Saturday, February 20, 2010

Project Melati: A Reboot

Entah apa yang saya mau tuliskan. Rasanya banyak sekali: semua yang saya pikirkan ketika membeku dalam waktu yang terus berputar ketika saya menyusuinya. Hampir tujuh minggu sejak dia lahir.

Darinya saya belajar dua hal yang sangat berharga: unconditional love dan kesabaran yang luar biasa. Keduanya adalah hal baru dalam hidup saya.

Saya yang biasanya pulang kantor di atas jam 10, bahkan subuh waktu jaman "jahiliyah" :-) dan dalam sebulan di rumah bisa cuma seminggu karena travelling, sekarang 24/7 di rumah. Well, paling tidak 3 minggu pertama. Setelah itu saya mulai ke luar lagi. Lama-lama saya bisa gila :-). Dengan kesibukan yang "amit-amit" itu, tingkat kesabaran saya sebenarnya rendah dan mudah sekali beralih perhatian.

Untungnya saya punya masa transisi: my "Seattle life", my life in Seattle has totally different rhythm. Tidak hectic: semua terjadwal rapi, kebanyakan hanya baca dan menulis tanpa meeting yang bisa sampai 5 kali sehari di Jakarta. Kalau semua ini saya jalankan langsung pasca-p, pasti saya kena "baby blues." Tapi saya sempat menitikkan air mata sekali-dua. Manusiawi agaknya. Di 2 minggu pertama ketika saya merasa lelah dan dengan sedikit sakit yang tersisa.

Saya merasa saya berubah total. Betul-betul total. Menjadi lebih baik, ya mudah2an. Paling tidak dalam hal kesabaran tadi. Tapi kadang saya merasa produktivitas saya menurun dan pasukan smurf sel-sel otak saya mulai lemas kelaparan. Jangan sampai ada wabah kelaparan di desa smurf otak saya! Tetap buka email, baca kompas tiap hari, baca detik, NY times, BBC, dan Jakarta globe di Iphone. Saya berharap itu semua bisa mencegah bencana kelaparan itu. Tapi masih kurang. Ada 1 novel (Perahu kertas, arghhh Dee semakin jelek nulisnya!) selesai dan 1 buku serius dari pak bas yang lagi saya baca. Satu proposal selesai (demi kelanjutan kuliah soalnya hehe), tapi 1 artikel -buat jentera pulak!- yang tak mampu saya selesaikan. Padahal mengaku buka home office di rumah. Mulai minggu ini saya menerima -dan mencari!- kerjaan lagi. Plus, tentu saja, tumpukan file catatan disertasi saya jangan sampai keburu berdebu. Berubah yang baik boleh lah, tapi kalau berubah menjadi dungu saya tidak mau.

Sekarang saya punya 2 artikel serius yang harus ditulis dan mulai menghidupkan network lagi. Mulai blogging lagi adalah awalnya. Karena pemikiran printil-printil harus dibrojolin dulu. Kalau enggak, tulisan justru tak lancar mengalir. I need distraction, as usual :-).

Yang jelas, saya tak berhenti mengaguminya. Dan dia tetap yang nomor satu buat saya -dan mencegah kedunguan nomor sekian- karena saya memang tak bisa berpaling darinya. Saya mengaguminya setiap detik. Waktu menyusuinya. Waktu tidur di sampingnya. Bahkan ketika dikencingi dan diberaki. Dia selalu membuat saya kagum dan bahagia. Melatiku itu.

No comments: