Kentara, blog posts saya makin jarang dan membosankan. Seperti menulis diary (saya menulis diary sejak kelas 4 SD), ada masa-masa seperti ini. Bukan, bukan karena facebook atau twitter. Bahkan saya menolak punya twitter sebenarnya. Cuma kehidupan yang berubah.
DD pernah menulis di fb statusnya kira2 begini: "if having a child cannot take away one's vanity, nothing will." Saya setuju 100%. Look at me, jam 12 siang belom mandi, baju belepotan makanan melati yang disembur-semburin tadi pagi, rambut lengket namun terburai kayak singa. Kaca mata boleh karl legerfeld almarhum tapi penuh cap tangan melati dan agak bengkok dia tarik-tarik.
Ini baru soal penampilan.
Lantas gimana soal kerjaan? Ampuuun, jangan tanya. Saya cuma berharap dua organisasi yang tenggat waktunya saya lewatkan tidak akan kapok memberikan kerjaan mengedit kepada saya lagi (kakak if you read this, maaf lahir batin sekali lagi).
Social life? Kalau ketemuan temen sambil sibuk ngasih makan si melati dan gantian sama ff gendong si melati yg rewel karena restorannya keren tapi temaram bisa disebut good social life, ya silakan aja.
Dua hari lalu tiba-tiba saya merasa invisible dan bukan diri saya sendiri. Mendadak saya merasa saya bahkan tidak memiliki diri saya sendiri. Entah kenapa. Mungkin karena kemarinnya saya bersosialisasi lagi dan menghadiri final exam ariel. 5 tahun dia lulus. Dan amy bertanya pada saya: "do you have any plan for final exam?" saya bilang, "yes, but it doesn't have to be a realistic one, right? next year!" Ah jumawa. Lalu saya pulang dan menemukan si melati cuma makan sedikit karena bukan saya yang nyuapin dan saya masih harus menidurkan dia, bikin makanan, dan seterusnya dan seterusnya. Lalu saya lupa pada percakapan saya dengan amy dan pada apapun. Sampai keesokan harinya ketika si melati menolak makan seperti biasa sambil berteriak luar biasa nyaring, saya yang belepotan brokoli dan bau ayam rebus (karena entah mengapa tutup blender terbuka) terhenyak duduk. Capek setelah mengejar-ngejar si melati yang hari itu lebih dari 6 kali naik tangga ke atas diam-diam dan tiba-tiba saya merasa jadi lebih capek karena makanan yang saya buat susah-susah dia buang begitu saja. Saya cuma memandangi si melati yang menyepak dan menangis. Lalu saya teringat cucian di bawah, meja dapur yang harus dibersihkan karena makanan tumpah, rencana field trip bulan depan, final exam, disertasi saya dan 2 kerjaan yang belum selesai. Lalu saya menangis berdua melati. Kemudian saya bilang pada diri saya sendiri: kalau orang lain bisa mengurus anak sendiri tanpa bantuan kenapa saya tidak? Lalu saya menyeka air mata saya, merasa tegar lagi, memeluk melati, dan berbisik kepadanya barangkali untuk yang kesejuta kalinya bahwa saya mencintainya lebih dari apapun. Tapi saya merasa harus memberi justifikasi untuk air mata saya: saya mengurus melati, sekolah, dan kerja. That's 3 in 1. Saya merasa "tembus pandang". Saya merasa saya bahkan tidak memiliki tubuh saya lagi.
Tapi seperti yang pernah saya tulis, bisa jadi melati adalah sebuah justifikasi juga.
Sebab lainnya kenapa blog ini makin jarang diisi dan membosankan adalah karena saya merasa semakin berjarak dengan Indonesia. Bandingkan posting saya pada sekitar 2006 dengan sekarang. Bahkan tahun lalu saya masih update dan masih bisa menulis op-ed. Sekarang saya rindu luar biasa menulis op-ed. Sungguh. Tapi rasanya tak mampu. Mengomentari pejabat-pejabat hukum yang baru saja rasanya tumpul benar. Meski mengikuti berita online, ada yang tidak "terbaca". Ada bagian-bagian yang tidak bisa lagi menyulut "kemarahan" yang saya butuhkan untuk menjadi tajam. Jarak saya kira memang tidak bisa dibohongi sepenuhnya. Kalaupun ia dimanipulasi oleh jaringan komunikasi, ada suasana, aura, atau enerji yang tidak bisa saya tangkap di sini. Tentu berbeda misalnya, antara menonton pemilihan KPK di Jakarta yang sumpek dan menyebalkan dengan membaca berita pemilihan KPK di Seattle sambil minum susu coklat di malam dingin bersalju. Ada enerji yang tidak bisa ditangkap radar saya.
Tahun lalu penyambung2 enerji itu masih ada. Chats, sms dari kamerad di Jakarta jalan terus. Karena konteks advokasi. Enerji kegelisahan saya terpelihara baik. Sekarang semua putus. Semua sibuk sendiri. Dan saya sendiri pun tembus pandang. Maka enerji itu hilang. Ketajaman saya, kelihatannya, juga pupus. Saya sedih, sebenarnya.
No comments:
Post a Comment