Tuesday, May 24, 2011

Mimpi GBHN

Saya agak lelah dengan orang-orang yang belakangan ini hangat bernostalgia soal orde baru dan merindukan “disain besar” seperti GBHN.

Dari segi bentuk disain besar, bila memang itu yang diinginkan, kita sebenarnya sudah punya RPJP, RPJM, dan RPJPendek. Tapi kemudian, kata salah seorang rektor yang diwawancarai kompas hari ini, tidak ada komunikasinya dan tidak dipahami. Pertanyaan saya, apa dulu GBHN dikomunikasikan oleh Suharto atau MPR? Jawabannya tidak.

Sekarang mungkin “disain besar” impian ini tidak banyak dikenal karena ruang politiknya hiruk pikuk. Semua bisa bersuara apa saja. Tidak seperti dulu. GBHN ditetapkan: 3 partai dan utusan di MPR bilang setuju ramai-ramai; pemerintah-Golkar-militer menjalankan; evaluasi oleh MPR pemerintah selalu dianggap sukses, Suharto kemudian dipilih lagi; pemerintah membuatkan GBHN lagi untuk MPR; 3 partai dan utusan-utusan yang disetting orba bilang setuju ramai-ramai lagi; dan seterusnya dan seterusnya.

Sekarang? Ada RPJM, RPJP, Acces to justice dokumen yang dibuat Bappenas dan VVI, dan segala rupa. Tapi di sudut lain ada soal KPK. Ada Nunun Nurbaeti. Ada DPR bangun gedung mewah. Ada kasus Arumi Bachsin yang why-oh-why kok sampai diurusi wakil ketua MPR dan LPSK. Ada otonomi khusus Aceh yang muncul tiba-tiba. Dan segala macam. Ruang wacananya berisik sekali! Tapi saya kira bukan tidak ada “disain besar.”

Lagipula, apa kita perlu disain besar seperti GBHN ? Tentu saja kita perlu visi yang jelas dan tujuan yang coherent. Tapi bentuk dan prosesnya itu lho. Apa betul para pemuja GBHN sudah khatam dan paham isi GBHN? Isinya adalah kata berbunga-bunga, bercabang-cabang, dan barangkali –seperti pohon flamboyant- kadang berulat. “Visi bangsa” itu bagaimana sebenarnya? Haruskah dia dilahirkan oleh seorang pemimpin yang berkharisma? Atau melalui sebuah proses yang partisipatif (utopis!)? Melalui proses politik yang tertib dan terarah dalam koridor otoritarianisme seperti GBHN? Melalui proses politik hiruk pikuk tanpa kejelasan seperti warna DPR sekarang? Atau bagaimana?

Panggil saya konstitusionalis lebay, tapi visi besar itu sesungguhnya sudah cukup di konstitusi. Saya bukan pendewa-dewa revolusi 1945 dan pendiri bangsa, tapi saya ingin melihat ini dengan kaca mata yang sederhana. Buat saya RPJM dan segala rupa itu dokumen turunannya yang dibuat Bappenas sudah cukup. Karena Bappenas makin rajin membuat matriks capaian dan tolok ukur keberhasilan dalam dokumen-dokumen teknis, RAN PK, RAN HAM, dan segala macam. Ini bagus. Dan dasarnya ya sudah ada di konstitusi. Bahwa kita sesungguhnya adalah negara sosialis (haha), promosi dan perlindungan HAM, negara hukum, dll. Itu sudah lengkap. Tinggal diturunkan dalam program-program konkrit. Jadi nggak perlu romantik pada “grand disain” hasil kerja lembaga politik seperti GBHN.

Tulisan gila ini sebenarnya juga saya buat setelah lamat-lamat memerhatikan gerak geriknya Obama, diskusi soal negara-negara eropa dengan ff, dll. Tentu saja setiap pemerintahan akan mengubah “haluan” atau visi bangsa atau apalah kita mau menamakannya. Seperti pemerintah Belanda yang saat ini konservatif dan menghentikan bantuan luar negeri dan berimbas ke proyeknya meneer bas. Atau pemerintah Denmark yang sekarang konservatif sehingga semakin menutup rapat pintu imigrasinya. Atau seperti pemerintahan Obama saat ini yang gila-gilaan mendorong health care reform sehingga dituduh “komunis” (haha dasar orang amerika gila!).

Wajar bila pemerintahan yang berganti membuat “arah” berjalannya negara berkelok-kelok. Tapi pagarnya selalu konstitusi. Memang begitu. Itulah demokrasi konstitusional yang sudah kita pilih. Jangan bermimpi ada suatu dokumen yang sangat indah tentang sebuah grand disain menuju negara yang ideal untuk seluruh elemen bangsa, yang disepakati semua orang dan tidak berubah sama sekali dari pemerintahan ke pemerintahan seperti GBHN dulu. Bahkan harus diingat, GBHN juga dulu ada dalam SATU pemerintahan. GBHN dulu dianggap dokumen ajaib seperti itu karena kerangkanya adalah rezim otoriatarianisme Suharto. GBHN indah karena cuma satu, nggak ada yang meributkan, dijalankan dengan baik, evaluasinya selalu baik, dan berkesinambungan karena arahnya nggak berubah (kan 32 tahun dia terus yang punya visi).

Sinting, sinting. Kok orang-orang senang sekali sih jadi pemimpi pada saat banyak kerja yang harus dilakukan di dunia nyata ketimbang mimpi di siang bolong.

No comments: