Showing posts with label bits. Show all posts
Showing posts with label bits. Show all posts

Tuesday, March 26, 2013

Ibu-ibu

Salah satu hal yang menarik dari pengalaman saya tinggal di Hanoi adalah pengalaman bergaul dengan “ibu-ibu.”Tanpa maksud mengecilkan ataupun membesarkan kata "ibu-ibu". 

Saya sesungguhnya belum pernah benar-benar jadi “ibu-ibu.” Saya memang ibunya si melati, tapi yang saya maksud “ibu-ibu” sebenarnya bukan status dan bukan pula label biologis. Yang saya maksud sebenarnya para stay-at-home mums. Ibu-ibu yang memilih dan (yang terpenting) bisa memilih untuk bekerja melayani keluarga secara penuh waktu di rumah.

Di Hanoi saya banyak bergaul dengan ibu-ibu ini. Masalahnya dalam konteks saya ada dua. Pertama, saya sebenarnya tidak sepenuhnya stay-at-home mum, karena saya sebenarnya bekerja di rumah. I do have a home-office. Kedua, sedari kecil saya sesungguhnya punya keengganan luar biasa terhadap aktivitas “ngerumpi”: ngobrol ngalor ngidul tanpa tujuan dan terlalu lama. Kalaupun saya suka hang out, bisa jadi itu untuk tujuan kerja (networking) atau have fun misalnya dulu jaman2 clubbing dan "mabu’-mabu’an" :-P that’s my kind of fun :-). Tapi kalo cuma duduk, ngerujak, makan bakso, atau ngopi sambil ngegosipin si anu dan si itu, dari dulu saya paling nggak suka. Saya nggak suka gosipin orang, seriously! I do judge people, I actually think it’s rather inevitable :-P, but I just don’t like gossiping, kecuali mungkin gosip politik :-P. 

Waktu awal di Hanoi, saya mendeskripsikan pertemanan ini ke Bas dengan bilang begini: saya nggak mau bilang saya lebih baik dari mereka atau mereka kurang dari saya, tapi mereka punya dunia yang sama sekali berbeda. Saya seringkali merindukan obrolan politik ngalor ngidul atau obrolan loncat2 namun bernas :-P seperti yang biasa kami lakukan di “smoking room” kantor dengan treespotter, rga, dll. Saya juga merindukan diskusi-diskusi dengan kritik tajam dan lontaran teori-teori atau buku baru yang kadang membuat saya ternganga-nganga. Tapi, sekali lagi, saya bukannya mengatakan mereka lebih rendah dari saya. Saya hanya berbeda dengan mereka. Bahkan mungkin: saya sangat membosankan bagi mereka.

Saya ada di wilayah nyaman saya cukup lama. Lebih dari 10 tahun. Barangkali totalnya bahkan sejak saya kuliah. Karena sejak kuliah sampai kerja, area kerja dan jaringan pertemanannya nyaris sama. Sempat pergi ke Inggris setahun. Tapi kemudian kembali ke wilayah nyaman, bahkan semakin mendalam. Waktu pergi ke Seattle, banyak yang berubah total. Tapi kehidupan sosial masih serupa, meski tak sama. Ada kelompok teman ibu-ibu, tetapi kebanyakan dari mereka juga kerja. Bukan tipe suka kongkow2 di hari kerja atau minum kopi lama-lama. 

Yang di Hanoi ini berbeda. Dan unik. Karena ini Hanoi, daerah yang tak terlalu biasa untuk ditinggali dengan sukarela oleh pendatang seperti halnya Seattle. Yang tinggal di sini biasanya buat kerja. Sehingga ibu-ibu yang doyan kumpul bersama adalah mereka yang ikut suami kerja. Seperti saya sebenarnya, yang juga “ikut suami,” bedanya: saya juga kerja, meski tak berbayar. Banyak di antara ibu-ibu ini suaminya bukan orang Indonesia. Dan, barangkali kebetulan, atau mungkin juga tidak, banyak di antara para suami mereka yang posisinya cukup tinggi. Mungkin bukan kebetulan, bisa jadi karena biasanya ekspatriat di banyak negara memang diposisikan menduduki jabatan yang tinggi, sementara staf dialokasikan untuk orang “lokal.” Kan serupa dengan di Indonesia. 

Bedanya dengan ibu-ibu di Indonesia, kami di sini adalah ekspatriat. Kami sesungguhnya ada di dalam kepompong yang terlindungi dari hiruk pikuk dunia sekitar. Dan juga tidak ada keluarga yang harus dikunjungi, kawan lama yang harus disambangi, dan reuni yang harus dihadiri. Kami hidup dengan “standar ekspatriat.” Di Hanoi, ini punya arti signifikan. Dan ini artinya kami ada di tingkat masyarakat kelas atas. Langsung lompat kelas. Kalau di Indonesia orang seperti saya, misalnya, ada di tingkat menengah, di sini saya ada di tingkat atas. Status kami bisa dipersamakan dengan kelompok orang-orang di sini yang mengendarai Bentley atau Porsche. Ini artinya pejabat partai dan pebisnis yang dekat dengan partai, yang sangat jamak punya mobil supermewah. Kenaikan tingkat sosial karena status ekspatriat.

Pembicaraan kami berisi: sudah ada ikan barramundi fillet yang pakai kulit di toko organic dekat rumah, harga baju-baju di Chula (sumpah ini butik keren banget!) di atas 200 dolar, gimana caranya nitip bikin tempe sama ibu yang di KBRI, kenapa sekolah di UNIS (United Nations International School) libur terus dan ke mana anak-anak kelas 8 akan camping. Saya menikmati untuk mengobservasi dan berefleksi dari mereka. Tapi seringkali nggak tahan dengan pembicaraan-pembicaraan dan kosa kata yang beredar. Sekali lagi, bukannya saya merasa lebih pintar, kami hanya berbeda (pasti mereka juga bosan sekali kalau kumpul dengan orang-orang sejenis saya).

Yang juga menarik adalah konflik-konflik yang timbul dan kegagalan saya untuk memahami kenapa konflik2 itu mesti ada :-). Saya sampai hampir semalaman nggak tidur cuma untuk mencoba memahami kenapa soal nonton bola RI-Vietnam yang nggak diatur oleh KBRI sehingga keluarganya terjebak di tengah supporter Vietnam membuat seorang ibu marah luar biasa. Sampai tulis status di BBM, di facebook, dan kirim email ke bu Dubes. Nah :-). Saya mencoba memahami karena saya diminta bantuan menjadi penengah untuk menulis email dengan bahasa yang sopan. Saya pusing menulis email yang seperti apa, karena buat saya it was totally not a big deal! :-). Atau soal ketua arisan yang diambil alih. Atau soal ibu dubes yang mau mengatur UNIS spring fair. Atau hal-hal lainnya. Bukannya saya mengecilkan semua hal itu, tapi alam semesta/kosmik/habitat kami ternyata memang berbeda. Tentu saja itu juga penting, dalam kosmik ibu tersebut. 

Jadi justru di sinilah saya mulai paham dengan konsep “ibu-ibu”, paling kurang yang ada di kepala saya. Ibu-ibu yang suka arisan, suka kumpul makan-makan, dan suka belanja sama-sama. Di sini juga saya mulai paham kenapa ada ibu-ibu “sosialita.” Ini sungguhan. Dan saya baru sadar tentang adanya kelompok ini. I was a total alien, oh well a total dorky, actually. Ini kehidupan yang sama sekali berbeda dengan saya. Di Jakarta saya cuma kenal hidup yang beritme cepat, produktif, dan penuh. Sesekali diselingi acara perkawanan dan jalan-jalan. Tapi saya nyaris tidak bersentuhan dengan dunia “ibu-ibu”, apalagi selagi di sana saya belum punya anak. Jembatan ke dunia itu belum terentang. Kemudian di Seattle saya dipaksa beradaptasi dengan hidup yang beritme lambat, penuh teori dan apresiasi. Hanya di sini saya mengalami lompatan dimensi yang cukup signifikan. Saya takjub betul. Dan saya jadi mulai membacai berita-berita tentang sosialita di tanah air (makanya waktu awal di Hanoi saya sempat menulis soal sosialita :-)), dan mulai bisa menerima bahwa semua itu memang riil :-). Hidup saya dulu rupanya terlalu sempit di menara gading dan di seputar Senayan :-).

Kadang saya pusing. Karena tak biasa harus berpikir soal baju apa yang mau dipakai untuk arisan atau apakah saya mau menukar waktu untuk membaca setengah buku untuk ngopi-ngopi dengan ibu-ibu. 

I love them though. They taught me about life in ways they probably will never realise. I probably was never on earth. From them I learn more about appreciation towards different "universe" eventhough it is not about the universe that I would fight for, but they made me realised more and more about the reality.

Thursday, November 22, 2012

Frustasi soal dunia

Yang bikin marah, sakit hati, frustasi, adalah selalu ketidakberdayaan. Dalam skala yang paling rendah, ketidakberdayaan tentang banyak ketidakadilan yang saya cuma bisa tontoni di laptop, menggerogoti saya setiap hari. Setetes air mata yang jatuh setiap pagi setiap saya membuka gambar soal Palestina belakangan ini sama sekali nggak membantu. Tapi Palestina bukan satu2nya. Masih banyak, sangat banyak, sayangnya. Soal pengungsi Syiah di Sampang, Ahmadiyah, korban Lapindo. Kepala saya penuh dengan kemarahan sekaligus kebingungan: kenapa? Pantes ada generasi bunga yang mimpi dengan lagu imagine atau yang marah dengan we shall overcome,  atau generasi berikutnya yg merengek-rengek dengan when the children cry [maaf ini tiba2 jadi bicara lagu karena nulis ini sambil denger lagu :-)]. Ada yang kerjanya cuma mimpi aja, sambil ngisep ganja, dan kemudian demonstrasi. Ya salah juga. Harus berbuat.

Lalu saya jadi membayangkan ketidakberdayaan yang luar biasa ketika kita disiksa, dikurung, dibantai, diperkosa. Salah satu yang belakangan jadi banyak saya pikirkan gara2 nonton film The Act of Killing dan baca Tempo soal 1965-66. Dan pagi ini masuk lagi ke otak saya gara2 baca tulisam Noam Chomsky soal Palestina. Rasa ketidakberdayaan lama-lama bisa meledak. Akhirnya jadi kekerasan, lalu di-label dengan terorisme. Ingin rasanya menyelesaikan sesuatunya dengan cara “beradab”, tapi apa itu “adab”? saya jadi ingat kuliah dosen gila favorit saya di UW, Wolcher. Orang2 di Suriah, di Palestina, dan yang lalu juga di Bosnia, harus banyak yang mati dulu sampai orang2 yang beradab akhirnya bersedia melakukan sesuatu. Ah, pantes banyak orang memilih mimpi, pakai baju2 bunga2, dan menghisap ganja. 

Gila, terlalu banyak selentingan isu, kegelisahan, kemarahan, bahkan potongan2 peristiwa yang sudah lalu, di kepala saya belakangan ini. Begitu banyak yang mau saya tulis, terlalu banyak, sampai saya nggak mampu menuliskannya. Dunia lagi kelabu lagi buat saya. Dulu, saya selalu bilang, masa2 ketika saya melihat dunia sebagai kelabu selalu membuat saya nggak mau punya anak. Sekarang anaknya sudah ada :-). Barangkali saya cuma bisa mendidik dia supaya jadi “beradab”, entah apa itu beradab…. Saya mau dia jadi manusia yang bisa melihat manusia lain sebagai manusia. Bukan sebagai angka-angka statistik. Bukan sebagai laporan kematian sampai gencatan senjata harus jadi solusi. Bukan sebagai parameter kapan suatu berita bisa dinaikkan jadi berita. 

Maaf, ini cuma posting nggak jelas. Saya cuma numpang curhat soal dunia yang kelabu.

Monday, September 17, 2012

Hantu

Selalu ada momentum-momentum (barangkali tiga. Atau empat) dalam hidup yang rasanya ingin dihilangkan saja. Kalau saja bisa. Ada bagian-bagian kelam yang ingin dipunahkan dari memori. Kalau saja bisa. Kadang mereka terkubur lama, terdiam, terlupakan. Tapi tidak hilang. Kadang mereka muncul tiba-tiba dan menghantui.

Mengerikan sekali membayangkan bila bagian-bagian ini bisa dibuat publik. Barangkali ini yang membuat kerja yang sifatnya terlalu publik jadi tak menarik. Buat saya mereka cuma hantu di kepala. Tapi bisa jadi mereka suatu saat mereka akan bangkit dan jadi zombie yang siap menerkam.

Monday, July 09, 2012

Pindah jalur

Sudah lama terjadi, tapi masih saja sering jadi pikiran: pindah jalurnya sebagian teman dari penggiat gerakan sosial menjadi politisi. Cerita lama. Tidak selamanya buruk. Bahkan pada situasi tertentu jadi migrasi yang strategis dan “wajar” dilakukan untuk suatu tujuan yang dipercaya. Soalnya pada definisi “situasi tertentu” itu. Parameternya berbeda buat tiap individu.

 Tantangan berikutnya setelah menetapkan hati pindah jalur adalah untuk tetap berpegang pada visi yang menyebabkan berjuang dan berpindah jalur itu. Dan lebih penting: menjaga moral. Apalagi di dunia politik yang hiruk pikuk jualan, korupsi, dan seringkali cacat moral.

Ini perenungan lama. Entah sudah berapa blogposts yang saya tulis untuk soal yang sama. Tapi saya tergugah lagi waktu baca ini (maaf kalau ga bisa terbuka karena butuh password). Soal seorang (mantan) kampiun pembela hak-hak rakyat dan seorang kampiun pembela hak rakyat. Yang satu saya sebut mantan karena pindah jalur dan harus berseberangan dengan si kampiun yang menurut saya masih kampiun. Si mantan membela mati-matian seorang koruptor meski menurut saya kasusnya bloon betul. Sedangkan si masih sekarang memimpin lembaga anti-korupsi. Masih adalah guru saya. Mantan adalah sahabat saya.

Dan buat saya tidak ada istilah mantan sahabat, jadi meski dia mantan kampiun, dia bukan mantan sahabat saya. Terakhir kami ngebir bareng dia belum pindah jalur (betapa lamanya saya tidak pulang!). Jadi saya belum sempat menumpahkan kegelisahan saya. Sedih juga setiap baca namanya di media membela kasus bloon-bloon.

Thursday, January 05, 2012

Egois

Kemarin saya dapat beberapa email menanyakan kesediaan saya mendaftar suatu jabatan. Biasalah, semua ber-BB, jadi rupanya sembari rapat beberapa orang kirim email yang isinya sama tanpa berkoordinasi :-). Saya menolak, tentu saja. Kan dua hari lalu saya baru menghitung: umur melati sudah dua tahun, berarti sudah dua tahun sejak general exam saya dan saya masih belum selesai menulis. Ini buruk. Kalaupun dihitung “maternity leave,” sudah satu setengah tahun terlewat tanpa kemajuan berarti. Mbak SS bilang “disambi” aja. Haha. Saya hanya bisa tertawa pada ide ini. Sebab yang bilang adalah orang yang sekolahnya dulu disambi dan akhirnya nggak selesai. She knows best that it does NOT work. DW bilang ini “penugasan” sebagai anggota perkumpulan antikorupsi kita. Ini argumen pamungkas setelah saya menolak. Tapi jawabannya tentu saja tetap tidak.

Yang lucu, email kedua bahkan bilang kalau di Pansel pasti beres dan tim untuk bimbingan lolos pansel sudah siap. Sedangkan di DPR pasti juga mulus (masa' sih? :-P). Buat saya soal "bimbingan" dan pembacaan proses yang dilakukan untuk saya ini lucu bener. Karena dulu saya biasa melakukannya untuk orang lain :-).

Tapi lantas si kopiliburan bertanya di BBG: pejabat publik apa yang saya mau? Pertanyaan menarik. Bohong kalau dibilang saya belum pernah memikirkan pertanyaan yang sama. Beberapa kali pulak :-). Ini gara-gara saya beberapa kali dilamar partai. Juga karena pada 2009 nama saya dimasukkan oleh Om WW ke dalam “kabinet impian”nya sebagai Menteri Kehakiman. Norbert juga berapa kali bilang dia sangat ingin melihat saya jadi ketua MK nanti, bahkan sampai terakhir kami berjumpa di Seoul dua minggu lalu. Tentu saja ini membuat saya sedikit berpikir, apa benar saya mau jadi pejabat publik?

Respon saya yang pertama: saya kurang nasionalis dan agamis karena suami saya bukan orang Indonesia dan saya tidak “takwa” (Islam di KTP tapi saya kan agnostik). Jadi tidak mungkin disenangi kaum nasionalis maupun agamis :-P. Tapi argumen ini sudah patah karena ada mantan menteri yang istrinya bukan orang Indonesia dan ada beberapa pejabat yang bukan Islam.

Respon kedua, ini yang lebih benar: saya memang nggak mau karena saya nggak suka latar belakang dan privasi saya terinjak-injak. Seorang kawan bilang saya egois. Tapi kenyataannya memang begitu. Saya nggak punya ambisi jadi pejabat publik. Karena saya nggak siap dengan latar belakang yang dikorek-korek dan diutak-atik oleh jurnalis yang model suka cari-cari berita, memancing komentar-komentar aneh, dan memelintir kata-kata orang untuk membuat berita (I hate detikcom for this type of “journalism”). Orang yang jadi pejabat publik itu menurut saya nggak hanya harus siap dengan kerja keras, tanggung jawab, dan profesionalisme. Tetapi juga dengan kemungkinan-kemungkinan pembongkaran masa lalu atau isu-isu pribadi yang sebenarnya nggak mau kita perlihatkan. Buat saya, yang terakhir ini yang paling berat.

Saya merasa lebih nyaman kerja di belakang layar. Lobbying, atau advokasi, atau memberi masukan, atau melakukan riset, menulis, atau apa saja. Biarlah saya dibilang egois.

Saturday, November 19, 2011

Pesinetron, Ustad, dan Pejabat

Belakangan ini, ketiganya punya kesamaan dalam satu kata: pesohor (maksud saya celebrity). Ini pengamatan hasil baca segala rupa berita di internet gara-gara mangkir dari tugas utama menulis disertasi [ini modus kuna: menunda pekerjaan dengan menjelajah internet].

Tiga tahun nggak di Indonesia, rupanya ustad-ustad sudah jadi jenis pesohor tersendiri. Pesohor lainnya sering dengan semena-mena dikatakan“artis”. Padahal ini menghina orang-orang seni, yang bila di-bahasa-Ingris-kan: artist. Sementara banyak “artis” a.k.a pesohor di Indonesia sebenarnya bukan pekerja seni seperti "artist" dalam bahasa Inggris tadi. Melainkan pesinetron (sinetron membunuh sel-sel otak manusia secara perlahan-lahan) atau pemain film, yang seringkali juga film horror nggak jelas yang judulnya bikin geli (kayak lihat kecoak).

Saya sungguh nggak ngerti kenapa ada orang-orang yang doyan bener ngurusin hidup orang lain. Seperti saya ini. Aduh. Entah apa gunanya buat otak saya untuk tahu kenapa Ustad Solmed nikah sama April Jasmine 11.11.11 atau Jupe punya foto pre-wedding yang seksi bener. Saya kena tulah. Kualat, kalau kata orang tua. Mencerca sinetron dan menolak nonton infotainment, tapi akhirnya end-up baca berita seperti ini hanya karena berita-berita ini bisa “mengisi waktu” ketimbang nulis disertasi. Sinting.

Tapi yang menggugah barusan itu jenis pesohor yang terakhir saya sebut: pejabat. Banyak pejabat yang banyak omong. Seperti gentong. Segala macam dikomentari. Memang HAM untuk menyatakan pendapat. Dan “dijebak media” juga bisa dijadikan justifikasi berikutnya. Tapi masa’ sih mulut nggak bisa direm? Yang punya kontrol terhadap mulut (dan juga jari dalam hal menulis, misalnya di twitter) kan diri sendiri. Masalahnya banyak orang yang nggak bisa menempatkan dirinya secara bijak pada posisi masing-masing.

BM sejak dari KY sudah begitu. Kalau dulu orang membandingkan kenapa wibawa MK bisa dibangun dengan taktis sementara KY justru berseteru sedari awal dengan MA, jawabannya ada pada pemimpinnya. Tapi ini nggak cuma persoalan BM. Pemimpin MK yang sekarang juga doyan membicarakan hal-hal yang tidak perlu dia bicarakan terbuka. Jabatannya itu lho. Sama aja, presiden juga begitu. Pidato apa, yang dikomentari berbeda. Salah ucap atau apa saja, dan kemudian pewarta minta komentar pakar A, tanggapan politisi B, respons dari aktivis C, dan segala hantu blau. Akhirnya orang-orang yang hidupnya membacai berita seperti saya waktunya diisi oleh polemik yang mungkin sebenarnya nggak perlu dan dilebih-lebihkan.

Mengaplikasikan “filter mulut” mungkin memang nggak mudah. Di dunia di mana kebebasan berekspresi diagungkan dan kata “media” sudah berubah total dari berita pagi yang malamnya bisa distop tentara ke online news yang bisa nongol 10 menit sejak suatu kata diproduksi atau bahkan tweeter timeline yang bisa menyebar cepat 30 detik sejak suatu kata diproduksi. “Oops” sudah nggak ada gunanya lagi.

Lepas dari kegilaan para pesohor itu adalah kegilaan saya. Semua online media, social media dan hantu blau ini hampir bikin saya gila: seperti ada dunia paralel di sekeliling saya yang tidak nyata. Ya memang maya. Saya baca BBM grup tentang ini itu atau media online tentang polemik pejabat hedon, atau MMD komentar jual-beli pasal atau Demi Moore akhirnya cerai atau Andi Soraya kawin dengan duda beranak lima atau twitter time line nggak penting yang nongol di facebook atau facebook status tentang demonstrasi ini itu dan si anu dan si itu ditangkap atau tentang peluncuran buku A, pertunjukan B, diskusi C …dan segala kekisruhan dunia-dunia paralel itu. Sementara saya di sini: berjam-jam mengurung diri demi sebuah bab, jalan-jalan dengan ibu-ibu RT di Hanoi yang diskusinya soal masakan atau di mana cari boncengan sepeda untuk anak, ganti popok si melati sambil nyanyi balonku supaya dia nggak kabur, atau ngegulung-gulung lemper yang mau dibawa makan siang di rumah teman nanti. I don’t know anymore which ones are real and which ones are not.

Friday, September 17, 2010

How my time allocation looks like these days

  • Playing with melati: 4 hours
  • Nursing melati (with her hectic attitude): 30 minutes
  • Changing melati's diapers (including checking on her diaper whenever she does her cute fake constipation look :-)): 1 hour
  • Feeding melati (including preparing the food, persuading that stubborn picky eater to take the food and cleaning up the messy highchair, wet floor from the sippy cup etc): 2 hours
  • Facebooking: 2 hours
  • Cooking (this rookie cook takes more time with cutting and chopping): 3 hours 
  • Doing household stuff (...and thank goodness we have dishwasher): 2 hours
  • Sleeping: 6 hours
  • Playing with melati: 4 hours
  • Watching TV: 4 hours
  • Working on side jobs: 1 hour (even this! only 1 hour, max!)
  • Watching TV: 4 hours
  • Playing with melati: 4 hours
  • Writing dissertation: 0 (yes: ZERO, NIL, NADA, NONE)
Oh, and lastly: doing miscellaneous useless stuff like writing this blogpost: 3 hours

Conclusion (if you still need it, that is): I am a useless phd student who will finish her phd in 100 years

Tuesday, March 16, 2010

Menjadi Emak Emak

Ibu Sani (pembantu meneer bas): "Mbak pembantunya ada berapa?"
Pembantunya mbak Dewi: "Bu kok repot banget, mbaknya nggak dibawa?"
Sepupu saya: "kok nggak pake baby sitter???

Dan entah berapa puluh kali saya harus merespon pertanyaan serupa. Capek. Alasan saya ada tiga.

Pertama, saya memang "bercita-cita" :) mengurus anak dengan tangan sendiri. Makanya hamilnya pun ditunda sampai saya "siap mental" untuk ini: rela meminggirkan egoisme saya dalam mengejar capaian kerja dan pergaulan. 

Kedua, saya sulit sekali percaya pada orang lain, apalagi untuk soal mengurus anak. Tapi jawaban ini jarang saya ungkapkan, meskipun ini yang penting.

Ketiga, saya mau "latihan"untuk kembali ke Seattle Mei nanti. Dan toh saya bukannya tidak punya pembantu. Ada Mbak Sukini yang datang tiap Senin, Kamis, dan Jumat dari jam 8 sampai jam 15 untuk mencuci piring dan baju, nyapu-ngepel, dan masak. Saya bahkan mulai pusing ketika membayangkan nanti di Seattle juga harus melakukan semua itu plus merawat si melati hanya berdua FF.

Ada juga yang bilang: "bawa pembantu aja ke Seattle" atau "mamanya dibawa ke Seattle aja untuk bantu2". Yang bilang begini sepertinya nggak sadar bahwa saya sesungguhnya kere :-). Biasanya ada dua kesalahan persepsi.

Pertama, sekolah di luar negeri bukan berarti kaya raya :-). Ortu saya sama sekali bukan orang kaya dan juga bukan toga, tomas, dan toda yang bisa dapat fasilitas. Papa hanya pensiunan pns golongan rendah (krn tidak s1, hanya "sarjana muda") dan mama tidak kerja. Saya bahkan harus menopang hidup keluarga saya (plus kakak dan adik saya... ah kadang saya luar biasa lelah pikiran karena ini :-( tapi itu lain cerita... dan tidak perlu saya ceritakan). Sejak S1 semester 3 sampai s3 ini semuanya beasiswa. Saya ke Seattle juga hasil usaha keras lobby sana sini dan/atau bikin proposal agar dibayari oleh "institusi2 terkait" ;-) (btw, ada kabar cihuy, proposal saya baru disetujui oleh Ford :D).

Kedua, punya suami orang bule bukan berarti kaya raya. Dia bukan orang corporate, kerjanya di development sector juga. Tentu saja gaji bule di sektor ini puluhan kali lipat dari gaji rata2 "LSM lokal". I cannot complain about it. Tapi tetap saja, jangan samakan kami dengan pasangan-pasangan kawin campur yang bersuamikan bule di perusahaan multinasional yang kebetulan diposting di Indonesia. FF tidak membayari sekolah saya (tuition law school mahal banget boook!). Dan saya juga bukan tipe perempuan yang menengadahkan tangan minta "jatah bulanan gaji suami" buat nyalon, beli kosmetik, beli laptop, atau belanja keperluan pribadi lainnya, meski tentu saja belanja, household bills, dan jajanan saya kalau kami jalan bareng pasti dia bayarin :D. Kami sangat jauh dari kemiskinan tapi juga tidak kaya raya seperti raja-raja. Yang jelas, kami punya prioritas dan gaya hidup yang berbeda (pertanyaan lainnya yang juga sering ditanya: kok nggak pake supir???). Dan mengekspor pembantu ke Seattle jelas bukan prioritas.

Nah, membawa mama ke Seattle, apalagi bawa pembantu, jelas butuh biaya yang luar biasa plus kerepotannya. Mulai dari ngurus visa dengan jaminan2 rekening bank-nya, biaya hidup di sana, dan tentunya tiket pesawat yang gila-gilaan. Ah, lupakan!

Jadi saya ceritanya latihan. Dan kami juga hanya berdua. Tanpa mama dan mama mertua seperti kebanyakan teman saya. Bukannya sotoy, tapi ini karena kami juga tidak tinggal di rumah ortu dan kami (bukan hanya FF) sangat menghargai privasi. Tentu saja saya hepi kalau mama-papa datang (maklum cucu pertama, jadi sering banget disambangi), tapi banyak hal soal cara merawat anak yang tidak sinkron antara saya dan mama dan tante2, uwak2, nenek2, dan banyak kerabat saya lainnya. Saya anak buku dan kelas.

Saya percaya soal kemungkinan colic dan insecurity after womb daripada diganggu setan dan harus tarok gunting dan Al Qur'an di bawah bantal untuk menangani tangisan yang tak henti2. Saya tidak percaya konsep "bau tangan." Tapi saya pakai minyak telon, membedong bayi, dan "gendong kain". Saya memilah dan memilih ribuan info yang saya terima dari kiri-kanan, tetua-tetua. Ada yang bagus dan ada yang tak masuk akal. Mitos. Tapi lucu juga kadang-kadang.

Teman setia saya dalam kesoktauan saya ini ada tiga: buku, babycenter.com, dan Total Baby App. di Iphone. Saya punya tiga buku yang saya bolak-balik terus untuk belajar (Simkin, Whalley, and Keppler dari UW Clinic, Mindell Sleeping Through the Night, dan kado dari DZ Baby book-nya keluarga Sears yang terkenal :-P). Babycenter.com menemani saya sejak hamil 5 minggu sampai sekarang. Saya belajar mulai dari cara memandikan anak, berapa lama kebutuhan rata-rata tidur, milestones, sampai postpartum hemorrhoids (ini bahasa kerennya, sebenernya sih: wasir gara2 brojolin anak! haha) dari sini. Dan Total Baby App itu amat sangat luar biasa untuk emak-emak sok tau yang ngurus anak sendiri kayak saya. Ia mencatat waktu menyusui, ganti popok, tidur, jadwal dokter, pertumbuhan, dll. Saya yg Dory ini (short term memory syndrome maksudnya :D) jadi bisa dengan mudah mengetahui misalnya, saya terakhir ganti popok 6 jam yang lalu sehingga sudah harus diganti. Atau ketika jam 4 sore ternyata si melati baru tidur 1 jam. I think it's a must-have app for Iphone mommies! Only $4.99 :-D

Begitulah. Saya jadi emak-emak sok tau. Tanpa pembantu. Tanpa mama dan mama mertua (nggak bisa anyway, dia kan di jerman :-)). Tapi saya harus bisa. Di amrik dan eropa sana toh kalau bukan keluarga kaya raya juga tidak akan bisa afford nanny. Jadi buat FF ini fenomenon biasa saja. Buat saya tidak terlalu biasa (pembantu-pengasuh anak juga dimiliki mama waktu kami masih kecil). Dan buat keluarga dan beberapa teman saya aneh :D.

Sebenarnya memang ini biasa saja, tapi saya seringkali harus menjelaskan bahwa saya tidak punya pembantu-pengasuh karena beberapa teman dan kolega kadang tidak mengerti kalau saya harus membawa melati ke mana-mana atau kalau mengatur jadwal pertemuan yang agak aneh karena harus aplusan dengan ff untuk merawat melati. Jadinya kesannya bangga banget berkoar-koar nggak pake pembantu, padahal maksudnya biar dimengerti aja. Ketidakmengertian ini seringkali disebabkan kebanyakan kawan/kolega punya pengasuh anak. Krn pilihannya memang kalau mau tetap kerja atau bisa bergaul ya harus punya asisten - ya wajar aja (untuk standar kelas menengah ke atas di Jakarta). Masalahnya saya ini kemaruk :). Kepingin ngurus anak sendiri, tapi juga ingin tetap kerja dan bergaul. Maka si melati sudah saya ajak rapat sana sini (bahkan pada sebuah rapat di mana ff tidak bisa menemani, saya rapat sembari menggendong dia yang tertidur lelap :)), 'gaul' ke Loewy's, mall2, rumah teman2, dll. Ya mau gimana lagi, saya kadang bosan juga 24/7 di rumah. Jadi tiap weekend kami biasanya jalan. Dan toh di negara2 maju zonder pembantu itu juga sudah biasa bayi dibawa-bawa. Sebab kehidupan kan nggak berhenti walau punya bayi dan cannot afford a nanny: tetap harus belanja, masak, dll. Apalagi di kampung-kampung dan di pelosok, ya biasa aja ibu2 menggendong bayi sembari kerja di sawah, kebun, atau di dapur. Jangan manja ah :)

Yang penting untuk saya sadari, dari satu sisi ini sesungguhnya adalah kemewahan. Saya punya pilihan untuk menjadi stay-at-home-mom dan merawat melati dengan tetap kerja di rumah. Saat ini saya sedang punya 2 kerjaan dan satu calon kontrak baru, semua dikerjakan dari rumah. Dan tetap diminta membantu menulis buku atau wawancara penelitian jarak jauh. Memang ada tawaran yang harus saya tolak karena membutuhkan perjalanan ke luar kota. Juga, saya menghilang dari peredaran wacana hukum tata negara yang sebenarnya lagi ramai karena waktu wawancara tergantikan oleh waktu menyusui atau mengganti popok atau menidurkan (uh, kadang sedih juga karena "gank" saya berlomba berkomentar di berbagai media dan saya hanya menonton /membaca mereka sembari menyusui atau menidurkan si melati dengan segala pemikiran berkecamuk di kepala). Tapi saya sadar betul bahwa saya tidak boleh mengeluh. Banyak ibu lain, paling tidak setelah cuti melahirkannya habis setelah 3 bulan (melati sekarang baru 2,5 bulan), tidak punya "kemewahan" untuk tidak kerja karena ada kebutuhan gaji kedua dalam rumah tangga. Atau ada ibu2 lain yang tidak punya kemewahan untuk bekerja di rumah seperti saya sementara bekerja seringkali juga adalah "kebutuhan psikologis".

Menempatkan segalanya dalam konteks memang selalu penting.

Saturday, November 14, 2009

Etika Menulis

Beberapa hari yang lalu saya kaget ada sebuah tulisan kawan di face book note-nya yang mengutip total 4 paragraf tulisan saya di sebuah media elektronik. Total copy-paste. Kemudian dia dipuji oleh beberapa komentator karena tulisannya ground breaking dan disuruh mengirimnya ke Kompas. Dia menanggapi komentar-komentar itu dengan bangga, tetap tanpa klarifikasi: “siap, saya akan kirim ke Kompas”. Saya Cuma membatin: “lho??” Waktu saya mau memberikan komentar di situ, masuk sebuah message dari si kawan yang sedang bangga tersebut: mbak, ijin ya tulisannya saya kopi. Untungnya ada seseorang yang memberi catatan bahwa minta ijin sebetulnya tidak cukup. Kalau mengutip harus diberi keterangan pengutipan. Baguslah, saya jadi tidak usah panjang lebar dan bisa diplomatis sembari becanda karena mereka semua kawan “seperjuangan” (cicak maksudnya… ). Tapi komentar bahwa 4 paragraf itu tulisan saya tetap saya berikan di situ supaya orang-orang lain yang membaca paham bahwa setengah dari tulisan dia sebenarnya tulisan saya :-). Bukan apa-apa, meski itu cuma riset kecil 10 menit di internet, tapi gagasan dan upaya riset saya serta upaya merangkai kata-kata sehingga menjadi koheren dari banyak artikel di internet, harus dihargai.

Belakangan ini saya banyak berpikir soal etika dalam membuat tulisan. Bukan cuma karena sepotong peristiwa kurang penting itu (kan cuma FB note…).Tapi karena saya lagi banyak membaca buku-buku Indonesia yang ada di kampus (di sini koleksinya lumayan banyak meski sebagian sudah dihibahkan ke Lev Lib) gara-gara saya dikritik VT karena literature review di dalam prospektus disertasi saya tidak banyak membahas pemikir Indonesia mengenai negara hukum.

Entah berapa ratus kali sudah saya menggeleng-gelengkan kepala dalam 3 hari ini melihat (1) gaya tulisan para “pemikir hukum” terkenal itu yang sangat tidak dalam, kurang argumentatif dan (sebagian) ngalor ngidul; dan (2) betapa sembarangannya mereka dalam mengacu ke karya orang lain dan dalam membuat bibliografi. Soal gaya bertutur saya sebenarnya masih ingat sejak kuliah S1 saya memang kurang suka membaca buku-buku profesor-profesor jadul itu. Dan yang saya lakukan saat ini membuat saya seperti de ja vu :-).

Ada 1 buku Padmo Wahjono yang tebalnya 208 halaman, judulnya Indonesia negara berdasarkan hukum yang sampai sekarang tidak saya pahami isinya :-). Juga sebuah buku kecil dia yang diangkat dari Pidato Ilmiah Peringatan Dies Natalis UI ke-33, yang juga saya tidak mengerti. Bahkan saya jadi cengar cengir sendiri karena buku itu ditutup dengan semboyan yang jumawa dalam huruf kapital: “TIADA MASYARAKAT TANPA HUKUM”. OK deh pak…. Hehehe….

Adakah catatan kaki di dalam buku prof. dr. Padmo Wahjono itu? Tidak ada sama sekali! Padahal ada daftar pustakanya, yang ditulis dengan sembarangan (bukan chicago style, bukan MLA atau segala style lainnya yang ada ratusan) pengarang dan judulnya saja dalam sebuah tabel. Ampuuuun….

Parahnya, banyak di antara dosen muda yang ada di kampus tercinta yang bacaannya ya hanya buku-buku professor-professor itu dan jarang baca artikel/ buku luar negeri. Saya tidak mau menjadikan “sekolah ke luar negeri” sebagai kategori dalam membahas ini karena rasanya sombong betul. Tapi tidak bisa dipungkiri sekolah di luar negeri membuat kita “dipaksa” untuk membaca perkembangan terbaru ilmu hukum dan luar biasa hati-hati dalam melakukan pengutipan (salah sedikit, mis. mengutip langsung lebih dari 4 baris tanpa tanda kutipan langsung bisa berujung pada dikeluarkan dan di-black list dari dunia akademia. Saya tahu 2 dosen saya yang terkena sanksi "sosial" ini di universitas luar negeri walau sekarang mereka tetap menjadi "ahli hukum terkenal" di Indonesia hehe). Sebenarnya tidak tergantung "sekolah di mana", tapi tergantung (1) tingkat keseriusan orangnya dalam mendalami ilmu itu; dan (2) akses yang bisa dia dapat ke sumber-sumber informasi dan bacaan. Sebab saya tahu kawan A yang bahkan tidak lulus s1 di Indonesia (s1, s2, s3 kan cuma "gelar") tapi ilmunya luar biasa. Saya suka sekali bertanya dan diskusi dengan dia.
 
Masalahnya banyak kampus di Indonesia tidak mendukung mahasiswanya utk serius mendalami ilmu dan memberikan akses bacaan yang baik. Jadi, orang yang mau serius harus kerja keras betul karena tidak ditunjang kebutuhannya. Malah ceritanya ES dosen-dosen pun seringkali seenaknya tidak masuk. Ya repot dong kalau bahkan patronnya untuk bersikap akademis juga nggak ada. Celakanya, banyak dosen yang kuliah lagi tapi tidak mau kerja keras cari akses informasi dan bacaan tambahan dan banyak diskusi seperti A atau ES. Mereka hanya mengejar gelar sehingga bisa naik status dosennya. Nah, mereka inilah sebenarnya yang menjadi pemelihara siklus setan kedunguan di kampus.

Tentu saya tidak bisa menggeneralisasi. Lihat AC, RGA, DR, dan dosen-dosen muda lainnya yang berwawasan luas, juga bos HHJ mantan dekan yang sangat pintar. Mereka luar biasa. Tapi saya tahu persis teman-teman saya di kampus yang terjebak kerja di birokrasi kampus, menjaga ujian, dan membahas melulu buku dosen utamanya. Kerjanya arisan dan bikin workshop. Tanpa banyak membaca perkembangan ilmu hukum dunia yang luar biasa. Inilah yang membuat siklus kedunguan tidak terputus.

Sama saja, barusan saya membaca makalah seorang tokoh HAM terkenal yang sebenarnya juga dikenal cukup baik dalam meneliti, tapi makalahnya mengutip karya orang dengan sangat sembarangan. Bahkan ada satu artikel dalam bibliografinya yang ternyata tidak eksis, entah dia dapat dari mana. Saya curiga ini karena dia sangat sibuk, nggak sempat lagi meneliti. Satu lagi, ada makalah lumayan serius dan baru (Juni 2009) dari Guru Besar dan Ketua Program Pascasarjana sebuah FH, yang banyak mengutip tulisan Pak Tjip di Kompas (artikel dari tahun 2003). Memang dia memberikan catatan kaki, tapi dia “copy-paste”, tidak mengemas ulang pemikiran Pak Tjip dalam bahasanya sendiri, tanpa tanda kutipan langsung (padahal, setelah saya bandingkan dengan tulisan Pak Tjip itu, kira-kira 1 halaman dia kutip! Bukan hanya 4 atau 5 baris). Buat saya ini tidak termaafkan karena dia seorang guru besar dan forumnya juga sangat serius.

Kalau tidak hati-hati, kecerobohan macam ini juga bisa dianut oleh para peneliti cum aktivis di P. Soalnya begini: seringkali peneliti yang aktivis diminta berbicara dalam forum. Kalau dia masih mau menjaga kredibilitas pemikirannya, dia akan membuat makalah, meski singkat. Tapi, saya merasakan sendiri, waktu untuk menulis luar biasa sempit. Karena kerjaan sangat menumpuk. Akibatnya: sumber data cenderung asal-asalan dan kutipan dibuat dengan tidak ketat.

Kedua, karena ada rangkap peran aktivis dan peneliti, kadangkala gaya menulis disamakan saja. Misalnya antara pres rilis dengan penelitian atau laporan ke donor dengan laporan penelitian atau matriks tindak lanjut yang harus singkat dengan penelitian. Padahal semua itu sangat berbeda kadar kedalaman dan ketelitian sumbernya. Penelitian tidak boleh asal membuat klaim, harus ada pemikiran logis, dan sumber data yang valid.

Misalnya, saya pernah menyunting sebuah rancangan laporan penelitian di P yang mengutip sebuah blog padahal yang dikutip itu adalah sebuah artikel koran. Kurang rajin mencari lebih jauh, ambil saja yang pertama ketemu di google. Peristiwa itu kecil, tapi waktu itu membuat saya patah hati, serius! Ini lampu merah buat P! Harusnya ada sesi-sesi khusus yang bisa menjaga mutu penelitian dan perbedaan gaya-gaya menulis. Terutama buat peneliti muda. Yang amat sangat sering saya sunting adalah alur bertutur yang tidak logis.

Masalahnya sekarang di P, “menyunting” dianggap hanya menyunting kesalahan ketik dan tata bahasa. Padahal, ini saya diskusikan juga dengan Arlene karena kami ternyata sama-sama “hobi” menyunting :-), peran editor atau penyunting itu jauh melampaui dua hal itu. Adakalanya penyunting (kalau untuk penerbitan buku profesional) harus membuat paragraf baru atau meminta pengarang menulis bab baru. Penyunting juga yang harus mengecek logika bertutur dan validitas data, termasuk cara mengutip dan memberi referensi. Beberapa penerbit punya aturan mengenai style apa yang dipakai. Yang sedang saya bantu untuk Arlene adalah mengubah style pengutipan dan bibliografi manuskrip Pak Dan menjadi chicago style karena itu maunya penerbit. Repot sekali karena beberapa jurnal tahun 1950-an harus dicari untuk mengetahui halaman sebuah artikel. Tapi itulah tugas penyunting (Arlene lho, bukan saya) yang pengarang bukunya kebetulan sudah meninggal dunia.

Kok saya jadi lari ke P lagi ya? :-) Yang jelas, baca buku para “pemikir hukum jadul ternama” dari Indonesia ini justru menjadi jadi salah satu tantangan terbesar saya dalam menulis disertasi hehehe.

Thursday, October 29, 2009

Muter-muter

10 hal yang lagi muter-muter di kepala:
  1. Double chocolate mini muffin QFC enak banget
  2. Gimana caranya melobby committee members supaya mau memberikan general exam sebelum gue cuti melahirkan?
  3. Nama anak gue nanti (kata Yogi namanya Disertasi, suwek! :-) My dissertation is indeed gonna be my second child!)
  4. Si Ketua DPR yang koruptor dan tidak berkompeten mulai kelihatan kekacauannya (sembarangan membatalkan rapat dan bilang bahwa kenaikan gaji pejabat bukan urusan DPR). Gimana DPR ke depannya? Apakah prediksi gue betul DPR akan semakin kacau? 
  5. Apa ya argumen MK mengeluarkan Putusan Sela untuk PUU UU KPK? Ini tamparan telak buat SBY dan staf khusus bidang hukumnya :-). Tapi apa ya argumennya dan bagaimana menindaklanjuti 2 orang (walau ada 3 tp yg berhenti sementara cuma 2) yang sudah dilantik? Dan kalau putusan dikabulkan, bagaimana memilih 2 dari 3?
  6. Kapan ya gw install Windows 7 asli yang baru gw beli dengan harga mahasiswa? ah iya, ini services (cable TV, electricity, at&t, dll) di sini juga mesti diurus sebelum pulang plus my complicated study leave admin, change of address dan melepas apartemen dan melego furnitur dan menyimpan barang2 selama pulkam 6 bulan. Wadaw!! Coba, gimana nggak pusing??
  7. Mampus, gue ada utang 3 tulisan untuk kawans plus 1 revisi conference paper untuk buku.
  8. Baby shower tawaran Anna sangat menarik, mendingan di rumah dia atau di kantor PhD ya? hmmm..... ;-)
  9. Decaf coffee dan decaf Earl Grey Tea ternyata enak dan bisa jadi placebo yang ampuh buat sakaw kafein gw. Sayangnya kerinduan gw akan rokok dan alkohol masih belum bisa terjawab. Padahal dua hal ini krusial pada masa2 menulis yang gila-gilaan seperti ini (meski hamil tiap hari gw begadang nulis matjem matjem dan stress karena sebulan lagi gw harus pulang dari belum ada tanggal general exam awww!!!)
  10. Untung besok gw ada sesi yoga gw, ahhh lupakan dulu 9 hal di atas. Namaste!

Wednesday, September 30, 2009

Pembantu

Dua minggu terakhir ini: menjelang dan sesudah lebaran, banyak status teman di face book yang mengeluh soal pembantu. Don't get me wrong, saya ngerti sengerti-ngertinya kalau punya anak dua atau tiga itu beda banget sama nggak punya anak kayak saya: bisa sruntulan dan sembarangan. Jadi ini bukan mau sok-sokan bilang I am better than they are, sama sekali enggak. Tapi yang lucu itu status soal nitty gritty kerjaan pembantu yang akhirnya mereka rasakan. Ada yang nulis: "wah ternyata untuk bikin WC kinclong si mbak harus ngebersihin WC dengan jarak muka 10 cm saja" :-) (sementara saya bersihin kamar mandi dan nyikat wc tiap minggu). Ada juga yang panik sepanik-paniknya karena pembantu nggak pulang-pulang. Atau tinggal sementara di hotel karena nggak ada yang masakin, nyuci-nyuci, dan beres-beres. Sekali lagi, bukannya saya sok jagoan, sebab toh buat saya beda karena belum ada anak dan saya dr dulu biasa hidup mandiri jadi nggak "kaget". Tapi ya lucu aja sih. Sama lucunya dengan ketika saya melihat adik sepupu yang anaknya lebih deket ke pembantu dan dititipin di mertua dan pembantu sementara dia jalan-jalan ke singapura belanja sama temennya yang selebriti (temennya ini "beli" anak -bukan ngangkat resmi- dan anaknya toh diurus pembantu). Buat dua anak ini, sepupu saya dan teman selebritinya, anak memang seperti aksesoris.

Beberapa status yang lucu-lucu:
ni Negara udah sakit banget yaaa...masa mau nyari suster aja mesti pake org dalem..gw suruh laki gw grebek aja deh tuh tempat..--
Embooooooook cam beeeeeeek suuun.... Body dah ngiluuuuuuw...
2 Prt positif gak balik, ninggalin baju sekoper lagee..di sms bilang "titip baju sy bu", badan remuk, tk pijet andalan msh di yogya, besok dah ngantor, mgg dpn mission, si sulung mgg dpn UTS. Jgn mengeluh, hrs b'syukur msh ada laundry ...kiloan + mbak irah yg dtg 2 hr sekali u/ bantu bersih2 walau hny 3 jam sj. Really needs a massage & 'me time'
Sama juga lucunya dengan pengamatan saya terhadap keluarga sil. Mama nggak tau cara bikin bubur untuk baby sil (biasanya dibikinin pembantu) dan mama-papa berantem gara2 sil sering jatuh atau kejedot. Atau main tuding-tudingan sekarang giliran siapa yang harus ganti popok atau mandiin sil. Semuanya karena nggak biasa ngurusin anak sendiri. Sibuk maen bb, anak jatoh dari bangku :-)). Maklum, di Jakarta mereka tinggal sama Ortu meski udah kawin. Anak diurus ortu, mertua, pembantu. Sampai di sini tiba-tiba semua harus diurus sendiri. Jadi pembantu iya, jadi nanny iya: bersihin kamar mandi, masak sendiri (belum lagi harus cari tahu nama-nama sayuran dan bumbu dalam bahasa Inggris hehe), masak bubur untuk anak, cari tempat belanja yang murah, dll. Kaget total. Kadang saya kasihan, tapi mereka harus mulai belajar. Sebenarnya mungkin nggak terlalu parah, hanya karena nggak ada "masa transisi": lepas dari rumah ortu/mertua langsung harus tinggal di luar negeri tanpa pembantu dan lebih disiplin. Jadi kaget aja. Mama sil sampai sms mamanya di Jakarta untuk nanya: gimana cara masak bubur tepung beras merah? :-) Kalau sil baru lahir tentu saya mahfum, toh saya juga pasti nanti awalnya bingung mengurus anak waktu baru lahir walau sudah ambil kelas macam-macam dan baca buku ratusan halaman. Tapi sil sudah 10 bulan umurnya! Saya hampir terkekeh-kekeh tapi demi keberadaban saya diam saja. Akhirnya itu bubur gosong dan baby sil dikasih bubur instan lagi. Kasihan anak itu.

Saya jadi berpikir soal pembantu. Betapa mental kita begitu terbiasa dengan pembantu. Saya juga kok. Di Jakarta ada mbak Yanti yang datang dua hari sekali untuk nyuci, nyetrika, dan beres-beres karena kerjaan kantor saya kadang lebih dari 12 jam sehari. Tapi maksud saya perlakuan terhadap pembantu itu lho; dan bagaimana cara kita memandang mereka. Banyak kawans yang rasa kemanusiaan dan HAM-nya tinggi, itu sudah nggak masalah. Tapi saya tahu beberapa teman FB yang statusnya mengenai pembantu kadang bikin saya miris. Juga sebuah blog yang saya temukan mengenai pembantu. "Mental" itu? Bagaimana bisa terbangun? Pendidikan ortu dari kecilkah? Bagaimana mereka memandang manusia lain yang dibayar untuk mengerjakan pekerjaan rumah.

Sikap dan pandangan terhadap pembantu adalah hal terkecil dan terdekat yang bisa kita amati mengenai perlakuan, pandangan, dan penghargaan kita terhadap manusia lain. Dan sampai sejauh mana kita mau mendistribusikan tugas rumah tangga, yang sejatinya kita kerjakan sendiri (seperti mengurus anak kayak sepupu saya itu lho! aduh) kepada orang lain. Ada soal tanggung jawab di sini dan pertanyaan sejauh mana kita mau tetap memiliki tanggung jawab terhadap rumah sendiri.

Buat saya yang bibi titi teliti (suka detail), banyak hal yang harus saya atur sendiri meski mbak Yanti lumayan bagus. Tapi ada juga teman yang bahkan nggak tau di mana tempat panci-panci tertentu disimpan di rumahnya sendiri atau kenapa ada baju yang disetrika terlalu panas dan rusak. Di Jakarta enak, kalau ada baju yang kancingnya lepas, saya tinggal bilang ke Mbak Yanti untuk dipasang. Di sini ya semuanya sendiri. Mulai dari masak sampai ngelap kaca jendela. Kecuali kalau pemalas, ya cuekin aja itu semua, nggak terlalu penting nyikat wc atau bersihin rambut di lantai. Sayangnya saya orangnya "jijik-an" jadi semua harus bersih, kata teman saya clean freak :-).

Nanti kalau punya anak juga begitu. Nggak ada pembantu, nggak ada ibu atau mertua yang bantu mengurusi. Harus mikir child care kalau kuliah atau kerja, bayar baby sitter per jam kalau mau ada dinner atau acara ke luar, cari car seat yang sesuai undang-undang, dll. Jadi mikir, makanya kalau di Indonesia sepertinya tidak terlalu sulit memutuskan untuk punya anak lebih dari satu, dibandingkan dengan di Eropa dan di Amerika. Di Indonesia (mungkin di Asia pada umumnya), ada sistem sosial yang menopang hidup kita. Bukan hanya pembantu, tetapi juga keluarga. Dan standar hidupnya tidak terlalu tinggi: nggak usah berpikir beli car seat, anak tinggal dipangku saja :-) atau bahkan dinaikkan ke motor yang sudah dinaiki 3 orang lainnya :-)). Di Eropa dan negara-negara maju yang sistem sosialnya sudah patah-patah dan standar hidupnya tinggi keputusan untuk punya anak sama sekali tidak mudah. Makanya misalnya di Jerman, di Jepang, orang yang mau punya anak diberi subsidi biaya hidup oleh pemerintahnya (sayang kami tidak eligible karena tidak bertempat tinggal di Jerman :-)).

Nggak tahu kenapa saya tiba-tiba pengen nulis ini. Fenomenon yang menarik aja mungkin. Dari dulu sudah tau. Tapi jadi lebih fenomenal gara-gara status FB dan keluarga sil itu. Hehehe.

Sunday, August 30, 2009

In the Womb

I am superglad that I finally found this video! I watched this video before on TV and I planned to have it once I get pregnant :-P. I had been trying to find it since I got pregnant but until last month I did not find it. So I decided to buy it (legally) from National Geographic, but apparently somebody put it on googlevideo already, yay!

I think this documentary is really useful so I want to share it here (I hope they won't block it for copyright reasons). I sent it to si nggir as well :-). If you want to watch it's actually better to download it first, because it's nearly 1,5 hours. Enjoy! :-)

Friday, August 28, 2009

Suku Perut Buncit

Hamil dan sendirian itu nggak enak. Waktu di Jakarta beberapa keluarga dan teman bertanya, ngidam apa? Waduh, nggak pake ngidam, tante, jawab saya. Kayaknya sisi rasional saya yang menang daripada sisi manja saya. Bayangkan di sini, Seattle, kalau saya ngidam yang "aneh-aneh" mau cari di mana? siapa yang mau beliin? Maksud saya, kalau saya dengar cerita teman (atau status FB yang menurut saya sungguh nggak perlu), kayaknya ribet banget. Sampai ada yang minta cariin tahu sumedang tengah malam (ini si nggir :-)), wah di sini mana bisa? :-)

Saya harus hadapi semuanya sendiri. Belanja dan bawa barang berat-berat dari u-village atau int'l disctrict sendiri; jalan kaki atau naik bis (maklum nggak punya mobil, krn hidup sendirian dan tinggal dekat kampus, lebih mahal kalau punya mobil). Semuanya mesti saya lakukan sendiri: mulai dari belanja jauh2, masak, cuci piring, vacuum cleaning sampe nungging-nungging :-), merawat pot tanaman gw tersayang, nginstall cable modem, ganti bohlam, ngegosok kamar mandi, mbersihin dapur, dll. Nggak ada tuh yang manjain, mijitin kaki, ngambilin minum :-).

Memang dulu bininya si engkoh juga selama hamil anak pertama ditinggal sekolah. Tapi paling tidak dia di Jakarta, ada keluarga yang menopang perubahan biologis dan psikologis kehamilannya; serta pembantu yang mengerjakan pekerjaan rumah. Nah gw?? :-) Yang saya ajak sharing soal perasaan dan perubahan tubuh pun nggak ada; hanya dokter saya, Arlene, dan telepon-telepon internasional ke FF dan mama; plus ngomong sama perut saya sendiri kayak orgil :-). Saya baru ngaku ke "gank ibu2 seattle" minggu lalu. Kenapa begitu? Bukannya saya pura-pura menjadi superwoman atau pregnant in denial, tapi ini karena persoalan pelik sebagai anak emas supervisor yang ditempeli seribu harapan di jidat. Sebenarnya supervisor saya sudah pernah memberi tanda-tanda (meski tidak eksplisit) bahwa dia nggak mau saya hamil selama sekolah. Maka orang di kampus sampai sekarang belum ada yang tau karena saya masih tahan berita ini sampai saya ketemu supervisor saya (saya baru akan ketemu dia minggu depan, ketika prospektus saya sudah jadi).

Ngidam

Soal ngidam. Dari dulu saya kurang percaya dengan konsep ngidam. Menurut saya itu hanya psikologis. Tapi saya tidak mau gembar gembor karena saya pikir tidak fair bilang begitu selama saya belum pernah merasakannya. Namun akhirnya saya sekarang bisa bicara lantang: ngidam adalah cermin kemanjaan! :-). Jangan marah ya untuk yang ngidam :-). tapi saya punya kesimpulan berdasarkan riset pustaka :-) dan pengalaman, bahwa ngidam itu adalah pengaruh psikologis dan budaya. Tapi secara biologis sebenarnya tidak ada.

Saya sempat browsing dan memang ada perdebatan akademik tentang itu. Bisa jadi "ngidam" itu mekanisme tubuh untuk mengingatkan kita akan kekurangan suatu zat yang dibutuhkan si jabang bayi. Tapi, kata artikel itu, kalau itu isunya, kenapa ibu hamil nggak semuanya ngidam brokoli dan jus apel aja? Malah ngidamnya (kl di amerika) es batu atau acar timun (kl di Indonesia ya itu: tahu sumedang lah, toge goreng tapi yang harus di tempat tertentu lah, dll).

Saya senang efek psikologis dan kemanjaan saya bisa saya kalahkan dengan rasio saya soal kondisi saya yang sendirian dan sedang sekolah. Efek bagusnya saya jadi suka masak karena nafsu makan berkurang total dalam 3 bulan pertama (berat badan saya turun 4 kilo dalam 3 bulan pertama). Jadi
suka masak karena saya ingin memaksa diri sendiri untuk makan :-). Saya betul-betul lebih rajin masak dan berpikir soal asupan makanan saya sekarang. Snacking saya selama di Seattle lebih sehat sekarang: mozzarella stick, apple slices, baby carrots, dan buah2an lainnya. Dan tiap hari saya juga makan buah dan jus sayuran (ada V8 di sini, jus sayuran di botol, my best friend! :-)). Belanja juga lebih terkoordinasi :-) semua makanan organic dan makin jarang beli makanan jadi yang sangat didoyanin orang amrik. Hanya saja semua ini jadi lumayan kacau begitu di Jakarta sebulan: makanan organic susah didapat, polusi gila-gilaan, dan makanan enak namun ber-MSG bertebaran di mana-mana.. mana gw tahan?? :-)

Duh, "ibu-ibu" banget deh cara mikir gw sekarang pokoknya :-P. Mama sampai nggak percaya. Dan ff cengar cengir bahagia (mungkin dia pikir: akhirnya bini gw sadar juga selama ini dia hidupnya kacau sekali dengan junk food, rokok, alkohol, kopi, goreng2an, mie melulu, makanan superpedas, dll :-)). I miss my cigarettes, wine, beer, my favorit vodka tonic, and mostly coffee, but I can wait lah.. ;-P

Efek Samping :-)

Efek buruknya ada pada sekolah saya. Saya sangat distracted dengan kehamilan ini. Saya lebih sibuk belanja, masak, dan baca-baca buku soal kehamilan dan anak daripada mengerjakan disertasi saya. Efek biologis juga kurang bagus. Saya kadang jatuh tertidur begitu saja ketika sedang membaca buku. Belum lagi mood swing yang membuat saya kadang seharian tidak bisa menulis atau membaca apa-apa.

Jadwal sekolah saya juga semua harus diubah dan disesuaikan. Saya harus meminggirkan rencana fellowship di Leiden yang sudah saya atur dengan indah dengan Pak JMO. Juga visits ke Melbourne, Sydney dan UC Berkeley yang sudah saya janjikan dengan Pak TL, SB, dan DC. Bahkan sepertinya saya harus menunda magang saya di kantor Senator Murray di DC :-(. Waktu saya akan "terbuang" minimal 6 bulan. Saya HARUS general exam sebelum November ini berakhir. Kalau tidak saya bisa-bisa lulus dalam 5 tahun, tidak 3 tahun seperti ambisi saya (dan supervisor saya).

Tapi saya menikmati ini semua. Saya menunggunya sejak lama. Saya menundanya tiga tahun semata karena saya terlalu menikmati pekerjaan dan sruntulan saya yang menarik itu; egoisme saya. Sebelum saya ke sini, kerja adalah prioritas nomor satu saya, bahkan di atas ff.

Waktu kawan-kawan saya, yang anaknya sudah besar-besar sekarang, tidak tidur karena menjaga bayinya; saya juga tidak tidur untuk kerja di kantor, pulang kantor jam 5 pagi. Waktu kawan2 saya harus ngantri untuk imunisasi bayinya di RS, saya ngantri di airport untuk tour of duty. Waktu kawan saya ngobrol dengan anaknya, saya me-lobby anggota DPR sampai jam 11 malam atau memantau rapat DPR sampai jam 2 pagi. Waktu kawan saya terbangun pagi karena anaknya nangis, saya juga harus bangun untuk pesawat paling pagi, wawancara pagi, atau early breakfast meeting sama boss2. Waktu kawans saya mungkin menikmati waktu dengan keluarganya; saya merenungi hidup saya yang ajaib sambil merokok, kadang sambil mengeluh dan mengusap air mata (ini sblm ketemu ff ;-)), menyeruput kopi dan tetap ngedit atau bikin makalah di smoking room sampai jam 4 pagi (bukan karena kerja tak efektif tapi siang-sore selalu penuh dengan meetings, lobby, wawancara dan jadi pembicara). Waktu kawans saya mengeloni anaknya di pelukan ketika weekend, saya pulang maen basket ganti baju dan terus clubbing sampai jam 7 pagi (work hard, party hard used to be my motto :-P) atau tetap rapat koalisi di hari Minggu.

Sekarang giliran saya, kawans. Saya sengaja keluar dari itu semua, meninggalkan Jakarta yang gila; tiba di sini, untuk belajar, berefleksi atas semua itu, dan bercengkerama dengan (calon) anak saya.

Dari dulu saya ingin punya anak. Walau saya cukup gila-rencana, kadang jiwa impulsive saya bilang saya mau punya anak di tengah kesibukan saya yang gila di Jakarta, tapi ff adalah penyeimbang yang luar biasa. Dia yang selalu mengingatkan bahwa kami berdua tidak ingin punya anak yang diurus pembantu atau ortu. Maka kami menundanya sampai kami di sini. Tiga tahun. Tepat 3 tahun; pada saat kami pertama kali mencoba setelah pada dinner ultah perkawinan ke-3 di DC kami memutuskan untuk mulai mencoba (I'll spare you the details lah ;))).

Kamu sangat dinantikan, anakku. Itu yang selalu saya katakan padanya, pada perut buncit saya yang kini sudah bergerak-gerak. Lima bulan dia sekarang. Begitu banyak harapan kami: supaya kamu pintar, sehat, cantik, dan segala macam. Apalagi
saudara-saudara gw yang dodol yang omongannya selalu soal selebriti setengah bule yang terkenal... aduh! Enggak, kamu nggak harus menjadi itu semua. Cukuplah buat kami kalau kamu sehat, cerdas, dan berani. Kamu boleh jadi apa saja. Kami akan tetap mencintaimu, tanpa syarat.

Cash for Clunkers

Obama's "Cash for Clunkers" program fascinates me. I had heard about that from FF a couple of months ago: how it had been done in Germany. In Germany it was called Abwrackprämie, which literally means premium for junks. I heard that it was also done in France. Its official name is "Car Allowance Rebate System" (CARS).

There are two main purposes. First is for the economy; this is a part of Obama's stimulus package for the economic recovery. The second purpose is for the environment.

Last year's economic crisis was not really hit Indonesia. So this discussion may not sound familiar for my Indonesian friends. But here it is really bad, I am telling you, I even lost my Research Assistantship for 2 quarters due to budget cut for my school (as a result I have to raise my own fund for 2 quarters: bikin proposal lagi, nge-lobby donor lagi, makanya kemaren saya pulang kampung sekalian fund raising). Anyway, Obama' stimulus package is indeed interesting to discuss, but I am not an economist and this blog is not for too serious stuff :-) so I won't discuss it. I admire his administration. He came in a difficult situation after stupid Bush.

Car industry is one of the most hit industries in the US. The government, amidst criticism, had to bail out some US car companies. And you know that American cars suck :-). Discussions here were interesting because many people criticized how bad US cars are (compared to European, I mean, German cars :-)) and how inefficient the companies are (compared to Japanese and Korean cars). Many people blame the industry. But the fact is, many many people were laid off. And the government has to deal with that.

So "cash for clunkers" is done for a month. The deal is, one can get a voucher (up to $4,500) to buy a new and more efficient car for giving out one's old car. There are so many details in it, I am too lazy to write it down :-) but you can read it yourself on www.cars.gov. The program ended last Tuesday. It was only for a month (in Germany it was extended several
times as it was considered successful).

The Government claims that the CARS program will: boost economic growth in the third quarter of 2009 by 0.3-0.4 percentage points at an annual rate thanks to increased auto sales in July and August; sustain the increase in GDP in the fourth quarter because of increased auto production to replace depleted inventories; create or save 42,000 jobs in the second half of 2009. Those jobs are expected to remain well after the program's close. They further stated that Ford and General Motors recently announced production increases for both the third and fourth quarters as a result of the demand generated by the program. Honda also said it will be increasing production at its U.S. plants in East Liberty and Marysville, Ohio and in Lincoln, Alabama. In addition, the program provides good news for the environment. That's because 84 percent of consumers traded in trucks and 59 percent purchased passenger cars. The average fuel economy of the vehicles traded in was 15.8 miles per gallon and the average fuel economy of vehicles purchased is 24.9 mpg. – a 58 percent improvement.

Critics point out the complicated and slow administration for the dealers to cash in their money. In Germany the critics point out the fact that it was misused; there are German cars sold cheap around Europe right after the program ended :-). Hard core republicans here keep on saying bad things about whatever the government is trying to do. They say that because of the slow administration, the program is actually not successful; it failed to boost the economy.

The debate on the media fascinates me. I like the fact that the government is actually trying to do some concrete programs like this. Things I so far cannot see in Indonesia. I mean, of course we had BOS (Bantuan Operasional Sekolah), the system for Kartu Gakin for Health Care system, the change from kerosene into gas, the etc. But there were so many flaws in them; they were not transparent and not publicly well-discussed.

Some Indonesian-politician-friends of mine think I am more and more "american minded" nowadays. I told them, I don't think that everything here is better, not at all! I even "hate" americans (especially the way they talk! :-)) and many things here, but I want to learn as much as I can from whatever is going on here; the good and bad ones. I want to learn from the
US as much as I want to learn from other places, including from England, where I went to school as well and my second "home" (because my child will be half-German), Germany. I even reflected from my short visit to Nairobi. No, I am not crazy about the US, it just so happens that I am here now. And I do want to see Indonesian government able to conduct better politics, run concrete programs such as this one, provide better services, and provide better life for their citizens. Isn't that the reason why I decided to study here in the first place? :-)

Thursday, July 30, 2009

Pulang

Saya sebenarnya hanya ingin makan ikan asin dan sambal yang nikmat.

Tapi akhirnya saya kerja juga. Meski tidak ada kontrak seperti pulang kampung yang lalu. Kerjanya ke sana sini, dari satu seminar/ lokakarya ke yang lain, dari satu demonstrasi ke yang lain, diwawancarai, "ngopi sosialisasi" ;-P, dan dari satu lunch meeting serta networking dinner satu ke yang lain. Hampir seperti dulu, kecuali bahwa saya tidak harus mengurusi p dan mesti disambi dengan nulis prospektus disertasi.

Agak salah strategi. Meski sudah sengaja menghindari konferensi pers di hari kedua saya di Jakarta, tanpa sepengetahuan saya, nama saya disebut juga di salah satu media. Jadinya ketahuan saya lagi pulang kampung. Sebenarnya motto pulang kampung saya kali ini adalah: "pulang untuk mendengar dan bukan untuk bicara." Gagalkah? Awalnya saya kira saya gagal, tapi setelah beberapa diskusi dan perjalanan ke Palu ini saya tahu motto saya masih valid.

Minggu pertama saya menikmati sruntulan dan keluyuran ketemu teman lama dan keluarga dan ke salon; plus diganggu diare sejenak gara-gara perut yang sudah biasa makanan higienis (percis kayak waktu pulang dari Inggris setahun). Minggu kedua mulai stress; gara-gara acara Nyewu Pak Dan. Minggu ketiga, sekarang, stress lagi; mengatur jadwal kerja dan meeting-ups yang makin susah diatur. Mulai harus squeeze in appointments; persis kayak dulu.

Saya menyesal? Kadang-kadang iya, karena disertasi saya sebenarnya membutuhkan energi khusus karena "nyambi" kuliah s3 dan jadi ibu tidak mudah, apalagi dengan ambisi saya untuk kelar tiga tahun (waktu rata-rata di udub adalah 5 tahun). Mestinya "kerja" tidak masuk agenda saya dalam tiga
tahun ini. Dua agenda cukup. Tapi ketika kemarin diskusi di thamrin, dalam stress perjalanan ke Palu, dan di tengah diskusi di Palu, saya jadi sadar bahwa saya menikmati ini semua. Diskusi dengan jaringan di daerah, bertanya tentang hal-hal bodoh (orang Jakarta kan bodoh2 :-)) ke orang-orang biasa di daerah, menyindir pejabat daerah yang sok tahu, stress bikin makalah diskusi mepet-mepet, bahkan sampai dengan stress dengan pesawat seperti biasa :-).

Tiba-tiba saya sadar bahwa inilah yang saya rindukan. Bukan p, tapi perjalanan-perjalanan dan ngobrol-ngobrol ngalor ngidul ini dan waktu refleksi di perjalanan. Yang membuat saya merasa kaya dan sekaligus miskin pada saat yang sama.

This is actually for you, my blueberry baby...

Friday, June 12, 2009

I Love Munik

Status saya tadi di ym: cooking. Jam 3 sore waktu Seattle, jam 5 pagi WIB, saya kira nggak ada yang liat dong di Jakarta. Sekadar fyi supaya temans di Seattle nggak ada yang ngajak chatting. Efeknya: 2 "teguran" dari Jakarta: "unbelievable!", "nggak mungkin", keduanya dari teman lama. Saya cekikikan. Kenapa sih terlalu ngetop bahwa saya nggak suka masak?

Mungkin karena pencitraan sebagai ketua pencinta alam sma yang hobi wall climbing atau citra sebagai "jenis kelamin ketiga" di tempat nongkrong di B :-) atau karena sejak jaman SMA saya selalu masak yang super praktis kalau naik gunung, sementara si bl dan beberapa teman kadang sampai bawa ulekan dan berbagai sayur mayur dan bumbu ke puncak gunung supaya bisa masak serius (anak itu memang ajaib, rela carrier-nya makin berat bawa ulekan besar). Waktu SMP juga begitu, waktu disuruh memilih kelas masak atau elektro, saya memilih kelas elektro. Jadi soal nggak hobi masak ini memang sudah banyak diketahui :-).

Saya memang nggak "hobi" masak. Bukan apa-apa, dari kecil masakan Nenek dan Mbah adalah masakan terenak sedunia. Jadi ya ini sekadar malas. Nenek: mulai dari mpek-mpek, kue 8 jam (literally masaknya memang 8 jam, khas palembang), segala masakan deh pokoknya :-) (dia dulu punya kantin di Pemda DKI dan juga restoran makanan palembang di rumahnya di Tebet). Waktu kecil saya boleh ikut menggiling daging ikan dan membuat berbagai bentuk mpek-mpek (favorit saya: orang-orangan dan kucing) di "pabrik mini" mpek-mpek Nenek (maklum restoran, jadi rada mass-production). Mbah: mulai dari pepes, maccaroni schoetel, sampai kastengel (maklum doi rada kebelanda-belandaan). Mama juga jago masak, soun pedesnya bikin kangen. Lagipula, pembantu selalu ada di rumah mama, sampai dengan 2 tahun lalu. Giliran tinggal sama pasangan (ff maksudnya), dia hobi masak, dan memang beneran hobi, pelepas stress, jadi mesti saya biarkan dooong ;-). Makanya saya suka ketawa kalau ada kawans perempuan yang curhat soal merasa "harus" belajar masak ketika sudah menikah atau kawans lelaki yang bilang "nunggu istri gue masak nih, soalnya dia masih terima telepon!" duh, pengen saya getok tuh lelaki kayak gitu, apa dia nggak bisa mengurus diri sendiri? ff dan papa adalah dua lelaki terdekat saya yang nggak pernah meminta perempuan di sampingnya untuk masak untuk mereka. Pembagian peran berdasarkan gender nggak ketat di keluarga saya. Papa nggak "memaksa" mama masak. Mama masak sukarela, dan kalau mama lagi malas masak ya dia masak sendiri atau beli makanan buat mama, tapi nggak komplain, apalagi marah-marah.

Tapi secara umum di Jakarta saya jarang masak. Pembantu di rumah kami juga nggak perlu masak. Sebab saya hampir tiap hari pulang di atas jam 11 malam. Kalau mau makan ya masak sendiri. Nggak tergantung pembantu. Seringkali ff masak sendiri dan makan sendiri untuk makan malam sementara saya masih kerja (kadang saya kasian dengan dia). Praktis saya hanya makan di rumah pada hari Sabtu dan Minggu, itupun kalau nggak ada janji makan siang atau makan malam dengan keluarga atau teman atau kolega. Efeknya: kalaupun di rumah, ya pergi ke restoran sama ff. Apalagi kami berdua sama-sama foodie, hobi nyobain restoran baru dan segala macam masakannya. Dan makanan di Indonesia luarrrr biasa murah anyway, so why bother cooking? ;-) Mendingan kabur sebentar ke Waroeng Kita, Mie Leiker, bubur ayam pinggir jalan, nunggu tukang ketoprak lewat, atau ke ampera dua tak. Saya kadang bersyukur ff sama sekali nggak ragu berdua saya makan lontong sayur di pinggir jalan, bubur ayam pinggir jalan, atau sate di samping got di menteng. Kadang dia makan di pinggir jalan sendirian (ya ampyuun bule yang satu itu, kadang dia naik mikrolet ke mal ambassador, dan minggu lalu dia naik kopaja sendirian dari Senayan ke rumah, dan gelantungan di pintu! saya ngakak waktu dia cerita ada tukang ojek yang hampir menabrak pembatas jalan karena terkesima melihat bule gelantungan di pintu kopaja). Ff sangat berbeda dengan teman-teman yang bukan orang Indonesia yang anti-makan-makanan-pinggir-jalan. Bahkan ada temannya yang nggak suka makanan Indonesia kecuali di restoran mahal (mis. di Dapur Baba, Loro Djonggrang, Bunga Rampai).

Tapi bukannya saya "anti-masak". Sama sekali enggak. Apalagi saya sadar bahwa suatu saat nanti saya dan ff harus lebih rajin masak kalau sudah punya anak. Pertama, saya suka bantu mbah, nenek, mama atau ff ketika masak. Jadi bukannya "ogah ke dapur". Kedua, kalau memang harus ya saya masak. Seperti di Warwick saya suka iseng nyoba resep-resep biar flatmates bisa nyoba masakan Indonesia atau kawans Indonesia yang pemalas menikmati makanan yang rada variatif daripada telor dadar. Di Seattle? Kebanyakan ff yang masak, soalnya seperti saya bilang, dia memang hobi masak! Mau gimana lagi dong? ;-)). Kecuali kalau kami mau makan makanan Indonesia tentunya, saya masak buat berdua. Nah, begitu ff nggak ada seperti sekarang, baru deh saya beraksi sendiri. Beda dengan Warwick, karena saya betul-betul sendirian di sini, nggak ada flatmates.

Di sini ada 2 restoran masakan Indonesia yang lumayan ngetop: Julia's Kitchen dan Indo Cafe. Tapi keduanya jauh dari rumah dan mahal, meski lebih baik daripada di Warwick yang nggak ada restoran Indonesia sama sekali. Lupakan tukang bubur ayam dan tukang ketoprak yang lewat ataupun yang mangkal. Lupakan Mi bloon yang enak dan murah. Lupakan tenda seafood atau nasi uduk di pinggir jalan. Lupakan makan dengan budget sepuluh ribu perak sekali makan. Kalau mau masakan Indonesia ya harus masak! Pilihannya, bayar sampai dengan USD30 (kira-kira 300 ribu) sekali makan. Bisa juga dibilang merki, tapi anak sekolah yang tiap makan harus menempuh 1 jam perjalanan dan 30 dollar adalah anak sekolah yang gila. Jadi, ya saya harus masak.

Tapi yang bikin saya senang belakangan ini, saya bisa melupakan nyampur bumbu-bumbu di food processor, apalagi ulekan: ada bumbu munik! Hah! Solution for a lazy ass like me!

Munik adalah singkatan dari "Murah dan Nikmat". Beda dengan bumbu indofood, kokita, dan segala macam. Kadang kita masih bisa menemukan irisan lengkuas misalnya, atau cengkeh. Jadi memang enak dan alami. Forget my food processor, forget trying hard to find pandan (not available here, "sagu" is also not available, so I can't make mpek-mpek) or lengkuas. Buat apa food processor kalau ada Munik?! :-D Bumbu ayam goreng kecapnya enak. Dan barusan saya bikin ayam balado, yang saya tambah jalapeno pepper supaya makin pedas. Nikmat betul, di tengah siang bolong yang panas di Seattle, makan ayam dan telor balado superpedas, lalap ketimun, nasi panas, dan kerupuk kampung. Sambil denger lagu Indonesia. Halah.

I love viet wah supermarket in International District for selling bumbu munik, indomie, berbagai sambel, and kerupuk (one whole section for Indonesian food and products, incl. tempe)! But i mostly love Munik! :-) Salah satu penemuan penting abad ini.

Sunday, May 31, 2009

Muak

Saya muak pada prabowo dan megawati yang menjual kemiskinan, deklarasi di bantar gebang. Untuk apa? Untuk bilang mereka akan peduli pada rakyat kecil? Apa iya? Memang apa yang mega lakukan ketika berkuasa? apa yg prabowo lakukan ketika punya kuasa dan sekarang? memelihara kuda yg harga per-ekornya lebih mahal dari harga mobil mewah, uang itu bisa untuk membangun sekolah atau puskesmas, tapi kuda toh lebih penting. Saya marah.

Saya merasakan kemarahan dari jauh itu lagi. Barangkali ini bagus untuk semangat saya yang luar biasa menurun. Untuk apa saya di sini? Jawabannya dari dulu sama. Jawaban yang saya temukan ketika pada suatu ketika saya berjalan di pematang sawah di rumah mbah gombak di bogor. Akhirnya saya menemukan jawaban kenapa saya lahir dan hidup: untuk berguna bagi orang lain! Seperti halnya segala sesuatu di alam ini: hadir untuk menjadi satu kesatuan dengan ruang, dengan mahkluk-makhluk lain di sekitarnya, sebelum kemudian dia mati. Saya ingat kaki-kaki kecil saya yang melompat kegirangan di pematang sawah itu. Penemuan terbaik dalam hidup saya, barangkali sekitar 20 tahun yang lalu.

Tapi saya masih hidup berdasarkan penemuan itu. Itu yang membuat saya memilih jalan hidup saya yang sendiri. Itu yang membuat saya menikmati berjalan kaki di kampung dekat rumah ketika saya merasa saya mulai kehilangan pegangan. Dan itu yang seharusnya membuat saya berada di sini.

Saya perlu kemarahan ini lagi. Ketika saya tak bisa ngobrol dengan teman2 DZ yang pengamen dan jualan bakwan. Ketika saya tidak bisa memandangi peminta-minta di jembatan penyeberangan di tengah gedung-gedung tinggi di jakarta yang panas. Ketika saya tak bisa ngobrol dengan ojek payung yang kehujanan dan kedinginan. Ketika saya hanya bisa tercenung membaca berita soal kandidat presiden yang menjual bantar-gebang dan porong, yang iklan tivinya memeluk orang miskin, tapi tak tahu apa yang bisa dia lakukan untuk mereka. Ketika neoliberalisme dijadikan komoditas diskusi namun orang lupa pada program mengatasi kemiskinan. Saya marah. Dan saya menangis. Barangkali saya menangisi ketakbergunaan hidup saya belakangan ini sekadar karena merasa kehilangan daya dan inspirasi untuk menulis. Stop menjadi pemalas! Atau saya bagi alam akan sama tak bergunanya dengan kecoak.

Tuesday, May 26, 2009

Bukan Politisi

Apa yang akan saya lakukan kalau saya jadi bang I, si I, si b, mbak r, mbak g, dan si-si lainnya: aktivis yang memilih aktif di partai kemudian partainya, pasca pemilu, ternyata memilih berkoalisi dengan pelanggar HAM?

Bang I sudah menjawab, dia bilang dia tidak setuju pada wiranto, tapi dia tetap setia pada keputusan partai dan akan tetap bekerja utk jk-win. Yang lain saya tidak tahu jawabannya.

Kalau saya jadi mereka, apakah saya akan keluar dari partai? Atau saya tetap di partai namun tidak menjadi bagian dari mesin politik yang akan memenangkan kandidat presiden/wapres? Pertimbangannya banyak: apakah saya sudah terpilih (dalam kasus b)? atau mungkin saya tidak terpilih (dalam kasus yang lain) dan akan sabar bekerja di partai untuk 2014.

Ternyata saya jadi makin pe-de dengan jawaban saya pada teman-teman yang mempertanyakan kenapa saya masih belum mau ke partai. Pertama, tidak ada partai yang saya yakini sesuai dengan apa yang saya percayai. Betul kita harus "kerja" di dalam partai: tidak mungkin "terima jadi" (emang siapa lo?? :-P kecuali kalau bikin partai sendiri), berjuang di dalam. Tidak ada yang gratis, sama dengan di organisasi manapun, semua harus diraih dengan kerja.

Tapi kedua, soal partai mencla mencle begini akan terus ada sepanjang sistem pemerintahan dan sistem pemilu yang sekarang masih ada. Multi-partai presidensialisme dengan pemilihan pilpres berdasarkan threshold dan demokrasi yang masih setengah matang membuat energi seseorang yang mau tampil harus betul-betul luar biasa. Manuvernya bisa tiba-tiba karena threshold membuat perhitungan digantung sampai perolehan suara didapat. Dan dana yang dibutuhkan untuk kampanye juga besar sehingga orang seperti prabowo (menurut ww kekayaan prabowo itu "kalau ditabung dengan deposito 9% setahun, bunganya Rp 153 Milyar setahun, atau Rp 12,75 M sebulan, atau Rp 425 juta sehari") dan wiranto yang kekayaannya gila-gilaan bisa dengan mudah "membeli" partai untuk maju jadi wapres. Semua pada akhirnya soal kekuasaan dan uang. Yah apalagi? Apa kita bisa naif dan bilang soal "kepentingan bangsa" atau "masa depan bangsa" atau "Indonesia yang lebih baik"? Ah gundul pacul! Masih ada orang2 yang bicara indah seperti kata mutiara dalam buku kenangan SD. Saya cuma nyengir.

Saya mungkin bisa kagum pada kawan-kawan yang mau bekerja dari bawah dan mengorbankan idealismenya untuk mendukung "musuh-musuh" lamanya (seperti b, I, g di pdip, entah bagaimana ketika mereka harus ngobrol dengan prabowo; bisa jadi mereka nggak ngobrol...). Tapi saya belum kuat untuk itu. Saya bilang sama kawan yang "menggugat" itu: "Gw nggak punya cukup energi untuk jadi politisi. Gw salut elo punya energi itu, bagus banget, tapi gw memang nggak punya, gimana dong? Nanti gw frustasi dan nggak efektif." Waktu saya cuma mau dikasih award oleh partai yang bikin iklan untuk Suharto saja langsung mau muntah dan menolak mentah-mentah, meski dalam surat yang sopan.

Saya dari dulu setuju bahwa partai adalah tempat untuk melakukan perubahan dengan konkrit. Saya sama sekali tidak anti-partai. Namun dengan kondisi yang sekarang, saya sadar betul saya tidak memiliki kualitas sebagai politisi. Sebab justru karena saya bergaul dengan dunia politik, saya jadi memahami kualitas tertentu yang idealnya dimiliki politisi: kompromis, retorik, setia pada konstituen, tanggung jawab yang besar pada transparansi dan akuntabilitas. Saya nggak menganggap remeh jabatan ini, dan salut pada orang-orang yang mampu menjalaninya dengan baik. Dan saya kuatir banyak anggota dewan yang belum menyadari konsekuensi ini, hanya melihat jabatan itu sebagai kursi dan popularitas.

Saturday, May 16, 2009

Interview

I just had an interview for a legislative externship in Washington DC. I know this is crazy, but my impulsiveness suddenly came out when I saw the announcement in the students' morning announcement. I sent an inquiry on whether or not a non-JD-student can apply for an externship opportunity (externships are usually for JD students). And I did have a coffee meeting with one of the office staff on this and they allow me! ;-)

My supervisor might not be happy to hear this though. I think she thinks I have to many side plans: research in Leiden, talks in UC Berkeley, Sydney and Melbourne, etc :-). I just want to grab the opportunities. I am here after all, leaving my passion about the change in Indonesia, so why not do the best I can?

It is likely that I will do that next year, I told them to give me some time as I need to get funding to go to DC (this is externship, no payment whatsoever). It will not be easy to get the funding and it is not cheap to live in DC for three months. But I love challenges! ;-).

I will work with one of the two senators from Washington State in Capitol Hill. You know that both senators from WA are women! Just like WA governor and 4 out of 9 WA Supreme Court Justices. They are all women; and all are democrats ;-). I chose to work with Sen. Murray as she is the senior one and in the democratic leadership in Senate.

Things could happen between now and next year though. I don't know. I just hope everything goes smoothly, including my general exam plan in September.

Tuesday, April 07, 2009

Tempus Vernum

ergo, oceanus, maritimus,
ergo opacare, matutinus,
ergo septentrio, meridies,
ergo occidens et orientis,
ergo oceanus, maritimus, opacare, matutinus, septentrio, meridies, occidens
et orientis,
ergo terra, stella, hiems et aestas,
ergo autumnus et tempus vernum
ergo radius solis et umbra, ignis, aqua,caelum, luna, terra, stella, hierns
et aestas, autumnus et tempus vernum... tempus vernum.

(Therefore, ocean, sea. Therefore, dusk, dawn. Therefore, north, south. Therefore west and east. Therefore ocean, sea, dusk, dawn, north, south, west and east. Therefore earth, star, winter and summer. Therefore autumn and spring time. Therefore ray of the sun and shade, fire, water, sky, moon, earth, star, winter and summer autumn and spring time...)

[Enya, Tempus Vernum]

Spring is coming in Seattle. I can see the cherry blossoms again. Beautiful. I was suddenly struck by the song yesterday though I listened to it so often. The song's brief yet beautiful, short yet has wonderfully deep meaning to me.

Spring, summer, autumn, winter are in the cycle of life, like the ocean, sun, wind, water, everything in nature. They 'depend' on each other: ergo. Why does spring exist? Because of the summer, the winter, the autumn, the wind, the sun, the rain, the cherry blossoms, the grass. Spring is not a better season than winter, as moon is not less meaningful than the sun, for the spring does not exist without the winter and moon takes care of life, in her own way, in the place where the sun is temporarily unseen.

To me it is also a beautiful passage about the binary model, the binary opposition. I even dragged it into my life quest about existence. The "ergo" word as much as the spring, summer, autumn, water, sun, ocean, sky, moon. I know why I
suddenly was struck by the song yesterday: it's the spring in my brain.