Wednesday, December 15, 2010

Moving on

Waktu hamil, saya sering becanda, melati seharusnya menjadi anak kedua saya. Anak pertama seharusnya disertasi. Tapi berhubung kelamaan hamil anak pertama, anak kedua muncul duluan. Tapi kemudian diralat ff: saya punya anak pertama. Namanya P :-)

Call me crazy, but I agree with ff. P lahir dari saya dan as. Bermula dari saya yang ditelepon afa dan diajak jadi lawyer dan saya tolak. Sehabis menutup telepon untuk menolak, saya termenung, kaget pada diri saya sendiri. Sungguh mati, saya anak pk iv yang sudah magang di 2 law firm besar dan 1 grup bank besar. Punya law firm sendiri adalah cita-cita saya pada suatu masa. Tapi rupanya 1998 mengubah pandangan hidup saya dengan sangat drastis. Saya sempat bimbang, tapi kemudian si abang afa yg memang punya jiwa entrepreneur tinggi itu menelepon lagi dan menawarkan kesempatan yang menarik: mendirikan lembaga studi! Dia bilang, dia, ats, er berkeinginan mendirikan lembaga dan akan mengajak beberapa alumni lain, dan mereka membutuhkan orang yang bisa mewujudkan gagasan mereka berhubung mereka supersibuk. Dan saya boleh mengajak 1 orang lagi, siapa saja. Maka bung as saya telepon dan jadilah kami dynamic duo :-P, sampai akhirnya P jadi dynamic duo-puluh :-) dan mungkin sekarang lebih.

Seperti orang tua pada anaknya, sangat sulit saya melepas P (mudah-mudahan tak begitu nanti saya pada melati). Padahal dari dulu saya setuju dengan Kahlil Gibran (mulai agak eneg sebenernya karena keseringan dikutip, tapi emang bener):
Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu
Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka dilahirkan melalui engkau tapi bukan darimu
Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu
Dengan kesadaran ini saya membesarkan melati (ceile... baru juga 11 bulan ;))) dan saya kira disertasi juga begitu. Begitu nanti dia lahir, dia bukan milik saya lagi. Saya akan berusaha menerbitkannya menjadi buku. Tapi silakan lah dia dikritik, dikutip, dikembangkan, dihujat, atau diapakan saja oleh pembacanya kelak. Saya kira kita semestinya begitu pada hal-hal yang kita lahirkan: penelitian, kertas kerja, RUU, dll. Tidak perlu terlalu posesif. Bekerja untuk orang. Bukan untuk puja puji dan ingin dicintai.

Mungkin sekarang saya terdengar seperti mbak mega, semuanya dikaitkan dengan konsep ibu :-P. Biarlah. Sebab saya memang merasa kita adalah ibu atau bapak dari segala hal yang kita kerjakan. Kita melahirkan - memproduksi - kerja. Yang dilahirkan ini bukan untuk ditimang-timang terus, tapi harus menjadi besar sendiri -atau mati. Kalau ditimang terus, sesungguhnya ia belum lahir. Kalau kita merasa ia sudah siap menghadapi dunia, ya harus dilepas betul.

Tapi apa yang Pak Gibran katakan tak gampang. P adalah salah satu tempat belajar saya. Saya meninggalkan P karena saya sadar esensi karangan Pak Gibran. P bukan milik saya. Saya dan as dulu melahirkannya, tapi dia harus dibiarkan besar dan tumbuh sendiri. Kalau saya mengetekinya, dia tak akan jadi besar. Dan barangkali dia malah akan mati karena kehabisan napas. Hakekatnya adalah untuk bernapas dan berkembang, bukan untuk diketeki.

Tapi pada 2007 saya tahu saya harus betul-betul pergi secara fisik. Tetap di situ membuat suasana tidak sehat meski saya tidak lagi duduk di kursi biru. Maka saya pergi pada 2008. "Kamu harus tumbuh sendiri, nak." Tapi saya terlalu mengganggapnya anak sehingga tak bisa lepas darinya.

Tapi sebulan ini kenyataan menggigit saya (reality bites maksutnya). Setahun (karena sampai tahun lalu saya masih dekat dengan P) sudah saya mengingkari kenyataan bahwa saya harus benar-benar pergi dan barangkali memang diharapkan pergi. I was in denial. I kept thinking about it, promoting it here and there, talked to en and ats about my ideas about P. I was even drafting a concept of "endowment for legal reform" for P. Saya kira kertas-kertas gagasan itu harus saya remas-remas dan lemparkan ke tong sampah seperti main basket (aaahh saya rindu main basket puri tiap jumat seperti dulu 2003). Saya memikirkan itu semua karena saya masih merasa dia anak saya. Dan saya bisa terus menyuapinya. Saya salah. P sudah tidak butuh saya lagi.

Nope, ini bukan mutung. Lupa diikutkan dalam rapat founders (meskipun saya adalah founder sebenar-benarnya hiks), tidak dikirimkan beberapa bahan, dan tidak masuk daftar trainers adalah realitas-realitas yang menggigit saya. Saya yakin P memang lupa. Betul-betul lupa. Tidak sengaja. Dan lupa yang tidak sengaja ini sesungguhnya adalah pertanda bahwa P sudah beranjak besar dan mesti berpisah dengan yang melahirkannya. Artinya saya memang harus move on.

Selama ini saya berusaha juggling: sekolah, kerja, dan in between terus menerus berpikir tentang P: ikut prihatin kalau ada rumor jelek tentang P, promosi P di mana-mana, bantu bikin proposal, bantu lobby dana. Dan kemudian bete ketika dilupakan. Atau email-email gagasan tak berbalas. Kemudian saya in denial berpikir: oh memang anak2 P sekarang sedang sibuk semua atau karena gagasan saya sudah tidak sesuai dengan P. Tapi itu salah. I was in total denial. Saya berusaha memalingkan muka dari kenyataan bahwa P memang sudah tidak membutuhkan saya lagi. Sekali lagi ini bukan mutung (if p people read this, really, ngambeg is definitely NOT my midde name). Ini adalah blog post refleksi. Saya masih punya banyak hal di piring saya: board beberapa lembaga lain yg lebih sering minta perhatian, konferensi-konferensi di sana sini, dan pekerjaan profesional lainnya yang sesungguhnya juga membutuhkan perhatian saya. I am moving on. I have to. Pak Gibran, wait for me, please!

No comments: