my friends’ children whom we had playdate with only to insist on how to eat lychee or how to say “mama”. She is a dictator in the making! :-) I have to carefully reshape her character, really.

What I was trying to say by putting the above list is that we do apply some discipline. My mom often says that maybe she is "naughty" because I am "too soft" on her (she never saw me cubit melati, when she played with her food I told her to clean up the floor instead of cubit although I said it with a very angry tone). And I did see many friends would yell and cubit their children when they were "naughty" (naughty as in running around the guests like crazy or spilling some water onto the floor, seriously?! they are just children, guys!). But I don't believe in that kind of discipline. To me discipline is about setting the limits, not the (hard) way to set the limits. To me the way is the "democratic" way, to start introducing the values of respect and the ability to reason and choose, though of course with some parental "direction" (she is only 2,5 years old for goodness sake, B! :))).

But then again, I keep on having questions in my mind: is it the right way to do it? Is there anyway such thing as the right way of parenting? Maybe there is not, but why I never heard the same complaints from my friends? Are their children angels? Do I have too much parenting mood in my blood (just like all those blogger moms :-))?