Sunday, November 04, 2007

Mudah Beralih Perhatian

Saya kira saya adalah orang yang terlalu easily distracted, terlalu mudah terganggu konsentrasinya dari satu soal ke soal lainnya. Mungkin agak sedikit ADD, tapi tidak separah haye (haye: if you read this: sorry to mention it, but you know how we like to ngobrol ngalor ngidul exactly because we all have that tendency but you are the worst hahaha). Makanya semakin saya banyak kerjaan biasanya akan semakin berkembang pekerjaan itu. Dan juga kadang semakin banyak hal yang saya tulis di sini. Kalau pekerjaan terlalu sedikit saya malah merasa “mati angin” dan akan mulai mencari-cari pekerjaan.

Sehingga saya sering berpikir bahwa saya selalu butuh multi-tasking, bukan hanya bisa multi-tasking, tapi harus multi-tasking, kalau tidak, saya malah merasa buntu. Tapi sebenarnya bukan “multi-tasking” dalam arti hanya pekerjaan, saya hanya harus selalu punya pikiran yang bercabang-cabang. Kalaupun pekerjaan tidak membuat saya harus berpikir banyak, maka pikiran saya sendiri yang akan melanglang buana. Makanya saya harus selalu punya suatu tempat menulis: diary, blog, atau kertas-kertas di mana-mana. Makanya juga tidak hanya tulisan di sini yang banyak, tapi juga banyak tulisan tidak selesai yang ada di laptop saya dan di buku biru.


Kadang ini menyenangkan, tapi kadang menyusahkan. Saya seringkali hanya butuh waktu dalam hitungan jam dalam menulis. Tapi untuk sampai ke 2, 3, 4 atau 5 jam efektif itu, saya butuh waktu pendahuluan untuk melayani distracted mood saya selama dua atau tiga kali lipat jam yang saya butuhkan untuk menulis. Makanya juga saya sering kerja malam alias tidak tidur. Kalau pada titik tertentu saya tidur, saya akan kehilangan segalanya karena waktu yang mestinya saya isi untuk menulis justru saya habiskan hanya untuk melakukan/berpikir mengenai hal-hal lainnya. Dan ketika tiba waktunya untuk mulai menulis, saya tidur. Itu kalau saya harus tidur. Makanya saya merasa lebih baik saya tidak tidur. Atau kalau saya pada titik itu memaksakan diri untuk tidur, butuh waktu untuk menekan tombol “off” di otak saya. It’s always difficult to switch off my brain.


Emails, catatan di buku biru, dokumen yang terbuka, dan segala macamnya, bisa dengan mudah mengalihkan perhatian saya ke mereka. Bahkan kadang saya bisa tiba-tiba membereskan kamar kerja atau mengkopi dokumen hanya karena saya sedang mencari suatu bahan di meja dan tiba-tiba merasa meja terlalu kotor dan menyulitkan. Akhirnya bukannya membaca bahan itu, saya malah menghabiskan setengah hari untuk membereskan meja.


Saya seringkali iri pada orang-orang di sekitar saya yang bisa dengan mudah memetakan waktunya dalam satu hari misalnya 2 jam untuk mengerjakan a, 2 jam untuk b, 4 jam untuk c, dan seterusnya. Saya bisa tidak “kerja” (kalau kerja dihitung sebagai “proses produksi tulisan” saja) untuk 4 jam, tapi kemudian nongkrong di depan komputer selama 8 jam non-stop.


Sindrom ini saya kira juga seringkali berpengaruh pada cara saya bicara, yang seringkali bercabang-cabang mengandung banyak anak pemikiran. Sering terbantu ketika menulis karena tulisan bisa saya sunting dan saya fokuskan.


Mudah, saya terlalu mudah beralih. Terlalu mudah berpaling dari satu hal ke hal lainnya. Saya selalu muncul dengan pemikiran-pemikiran baru yang kadang nggak penting, just for the sake of distracting myself. I am always restless. [It may be applicable in my personal life, huh?]


Apa saya bisa mengubahnya? Atau mungkin pertanyaan sebenarnya adalah: apa saya “harus” mengubahnya? Shall I just let it be? I think I tried to change it, I try to force myself with a keyword I’ve been trying to transplant into my “working brain cells”: d.i.s.c.i.p.l.i.n.e. But no, I can be disciplined in terms of promises, deliverables, punctuality, but I cannot force my cute brain cells (I think they are cute blue people like smurfs; when they work, they are like smurfs who work together to produce something) to work like a troop under repression. They are like smurfs indeed. They work together happily. They are productive because they are happy working together with their own characters and messy, not because papa smurf pointing a gun at them. I love smurfs. I often wonder, which one do I like more: smurfs, spongebob, dora emon, lucky luke, tintin?

No comments: