Friday, December 07, 2007

Kampung itu digusur

Saya kaget sekali ketika menemukan bahwa kampung itu digusur. Saya bilang pada ff dengan nada panik: kampung saya digusur!! "Kampung kamu?" dia merespon, "Memangnya kamu punya kampung?" Hehehe… tentu saja tidak. Itu bukan kampung saya. Saya kira saya mengaku-aku karena saya ingin punya kampung.

Mungkin karena saya lahir dan besar di Jakarta. Saya tidak punya “kampung” tempat saya hidup. Di sekitar rumah saya yang lama ada kampung. Tempat di mana saya menghabiskan masa kecil saya. Tempat di mana ada rumah nenek kambing yang sering saya datangi dan warung Pak Amat tempat beli garam dan gula.


Nenek kambing adalah nenek yang sebatang kara dan tinggal serumah dengan kambing-kambingnya. Dia sangat miskin. Saya dulu biasa main ke rumahnya untuk mengantarkan makanan kiriman mama. Satu momen yang paling teringat adalah ketika saya dibanting oleh salah seorang emak kambing kawan serumah nenek kambing. Hanya karena saya bermain dengan bayi kambing yang lucu. Saya menangis kuat-kuat dan nenek kambing mengelus kepala saya. Di dekat rumah nenek kambing ada musholla kecil tempat ibu-ibu sholat dan mengaji. Kalau sedang ke sana untuk teraweh dengan buyut (neneknya mama, dia sudah lama meninggal), saya sering ketemu dengan nenek kambing.


Kampung di belakang rumah masa kecil saya itu kecil dan becek. Sedangkan di sisi depan rumah saya ada lagi satu kampung lainnya yang tembus ke “gang bidan”. Rumah masa kecil saya ada di kompleks perumahan pegawai negeri, namun banyak kampung yang mengitarinya. Tempat saya mencari kecebong di got yang bening, naik pohon untuk memetik jambu atau kecapi, main sepeda di turunan becek, dan main layangan. Juga mengambil “biji bobo” (biji karet) di kebun karet di kampung sebelah untuk diadu dengan biji bobo milik kawan-kawan lain. Karena dikelilingi kampung dan rawa, kadang di rumah saya ada ular yang lewat. Saya biasanya melompat ke pangkuan buyut atau mbah kalau ada ular sedang lewat. Dan papa akan mengejar-ngejarnya dengan golok. Sama seperti dia mengejar kucing garong yang makan burung kutilang peliharaan kami dan memotong buntutnya.


Begitu saya beranjak remaja, kampung-kampung itu digusur. Semua menjadi perumahan mewah dan pertokoan. Bahkan tempat saya piknik dan main sepeda sembari menceburkan kaki di kali sekarang sudah menjadi mall pondok indah dengan kali yang bau busuk. Saya rindu pak amat, nenek kambing, dan kawan-kawan saya di kampung.


Lalu saya pindah ke rumah yang sekarang. Patut diduga tak mungkin ada kampung di belakangnya. Namun nyatanya ada. Kampung yang kumuh, lengkap dengan pasar tradisional, TK, SD, dan bengkel mobil. Kampung inilah yang kemudian saya klaim sebagai kampung saya.


Kampung saya yang kedua ini ternyata harus digusur juga. Saya sedih sekali. Saya hanya pernah dua kali jalan kaki melewati kampung itu dan tiap hari hanya melewati dengan taxi atau ojek selama tiga tahun terakhir ini. Namun saya merasa itu kampung saya. Entah mengapa. Mungkin karena saya butuh kampung. Saya merasa wajah orang-orang di kampung itu dan kehidupan di kampung itulah yang bisa membuat semangat kerja yang kadang menurun jadi bisa pulih lagi. Makanya saya pernah membuat sebuah karangan asal-asalan soal kampung itu.


Apakah semua kampung harus digusur di Jakarta? Pergi ke mana kawan-kawan jiwa saya itu? Ke mana dipindahkannya TK tempat anak-anak kampung pergi ke sana berbedak putih tebal-tebal itu? Kampung itu sekarang rata dengan tanah. Minggu lalu saya melihat serombongan Satpol PP di dekat situ. Barangkali mengawasi proses diratakannya kampung itu dengan tanah. Frank bilang, mereka pasti tinggal di situ secara illegal. Tentu saja, toh siapa yang menentukan legal atau illegal? Saya tidak mengikuti proses pemindahan mereka. Saya hanya berharap penduduk kampung dipindahkan tanpa kekerasan. Dan mereka bisa punya tempat tinggal yang layak.


Penjual nisan, penghuni pasar, dan penghuni kampung di depannya masih ada. Saya hanya kehilangan “pemandangan” di sebelah kiri perjalanan saya menuju kantor. Ah, kejamnya. Saya pun hanya melihat mereka sebagai “alat” mengobati kerinduan saya pada kampung dan “pemandangan” untuk menuju ke kantor supaya saya punya semangat bekerja. Saya tidak berjuang membela mereka dan tidak pernah masuk ke kehidupan mereka. Bespectacled. Apa bedanya saya dengan Satpol PP??

2 comments:

Unknown said...

sentimental sekali...

Bivitri Susanti said...

Yaahh... maklum deh, orang kota :-)