pagi ini, gue menitikkan air mata saat membaca berita ini. Sambil minum kopi
nescafe find blend, di depan komputer toshiba portege dengan internet
connection yg mantap dan mendengar musik dari radio di Inggris di kamar yg
nyaman dan berharga sewa 65 pound seminggu. What an irony!
ini tidak lebih sedih dari banyak cerita lainnya soal kemiskinan,
penderitaan dan tekanan orang2 melarat, juga tidak lebih tidak sedih
dibanding lainnya. tapi yg jelas, sama dengan cerita muram lainnya, semua
bikin gue marah dan gemas. Gue jadi lebih perasa dan cengeng selama di sini
krn gue tau gue di sini gak bisa berbuat banyak selain baca berita dan
diskusi. Now, no body can tell me to do nothing in a comfy chair in an
office when I go back to Jakarta!
(haha.. ini dia kemarahan seorang dr kelas menengah baru yg tiap hari naek
mobil ke kantor dan suka shopping di mall dan nongkrong di cafe..hidup
memang penuh dengan ironi yg suka bikin bingung dan frustasi)
---
from:http://www.kompas.com/kompas-cetak/0209/03/utama/tkim01.htm
TKI Mulai Jual Anak
- Dua Anak Rp 2 Juta
Nunukan, Kompas - Kondisi keluarga tenaga kerja Indonesia (TKI) di Kabupaten
Nunukan, Kalimantan Timur, yang terusir dari Malaysia, makin hari makin
memprihatinkan. Karena kehabisan uang dan tak tahan hidup sengsara, sejumlah
TKI bahkan harus rela menjual anak mereka, antara lain untuk ongkos pulang
ke kampung halaman.Akibat buruknya kondisi lingkungan, jumlah kematian juga
terus bertambah. Hari Senin (2/9) kemarin, Julius Aulu -usia satu
bulan-meninggal, yang berarti menambah jumlah anggota keluarga TKI yang
meninggal menjadi 67 orang, termasuk 25 balita (bawah lima tahun).
Tiga balita keluarga TKI juga dilaporkan sudah terkena busung lapar dan
sebagian besar bocah lainnya terkena gizi buruk akibat kondisi penampungan
yang juga memprihatinkan.
Palupi, petugas Posko Relawan Bantuan Kemanusiaan, menjelaskan, ia telah
memantau ada dua anak yang dijual. Tiga bocah lainnya juga diberikan
orangtua TKI kepada orang lain di Nunukan.
"Di penampungan di daerah pelabuhan, seorang TKI menjual dua anaknya, yang
berusia satu setengah tahun seharga Rp 1,5 juta dan yang berumur delapan
bulan dijual Rp 500.000," kata Palupi.
Pasangan suami-istri asal Flores, Laurensius Liwo-Kristina Noga Magin, yang
ditemui Kompas di Nunukan, kemarin, mengaku mendapatkan anak yang mereka
panggil Aco (3) setelah hari Minggu lalu memberi uang Rp 1 juta kepada
seorang ibu bernama Musriah, untuk ongkos pulang ke Jawa.
Meski demikian, Liwo meminta agar tidak menyebut hal tersebut sebagai
"membeli anak" dan Liwo menjelaskan bahwa ibunda Aco telah pulang ke Jawa.
"Tolong ini jangan dianggap jual-beli. Kami membantu dia karena dia sama
sekali tidak punya uang setelah dua minggu di Nunukan ini. Kakak Aco
pun-perempuan berusia empat tahun-diberikan kepada orang lain di Tawau. Ia
merasa kecewa, tiga kali kawin cerai, ditinggal suami, dan anaknya yang
berusia 20 tahun di Kota Kinabalu malah pernah memukulinya," kata Kristina.
"Kami berdua memberi nama Aco itu Alfedrus Septianus dan dia langsung dekat
dengan kami," ujar Liwo, yang sehari-hari bekerja sebagai sopir angkutan
umum. Istrinya, Kristina, guru SMP. Liwo, kemarin, juga mengajak "anak
barunya" bepergian menemaninya menyopir mobil angkutan.
"Saya mendengar beberapa orangtua sudah tidak mampu memelihara anaknya,
tetapi saya selalu keduluan orang lain. Saya baru dapat sekarang," kata
Kristina, yang telah memiliki anak perempuan berusia 12 tahun. "Anak saya
senang punya adik baru," ia menambahkan.
Menurut Palupi, di tempat lain, pasangan TKI memang ada yang kembali ke
Malaysia setelah menyerahkan tiga anaknya kepada orang yang mereka kenal di
Nunukan.
Petugas relawan lain mengatakan telah mendengar banyak terjadi penjualan
anak balita TKI. Bahkan, ada pasangan TKI yang bertengkar karena suami
ngotot ingin menjual anak mereka disebabkan kebutuhan uang setelah kalah
berjudi.
Busung lapar
Ketua Posko Relawan Bantuan Kemanusiaan Aloysius Ratu Kellen mengungkapkan,
balita yang terkena busung lapar adalah Charles dan Emanuel, anak kembar
berusia 1,5 tahun. Kondisi mereka mengenaskan dengan badan kurus dan perut
membuncit. Seorang balita lainnya yang terkena busung lapar, tidak diketahui
namanya, tetapi diketahui tinggal di penampungan Sungai Sembilang.
"Sebagian besar dari mereka tidak mengonsumsi sayur, dan cuma memperoleh
sedikit nasi dengan ikan asin dua kali sehari dalam sebulan terakhir,"
Kellen menjelaskan.
Menurut Kellen, balita tersebut juga rawan terkena penyakit infeksi saluran
pernapasan atas (ISPA). Dalam data Dinas Kesehatan Nunukan, sekurangnya
2.323 balita mendapat perawatan akibat terkena gangguan ISPA.
Para relawan yang bertugas di posko tersebut meminta agar dikirimkan
tambahan tenaga medis, pelayanan tempat tinggal yang memadai, dan air bersih
bagi TKI. Upaya itu akan sangat membantu 20.000 TKI dan keluarga yang saat
ini bertahan di Nunukan, menanti kesempatan kembali ke Sabah, Malaysia.
Obat tiga hari
Kepala Dinas Kesehatan Nunukan Trisno Hadi yang dihubungi terpisah kemarin
menyatakan akan meningkatkan koordinasi sehubungan dengan buruknya kondisi
lingkungan tempat tinggal para TKI.
Ia pun mengakui makin menipisnya cadangan obat di Pusat Kesehatan Masyarakat
(Puskesmas) Nunukan sehingga kini hanya tersisa untuk tiga hari mendatang.
"Kami mengupayakan bantuan kapal rumah sakit KRI Amboina yang tiba Jumat
ini. Selain itu, didatangkan pula 10 perawat dari Balikpapan untuk membantu
di Puskesmas Nunukan yang kewalahan melayani pasien," kata Trisno.
Dari Pelabuhan Nunukan dilaporkan, sepanjang Senin, sekitar 2.000 orang
berangkat dalam 12 pelayaran dari Nunukan ke Tawau. Sebanyak 1.990 orang
yang diduga TKI menggunakan paspor untuk menyeberang, sisanya memakai Pas
Lintas Batas yang umumnya digunakan masyarakat setempat.
Pejabat Pendaratan Pelabuhan Tunon Taka, Nunukan, Novly TN Momongan
mengatakan, sepanjang hari lebih banyak orang berangkat dari Nunukan ke
Tawau. Akan tetapi, masih ada arus kapal yang masuk dari Tawau ke Nunukan
hingga malam hari sehingga masih ada kemungkinan mengalirnya TKI yang pulang
dari Sabah ke Indonesia.
Dari Kantor Imigrasi Nunukan diperoleh data masih 9.930 paspor TKI yang
diproses pihak imigrasi. Diperkirakan pembuatan paspor tersebut akan selesai
dalam dua pekan.
Presiden harus mampir
Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa (F-KB) DPR Rodjil Gufron meminta Presiden
Megawati menemui langsung para TKI yang bermasalah itu, baik di Nunukan
ataupun di Malaysia. "Kalau dia tahu langsung duduk persoalan, langkah
koordinasi akan mudah diambil. Tidak seperti sekarang, semua menteri saling
lempar tanggung jawab," ujar Rodjil.
"Tanpa kehadiran Megawati, TKI merasa pemerintah tidak serius memandang
persoalan mereka. Apalagi, seperti terjadi di Kuala Lumpur, TKI yang mau
mengurus SPLP (Surat Perjalanan Laksana Paspor-Red) harus melalui calo, yang
harganya bisa tiga kali lipat. Ini pemandangan buruk Indonesia di negeri
orang. Itu kan sangat merugikan bangsa kita," katanya.
Menanggapi kritik dari beberapa anggota DPR yang menghendaki segera Megawati
kembali ke Tanah Air setelah usai Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi,
Menlu Hassan Wirajuda mengatakan, masalah TKI ilegal bukan hanya memulangkan
dari Malaysia ke Indonesia, tetapi juga menempatkan kembali secara resmi ke
Malaysia.
Telah ada kesepakatan antara Malaysia dan Indonesia untuk membahas masalah
TKI ini pada bulan September, katanya, tanpa menyebutkan kapan itu akan
dilaksanakan. Menlu juga menyebutkan rencana pertemuan antara Wakil PM
Malaysia Abdullah Badawi dengan Megawati selama keduanya berada di Afrika
Selatan.
Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) KH Hasyim
Muzadi mengatakan, Gerakan Moral Nasional yang terdiri dari pimpinan NU,
Muhammadiyah, Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), dan Persekutuan Gereja
Indonesia (PGI) akan berkunjung ke tempat penampungan TKI di Nunukan, Rabu
besok.
"Kehadiran kami di sana ingin mengetahui secara persis apa yang menjadi
keluhan mereka selama ini. Sebab, menurut berita di koran, sepertinya mereka
kurang tertangani dengan baik," ujar KH Hasyim. (ong/mh/osd/mba)