Thursday, January 05, 2012

Egois

Kemarin saya dapat beberapa email menanyakan kesediaan saya mendaftar suatu jabatan. Biasalah, semua ber-BB, jadi rupanya sembari rapat beberapa orang kirim email yang isinya sama tanpa berkoordinasi :-). Saya menolak, tentu saja. Kan dua hari lalu saya baru menghitung: umur melati sudah dua tahun, berarti sudah dua tahun sejak general exam saya dan saya masih belum selesai menulis. Ini buruk. Kalaupun dihitung “maternity leave,” sudah satu setengah tahun terlewat tanpa kemajuan berarti. Mbak SS bilang “disambi” aja. Haha. Saya hanya bisa tertawa pada ide ini. Sebab yang bilang adalah orang yang sekolahnya dulu disambi dan akhirnya nggak selesai. She knows best that it does NOT work. DW bilang ini “penugasan” sebagai anggota perkumpulan antikorupsi kita. Ini argumen pamungkas setelah saya menolak. Tapi jawabannya tentu saja tetap tidak.

Yang lucu, email kedua bahkan bilang kalau di Pansel pasti beres dan tim untuk bimbingan lolos pansel sudah siap. Sedangkan di DPR pasti juga mulus (masa' sih? :-P). Buat saya soal "bimbingan" dan pembacaan proses yang dilakukan untuk saya ini lucu bener. Karena dulu saya biasa melakukannya untuk orang lain :-).

Tapi lantas si kopiliburan bertanya di BBG: pejabat publik apa yang saya mau? Pertanyaan menarik. Bohong kalau dibilang saya belum pernah memikirkan pertanyaan yang sama. Beberapa kali pulak :-). Ini gara-gara saya beberapa kali dilamar partai. Juga karena pada 2009 nama saya dimasukkan oleh Om WW ke dalam “kabinet impian”nya sebagai Menteri Kehakiman. Norbert juga berapa kali bilang dia sangat ingin melihat saya jadi ketua MK nanti, bahkan sampai terakhir kami berjumpa di Seoul dua minggu lalu. Tentu saja ini membuat saya sedikit berpikir, apa benar saya mau jadi pejabat publik?

Respon saya yang pertama: saya kurang nasionalis dan agamis karena suami saya bukan orang Indonesia dan saya tidak “takwa” (Islam di KTP tapi saya kan agnostik). Jadi tidak mungkin disenangi kaum nasionalis maupun agamis :-P. Tapi argumen ini sudah patah karena ada mantan menteri yang istrinya bukan orang Indonesia dan ada beberapa pejabat yang bukan Islam.

Respon kedua, ini yang lebih benar: saya memang nggak mau karena saya nggak suka latar belakang dan privasi saya terinjak-injak. Seorang kawan bilang saya egois. Tapi kenyataannya memang begitu. Saya nggak punya ambisi jadi pejabat publik. Karena saya nggak siap dengan latar belakang yang dikorek-korek dan diutak-atik oleh jurnalis yang model suka cari-cari berita, memancing komentar-komentar aneh, dan memelintir kata-kata orang untuk membuat berita (I hate detikcom for this type of “journalism”). Orang yang jadi pejabat publik itu menurut saya nggak hanya harus siap dengan kerja keras, tanggung jawab, dan profesionalisme. Tetapi juga dengan kemungkinan-kemungkinan pembongkaran masa lalu atau isu-isu pribadi yang sebenarnya nggak mau kita perlihatkan. Buat saya, yang terakhir ini yang paling berat.

Saya merasa lebih nyaman kerja di belakang layar. Lobbying, atau advokasi, atau memberi masukan, atau melakukan riset, menulis, atau apa saja. Biarlah saya dibilang egois.

Tuesday, January 03, 2012

Dua tahun

Melati lagi hobi nyanyi! :-) Kebetulan kebisaan nyanyi ini datangnya menjelang natal. Jadi rumah kami seperti punya radio seperti di mall-mall yang nggak berhenti memperdengarkan lagu-lagu natal. Setiap hari sejak seminggu sebelum natal sampai sekarang. Sejak sekitar jam 7 pagi –waktu dia bangun tidur- sampai jam 9 malam –waktu tidurnya.

Melati “hafal” lagu santa claus is coming to town dan jingle bell. Di luar kedua lagu natal itu, dia hafal hampir semua nursery rhymes: twinkle little star, old mcdonald, humpty dumpty, ABC, five little monkey, I am a little tea pot, London bridge is falling down, ba ba black sheep, open shut them, the wheels on the bus, row row your boat. Dan yang baru dan dia bangga luar biasa: miss polly had a dolly. Lagu Indonesia juga banyak yang dia “hafal”: pada hari minggu, burung kakak tua, naik kereta api, balonku ada lima. Yang terbaru: potong bebek angsa.

Saya beri tanda kutip pada kata hafal karena tentu saja dia tidak betul-betul hafal. Dia hanya meniru bunyi. Dia menyanyikan “I love you you love me” seperti ini: “I love you, you mov me, we happy family.” Atau “melus balon hijau, dol!”. Atau “you watch out, you cry, you hmm hmmm pout, I am telling you why, Santa claus is coming to town”. Yang paling kocak: "jingle bell, jingle bell, jingle olebe, santa claus is coming wasyawasyawasya". Caranya menyanyi sangat menggemaskan! Apalagi kalau pakai gerakan (saya belajar dari sekolahnya dan youtube).

Arti kata-kata dalam lagu-lagu itu tentu saja kebanyakan dia belum tahu :-). Kecuali untuk beberapa nursery rhymes yang saya ajarkan dengan ekspresi seperti Miss Polly had a Dolly, waktu Miss Polly menelepon (so she called the doctor to come quick quick quick) dan dokter mengetuk pintu  (he knocked at the dor with a rat ta tata ta). I think she is an amazing little girl. Kosa kata bahasa Inggris dan bahasa Indonesia-nya sangat banyak. Bahasa Jerman masih terbatas, tapi dia paham ketika diberi instruksi bahasa Jerman (seperti: tolong ambil jamur, cabai, dan kacang polong itu, kemudian masukkan semuanya ke troli; tentu semua benda yang saya sebut ini versi mainan :-)). Ini karena dia menghabiskan waktunya kebanyakan dengan saya –ketimbang ff-  dan di sekolah yang berbahasa Inggris.

Sudah dua minggu belakangan ini dia senang bertanya: what’s that? Kami mulai kerepotan menjawabnya. Untunglah “why” belum masuk kosa katanya :-). Pertanyaan “what’s that” dan beberapa kosa kata sebenarnya dia dapatkan dari film anak-anak di youtube. Kami di rumah tidak menonton tivi kecuali ketika melati sudah tidur. Kami tidak mau dia menonton tivi. Tapi dia saya ijinkan bermain dengan iphone hanya ketika dia makan siang dan malam. Saya dan ff sering bertengkar tentang iphone ini, karena ff sangat anti tontonan dan kami sebenarnya jadi kurang konsisten dengan kebijakan soal “menonton”. Tapi seringkali saya butuh alat untuk membuat dia duduk diam dan makan agak banyak. Akibat positifnya, dia banyak menonton film anak-anak di youtube dan menyerap segala macam lagu dan film yang mengenalkan angka, huruf, bentuk, warna, dll. Dia sudah tahu semua huruf a-z, angka 1-10, warna utama, dan bentuk (circle, triangle, dll) sejak berumur 18 bulan. I kid you not. Tapi karena itu semua didapatnya dari film-film di youtube, sejauh ini huruf dan bentuk dia hanya tahu dalam bahasa Inggris. Sedangkan angka dan warna, dia juga sudah bisa dalam bahasa Indonesia dan Jerman.

Tapi saya memang tidak mau dia terlalu tergantung dengan elektronik. Tidak ada mainan berbatere di kamarnya kecuali “dapur” dengan kompor yang bisa mengeluarkan bunyi. Dia senang melukis, menggambar, bermain dengan play dough, lego, masak-masakan, mobil-mobilan, balok-balok, stiker, puzzle, dan tentunya bernyanyi dan menari :-). Kami beruntung karena (bukan) kebetulan dia lahir ketika saya sudah menjadi "work-at-home-mom". Setiap hari saya bisa bermain, menari, dan menyanyi berdua dengan melati. Dan ini juga menjadikannya mudah dibujuk dan tidak cengeng. Kalau dia menolak melakukan sesuatu (ganti popok, pakai kaos kaki, atau tidur siang), saya menjanjikannya untuk mengajarkan lagu baru atau menyanyikan lagu yang dia sukai saat itu. She’s a very cheerful girl, always singing and jumping around happily :-).

Kami seringkali terpingkal-pingkal ketika ia mencoba meniru beberapa lagu atau kata. Misalnya: "di sini aja ya" atau "hey, look! Ada green car!" atau bilang pada dirinya sendiri "well done, yasmin" setelah dia melakukan sesuatu. Atau siang ini ketika saya pura-pura tidur (untuk memancingnya tidur; seringkali keterusan) dan dia datang memasukkan balon ke mulut saya dan bilang “you can blow it”.

Betapa inginnya saya menulis melulu tentang dia. Tapi terlalu banyak hal kecil yang mengagumkan. Lagipula saya agak enggan menjadi model ibu-ibu yang tidak bisa berhenti bercerita tentang anaknya dan berpikir bahwa anaknya adalah anak tercantik dan terpintar sedunia (walaupun tentu saja saya menganggap melati adalah anak terpintar dan tercantik sedunia haha). Saya sempat tergoda untuk membuat photoblog (tentangmelati.blogspot sudah saya ambil :-p), tapi ya ampun, ini disertasi nggak selesai-selesai malah mau buat proyek distraction baru. Nanti lah.

Hari ini melati dua tahun umurnya. Sejak 2 bulan lalu, dia hobi bernyanyi happy birthday to you, dengan “dear [name]” yang dia ganti-ganti dengan apa saja yang dia lihat. Happy birthday dear balon, happy birthday dear pohon, happy birthday dear car, happy birthday kaos kaki, dan segala macam. Baru tadi pagi dia saya ajarkan versi Indonesia: lagu selamat ulang tahun dan panjang umurnya. Selamat ulang tahun, melati! Semoga sehat terus, tambah pintar, dan jadi anak yang berani serta kreatif. I love you sooooo much!