Wednesday, April 11, 2007

Gelas Wine dan Kuburan

Yang satu karena keriaan dan yang kedua karena kemurungan. Keduanya menjadi penyebab saya memikirkan kembali soal "cinta" (*gubrak*).

Keriaan datang dari sebuah "pesta nikah" (ini istilah dia sendiri dalam sms nya) Bang Hamid malam minggu yang lalu. Yang penuh dengan "celebrities" dan kawan-kawan lama. Dengan band, dansa dansi, makanan enak, dan berkardus-kardus botol wine yang tidak habis sampai kami pulang. Bang Hamid membagikan sebuah buku sebagai souvenir perkawinannya. Berisi tulisan-tulisan dari kawan-kawan dan kerabat mereka. Sangat menarik. Tulisan Bang Hamid bagus sekali, saya suka. Tapi saya kira tulisan Mbak Dani juga: "untuk apa menikah?"

Tidak jauh dari kumpulan dansa dansi, saya duduk dengan gelas wine keenam, menghisap rokok dalam-dalam dan menjawab sebuah sms singkat "adu jaim ni ye..". Dan bercerita dengan seorang kawan tentang bagaimana asiknya bertemu selingkungan dan anak-anaknya di sebuah pesta yang dihadiri bersama dengan suami. Itulah menariknya perselingkungan. Bespectacled boxes.

Kemurungan datang dari Jogja. Rumah Alm. Pak Koes. Kami mengunjungi Ibu Nina atawa Bu Koes di Timoho, setelah nyekar ke makam Pak Koes.

"Saya sekarang sudah bisa jalan dengan alat ini, tapi harus ada yang mengikuti dari belakang, kalau-kalau macet hehe. Dulu Bapak yang suka menggoda saya dari belakang" Disekanya hidungnya yang mendadak berair, walau tidak ada air mata yang jatuh. Lantas saya teringat wajah Pak Koes yang lucu sedang menggoda Ibu Nina.

"Ya, kalau tidak karena kaki ini, saya sudah ikut Bapak ke Jakarta dan pulang bersama Bapak" Kesedihan muncul lagi.

"Anak-anak minta saya tinggal di Jakarta, di paviliun yang sudah disediakan, disiapkan untuk kami. Paviliunnya sudah jadi, sayang Bapak sudah tidak ada. Biar saya di sini saja. Ini rumah saya." Bu Nina menerawang jauh entah ke mana. "Tapi life must go on. Saya harus sehat dan kuat. Saya tahu Bapak akan sedih kalau melihat saya sakit dan saya tidak mau melihat Bapak sedih." Saya buru-buru menyeka sudut mata saya untuk mencegah suasana menjadi bertambah murung.

"Terima kasih sudah mengunjungi saya, sering-sering mampir kalau ke Jogja..." Ibu Nina lalu terdiam dan tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Mbak Ika datang dan memeluknya.

Saya merasakan cinta yang mendalam dalam setiap kata yang terlontar dari mulut Ibu Nina tentang Pak Koes. Saya merasakan keindahan ketika ia bercerita mengenai bagaimana mereka menghabiskan masa tuanya berdua. Dan saya merasakan rasa kehilangan karena ditinggal sendirian. Now I can see the meaning of "...til death do us part".

Nah.. mau pilih cerita yang mana, terserah deh :-)

No comments: