Kemarin saya dapat beberapa email menanyakan kesediaan saya mendaftar suatu jabatan. Biasalah, semua ber-BB, jadi rupanya sembari rapat beberapa orang kirim email yang isinya sama tanpa berkoordinasi :-). Saya menolak, tentu saja. Kan dua hari lalu saya baru menghitung: umur melati sudah dua tahun, berarti sudah dua tahun sejak general exam saya dan saya masih belum selesai menulis. Ini buruk. Kalaupun dihitung “maternity leave,” sudah satu setengah tahun terlewat tanpa kemajuan berarti. Mbak SS bilang “disambi” aja. Haha. Saya hanya bisa tertawa pada ide ini. Sebab yang bilang adalah orang yang sekolahnya dulu disambi dan akhirnya nggak selesai. She knows best that it does NOT work. DW bilang ini “penugasan” sebagai anggota perkumpulan antikorupsi kita. Ini argumen pamungkas setelah saya menolak. Tapi jawabannya tentu saja tetap tidak.
Yang lucu, email kedua bahkan bilang kalau di Pansel pasti beres dan tim untuk bimbingan lolos pansel sudah siap. Sedangkan di DPR pasti juga mulus (masa' sih? :-P). Buat saya soal "bimbingan" dan pembacaan proses yang dilakukan untuk saya ini lucu bener. Karena dulu saya biasa melakukannya untuk orang lain :-).
Tapi lantas si kopiliburan bertanya di BBG: pejabat publik apa yang saya mau? Pertanyaan menarik. Bohong kalau dibilang saya belum pernah memikirkan pertanyaan yang sama. Beberapa kali pulak :-). Ini gara-gara saya beberapa kali dilamar partai. Juga karena pada 2009 nama saya dimasukkan oleh Om WW ke dalam “kabinet impian”nya sebagai Menteri Kehakiman. Norbert juga berapa kali bilang dia sangat ingin melihat saya jadi ketua MK nanti, bahkan sampai terakhir kami berjumpa di Seoul dua minggu lalu. Tentu saja ini membuat saya sedikit berpikir, apa benar saya mau jadi pejabat publik?
Respon saya yang pertama: saya kurang nasionalis dan agamis karena suami saya bukan orang Indonesia dan saya tidak “takwa” (Islam di KTP tapi saya kan agnostik). Jadi tidak mungkin disenangi kaum nasionalis maupun agamis :-P. Tapi argumen ini sudah patah karena ada mantan menteri yang istrinya bukan orang Indonesia dan ada beberapa pejabat yang bukan Islam.
Respon kedua, ini yang lebih benar: saya memang nggak mau karena saya nggak suka latar belakang dan privasi saya terinjak-injak. Seorang kawan bilang saya egois. Tapi kenyataannya memang begitu. Saya nggak punya ambisi jadi pejabat publik. Karena saya nggak siap dengan latar belakang yang dikorek-korek dan diutak-atik oleh jurnalis yang model suka cari-cari berita, memancing komentar-komentar aneh, dan memelintir kata-kata orang untuk membuat berita (I hate detikcom for this type of “journalism”). Orang yang jadi pejabat publik itu menurut saya nggak hanya harus siap dengan kerja keras, tanggung jawab, dan profesionalisme. Tetapi juga dengan kemungkinan-kemungkinan pembongkaran masa lalu atau isu-isu pribadi yang sebenarnya nggak mau kita perlihatkan. Buat saya, yang terakhir ini yang paling berat.
Saya merasa lebih nyaman kerja di belakang layar. Lobbying, atau advokasi, atau memberi masukan, atau melakukan riset, menulis, atau apa saja. Biarlah saya dibilang egois.
No comments:
Post a Comment