"You have an upper respiratory tract infection, likely caused by a virus." Itu kalimat pembuka "After Visit Summary" saya ke dokter kemarin. Tiga haridemam tinggi dan tulang sakit semua. Yang menyebalkan dari virus itu, dia datang waktu saya lagi "single parenting" sementara. Jadi, walaupun badan sakit semua dan nyaris nggak bisa bangun dari tempat tidur, begitu alarm bunyi jam 6.30 tetap saja saya harus bangun, masak menu buat makan siang melati, bangunin anak itu, nyiapin sarapan dia, ngomel-ngomel nyuruh diasikat gigi sendiri, gantiin baju lengkap dengan segala aksesoris musim dinginnya (snow boots dan sepatu gantinya, snow pants, wooly hat, scarf, dan mittens). Dan ah, jangan lupa nap mat cover dan selimut yang baru dicuciweekend kemaren harus dipak dan dibawa juga ke sekolah. Kemudian kami berduaharus menembus salju tebal dalam udara dingin yang mencapai minus 14 derajatcelcius. Tanpa demam pun, minus 14 bikin tulang tropik saya cukup menggigil,apalagi dalam kondisi demam dengan tulang-tulang yang nyeri.
Pulang ke rumah: ahh all this mess! Harus bebersih dulu dan cuci piring dan segala macem. Selesai itu: tidurrrrrr sambil menggigil. Sore alarm bunyi untuk menjemput melati. Lagi-lagi harus menembus salju dan dingin dalam demam. Tiga hari begini. Maka terlewatlah janji skype dengan supervisor dan satu email penting terkait dengan kerjaan bulan depan di Jakarta. Saya stress berat dan jadi lebih mudah marah ke melati. Maafkan mama, sayang.
Tapi ini bukan sekadar curhat. Saya malah jadi berpikir tentang single parents out there. Single parenting saya paling-paling hanya 3 minggu setiapbulannya. Terasa agak berat karena saya kerja juga dan nggak ada asisten. Tapi bayangkan single parents yang benar-benar single dalam waktu lama dan mungkin juga dalam kondisi yang kurang lebih sama: tinggal jauh dari keluarga sehingga tidak ada support system dan, karena single parenting, juga harus kerja, kalau enggak, nanti beli makanan dan bayar uang sekolah anak dari mana?
Mbak D dan Mbak E adalah dua single parents yang saya kagumi.
Mbak D punya anak autistik yang berbakat melukis. Dia single parenting di Jerman selagi dia ambil doktor. Di tengah kesibukannya menulis disertasi dan bekerja, dia harus merawat anaknya yang autistik. Sangat tidak mudah. Dan hebatnya, Mbak D ini pintar luar biasa. Saya kagum sekali dengan pemikiran2nya dan caranya dalam mengelola kekhususan anaknya dalam hal melukis.
Kalau Mbak E, teman dekat saya di Seattle. Juga lagi ambil doktor, di antropologi. Waktu pertama ke Seattle, dia datang dengan dua anaknya, satu masih umur 3 tahun, lebih muda dari melati sekarang. Waktu datang, dia baru cerai dari bapak dari kedua anak itu. Di beberapa housing complex dia ditolak karena ada anak kecil yang bikin berisik. Sampai-sampai anaknya yang tertua minta maaf karena menganggap mereka sebagai beban karena mendengar komentar para land lord itu. Saya sampai hampir nangis waktu mendengar cerita minta maaf itu. Untunglah akhirnya status single parent bikin dia segera diterima di university housing complex (priority list). Setiap hari dia harus bangun pagi, masak, menyiapkan anaknya ke sekolah, mengantar mereka ke sekolah dengan jalan kaki, dan kemudian baru berangkat ke kampus. Dia juga harus putar otak agar stipend nya yang kecil bisa digunakan secara maksimal supaya gizi anak-anaknya tercukupi.
Saya merasa sangat tidak mudah menjadi mahasiswa s3 yang ibu-ibu. Sangat tidak mudah. Kadang saya mencibir dalam hati waktu baca status facebook teman laki2 yg juga lagi s3: perjuangan adalah menulis sampai jam 9 malam di kantor dan pulang ke rumah dalam keadaan dingin dan harus masak dulu untuk makan malam. Walau ingin betul rasanya saya menulis: perjuangan adalah pulang jam 5 sore untuk jemput anak setelah nulis seharian di kantor, terus masak, siapin anak makan malam dan tidur, terus nulis disertasi lagi atau nyetrika sampe jam 2 pagi, terus bangun jam 6 pagi untuk siapin makan siang anak untuk dibawa ke sekolah, terus siapin anak ke sekolah dan antar dia ke sekolah, terus kerja di kantor sampai tiba saatnya harus jemput dia lagi. Dan di tengah-tengah harus terus mikirin masak apa buat besok (yg bernutrisi) dan apa ada bahan makanan yang kurang sehingga harus belanja dulu. Tapi kan kita bukan lagi lomba menunjukkan penderitaan :-). Jadi ya nggak saya tanggapi lah :-). Lagipula, saya tidak merasa ini "penderitaan" sama sekali. Saya cuma agak kesal pada teman itu, yang merasa perjuangannya sudah berat sekali, cuma karena nggak ada istrinya di sini yang masak buat dia, nyetrika buat dia dll. Menurut saya, kalau ibunya yang sekolah, sebenarnya perjuangannya lebih berat. Saya suka kesal, bapak-bapak teman s3 itu suka nggak ngerti, kalau kami tetap harus berpikir soal anak, di samping nulis bab 1,2,3,4,5,6. Makanya perempuan dianugerahi kemampuan multi-tasking yang lebih. Untuk survival. Apapun pekerjaan lain yang dia lakukan, perempuan tetap memikirkan anaknya. Apalagi kalau anak sakit. Waduh, kacau semua deh, semua progress bab terhenti dulu.
Kalau dekat keluarga, cenderung lebih mudah. Ada aki dan nini yang bisa dimintai tolong jaga anak, bisa ada pembantu yang bisa tinggal dikasih daftar masakan buat dimasak, nggak usah nyuci-nyetrika karena ada pembantu. Paling sebel kan kalau harus ke laundry room di tengah badai salju. Kadang nyuci sih bisa ditunda, tapi kalau masalahnya selimut diompolin dan harus segera dicuci supaya nggak bau pesing gimana?? :-)). Atau waktu sweaters si melati udah kotor semua karena kena cat air, terpaksa harus cuci pakai tangan malam2 supaya besok pagi dia bisa pakai lagi. FF adalah suami ter-egaliter yang saya tahu. Sungguh. Dia masak, nyetrika, bersih2 dll. No complaint. Tapi tetap saja, dalam beberapa hal, ada peran ibu yang nggak bisa dia gantikan. Kadang dia juga nggak ngerti kenapa melati ngusir dia waktu dia mau nemenin melati tidur atau waktu lagi sakit. Ini yang kadang nggak diketahui oleh para lelaki yang merasa hebat betul itu.
Baiklah, ngomong-ngomong soal beberes, saatnya menyudahi intermezzo curhat ini. Saatnya sekarang beberes rumah dulu, cuci piring, dan 2 jam lagi harus jemput si melati lagi sambil mikir masak apa buat dia makan nanti malam.
Friday, January 24, 2014
Thursday, January 02, 2014
Buku untuk Melati
Salah satu pelajaran yang saya ambil dari merawat si melati adalah tentang buku anak-anak.
Di sekolahnya di Hanoi, satu hari dalam lima hari sekolah didedikasikan untuk "pergi ke perpustakaan." Library day. Tiap hari mereka dibacakan buku oleh gurunya. Tapi ada satu hari yang didedikasikan untuk benar-benar "pergi" ke perpustakaan sekolah. Memilih buku yang diinginkan dan membawanya pulang. Dikembalikan minggu depan. Orang tua yang ingin anaknya meminjam buku harus membayar deposit sebesar, kalau tidak salah, USD50. Waktu di kelas "Ducklings", hari perpustakaan Jumat. Ini kelas untuk kisaran umur termuda: antara 18 bulan sampai kira-kira 2 tahun. Karena mereka sangat muda, kalau pergi ke mana-mana, semua anak harus berpegangan pada satu tali tambang yang agak panjang. Satu guru di depan dan memimpin. Satu guru di tengah, dan satu di belakang. Khusus kelas ducklings, ada 3 guru untuk maksimal 12 anak. Perpustakaan ini sebenarnya dekat dengan kelas mereka. Hanya menyeberang halaman sekolah yang tak luas. Tapi mereka tetap harus pegangan.
Di kelas berikutnya, Caterpillars, hari perpustakaan adalah hari Senin dan mereka tidak lagi harus berpegangan pada tali tambang.
Ingatan dan pengetahuan saya tentang literatur anak sangat terbatas waktu itu. Saya memang suka membaca sejak kecil, tapi tanpa bimbingan khusus dalam soal bacaan. Saya mulai bisa membaca umur 4 tahun dan hobi baca koran sejak umur 5 tahun :-). Bukan karena paksaan dan bukan jenius. Ini hanya karena dulu ada anak tetangga papa di Serang yang tinggal bersama keluarga kami di Jakarta supaya bisa sekolah. Namanya Njum. Saya tidak pernah tahu nama lengkapnya (mungkin saya harus tanya waktu saya pulang nanti).Dia sekitar 5 tahun lebih tua dari saya. Tapi di umur 9 itu, dia belum bisa baca. Jadi papa mengajarkan Njum baca-tulis-hitung setiap pulang kantor. Dan karena Njum teman bermain saya yang paling dekat, saya mengikuti dia ke mana saja, termasuk di waktu pelajaran itu. Njum, sayangnya, memang agak "lambat" dalam belajar (sepertinya karena itu dua dititipkan ke papa), jadi saya berusaha keras untuk belajar, supaya saya bisa ngasih bocoran ke dia kalau dia nggak bisa jawab soal-soal dari papa :-). Karena itulah saya jadi hobi baca sejak umur 4 tahun. Mama dan papa membelikan saya buku dongeng-dongeng Indonesia, Fabel Aesop, H.C Andersen, Disney, dan biografi tokoh-tokoh terkenal seperti Marie Curie, Bell, Edison, dll. Tapi itu tanpa "bimbingan" khusus. [Oh well, what more do you expect, B?? I am so grateful and proud of my mom and dad as they were willing to buy me those books. That means they actually thought carefully about it! They might have discussed what books to buy for me! OMG I love them so much so I almost cry…. ] Tapi maksud saya, saya jadi hobi membaca dengan cara yang unik dan membacai buku yang unik untuk anak seusia saya, tidak ada "program khusus" dari ortu seperti yang ingin saya ceritakan sekarang :-). Tapi memang, literatur anak di Indonesia pada masa saya kecil, dan barangkali juga sekarang, sangat terbatas. Mama dan papa "hanya" membacakan majalah bobo, cerita-cerita populer seperti Cinderella, dan beberapa cerita rakyat Indonesia. Jadi untuk melati, saya jadi harus belajar banyak. Dan sekolah-sekolah internasionalnya dan komunitas-komunitas di tempat yang pernah kami tinggali memberi banyak masukan buat saya.
Saya jadi belajar soal seri Gruffalo misalnya. Teman saya tertawa kecil waktu saya agak takjub menganga waktu cerita penemuan spektakuler saya tentang Gruffalo.Ya ampun, baru tau ya? Huh, iya… gimana dong, gw kan ibu-ibu amatir (waktu itu… ;-P). Di tengah kebingungan saya ngorek-ngorek rak buku di Gramedia, saya hanya berhasil menemukan dua buku cerita rakyat Indonesia yang cocok untuk umur melati waktu itu (bukan cerita panjang tanpa gambar). Dia kan baru kenal buku waktu itu, 18 bulan umurnya waktu mulai sekolah, nggak mungkinlah saya kasih buku "beneran" atau biografi-biografi :-P. Maka saya eksplorasilah dunia buku anak-anak internasional gara-gara sekolah melati yang baik itu (love the school!). Saya kenal "Very Hungry Caterpillar" dari Julia, guru Melati di kelas Ducklings. Yang juga saya suka: Stellaluna. Beautiful story. Cerita indah tentang kasih ibu dan tentang berteman dengan teman-teman yang "berbeda" karena anak kelelawar yang berkawan dengan tiga anak burung :-).
Berangkat dari sini, saya dan FF jadi rajin menggali dan mendiskusikan buku-buku. Membacakan buku menjadi ritual sebelum tidur malam. Yang juga penting, untuk memelihara dua "akar" melati, kami juga memilihkan bacaan berbahasa Indonesia dan Jerman.
Di sekolah di Indonesia, kemewahan untuk pergi ke perpustakaan tidak kami dapatkan. Kami hanya tiga bulan di Indonesia dan sangat sibuk, jadi tidak ada eksplorasi khusus tentang perpustakaan, meskipun saya tahu, ada perpustakaan anak Rimba Baca yang luar biasa.
Sekarang di Cambridge, sekolahnya juga tidak punya hari khusus untuk perpustakaan, tapi mereka membacakan banyak buku setiap hari. Kami juga boleh saja meminjam buku dari rak buku di kelas, meski tidak tercatat dan terjadwalkan. Dan yang lebih penting, mereka memilihkan buku dengan nilai-nilai yang ingin mereka ajarkan, untuk anak seumur melati. Sekolah ini memang Harvard-affiliated dan jadi punya nilai edukasi yang bagus karena jadi seperti "laboratorium" juga untuk guru-guru. Ini baru buat saya dan saya jadi belajar banyak sekali dari sini. Misalnya untuk mengajarkan soal berbuat baik kepada orang lain, mereka menggunakan buku "Have you filled your bucket today?". Bagus banget. Idenya, setiap orang membawa satu ember-tak-terlihat. Kita bisa mengisinya atau mengosongkannya. Kalau mau mengisinya, kita harus berbuat dan berkata baik. Mengikuti buku ini, mereka membuat sesi mengumpulkan "bucket filling words" dan membuat "bucket filler club" di mana anak-anak diminta berbagi tentang bucket filling action yang paling mereka banggakan hari itu. Hasilnya sangat menggemaskan (cute maksud gw, nggak asik yak kadang-kadang, berbahasa Indonesia yang baik :-)). Misalnya Daniella yang bilang bucket filling moment dia hari itu adalah waktu dia peluk ibunya sebelum berangkat sekolah. Atau Sophie yang bilang bucket filling moment-nya adalah waktu dia berbagi sekop salju untuk bermain dengan Ethan.
Perpustakaan umum Cambridge luar biasa, bagian anaknya apalagi! Bukan hanya koleksi dan layanannya yang mentap, tapi interiornya juga sangat nyaman untuk anak-anak bermain dan membaca. Kami mencatat buku-buku favorit melati yang dibacakan di sekolah dan meminjamnya di sana. Kami juga mencarikan buku-buku dari pengarang terkenal di situ. Misalnya dari pengarang Gruffalo, seri dari Jan Brett, Eric Carle, dan beberapa New York Times best sellers untuk anak-anak, dll.
Favorit saya yang baru: The Tear Thief, yang membantu saya mengatakan pada Melati untuk nggak terlalu sering menangis :-). Gambar dan ceritanya juga bagus sekali siiih :-). Imajinatif. Saya seringkali kuatir saya terlalu "rasional" dan punya efek untuk tidak merangsang sisi imajinasi Melati, yang penting buat otak anak-anaknya. Jadi beberapa minggu belakangan ini, saya sengaja menekan kuat-kuat rasionalisasi berlebihan saya ketika bermain dengan Melati. Atau ketika menghadapi pertanyaan dari dia tentang hantu, monster, dan santa claus :-)
Saya jadi mulai menggunakan metode yang sama: menggunakan buku untuk "menanamkan" nilai tertentu atau untuk mengantisipasi hal yang akan datang, seperti salju yang waktu itu dia belum pernah lihat (Melati masih terlalu kecil untuk ingat waktu kami main salju di Seattle). Ini jauh lebih efektif untuk anak balita daripada nasehat panjang lebar atau ngomel-ngomel atau membanding-bandingkan. Dan saya menjadikan guru-guru Melati sebagai tempat bertanya (selain google haha). Waktu Melati mulai mengenal soal mengambil barang orang lain yang dia temukan atau dia pikir diberikan kepadanya, saya agak resah. Seperti biasa, saya ajak dia ngobrol soal nilai dari "mengambil sesuatu yang bukan punya kita." Tapi saya agak kerepotan. Saya tahu dia mencerna apa yang saya katakan, tapi isu itu masih berlanjut keesokan harinya waktu dia menemukan jepit rambut milik Sarah dan membawanya pulang karena dia bilang "I found it and Sarah doesn't want it anymore." Saya tanya, "Did Sarah give it to you?". "No, but she doesn't want it anymore." "But you should ask her first if she really doesn't want it anymore, you cannot just think that she doesn't want it anymore." Saya diskusikan ini dengan Lissa dan Katie, dua dari empat gurunya (ada 15 anak di kelas pre-school. Lissa menyarankan dan meminjamkan buku Jamaica's find. Mujarab! Besoknya Melati langsung mempraktekkan untuk selalu mengembalikan apa saja yang dia temukan ke gurunya (agak lebay sih jadinya dia :-))
Tapi kemudian dari buku Jamaica's Find, Melati jadi punya pertanyaan tentang warna kulit! Huh, and you'd think being in a family of multi-culture would make it very easy to introduce different ethnicities and cultures! "Mama, why is Jamaica so black?". Twiit…twiiit…twiit… alarm pluralisme saya langsung aktif. Pertanyaan ini tentu saja diajukan Melati tanpa values dan prejudice, tapi saya merasa perlu menjelaskan agak panjang. Saya menjelaskan dengan menggunakan tetangga-tetangga kami di sini dari berbagai bangsa. Ada yang dari Australia, Nigeria, Fiji, Taiwan, dll. Lalu saya membandingkan juga warna kulit saya dan dia, yang tentu saja berbeda ;-). Tapi lantas saya teringat buku-buku. Saya googled malamnya, dan menemukan buku yang kini sedang jadi favoritnya (sudah kami dapatkan dari perpustakaan): The Colors of Us. Bukan hanya karena isinya, cerita dan gambarnya juga sangat bagus.
Setiap malam saya membacakan tiga buku untuk melati. Bukan angka keramat, tiga ini semata untuk membatasi, karena kami setiap ke perpustakaan kami bisa meminjam sampai 10 buku sekali datang, jadi kalau tidak dibatasi bisa nggak tidur-tidur dia :-). Terima kasih untuk mengajari mama untuk belajar lebih banyak tentang buku, melatiku!
Di sekolahnya di Hanoi, satu hari dalam lima hari sekolah didedikasikan untuk "pergi ke perpustakaan." Library day. Tiap hari mereka dibacakan buku oleh gurunya. Tapi ada satu hari yang didedikasikan untuk benar-benar "pergi" ke perpustakaan sekolah. Memilih buku yang diinginkan dan membawanya pulang. Dikembalikan minggu depan. Orang tua yang ingin anaknya meminjam buku harus membayar deposit sebesar, kalau tidak salah, USD50. Waktu di kelas "Ducklings", hari perpustakaan Jumat. Ini kelas untuk kisaran umur termuda: antara 18 bulan sampai kira-kira 2 tahun. Karena mereka sangat muda, kalau pergi ke mana-mana, semua anak harus berpegangan pada satu tali tambang yang agak panjang. Satu guru di depan dan memimpin. Satu guru di tengah, dan satu di belakang. Khusus kelas ducklings, ada 3 guru untuk maksimal 12 anak. Perpustakaan ini sebenarnya dekat dengan kelas mereka. Hanya menyeberang halaman sekolah yang tak luas. Tapi mereka tetap harus pegangan.
Di kelas berikutnya, Caterpillars, hari perpustakaan adalah hari Senin dan mereka tidak lagi harus berpegangan pada tali tambang.
Ingatan dan pengetahuan saya tentang literatur anak sangat terbatas waktu itu. Saya memang suka membaca sejak kecil, tapi tanpa bimbingan khusus dalam soal bacaan. Saya mulai bisa membaca umur 4 tahun dan hobi baca koran sejak umur 5 tahun :-). Bukan karena paksaan dan bukan jenius. Ini hanya karena dulu ada anak tetangga papa di Serang yang tinggal bersama keluarga kami di Jakarta supaya bisa sekolah. Namanya Njum. Saya tidak pernah tahu nama lengkapnya (mungkin saya harus tanya waktu saya pulang nanti).Dia sekitar 5 tahun lebih tua dari saya. Tapi di umur 9 itu, dia belum bisa baca. Jadi papa mengajarkan Njum baca-tulis-hitung setiap pulang kantor. Dan karena Njum teman bermain saya yang paling dekat, saya mengikuti dia ke mana saja, termasuk di waktu pelajaran itu. Njum, sayangnya, memang agak "lambat" dalam belajar (sepertinya karena itu dua dititipkan ke papa), jadi saya berusaha keras untuk belajar, supaya saya bisa ngasih bocoran ke dia kalau dia nggak bisa jawab soal-soal dari papa :-). Karena itulah saya jadi hobi baca sejak umur 4 tahun. Mama dan papa membelikan saya buku dongeng-dongeng Indonesia, Fabel Aesop, H.C Andersen, Disney, dan biografi tokoh-tokoh terkenal seperti Marie Curie, Bell, Edison, dll. Tapi itu tanpa "bimbingan" khusus. [Oh well, what more do you expect, B?? I am so grateful and proud of my mom and dad as they were willing to buy me those books. That means they actually thought carefully about it! They might have discussed what books to buy for me! OMG I love them so much so I almost cry…. ] Tapi maksud saya, saya jadi hobi membaca dengan cara yang unik dan membacai buku yang unik untuk anak seusia saya, tidak ada "program khusus" dari ortu seperti yang ingin saya ceritakan sekarang :-). Tapi memang, literatur anak di Indonesia pada masa saya kecil, dan barangkali juga sekarang, sangat terbatas. Mama dan papa "hanya" membacakan majalah bobo, cerita-cerita populer seperti Cinderella, dan beberapa cerita rakyat Indonesia. Jadi untuk melati, saya jadi harus belajar banyak. Dan sekolah-sekolah internasionalnya dan komunitas-komunitas di tempat yang pernah kami tinggali memberi banyak masukan buat saya.
Saya jadi belajar soal seri Gruffalo misalnya. Teman saya tertawa kecil waktu saya agak takjub menganga waktu cerita penemuan spektakuler saya tentang Gruffalo.Ya ampun, baru tau ya? Huh, iya… gimana dong, gw kan ibu-ibu amatir (waktu itu… ;-P). Di tengah kebingungan saya ngorek-ngorek rak buku di Gramedia, saya hanya berhasil menemukan dua buku cerita rakyat Indonesia yang cocok untuk umur melati waktu itu (bukan cerita panjang tanpa gambar). Dia kan baru kenal buku waktu itu, 18 bulan umurnya waktu mulai sekolah, nggak mungkinlah saya kasih buku "beneran" atau biografi-biografi :-P. Maka saya eksplorasilah dunia buku anak-anak internasional gara-gara sekolah melati yang baik itu (love the school!). Saya kenal "Very Hungry Caterpillar" dari Julia, guru Melati di kelas Ducklings. Yang juga saya suka: Stellaluna. Beautiful story. Cerita indah tentang kasih ibu dan tentang berteman dengan teman-teman yang "berbeda" karena anak kelelawar yang berkawan dengan tiga anak burung :-).
Flitter: "How can we be so different and feel so much alike?"Favorit saya yang lain adalah Abiyoyo. Sara, guru melati di kelas Caterpillars asal Swedia, yang mengantar saya menemukan ini. Ini favorit karena nilai-nilai di dalamnya menarik. Salah satu bagian favorit saya: "Women screamed. Strong men fainted" untuk menggambarkan ketakutan orang-orang waktu raksasa Abiyoyo datang :-). Belakangan, saya baru tahu bahwa Pete Seeger adalah aktivis antiperang zaman generasi bunga dulu, makanya ada values dalam cerita-ceritanya. Dia bahkan diberi pernghargaan oleh Obama untuk aktivismenya. Ini saya temukan setelah googling :-). Saya juga belajar soal lagu-lagu anak-anak non-Indonesia (seperti London Bridge is Falling Down, Merry had a Little Lamb) dan cerita-cerita yang mengiringinya, serta mendiskusikan dengan FF perubahan-perubahan yang dilakukan pada cerita-cerita lama karena tidak lagi "politically correct" misalnya untuk cerita-cerita dari Grimm bersaudara.
Pip:"And how can we feel so different and be so much alike?"
Flap:"I think this is quite a mystery."
Stellaluna: "I agree. But we're friends. And that's a fact."
Berangkat dari sini, saya dan FF jadi rajin menggali dan mendiskusikan buku-buku. Membacakan buku menjadi ritual sebelum tidur malam. Yang juga penting, untuk memelihara dua "akar" melati, kami juga memilihkan bacaan berbahasa Indonesia dan Jerman.
Di sekolah di Indonesia, kemewahan untuk pergi ke perpustakaan tidak kami dapatkan. Kami hanya tiga bulan di Indonesia dan sangat sibuk, jadi tidak ada eksplorasi khusus tentang perpustakaan, meskipun saya tahu, ada perpustakaan anak Rimba Baca yang luar biasa.
Sekarang di Cambridge, sekolahnya juga tidak punya hari khusus untuk perpustakaan, tapi mereka membacakan banyak buku setiap hari. Kami juga boleh saja meminjam buku dari rak buku di kelas, meski tidak tercatat dan terjadwalkan. Dan yang lebih penting, mereka memilihkan buku dengan nilai-nilai yang ingin mereka ajarkan, untuk anak seumur melati. Sekolah ini memang Harvard-affiliated dan jadi punya nilai edukasi yang bagus karena jadi seperti "laboratorium" juga untuk guru-guru. Ini baru buat saya dan saya jadi belajar banyak sekali dari sini. Misalnya untuk mengajarkan soal berbuat baik kepada orang lain, mereka menggunakan buku "Have you filled your bucket today?". Bagus banget. Idenya, setiap orang membawa satu ember-tak-terlihat. Kita bisa mengisinya atau mengosongkannya. Kalau mau mengisinya, kita harus berbuat dan berkata baik. Mengikuti buku ini, mereka membuat sesi mengumpulkan "bucket filling words" dan membuat "bucket filler club" di mana anak-anak diminta berbagi tentang bucket filling action yang paling mereka banggakan hari itu. Hasilnya sangat menggemaskan (cute maksud gw, nggak asik yak kadang-kadang, berbahasa Indonesia yang baik :-)). Misalnya Daniella yang bilang bucket filling moment dia hari itu adalah waktu dia peluk ibunya sebelum berangkat sekolah. Atau Sophie yang bilang bucket filling moment-nya adalah waktu dia berbagi sekop salju untuk bermain dengan Ethan.
Perpustakaan umum Cambridge luar biasa, bagian anaknya apalagi! Bukan hanya koleksi dan layanannya yang mentap, tapi interiornya juga sangat nyaman untuk anak-anak bermain dan membaca. Kami mencatat buku-buku favorit melati yang dibacakan di sekolah dan meminjamnya di sana. Kami juga mencarikan buku-buku dari pengarang terkenal di situ. Misalnya dari pengarang Gruffalo, seri dari Jan Brett, Eric Carle, dan beberapa New York Times best sellers untuk anak-anak, dll.
Favorit saya yang baru: The Tear Thief, yang membantu saya mengatakan pada Melati untuk nggak terlalu sering menangis :-). Gambar dan ceritanya juga bagus sekali siiih :-). Imajinatif. Saya seringkali kuatir saya terlalu "rasional" dan punya efek untuk tidak merangsang sisi imajinasi Melati, yang penting buat otak anak-anaknya. Jadi beberapa minggu belakangan ini, saya sengaja menekan kuat-kuat rasionalisasi berlebihan saya ketika bermain dengan Melati. Atau ketika menghadapi pertanyaan dari dia tentang hantu, monster, dan santa claus :-)
Saya jadi mulai menggunakan metode yang sama: menggunakan buku untuk "menanamkan" nilai tertentu atau untuk mengantisipasi hal yang akan datang, seperti salju yang waktu itu dia belum pernah lihat (Melati masih terlalu kecil untuk ingat waktu kami main salju di Seattle). Ini jauh lebih efektif untuk anak balita daripada nasehat panjang lebar atau ngomel-ngomel atau membanding-bandingkan. Dan saya menjadikan guru-guru Melati sebagai tempat bertanya (selain google haha). Waktu Melati mulai mengenal soal mengambil barang orang lain yang dia temukan atau dia pikir diberikan kepadanya, saya agak resah. Seperti biasa, saya ajak dia ngobrol soal nilai dari "mengambil sesuatu yang bukan punya kita." Tapi saya agak kerepotan. Saya tahu dia mencerna apa yang saya katakan, tapi isu itu masih berlanjut keesokan harinya waktu dia menemukan jepit rambut milik Sarah dan membawanya pulang karena dia bilang "I found it and Sarah doesn't want it anymore." Saya tanya, "Did Sarah give it to you?". "No, but she doesn't want it anymore." "But you should ask her first if she really doesn't want it anymore, you cannot just think that she doesn't want it anymore." Saya diskusikan ini dengan Lissa dan Katie, dua dari empat gurunya (ada 15 anak di kelas pre-school. Lissa menyarankan dan meminjamkan buku Jamaica's find. Mujarab! Besoknya Melati langsung mempraktekkan untuk selalu mengembalikan apa saja yang dia temukan ke gurunya (agak lebay sih jadinya dia :-))
Tapi kemudian dari buku Jamaica's Find, Melati jadi punya pertanyaan tentang warna kulit! Huh, and you'd think being in a family of multi-culture would make it very easy to introduce different ethnicities and cultures! "Mama, why is Jamaica so black?". Twiit…twiiit…twiit… alarm pluralisme saya langsung aktif. Pertanyaan ini tentu saja diajukan Melati tanpa values dan prejudice, tapi saya merasa perlu menjelaskan agak panjang. Saya menjelaskan dengan menggunakan tetangga-tetangga kami di sini dari berbagai bangsa. Ada yang dari Australia, Nigeria, Fiji, Taiwan, dll. Lalu saya membandingkan juga warna kulit saya dan dia, yang tentu saja berbeda ;-). Tapi lantas saya teringat buku-buku. Saya googled malamnya, dan menemukan buku yang kini sedang jadi favoritnya (sudah kami dapatkan dari perpustakaan): The Colors of Us. Bukan hanya karena isinya, cerita dan gambarnya juga sangat bagus.
Setiap malam saya membacakan tiga buku untuk melati. Bukan angka keramat, tiga ini semata untuk membatasi, karena kami setiap ke perpustakaan kami bisa meminjam sampai 10 buku sekali datang, jadi kalau tidak dibatasi bisa nggak tidur-tidur dia :-). Terima kasih untuk mengajari mama untuk belajar lebih banyak tentang buku, melatiku!