Lama nggak nulis. Bukan sibuk, apalagi sombong. Tapi karena memang nggak bisa nulis. Ini serius.
Kalau kata pakar-pakar penulis, writer’s block bisa dilawan dengan menulis apa saja yang ada di kepala. Nggak usah mikir suntingan dan lain-lain. Sama, konsulton disertasi yg galak ituh (FF maksudnya) juga bilang begitu. Tapi nggak semudah itu kalau soalnya adalah hidup yang labil - sebut saja begitu rasa ini. Atau mungkin ini sebenarnya hanya rasa malas yang jadi terpelihara karena nggak ada tenggat waktu.
Soal hidup yang labil ini juga barangkali hanya alasan yang dicari-cari sebenarnya. Entahlah. Labil ini gara-gara jiwa kegelisahan saya yang kadang mau meletup pecah. Tapi kadang saya merasa saya sudah terjinakkan total seperti anjing, kucing, dan kuda. Saya benci kucing, by the way. I am a dog person – who also loves horse. Tapi itulah, saya merasa seperti kucing: terdomestikasi. Wow, kaget sendiri ketika kata “terdomestikasi” yang menyembul dan terketik oleh tangan waktu saya mencoba mengekspresikan rasa ini. Coba lihat definisinya di Wikipedia:
"Domestikasi merupakan pengadopsian tumbuhan dan hewan dari kehidupan liar ke dalam lingkungan kehidupan sehari-hari manusia. Dalam arti yang sederhana, domestikasi merupakan proses "penjinakan" yang dilakukan terhadap hewan liar. Perbedaannya, apabila penjinakan lebih pada individu, domestikasi melibatkan populasi, seperti seleksi, pemuliaan (perbaikan keturunan), serta perubahan perilaku/sifat dari organisme yang menjadi objeknya.” Ouch!
Tapi jangan salah, meski akar katanya "domestik," domestifikasi yang ini bukan salah pernikahan. Apalagi salah anak. Ini salah pengambilan keputusan, saya rasa. Keputusan untuk pindah dari Seattle.
Jadi begini soalnya (ini hasil analisis selama 3 bulan belakangan ini, setelah diwarnai malam2 sendiri yang sendu penuh rasa frustasi dan keinginan bunuh diri): salah ambil keputusan untuk menulis di tempat yang jauh dari kampus DAN SEKALIGUS jauh dari sumber rasa gelisah saya (yang ingin saya pelihara terus untuk tetap menjadi manusia). Jauh dari kampus artinya jauh dari diskusi sehat maupun psy-war tak-sehat-namun-membangun (“oh I just got feed back for my last chapter, and you?”) dengan sesama anak2 PhD (permanent head damage). Jauh dari kampus juga artinya jauh dari taman bacaan yang luar biasa yang disebut Law Library itu. Tapi yang bikin “gila” adalah karena pada saat yang sama saya juga jauh dari sumber kegelisahan saya: Indonesia. Saya terus membacai berita yang bikin mangkel, dongkol, dan kesel, tapi nggak bisa berbuat apa-apa. Mau nulis op-ed lagi kayak dulu sudah sangat susah. Saya sudah terlalu jauh berjarak dengan realitas. Berita di internet bisa memberikan informasi, tapi tidak bisa memberi saya potret yang utuh soal realita. Maka gagasan juga semakin susah dituangkan. Bahkan ekspresi dalam tulisan rasanya cenderung semakin kering.
Barangkali saya bisa berpura-pura tetap ada di Jakarta secara fisik dengan langganan TV Indonesia (ada loh di Hanoi, ini ibu-ibu arisan pada langganan buat nonton gossip!), twitting, dan ikutan segala forum internet serta ber-BBM dengan rajin. Tapi itu artinya saya juga tidak berpijak pada “realitas” dalam kosmik saya sendiri: Hanoi. Kehidupan sosial saya yang real ada di sini: ibu-ibu arisan, kolega frank, ortu teman2nya si melati, tetangga, bapak-bapak warung pho depan rumah yang sering ngasih cakwe gratis kalo saya makan pho di sana, dll. Kemudian, ada waktu kerja yang kepotong2 si melati. Ada kebosanan (atawa kemalasan) yang saya sembunyikan di balik kesibukan memenuhi hobi baru saya untuk interior designing, crafting, dan creative parenting; bahkan belakangan juga gardening! Kemudian saya ikut terbawa kumpul makan-makan yang berjudul arisan. Juga kerepotan membuat acara-acara di rumah untuk kolega frank atau teman dan keluarganya – sebagai bagian dari social life.
Tentu tidak salah punya social life, tapi ketika social life jadi yang utama dan segala kegelisahan terkubur terlalu dalam di tengah kesibukan ngurus anak (which I enjoy very much), maka sebenarnya saya sudah terdomestikasi. Bukan berarti Hanoi nggak bisa membangun kegelisahan. Kalau mau, saya rasa bisa puluhan blog post yang sudah saya tulis dari pengamatan saya tentang kondisi sosial dan politik di negara sosialis pasar bebas ini – luar biasa menarik. Tapi Vietnam bukan Indonesia. Saya mungkin bisa jadi pengamat, tapi saya tidak bisa jadi penggiat (aktipis gitu maksutnya :-)).
Saya jadi seperti berpijak di dua dunia yang berbeda. Surreal.
Lalu dari sini saya jadi merenung soal jalan yang mau saya ambil. Akhir tahun lalu sudah hampir pasti saya mau “belok” ke arah akademik. Pengamat itulah, barangkali. Apalagi sudah ada tawaran sebenarnya, untuk mengajar soal constitutional law in Asia di sebuah kampus kecil namun kaya raya dan cukup terkenal di Asia. Mereka dengan sabar ingin menunggu sampai “tahun depan” (=tahun ini!), yang saya janjikan sebagai waktu saya sudah mendapat PhD. Tapi ternyata menjadi “pengamat” dari jauh seperti ini bikin saya merasa pengen mati (literally).
Lalu sekarang saya bingung mau ke mana. Di persimpangan jalan, bahasa “nyastra”nya. Tapi lalu si suami raja rasional, logis, dan disiplin sedunia itu mengingatkan saya satu hal penting: yang penting lulus dulu, neng!
No comments:
Post a Comment