Belakangan ini, ketiganya punya kesamaan dalam satu kata: pesohor (maksud saya celebrity). Ini pengamatan hasil baca segala rupa berita di internet gara-gara mangkir dari tugas utama menulis disertasi [ini modus kuna: menunda pekerjaan dengan menjelajah internet].
Tiga tahun nggak di Indonesia, rupanya ustad-ustad sudah jadi jenis pesohor tersendiri. Pesohor lainnya sering dengan semena-mena dikatakan“artis”. Padahal ini menghina orang-orang seni, yang bila di-bahasa-Ingris-kan: artist. Sementara banyak “artis” a.k.a pesohor di Indonesia sebenarnya bukan pekerja seni seperti "artist" dalam bahasa Inggris tadi. Melainkan pesinetron (sinetron membunuh sel-sel otak manusia secara perlahan-lahan) atau pemain film, yang seringkali juga film horror nggak jelas yang judulnya bikin geli (kayak lihat kecoak).
Saya sungguh nggak ngerti kenapa ada orang-orang yang doyan bener ngurusin hidup orang lain. Seperti saya ini. Aduh. Entah apa gunanya buat otak saya untuk tahu kenapa Ustad Solmed nikah sama April Jasmine 11.11.11 atau Jupe punya foto pre-wedding yang seksi bener. Saya kena tulah. Kualat, kalau kata orang tua. Mencerca sinetron dan menolak nonton infotainment, tapi akhirnya end-up baca berita seperti ini hanya karena berita-berita ini bisa “mengisi waktu” ketimbang nulis disertasi. Sinting.
Tapi yang menggugah barusan itu jenis pesohor yang terakhir saya sebut: pejabat. Banyak pejabat yang banyak omong. Seperti gentong. Segala macam dikomentari. Memang HAM untuk menyatakan pendapat. Dan “dijebak media” juga bisa dijadikan justifikasi berikutnya. Tapi masa’ sih mulut nggak bisa direm? Yang punya kontrol terhadap mulut (dan juga jari dalam hal menulis, misalnya di twitter) kan diri sendiri. Masalahnya banyak orang yang nggak bisa menempatkan dirinya secara bijak pada posisi masing-masing.
BM sejak dari KY sudah begitu. Kalau dulu orang membandingkan kenapa wibawa MK bisa dibangun dengan taktis sementara KY justru berseteru sedari awal dengan MA, jawabannya ada pada pemimpinnya. Tapi ini nggak cuma persoalan BM. Pemimpin MK yang sekarang juga doyan membicarakan hal-hal yang tidak perlu dia bicarakan terbuka. Jabatannya itu lho. Sama aja, presiden juga begitu. Pidato apa, yang dikomentari berbeda. Salah ucap atau apa saja, dan kemudian pewarta minta komentar pakar A, tanggapan politisi B, respons dari aktivis C, dan segala hantu blau. Akhirnya orang-orang yang hidupnya membacai berita seperti saya waktunya diisi oleh polemik yang mungkin sebenarnya nggak perlu dan dilebih-lebihkan.
Mengaplikasikan “filter mulut” mungkin memang nggak mudah. Di dunia di mana kebebasan berekspresi diagungkan dan kata “media” sudah berubah total dari berita pagi yang malamnya bisa distop tentara ke online news yang bisa nongol 10 menit sejak suatu kata diproduksi atau bahkan tweeter timeline yang bisa menyebar cepat 30 detik sejak suatu kata diproduksi. “Oops” sudah nggak ada gunanya lagi.
Lepas dari kegilaan para pesohor itu adalah kegilaan saya. Semua online media, social media dan hantu blau ini hampir bikin saya gila: seperti ada dunia paralel di sekeliling saya yang tidak nyata. Ya memang maya. Saya baca BBM grup tentang ini itu atau media online tentang polemik pejabat hedon, atau MMD komentar jual-beli pasal atau Demi Moore akhirnya cerai atau Andi Soraya kawin dengan duda beranak lima atau twitter time line nggak penting yang nongol di facebook atau facebook status tentang demonstrasi ini itu dan si anu dan si itu ditangkap atau tentang peluncuran buku A, pertunjukan B, diskusi C …dan segala kekisruhan dunia-dunia paralel itu. Sementara saya di sini: berjam-jam mengurung diri demi sebuah bab, jalan-jalan dengan ibu-ibu RT di Hanoi yang diskusinya soal masakan atau di mana cari boncengan sepeda untuk anak, ganti popok si melati sambil nyanyi balonku supaya dia nggak kabur, atau ngegulung-gulung lemper yang mau dibawa makan siang di rumah teman nanti. I don’t know anymore which ones are real and which ones are not.