Friday, December 07, 2007
Kampung itu digusur
Sunday, November 04, 2007
Mudah Beralih Perhatian
Thursday, November 01, 2007
Experiences Which Have Most Influenced Your Life
Dia saya "paksa" mengisi aplikasi ini. Terus terang saja kemungkinannya agak kecil karena IP-nya kecil (itulah kok IP dijadikan syarat...), tapi saya ingin memotivasi dia. Awalnya dia mengosongkan bagian ini entah karena apa. Lantas saya minta dia mengisinya dan ini jawaban dia (unedited version, but I deleted the names of the organisation):
Tersentuh nggak? Saya tersentuh. Barangkali karena saya merefleksikannya pada diri saya. Mungkin juga karena saya senang karena upaya saya menggeret-geret dia ke bagian dunia yang ini ternyata punya arti buat dia.
first experience: during my occupation at P, which is my first introduction with human rights issue, i had one overwhelming moment that will change my perspective about life. While I was collecting primary data for the research about Indonesia's rights to health case, i planned to interview Mr Opik whom his child suffered for polio disease because of malnutrition. I figured that he supposed to be an ordinary farmer or villager who lived in beautiful suburban and had a good country life. So, i went to his place at Sukabumi , West Java. To went there, I was taking a bus then followed by ojek (motorcycle taxi). Well, it turned to be a long way to go to Mr Opik place because he lived in very remote area up in the mountain, it takes one hour on the motorcycle, off road, crossed bushes, rivers, and rocky mountain. At last i arrived at his house, my first impression was, how can he managed to live up here, he lived not in flatland, a cliff actually, his house was very small even smaller than my room, he lived with five family member, a wife and four child. He was unemployed, he was a freelance labour and landless farmer. He was very fragile, he said that the disease was not anyone fault he did not expect anything from his government at the first time and he did not know anything about his rights as a Indonesian citizen and as a human. Of course, because his case became popular, he got government attentions after all. but the point is, I just can believe there are people actually lived in that condition, with no electrical house hold, clean water and most important, continued income. After that i realized the world is not just us, that we have to do something to eliminate the gap and disparity between urban people and those who live at remote area like Mr Opik and recently i found that there are a lot of them with more worse condition.
Second experience: On my second occupation as a public defender assistant for L, i experience a lot of heartbreaking moments. One of that moments was when one of my client, Dadang, 25 years old, was detained at police station because he was accuse tried to break out the ATM machine. Actually, Dadang worked for the company that had an agreement with banks to delivered and filled money to the bank's ATM machine. he was accuse by his employer that he toke the money while he filled the money into the machine. Dadang swore that he never toke the money and he suspected that he was the victim of his employer's conspiracy, from the evidences and witness testimony we decided to believe him . After several trial, process we managed to convinced the judges to free him out, outside the prison building he down into his knees and pray to god and then he cried, i felt an unspeakable feeling, although we not yet won the case at that time, on that moment, I know that I had experienced and practiced ,not law, but justice. We won the case after that, but the prosecutor still challenged the case, but i have faith that we will not lose the case, because i believe as long as we based our advocacy with the values of justice which is not debatable, there are no reason to convict Dadang as a guilty party on this case. This case is convince me to always practice, not only law, but justice. So i decided to have an in-depth analysis about social justice from it core and then become an expert on this subject, so in the future, we the human rights defender, will have a strong reason to challenge the human rights violators.
Tapi di sisi lainnya, bukankah kita seringkali akan memilih apa yang akan dicitrakan bila ada pertanyaan seperti ini? saya sendiri selalu memilih jawaban saya sesuai dengan peserta :-) ketika menjawab pertanyaan yang sama yang memang selalu kami tanyakan sebagai bagian dari ice-breaking dalam pelatihan-pelatihan. Tapi toh meski ada suatu citra yang memang sengaja ingin ditampilkan (bespectacled!), pasti itu semua adalah pengalaman nyata dan ada passion yang terungkap ketika pengalaman itu diceritakan ada pelajaran, refleksi, yang memang nyata dirasa dan memberi pengaruh dalam hidup.
Ada dua cerita yang paling sering saya pilih untuk pelatihan-pelatihan itu. Pertama, cerita soal papa yang suka mengajak saya ke hutan dan kampung, sembari mengajarkan nilai-nilai kesetaraan, kejujuran, dan kasih sayang. Kedua, soal masa-masa di 1997-98 yang mengubah total cara pikir saya soal kerja dan bagaimana saya akan menjalani hidup.
Now, what are YOURS? No, you don't have to write them down or tell me about them. Just think about it. It's nice. Banyak hal di dalam diri kita sendiri yang bisa membuat kita belajar memahami hidup.
Monday, October 22, 2007
Melarang Trolley
Sie Food
Agak repot memang bahasa Indonesia ini, upload dan download saja jadi unggah dan unduh... kan susah. Efektif dan efisien, katanya, bentuk bakunya adalah sangkil dan mangkus. Repot.. repot... Padahal, mau menggunakan bahasa Inggris saja banyak orang yang salah. Seperti restoran "Sie Food" di bawah ini.

Saya sendiri bukan orang yang berbahasa dengan sempurna. Justru seringkali jauh dari sempurna, apalagi ketika berbicara. Mas D, kalau sedang satu forum dengan saya, sering memberikan kertas kecil berisikan catatan kesalahan-kesalahan saya (tentu ini dalam forum formal, bukan acara ngobrol atau rapat). Mulai dari menggunakan kata "nggak", "gitu", sampai campuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Di blog ini saya cuek.. namanya juga blog :-).
Tapi yang mengesalkan adalah bila saya menyunting laporan penelitian kawan-kawan. Saya jadi merasa kantor ini perlu mengadakan kursus bahasa Indonesia. Atau paling tidak kami harus membahas bukunya Gorys Keraf soal narasi dan argumentasi serta diksi. Katanya bahasa juga menunjukkan logika. Saya kira ada beberapa kawan di sini yang logikanya agak ngaco.
Menariknya, saya justru banyak belajar karena menggunakan bahasa lain. Terutama waktu saya harus menulis paper dalam bahasa Inggris. Kursus bahasa Inggris saya yang pertama (dan terakhir) seumur hidup di British Council sebelum berangkat sekolah luar biasa berguna. Dipaksa menulis academic English membuat otak saya jadi lebih terstruktur. kenapa ya? Apa iya karena pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah tidak mampu mengajarkan logika bahasa yang baik?
Yang juga sering membuat saya belajar adalah Frank. Kita sering tidak sadar, dalam berbahasa lisan apalagi ketika ngobrol dengan kawan-kawan, ada kecenderungan menggunakan bahasa yang strukturnya kacau dan kadang tidak selesai. Saya kira kebanyakan karena kita sudah saling paham. Seringkali Frank jadi bingung. Kasian dia :-). Anyway, saya mau mulai dengan si restoran "sie food" ini dan please jangan berharap saya berbahasa Indonesia dengan baik di Blog ini... hehe...
Saturday, October 20, 2007
Kumpul Lebaran
Bahkan belakangan ini rasanya saya semakin merindukannya.Entah mengapa. Saya kira karena saya jadi banyak berefleksi mengenai berbagai nilai yang bertubrukan di dalam dunia saya dan dunia keluarga saya. Semakin lama semakin bertubrukan. Dan ini membuatnya menjadi menarik. Pada awalnya menakutkan, tetapi semakin saya dewasa rasanya justru menjadi semakin menarik.
Keluarga batih saya, saya sering mengklaim, adalah keluarga yang tidak bias jender. Kalau mau menyetir, mobil, saya harus mengerti sedikit tentang mesin (paling tidak tahu di mana harus mengecek air radiator, oli, accu, dan sekring), bisa mengganti ban, harus mau mencuci mobil, dan harus mau mengecek kondisi dasar mobil sebelum berangkat. Kalau belum bisa hal-hal itu dan tidak mau kotor, saya dilarang menyetir mobil, tidak seperti putri raja yang hanya tahu menggunakan mobil dan membiarkan orang lain mengurusnya Kebetulan juga kami tidak pernah mampu punya supir dan hanya bisa memiliki mobil jelek yang selalu rusak sehingga mau tidak mau saya memang jadi harus belajar banyak hehe…
Saya juga tidak dipaksa ke dapur. Seperti halnya abang dan adik laki-laki saya sering juga diminta ke dapur. Papa juga kadang memasak nasi, membuat kopi sendiri, membantu mencuci dan menyeterika.
Saya bangga dengan keluarga batih saya yang egaliter. Yang membentuk saya seperti yang sekarang. Tapi saya semakin sadar bahwa keluarga batih saya berbeda dengan keluarga besar papa. Atau mungkin tepatnya: keluarga batih saya punya nilai yang berbeda dengan nilai yang ada di masyarakat Indonesia pada umumnya. Bukan keluarga besar papa. Karena keluarga-keluarga batih di dalam keluarga besar papa punya nilai yang hampir serupa. Hanya saja ketika berkumpul, para perempuan menjadi kompak dan memasak bersama. Para lelaki mengobrol politik dan para perempuan bergosip. Tapi lelaki dan perempuan bisa “ngadu bola” bersama.
Tetapi memang ada nilai-nilai tertentu yang tidak bisa dihilangkan: soal peran perempuan dan agama. Begitu mengurat akar. Para perempuan di keluarga besar ini memang “perkasa” pemberani, kuat, dan pengambil keputusan. Tetapi bagaimanapun di masyarakat ini semua perempuan adalah “istri” dan “ibu”. Ia harus tetap melayani suami dan anak-anaknya, ia harus melahirkan, dipanggil untuk diminta membuat kopi atau mengganti baju kotor bayinya. Tentu saja yang bisa melahirkan memang hanya perempuan, tapi yang mengesalkan adalah segala sesuatunya tentang mengurus anak juga seakan melulu tugas perempuan. Yang berbeda hanya generasi saya dan sepupu-sepupu saya, dengan para suami yang juga menyuapi anak dan mencuci botol susu. Dan para suami yang tidak berteriak, "Bu, bikinin kopi dong!" sembari bergeming dari tempat ngobrolnya dengan bapak-bapak lain. Lumayan melegakan.Kasihan para perempuan yang belum menikah atau yang sudah menikah namun belum punya anak, seperti saya. Seegaliter apapun keluarga ini, segagah apapun perempuan-perempuan di keluarga ini, ia tetap perempuan, saya tetap perempuan. Yang tak henti ditanya: kapan menikah? Kok belum punya anak? Saya didoakan secara khusus agar saya segera hamil, huahaha gimana bisa hamil kalau memang sengaja pakai kondom? Berharap kondom bocor?? Hahaha.. . Saya hanya ketawa di dalam hati. Tetapsaja, di tengah para perempuan gagah, pemberani, dan pengambil keputusan ini, nggak bisa dimengerti kalau “kawin bukan sekadar untuk punya anak” “Habis kawin pasti hamil” seakan jadi hukum alam. Aneh.. aneh… Entahlah, mungkin juga isunya bukan pada keluarga besar ini. Tetapi pada mama, sebab memang mama yang heboh. Yang lain sepertinya lumayan paham, justru mama yang berlebihan. Agaknya Mama yang merasakan tekanan ini, meski saya sendiri tidak. Mungkin saya harus maklum.
Yang juga mengejutkan soal peran perempuan adalah ketika ibu berpendapat soal menantu perempuannya: bagaimana ia tidak pernah masak untuk mertuanya, bagaimana ia selalu pulang jam 9 malam, bagaimana ia selalu bangun agak siang, dan lain sebagainya. Saya kira si mbak memang agak keterlaluan, tapi mendengar keluhan ibu soal si mbak yang tidak pernah memasak, saya jadi semakin merasa bersyukur saya tidak punya mertua di sini hehehe.. But above all, saya jadi semakin merasa berat untuk menjadi perempuan di masyarakat ini.
Saya dan ff memang mempunyai banyak perbedaan kultural yang membuat kami berbeda pendapat dan kebiasaan. Mulai dari soal makan di pinggir jalan sampai soal cara menyimpan makanan di kulkas. Tapi banyak hal pula yang rasanya -dengan pendidikan dan latar belakang saya- lebih nyaman buat saya.
Thursday, October 11, 2007
Candu-candu
*Dengan nama Allah, Yang Pemurah, Yang Pengasih*
Diumumkan kepada masyarakat Indonesia bahwa pada pertengahan tahun 2005 seorang rasul Allah telah dibangkitkan di tengah-tengah mereka.
Benarkanlah bahwa saya, ****** , adalah rasul dari Pemelihara semesta alam.
Barang siapa yang kepadanya telah sampai berita ini, wajib untuk mengimani dan mentaati rasulullah. Mudah-mudahan ketaatannya akan menjadi jalan bagi keampunan dan kecintaan Allah.
Barang siapa yang mengingkari, maka cukuplah Allah sebagai saksi. Dia yang akan menghakimkan antara kita, dan Dia lah sebaik-baik hakim.
Jakarta, 1 Oktober 2007 / 19 Ramadhan 1428
Sebagian kawan tertawa terbahak-bahak dan terkekeh kekeh. Sebagian lagi menganggapnya gila. Sebagian lagi mengolok-olok dan mencoba mengorek masa lalunya. Saya sendiri belum punya kesimpulan apa yang saya pikir mengenai anak itu. Saya hanya tak habis pikir bagaimana ia bisa mencapai kesimpulan itu. Apa yang dia alami? Apa yang dia pikirkan?
Lalu saya teringat Muhammad dan Yesus, juga para nabi dan rasul lainnya dalam agama-agama Samawi. Mereka juga pasti mendeklarasikan hal yang serupa. Dan semua orang pada zamannya juga menganggap mereka gila dan mentertawakannya. Kalau saya bicara ini sekarang, orang-orang fanatik pasti akan menghujat saya karena kepercayaannya yang membabi buta. “Muhammad itu berbeda, Ia membawa kebenaran”. Ya, sekarang, bagi ummatnya, dia membawa kebenaran. Tapi waktu itu?? Bayangkan di jaman jahilliyah dulu, tiba-tiba ada seseorang yang berkata: “saya adalah utusan Allah”. Persis seperti si kawan saya itu.
Saya jadi teringat lagi-lagi pada diskusi soal agama sebagai suatu realitas sosial, soal bukunya Sam Harris The End of Faith, soal bom bunuh diri dua hari yang lalu di Pakistan, soal biksu-biksu di Burma, soal perang di Irlandia dan di Palestina, dan lain-lain. Betapa banyak hal absurd. Betapa banyak perang dan pertumpahan darah karena kepercayaan pada agama. Sama halnya dengan banyaknya orang-orang tidak berdosa yang mati karena keputusan-keputusan politik demi kepentingan ekonomi, yang diambil di gedung ber-AC, oleh orang-orang yang harga jas-nya sama dengan gaji minimum buruh selama setahun di Indonesia sembari minum kopi mahal dan cerutu.
Thursday, September 27, 2007
Toa Mesjid
Adzan, menurut saya, tidak menjadi masalah, sepanjang dikumandangkan dengan indah, bukan dari kaset. Namun yang jadi soal adalah volume pengeras suara dibuat maksimum, padahal di suatu lingkungan bisa aja 3 sampai 5 mesjid. Ditambah lagi, ada acara dan ceramah ngaji yang juga dikeraskan melalui pengeras suara, dengan suara luar biasa buruk (bukan hanya tidak berirama), suara qasidahan yang sangat jelek (menurut saya qasidah harus dihapuskan, hanya memalukan ummat Islam), dan dikumandangkan sebelum sholat subuh. Banyak hal yang menurut saya merupakan ritual pribadi untuk semacam meditasi mendekatkan diri pada Allah namun kok disuarakan di pengeras suara mesjid???
Yang pro, tentu saja menyatakan soal tradisi, syiar Islam, dan segala macam. Ya, saya juga sering rindu suara takbir lebaran misalnya, atau tersentuh ketika mendengar suara azan. Namun apa itu artinya semua mesjid harus berlomba-lomba mengumandangkan azan sekeras mungkin?? Di beberapa negara Islam, ada pengaturan yang ditepati mengenai suara dari mesjid yang tidak boleh melewati batas tertentu. Di negara-negara sekuler, peraturan ini berlaku untuk semua rumah ibadah.
Saya tidak mau menulis panjang lebar lagi soal ini. Thread soal toa mesjid di milis itu amat sangat panjang. Yang jelas saya kontra mesjid berisik dan pro pengaturan. Tapi seperti biasanya saya hanya pembaca setia milis. Hanya mengamini di dalam hati para anti volume maksimal di mesjid. Nah, menariknya, gara-gara diskusi itu pula, saya baru tahu bahwa pengaturan yang saya inginkan itu ternyata selama ini sudah ada sejak 1978!! Tetapi seperti biasanya tidak ditepati…
Salah seorang peserta milis mengatakan. ada Instruksi Dirjen Bimas Islam No. Kep/D/101/78 tanggal 17 Juli 1978. Instruksi Dirjen Bimas Islam itu salah satunya diterjemahkan oleh Dewan Masjid Indonesia Jawa Barat, yang aturannya secara ringkas seperti di bawah:
- Pengeras suara/speaker dalam keadaan baik sehingga suara yang terdengar tidak mengganggu.
- Speaker dalam dan luar harus dipisahkan.
- Pada dasarnya suara yang memakai speaker luar hanyalah azan sebagai tanda telah tiba waktu salat.
- Salat dan doa untuk kepentingan jemaah, suaranya tidak perlu dikeluarkan melalui speaker luar.
- Penggunaan pengeras suara pada saat sebelum waktu subuh (untuk membangunkan kaum Muslimin) paling awal 15 menit, dengan menggunakan speaker luar saja, agar yang sedang beribadah di dalam masjid tidak terganggu.
- Aktivitas Jumat seperti pengumuman, doa, dan khotbah dapat menggunakan speaker dalam.
- Pada bulan Ramadan penggunaan speaker untuk tujuan tadarus bisa menggunakan speaker dalam.
- Takbir Idulfitri dan Iduladha dapat dilakukan dengan speaker luar dan dalam.
- Ceramah atau tablig akbar bisa menggunakan speaker luar dan dalam.
- Speaker masjid bisa dipakai sebagai pusat informasi jemaah untuk pengumuman kematian, musibah dan bencana, serta semua aktivitas demi kemaslahatan jemaah.
Friday, September 21, 2007
Hanoi
Pulang sehari dari Leiden, langsung ke Hanoi. Drastis sekali perbedaannya. Yang satu kota tua yang sangat tenang, dingin menyejukkan, sepi, tertib, penuh dengan pemandangan bangunan tua yang indah, dan mahal. Sementara yang lainnya panas, dengan jalanan yang penuh dengan motor dan mobil yang berseliweran ke semua arah dan berlomba membunyikan klakson, kotor, dengan taman dengan patung lenin, kutipan Ho Chi Minh di mana-mana, gedng-gedung peninggalan jaman kolonial Perancis, dan serba murah. Keduanya menyenangkan dengan cara yang berbeda.
Saya ke sini untuk seminar yang diselenggarakan oleh Partai Komunis Vietnam - tentu saja hanya ada satu partai di sini. Buat saya ini menarik karena belum pernah ke negara komunis atau sosialis manapun. Dan lebih menarik lagi karena yang mengadakan acara ini partainya. Kami bicara soal rule of law dan parlemen. menariknya karena sampai pulang saya tak habis pikir bagaimana mereka akan mengimplementasikan berbagai kritik soal representasi di negara komunis ini. Boleh-boleh saja dia maju dengan industrinya, mencampur sosialisme dengan pasar bebas dan segala macam, tapi pada akhirnya toh sistem pemilunya, sistem kepartaiannya, dan sistem pemerintahannya memang komunisme. Lucu juga bagaimana kami yang dari Indonesia, Malaysia, India, Jerman, Filipina, dan Thailand bicara demokrasi (meski Malaysia dan Thailand juga nggak bisa dibilang demokratis :-)) liberal sementara toh tuan rumahnya sendiri nggak bisa bicara soal sistem multikepartaian dan desentralisasi.Tapi di luar soal-soal serius itu, saya senang banget ada di sini. Dengan berisiknya, dengan pengendara motor tanpa helm namun bertopi lucu-lucu, dengan lalu lintasnya yang lebih gila dari Jakarta. Saya juga ke restoran bobby chin dengan a dan ketemu orang peranakan Indonesia-Jerman yang cantik yang bekerja sebagai pelayan di sana. Kalau di Jakarta dia pasti jadi selebriti :-). Saya beli baju vietnam yang seksi itu dan coffee makers; murah-murah banget!
Senang juga karena banyak bertemu teman baru. Mulai dari profesor Jerman yang heibat dan baik hati, mbak dari fes yang juga baik dan mengajak saya ke chocolate buffet (oh I so like it! Wish we have it here in Jakarta), anggota parlemen Malaysia yang menarik, kawannya Upen professor favorit di Warwick (Upen udah nggak di Warwick!), dll.
Seru lah.
Tuesday, September 11, 2007
Nicht Rauchen, Niet Roken, No Smoking
Smoking prohibition in public space is spreading. I basically agree with it, but i do think that pubs and clubs have to be exempted and there must be smoking rooms in hotels. Some states in Germany had introduced the law last month and will be more in January 2008. England, too! Arrgh. Again, i agree that smoke haters should also have their rights of smoke-free places, but pubs and clubs?? I remember feeling cold outside a pub in New York in winter 2003 and leaving my drinks inside. That was awful. Also when i went for some drinks with some colleagues in seattle - drinking without smoking is really bad.
Leiden is nice, small and old. Have series of meetings and a conference with an annoying organiser who does not understand that "law reform" and "legal reform" basically have the same meaning and did not read my abstract. D'oh!
Surprisingly I met Rikardo in the post kantoor just behind de Doelen hotel. Now in Niuew Minerva hotel. The bad thing about the old and nice hotels here is that it does not have lift, lucky that I am travelling light this time. But unlucky thing about this trip is that ramadhan is approaching so that I am getting too many "maaf-maafan" sms (and they are usually long with supposedly poetic words, or trying to be at least) while they charge me for receiving sms, pelit banget ya kesannya hehe, but they are just unnecessary, i know it is just a nice and practical way to keep in touch, i also thought about it frankly speaking, but why now??
"dengan tidak mengurangi rasa hormat, segera hentikan sms puasa dan lebaran itu! I can't stand it anymore!!!"
Wednesday, August 29, 2007
My favourite things
On the way back to the office, I listened to some classic rock music, stopped by at dapur cokelat to buy some pralines for the office kids and a glass of cold chocolate drink for myself. Traffic jam and stupid Kopaja drivers who stop anywhere they want did ot bother me at all. Suddenly I remember this song: my favourite things
When the dog bitesChocolate, music, newly absorbed information and knowledge, small talk with taxi driver, and some up close focuses on the street vendors and people on the bus. I feel fine this afternoon.
when the bee stings
when I'm feeling sad
I simply remember my favourite things
and then I would feel allright
Thursday, August 23, 2007
Monday, August 13, 2007
One Sunset
I feel romantic and wrote a piece of rubbish about waiting for a delayed plane - a letter that is never sent. Last nite I thought about my insecurity- trying to analyse why I have that feeling. I read a book given by a, had sleepless nites because of jetlag after germany, travelled alone here after three weeks of intensive "family" travelling, re-arranged my schedule after the three weeks, contributed to mbak Sandra's discussion, and lastly, here in this plane. And I suddenly feel very secure, independent, and stressfree.Yup, this is it: I just need to stop analysing and start using my left brain more. I just need to set my brain free from the boxes and see things with my heart, pay attention to every detail of life because life is indeed beautiful. And I love life. I knew for so long that I love life, now I understand more why I love life. It is the blue of the mountain, the sunset, the faces of people I see, all the details around me. I own my life.
Monday, July 30, 2007
Mertua
Sunday, July 29, 2007
Kawan-kawan di Berlin
We talked about Indonesian "diaspora", well we realised that it may not be a correct term, but anyway we were talking about Indonesians who went or are abroad, for studying, working, and all that. But we actually are not successful in making significant changes in our country. Very different with Indians, Filipinos, and many people of other countries.
What interests me the most is the fact that they are Indonesian who have been living abroad for so many years and they have very different perspective in seeing Indonesia. The have different spectacles. They are very critical. I believe they are thousands Indonesians are like that. But what we can do to fix the problems?? We are not well connected to each other and do not know how to move people who have power to use the same, or at least similar, perspective so that we can together change this corrupt and poor country. This disturbs me so much, because I am a part of them but I also cannot actully "move" this crowd. Of course there are "perkumpulan alumni" from country a, b, and so on. You name it. But what can we do?? Don't get me wrong, I am not being frustrated, this talk anyhow encourages me that there are people as annoyed as me. We all just don't know how to make a move. Oh well, I think this what always bothers many intellectuals anywhere at any time so that at some point they create big change.
Just talking to them made me think a lot. About lives that are not only about work, about living abroad, about the religious trend in Indonesia, about pejabat, and many other things. But the most memorable thing is the very nice pepes ikan with wine leaves and urap with wine leaves. Believe me it is the most delicious pepes ikan and urap I had so far! :-) unfortunately I forgot to take picture of the pepes.
Thursday, July 26, 2007
LSA Symposium 2007
Conference ini sebenarnya sangat menarik. Makanya saya memaksakan diri datang ke sini dengan segala upaya cari funding sendiri dan memaksakan diri membuat paper di tengah kesibukan yang luar biasa. Ribuan makalah hukum yang bagus dan aktual diproduksi dan dibahas di sini. Tapi saya jenuh sekali. Overwhelmed. Perasaan ini datang lagi. Cibiran saya pada obrolan akademik yang luar biasa indah tapi "apa manfaatnya" buat rakyat? Seperti de ja vu. Saya pernah di conference sebelumnya di vancouver dan cibiran itu sudah keluar. Tapi kok saya nggak kapok ya? Hehe. The thing is I need the brain exercise and it is actually not fair to generalize. Organisasi ini yang didirikan salah satunya oleh Pak Dan, juga banyak beranggotakan orang-orang seperti Pak Dan, Upen my favourite professor (he is here!!), veronica, dll.
Saya hanya muak melihat inteletual genit-genit. Hanya berpikir soal publikasi berikutnya dan proyek berikutnya. Dua kali ke event ini dua kali pula saya jadi berpikir soal 'apa iya saya mau akademisi"? Oh well mungkin saya mau jadi akademisi seperti Pak Dan dan Upen. Bukan akademisi di balik meja dan membawa perubahan.
Tapi dengan ribuan "pakar-pakar" hukum di sini, di event yang internationally prestogious amongst legal scholars, saya malah capek dan overwhelmed. Saya hanya datang pada hari di mana saya harus presentasi. Ketemu "gank" Leiden (panel saya isinya orang leiden semua), makan siang bareng di belakang (kebetulan hari ini lagi ada matahari, ini di humboldt university by the way), and that is it. Selanjutnya saya kabur, jalan-jalan-jalan aja keliling berlin.
Sunday, July 22, 2007
Capek

Bayangkan ada sebuah mesin yang berjalan dengan banyak mur dan baut. Satu bagian mesin bekerja dan bekerja dan bekerja, tapi ada beberapa mur yang lepas, sehingga bagian lain tidak bekerja. Mesin berjalan, tapi lambat. Dan bagian mesin yang terus bekerja dengan baik lama kelamaan aus, mungkin sebentar lagi mati, atau terlepas dari mesin itu.
Ini nggak baru. Sudah lama sering muncul, tapi terus saya coba buang dan buang. Ada di banyak tempat. Di kantor, juga di lingkungan yang lebih luas. Refleksi saya: barangkali ini suatu dilema yang harus dihadapi seorang "manajer" (bukan dalam arti boss atau pimpinan politik, leader secara umum saja) dan jawabannya adalah persoalan manajemen dan mengatasi rasa frustasi ini. Namun memang akan selalu ada titik nadir. Dan itulah saatnya dia pergi. Mungkin untuk kembali lagi. Tapi yang jelas harus pergi untuk mengambil jarak. Soalnya adalah bila ada "hati" yang tertinggal pada mesin itu. Ada keinginan kuat untuk membuat mesin itu terus berjalan.
Saya sedang ada di situ, persis di situ.
Thursday, May 17, 2007
Resistensi
Saya tidak hendak menceritakan sejarah masyarakat samin, atau sedulur sikep. Karena sejarah dan keberadaan mereka yang luar biasa sudah banyak catatannya di web. Biar "ringkes", lihat saja hasil browsing terpilih di bawah ini:
- http://www.indomedia.com/intisari/2001/Juli/warna_samin.htm
- https://www.kompas.com/kompas-cetak/0510/26/humaniora/2156758.htm
- http://www.kompas.com/gayahidup/news/0601/25/165211.htm
- http://www.kompas.com/gayahidup/news/0601/30/170845.htm
- http://ini-bukan.blogspot.com/2006/02/keindahan-rendah-hati-sedulur-sikep.html
Catatan ini hanya ingin mengungkapkan kekaguman saya. Saya beruntung bisa bertemu dua orang di antaranya. Dalam acara yang saya fasilitasi itu. Mas Gunritno dalam acara itu menolak berbahasa
“Buat apa kita bicara soal pencatatan dan segala macam itu? Kami tidak membutuhkan negara, negara yang membutuhkan kami.” Ini salah satu kalimat yang saya catat ketika itu. Pernyataan senada datang juga dari yang lain, dari kawan-kawan
Pernah juga, menurut cerita mas Gunritno, ada proyek sebuah universitas negeri yang lumayan terkemuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka adalah masyarakat tertinggal. Rekomedasi riset: buat proyek-proyek untuk memodernkan komunitas sedulur sikep! Ya, tentu saja, proyek. Maka cerita resistensi mesti berlangsung lagi. Masyarakat modern dengan segala hukumnya tentang progress, teknologi, dan rasionalitas modernisme. Yang tidak masuk dalam kategori ini harus dipaksa masuk.
Saturday, May 12, 2007
Sanggau, Mei 2007

Sanggau itu kira-kira enam jam ke arah timur dari pontianak. Entikong, salah satu kecamatan di dalam Kabupaten Sanggau, berbatasan dengan Sarawak. Ada website resmi kabupatennya: http://www.sanggau.go.id/.
Waktu terbatas, sayang sekali. Padahal saya ingin sekali naik boat menyusuri sungai kapuas ke pelosok-pelosok. Sayangnya saya mesti mondar mandir, wara wiri, bolak balik, beberapa bulan terakhir ini (kalau bukan sepanjang tahun :-)), tour of duty, padahal kerja sudah menumpuk juga di kantor. Mesti mencari kesempatan ke sini lagi. Saat ini saya hanya punya waktu dua hari. Lumayanlah. Untuk bercerita, dan mengisi-ulang baterai semangat saya, berhubung saya lagi kesal luar biasa dengan negara ini. Momentum ini pas sekali. Tepat pada saat saya ingin lari menjauh dari hiruk pikuk politik yang memuakkan di Jakarta. Malam menjelang perpisahan pak boss yang terdepak itu, saya malah bakar ikan di Sanggau. Biar kemarahan ini tidak meledak dalam bentuk cerocos dan racauan tak terkontrol di media.
Naik "batavia air" ke pontianak, singgah di kantor kawan, lantas naik mobil enam jam ke Sanggau. Lewati saja cerita soal pelatihan. Tidak ada yang istimewa. Oh, actually, hanya satu catatan kecil: saya baru tahu pemda Kabupaten Landak pernah menerima review perda-nya dari Depadagri setelah tujuh tahun menunggu! Nah, kan... dasar sompret.

Lalu malamnya ke rumah Mona. Menyenangkan. Sebuah rumah sederhana di gunung, dengan empang, halaman luas, dan dua anjing yang lucu-lucu. Kawan L jago bakar ikan. Sayang malam itu langit tidak cerah, dan tak lama hujan turun. Kita menduga L yang anak tumenggung dayak sudah sekuat tenaga menahan hujan sampai semua ikan terbakar :-). Sederhana sekali: ikan yang dibakar dengan api unggun dan daun pisang, disajikan di baskom, dan diberi bumbu kecap-cabai-bawang. Tapi nikmat luar biasa. Karena dinikmati dengan kawan yang bercerita soal banyak hal, sembari minum bir dan tuak.
Seperti biasa, kawan-kawan baru menduga saya akan cepat mabuk. Dan seperti biasa juga dugaan itu salah hehehe. Di sana ada Stella Artois, yang tak pernah saya minum lagi sejak pulang dari Inggris. Sebab di Indonesia tidak dijual, mereka dapat dari Malaysia. Tuaknya enak, sama enaknya dengan tuak yang saya nikmati di Aceh bersama beberapa kawan (di Aceh traditionally ada alkohol?? Yep, ada, sama saja dengan kenyataan bahwa pahlawan-pahlawan perempuan aceh tidak memakai jilbab dan pakaian asli tarian aceh untuk perempuan tidak ada unsur jilbabnya… jadi syariah yang sekarang bikinan siapa?).
Saya hanya sempat jalan-jalan sedikit dua hari itu, yang dekat hotel saja. Kebetulan hotel ada di pinggir sungai. Sore-sore menonton anak-anak kecil main layang-layang. Di dekat hotel ada pasar lama. Dengan sebuah kelenteng cina dan mesjid yang bersebelahan langsung. Sebelum kembali ke Pontianak kami lagi-lagi ditraktir Mona dkk. Makan gulai ikan. Makan siang terenak saya sepanjang 2007!
Wednesday, May 09, 2007
Sompret Bodoh Yang-nggak-ketolong-lagi
Soal pak boss, tentu saja saya sudah dengar malam sebelumnya dari dia. Tapi malam itu rasanya semuanya memuncak. Seperti biasanya, Frank yang selalu rikuh menghadapi emosi saya, hanya diam dan meninggalkan saya sendirian. Saya tidak bisa tidur semalaman dan emosi luar biasa. Hanya karena reshuffle. Sepele ya? Bahkan mungkin hanya setengah
Lantas tiba-tiba malam itu semua mencapai titik kulminasinya. Saya hanya letih luar biasa, mungkin.
Thursday, May 03, 2007
Malam Jumat di Solo
Sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta dengan segala konteksnya di kepala, buat saya ini pengalaman yang menakjubkan karena sangat tidak rasional. Untunglah saya nggak sendirian. Mas Hadar juga sama takjubnya dengan saya ;-).
Sebenarnya bukan hanya pemikiran yang timbul pada saat dan setelah itu. Tetapi juga gambaran akan tempat itu. Sebenarnya sama saja, ke manapun tempat baru, pasti saya akan luar biasa excited. Tapi saya jadi merasa pemandangan di sana sedikit romantik karena misalnya ada wajah mbah jawa penjual kembang setaman dengan kerut khasnya di balik cahaya lilin. Atau penjual obat-obatan atau daging ular, juga cerutu bikinan sendiri. Penjual barang ya banyak juga. Termasuk celana jeans dan vcd penari erotis perempuan. Lapak vcd itu yang paling ramai, tentu saja.
Lalu kami melangkah ke makam “someone” (don’t blame me for not remembering his name, nggak penting soalnya :-)). Ada juru kunci tua dengan dupa berasap putih di depannya, beberapa makam yang nisannya dibungkus kain, dan sebuah makam di tengah bangunan tua itu yang diberi atap khusus. Itulah makam si someone itu. Makam beratap khusus itulah yang paling ramai dikerubungi. Sama persis seperti lapak vcd erotis tadi. (saya kira persamaan antara lapak vcd erotis dan makam itu adalah pada adanya fantasi yang mereka tawarkan pada penikmatnya)
Ini foto makam itu. Saya minta ijin untuk memotret. Sayangnya tidak boleh pakai flash dan saya tidak terlalu "pede" untuk nangkring mencari angle yang lebih baik. Jadi sangat buram. Jangan berharap saya berhasil menangkap foto arwah si someone itu ya.. saya bukan "pemburu hantu":-) (percaya aja enggak...)Lalu ke warung. Duduk saja berempat. Di seberang mas eko ketemu teman-temannya. “Pejabat,” kata Mas Eko belakangan menerangkan. “Dia itu Kepala Dinas. Biasa lah, mereka pasti ke sini kalau ada maunya. Mereka sedang ada kasus,” dia menambahkan cerita panjangnya selama kunjungan tadi. Dia dan asistennya sudah bercerita segala rupa adat istiadat mistik dan kelakuan orang sekitar yang menyembah makam untuk pesugihan. Termasuk mengiyakan pertanyaan saya mengenai apakah para “mistikus” itu menyembah makam sampai pagi dan kemudian sholat subuh. Tinggal saya yang menggeleng-gelengkan kepala karena tidak paham. Saya hanya bingung memikirkan apa yang mereka pikirkan ketika sekadar tidur-tiduran menatap langit-langit makam atau cuma nongkrong di pelataran tempat ziarah itu (nah, makanya jangan dipikirin, your life is your life and their lives are their lives…).
Duduk di tikar. Para bapak pejabat (tentu saja tidak ada ibu, makanya perempuan sulit “berpolitik” di dunia politik yang maskulin ini) kami diamkan saja, toh kami berdua "wong plembang" ini tidak paham juga bahasa jawa. Di sebelah kiri saya seorang bapak dipijat oleh pemijat yang naik sepeda ontel. Sepeda ontelnya disandarkan saja di tembok warung. Tak lama, jahe gepuk panas dan tahu goreng garing datang. Nikmat betul. Lalu datang segerombolan pengamen dengan dua ukulele, gitar, bas betot tua, dan kecrekan. Menyanyi lagu jawa atau lagu pop yang menjadi berirama jawa karena instrumen dan gaya menyanyinya. Dua ribu rupiah dan sebatang rokok, kami dapat tiga lagu plus mas eko yang menjadi penyanyi tamu.
Ngobrol ngalur ngidul mengenai mistik jawa, politik di solo, dan hantu belau. Di sebelah pak pemijat bersepeda ontel masih memijat kliennya, saya lirik jam tangan saya: “gila, sudah satu jam lebih!” “Ya memang, dua jam kira-kira sepuluh ribu saja kok,” mas eko menyahut.
Lalu kami harus pulang, karena besok masih ada acara di radio sebelum ke bandara. Malam itu saya hampir tidak tidur memikirkan jadwal saya yang sedang kacau karena seharusnya sejak kemarin sampai lusa saya ada di bogor untuk menyusun modul pelatihan politik untuk parlok, sementara jumat malam saya juga harus bertemu my king of england sebelum dia kabur ke kyoto sabtu pagi. Kemudian ada rapat yayasan koesnadi Sabtu jam 10 pagi dan rapat pp perkawinan penghayat minggu jam 10 pagi. Lantas menyiapkan perjalanan ke rapat board senin besok, fasilitasi kaukus perempuan parlemen aceh selasa dan rabu, sementara sebenarnya rabu siang saya harus berangkat ke sanggau.
Tiba-tiba saya teringat para penyembah makam, pengunjung yang tidur-tiduran menatap langit di pelataran situs, pejabat peminta lindungan mistik, dan pemijat bersepeda ontel. Lagu bengawan solo dengan iringan ukulele, bas betot tua, dan krecekan mendengung di telinga saya. Saya sendirian di kamar ini.
Wednesday, May 02, 2007
Do'h!
First: when I have so many ideas in my mind but I have so little time to make them happen or to have them written. That'd be really really frustrating, I mean, really! And that happens quite a lot lately, more and more. Sometimes I’d send text messages and make phone calls to, at least, start letting people know about the idea and make them work on it. But the worst thing is if it's about ideas to write! I'd feel so helpless and frustrated whenever I have ideas crawling around my brain but I don't have time to write them! I'd write something short here.. or idea notes wherever... on a cigarettes pack, on a tissue. But then the ideas would be gone by the time I have time to write. I have already more than 10 unfinished papers/articles in my laptop and two pieces of a part of a cigarette pack and sugar sachet in my wallet about some ideas.
Second: when I have so many directives to my comrades but they are so slow and lazy not responsive. It is really frustrating when you are working hard, superbusy, committed, and hectic, but some other people who are supposed to work with you in a teamwork are just sitting, eating, chatting, or browsing the net. Ufh, I don’t know anymore, is it me or them, the problem? They can’t cope with my pace or I can’t be a bit relaxed about work? But I have responsibilities, in fact: we all do! – for there are 25 people in this ship and we all must work together to make this ship sails well and the passengers are comfortable and able to feed their families. [I always try to have empathy on the personal contexts of my workmates, but sometimes it is just too much… ]
Third: when certain people I missed soooo much are available for me but I am occupied with work or out of town… (aaaaaaaa..... iiiiiii.......)
The three things are happening to me this week…..

[check out the meaning of "d'oh!" on wiki]
Saturday, April 28, 2007
Telaga
Pagi tadi sibuk betul dengan packing lagi, setelah tadi malam pulang dari aceh hampir tengah malam dan dilanjutkan dengan sedikit kerja sampai jam 3-an, sore nanti saya harus ke bogor dan langsung meneruskan ke medan pada minggu pagi. Koper harus saya bawa. Ini jumat, hari mimbar bebas, saya semangat sekali. Meski koper terasa berat dan saya merasa hampir tak berpijak di bumi karena jadwal terlalu gila dan ide ada segunung (yes, that pleasant brain circle again after writing two papers and got two interesting personal projects). Lalu teringat janji dengan nd, saya nyengir lebar sekali. Lalu tenggelam dalam rapat-rapat, koordinasi, email, dan meluruhkan kembali jiwa saya di tengah “anak-anak” kantor. Menyenangkan.
Sore nonton film death in jakarta di levlib dan diskusi sama mba ucu dan mba vero. Lalu kembali ke laptop untuk mengurus berlin sembari dandan sedikit ;-). Tak lama, pak supir nd menjemput saya di kantor dan mengantar saya ke ciawi. Makan dulu dong [Shut up! And stop hopping around!].
Malam jam 10.15 mobil tiba di gg house, saya salaman dengan pak supir [yup, only a handshake, of course]. Saya ke sini untuk memfasilitasi kawan-kawan dari komunitas-komunitas adat dan penghayat untuk bicara soal hak adminduk mereka. Sudah 4 bulan ini saya terinspirasi luar biasa oleh kelompok-kelompok ini. Apalagi saya juga lagi belajar budisme dan sedang menggali diri saya. Saya memutuskan datang malam ini untuk mengenal dulu mereka sebelum saya memfasilitasi.
Keputusan saya kali ini memang tepat. Malam ini saya belajar banyak pada mereka, lebih banyak dari hari-hari sebelumnya. Malam ini menggali dayak indramayu dan belajar sejarah sunda dari kang g dari cigugur. Kami ngobrol sampai jam 2 pagi. Saya seperti diberi cermin kejujuran paling luar biasa. Banyak hal yang diputarbalikkan oleh mereka sedemikian rupa secara sederhana namun mendalam-dikembalikan ke “asal”.
Dayak Indramayu (Bumi Segandu). Hitam dan putih, dua warna alam: asal dan ngaji rasa, juga perlambang dua hal yang selalu berhadap-hadapan buruk dan baik, atas dan bawah, perempuan dan laki-laki. Lalu bercerita soal bagaimana mereka mendalami penghayatan ini. Tentang belajar dari alam. Dengan berupaya menyatu dengan alam dan menghayati sejarah. Agar kedinginan dan kepanasan dan segala perlambang duniawi tidak lagi menjadi beban. Mereka hanya bercelana kutung, tanpa baju. Celananya sebelah berwarna hitam dan sebelahnya lagi putih. Dengan ikat kepala hitam atau putih. Dengan sabuk kayu, gelang besar, tasbih menggantung. Tanpa alas kaki. Saya bukan antropolog, rincinya silakan baca di buku terbitan interseksi yang tebal dan bagus itu (saya belum selesai baca), saya hanya ingin merekam malam luar biasa ini. Saya belajar sangat banyak.
Lalu mereka menyanyikan sebuah kidung panjang, dalam bahasa mereka yang bisa saya tangkap sedikit karena akar banten saya, itupun hanya sedikit sekali. Tapi sama seperti aa katakan pada saya suatu ketika, kang g bilang saya harus mendengarkan dengan rasa, bukan bahasa. Karena bahasa hanya simbol yang diciptakan manusia. Kita harus berkomunikasi dengan rasa. Ini juga sama seperti yang mas anes bilang ke saya bulan lalu waktu kita ngopi dan bicara soal sidharta buddha di mahakam (ah betapa hidup ini menarik dalam keterkaitan dan keberagaman orang-orang di dalamnya, you just need to explore the Life!).
Kidung itu intinya soal alam dan kebenaran. Soal hakekat manusia yang tidak selayaknya merasa benar. Karena kebenaran itu hanya ada di alam. Kita harus menggali alam dan mengedepankan rasa. Lalu ngobrol lagi soal manusia dan bukan manusia. Kita belum menjadi manusia, mereka bilang, kita ini masih berada di dalam proses menjadi manusia. Kita masih mengandung banyak kesalahan, nafsu, dan simbol. Semuanya ada di dalam diri sendiri, kita harus menggalinya, untuk menyatu dengan alam dan dengan diri kita sendiri, untuk bisa memahami hidup. Nirvana, kalau kata Sidharta Buddha. Mas beo juga bicara soal ulat bulu yang dijijiki karena jelek dan gatal. Tapi dia kemudian berdiam dalam kepompong (cocooning, kalau kata frank dalam selimutnya), bermeditasi dan keluar dalam rupa yang lain. Rupa yang cantik dan menarik. Terlontar juga: kami yang harus bekerja di rumah, kami yang bertugas mencuci piring dan mengurus rumah. Kita justru harus belajar dari istri dan juga anak kita, karena dengan itu kita bisa "mengaji asal" dengan baik. Suami harus melakukan segala tugas rumah tangga, karena perempuan sudah bertugas melahirkan, biarkan itu menjadi satu-satunya tugas perempuan karena untuk itu perempuan sudah mempertaruhkan nyawanya. Saya terkesima mendengarnya.
Terlalu banyak yang harus saya catat, saya luar biasa excited sampai-sampai saya ingin merekam saja semuanya dengan hp saya atau membawa buku biru saya ke situ, tapi itu akan merusak suasana nyaman ini. Terlalu banyak hal yang tak mampu saya tuliskan, kesan yang ditimbulkan terlalu mendalam. Saya seperti menemukan telaga. Apalagi belakangan ini saya banyak dibenturkan pada simbol-simbol. Jangan jauh-jauh, tadi saja di jalan menuju ke sini sama pak supir nd di mobil bicara soal tulisan sutta soal akses ke dpr yang menggambarkan dengan baik bagaimana jabatan, harta, dan cara berpakaian sangat berpengaruh untuk bisa mengakses sesuatu atau mendapatkan pelayanan publik di negeri ini. Telaga ini juga untuk simpulan-simpulan saya mengenai bespectacled things di sekitar saya.
Entah apa lagi “pelajaran sekolah” besok. Pasti masih banyak karena tadi hanya satu kelompok, padahal di sini ada lebih dari 10 komunitas dan tidak hanya dari tanah jawa. Bisa puluhan tulisan dan segunung pemikiran dihasilkan dari “sekolah” ini. Ini semua menjadi inspirasi yang luar biasa karena semuanya berlawanan dari semuanya yang saya hadapi sehari-hari: negara, hukum, agama, peraturan, birokrat, anggota parlemen, pengusaha brengsek, hantu belau, dan kecoak-kecoak busuk.
Dan ini semua menjadi begitu menakjubkan dengan saya karena saya dihadapkan pada banyak hal yang berlawanan, bertautan, ataupun beririsan dalam waktu yang singkat saja. Bayangkan saja, sebelum berjumpa mereka tadi saja saya bersalaman dengan seseorang yang sangat beragama dan bagian dari kelompok yang membuat aturan yang mengekang mereka. Dan besok subuh, langsung berangkat dari sini, saya akan memfasilitasi ibu2 dprd aceh di medan, setelah tadi malam pulang dari luar kota juga utk bicara soal parlemen, kebijakan, dan intel-intel. Coba, apa kurang luar biasanya tuh minggu ajaib saya ini? :-)
Rasanya saya ingin tenggelam dalam telaga ini, walau saya tahu saya hanya bisa berendam. Tak mengapa, berendam sejenak akan membuat saya sejuk kembali untuk kembali menjalani panas yang harus saya tempuh.
Friday, April 27, 2007
Negara Tak Masuk Akal
Ada yang utangnya trilyunan rupiah dibayari negara, sekarang lenggang kangkung banyak bisnis di singapura, vietnam, shanghai, segala macam. Tapi ada juga yang rumahnya, tanahnya -yang barangkali bertahun-tahun dikumpulkannya- terendam lumpur akibat aktivitas suatu perusahaan yang dimiliki oleh seorang menteri. Menterinya santai, ikut rapat kabinet seakan tanpa dosa, malah perusahaannya dapat kredit baru yang ringan secara tak wajar. Sementara ganti rugi orang-orang itu tidak dibayar. Ada lagi, sekolah tempat calon pelayan publik (supposedly), mau masuk sana orang harus nyogok atau dekat dengan pejabat. Di dalamnya orang-orang malah digebukin dan ditendangi; mau jadi pelayan publik atau pemeras publik nantinya?? Semua ketakwarasan ini akan terlalu panjang untuk ditulis di blog ini. Benar-benar
tidak masuk akal!
Maka mungkin jadi tidak salah bila orang-orang semakin tidak rasional. Ada yang mengusung cerita sembilan naga. Ada yang bilang tsunami kutukan tuhan. Ada yang masih mereka-reka ramalan soal "Notonegoro" sembari berharap akan ratu adil. Orang-orang yang semakin "agamis" jadi semakin banyak. Ramai-ramai ikut pengajian atau ke gereja. Ramai-ramai memelihara jenggot dan berjilbab. Agama akhirnya jadi komoditas, bespectacled. Komoditas
politik, komoditas ekonomi, komoditas (status) sosial.
Karena tidak ada lagi sesuatu yang bisa "dipegang", dipercayai. Semua serba absurd.
Maka orang-orang di porong mengamuk. Memberhentikan kereta yang lewat. Memblokir jalan tol. Maka orang-orang di makassar membakar sebuah pabrik karena gajinya tidak kunjung dibayar. Apa lagi?? Semua udah gila. (saya juga ikut ngaco karena seperti memberi candu pada ortu sendiri dengan membayari mereka naik haji, tapi biarlah, saya cuma ingin memberi mereka kebahagiaan di hari tua mereka)
Soal lain, saya lagi agak terganggu dengan iklan besar soal penegakan hukum yang ikut ditandatangani oleh dua kawan dekat saya. Saya setuju isinya, tentu saja. Tapi saya juga tahu persis berapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk iklan di koran nasional ternama dan majalah berita terlaris itu. Berkali-kali pula. Sayang saya tidak rajin berhitung, tapi kasarnya bisa mencapai ratusan juga rupiah. Apa iya biaya yang besar itu menjadi sahih dikeluarkan? Bayangkan berapa orang yang bisa diberi makan oleh uang itu. Atau berapa banyak kegiatan konkrit untuk mendorong penegakan hukum yang bisa dibiayai dengan uang sebesar itu. Pastinya dua kawan saya tak bersalah (right or wrong they're my comerads hehe), pasti ada yang membayari dan mereka tak menyadari frekuensi luar biasa ini. Tentu saja.
Tapi bila saya ada pada posisi mereka, dari awal saya akan memilih untuk tidak ikut. Seperti waktu saya memilih untuk tidak ikut pasang iklan obituari pak koes di kompas meski saya sangat menghormati beliau (beda dengan iklan untuk pak Dan yang gratisan).
Saya tidak mau bilang saya suci ("suci" juga kan konsep keagamaan yang mistik, bukan konsep sosial) atau saya yang paling benar. Tapi ada prinsip-prinsip yang ingin saya pegang. Sama saja waktu saya hanya tertawa waktu pak hamid di aceh kemarin jadi rikuh karena omongan saya soal yusril (yang kata didi bahasanya kayak intel hehe padahal bahasanya mah bahasa wartawan, nggak asli, biasa deh.).
Ah biar deh, lebih baik berpegang pada prinsip-prinsip kayak begini biar orang bingung atau dicela-cela, daripada pada kemistikan-kemistikan.
Pilih sendiri petualanganmu
Apa makna perkawinan bagi anda? Jawaban boleh lebih dari satu.
a. ikatan cinta
b. simbol
c. status sosial
d. alat pemuas keinginan ortu
e. strategi untuk hari tua dan lingkungan
f. pendorong cita-cita
g. siklus kehidupan yang harus dijalani
h. penghalang cita-cita
i. semuanya benar
j. semuanya salah
k. plintat plintut
l. lainnya: ....
Skor jawaban akan dibedakan antara responden yang sudah kawin (termasuk sudah pernah kawin tapi sudah tidak lagi, resmi maupun tidak resmi) dan yang belum kawin resmi (walau sudah tidak perawan).
Catatan bu guru: dilarang nyontek!
Tuesday, April 24, 2007
The truth about my desk

Cartoon by Dave Walker. Find more cartoons you can freely re-use on your blog at We Blog Cartoons.Monday, April 23, 2007
This month's Regrets
- Talking about things I do not need to talk about
- Talking about data that I haven't verified, especially when I then know that I used a wrong one :(
- Going out with people (apparently) I don't like
- Missing two trainings I wanted only because I cannot cope with other tasks
- Missing the deadline for study proposal because I cannot juggle it with my other tasks
- Participating in stupid discussions
- Confirming my participation in some events and promising some writings while I actually have a too-full plate already
- Unnecessary comments in public
- Why do some people come to Jakarta at the same time? and none of them showed up when needed? Why now at the same time, when some deadlines are passed and reports are due?
- Why some people at the office are not reliable?
- Why do I have such an asshole brother?
- Why cockroaches are created? (just killed 2) If Sidharta Buddha is correct about the karma and the life after death, who then would become cockroaches?
- Why some rich people have gross habits and tacky clothes.. and worse: why do I have to know them personally??
- Why do some rich people have gross habits?? (note: I'm intentionally repeating it)
- Why do some people around me have gross habits and NEVER UNDERSTAND THAT I HATE THEM? (note the differences with sentences number 5 and 6)
- Why did I promise things I cannot fulfil and said things I should not have said?
- How can I be so stupid and lazy?
- Why cockroaches are created? (this is actually my lifetime quest, really, they are so useless, even in the ecological food chain! Okay, I saw (twice) a gecko ate a whole cockroach, but c'mon, only for geckos? and geckos eaten by who?)
Solution: Refrain from talks and unnecessary promises, hide/disappear/disguise as a bee/leaves/rain drop/cell phone/whatever, take leave from the real world... bury myself under my books and laptop... hik.. hik... hik...
[the pic is from toothpaste for dinner]Thursday, April 12, 2007
Bukunya S.M. Ardan
Seperti banyak dicatat dalam tinjauan-tinjauan atas karyanya, tulisan S.M. Ardan menarik karena dia menggunakan bahasa betawi asli dan mengangkat budaya betawi. Sehingga buat saya banyak istilah yang menarik serta penggambaran situasi yang menarik pula. Termasuk ketika dia menceritakan permainan-permainan anak kecil "asli betawi" yang sekarang sudah tidak bisa saya lihat lagi. Sebagiannya karena anak sekarang lebih senang main playstation (bahkan di kampung-kampung bisa ditemukan tempat penyewaan playstation). Sebagiannya lagi karena orang-orang betawi sudah semakin tergusur ke pinggiran. Sehingga saya yang tinggal di Jakarta (di tengah kota pulak) sudah tidak bisa lagi melihat permainan-permainan ini. Jangankan permainan-permainan itu, permainan jaman saya kecil saja, macam gobak sodor,
engklek, tak jongkok, gasing, dan lain-lain sudah sangat jarang saya temui di sekolah-sekolah di Jakarta (entah kalau di pinggir kota).
"Cerita Keliling Jakarta" adalah sebuah kumpulan cerita pendek (cerpen). Namun jangan bayangkan cerpen sastra seperti kumpulan cerpen terpilih kompas. “Cerita Keliling Jakarta“ adalah potongan-potongan cerita keseharian masyarakat betawi 1950an -1960an. “Cerita Keliling Jakarta” seperti kolase tentang sudut-sudut kampung di jakarta yang sedang membangun, dengan hidup orang betawi asli yang semakin tersingkir dan semakin miskin. "Ardan lebih cenderung menulis sketsa dari pada cerpen" kata Ajip Rosidi dalam pengantarnya. Itulah menariknya!
Jangan berharap ada "pesan moral" yang terang benderang atau sebuah kisah bahkan potongan kisah dalam cerpen-cerpennya di dalam "Cerita Keliling Jakarta". Yang jelas, semua tentang masyarakat Betawi miskin, lengkap dengan "budaya" Islam-nya, dengan keterpinggirannya, dengan kemiskinannya. Penerbitnya pun “betawi banget”, namanya: “Penerbit Masup Jakarta” :-)
Saya tertarik sekali ketika Ardan bercerita tentang trem di Jakarta dan gadis-gadis yang mencuci baju dan mandi di kali ciliwung. Suatu pemandangan yang tak terbayangkan buat saya. Yang sekarang hanya bisa melihat mall, kali yang kotor dan bau, serta kopaja yang bikin macet.
Lihat salah satu cerpennya yang berjudul: Betapa enak Bisa Ketawa! Ada potongan permainan anak-anak “Ci-Goci-Goci” yang tak pernah saya dengar sebelumnya:Ci-ci goci tembako tige katiAtau permainan lainnya, masih dalam cerpen yang sama:
Mak None-Mak None Si tuan mau kembang ros
Pulang-puuuuulang bapa’nye bawe kembang ros
Dung-dung clok!Cerpen ini bercerita tentang si Tinah, buruh pabrik percetakan yang kehilangan uang gajinya selama seminggu di trem. Padahal Tinah ingin beli baju baru. Ceritanya mengalir begitu rupa seperti lukisan realis sampai akhirnya saya memahami judulnya. Saya jadi menghargai tawa dalam sebuah kesederhanaan. Bahkan, saya iri pada tawa Tinah, Icang, Salbiah, Saman, Emak, dan Babe!
Kembang gale kembang gadung menclok
Nenek diseradung bongkok!
Ada lagi cuplikan dari “Pulang Pesta” yang membuat saya senyum-senyum:
Siun ini biasa disuruh mengambil air. Atau mengerjakan apa saja. Jiman seperti kanak-kanak yang lain juga, suka menggodanya. Siun punya satu keanehan, yaitu diteriaki. “Un, pale Lu ade tai,” maka walau apa pun yang dipegangnya, ataupun apa yang sedang dikejakannya, marahnya tinbullah dan menjadi-jadi meski di kepalanya tak ada tai atau apa-apa. Siun lantas mencari apa-apa dan melemparkannya ke sembarang arah.Di bagian lainnya, muncul renungannya yang tanpa pesan namun menyentil seperti dalam Cerpen yang berjudul “Rekaman” yang melukiskan cara orang-orang merayakan 17 Agustus 1954. Atau cerita biasa saja mengenai Pak Tua yang semakin susah mencari tempat untuk tidur di emperan toko di pasar Senen dalam “Maaf, Pak!” Sebuah cerita menyentuh yang menggambarkan para gelandangan dan keramaian pasar Senen tahun 1950-an.
Lalu “Nyai Dasima.” Yang satu ini bukan cerita sembarangan. Kisah Nyai Dasima cukup legendaris dan juga menjadi lakon pertunjukkan yang terkenal di jamannya. “Nyai Dasima” bertutur tentang seorang “nyai” –sebutan untuk perempuan “peliharaan” orang asing- yang mayatnya ditemukan mengambang di kali kwitang. Ada banyak versi tentang mayat Nyai Dasima itu. Namun ada dua kisah yang tertulis. SM Ardan salah satunya. Yang lainnya ditulis oleh G. Francis.Kebetulan saya pernah mendengar kisahnya dalam salah satu "Plesiran Tempo Doeloe" (ini program jalan kaki keliling kota sembari mendengar cerita sejarah yang diorganisasikan dengan baik oleh "Sahabat Musium"). Di bukunya itu dilampirkan juga cerita Nyai Dasima yang ditulis G. Francis. Apa beda antara keduanya? Ardan mengubah cerita Francis yang tidak "pro-bumiputera".
Di dalam Nyai Dasima versi Francis, orang Betawi digambarkan sangat bodoh, memikat si Nyai dengan "pelet", memanfaatkan orang bule, primitif. Nyai Dasima digambarkan oleh Francis sebagai Nyai yang terpikat oleh pelet dan kemudian menjadi istri kedua Miun untuk diambil hartanya dan kemudian dibunuh.
Ardan membaliknya. Ketaatan tradisional orang Betawi terhadap "igame" alias agama Islam digambarkan dengan baik, sehingga Wak Lihun sebenarnya menolak permintaan Miun untuk memelet Nyai Dasima. Wak Lihun hanya mendorong si Miun karena setuju dengan "misi" Miun untuk mengembalikan Nyai Dasima yang sudah menjadi kafir dengan menikahi Tuan Edward yang kristen.
Seperti biasa, dialog betawi yang kental muncul di sana sini, sampai ada glosarium di halaman belakang. Lihat sepotong dialog dalam Nyai Dasima versi Ardan:
Miun turun. Kedua suami istri itu kemudian saling berbelakangan.
"Na gitu dong nyaut"
"ade ape..cerewet?" Miun tambah mendongkol
Hayati malah tersenyum. "Gue kire lu ngelayap"
"Dari tadi juga gue di sini," Miun mencibir, "Masa lu nggak liat?"
Masih juga Hayati tersenyum. "Kok gue gegaokan lu diem aje?"
Juga cuplikan di bawah ini, soal igame atau agama. Ini petuah Wak Lihun:
O, gitu. Nti lu gue dorong. Kalu buat pekare kebaean sih gue mau nyemburlu biar inget ame igame. Lu sih betemennye ame nyang bukan bukan, segale Puase tukang pukul...
Sementara sebuah potongan paragraf dalam Nyai Dasima versi Francis buat saya menarik karena menggunakan ejaan lama:
Alkisah terseboet satoe perkatahan, kira-kira di tahon 1813 ada djadi koeasa di Tana Tjoeroek, pegangan Tangerang, satoe toean orang Inggris nama Edward W. Ini toean soenggoe blontoea, dia poenja satoe Njai, orang prampoean islam dari Kampoeng Koeripan namanja Dasima. Itoe Toean piara itoe Njai dari prawan, serta roepanja bagoes, poeti koening ramboetnja pandjang serta hatinja trang boeat bladjar segala roepa pekerdjahan prampoean jaitoe masak, mendjait, dan poetoeng segala roepa pakean...
Saya bukan peninjau buku betulan dan terlalu malas untuk menulis panjang :-). Yang jelas saya merekomendasikan buku-buku itu. Betul-betul obat untuk otak saya yang hampir kram, bahkan mungkin hampir meletus :-). Saya google namanya dan ada dua pranala yang patut dibaca tentang S.M Ardan: Tulisan di Pantau dan Wikipedia.





