Saturday, November 19, 2011

Pesinetron, Ustad, dan Pejabat

Belakangan ini, ketiganya punya kesamaan dalam satu kata: pesohor (maksud saya celebrity). Ini pengamatan hasil baca segala rupa berita di internet gara-gara mangkir dari tugas utama menulis disertasi [ini modus kuna: menunda pekerjaan dengan menjelajah internet].

Tiga tahun nggak di Indonesia, rupanya ustad-ustad sudah jadi jenis pesohor tersendiri. Pesohor lainnya sering dengan semena-mena dikatakan“artis”. Padahal ini menghina orang-orang seni, yang bila di-bahasa-Ingris-kan: artist. Sementara banyak “artis” a.k.a pesohor di Indonesia sebenarnya bukan pekerja seni seperti "artist" dalam bahasa Inggris tadi. Melainkan pesinetron (sinetron membunuh sel-sel otak manusia secara perlahan-lahan) atau pemain film, yang seringkali juga film horror nggak jelas yang judulnya bikin geli (kayak lihat kecoak).

Saya sungguh nggak ngerti kenapa ada orang-orang yang doyan bener ngurusin hidup orang lain. Seperti saya ini. Aduh. Entah apa gunanya buat otak saya untuk tahu kenapa Ustad Solmed nikah sama April Jasmine 11.11.11 atau Jupe punya foto pre-wedding yang seksi bener. Saya kena tulah. Kualat, kalau kata orang tua. Mencerca sinetron dan menolak nonton infotainment, tapi akhirnya end-up baca berita seperti ini hanya karena berita-berita ini bisa “mengisi waktu” ketimbang nulis disertasi. Sinting.

Tapi yang menggugah barusan itu jenis pesohor yang terakhir saya sebut: pejabat. Banyak pejabat yang banyak omong. Seperti gentong. Segala macam dikomentari. Memang HAM untuk menyatakan pendapat. Dan “dijebak media” juga bisa dijadikan justifikasi berikutnya. Tapi masa’ sih mulut nggak bisa direm? Yang punya kontrol terhadap mulut (dan juga jari dalam hal menulis, misalnya di twitter) kan diri sendiri. Masalahnya banyak orang yang nggak bisa menempatkan dirinya secara bijak pada posisi masing-masing.

BM sejak dari KY sudah begitu. Kalau dulu orang membandingkan kenapa wibawa MK bisa dibangun dengan taktis sementara KY justru berseteru sedari awal dengan MA, jawabannya ada pada pemimpinnya. Tapi ini nggak cuma persoalan BM. Pemimpin MK yang sekarang juga doyan membicarakan hal-hal yang tidak perlu dia bicarakan terbuka. Jabatannya itu lho. Sama aja, presiden juga begitu. Pidato apa, yang dikomentari berbeda. Salah ucap atau apa saja, dan kemudian pewarta minta komentar pakar A, tanggapan politisi B, respons dari aktivis C, dan segala hantu blau. Akhirnya orang-orang yang hidupnya membacai berita seperti saya waktunya diisi oleh polemik yang mungkin sebenarnya nggak perlu dan dilebih-lebihkan.

Mengaplikasikan “filter mulut” mungkin memang nggak mudah. Di dunia di mana kebebasan berekspresi diagungkan dan kata “media” sudah berubah total dari berita pagi yang malamnya bisa distop tentara ke online news yang bisa nongol 10 menit sejak suatu kata diproduksi atau bahkan tweeter timeline yang bisa menyebar cepat 30 detik sejak suatu kata diproduksi. “Oops” sudah nggak ada gunanya lagi.

Lepas dari kegilaan para pesohor itu adalah kegilaan saya. Semua online media, social media dan hantu blau ini hampir bikin saya gila: seperti ada dunia paralel di sekeliling saya yang tidak nyata. Ya memang maya. Saya baca BBM grup tentang ini itu atau media online tentang polemik pejabat hedon, atau MMD komentar jual-beli pasal atau Demi Moore akhirnya cerai atau Andi Soraya kawin dengan duda beranak lima atau twitter time line nggak penting yang nongol di facebook atau facebook status tentang demonstrasi ini itu dan si anu dan si itu ditangkap atau tentang peluncuran buku A, pertunjukan B, diskusi C …dan segala kekisruhan dunia-dunia paralel itu. Sementara saya di sini: berjam-jam mengurung diri demi sebuah bab, jalan-jalan dengan ibu-ibu RT di Hanoi yang diskusinya soal masakan atau di mana cari boncengan sepeda untuk anak, ganti popok si melati sambil nyanyi balonku supaya dia nggak kabur, atau ngegulung-gulung lemper yang mau dibawa makan siang di rumah teman nanti. I don’t know anymore which ones are real and which ones are not.

Tuesday, May 24, 2011

Mimpi GBHN

Saya agak lelah dengan orang-orang yang belakangan ini hangat bernostalgia soal orde baru dan merindukan “disain besar” seperti GBHN.

Dari segi bentuk disain besar, bila memang itu yang diinginkan, kita sebenarnya sudah punya RPJP, RPJM, dan RPJPendek. Tapi kemudian, kata salah seorang rektor yang diwawancarai kompas hari ini, tidak ada komunikasinya dan tidak dipahami. Pertanyaan saya, apa dulu GBHN dikomunikasikan oleh Suharto atau MPR? Jawabannya tidak.

Sekarang mungkin “disain besar” impian ini tidak banyak dikenal karena ruang politiknya hiruk pikuk. Semua bisa bersuara apa saja. Tidak seperti dulu. GBHN ditetapkan: 3 partai dan utusan di MPR bilang setuju ramai-ramai; pemerintah-Golkar-militer menjalankan; evaluasi oleh MPR pemerintah selalu dianggap sukses, Suharto kemudian dipilih lagi; pemerintah membuatkan GBHN lagi untuk MPR; 3 partai dan utusan-utusan yang disetting orba bilang setuju ramai-ramai lagi; dan seterusnya dan seterusnya.

Sekarang? Ada RPJM, RPJP, Acces to justice dokumen yang dibuat Bappenas dan VVI, dan segala rupa. Tapi di sudut lain ada soal KPK. Ada Nunun Nurbaeti. Ada DPR bangun gedung mewah. Ada kasus Arumi Bachsin yang why-oh-why kok sampai diurusi wakil ketua MPR dan LPSK. Ada otonomi khusus Aceh yang muncul tiba-tiba. Dan segala macam. Ruang wacananya berisik sekali! Tapi saya kira bukan tidak ada “disain besar.”

Lagipula, apa kita perlu disain besar seperti GBHN ? Tentu saja kita perlu visi yang jelas dan tujuan yang coherent. Tapi bentuk dan prosesnya itu lho. Apa betul para pemuja GBHN sudah khatam dan paham isi GBHN? Isinya adalah kata berbunga-bunga, bercabang-cabang, dan barangkali –seperti pohon flamboyant- kadang berulat. “Visi bangsa” itu bagaimana sebenarnya? Haruskah dia dilahirkan oleh seorang pemimpin yang berkharisma? Atau melalui sebuah proses yang partisipatif (utopis!)? Melalui proses politik yang tertib dan terarah dalam koridor otoritarianisme seperti GBHN? Melalui proses politik hiruk pikuk tanpa kejelasan seperti warna DPR sekarang? Atau bagaimana?

Panggil saya konstitusionalis lebay, tapi visi besar itu sesungguhnya sudah cukup di konstitusi. Saya bukan pendewa-dewa revolusi 1945 dan pendiri bangsa, tapi saya ingin melihat ini dengan kaca mata yang sederhana. Buat saya RPJM dan segala rupa itu dokumen turunannya yang dibuat Bappenas sudah cukup. Karena Bappenas makin rajin membuat matriks capaian dan tolok ukur keberhasilan dalam dokumen-dokumen teknis, RAN PK, RAN HAM, dan segala macam. Ini bagus. Dan dasarnya ya sudah ada di konstitusi. Bahwa kita sesungguhnya adalah negara sosialis (haha), promosi dan perlindungan HAM, negara hukum, dll. Itu sudah lengkap. Tinggal diturunkan dalam program-program konkrit. Jadi nggak perlu romantik pada “grand disain” hasil kerja lembaga politik seperti GBHN.

Tulisan gila ini sebenarnya juga saya buat setelah lamat-lamat memerhatikan gerak geriknya Obama, diskusi soal negara-negara eropa dengan ff, dll. Tentu saja setiap pemerintahan akan mengubah “haluan” atau visi bangsa atau apalah kita mau menamakannya. Seperti pemerintah Belanda yang saat ini konservatif dan menghentikan bantuan luar negeri dan berimbas ke proyeknya meneer bas. Atau pemerintah Denmark yang sekarang konservatif sehingga semakin menutup rapat pintu imigrasinya. Atau seperti pemerintahan Obama saat ini yang gila-gilaan mendorong health care reform sehingga dituduh “komunis” (haha dasar orang amerika gila!).

Wajar bila pemerintahan yang berganti membuat “arah” berjalannya negara berkelok-kelok. Tapi pagarnya selalu konstitusi. Memang begitu. Itulah demokrasi konstitusional yang sudah kita pilih. Jangan bermimpi ada suatu dokumen yang sangat indah tentang sebuah grand disain menuju negara yang ideal untuk seluruh elemen bangsa, yang disepakati semua orang dan tidak berubah sama sekali dari pemerintahan ke pemerintahan seperti GBHN dulu. Bahkan harus diingat, GBHN juga dulu ada dalam SATU pemerintahan. GBHN dulu dianggap dokumen ajaib seperti itu karena kerangkanya adalah rezim otoriatarianisme Suharto. GBHN indah karena cuma satu, nggak ada yang meributkan, dijalankan dengan baik, evaluasinya selalu baik, dan berkesinambungan karena arahnya nggak berubah (kan 32 tahun dia terus yang punya visi).

Sinting, sinting. Kok orang-orang senang sekali sih jadi pemimpi pada saat banyak kerja yang harus dilakukan di dunia nyata ketimbang mimpi di siang bolong.

Monday, May 23, 2011

Ngo 32

Taxi biasanya berhenti di muka Ngo 32 di jalan To Ngoc Van. Karena Ngo 32 terlalu kecil dan membutuhkan keahlian tingkat tinggi dalam mengemudi mobil. "Ngo" artinya “lorong” atau “gang” dalam bahasa Indonesia. Waktu pertama kali tahu alamat kami saya terkikik karena alamat rumah akan selalu mengingatkan saya pada pekerjaan dan disertasi saya tentang NGO bidang hukum di Indonesia.

Turun dari taxi, kami harus berjalan di lorong kecil yang sedikit menurun dan berkelok. Kadang licin kalau hujan. Di samping kiri dan kanan adalah tembok-tembok kotor dan berlumut. Kadang di bawah, menempel pada tembok, teronggok tumpukan sampah yang belum diambil petugas sampah atau ibu pemulung kardus dengan caping khas Vietnam itu. Saya seringkali kuatir ada kecoak. Karena kemarin saya menemukan bangkai kecoak tergeletak di tengah jalan. Biasanya saya berjalan sangat berhati-hati dan awas. Apalagi kalau harus menggandeng si melati. Uniknya, walau kadang becek dan kotor, seringkali kupu-kupu melintas. Melati biasanya akan ramai berseru dengan mimik serius yang lucu yang bikin saya tergelak-gelak: “pupupupu!” Sepanjang jalan sampai ke rumah.

Di dalam Ngo 32 yang pada suatu titik berbelok ke kiri dan tembus ke luar, masih ada beberapa ngo-ngo kecil di sebelah kanan. Kita sebut saja “cabang-gang.” Cabang-gang pertama, kedua, ketiga terlewati. Di depan cabang-gang kedua ada rumah kolonial tinggi. Seperti rumah di Ha Noi pada umumnya, ia menjulang ke atas. Saya bilang pada Uda Al, model rumah-rumah di Ha Noi yang menjulang ke atas ini seperti kandang burung. Tapi maksud saya tidak buruk. Saya menganggap ini cute. Setiap pagi dan sore, rumah cantik berpot manis ini disambangi dua petugas satpam Kedubes AS dengan seragam khasnya yang juga bisa kita lihat di setiap Jakarta. Barangkali ini pengecekan rutin untuk rumah warga Kedubes AS di sini.

Pada cabang gang keempat, kami belok kanan dan menelusuri cabang-gang bernomor 26 kira-kira 50 meter. Lantas di sebelah kiri jalan ada gedung bertuliskan “West lake Building II”. Enam tingkat. Lift ada di sebelah kiri. Di dekat lift ada kolam renang dan gym. Saya mencemooh keduanya karena saya pikir tak mungkin apartemen kecil di dalam sub-gang seperti ini mempunyai kolam renang dan gym yang terawat. Sampai pada suatu malam kami melihat Pak Nyuyen si juragan property tengah berendam di kolam renang dengan seluruh lampu kolam menyala dengan indah. Di saat lainnya, kami melihatnya sedang menggunakan alat-alat olahraga di gym yang rupanya berfungsi dengan baik.

Biasanya ada seorang bapak berambut putih dengan gigi yang tanggal beberapa buah berjaga di bawah di dekat lift dan selalu tersenyum. Kalau tidak bapak ini, ada lagi bapak lainnya yang kelihatannya lebih muda. Rambutnya hitam dan giginya lengkap. Ketika saya harus meninggalkan rumah berdua melati jam 4 pagi untuk ke Jakarta dua minggu lalu, saya lihat mereka memang tidur di sofa kumal di depan lift itu. Mereka hanya menambahkan kelambu putih dan menyalakan kipas angin listrik.

Kami harus naik ke lantai lima. Dan apartemen kami ada di sebelah kanan lift. Dua kamar. Ini apartemen sementara. Karena apartemen impian berkamar tiga dengan kamar kerja yang saya idamkan dan balkon luas menghadap ke danau, baru kosong Juli nanti. Kamar kerja saya nanti (merangkap kamar tamu) punya banyak jendela yang menghadap ke kolam teratai. Pasti indah ketika musim bunga teratai mekar dimulai. Balkon luas menghadap ke danau sudah kami bai’at sebagai tempat kami minum bir dingin sore-sore. Tentu saja kami ingin segera pindah ke sana. Dengan begitu kami berhenti pindahan.

Tapi apartemen sementara ini juga menarik. Bila dihitung dari muka Ngo 32, letaknya hanya 300 meter dari apartemen dengan balkon berpemandangan danau tempat minum bir itu. Jadi menelusuri daerah sekitar sini sekalian mempelajari lingkungan sekitar untuk nanti setelah Juli. Saya senang tinggal di sini, di distrik Tay Ho, di apartemen kecil. Ketimbang di apartemen pencakar langit seperti di Ciputra atau Golden West Lake. Saya merasa romantik. Saya di sini bisa ketemu ibu pemulung bercaping naik sepeda yang selalu berseru setiap lewat seperti layaknya orang menjajakan sesuatu. Entah apa yang diserukannya, tapi ia terdengar seperti nyanyian. Nenek bersama dua cucunya di seberang rumah yang selalu menyapa si melati dengan ramah (meski kami tidak bisa berkomunikasi) dan membopong melati untuk diboncengi cucunya yang laki-laki di mobil-mobilannya. Bapak-bapak nongkrong di rumah ketua RT. Pak tua penjual pot tanaman yang berteriak menjajakan dagangannya. Gadis kecil berseragam sekolah putih yang bergegas naik sepeda ke sekolah di pagi hari. Di pojokan jalan To Ngoc Van dan Xuan Dieu ada pasar kecil. Ibu-ibu bercaping dan bersepeda juga seringkali berjualan buah-buahan (sekarang sedang musim nanas, sangat manis dan renyah) di situ. Saya melihat manusia-manusia dengan dekat dan merasa hangat.


Ini jauh dari hiruk pikuk kota (down town Ha Noi) yang luar biasa berisik dan semrawut. Saya kira pengemudi mobil dan motor di Ha Noi lebih buruk dari Jakarta. Sungguh! Banyak motor kamikaze. Dan saya merasa semua orang tanpa kecuali merasa HARUS membunyikan klakson. Luar biasa berisik! Lebih dari Jakarta. Menyeberang jalan adalah skill tersendiri.

Tapi distrik Tay Ho di mana kami tinggal berbeda. Yang membuat bebunyian ringan hanyalah gonggongan anjing dan kokok ayam di pagi hari. Atau tetangga yang seminggu sekali punya malam karaoke lagu Vietnam. Setiap Sabtu ada weekend market di gang seberang. Di situ dijual berbagai macam roti, pasta, sayuran dan buah-buahan organik, teh organik,  madu alami, baju, kerajinan tangan dari difabel, dan segala rupa barang yang biasanya menarik untuk orang asing dan terlalu mahal untuk orang Vietnam asli. Distrik ini memang seperti Kemang di Jakarta. Di sini tinggal banyak sekali orang asing. Karena itu pula, banyak restoran dan cafĂ© yang seru. Mulai dari restoran Jepang berharga selangit, restoran Maroko, pâtisserie kepunyaan orang Perancis bernama Jerman Wagner, sampai restoran Bobby Chinn. Tapi karena pada dasarnya dia juga kampung, banyak juga warung yang makanannya enak tapi kotornya bikin kita enggan makan di sana.

Di gang seberang menuju weekend market, ada warung Bun Cha kesukaan saya yang hanya buka di hari kerja dan sekitar jam makan siang. Bun adalah makanan khas Vietnam. Pho barangkali lebih dikenal daripada bun. Tapi saya tergila-gila pada bun. Seperti Pho, bun itu semacam bihun. Ia disajikan tak berkuah tapi sudah direbus, bersama dengan fish sauce yang direbus dengan irisan wortel serta diperciki lemon, segunung dedaunan dan daging yang dibakar bersama rempah-rempah sehingga wangiiii sekali. Kadang bun disajikan dengan kacang tanah yang sudah diremukkan, yang membuatnya tambah nikmat. Seonggok daging itu bisa “bo” (sapi),“cha” (babi), siput, atau kepiting. Tapi yang ternikmat adalah Bun Cha. “Bun cha ha noi” favorit saya disajikan dengan daging babi bakar serta pork meatballs (bayangkan home made meatball- bukan bakso seperti di Indonesia- tapi daging babi…wow enaknya!). Dan tentu saja saya akan minta banyak cabe rawit.


Distrik Tay Ho ada di sebelah barat danau yang bernama Tay Ho atau West Lake (kurang jelas apakah Tay berarti danau dan ho berarti barat atau terbalik atau tidak ada hubungannya). Saat hari beranjak sore di sekeliling danau biasanya sekonyong-konyong muncul warung-warung kecil dengan kursi-kursi plastik yang pendek, seperti warung kopi di aceh. Mereka biasanya menjual kopi, bir, air kelapa dan penganan ringan berupa irisan daging sapi kering atau kuaci biji bunga matahari. Anak kecil, bapak-bapak, ibu-ibu, orang Vietnam, orang asing, orang pacaran, dan segala macam orang duduk santai di pinggir danau melihat matahari terbenam sembari minum dan ngemil.