Saturday, April 28, 2007

Telaga

Hari ini menarik sekali.

Pagi tadi sibuk betul dengan packing lagi, setelah tadi malam pulang dari aceh hampir tengah malam dan dilanjutkan dengan sedikit kerja sampai jam 3-an, sore nanti saya harus ke bogor dan langsung meneruskan ke medan pada minggu pagi. Koper harus saya bawa. Ini jumat, hari mimbar bebas, saya semangat sekali. Meski koper terasa berat dan saya merasa hampir tak berpijak di bumi karena jadwal terlalu gila dan ide ada segunung (yes, that pleasant brain circle again after writing two papers and got two interesting personal projects). Lalu teringat janji dengan nd, saya nyengir lebar sekali. Lalu tenggelam dalam rapat-rapat, koordinasi, email, dan meluruhkan kembali jiwa saya di tengah “anak-anak” kantor. Menyenangkan.

Sore nonton film death in jakarta di levlib dan diskusi sama mba ucu dan mba vero. Lalu kembali ke laptop untuk mengurus berlin sembari dandan sedikit ;-). Tak lama, pak supir nd menjemput saya di kantor dan mengantar saya ke ciawi. Makan dulu dong [Shut up! And stop hopping around!].

Malam jam 10.15 mobil tiba di gg house, saya salaman dengan pak supir [yup, only a handshake, of course]. Saya ke sini untuk memfasilitasi kawan-kawan dari komunitas-komunitas adat dan penghayat untuk bicara soal hak adminduk mereka. Sudah 4 bulan ini saya terinspirasi luar biasa oleh kelompok-kelompok ini. Apalagi saya juga lagi belajar budisme dan sedang menggali diri saya. Saya memutuskan datang malam ini untuk mengenal dulu mereka sebelum saya memfasilitasi.

Keputusan saya kali ini memang tepat. Malam ini saya belajar banyak pada mereka, lebih banyak dari hari-hari sebelumnya. Malam ini menggali dayak indramayu dan belajar sejarah sunda dari kang g dari cigugur. Kami ngobrol sampai jam 2 pagi. Saya seperti diberi cermin kejujuran paling luar biasa. Banyak hal yang diputarbalikkan oleh mereka sedemikian rupa secara sederhana namun mendalam-dikembalikan ke “asal”.

Dayak Indramayu (Bumi Segandu). Hitam dan putih, dua warna alam: asal dan ngaji rasa, juga perlambang dua hal yang selalu berhadap-hadapan buruk dan baik, atas dan bawah, perempuan dan laki-laki. Lalu bercerita soal bagaimana mereka mendalami penghayatan ini. Tentang belajar dari alam. Dengan berupaya menyatu dengan alam dan menghayati sejarah. Agar kedinginan dan kepanasan dan segala perlambang duniawi tidak lagi menjadi beban. Mereka hanya bercelana kutung, tanpa baju. Celananya sebelah berwarna hitam dan sebelahnya lagi putih. Dengan ikat kepala hitam atau putih. Dengan sabuk kayu, gelang besar, tasbih menggantung. Tanpa alas kaki. Saya bukan antropolog, rincinya silakan baca di buku terbitan interseksi yang tebal dan bagus itu (saya belum selesai baca), saya hanya ingin merekam malam luar biasa ini. Saya belajar sangat banyak.

Lalu mereka menyanyikan sebuah kidung panjang, dalam bahasa mereka yang bisa saya tangkap sedikit karena akar banten saya, itupun hanya sedikit sekali. Tapi sama seperti aa katakan pada saya suatu ketika, kang g bilang saya harus mendengarkan dengan rasa, bukan bahasa. Karena bahasa hanya simbol yang diciptakan manusia. Kita harus berkomunikasi dengan rasa. Ini juga sama seperti yang mas anes bilang ke saya bulan lalu waktu kita ngopi dan bicara soal sidharta buddha di mahakam (ah betapa hidup ini menarik dalam keterkaitan dan keberagaman orang-orang di dalamnya, you just need to explore the Life!).

Kidung itu intinya soal alam dan kebenaran. Soal hakekat manusia yang tidak selayaknya merasa benar. Karena kebenaran itu hanya ada di alam. Kita harus menggali alam dan mengedepankan rasa. Lalu ngobrol lagi soal manusia dan bukan manusia. Kita belum menjadi manusia, mereka bilang, kita ini masih berada di dalam proses menjadi manusia. Kita masih mengandung banyak kesalahan, nafsu, dan simbol. Semuanya ada di dalam diri sendiri, kita harus menggalinya, untuk menyatu dengan alam dan dengan diri kita sendiri, untuk bisa memahami hidup. Nirvana, kalau kata Sidharta Buddha. Mas beo juga bicara soal ulat bulu yang dijijiki karena jelek dan gatal. Tapi dia kemudian berdiam dalam kepompong (cocooning, kalau kata frank dalam selimutnya), bermeditasi dan keluar dalam rupa yang lain. Rupa yang cantik dan menarik. Terlontar juga: kami yang harus bekerja di rumah, kami yang bertugas mencuci piring dan mengurus rumah. Kita justru harus belajar dari istri dan juga anak kita, karena dengan itu kita bisa "mengaji asal" dengan baik. Suami harus melakukan segala tugas rumah tangga, karena perempuan sudah bertugas melahirkan, biarkan itu menjadi satu-satunya tugas perempuan karena untuk itu perempuan sudah mempertaruhkan nyawanya. Saya terkesima mendengarnya.

Terlalu banyak yang harus saya catat, saya luar biasa excited sampai-sampai saya ingin merekam saja semuanya dengan hp saya atau membawa buku biru saya ke situ, tapi itu akan merusak suasana nyaman ini. Terlalu banyak hal yang tak mampu saya tuliskan, kesan yang ditimbulkan terlalu mendalam. Saya seperti menemukan telaga. Apalagi belakangan ini saya banyak dibenturkan pada simbol-simbol. Jangan jauh-jauh, tadi saja di jalan menuju ke sini sama pak supir nd di mobil bicara soal tulisan sutta soal akses ke dpr yang menggambarkan dengan baik bagaimana jabatan, harta, dan cara berpakaian sangat berpengaruh untuk bisa mengakses sesuatu atau mendapatkan pelayanan publik di negeri ini. Telaga ini juga untuk simpulan-simpulan saya mengenai bespectacled things di sekitar saya.

Entah apa lagi “pelajaran sekolah” besok. Pasti masih banyak karena tadi hanya satu kelompok, padahal di sini ada lebih dari 10 komunitas dan tidak hanya dari tanah jawa. Bisa puluhan tulisan dan segunung pemikiran dihasilkan dari “sekolah” ini. Ini semua menjadi inspirasi yang luar biasa karena semuanya berlawanan dari semuanya yang saya hadapi sehari-hari: negara, hukum, agama, peraturan, birokrat, anggota parlemen, pengusaha brengsek, hantu belau, dan kecoak-kecoak busuk.

Dan ini semua menjadi begitu menakjubkan dengan saya karena saya dihadapkan pada banyak hal yang berlawanan, bertautan, ataupun beririsan dalam waktu yang singkat saja. Bayangkan saja, sebelum berjumpa mereka tadi saja saya bersalaman dengan seseorang yang sangat beragama dan bagian dari kelompok yang membuat aturan yang mengekang mereka. Dan besok subuh, langsung berangkat dari sini, saya akan memfasilitasi ibu2 dprd aceh di medan, setelah tadi malam pulang dari luar kota juga utk bicara soal parlemen, kebijakan, dan intel-intel. Coba, apa kurang luar biasanya tuh minggu ajaib saya ini? :-)

Rasanya saya ingin tenggelam dalam telaga ini, walau saya tahu saya hanya bisa berendam. Tak mengapa, berendam sejenak akan membuat saya sejuk kembali untuk kembali menjalani panas yang harus saya tempuh.

No comments: