Friday, January 24, 2014
Single parenting
Pulang ke rumah: ahh all this mess! Harus bebersih dulu dan cuci piring dan segala macem. Selesai itu: tidurrrrrr sambil menggigil. Sore alarm bunyi untuk menjemput melati. Lagi-lagi harus menembus salju dan dingin dalam demam. Tiga hari begini. Maka terlewatlah janji skype dengan supervisor dan satu email penting terkait dengan kerjaan bulan depan di Jakarta. Saya stress berat dan jadi lebih mudah marah ke melati. Maafkan mama, sayang.
Tapi ini bukan sekadar curhat. Saya malah jadi berpikir tentang single parents out there. Single parenting saya paling-paling hanya 3 minggu setiapbulannya. Terasa agak berat karena saya kerja juga dan nggak ada asisten. Tapi bayangkan single parents yang benar-benar single dalam waktu lama dan mungkin juga dalam kondisi yang kurang lebih sama: tinggal jauh dari keluarga sehingga tidak ada support system dan, karena single parenting, juga harus kerja, kalau enggak, nanti beli makanan dan bayar uang sekolah anak dari mana?
Mbak D dan Mbak E adalah dua single parents yang saya kagumi.
Mbak D punya anak autistik yang berbakat melukis. Dia single parenting di Jerman selagi dia ambil doktor. Di tengah kesibukannya menulis disertasi dan bekerja, dia harus merawat anaknya yang autistik. Sangat tidak mudah. Dan hebatnya, Mbak D ini pintar luar biasa. Saya kagum sekali dengan pemikiran2nya dan caranya dalam mengelola kekhususan anaknya dalam hal melukis.
Kalau Mbak E, teman dekat saya di Seattle. Juga lagi ambil doktor, di antropologi. Waktu pertama ke Seattle, dia datang dengan dua anaknya, satu masih umur 3 tahun, lebih muda dari melati sekarang. Waktu datang, dia baru cerai dari bapak dari kedua anak itu. Di beberapa housing complex dia ditolak karena ada anak kecil yang bikin berisik. Sampai-sampai anaknya yang tertua minta maaf karena menganggap mereka sebagai beban karena mendengar komentar para land lord itu. Saya sampai hampir nangis waktu mendengar cerita minta maaf itu. Untunglah akhirnya status single parent bikin dia segera diterima di university housing complex (priority list). Setiap hari dia harus bangun pagi, masak, menyiapkan anaknya ke sekolah, mengantar mereka ke sekolah dengan jalan kaki, dan kemudian baru berangkat ke kampus. Dia juga harus putar otak agar stipend nya yang kecil bisa digunakan secara maksimal supaya gizi anak-anaknya tercukupi.
Saya merasa sangat tidak mudah menjadi mahasiswa s3 yang ibu-ibu. Sangat tidak mudah. Kadang saya mencibir dalam hati waktu baca status facebook teman laki2 yg juga lagi s3: perjuangan adalah menulis sampai jam 9 malam di kantor dan pulang ke rumah dalam keadaan dingin dan harus masak dulu untuk makan malam. Walau ingin betul rasanya saya menulis: perjuangan adalah pulang jam 5 sore untuk jemput anak setelah nulis seharian di kantor, terus masak, siapin anak makan malam dan tidur, terus nulis disertasi lagi atau nyetrika sampe jam 2 pagi, terus bangun jam 6 pagi untuk siapin makan siang anak untuk dibawa ke sekolah, terus siapin anak ke sekolah dan antar dia ke sekolah, terus kerja di kantor sampai tiba saatnya harus jemput dia lagi. Dan di tengah-tengah harus terus mikirin masak apa buat besok (yg bernutrisi) dan apa ada bahan makanan yang kurang sehingga harus belanja dulu. Tapi kan kita bukan lagi lomba menunjukkan penderitaan :-). Jadi ya nggak saya tanggapi lah :-). Lagipula, saya tidak merasa ini "penderitaan" sama sekali. Saya cuma agak kesal pada teman itu, yang merasa perjuangannya sudah berat sekali, cuma karena nggak ada istrinya di sini yang masak buat dia, nyetrika buat dia dll. Menurut saya, kalau ibunya yang sekolah, sebenarnya perjuangannya lebih berat. Saya suka kesal, bapak-bapak teman s3 itu suka nggak ngerti, kalau kami tetap harus berpikir soal anak, di samping nulis bab 1,2,3,4,5,6. Makanya perempuan dianugerahi kemampuan multi-tasking yang lebih. Untuk survival. Apapun pekerjaan lain yang dia lakukan, perempuan tetap memikirkan anaknya. Apalagi kalau anak sakit. Waduh, kacau semua deh, semua progress bab terhenti dulu.
Kalau dekat keluarga, cenderung lebih mudah. Ada aki dan nini yang bisa dimintai tolong jaga anak, bisa ada pembantu yang bisa tinggal dikasih daftar masakan buat dimasak, nggak usah nyuci-nyetrika karena ada pembantu. Paling sebel kan kalau harus ke laundry room di tengah badai salju. Kadang nyuci sih bisa ditunda, tapi kalau masalahnya selimut diompolin dan harus segera dicuci supaya nggak bau pesing gimana?? :-)). Atau waktu sweaters si melati udah kotor semua karena kena cat air, terpaksa harus cuci pakai tangan malam2 supaya besok pagi dia bisa pakai lagi. FF adalah suami ter-egaliter yang saya tahu. Sungguh. Dia masak, nyetrika, bersih2 dll. No complaint. Tapi tetap saja, dalam beberapa hal, ada peran ibu yang nggak bisa dia gantikan. Kadang dia juga nggak ngerti kenapa melati ngusir dia waktu dia mau nemenin melati tidur atau waktu lagi sakit. Ini yang kadang nggak diketahui oleh para lelaki yang merasa hebat betul itu.
Baiklah, ngomong-ngomong soal beberes, saatnya menyudahi intermezzo curhat ini. Saatnya sekarang beberes rumah dulu, cuci piring, dan 2 jam lagi harus jemput si melati lagi sambil mikir masak apa buat dia makan nanti malam.
Thursday, January 02, 2014
Buku untuk Melati
Di sekolahnya di Hanoi, satu hari dalam lima hari sekolah didedikasikan untuk "pergi ke perpustakaan." Library day. Tiap hari mereka dibacakan buku oleh gurunya. Tapi ada satu hari yang didedikasikan untuk benar-benar "pergi" ke perpustakaan sekolah. Memilih buku yang diinginkan dan membawanya pulang. Dikembalikan minggu depan. Orang tua yang ingin anaknya meminjam buku harus membayar deposit sebesar, kalau tidak salah, USD50. Waktu di kelas "Ducklings", hari perpustakaan Jumat. Ini kelas untuk kisaran umur termuda: antara 18 bulan sampai kira-kira 2 tahun. Karena mereka sangat muda, kalau pergi ke mana-mana, semua anak harus berpegangan pada satu tali tambang yang agak panjang. Satu guru di depan dan memimpin. Satu guru di tengah, dan satu di belakang. Khusus kelas ducklings, ada 3 guru untuk maksimal 12 anak. Perpustakaan ini sebenarnya dekat dengan kelas mereka. Hanya menyeberang halaman sekolah yang tak luas. Tapi mereka tetap harus pegangan.
Di kelas berikutnya, Caterpillars, hari perpustakaan adalah hari Senin dan mereka tidak lagi harus berpegangan pada tali tambang.
Ingatan dan pengetahuan saya tentang literatur anak sangat terbatas waktu itu. Saya memang suka membaca sejak kecil, tapi tanpa bimbingan khusus dalam soal bacaan. Saya mulai bisa membaca umur 4 tahun dan hobi baca koran sejak umur 5 tahun :-). Bukan karena paksaan dan bukan jenius. Ini hanya karena dulu ada anak tetangga papa di Serang yang tinggal bersama keluarga kami di Jakarta supaya bisa sekolah. Namanya Njum. Saya tidak pernah tahu nama lengkapnya (mungkin saya harus tanya waktu saya pulang nanti).Dia sekitar 5 tahun lebih tua dari saya. Tapi di umur 9 itu, dia belum bisa baca. Jadi papa mengajarkan Njum baca-tulis-hitung setiap pulang kantor. Dan karena Njum teman bermain saya yang paling dekat, saya mengikuti dia ke mana saja, termasuk di waktu pelajaran itu. Njum, sayangnya, memang agak "lambat" dalam belajar (sepertinya karena itu dua dititipkan ke papa), jadi saya berusaha keras untuk belajar, supaya saya bisa ngasih bocoran ke dia kalau dia nggak bisa jawab soal-soal dari papa :-). Karena itulah saya jadi hobi baca sejak umur 4 tahun. Mama dan papa membelikan saya buku dongeng-dongeng Indonesia, Fabel Aesop, H.C Andersen, Disney, dan biografi tokoh-tokoh terkenal seperti Marie Curie, Bell, Edison, dll. Tapi itu tanpa "bimbingan" khusus. [Oh well, what more do you expect, B?? I am so grateful and proud of my mom and dad as they were willing to buy me those books. That means they actually thought carefully about it! They might have discussed what books to buy for me! OMG I love them so much so I almost cry…. ] Tapi maksud saya, saya jadi hobi membaca dengan cara yang unik dan membacai buku yang unik untuk anak seusia saya, tidak ada "program khusus" dari ortu seperti yang ingin saya ceritakan sekarang :-). Tapi memang, literatur anak di Indonesia pada masa saya kecil, dan barangkali juga sekarang, sangat terbatas. Mama dan papa "hanya" membacakan majalah bobo, cerita-cerita populer seperti Cinderella, dan beberapa cerita rakyat Indonesia. Jadi untuk melati, saya jadi harus belajar banyak. Dan sekolah-sekolah internasionalnya dan komunitas-komunitas di tempat yang pernah kami tinggali memberi banyak masukan buat saya.
Saya jadi belajar soal seri Gruffalo misalnya. Teman saya tertawa kecil waktu saya agak takjub menganga waktu cerita penemuan spektakuler saya tentang Gruffalo.Ya ampun, baru tau ya? Huh, iya… gimana dong, gw kan ibu-ibu amatir (waktu itu… ;-P). Di tengah kebingungan saya ngorek-ngorek rak buku di Gramedia, saya hanya berhasil menemukan dua buku cerita rakyat Indonesia yang cocok untuk umur melati waktu itu (bukan cerita panjang tanpa gambar). Dia kan baru kenal buku waktu itu, 18 bulan umurnya waktu mulai sekolah, nggak mungkinlah saya kasih buku "beneran" atau biografi-biografi :-P. Maka saya eksplorasilah dunia buku anak-anak internasional gara-gara sekolah melati yang baik itu (love the school!). Saya kenal "Very Hungry Caterpillar" dari Julia, guru Melati di kelas Ducklings. Yang juga saya suka: Stellaluna. Beautiful story. Cerita indah tentang kasih ibu dan tentang berteman dengan teman-teman yang "berbeda" karena anak kelelawar yang berkawan dengan tiga anak burung :-).
Flitter: "How can we be so different and feel so much alike?"Favorit saya yang lain adalah Abiyoyo. Sara, guru melati di kelas Caterpillars asal Swedia, yang mengantar saya menemukan ini. Ini favorit karena nilai-nilai di dalamnya menarik. Salah satu bagian favorit saya: "Women screamed. Strong men fainted" untuk menggambarkan ketakutan orang-orang waktu raksasa Abiyoyo datang :-). Belakangan, saya baru tahu bahwa Pete Seeger adalah aktivis antiperang zaman generasi bunga dulu, makanya ada values dalam cerita-ceritanya. Dia bahkan diberi pernghargaan oleh Obama untuk aktivismenya. Ini saya temukan setelah googling :-). Saya juga belajar soal lagu-lagu anak-anak non-Indonesia (seperti London Bridge is Falling Down, Merry had a Little Lamb) dan cerita-cerita yang mengiringinya, serta mendiskusikan dengan FF perubahan-perubahan yang dilakukan pada cerita-cerita lama karena tidak lagi "politically correct" misalnya untuk cerita-cerita dari Grimm bersaudara.
Pip:"And how can we feel so different and be so much alike?"
Flap:"I think this is quite a mystery."
Stellaluna: "I agree. But we're friends. And that's a fact."
Berangkat dari sini, saya dan FF jadi rajin menggali dan mendiskusikan buku-buku. Membacakan buku menjadi ritual sebelum tidur malam. Yang juga penting, untuk memelihara dua "akar" melati, kami juga memilihkan bacaan berbahasa Indonesia dan Jerman.
Di sekolah di Indonesia, kemewahan untuk pergi ke perpustakaan tidak kami dapatkan. Kami hanya tiga bulan di Indonesia dan sangat sibuk, jadi tidak ada eksplorasi khusus tentang perpustakaan, meskipun saya tahu, ada perpustakaan anak Rimba Baca yang luar biasa.
Sekarang di Cambridge, sekolahnya juga tidak punya hari khusus untuk perpustakaan, tapi mereka membacakan banyak buku setiap hari. Kami juga boleh saja meminjam buku dari rak buku di kelas, meski tidak tercatat dan terjadwalkan. Dan yang lebih penting, mereka memilihkan buku dengan nilai-nilai yang ingin mereka ajarkan, untuk anak seumur melati. Sekolah ini memang Harvard-affiliated dan jadi punya nilai edukasi yang bagus karena jadi seperti "laboratorium" juga untuk guru-guru. Ini baru buat saya dan saya jadi belajar banyak sekali dari sini. Misalnya untuk mengajarkan soal berbuat baik kepada orang lain, mereka menggunakan buku "Have you filled your bucket today?". Bagus banget. Idenya, setiap orang membawa satu ember-tak-terlihat. Kita bisa mengisinya atau mengosongkannya. Kalau mau mengisinya, kita harus berbuat dan berkata baik. Mengikuti buku ini, mereka membuat sesi mengumpulkan "bucket filling words" dan membuat "bucket filler club" di mana anak-anak diminta berbagi tentang bucket filling action yang paling mereka banggakan hari itu. Hasilnya sangat menggemaskan (cute maksud gw, nggak asik yak kadang-kadang, berbahasa Indonesia yang baik :-)). Misalnya Daniella yang bilang bucket filling moment dia hari itu adalah waktu dia peluk ibunya sebelum berangkat sekolah. Atau Sophie yang bilang bucket filling moment-nya adalah waktu dia berbagi sekop salju untuk bermain dengan Ethan.
Perpustakaan umum Cambridge luar biasa, bagian anaknya apalagi! Bukan hanya koleksi dan layanannya yang mentap, tapi interiornya juga sangat nyaman untuk anak-anak bermain dan membaca. Kami mencatat buku-buku favorit melati yang dibacakan di sekolah dan meminjamnya di sana. Kami juga mencarikan buku-buku dari pengarang terkenal di situ. Misalnya dari pengarang Gruffalo, seri dari Jan Brett, Eric Carle, dan beberapa New York Times best sellers untuk anak-anak, dll.
Favorit saya yang baru: The Tear Thief, yang membantu saya mengatakan pada Melati untuk nggak terlalu sering menangis :-). Gambar dan ceritanya juga bagus sekali siiih :-). Imajinatif. Saya seringkali kuatir saya terlalu "rasional" dan punya efek untuk tidak merangsang sisi imajinasi Melati, yang penting buat otak anak-anaknya. Jadi beberapa minggu belakangan ini, saya sengaja menekan kuat-kuat rasionalisasi berlebihan saya ketika bermain dengan Melati. Atau ketika menghadapi pertanyaan dari dia tentang hantu, monster, dan santa claus :-)
Saya jadi mulai menggunakan metode yang sama: menggunakan buku untuk "menanamkan" nilai tertentu atau untuk mengantisipasi hal yang akan datang, seperti salju yang waktu itu dia belum pernah lihat (Melati masih terlalu kecil untuk ingat waktu kami main salju di Seattle). Ini jauh lebih efektif untuk anak balita daripada nasehat panjang lebar atau ngomel-ngomel atau membanding-bandingkan. Dan saya menjadikan guru-guru Melati sebagai tempat bertanya (selain google haha). Waktu Melati mulai mengenal soal mengambil barang orang lain yang dia temukan atau dia pikir diberikan kepadanya, saya agak resah. Seperti biasa, saya ajak dia ngobrol soal nilai dari "mengambil sesuatu yang bukan punya kita." Tapi saya agak kerepotan. Saya tahu dia mencerna apa yang saya katakan, tapi isu itu masih berlanjut keesokan harinya waktu dia menemukan jepit rambut milik Sarah dan membawanya pulang karena dia bilang "I found it and Sarah doesn't want it anymore." Saya tanya, "Did Sarah give it to you?". "No, but she doesn't want it anymore." "But you should ask her first if she really doesn't want it anymore, you cannot just think that she doesn't want it anymore." Saya diskusikan ini dengan Lissa dan Katie, dua dari empat gurunya (ada 15 anak di kelas pre-school. Lissa menyarankan dan meminjamkan buku Jamaica's find. Mujarab! Besoknya Melati langsung mempraktekkan untuk selalu mengembalikan apa saja yang dia temukan ke gurunya (agak lebay sih jadinya dia :-))
Tapi kemudian dari buku Jamaica's Find, Melati jadi punya pertanyaan tentang warna kulit! Huh, and you'd think being in a family of multi-culture would make it very easy to introduce different ethnicities and cultures! "Mama, why is Jamaica so black?". Twiit…twiiit…twiit… alarm pluralisme saya langsung aktif. Pertanyaan ini tentu saja diajukan Melati tanpa values dan prejudice, tapi saya merasa perlu menjelaskan agak panjang. Saya menjelaskan dengan menggunakan tetangga-tetangga kami di sini dari berbagai bangsa. Ada yang dari Australia, Nigeria, Fiji, Taiwan, dll. Lalu saya membandingkan juga warna kulit saya dan dia, yang tentu saja berbeda ;-). Tapi lantas saya teringat buku-buku. Saya googled malamnya, dan menemukan buku yang kini sedang jadi favoritnya (sudah kami dapatkan dari perpustakaan): The Colors of Us. Bukan hanya karena isinya, cerita dan gambarnya juga sangat bagus.
Setiap malam saya membacakan tiga buku untuk melati. Bukan angka keramat, tiga ini semata untuk membatasi, karena kami setiap ke perpustakaan kami bisa meminjam sampai 10 buku sekali datang, jadi kalau tidak dibatasi bisa nggak tidur-tidur dia :-). Terima kasih untuk mengajari mama untuk belajar lebih banyak tentang buku, melatiku!
Tuesday, March 26, 2013
Ibu-ibu
Friday, September 28, 2012
Selamat dari jebakan
Wednesday, December 15, 2010
Moving on
Call me crazy, but I agree with ff. P lahir dari saya dan as. Bermula dari saya yang ditelepon afa dan diajak jadi lawyer dan saya tolak. Sehabis menutup telepon untuk menolak, saya termenung, kaget pada diri saya sendiri. Sungguh mati, saya anak pk iv yang sudah magang di 2 law firm besar dan 1 grup bank besar. Punya law firm sendiri adalah cita-cita saya pada suatu masa. Tapi rupanya 1998 mengubah pandangan hidup saya dengan sangat drastis. Saya sempat bimbang, tapi kemudian si abang afa yg memang punya jiwa entrepreneur tinggi itu menelepon lagi dan menawarkan kesempatan yang menarik: mendirikan lembaga studi! Dia bilang, dia, ats, er berkeinginan mendirikan lembaga dan akan mengajak beberapa alumni lain, dan mereka membutuhkan orang yang bisa mewujudkan gagasan mereka berhubung mereka supersibuk. Dan saya boleh mengajak 1 orang lagi, siapa saja. Maka bung as saya telepon dan jadilah kami dynamic duo :-P, sampai akhirnya P jadi dynamic duo-puluh :-) dan mungkin sekarang lebih.
Seperti orang tua pada anaknya, sangat sulit saya melepas P (mudah-mudahan tak begitu nanti saya pada melati). Padahal dari dulu saya setuju dengan Kahlil Gibran (mulai agak eneg sebenernya karena keseringan dikutip, tapi emang bener):
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmuDengan kesadaran ini saya membesarkan melati (ceile... baru juga 11 bulan ;))) dan saya kira disertasi juga begitu. Begitu nanti dia lahir, dia bukan milik saya lagi. Saya akan berusaha menerbitkannya menjadi buku. Tapi silakan lah dia dikritik, dikutip, dikembangkan, dihujat, atau diapakan saja oleh pembacanya kelak. Saya kira kita semestinya begitu pada hal-hal yang kita lahirkan: penelitian, kertas kerja, RUU, dll. Tidak perlu terlalu posesif. Bekerja untuk orang. Bukan untuk puja puji dan ingin dicintai.
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu
Mungkin sekarang saya terdengar seperti mbak mega, semuanya dikaitkan dengan konsep ibu :-P. Biarlah. Sebab saya memang merasa kita adalah ibu atau bapak dari segala hal yang kita kerjakan. Kita melahirkan - memproduksi - kerja. Yang dilahirkan ini bukan untuk ditimang-timang terus, tapi harus menjadi besar sendiri -atau mati. Kalau ditimang terus, sesungguhnya ia belum lahir. Kalau kita merasa ia sudah siap menghadapi dunia, ya harus dilepas betul.
Tapi apa yang Pak Gibran katakan tak gampang. P adalah salah satu tempat belajar saya. Saya meninggalkan P karena saya sadar esensi karangan Pak Gibran. P bukan milik saya. Saya dan as dulu melahirkannya, tapi dia harus dibiarkan besar dan tumbuh sendiri. Kalau saya mengetekinya, dia tak akan jadi besar. Dan barangkali dia malah akan mati karena kehabisan napas. Hakekatnya adalah untuk bernapas dan berkembang, bukan untuk diketeki.
Tapi pada 2007 saya tahu saya harus betul-betul pergi secara fisik. Tetap di situ membuat suasana tidak sehat meski saya tidak lagi duduk di kursi biru. Maka saya pergi pada 2008. "Kamu harus tumbuh sendiri, nak." Tapi saya terlalu mengganggapnya anak sehingga tak bisa lepas darinya.
Tapi sebulan ini kenyataan menggigit saya (reality bites maksutnya). Setahun (karena sampai tahun lalu saya masih dekat dengan P) sudah saya mengingkari kenyataan bahwa saya harus benar-benar pergi dan barangkali memang diharapkan pergi. I was in denial. I kept thinking about it, promoting it here and there, talked to en and ats about my ideas about P. I was even drafting a concept of "endowment for legal reform" for P. Saya kira kertas-kertas gagasan itu harus saya remas-remas dan lemparkan ke tong sampah seperti main basket (aaahh saya rindu main basket puri tiap jumat seperti dulu 2003). Saya memikirkan itu semua karena saya masih merasa dia anak saya. Dan saya bisa terus menyuapinya. Saya salah. P sudah tidak butuh saya lagi.
Nope, ini bukan mutung. Lupa diikutkan dalam rapat founders (meskipun saya adalah founder sebenar-benarnya hiks), tidak dikirimkan beberapa bahan, dan tidak masuk daftar trainers adalah realitas-realitas yang menggigit saya. Saya yakin P memang lupa. Betul-betul lupa. Tidak sengaja. Dan lupa yang tidak sengaja ini sesungguhnya adalah pertanda bahwa P sudah beranjak besar dan mesti berpisah dengan yang melahirkannya. Artinya saya memang harus move on.
Selama ini saya berusaha juggling: sekolah, kerja, dan in between terus menerus berpikir tentang P: ikut prihatin kalau ada rumor jelek tentang P, promosi P di mana-mana, bantu bikin proposal, bantu lobby dana. Dan kemudian bete ketika dilupakan. Atau email-email gagasan tak berbalas. Kemudian saya in denial berpikir: oh memang anak2 P sekarang sedang sibuk semua atau karena gagasan saya sudah tidak sesuai dengan P. Tapi itu salah. I was in total denial. Saya berusaha memalingkan muka dari kenyataan bahwa P memang sudah tidak membutuhkan saya lagi. Sekali lagi ini bukan mutung (if p people read this, really, ngambeg is definitely NOT my midde name). Ini adalah blog post refleksi. Saya masih punya banyak hal di piring saya: board beberapa lembaga lain yg lebih sering minta perhatian, konferensi-konferensi di sana sini, dan pekerjaan profesional lainnya yang sesungguhnya juga membutuhkan perhatian saya. I am moving on. I have to. Pak Gibran, wait for me, please!
Saturday, February 20, 2010
Pada siapa?
Saya bukan atheis, tapi agnostic. Tapi si melati membuat saya pada suatu titik kebingungan: saya bersyukur dengan cara apa? Saya berterima kasih pada alam karena si melati sejauh ini sehat dan tampak cerdas (saya suka matanya yang sangat hidup). Rasa terima kasih ini membesar ketika membaca berita-berita belakangan ini soal bayi-bayi yang lahir tak sempurna atau kena penyakit parah.
Si Melati menjalani prosesi aqiqah. Saya mendukungnya karena buat saya itu peristiwa budaya yang menarik dan acara sosial yang bagus, di mana kami bisa berjumpa dengan kerabat yang jarang ditemui. Dalam acara aqiqah, funny guy dan si babe bertaruh apakah dia dibisikkan adzan atau tidak. Jawabannya: ya. Papa saya yang melakukannya. Saya membiarkannya karena ingin papa-mama bahagia.
Arlene pernah mengajukan pertanyaan yang penting waktu saya hamil: will you introduce one religion to your baby? Saya bilang, kami akan memperkenalkan semua agama dalam ritualnya, tapi yang pokok adalah nilai2 yang sebenarnya ada di semua agama bila mereka tidak didistorsi oleh struktur agamanya masing-masing: humanisme. FF punya pengalaman yang lebih menarik karena sekolahnya di Jerman model seperti itu. Tapi Arlene menceritakan gugatan Claire padanya karena ia dan Dan rupanya juga seperti kami.
Apakah melati akan menggugat kami nantinya? Saya tidak tahu. Pada saat yang bersamaan kelihatan betul keluarga saya ingin menyeret melati ke kubu mereka. Semua masih saya hormati sebagai ritual budaya. Entah sampai kapan tarik-menarik ini terjadi. Dan kenapa harus terjadi?
Thursday, November 05, 2009
Gangguan Yang Menyenangkan
Dan pada tingkat "gerakan" massa, jadi ada bahan untuk diolah. Mulai dari Serikat Rakyat Miskin Indonesia yang demo di Makassar, Aliansi Masyarakat Untuk KPK (AMUK) Yogyakarta, sampai aksi kamisan nanti sore yang juga akan digabung dengan cicak. Bahkan tadi ngomong sama seorang kawan, kawan-kawan buruh juga akan bikin aksi "cicak merah", entah jadi atau enggak.
Bentuk aksinya juga sangat kreatif. Mulai dari makan roti buaya, bikin ringtone sama artis-artis, mural, sampe tabur bunga. Menarik sekali.
Kadang saya pikir saya rugi juga pas lagi nggak di Indonesia. Tapi lama-lama rasanya lebih seru untuk mengamati perkembangan ini dari luar. Apalagi toh saya tetap terlibat dengan memberi masukan ke kawans serta opini dan kolom ke media massa. Sekarang ada teknologi yang luar biasa. Kalau saya masih seperti jaman Pak Yap sekolah di Leiden tahun 1940-an atau waktu Bang Daniel yang lain sekolah pada tahun-tahun sebelum ada internet, pasti saya nelangsa betul. Saya amat berterima kasih pada penemu internet dan penerusnya yang menemukan email, live streaming TV, facebook, blog, ide untuk online media yang luar biasa cepat proses pemutakhirannya, yahoo messenger, skype, dan segala perangkat ngobrol di dunia maya. Dengan adanya semua itu, saya kira bagus juga saya ada di sini. Saya jadi pengamat yang cukup well-informed.
Kadang emosi tak terbendung. Tapi saya sudah menemukan penyaluran: menulis! Saya jadi luar biasa produktif menulis belakangan ini. Tentu saja "luar biasa produktif" itu dalam ukuran saya, pasti sebenarnya masih cukup culun sebenarnya dibanding para senior penulis yang saya panggil "pabrik kata-kata". Yang jelas, "enerji marah" saya sekarang sudah punya penyaluran.
Ada beberapa waktu saya nggak kuat menahan "enerji marah" ini. Ini sebenarnya dari dulu. Makanya punya blog, cuma sekarang yang saya maksud "menulis" itu lebih banyak dipublikasikan ketimbang di blog ini.
Kadang saya pikir "enerji marah" atau kegelisahan ini seperti kutukan. Kutukan kaum intelektual dan orang yang tergugah. Kalau enerji marah saya lagi besar, saya suka iri luar biasa pada teman-teman saya yang hidupnya sama sekali nggak terganggu dengan peristiwa-peristiwa politik di sekitarnya atau pada mama dengan kesederhanaannya dalam memandang hidup.
Anyway, kembali ke soal gera'an itu. Ya saya sebetulnya gembira. Tapi dalam diskusi online dengan beberapa aktivis senior, kami bicara soal enerji yang bisa diolah menjadi gerakan yang lebih besar dari peristiwa belakangan ini.
Tapi saya sudah kemukakan kekuatiran saya, ini klise: kita nggak punya stamina! Sedikit lebih lama lagi, plus dininabobokan dengan harapan-harapan palsu dari penguasa, enerji kita akan habis. Enerji mereka seakan tak terbatas, sedangkan enerji kita luar biasa terbatas. Bahkan ketika barusan chatting dengan kawan aktivis "kurang senior" :-), dia sudah bicara soal LSM yang mungkin sudah mulai kehabisan napas karena "program harus jalan". Ya pasti. Nggak bisa dihindari.
Makanya saya nggak optimis ini akan bisa jadi sesuatu yang besar. Kecuali kalau ada eskalasi yang sangat cepat. Seperti 1998 dulu. Kalau percepatannya selambat ini saya kira dia akan layu sebelum berkembang. Mungkin dia akan menjadi satu momentum sejarah reformasi hukum yang menarik, tapi tidak lebih besar dari itu. Tapi bagaimanapun saya senang karena akhirnya segala hal soal mafia peradilan yang dulu masih seperti setengah mitos sekarang jadi benar-benar nyata. Dan saya makin jatuh cinta pada MK hehe. Tapi lepas dari soal layu sebagai gera'an, saya kira ini peluang bagus untuk para pendorong pembaruan hukum. Kalau dia gagal menjadi gerakan sosial, paling tidak menurut saya para pendorong pembaruan hukum harus mampu membuatnya menjadi penggerak roda pembaruan hukum besar-besaran. Ini saatnya! Dan kita harus bergerak strategis, atau kita akan kehilangan momentum ini!
Tuesday, September 01, 2009
Sisa makan siang kemarin
Dari ribuan topik ngobrol dalam sehari dengan Arlene kemarin (that's why I love talking to her!), salah satunya adalah soal health care reform Obama. Saya sudah tulis sedikit di face book, bukan tentang isi kebijakannya, tapi soal politiknya. Saya cukup tertarik dengan dorongan untuk bipartisanship. Tapi ada dua hal yang menarik yang dikemukakan Arlene, sebagai pendukung total partai demokrat :-) dan sebagai pengamat politik amatir-namun-canggih yang pengalamannya luar biasa karena sudah melalui sekian jaman :-).
Pertama, menurut Arlene Obama kejawa-jawaan karena terlalu lama tinggal di Pulau Jawa (jakarta) dan punya bapak angkat orang Jawa. Haha. Saya terkekeh-kekeh mendengarnya. Bipartisanship menurut Arlene adalah kelemahan besar Obama yang mau membuat semua senang. Sounds familiar kan? :-) seperti sby. Akibatnya dia plintat plintut. Keluarannya nanti adalah kebijakan yang tidak radikal seperti yang "seharusnya" (menurut pendukung pembaruan) dikeluarkan. Bayangkan kalau dulu kami, kata arlene, mengkompromikan civil rights dan diskriminasi rasial dengan kaum konservatif, seperti apa bentuk civil rights-nya?? Civil rights bipartisan: orang kulit hitam boleh pergi ke sekolah yang sama dengan kulit putih tapi duduk di bis tetap harus di belakang? Hmm.. she's got a point. Dan dalam kasus health care di amrik yang sudah akut ini (sebenarnya lebih parah di indonesia :-)), perombakan radikal diperlukan. Dan kalau kebijakan bipartisan yang diambil, nanti keluarannya bisa dipastikan akan berupa kompromi dan akhirnya "cupu" lagi.
Perspektif yang menarik. Karena justru dalam refleksi awal saya, saya pikir upaya untuk merangkul "minoritas" itu penting. Salah satunya saya kaitkan dengan perbincangan romo andang soal legislasi sebagai titik kompromi, yang juga jadi urat nadi "sorelam", paling tidak dalam versi saya. Tapi kalau memang yang berkuasa adalah yang "pro-rakyat" (for whatever that means) dan yang minoritas adalah kaum konservatif kapitalis atau hantu belau, maka apa perlu kompromi itu dibangun? Tentu kita bisa bilang, kalau cara berpikirnya begitu maka bahaya sekali kita tidak bicara sistem/ proses yang baik (netral) tapi bicara soal kepentingan. Iya, tapi apa iya kita (saya) mau terus "netral"? (netral itu apa sih kak?).
Tidakkah demi kebijakan radikal yang pro-rakyat kompromi ditinggalkan saja? apalagi kompromi dengan kaum kecoak itu. Apakah kita mau setia pada gagasan soal "proses demokrasi" atau pada cita-cita tentang kesejahteraan rakyat?
Misalnya nih, posisi pemerintah untuk pengadilan tipikor adalah menempatkannya pada pengadilan umum, hakim ad-hoc ditentukan, dan pembentukan di Jakarta (paling tidak Jakarta dulu), barangkali saya akan bicara lantang (meski "secara hukum tata negara" itu tidak betul) mendukung pak profesor yang bicara lantang hari ini di kompas: hentikan saja pembahasan ruu dan keluarkan perpu! Tapi kan enggak, saya dengan sadar memilih membantu krhn dari seattle untuk lobby mengubah si ruu karena saya tau posisi pemerintah.
Kebetulan belakangan ini saya juga lagi berpikir soal kawan-kawan yang setia pada perjuangan di lapangan versus kawan-kawan (dan saya) yang terengah-engah bekerja dengan kaum elite dan birokrat. Juga pada cercaan pada demokrasi liberal dalam diskusi-diskusi internet sebelah kiri. Barangkali karena pergulatan pemikiran soal disertasi dan kondisi politik yang unik di indonesia saat ini.
Maka gugatan-pada-diri mulai bermunculan lagi. Apakah saya bekerja di sini karena pragmatisme belaka? Sepertinya mulai ada inkonsistensi yang parah antara cara pandang dan cara bekerja saya. Barangkali karena saya mulai jadi bagian dari elite. NGO adalah kelompok elite baru (itu bagian dari tesis saya).
Kedua, arlene juga berfleksi soal bagaimana media mempengaruhi persepsi soal kebijakan. Setuju berat. Tapi yang memantik sel kelabu otak saya adalah perbandingan arlene pada kondisi 10-20 tahun yang lalu. Sekarang dengan internet yang unstoppable and to some extent "unsensorable" (hah, ada nggak ya kata itu? :-)) dan berita 24 jam dalam sehari, dia bandingkan dengan kondisi di mana orang mengetahui berita dari koran pagi atau sore.
Media membungkus isu-isu politik sebagai "entertainment" karena entertainment lah kunci dalam akumulasi modal dalam industri media. Amrik, Indonesia, sama saja. Health care reform yang memang tak mudah, dibungkus oleh media menjadi beberapa kata yang eye-catching namun kadang misleading: death panel, obama leads us to socialism, Nazi policy, etc. Sama saja. Di indonesia juga perdebatan di media sering nggak jelas. Masalahnya JUSTRU media yang membentuk persepsi. Tanpa baca sebuah kebijakan, orang dengan mudah menelan apa saja yang dibacanya di koran pagi sambil nyeruput kopi, internet di sela kerja. Yang parah kalau berita dari face book dan twitter (kayak gue dooong suka ter-update gara2 face book :-)) juga langsung ditelan begitu saja.
Dan kemudian saya jadi berpikir tentang orang-orang yang tak punya akses informasi. Jangankan internet, beli koran juga enggak. Mendingan uangnya dipake buat beli makanan. Padahal nanti mereka ini yang kena dampak kebijakan dan nggak punya pilihan ketika terjepit seperti laiknya kelas menengah kaum borjuis seperti saya ini, yang kerjanya cuma cuap-cuap di blog dan di ruang diskusi. Hah!
Friday, August 28, 2009
Suku Perut Buncit
Saya harus hadapi semuanya sendiri. Belanja dan bawa barang berat-berat dari u-village atau int'l disctrict sendiri; jalan kaki atau naik bis (maklum nggak punya mobil, krn hidup sendirian dan tinggal dekat kampus, lebih mahal kalau punya mobil). Semuanya mesti saya lakukan sendiri: mulai dari belanja jauh2, masak, cuci piring, vacuum cleaning sampe nungging-nungging :-), merawat pot tanaman gw tersayang, nginstall cable modem, ganti bohlam, ngegosok kamar mandi, mbersihin dapur, dll. Nggak ada tuh yang manjain, mijitin kaki, ngambilin minum :-).
Memang dulu bininya si engkoh juga selama hamil anak pertama ditinggal sekolah. Tapi paling tidak dia di Jakarta, ada keluarga yang menopang perubahan biologis dan psikologis kehamilannya; serta pembantu yang mengerjakan pekerjaan rumah. Nah gw?? :-) Yang saya ajak sharing soal perasaan dan perubahan tubuh pun nggak ada; hanya dokter saya, Arlene, dan telepon-telepon internasional ke FF dan mama; plus ngomong sama perut saya sendiri kayak orgil :-). Saya baru ngaku ke "gank ibu2 seattle" minggu lalu. Kenapa begitu? Bukannya saya pura-pura menjadi superwoman atau pregnant in denial, tapi ini karena persoalan pelik sebagai anak emas supervisor yang ditempeli seribu harapan di jidat. Sebenarnya supervisor saya sudah pernah memberi tanda-tanda (meski tidak eksplisit) bahwa dia nggak mau saya hamil selama sekolah. Maka orang di kampus sampai sekarang belum ada yang tau karena saya masih tahan berita ini sampai saya ketemu supervisor saya (saya baru akan ketemu dia minggu depan, ketika prospektus saya sudah jadi).
Ngidam
Soal ngidam. Dari dulu saya kurang percaya dengan konsep ngidam. Menurut saya itu hanya psikologis. Tapi saya tidak mau gembar gembor karena saya pikir tidak fair bilang begitu selama saya belum pernah merasakannya. Namun akhirnya saya sekarang bisa bicara lantang: ngidam adalah cermin kemanjaan! :-). Jangan marah ya untuk yang ngidam :-). tapi saya punya kesimpulan berdasarkan riset pustaka :-) dan pengalaman, bahwa ngidam itu adalah pengaruh psikologis dan budaya. Tapi secara biologis sebenarnya tidak ada.
Saya sempat browsing dan memang ada perdebatan akademik tentang itu. Bisa jadi "ngidam" itu mekanisme tubuh untuk mengingatkan kita akan kekurangan suatu zat yang dibutuhkan si jabang bayi. Tapi, kata artikel itu, kalau itu isunya, kenapa ibu hamil nggak semuanya ngidam brokoli dan jus apel aja? Malah ngidamnya (kl di amerika) es batu atau acar timun (kl di Indonesia ya itu: tahu sumedang lah, toge goreng tapi yang harus di tempat tertentu lah, dll).
Saya senang efek psikologis dan kemanjaan saya bisa saya kalahkan dengan rasio saya soal kondisi saya yang sendirian dan sedang sekolah. Efek bagusnya saya jadi suka masak karena nafsu makan berkurang total dalam 3 bulan pertama (berat badan saya turun 4 kilo dalam 3 bulan pertama). Jadi
suka masak karena saya ingin memaksa diri sendiri untuk makan :-). Saya betul-betul lebih rajin masak dan berpikir soal asupan makanan saya sekarang. Snacking saya selama di Seattle lebih sehat sekarang: mozzarella stick, apple slices, baby carrots, dan buah2an lainnya. Dan tiap hari saya juga makan buah dan jus sayuran (ada V8 di sini, jus sayuran di botol, my best friend! :-)). Belanja juga lebih terkoordinasi :-) semua makanan organic dan makin jarang beli makanan jadi yang sangat didoyanin orang amrik. Hanya saja semua ini jadi lumayan kacau begitu di Jakarta sebulan: makanan organic susah didapat, polusi gila-gilaan, dan makanan enak namun ber-MSG bertebaran di mana-mana.. mana gw tahan?? :-)
Duh, "ibu-ibu" banget deh cara mikir gw sekarang pokoknya :-P. Mama sampai nggak percaya. Dan ff cengar cengir bahagia (mungkin dia pikir: akhirnya bini gw sadar juga selama ini dia hidupnya kacau sekali dengan junk food, rokok, alkohol, kopi, goreng2an, mie melulu, makanan superpedas, dll :-)). I miss my cigarettes, wine, beer, my favorit vodka tonic, and mostly coffee, but I can wait lah.. ;-P
Efek Samping :-)
Efek buruknya ada pada sekolah saya. Saya sangat distracted dengan kehamilan ini. Saya lebih sibuk belanja, masak, dan baca-baca buku soal kehamilan dan anak daripada mengerjakan disertasi saya. Efek biologis juga kurang bagus. Saya kadang jatuh tertidur begitu saja ketika sedang membaca buku. Belum lagi mood swing yang membuat saya kadang seharian tidak bisa menulis atau membaca apa-apa.
Jadwal sekolah saya juga semua harus diubah dan disesuaikan. Saya harus meminggirkan rencana fellowship di Leiden yang sudah saya atur dengan indah dengan Pak JMO. Juga visits ke Melbourne, Sydney dan UC Berkeley yang sudah saya janjikan dengan Pak TL, SB, dan DC. Bahkan sepertinya saya harus menunda magang saya di kantor Senator Murray di DC :-(. Waktu saya akan "terbuang" minimal 6 bulan. Saya HARUS general exam sebelum November ini berakhir. Kalau tidak saya bisa-bisa lulus dalam 5 tahun, tidak 3 tahun seperti ambisi saya (dan supervisor saya).
Tapi saya menikmati ini semua. Saya menunggunya sejak lama. Saya menundanya tiga tahun semata karena saya terlalu menikmati pekerjaan dan sruntulan saya yang menarik itu; egoisme saya. Sebelum saya ke sini, kerja adalah prioritas nomor satu saya, bahkan di atas ff.
Waktu kawan-kawan saya, yang anaknya sudah besar-besar sekarang, tidak tidur karena menjaga bayinya; saya juga tidak tidur untuk kerja di kantor, pulang kantor jam 5 pagi. Waktu kawan2 saya harus ngantri untuk imunisasi bayinya di RS, saya ngantri di airport untuk tour of duty. Waktu kawan saya ngobrol dengan anaknya, saya me-lobby anggota DPR sampai jam 11 malam atau memantau rapat DPR sampai jam 2 pagi. Waktu kawan saya terbangun pagi karena anaknya nangis, saya juga harus bangun untuk pesawat paling pagi, wawancara pagi, atau early breakfast meeting sama boss2. Waktu kawans saya mungkin menikmati waktu dengan keluarganya; saya merenungi hidup saya yang ajaib sambil merokok, kadang sambil mengeluh dan mengusap air mata (ini sblm ketemu ff ;-)), menyeruput kopi dan tetap ngedit atau bikin makalah di smoking room sampai jam 4 pagi (bukan karena kerja tak efektif tapi siang-sore selalu penuh dengan meetings, lobby, wawancara dan jadi pembicara). Waktu kawans saya mengeloni anaknya di pelukan ketika weekend, saya pulang maen basket ganti baju dan terus clubbing sampai jam 7 pagi (work hard, party hard used to be my motto :-P) atau tetap rapat koalisi di hari Minggu.
Sekarang giliran saya, kawans. Saya sengaja keluar dari itu semua, meninggalkan Jakarta yang gila; tiba di sini, untuk belajar, berefleksi atas semua itu, dan bercengkerama dengan (calon) anak saya.
Dari dulu saya ingin punya anak. Walau saya cukup gila-rencana, kadang jiwa impulsive saya bilang saya mau punya anak di tengah kesibukan saya yang gila di Jakarta, tapi ff adalah penyeimbang yang luar biasa. Dia yang selalu mengingatkan bahwa kami berdua tidak ingin punya anak yang diurus pembantu atau ortu. Maka kami menundanya sampai kami di sini. Tiga tahun. Tepat 3 tahun; pada saat kami pertama kali mencoba setelah pada dinner ultah perkawinan ke-3 di DC kami memutuskan untuk mulai mencoba (I'll spare you the details lah ;))).
Kamu sangat dinantikan, anakku. Itu yang selalu saya katakan padanya, pada perut buncit saya yang kini sudah bergerak-gerak. Lima bulan dia sekarang. Begitu banyak harapan kami: supaya kamu pintar, sehat, cantik, dan segala macam. Apalagi
saudara-saudara gw yang dodol yang omongannya selalu soal selebriti setengah bule yang terkenal... aduh! Enggak, kamu nggak harus menjadi itu semua. Cukuplah buat kami kalau kamu sehat, cerdas, dan berani. Kamu boleh jadi apa saja. Kami akan tetap mencintaimu, tanpa syarat.
Thursday, July 30, 2009
Aktivis BB
Tapi belakangan ini saya merasa banyak yang betul-betul terlena oleh teknologi. Yang saya maksud di sini bukan pekerja berinternet yang saya sebut di atas, tapi juga orang-orang yang sebenarnya bisa dikategorikan aktivis. Bukan lagi selemah-lemahnya iman, tapi memang betul gerakan jadi lemah. Banyak yang mengaku geram dan bekerja, namun sesungguhnya hanya bekerja di balik layar internet. Menjadi "aktivis" hanya di blog, face book, atau twitter. Ada yang mengeluhkan hal yang sama dengan yang sedang saya tulis ini tapi kenyataannya gerutuannya berhenti di blog dan face booknya. Demonstrasi tetap kosong. Media discourse tetap didominasi oleh orang yang sama dan data yang hanya bergeser sedikit.
Saya tidak mau bilang kerja di balik meja itu lebih rendah dari turun gunung: mengorganisasi aksi, bicara ke media dan public, atau rajin ketemu decision makers. Memang mesti ada juga yang menggugah "kaum elite internet" yang berhubungan dengan dunia nyata hanya lewat netbook dan blackberry atau iphone, via face book, twitter, dan segala hantu belau itu. Walau hasilnya barangkali tidak langsung, tapi kelompok "selemah-lemahnya iman" tetap harus digarap untuk membangun "kesadaran". Tapi "the truth is out there", kalau kata x files. Kerja di belakang meja juga harus dikomunikasikan luas, dibuat menjadi discourse yang lebih besar. Data yang sesungguhnya luar biasa menarik jangan hanya ditimbun di perpustakaan dan jadi daftar hasil karya di CV dan organization profile.
Kadang-kadang saya merasa banyak teman yang masturbasi belaka di dunia maya. Puas dan merasa berhak marah pada kaum "selemah-lemahnya iman" tadi hanya karena mereka aktif di internet dan rajin menulis di media yang hanya bisa
dibaca orang yang punya internet. Yang bicara pada decision makers, yang membangun discourse di media dan decision makers, yang membawa discourse ke dunia internasional untuk advokasi, yang bicara pada orang-orang biasa yang tak berinternet, yang bekerja tanpa mengejar dana donor yang tidak terlalu sesuai dengan program kerja: ya masih sama saja. Dari segi jumlah nambah sedikit (I started to like these young activists). Tapi tiga minggu ini di Jakarta, kadang saya capek berada di tengah "aktivis blackberry" ini.
Friday, July 03, 2009
Di Restoran
Teliti dengan detil dan bumbu itu luar biasa penting. Jangan pernah kompromi dengan bahan! Beberapa restoran yang dulu saya suka sekarang saya tinggal karena mulai mengganti bahan-bahan dengan yang lebih murah agar lebih banyak untung (atau supaya tidak menaikkan harga). Rajin eksplorasi dan kreatif juga penting. Jangan berhenti pada pola penyajian dan makanan samping yang itu-itu saja. Rasa memang perlu konsisten, tapi banyak hal yang bisa dieksplorasi.
Fokus juga sangat krusial. Ini sebenarnya untuk semua pekerjaan. Hasil kerja tidak akan maksimal kalau semua hal mau dikerjakan. Beberapa bisnis besar bisa sukses ketika dia akhirnya membuat divisi-divisi atau bahkan memisahkan anak-anak usahanya menjadi anak perusahaan. Sebagian menjadi raksasa usaha, ya tidak masalah asal dengan cara sehat. Tapi fokus itu memang penting. Kalau satu dapur mau dicampur untuk masak segala macam mulai dari pecel sampai steak sampai korean barbecue dan rawon kucing, dijamin lama-lama orang kabur.
Para juru masak bisa kehilangan kedalaman, keahlian, dan kreativitas karena begitu banyak yang harus ditangani. Juru masak perlu juga waktu refleksi untuk berpikir mengenai masakannya dan kreativitas apa yang bisa dilakukannya supaya masakannya tetap enak dan menggiurkan. Jangan sampai juru masak jenuh dan kehilangan kecintaannya pada memasak (saya percaya para juru masak terkenal memilih pekerjaannya karena cinta, bukan sekadar cari uang) karena restoran terlalu berorientasi pada keuntungan. Pada suatu titik, rasa juga bisa menjadi tidak konsisten dan kurang enak karena terlalu banyak pekerjaan.
Ketika suatu restoran sudah terkenal, memang berat untuk memilih. Rasanya semua pasti bisa dikerjakan demi keuntungan yang besar. Ya tentu saja bisa. Tapi percayalah, hasilnya tidak akan maksimal.
Kalau untuk restoran kecil atau warung yang biasa kita kunjungi di sekitar kantor mungkin manajemennya sederhana. Tapi kita bisa lihat dari berbagai acara travel channel dan juga film :-) (mis. no reservations dan ratatouille :-)) bahwa manajemen dapur restoran yang profesional itu sebenarnya rumit. Ada chef, sous-chef, Expediter, Chef de Partie, sampai Commis, yang cuma "anak magang". Semua ada spesialisasinya. Bahkan ada kitchen assisstants yang bukan ahli masak dan kerjanya sangat fokus. Misalnya mengupas kentang, atau memotong wortel. Atau bahkan mencuci setiap barang yang baru kelar dipakai masak oleh chef dan sous-chef (nah, ini juga ketelitian, biar rasa nggak bercampur). Ada pembagian kerja yang jelas dan spesialisasi. Ini penting.
Terakhir, konsistensi, ini yang susah banget. Faktornya banyak, termasuk hal-hal di atas: teliti dengan detil dan fokus. Faktor lainnya: memberikan pelatihan pada juru-juru masak yang baru masuk. Restoran atau rumah makan yang bisa bertahan puluhan tahun biasanya mempunyai kaderisasi yang baik. Kalau semua anak baru dibuat sibuk cari uang tanpa sempat "dikader", lama-lama kualitas makanan akan menurun dan tidak akan ada lagi yang datang ke restoran itu.
Akhirnya (padahal katanya di atas sudah yang terakhir...:P), yang paling penting dalam memasak adalah "passion". Kita bisa saja menyebutnya dengan kecintaan, kesukaan, atau apapun. Alasannya juga boleh beragam. Kita bisa saja masak "hanya" karena cinta pada keluarga (tidak komersial), supaya keluarga makan sehat dan (mudah-mudahan :-)) enak. Atau memang hobi masak dan mau hidup dari situ dan karenanya membuat restoran. Atau karena ingin melestarikan masakan khas keluarga. Apapun, tapi ada "kekuatan" di dalam diri kita yang mendorong kita memasak. Bukan semata sebagai "robot penghasil masakan". Menurut saya inilah yang akan membuat masakan terenak, konsisten kualitasnya, dan produknya dicintai banyak orang (barangkali karena orang juga jadi bisa merasakan "cinta" yang dituangkan dalam masakan itu).
Sama, penelitian menurut saya juga seperti itu. Dan p, menurut saya, mestinya seperti itu.
Saturday, June 20, 2009
Manusia-Manusia Bingung
Baru satu minggu diresmikan, sebanyak 46 lampu penerangan Jembatan Suramadu di bagian bentang utama atau main span telah hilang. Sebelumnya, beberapa mur pagar besi di pinggir jembatan yang berfungsi sebagai pelindung motor juga hilang. Parahnya, ditemukan beberapa goresan pisau di cable stayed yang berfungsi menahan dua pilar utama Jembatan Suramadu.Di atas adalah cuplikan berita dari kompas.com. Saya geleng-geleng kepala. Selalu tidak habis pikir: ada apa dengan manusia-manusia di Indonesia? Begitu egois. Tidak memikirkan keselamatan orang lain dan tidak memikirkan manfaat sebuah fasilitas publik yang pastinya juga akan bermanfaat untuk dia dan keluarganya.
Kita semua tahu, jembatan Suramadu ini bukan satu-satunya cerita. Jembatan Ampera di Sungai Musi juga sama. Begitu pula fasilitas umum lainnya: bantalan rel kereta, lampu jalan, dll. Dan yang paling mudah dikenali: para pengendara kendaraan bermotor (motor dan mobil, dua-duanya) di kota-kota besar, terutama Jakarta. Berapa rekor banyaknya orang yang ada di satu sepeda motor yang pernah kita lihat? Di luar kampanye dan iring-iringan FPI ya :-). Saya pernah lihat lima orang! Menyalib mobil, belok dan memotong laju kendaraan orang seenaknya; ini sudah sangat biasa kita lihat di Jakarta.
Untuk disiplin lalu lintas, saya mau menyalahkan sistem pemberian SIM dan pelaksanaan UU Lalu Lintas yang korup. Contoh kecil saja, coba bikin survey, siapa yang mengerti konsep "right of way" di antara orang yang setiap hari menyetir mobil di Indonesia. Saya yakin jumlahnya amat sangat kecil. Sejujurnya saya juga awalnya tidak paham konsep itu, sampai saya harus menyetir di luar negeri. Yang dulu saya tahu: kalau kita bisa belok atau ada jarak yang cukup untuk memotong antrean panjang, maka saya "berhak" masuk (kalau kelamaan juga mobil di belakang juga akan klakson-klakson berisik karena nggak sabar). Tinggal kasih lampu sign atau kasih tangan. Contoh kecil lainnya: bikin survey lagi siapa yang memahami dan mematuhi marka jalan? (garis putus-putus, dua garis sejajar, dll). Jangankan pengemudi, kelihatannya pengelola kota juga merasa marka jalan kurang penting. Di banyak jalan raya di Jakarta marka itu pun sudah nggak ada! LOL.
Tapi memreteli jembatan itu luar biasa. Saya nggak habis pikir apa mereka nggak memikirkan akibatnya jembatan itu bisa rubuh dan ratusan orang (mungkin termasuk keluarganya) bisa mati?
Isunya ada dua: egois (self-centred) dan konsep "selamat".
Saya yakin ada analisis ilmiah mengenai society yang sakit ini. Tapi untuk isu egois, pikiran sederhana saya menyalahkan kondisi struktural: pemajuan masyarakat yang terlalu cepat terutama di kalangan masyarakat urban. Orang-orang yang seenak udelnya sendiri, tidak peduli pada orang lain, mau mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri secara membabi buta; itu semua terdorong oleh pemajuan yang terlalu cepat yang tidak diimbangi oleh pendidikan yang baik. Haha do I sound like Megawati yang bodoh menjawab pendidikan sebagai kunci pemberantasan korupsi dalam debat presiden dua hari lalu??
Enggak, maksud saya begini: "kesadaran" (kognisi) itu lahir dari proses belajar. Kalau "proses" ini (internalisasi, eksternalisasi, dst) dilewatkan dan tidak diberi perhatian sama sekali sementara dunia sekeliling berubah cepat, maka yang tercipta memang hanya manusia-manusia bingung yang tidak memahami dan menyadari keberadaan dirinya di antara manusia-manusia, barang-barang, mahkluk-mahkluk, dan sistem di sekitarnya. Lingkungannya. Hakekat manusia sebagai mahkluk sosial jadi menipis. Pusat dunia manusia-manusia yang bingung adalah dirinya sendiri.
Dan manusia-manusia bingung seringkali ada di negara-negara "berkembang" (oh how i hate this categorisation :-)) karena pemajuan di negara berkembang seringkali instan dan artifisial. Bukannya saya "sok kebarat-baratan", tapi ini adalah masalah "pembangunan" yang punya dampak struktural. Salah satu penyebabnya ya "barat" juga :-P. Developmentalism, neoliberalism, capitalism, segala macamlah istilah yang kita bisa pakai. Yang jelas, kemajuan yang dicapai di Eropa selama tiga atau empat abad dicangkokkan di negara-negara "baru" seperti Indonesia hanya dalam waktu satu atau dua dekade. Masyarakat agraris yang tenang dan menghargai alam dipaksa secara instan menjadi masyarakat industrialis. Terang saja hasilnya adalah manusia-manusia kota yang bingung.
Nilai-nilai "asli" yang ada di masyarakat nusantara sejak jaman dulu sebenarnya juga sosial. Menghargai alam sekitar. Makanya nilai-nilai ini masih ada di desa-desa yang belum tersentuh pemajuan instan itu. Atau sudah tersentuh, namun beberapa kalangan di masyarakatnya terengah-engah mempertahankan nilai-nilai yang sering diistilahkan dengan cantik "kearifan lokal". Misalnya jadwal berburu ikan paus yang mengikuti pola biak ikan paus. Atau pola pengambilan hasil hutan yang mengikuti pola tumbuh tanaman supaya hutan tetap lestari. Sebagian dipelihara dengan mitos. Seperti kemarahan dewa-dewa atau nenek moyang. Atau kegagalan panen. Dan seterusnya.
Dalam masyarakat modern, "reason" adalah dewa, tuhan. Rasio. Maka mitos kemarahan dewa digantikan dengan hukum yang diaplikasikan penguasa. Tapi apa yang terjadi kalau hukum tidak berfungsi? Yang jadi masalah adalah masyarakat modern yang instan juga mau menggunakan hukum untuk menata hidupnya, tapi sifat instan ini juga terjadi pada institusi-institusi hukumnya. Institusi hukumnya tidak seperti yang diharapkan. Membandingkan institusi hukum di negara maju dan negara berkembang ibarat membandingkan buah matang di pohon dan buah matang karbitan.
Nggak ada solusi instan buat masalah ini. Karena ini masalah sosial yang akut dan struktural. Proses kognisi memang perlu dalam masyarakat yang berubah cepat. Plus juga mengimbangi pemajuan instan ini dengan pembenahan institusi-institusi masyarakat.
Isu kedua adalah konsep "selamat". Kenapa juga banyak orang Indonesia yang meremehkan konsep "keselamatan"? Saya sendiri bingung kenapa saya pertama-tama menggunakan kata "keselamatan"; dan bukan "keamanan" (safety). Tapi justru karena pilihan kata itu saya jadi berpikir bahwa di benak banyak orang Indonesia, termasuk saya, seringkali isunya adalah keselamatan, bukan keamanan. Kata "keselamatan" punya asosiasi dengan "keberuntungan" dan "takdir." Dan bukan sesuatu yang dapat dicegah dan diatur oleh manusia sendiri. Kehendak tuhan.
Begini maksud saya. Dalam pengertian KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), "selamat" mempunyai makna seperti itu. Terbebas dr bahaya, malapetaka, bencana; terhindar dr bahaya, malapetaka; bencana; tidak kurang suatu apa; tidak mendapat gangguan; kerusakan, dsb; sehat; tercapai maksud; tidak gagal; doa (ucapan, pernyataan, dsb) yg mengandung harapan supaya sejahtera (beruntung, tidak kurang suatu apa, dsb). Sedangkan keamanan (kata dasar: aman) mengacu pada sesuatu yang aktif "dibuat" oleh manusia.
Bagi banyak orang Indonesia, seperti yang sering disebut-sebut: hidup, mati, dan jodoh (haha) ada di tangan tuhan. Jadi kalau orang mati waktu naik motor nggak pakai helm, maka ya itu sudah takdir. Meski sebenarnya itu bisa saja dicegah kalau orang itu pakai helm dan nggak ngebut atau menerobos lampu merah. Balita dibawa naik motor sambil berdiri (saya pernah melihat seorang bapak pengendara motor yang meletakkan anaknya yang masih kecil di depannya, berdiri, nggak pake helm atau apapun, di jalan raya) atau anak kecil yang diajak "main nyetir" sama ortunya dipangku ketika si bapak/ibu nyetir; itu nggak apa-apa karena kalau ada kecelakaan ya itu sudah takdir. Mereka hanya ingin membuat anaknya tertawa riang dan bangga. Tanpa menyadari betapa berbahayanya aksi itu (di sini bahkan kalau pulang dari RS Bersalin Ortunya belum punya kursi bayi di mobil bakalan dipinjamkan atau kalau nggak mampu ada yayasan khusus yang memberikan kursi bayi itu secara cuma-cuma).
Saya sempat terpikir juga soal kondisi alam Indonesia yang nyaman yang membuat orang Indonesia cenderung tidak membuat "rencana ke depan". Ketika merasakan musim dingin yang berat di sini saya jadi memahami bagaimana orang eropa dan amerika punya perencanaan yang matang dan konsep asuransi (konsep asuransi di Indonesia juga kurang populer, baru-baru saja mungkin generasi saya). Orang dipaksa berpikir: apa yang bisa saya lakukan besok? Bagaimana supaya saya dan anak saya nggak mati kedinginan besok? Oh saya harus menyiapkan makanan untuk sebulan; atau oh saya harus membuat rumah yang juga akan tahan di musim dingin. Bandingkan dengan di Indonesia, kalau bicara "alam" (jangan bayangkan situasi kota masa kini dan masyarakat urban, saya bicara "aslinya"), kita sebenarnya cenderung mudah untuk makan "apa saja" dan survive. Apapun tumbuh di tanah nusantara yang subur dan hanya kenal musim panas dan hujan.
Barangkali kemanjaan orang Indonesia karena alamnya adalah salah satu faktor juga yang membuat kita tidak begitu terbiasa berpikir jauh ke depan dan berpikir akan "keamanan" yang bisa kita buat. Tapi konsep "takdir" buat saya adalah placebo yang efeknya sangat berbahaya dan faktor kemanjaan itu sebenarnya nomor sekian. Percaya tuhan ya silakan saja, tapi segala kegagalan dalam hidup ditimpakan pada tuhan, kapan manusia bisa berusaha untuk dirinya sendiri secara riil?
Sunday, May 31, 2009
Muak
Saya merasakan kemarahan dari jauh itu lagi. Barangkali ini bagus untuk semangat saya yang luar biasa menurun. Untuk apa saya di sini? Jawabannya dari dulu sama. Jawaban yang saya temukan ketika pada suatu ketika saya berjalan di pematang sawah di rumah mbah gombak di bogor. Akhirnya saya menemukan jawaban kenapa saya lahir dan hidup: untuk berguna bagi orang lain! Seperti halnya segala sesuatu di alam ini: hadir untuk menjadi satu kesatuan dengan ruang, dengan mahkluk-makhluk lain di sekitarnya, sebelum kemudian dia mati. Saya ingat kaki-kaki kecil saya yang melompat kegirangan di pematang sawah itu. Penemuan terbaik dalam hidup saya, barangkali sekitar 20 tahun yang lalu.
Tapi saya masih hidup berdasarkan penemuan itu. Itu yang membuat saya memilih jalan hidup saya yang sendiri. Itu yang membuat saya menikmati berjalan kaki di kampung dekat rumah ketika saya merasa saya mulai kehilangan pegangan. Dan itu yang seharusnya membuat saya berada di sini.
Saya perlu kemarahan ini lagi. Ketika saya tak bisa ngobrol dengan teman2 DZ yang pengamen dan jualan bakwan. Ketika saya tidak bisa memandangi peminta-minta di jembatan penyeberangan di tengah gedung-gedung tinggi di jakarta yang panas. Ketika saya tak bisa ngobrol dengan ojek payung yang kehujanan dan kedinginan. Ketika saya hanya bisa tercenung membaca berita soal kandidat presiden yang menjual bantar-gebang dan porong, yang iklan tivinya memeluk orang miskin, tapi tak tahu apa yang bisa dia lakukan untuk mereka. Ketika neoliberalisme dijadikan komoditas diskusi namun orang lupa pada program mengatasi kemiskinan. Saya marah. Dan saya menangis. Barangkali saya menangisi ketakbergunaan hidup saya belakangan ini sekadar karena merasa kehilangan daya dan inspirasi untuk menulis. Stop menjadi pemalas! Atau saya bagi alam akan sama tak bergunanya dengan kecoak.
Sunday, May 17, 2009
Activists and opportunists
So I am writing this post, otherwise I won't be able to sleep.
A couple of weeks ago I discussed this topic with ff. It was because I was reading a series of face book notes of a friend in k about k and protests in 1997 and 1998. About how it all started in k and how it was when we were in dpr. The notes are rather romantic :-). A leftist (or at least claim to be leftist :-P) strange guy (who asked me "kamu independen banget ya, kamu kok kalo di foto sering sendirian sih? kamu belum punya cowok ya?" *gubrak! I replied: no, I don't have a boyfriend, but I do have a husband) said that what we had was nothing compared to some protests by labor unions that ended in some violence. Well, so what? Some people apparently think that there are "cool" protests and there are "not-so-cool" protests and the cool ones are the ones ended up with violence or martyrdom. Sigh. The notes are just a piece of history about a tiny organization in 1997/1998, that's all. The notes don't claim, even openly rejected, that that was the cause of the reformasi. It is just, well, a diary.
Anyway, the last of the series revealed some totally un-heroic stories about mr. aipama, contrary to the image he (and his friends) has been portraying. Some people commented on that part, surprised that he is apparently not the hero.
The truth is, to us in k there was no hero, that was a cause we fought together for. And we respect so much elang and other fellow students (at that time) who died for this cause. But as the notes say: Suharto resignation was the anti-climax because the "movement" was actually not mature (it was not a "movement" in a social movement way) and, thus, after May 21, 1998, we just went back to our lives: graduating, etc (and for me: setting up a new organization in June and started it in July ;-)). No body wants to claim the "fame". What for? And May 1998 was not pretty after all.
I discussed this with ff as he is writing about "where the activists are now". There are three points.
First, because the "movement" was not mature many people suddenly jumped into the scene and claimed to be the heroes (of course, it was meant to be premature by some people...) and the old players easily jumped into the scene or played safe and do appear "clean" until now. And our presidential and vp candidates are among them.
Second, I admire so much comrades that really went back to their work in organizing labors, farmers, discussions, etc and left the stage without claiming any acknowledgment (I think those are the real "activists"). But it will indeed be interesting to see that some "activists" are now MPs, state-owned company commissioner, ministers, and some are NGO workers. They chose their paths of life.
Third, it is extremely heartbreaking for me to see that some activists actually chose to support the generals and human rights abuse perpetrators. I ask bang n on face book (when he suddenly popped out to "curhat" about story from b about the money offered to mister fat ass for being vp; it's nice when information comes to you :-)): "you were also a victim, you were kidnapped, aren't you furious to see what is happening now? And I can't understand how some people are now with prabowo party or a strategist for sby??" he was just laughing and said, those people you mentioned, dear, they had never been activists anyway..." I was greening bitterly. Maybe that confirms my conspiracy theories.
Stories about movements are always nice to read: the thrill, conspiracies and romance. And movements tend to create "heroes": those who are used as the symbols of the time. But what movements actually have are activists and opportunists. One can be disgusted by the opportunists, but I guess that's how those stories should go. [big sigh]
Wednesday, April 29, 2009
Kegelisahan
Soalnya adalah kegelisahan ini tidak bisa tumbuh sendiri. Ia dilatarbelakangi oleh suatu cara pandang, apapun itu. Bisa cara pandang tentang agama (mis. negara Islam), cara pandang tentang bagaimana masyarakat seharusnya (mis. komunisme, revolusi kaum proletar), cara pandang soal keadilan. Dan kegelisahan juga harus dirawat. Orang bisa dengan mudah lari dari kegelisahannya soal keadilan misalnya. Bukan karena ia tidak lagi peduli, tetapi kepedulian itu bisa tertutup oleh keinginan akan kehidupan yang layak, keamanan diri dan keluarga, kestabilan hidup, keriaan, dan sebagainya. Silakan saja.
Tapi banyak orang yang mampu memelihara kegelisahannya sampai tua. Sampai mati. Mereka bergeming dalam cara pandangnya.
Organisasi (partai, serikat, lsm, apapun) adalah soal lainnya. Karena organisasi adalah organ bikinan orang-orang. Yang cara pandang dan kegelisahannya berbeda-beda.
Setelah Mei 1998 berlalu dan kawans jejingkrakan di kampus karena suharto mundur, kegelisahan yang tadinya saya keluarkan di k dan demonstrasi, saya keluarkan di p. Saya tinggalkan mimpi basi soal advokat perempuan sukses dan beli rumah dan mobil bagus untuk mama-papa. Untuk sebuah kegelisahan. Saya dipertanyakan. Tapi bukankah kegelisahan lahir dari cara pandang? Maka saya percaya saya telah memilih yang terbaik.
Tapi p adalah organ. P bukan saya. Maka cara pandangnya adalah cara pandang kumpulan orang-orang itu: ada yang advokat, ada yang profesor. Tapi ada kegelisahan yang sama yang membuat p lahir: ketidakadilan.
Namun kegelisahan perlu dirawat. Maka interaksi orang-orang di p dengan ketidakadilan menjadi penting. Berjumpa dengan orang yang mendapatkan ketidakadilan dan diskusi mengenai sistem yang melahirkan ketidakadilan sangat krusial untuk merawat cara pandang yang melahirkan p tadi. Bila tidak, maka p sebenarnya "dilahirkan kembali", dengan kegelisahan yang berbeda. Bisa jadi p sekarang sebenarnya kegelisahan untuk tetap "hidup", eksis, melahirkan penelitian, dengan dana cukup dan karyawan sejahtera. Silakan. Tak mengapa. Karena P adalah organ. Kegelisahan dan cara pandang P adalah kegelisahan dan cara pandang orang-orang di dalamnya yang berganti dan beregenerasi.
Namun pilihan-pilihan sebuah organ harus dibuat secara sadar, karena ada orang-orang yang punya kegelisahan yang berbeda-beda di dalamnya. Secara sadar maksud saya dalam diskusi dan perhitungan yang masak. Sebab seperti orang, organisasi juga perlu memperhitungkan sejarah (kenapa dia lahir), membaca situasi, dan memprediksi masa depan.
Saya kira saya jadi paham kenapa orang-orang yang mampu konsisten dengan kegelisahannya pada ketidakadilan kadang harus terus bekerja sendiri. Kegelisahan terus ada namun kegelisahan itu juga yang membuat mereka percaya bahwa kegelisahan "generasi baru" harus juga ditumbuhkan dan dirawat. Bila tidak kegelisahan ini lama-lama mati dan tidak ada lagi yang peduli.
Maka mereka pergi meninggalkan organisasinya -demi tumbuhkembang kegelisahan generasi baru- namun bergeming dalam kegelisahannya. Kegelisahan mereka dirawat dan diwujudkan dengan membuat organisasi baru (h, tm, dt, mas, bahkan cak pun begitu kan) atau dengan menulis dan "memprovokasi orang" (seperti mas p, gja). Mereka dipertanyakan. Kadang disinisi karena dianggap mau cari uang (funding) atau mau terus jadi ketua. Tapi saya percaya bahwa bagi mereka ini bukan persoalan "eksistensi" (tetap harus jadi ketua atau tetap harus sering nulis di koran), tapi ada kegelisahan yang perlu diejawantahkan sembari tetap menyadari bahwa kegelisahan generasi baru harus ditumbuhkembangkan.
Saya masih dipertanyakan. Atau mungkin ditertawakan (minimal dianggap menganggu, karena terlalu cerewet :-)). Tapi saya ingin bergeming (entah kuat atau tidak). Dan karenanya barangkali saya harus berpindah.
Saturday, January 03, 2009
Memori
Sore itu agak dingin di Seattle. Memasuki musim semi 2008. Tamu Arlene baru saja pulang. Seperti biasa sambil ngobrol saya membantunya membersihkan gelas dan piring kotor dan memasukkan mereka ke mesin pencuci piring.
“We were talking about cancer, her husband has to go through cancer treatment here in Seattle. So sad, I remember how I had to deal with it for Dan. It was a difficult period…. And we also talked about nursing home. Oh I really don’t want to live in a nursing home, you know.. a retirement house.”
"Yeah, Arlene, it wouldn't be nice to live among old people, feeling old, and…'"
"Yes, and realised that people around you die one by one and you started to think, when is my turn?? Even here I feel that way, b. My neighbours died one by one, and also friends of Dan and I…”
Malam ini, beberapa bulan kemudian, di apartemen saya di 22nd avenue north east. Salju baru meleleh. Saya teringat dua momentum itu. Yang terpisah ribuan kilometer dan puluhan hari. Tapi perbincangan saya dengan Arlene tentang masa tua masih sangat berkesan. Setiap saya melihat orang tua berleha-leha di depan rumah jompo di dekat apartemen ini. Setiap saya melihat nenek-nenek atau kakek-kakek naek bus pelan-pelan dengan lantai bus yang diturunkan oleh pak/bu supir. Atau yang jalan-jalan sendiri dengan kursi roda bermesin. Negara-negara barat memang sangat ramah terhadap lansia dan kaum difabel. Mereka bisa keluyuran ke mana-mana sendirian.
Arlene misalnya. Dia hidup sendiri di rumah dua lantai, dengan tangga menuju ke pintu utama rumahnya, plus sebuah basement tempat mencuci baju. Padahal dia harus menggunakan tongkat untuk berjalan. Setiap hari dia harus minum berbagai vitamin dan pain killer hanya untuk bisa jalan dan naik-turun tangga tanpa merasa terlalu sakit (dia memang lebih dulu masuk rumah sakit dan dioperasi daripada Pak Dan, meski akhirnya Pak Dan yang pergi lebih dulu). Arlene jarang masak, karena dia bilang buat apa masak kalau hanya untuk diri sendiri? Makanya Claire senang sekali saya sempat tinggal di sana. Sebab paling tidak saya jadi masak berdua Arlene, belanja untuk Arlene (sekarang dia hanya grocery shopping di amazon.com, sedih banget), dan beres-beres rumah sedikit (dia punya cleaning lady yang datang seminggu sekali, tukang sapu daun yang datang semau dia, dan tukang sampah yang bersedia naik tangga untuk mengambil sampah). Apakah itu karena anak-anaknya “durhaka”? Sama sekali tidak! Claire (dan juga Louie) sudah puluhan kali memaksa Arlene pindah atau memaksa Arlene menerima keluarganya untuk tinggal di rumah itu. Tapi Arlene selalu menolak. Privacy, kata Arlene. Saya selalu bilang: ah, ini dia different value orang barat dengan orang timur… :-), tapi yah, kita harus menghormati pilihan orang. Maka sampai sekarang saya menyambangi Arlene sesekali dan membawa makanan, gantian dengan Claire dan Howard, sekalian memberesi kamar kerja Pak Dan dan basement yang masih penuh “harta karun” peninggalan Pak Dan.
Tapi hidup Arlene yang "painful" secara fisik membuat saya tidak ingin mati tua. Tergantung pada pain killer, vitamin, kursi roda, tongkat, dan orang-orang di sekitar kita. Menjadi beban bagi orang lain adalah beban buat saya. Tapi saya kira yang paling “menyakitkan” adalah secara mental: melihat orang-orang yang kita cintai atau setidaknya kita kenal, mati terlebih dulu, satu per satu; dan membatin "kapan giliran saya?"
Dari dulu saya selalu ingin mati muda, bahkan lebih dulu dari papa dan mama. Untuk alasan yang egois sekali: saya tidak mau sedih ditinggal orang-orang yang saya cintai. Saya teringat pada “death becomes her” ataupun “highlander”. Menjadi tua itu menyakitkan karena kita melihat orang-orang meninggalkan kita. Namun ada lagi yang lebih menyakitkan: memori. Semakin banyak memori yang kita miliki. Mungkin sebagian akan hilang: pikun. Saya kira itu sebabnya manusia yang sudah tua perlu menjadi pikun. The burden of life’s memory is so damn heavy. The sweet ones and the bitter ones.
Ini yang membuat saya kemudian jadi teringat pada obrolan tentang ratusan ribu orang yang mati karena tsunami dan ribuan anak-anak yatim karena tsunami. Mereka menyimpan memori kehilangan dan bencana yang sangat besar. Tapi “bangsa” Aceh membuat “memori” baru pascakonflik. Secara tidak sengaja dibentuk oleh tsunami. Barangkali dengan cara itulah memori getir tentang perempuan-perempuan yang diperkosa serta orang-orang yang mati dipengggal dan disika karena konflik terkikis pelan-pelan. Kita bisa menangis dan “menggugat” Tuhan (bila percaya) atas matinya ratusan ribu orang dalam konflik, perang, ataupun bencana alam. Namun yang terberat adalah orang-orang dan anak-anak yang menyimpan memori tentangnya.
Manusia memang memerlukan pikun dan kematian. Bila tidak, dunia akan menyimpan memori yang luar biasa berat. Kematian membuat memori menjadi sejarah. Dan beban manusia yang hidup menjadi berkurang karenanya. Kita, termasuk saya sendiri, bisa bilang hidup ini indah. Tapi tidakkah kita (saya) menangis melihat kekejaman di Palestina, di Rwanda, di Bosnia, di Aceh, dan lain sebagainya? Lalu tiba-tiba saya merasa dunia begitu kelabu.
Ketika saya membolak balik coffee table book tentang “East Indie” atau film hitam putih tentang Hitler, olimpiade jadul, atau apa saja, saya merasa begitu kecil dalam lintasan sejarah. Orang-orang yang fotonya saya tatapi, yang tersenyum di depan kereta kuda di depan harmoni tahun 1900-an, sekarang tinggal tulang belulang. Saya juga akan menjadi tulang belulang atau menjadi debu (karena saya ingin dikremasi). Tapi saya memilih mati daripada menyimpan beban memori yang luar biasa besar, tentang hidup yang indah, kemudaan yang menakjubkan, dan orang-orang yang saya cintai yang pergi lebih dulu.
Saya jadi teringat Dorian Gray yang menyeringai tampan di depan lukisan dirinya yang tua. Kematian memang lebih baik untuk dirinya.
Monday, December 29, 2008
Ideologi
Yang jadi soal, setelah secara baik melancarkan kritik ideologisnya, b ragu-ragu menjejakkan posisi ideologisnya sendiri. Akibatnya, ia kemudian berpaku pada pandangan liberal mengenai hukum yang dikritiknya sendiri sebelumnya (hal 191).” Tulisan itu, oleh bung rbt, dikategorikan sebagai salah satu dari beberapa tulisan yang “tidak berhasil merumuskan dan menyajikan simpulan secara solid.”
Saya nggak mau berdalih dan menolak kritik ini. Kritik itu harus dikunyah, diresapi, dan ditelan; jadi energi baru, kemudian ampasnya kita buang di wc, plung, flushed! :-) Persis kayak makan lah, makanan sehat kan seringkali nggak enak :-). Soalnya, semakin banyak terpublikasi, akan semakin banyak kritik dan semakin besar kemungkinan orang nggak suka dengan kita. Seperti saya bilang pada si gendat: kalau mau selalu disukai orang, kita nggak akan pernah punya pendapat (itu gara-gara dia jerih menulis keras karena disindir dalam pertemuan-pertemuan). Ini salah satu hal berharga yang paling berat saya pelajari ketika memimpin peesahaka. Tidak hanya dalam beropini tetapi juga membuat keputusan (internal ataupun eksternal), kemudian dibenci (termasuk oleh kolega sendiri), digosipin, dihakimi (salah satu kelompok bilang saya "aktivis kolaborator asing sok sosialis" wakakak), atau disukai. Jangan dipikirin siapa yang bakal suka dan siapa yang bakal benci, keputusan harus dibuat cepat dan sikap harus disampaikan. Dan kadangkala keputusan dan opini itu salah, ya terima saja. Yang terbaik adalah belajar dari kesalahan sendiri. Bagaimanapun, menjadi “berani” itu tidak mudah. Saya masih terus menerus belajar sampai sekarang dan mungkin sampai kapanpun (baru aja ngomong sama didi soal ini). Itu sebabnya “doa” (baca: harapan) saya pada tiap jabang bayi kawan-kawan yang baru lahir via sms selalu: “semoga dia menjadi anak yang cerdas, berani, etc etc”. Orang bisa luar biasa pintar dan rajin, tapi kalau dia tidak “berani” berpendapat (verbal, menulis, beropini), maka barangkali otaknya lebih baik dibikin jadi gulai otak sama Hannibal Lecter.
Anyway, (seperti biasa saya menulis ngalor ngidul) maka saya mengorek tulisan itu di peti penyimpanan tulisan (yang sebagian tidak selesai..) dan ya, saya tahu. Saya memang selalu tidak pandai membuat kesimpulan. Sama, kritik keras bas ke tulisan saya soal reading the progress of law reform juga begitu. Saya juga seringkali tidak fokus. Terlalu banyak hal yang ingin saya sampaikan. Bercabang. Persis. Bang D juga bilang begitu. Bu V juga bilang begitu (gila, abstract tesis gw dicoret-coret total!!). Sama saja dengan ketika saya menulis blog. Saya selalu ingin mengungkapkan terlalu banyak hal dalam satu tulisan.
Tapi yang membuat saya terguncang adalah soal keragu-raguan saya untuk “menjejakkan posisi ideologis” saya sendiri. Ah! Dan yang membuat saya makin terguncang (dan agak terkapar) adalah: setelah saya membaca tulisan itu lagi, saya sadar bahwa rbt 100 persen betul!
Saya selalu mengklaim diri saya “agak kekiri-kirian”, tapi tingkah polah dan cara pandang saya seringkali sebenarnya liberal. Dalam banyak hal. Saya jadi sadar. Bahkan ketika saya pertama kali mencoba merumuskan sorelam untuk peeshaka. Astaga!
Saya kira saya seringkali menjadi liberal ketika saya harus pragmatis dan berbicara soal sistem politik yang ada sekarang. Tuh kan, justifikasi lagi hehehe (kawan-kawan di fi pasti terkekeh kekeh nih kalau saya curhat soal ini: “tuh kan gue bilang juga apa, mendingan elo gabung sama kita!”). Saya jadi ingat refleksi saya waktu diskusi sama didi soal ideologi. Saya bilang ke didi: where am I? ok, I’ll give an example. I support labor (labour!) movement conducted by my comerads, but what I could really get my hands on was when some of them actually came to me and asked me to lobby the parliament and policy makers on certain policies instead of actually organise the movement in the field." Ada nggak ya “pragmatic leftist”? Hehehe. Ah, malu deh gw sama hantunya Tan Malaka atau yang bikin film dokumenter soal revolusi Bolshevik yang barusan saya tonton.
Makasih ya bung rbt, udah nampar gue! hehehe
Thursday, October 09, 2008
Reaksi Atas Perbedaan
Ini sebenarnya sesuatu yang sering saya pikirkan, terutama ketika berefleksi mengenai diri sendiri. Soal apa reaksi saya ketika menghadapi perbedaan budaya, cara berpikir, gaya hidup, dan lain sebagainya. Saya termasuk orang yang beruntung karena sering menghadapi perbedaan-perbedaan dalam hidup saya. Ketika sekolah di inggris, perjalanan-perjalanan ke berbagai belahan indonesia dan dunia, dan bahkan hidup dengan seseorang yang punya latar belakang yang berbeda. Tapi saya tahu bahwa banyak orang yang punya situasi serupa. Namun reaksi mereka begitu berbeda.
Secara sederhana barangkali kita bisa membagi reaksi ini menjadi tiga. Pertama, menelan kultur baru mentah-mentah, menyerap dan menirunya tanpa saringan. Bahkan memujanya tanpa melihat kultur asli. Lari ke titik ekstrim budaya baru. Kedua, defensif, sehingga justru menutup diri dan lari ke titik ekstrim budayanya sendiri. Ketiga, menerimanya, menyesuaikan, mengeksplorasi, dan mencoba beradaptasi dengan tidak melupakan kultur asli. Mencoba mengambil yang baik dari kultur baru dan belajar dari sisi buruk kultur itu. Saya, mudah-mudahan, ada di kelompok ketiga. Tapi saya tidak hendak berbicara tentang saya sendiri. Saya ingin bicara soal kelompok yang defensif.
Beberapa orang (dan kawan) yang saya tahu justru bersikap “defensif” terhadap masuknya kultur baru. Mereka jadi menutup diri dan membangun benteng pertahanan yang kokoh supaya diri mereka tidak tertindas dan terbawa oleh budaya asing yang begitu merusak (menurut mereka). Contoh konkritnya adalah kawan-kawan orang Indonesia di beberapa kota yang saya kunjungi yang hanya mau kumpul dengan orang Indonesia, membuat mesjid Indonesia sendiri yang tertutup, hanya makan-makanan Indonesia (kalau kata si uni, sekolah di amerika atau eropa tapi jaketnya bau terasi hehe karena ga pernah keluar dari apartemen kecuali untuk kuliah dan ke perpustakaan, dan masak dan makan juga di situ aja). Akibatnya pulang dari luar negeri, berlawanan dengan ekspektasi, mereka tidak berbahasa Inggris dengan baik, tidak terbuka pada perbedaan pemikiran, dan dalam hal agama justru jadi lebih “ekstrim”. Barangkali sama dengan si “pemuda kupu-kupu” dalam Bilangan Fu-nya Ayu Utami.
Saya selalu menghormati pilihan orang. Namun saya menyayangkan perilaku defensif ini. Untuk apa? Mengapa perbedaan jadi begitu menakutkan? Saya belum pernah riset soal ini, saya yakin ada penjelasan-penjelasan sosiologis, antropologis, ataupun psikologis tentang ini. Tapi dari permukaan saya kira kebanyakan hal ini terjadi justru karena mereka tidak percaya diri mengenai kulturnya sendiri. Tidak percaya bahwa dirinya sebenarnya punya pijakan yang kuat pada kulturnya. Atau pada ranah agama, ada kepercayaan yang kuat dan berlebihan. Right or wrong it is the religion I believe in. Seperti sikap kawan saya yang bilang “agama tidak bisa dipertanyakan”, titik! Mungkin sama dengan salah satu alasan tumbuhnya salah satu kelompok “moslem brotherhood”: sebagai sikap defensif.
Buat saya, justru perbedaan-perbedaan ini yang membuat saya semakin merasa bahwa akar budaya saya begitu indah. Itu sebabnya saya begitu mencintai keluarga saya, kawan-kawan nongkrong saya, anak-anak kantor, keragaman di Indonesia, keragaman agama. Justru ketika saya sudah dihadapkan pada situasi di mana ikatan keluarga hampir hilang dan masyarakat yang (buat saya) tidak memiliki “kultur” tradisional. Apa yang saya miliki menjadi terlihat lebih indah dari sebelumnya.
Orang-orang yang defensif itu, kemudian biasanya cenderung menjadi penuh “prejudice”. Tidak “adil sejak dalam pikiran” kalau menurut Pram. Penuh dugaan dan penghakiman. Dugaan kadang kita perlukan untuk kewaspadaan. It can be a matter of survival. Tapi bila dugaan menjadi penghakiman, prejudice, saya kira ia jadi menjijikkan. “Naker orang” kalau kata anak-anak isjapokal.
Penghakiman dan sikap defensif ini juga kemudian bisa menumbuhkan sikap anti-diskusi dan anti-eksplorasi. Si X itu yahudi, maka dia harus dibenci dan uang dari dia tidak boleh diterima! Apa iya semua yahudi itu mendukung “israel”? Apa iya semua yahudi itu pembunuh? Apa iya semua yahudi itu pasti menyumbang untuk membangun tanah yang dijanjikan dan mengusir orang palestina dari situ? Apakah dengan demikian orang lain juga menjadi berhak mengatakan bahwa semua orang Islam di Indonesia adalah teroris seperti presumsi dunia barat pada umumnya? Pak Dan dan Arlene, dua orang yahudi yang saya cintai, bukan pembunuh, anti-pengusiran orang palestina, dan mencintai p. Oh well, secara kultural mereka yahudi, namun mereka agnostik. Namun orang yang prejudice biasanya akan gagal melihat hal-hal ini karena mata dan kesadaran mereka sudah tertutup oleh benteng yang dibangunnya sendiri.
Jadi Arlene, jangan kuatir dengan pidatomu di levlib setahun yang lalu yang bicara soal akar yahudi pak Dan. Saya yakin, kawan-kawan p adalah orang-orang yang bisa menerima perbedaan. Kalaupun ada yang punya potensi sebaliknya, saya yakin ada kultur keterbukaan yang sedang dicoba dibangun di sana.