Wednesday, August 04, 2004

Ngilngof Agustus 2004

Ngur Bloat, Desa Ngilngof, Maluku Tenggara, 4 agustus 2004

Nah, sekarang gue lagi di Maluku Tenggara. Diundang Yappika untuk menjadi trainer dalam LDT yg mereka selenggarakan dengan mitra mereka di Tual, LSM yg namanya Hivlak. Tual itu di Kepulaian Kei, Maluku Tenggara. Tapi pelatihan ini diadakan di Ngur Bloat, suatu daerah di desa Ngilngof, sekitar 5km dari Tual. Ke sini naik pesawat Mandala ke Ambon via Makassar. Dari Ambon naik pesawat Bali Air yg fokker (kayaknya), penumpangnya cuma 35-an orang, ke Langgur. Di Langgur itulah airportnya kalau mau ke kepulauan Kei. Lucu, begitu selesai semua penumpang turun dari pesawat, airportnya dikunci! Hehe, kayak gue ngunci kantor kalo udah malem gitu... terus juga nggak ada conveyor belt, semua barang dikeluarkan dari loket raksasa, terus orang ambil aja barangnya masing-masing.

Di Tual jarang sekali ada internet. Di sini, di Ngilngof malah “seng” (tidak) ada listrik, telepon, dan bahkan sinyal hp! So, gue menghilang dari the modern global network communication selama enam hari! :-) Asik yah! Beberapa langkah di depan penginapan sudah pantai. Ngur Bloat sendiri artinya pasir panjang. Ngur=pasir. Pasirnya amazingly white!! I mean, really white!! Dan sangat halus, seperti tepung. Susah memang untuk dideskripsikan. Tapi bayangkanlah begini:

Di suatu sore, saya berjalan di atas pasir yang halus dan putih, seperti pupur putih perempuan yang membuat wajah sedap dipandang, seperti tepung yang membuat kue yang enak.
Putihnya pasir memanjang sejauh mata bisa memandang ke kanan dan ke kiri yang lantas dihalangi oleh hijaunya semak dan pepohonan kelapa.
Pohon kelapa membentang seperti lukisan indah yang klasik tentang “nyiur melambai” yang melambangkan eloknya negeri ini.

Seperti leher jenjang seorang gadis, miring menjorok ke laut dengan lambaian daunnya yang seakan memanggil birunya laut untuk menyentuh pasir putih.
Anjing menggonggongi saya dari jauh, mungkin karena bau saya asing buat dia. Moncongnya yang hitam seperti warna tubuhnya yang lain sedikit tercoreng oleh pasir putih yang menyilaukan mata. Seperti Piet Hitam yang diam-diam memakan krim putih di kue tart Sinter Klas, krimnya tertinggal di ujung hidungnya.
Di ujung kiri segerombolan anak laki-laki kecil, berkulit hitam, berambut keriting, bermain bola bersama. Seekor anjing mengikuti mereka
Sedikit menjauh dari pantai, empat buah kapal kayu tertambat. Warna warni. Satu di antaranya bersiap berangkat untuk menangkap ikan.
Senja hampir tiba, sayangnya ujung langit tertutup awan kelabu, walau langit di atas birunya indah tiada terkira.
Mata saya tertumbuk pada segerombolan kilau putih yang menarik. Lempengan kerang dan batu laut. Semuanya putih! Saya kira itu sebabnya pantai ini begitu putih.
Ketika kaki dicelupkan ke dalam laut, mata masih bisa memandang semua isi pantai dari atas, karena lautnya begitu jernih! Jernih, biru, tiada ombak. Tenang. Suara-suara burung terdengar dari jauh, disertai gonggongan anjing dan suara anak-anak bermain.

Begitu indahnya! Gue kira hanya penyair hebat yang bisa menggambarkannya melalui kata-kata. Itu senja dua hari yang lalu. Sekarang coba lihat senja tadi:

Berdiri di dermaga desa Debut. Orang ramai turun dari angkot, berlomba naik ke kapal-kapal kecil yang akan mengangkut mereka ke pulau seberang.
Senja masih menggayut di barat, membentuk bayang-bayang indah gadis-gadis berambut hitam keriting dan laki-laki bersuara dan bertawa ria keras.
Sinar senja yang jingga menerangi sebagian wajah mereka dari samping. Menimbulkan siluet yang menarik. Cantik dan rupawan!
Sebagian makan kacang rebus, perahu yang satu beranjak meninggalkan tepian laut. Di pulau seberang, sebuah mesjid putih megah berdiri. Di belakang, pujian-pujian terhadap yesus kristus didirikan.
“Kampung di sini biasanya terbagi antara kampung Islam, Kristen, dan Katolik. Tapi tidak seperti Ambon, kami hanya sebentar saja bisa diprovokasi, hanya 3 bulan. Karena kami punya adat Aini Ain (semua bersaudara) masih sangat kuat. Desa Debut adalah salah satu contoh desa yang plural,” Pak Bosco bicara.
Tiga anak lelaki kecil berceloteh keras di atas perahu, mengkhayalkan mereka akan segera buang sauh. Jangkar berkarat ditarik, mereka menjauh sedikit, kemudian kembali lagi. Dalam hati saya bernyanyi: “Nenek moyangku orang pelaut...”

Angin kencang bertiup. Dingin. Di seberang ada pulau yang terdiri dari satu kampung saja, kampung Islam dengan mesjid putih megahnya. Di belakangnya ada pulau dengan kampung Kristen, dihubungkan dengan jembatan sederhana.

Sungguh, tidak pernah sebelumnya saya melihat jingga senja yang muncul bersama biru muda langit yang demikian indah!

Gue semakin banyak berpikir soal pluralisme. Begitu beragamnya! Gue sempat bingung kenapa Kepulauan Kei yang ada di bawah, dekat Papua disebut sebagai Maluku “Tenggara”. Ternyata, sebenarnya memang “Maluku Selatan”, tapi itu tidak politically correct karena dulu ada pemberontakan RMS.

Hivlak, nama lembaga mitra Yappika yang menyelenggarakan pelatihan ini (di mana pak bosco di atas adalah direkturnya) berarti nama sejenis perahu yang isinya macam-macam.

Enbal: sejenis ubi, katanya dari Bali, makanya disebut Ubi Bali dan jadi “Enbal”. Diolah menjadi tepung dan bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan: gorengan untuk penganan sore, lempengan putih untuk teman makan nasi, lempengan putih dengan kacang untuk makanan teman minum teh. Dll. Menarik betapa beragamnya sebenarnya makanan pokok penyuplai karbohidrat bagi berbagai suku bangsa di Indonesia. Kepulauan Kei dengan enbalnya, kupang dengan jagungnya, ternate dengan sagu, papua dengan sagu, dll. Tapi suharto dulu memaksakan semua makan nasi...
Untuk mengolah enbal, akarnya harus diparut dulu kemudian diperas, karena sebenarnya beracun.

Satu-satu radio swasta di sini baru saja diresmikan 2 hari lalu. Menjadi radio kedua di Tual setelah RRI, namun jangkauannya sampai ke Fakfak. Didirikan oleh orang-orang LSM. Namanya “Radio Gelora Tavlul.” Tavlul berasal dari legenda di sini. Ada sebuah selat yang sangat berbahaya dan sering makan korban jiwa pelaut2 yang melayarinya, maka nenek moyang mereka tinggal di sebuah tanjung yang bernama tavlul untuk memandu pelaut agar tidak terjebak gelombang ganas.

Di dekat sini ada danau yang bernama Abel. Ada legendanya juga. Ketika seorang nenek perawan tua marah karena sering diolok oleh anak2 muda. Nenek marah dan menancapkan sebatang bambu sehingga desanya menjadi danau. Maka orang2 kaya berubah menjadi buaya, orang kelas menengah menjadi bangau putih, dan orang-orang kelas pekerja menjadi burung kecil-kecil (gue lupa namanya).

Kalau ada perayaan besar, termasuk pernikahan, akan digunakan “Lela,” meriam tua peninggalan portugis sebagai salah satu perangkat upacara. Berat, sehingga melambangkan keseriusan. Untuk pernikahan, lela menjadi harta nikah.

Nama-nama desa lain yang teringat: selayar (muslim), tet’oat, ramadian (kampung raja), somlain, namar. Ada ikan bobo, ikan semanda.

Baru dapet nih, sementara ngobrol sama Bang Afrizal di depan: kecoa=kedud :-)

Sebenarnya ada satu perjalanan lagi yang luput diceritakan di sini karena terlalu sibuk, yaitu Kendari. LDT juga. Kendari menarik karena daerah itu urban, banyak pendatang sehingga bahasanya campur2, makassar, buton, dll. Daerahnya sendiri tidak terlalu menarik. Pantainya biasa saja. tidak ada tempat wisata menarik. Tidak punya makanan khas, sama dengan makassar saja: pisang epe, dll. Kita di sana sempat diundang minum Sarabba, sejenis STMJ. Yang menarik buat gue adalah komunitas aktivisnya. Mereka begitu menyatu dalam kelompok prodem. Kekurangan lawyers, apalagi yg memberi bantuan hukum. Sehingga akhirnya tahun lalu mereka baru saja mendirikan IPR: institusi pembela rakyat. Gue sendiri suka menyuplai informasi buat mereka. Semangat mereka begitu luar biasa, tantangannya juga luar biasa, tapi informasi kurang. Gue cuma berharap gue setidaknya bisa membantu mengisi gap ini.