How can some people really believe that Xenu, the galactic dictator, existed?!? The first time I was rather interested in knowing more about scientology was after I watched one of the South Park episodes [yes, I am a fan, never missed an episode when I lived in the US, they are simply crazy! :-))]. But I didn’t dig more at that time. I actually did think that the South Park guys were exaggerating: about Xenu, the DC8 like space craft, the detonator, and the thetans. But my goodness! They are real – I mean, those funny things I just mentioned are really in the believe system! :-)
Tapi kemudian saya jadi berpikir: tidakkah ada juga orang-orang yang berpikir bahwa hanya orang-orang kurang waras (atau setidaknya kurang bernalar) yang bisa percaya bahwa ada seseorang yang mengklaim dirinya adalah anak sebuah zat yang ternyata menciptakan alam raya. Atau percaya bahwa seseorang yang bilang bahwa ada makhluk tak berwujud yang bernama malaikat jibril yang tiba-tiba bilang pada dirinya yang sedang menyepi di gua tentang adanya tuhan itu. Atau percaya bahwa ada orang yang bisa membelah lautan. Atau percaya bahwa ada suatu tempat yang namanya neraka dan surga, malah katanya di surga ada banyak bidadari (ada bidadara ganteng nggak ya untukkyu? :-D) dan segala macam yang indah-indah. Begitu percayanya sampai-sampai mereka rela mati bunuh diri (dan membunuh orang-orang lainnya) demi menjadi pengantin di surga sana.
Saya bisa heran kenapa tom cruise, john Travolta, dan para penganut scientology rela bayar ribuan dollar untuk mencapai tingkatan OT III dan mendapat cerita tentang Xenu. Tapi keheranan ini bisa dibandingkan dengan orang yang rela bayar puluhan juta untuk ke mekah untuk mengelilingi sebuah bangunan kotak, lari-lari kecil di antara dua bukit dan melempari sebuah batu. Dan bahkan, sumbangan para thetans ini kecil dibandingkan dengan pembayaran “nyawa” untuk sebuah kepercayaan akan surga.
Ya ya, silakan hujat saya. Mungkin saya juga perlu dijumroh :-). Saya menista agama. Kalau tulisan ini disebarluaskan, nasib saya bisa seperti si PNS Ateis dari Padang yang divonis 2,5 tahun penjara (setitik muncul rasa takut, betul! Kemudian saya jadi berefleksi sendiri betapa tak nyamannya punya rasa takut bahkan untuk menulis :-( saya jadi teringat kawan-kawan di Burma dan Vietnam to some extent waktu kami membuat laporan tentang rule of law for human rights in ASEAN beberapa waktu lalu. Kalau tidak atas nama ketertiban, agamapun bisa jadi alas untuk melarang orang untuk berbicara. Ah, kenapa?). Tapi coba lihat ini dengan kaca mata bening. Jangan dengan kaca mata yang ada gambar ayat-ayat al qur’an atau salib atau dewa-dewa hindu atau ron hubbard :-). Coba melangkah keluar dulu dari box (atau kloset yang menjebak, kalau kata South Park :-)). Lihat agama-agama (apapun itu, bukan hanya Islam, all organized religions, or believes) dan imaji-imaji ketuhanan, asal usul alam raya, serta “kehidupan” pascamati yang ditawarkannya: ngga masuk akal! :-) Kalau ada yang bilang: ya tapi al Qur’an paling masuk akal, atau hinduisme lebih logis itu artinya kaca matanya sudah nggak bening. Subconsciously. Karena “percaya”. Ya makanya mereka semua adalah “believes”, sistem kepercayaan. Sebenarnya nggak ada yang bisa dinalar :-). Makanya juga jadi pada rentan berantem :-).
Lalu saya jadi teringat pada subconscious saya yang punya latar belakang (baca: dibesarkan dan dididik secara) islam ketika membaca berita tentang putusan pengadilan di Jerman bahwa sunat anak laki-laki itu melanggar hak anak. Saya mencoba mendiskusikan argumennya dengan FF (biasa, kendala bahasa) dan sesungguhnya saya masih bingung apakah saya setuju atau tidak dengan putusan kontroversial ini. Saya sempat bilang [bicara subconscious kaca mata muslim saya] bahwa sebenarnya sudah banyak riset yang menggambarkan betapa baiknya sunat untuk kesehatan, mencegah penularan hiv dan segala macam. Ini pernyataan yang nggak nyambung, didorong oleh dukungan spontan saya karena komunitas tempat saya dibesarkan percaya pada sunat sebagai ritual. Sebab pertanyaan hukumnya (yang logis) adalah: apakah orang tua punya hak untuk menentukan agama (berikut ritualnya) apa yang harus dianut oleh anaknya sejak anaknya kecil (belum cukup umur secara hukum).
Kalau jawabannya ya, apakah itu setara dengan misalnya hak orang tua untuk menikahkan anaknya sejak kecil? Siapa yang menentukan hak anak itu apa saja? Melulu orang tua? Tapi ada “hak asasi” juga, melekat sejak lahir.
Dan kemudian, kenapa saya setuju dengan sunat anak laki-laki sementara saya tidak setuju dengan sunat perempuan?
- Karena sunat perempuan melanggar hak-hak seksual perempuan? Melanggar karena apa? Karena tanpa si anak perempuan setuju, kelaminnya dipotong. Bedanya dengan sunat anak laki-laki? Apa anak laki-laki –yang berumur 9 tahun pun- memang sudah bisa memutuskan untuk dirinya sendiri, tanpa tekanan atau “dorongan” ;-) dari ortu dan lingkungan? (ah those toys and a lot of money that my brothers got in their circumcision parties always envy me! :-))
- Karena sunat perempuan di beberapa tempat (seperti Nawal El Sadawi) dilakukan dengan “kejam”? Lalu apa tidak kejam memotong bagian dari penis laki-laki? Ya sekarang ada segala metode yang sudah dikembangkan supaya (katanya) tidak sakit, itupun karena sunat laki-laki oleh muslim dan yahudi memang dianggap “wajar” jadi malah dikembangkan metode-metodenya.
- Karena sunat anak laki-laki “terbukti” baik untuk kesehatan. Bahkan ada orang yang harus disunat karena menderita penyakit tertentu. Sedangkan sunat perempuan justru tidak baik untuk perempuan. Bahkan membuat perempuan tidak bisa menikmati kehidupan seksualnya. Mengukuhkan pandangan bahwa perempuan tidak punya hak untuk menikmati seksualitasnya. Sementara kalau sunat laki-laki “ok ok saja” (hmmmm….) untuk seksualitasnya. Nah, ini yang bener.
Begitulah. Maka setelah semalaman saya bertarung dengan subconscious saya sendiri, saya setuju dengan putusan pengadilan Cologne, meskipun Angela Merkel pun nggak setuju :-).
No comments:
Post a Comment