Saya pernah baca -entah di mana- yang menyebalkan dari seorang atheis adalah dia akan bingung ketika dia harus berterima kasih atas hidup indah yang dijalaninya: kepada siapa?
Saya bukan atheis, tapi agnostic. Tapi si melati membuat saya pada suatu titik kebingungan: saya bersyukur dengan cara apa? Saya berterima kasih pada alam karena si melati sejauh ini sehat dan tampak cerdas (saya suka matanya yang sangat hidup). Rasa terima kasih ini membesar ketika membaca berita-berita belakangan ini soal bayi-bayi yang lahir tak sempurna atau kena penyakit parah.
Si Melati menjalani prosesi aqiqah. Saya mendukungnya karena buat saya itu peristiwa budaya yang menarik dan acara sosial yang bagus, di mana kami bisa berjumpa dengan kerabat yang jarang ditemui. Dalam acara aqiqah, funny guy dan si babe bertaruh apakah dia dibisikkan adzan atau tidak. Jawabannya: ya. Papa saya yang melakukannya. Saya membiarkannya karena ingin papa-mama bahagia.
Arlene pernah mengajukan pertanyaan yang penting waktu saya hamil: will you introduce one religion to your baby? Saya bilang, kami akan memperkenalkan semua agama dalam ritualnya, tapi yang pokok adalah nilai2 yang sebenarnya ada di semua agama bila mereka tidak didistorsi oleh struktur agamanya masing-masing: humanisme. FF punya pengalaman yang lebih menarik karena sekolahnya di Jerman model seperti itu. Tapi Arlene menceritakan gugatan Claire padanya karena ia dan Dan rupanya juga seperti kami.
Apakah melati akan menggugat kami nantinya? Saya tidak tahu. Pada saat yang bersamaan kelihatan betul keluarga saya ingin menyeret melati ke kubu mereka. Semua masih saya hormati sebagai ritual budaya. Entah sampai kapan tarik-menarik ini terjadi. Dan kenapa harus terjadi?
No comments:
Post a Comment