Monday, May 23, 2011

Ngo 32

Taxi biasanya berhenti di muka Ngo 32 di jalan To Ngoc Van. Karena Ngo 32 terlalu kecil dan membutuhkan keahlian tingkat tinggi dalam mengemudi mobil. "Ngo" artinya “lorong” atau “gang” dalam bahasa Indonesia. Waktu pertama kali tahu alamat kami saya terkikik karena alamat rumah akan selalu mengingatkan saya pada pekerjaan dan disertasi saya tentang NGO bidang hukum di Indonesia.

Turun dari taxi, kami harus berjalan di lorong kecil yang sedikit menurun dan berkelok. Kadang licin kalau hujan. Di samping kiri dan kanan adalah tembok-tembok kotor dan berlumut. Kadang di bawah, menempel pada tembok, teronggok tumpukan sampah yang belum diambil petugas sampah atau ibu pemulung kardus dengan caping khas Vietnam itu. Saya seringkali kuatir ada kecoak. Karena kemarin saya menemukan bangkai kecoak tergeletak di tengah jalan. Biasanya saya berjalan sangat berhati-hati dan awas. Apalagi kalau harus menggandeng si melati. Uniknya, walau kadang becek dan kotor, seringkali kupu-kupu melintas. Melati biasanya akan ramai berseru dengan mimik serius yang lucu yang bikin saya tergelak-gelak: “pupupupu!” Sepanjang jalan sampai ke rumah.

Di dalam Ngo 32 yang pada suatu titik berbelok ke kiri dan tembus ke luar, masih ada beberapa ngo-ngo kecil di sebelah kanan. Kita sebut saja “cabang-gang.” Cabang-gang pertama, kedua, ketiga terlewati. Di depan cabang-gang kedua ada rumah kolonial tinggi. Seperti rumah di Ha Noi pada umumnya, ia menjulang ke atas. Saya bilang pada Uda Al, model rumah-rumah di Ha Noi yang menjulang ke atas ini seperti kandang burung. Tapi maksud saya tidak buruk. Saya menganggap ini cute. Setiap pagi dan sore, rumah cantik berpot manis ini disambangi dua petugas satpam Kedubes AS dengan seragam khasnya yang juga bisa kita lihat di setiap Jakarta. Barangkali ini pengecekan rutin untuk rumah warga Kedubes AS di sini.

Pada cabang gang keempat, kami belok kanan dan menelusuri cabang-gang bernomor 26 kira-kira 50 meter. Lantas di sebelah kiri jalan ada gedung bertuliskan “West lake Building II”. Enam tingkat. Lift ada di sebelah kiri. Di dekat lift ada kolam renang dan gym. Saya mencemooh keduanya karena saya pikir tak mungkin apartemen kecil di dalam sub-gang seperti ini mempunyai kolam renang dan gym yang terawat. Sampai pada suatu malam kami melihat Pak Nyuyen si juragan property tengah berendam di kolam renang dengan seluruh lampu kolam menyala dengan indah. Di saat lainnya, kami melihatnya sedang menggunakan alat-alat olahraga di gym yang rupanya berfungsi dengan baik.

Biasanya ada seorang bapak berambut putih dengan gigi yang tanggal beberapa buah berjaga di bawah di dekat lift dan selalu tersenyum. Kalau tidak bapak ini, ada lagi bapak lainnya yang kelihatannya lebih muda. Rambutnya hitam dan giginya lengkap. Ketika saya harus meninggalkan rumah berdua melati jam 4 pagi untuk ke Jakarta dua minggu lalu, saya lihat mereka memang tidur di sofa kumal di depan lift itu. Mereka hanya menambahkan kelambu putih dan menyalakan kipas angin listrik.

Kami harus naik ke lantai lima. Dan apartemen kami ada di sebelah kanan lift. Dua kamar. Ini apartemen sementara. Karena apartemen impian berkamar tiga dengan kamar kerja yang saya idamkan dan balkon luas menghadap ke danau, baru kosong Juli nanti. Kamar kerja saya nanti (merangkap kamar tamu) punya banyak jendela yang menghadap ke kolam teratai. Pasti indah ketika musim bunga teratai mekar dimulai. Balkon luas menghadap ke danau sudah kami bai’at sebagai tempat kami minum bir dingin sore-sore. Tentu saja kami ingin segera pindah ke sana. Dengan begitu kami berhenti pindahan.

Tapi apartemen sementara ini juga menarik. Bila dihitung dari muka Ngo 32, letaknya hanya 300 meter dari apartemen dengan balkon berpemandangan danau tempat minum bir itu. Jadi menelusuri daerah sekitar sini sekalian mempelajari lingkungan sekitar untuk nanti setelah Juli. Saya senang tinggal di sini, di distrik Tay Ho, di apartemen kecil. Ketimbang di apartemen pencakar langit seperti di Ciputra atau Golden West Lake. Saya merasa romantik. Saya di sini bisa ketemu ibu pemulung bercaping naik sepeda yang selalu berseru setiap lewat seperti layaknya orang menjajakan sesuatu. Entah apa yang diserukannya, tapi ia terdengar seperti nyanyian. Nenek bersama dua cucunya di seberang rumah yang selalu menyapa si melati dengan ramah (meski kami tidak bisa berkomunikasi) dan membopong melati untuk diboncengi cucunya yang laki-laki di mobil-mobilannya. Bapak-bapak nongkrong di rumah ketua RT. Pak tua penjual pot tanaman yang berteriak menjajakan dagangannya. Gadis kecil berseragam sekolah putih yang bergegas naik sepeda ke sekolah di pagi hari. Di pojokan jalan To Ngoc Van dan Xuan Dieu ada pasar kecil. Ibu-ibu bercaping dan bersepeda juga seringkali berjualan buah-buahan (sekarang sedang musim nanas, sangat manis dan renyah) di situ. Saya melihat manusia-manusia dengan dekat dan merasa hangat.


Ini jauh dari hiruk pikuk kota (down town Ha Noi) yang luar biasa berisik dan semrawut. Saya kira pengemudi mobil dan motor di Ha Noi lebih buruk dari Jakarta. Sungguh! Banyak motor kamikaze. Dan saya merasa semua orang tanpa kecuali merasa HARUS membunyikan klakson. Luar biasa berisik! Lebih dari Jakarta. Menyeberang jalan adalah skill tersendiri.

Tapi distrik Tay Ho di mana kami tinggal berbeda. Yang membuat bebunyian ringan hanyalah gonggongan anjing dan kokok ayam di pagi hari. Atau tetangga yang seminggu sekali punya malam karaoke lagu Vietnam. Setiap Sabtu ada weekend market di gang seberang. Di situ dijual berbagai macam roti, pasta, sayuran dan buah-buahan organik, teh organik,  madu alami, baju, kerajinan tangan dari difabel, dan segala rupa barang yang biasanya menarik untuk orang asing dan terlalu mahal untuk orang Vietnam asli. Distrik ini memang seperti Kemang di Jakarta. Di sini tinggal banyak sekali orang asing. Karena itu pula, banyak restoran dan cafĂ© yang seru. Mulai dari restoran Jepang berharga selangit, restoran Maroko, pâtisserie kepunyaan orang Perancis bernama Jerman Wagner, sampai restoran Bobby Chinn. Tapi karena pada dasarnya dia juga kampung, banyak juga warung yang makanannya enak tapi kotornya bikin kita enggan makan di sana.

Di gang seberang menuju weekend market, ada warung Bun Cha kesukaan saya yang hanya buka di hari kerja dan sekitar jam makan siang. Bun adalah makanan khas Vietnam. Pho barangkali lebih dikenal daripada bun. Tapi saya tergila-gila pada bun. Seperti Pho, bun itu semacam bihun. Ia disajikan tak berkuah tapi sudah direbus, bersama dengan fish sauce yang direbus dengan irisan wortel serta diperciki lemon, segunung dedaunan dan daging yang dibakar bersama rempah-rempah sehingga wangiiii sekali. Kadang bun disajikan dengan kacang tanah yang sudah diremukkan, yang membuatnya tambah nikmat. Seonggok daging itu bisa “bo” (sapi),“cha” (babi), siput, atau kepiting. Tapi yang ternikmat adalah Bun Cha. “Bun cha ha noi” favorit saya disajikan dengan daging babi bakar serta pork meatballs (bayangkan home made meatball- bukan bakso seperti di Indonesia- tapi daging babi…wow enaknya!). Dan tentu saja saya akan minta banyak cabe rawit.


Distrik Tay Ho ada di sebelah barat danau yang bernama Tay Ho atau West Lake (kurang jelas apakah Tay berarti danau dan ho berarti barat atau terbalik atau tidak ada hubungannya). Saat hari beranjak sore di sekeliling danau biasanya sekonyong-konyong muncul warung-warung kecil dengan kursi-kursi plastik yang pendek, seperti warung kopi di aceh. Mereka biasanya menjual kopi, bir, air kelapa dan penganan ringan berupa irisan daging sapi kering atau kuaci biji bunga matahari. Anak kecil, bapak-bapak, ibu-ibu, orang Vietnam, orang asing, orang pacaran, dan segala macam orang duduk santai di pinggir danau melihat matahari terbenam sembari minum dan ngemil.

3 comments:

Darlington Gank said...

Ah asyik banget lokasinya. Gua sampe ngiler ngebayangin jalan-jalan di sana. Tulisan ini dan yang lebih barunya, enak betul dibaca. Mungkin mirip seperti makan bihun dengan babi bakar dalam kisah lu itu.

pembunuh kecoak said...

Thank you, Darl (maksud gw "darlington gank"). Ya, gw lagi suka sekali dengan cerpen2 dan essay2 kak Linda di Aceh. Barangkali itu gaya tulisan anak (dan juga mantan) pantau. Juga sepertinya gaya kebanyakan para "jurnalis sastrawi". Tentunya gw ga secanggih mereka, cuma krn suka jadi pingin ikut2an aja.
Baiklah. Maka menabunglah dan segera ke sini. Ditunggu di balkon untuk minum bir bareng sore2.

Darlington Gank said...

Aha! Gua juga lagi baca buku yang sama. Plus buku kumpulan tulisannya Andreas Harsono. Juga karena suka dan pengen niru corak penulisannya. Okelah, semoga ada rejeki berlimpah, jadi bisa berkunjung dan menikmati beer di balkon nan cantik itu.