Sunday, November 25, 2012

Kafka dan Gregor si Kecoak

Baru kelar dengar Franz Kafka’s The Metamorphosis. Dengar, bukan baca. Ini hobi (nggak terlalu) baru saya: dengar audio book sambil olahraga - jogging atau brisk walking atau aerobic atau hula hooping. Saya tinggal di tepi danau. Genangan air besar sebenarnya :-). Tapi lumayan bagus juga kalau dari jauh. Dari dekat agak bau dan kadang ada ikan mati mengambang. Yang pasti jangan berenang! :-) Tapi danau ya danau. Mengelilinginya atau sekadar berada di dekat air selalu menyenangkan. Sama seperti kebiasaan kami di Seattle mengelilingi Green Lake setiap minggu :-).

 West Lake photo session in summer

Kembali ke cerita awal (kebiasaan buruk cerita ngalor ngidul masih bertahan rupanya). Jadi sejak Februari 2012, saya mulai punya hobby jogging (sampai beli sepatu jogging yg seriues loh ;-)) sembari menikmati audio book. Jadi ada motivasi. Karena saya memilih cerita-cerita klasik dunia yang memang sesungguhnya belum pernah saya baca :-). Sekali jogging, kalau bukunya Charles Dickens atau Mark Twain bisa 1 atau 2 bab. Jadi deg-degan menunggu jogging keesokan harinya karena nggak sabar nunggu bab berikutnya :-). 

Tapi the Metamorphosis jadi catatan menarik tersendiri. Karena membaca/mendengar cerita buku ini seperti terapi mengatasi phobia saya pada kecoak. Terjemahannya bagus. Ekspresi-ekspresi dan penggambaran kecoak bisa saya dapatkan dengan baik, OMG! Awalnya saya agak khawatir terbawa mimpi. Sebab memang mengerikan deskripsinya. Gregor, seorang pegawai rendahan yang ditindas manajernya, pada suatu ketika waktu bangun tidur menyadari bahwa ia berubah menjadi kecoak. Yang mengerikan adalah detail penggambaran pada bagian awal Gregor bangun tidur dan menjadi kecoak: tentang bagaimana kaki-kaki yang banyak yang bergerak tak tekontrol, ruas-ruas di badannya, wajahnya dengan mata dan sungut, dan upaya kecoak-Gregor untuk bangun dari posisi terlentang. Saya nyaris berhenti berlari dan mau muntah.

Tapi Kafka memang luar biasa dalam detail cerita ini. Saya kira pengamatannya pada hidup para kecoak, atau risetnya dan upayanya untuk membacai buku-buku soal kecoak, anatomi dan gaya hidupnya, sungguh luar biasa. Bagaimana Gregor jadi tidak suka dengan makanan segar yang dibawakan Greta, adiknya; atau bagaimana sebutir apel yang dilempar ayahnya malah jadi menempel di tubuh Gregor atau bagaimana Gregor terluka ketika memaksakan diri melewati pintu kamarnya yang menjadi terlalu sempit untuk seorang kecoak raksasa sepertinya. Semuanya terperinci secara mengerikan. He is my kecoak guru.

Source: http://indeziner.com/design/artist-worth-mentioned-cristiano-siqueira/

Idenya sendiri sangat original! Seseorang yang bangun-bangun berubah menjadi kecoak, bayangkan! Betapa brilian. Ilustrasi buku itu mestinya jadi logo di blog ini. Asalkan jangan bergambar kecoak. 
Saya kira buku Gregor si Kecoak menjadi buku favorit saya saat ini. Saya bahkan jadi punya kode #gregor untuk kecoak2 yang saya temui.

Barangkali bisa banyak makna dari metamorfosis Gregor sang pekerja menjadi kecoak. Pasti lengkap sudah kajian filosofis maupun kritik sastra terhadapnya. Ini Kafka lho! ;-P Tapi buat saya daya pikat buku ini sederhana saja: kecoak. Pekerja yang biasanya dihinakan dan dianggap kecoak. Penumpang kereta setiap pagi ke kantornya, yang tiap hari berjejalan dan menjadi tak berkepribadian laksana kecoak. Gregor adalah seorang tulang punggung keluarga, kakak yang baik, anak yang berbakti. Tapi perlakuan para anggota keluarga berubah total ketika ia menjadi kecoak. Entah karena Gregor jadi tidak bisa lagi menjadi andalan keluarga. Atau ketakutan pada serangga kecil yang nggak jelas namun serupa monster. Apakah Gregor dicintai karena pendapatannya? Apakah kecoak tak pantas disayang? (tidaaaaaaaaaaak)

Begitulah #gregor.

Thursday, November 22, 2012

Frustasi soal dunia

Yang bikin marah, sakit hati, frustasi, adalah selalu ketidakberdayaan. Dalam skala yang paling rendah, ketidakberdayaan tentang banyak ketidakadilan yang saya cuma bisa tontoni di laptop, menggerogoti saya setiap hari. Setetes air mata yang jatuh setiap pagi setiap saya membuka gambar soal Palestina belakangan ini sama sekali nggak membantu. Tapi Palestina bukan satu2nya. Masih banyak, sangat banyak, sayangnya. Soal pengungsi Syiah di Sampang, Ahmadiyah, korban Lapindo. Kepala saya penuh dengan kemarahan sekaligus kebingungan: kenapa? Pantes ada generasi bunga yang mimpi dengan lagu imagine atau yang marah dengan we shall overcome,  atau generasi berikutnya yg merengek-rengek dengan when the children cry [maaf ini tiba2 jadi bicara lagu karena nulis ini sambil denger lagu :-)]. Ada yang kerjanya cuma mimpi aja, sambil ngisep ganja, dan kemudian demonstrasi. Ya salah juga. Harus berbuat.

Lalu saya jadi membayangkan ketidakberdayaan yang luar biasa ketika kita disiksa, dikurung, dibantai, diperkosa. Salah satu yang belakangan jadi banyak saya pikirkan gara2 nonton film The Act of Killing dan baca Tempo soal 1965-66. Dan pagi ini masuk lagi ke otak saya gara2 baca tulisam Noam Chomsky soal Palestina. Rasa ketidakberdayaan lama-lama bisa meledak. Akhirnya jadi kekerasan, lalu di-label dengan terorisme. Ingin rasanya menyelesaikan sesuatunya dengan cara “beradab”, tapi apa itu “adab”? saya jadi ingat kuliah dosen gila favorit saya di UW, Wolcher. Orang2 di Suriah, di Palestina, dan yang lalu juga di Bosnia, harus banyak yang mati dulu sampai orang2 yang beradab akhirnya bersedia melakukan sesuatu. Ah, pantes banyak orang memilih mimpi, pakai baju2 bunga2, dan menghisap ganja. 

Gila, terlalu banyak selentingan isu, kegelisahan, kemarahan, bahkan potongan2 peristiwa yang sudah lalu, di kepala saya belakangan ini. Begitu banyak yang mau saya tulis, terlalu banyak, sampai saya nggak mampu menuliskannya. Dunia lagi kelabu lagi buat saya. Dulu, saya selalu bilang, masa2 ketika saya melihat dunia sebagai kelabu selalu membuat saya nggak mau punya anak. Sekarang anaknya sudah ada :-). Barangkali saya cuma bisa mendidik dia supaya jadi “beradab”, entah apa itu beradab…. Saya mau dia jadi manusia yang bisa melihat manusia lain sebagai manusia. Bukan sebagai angka-angka statistik. Bukan sebagai laporan kematian sampai gencatan senjata harus jadi solusi. Bukan sebagai parameter kapan suatu berita bisa dinaikkan jadi berita. 

Maaf, ini cuma posting nggak jelas. Saya cuma numpang curhat soal dunia yang kelabu.

Tuesday, October 30, 2012

Hanoi "home"

It is difficult to define “home” if you are a nomad. Am I? Maybe not so. I have only lived in Jakarta, Depok :-), Warwick, Seattle, and Hanoi. I did stay in many different places, but that makes me a traveler, not a nomad. And in Jakarta I only moved ummm 3 times, I think. It is nothing compared to some friends. Some because of their work, such as diplomats, and some just because of the nomad blood. 

We, the nomads, have learned not to have too much attachment to a place that once we have to call “home” and –in a more practical way- not to have too much stuff in the house that you have to bring along every time you move. So everytime we move, we will create a “home”, as in: a place where we come home to our loved ones; a place where you feel comfortable.

So, I made our Hanoi house a home. We fell in love with this apartment the moment we saw it. We move many times so we know what to look for in a house: decent kitchen, decent bathroom, natural light, decent kitchen, and decent kitchen :-). The rest is always a work in progress, especially for me :-). I have this thing about design. I have to admit I am not really artistic. I just like learning something new and this is obviously new to me and very different with legal and political stuff :-). And the trial and error process excites me.

We are renting this apartment furnished. We did not bring anything from Seattle because I basically lived a student life there: no fancy furniture and fine arts. I got my basic stuff from a furniture rental shop and IKEA, as I started off there alone. It changed a bit only after finally FF – and later on melati :-) – joined me in Seattle. So when we had to move we decided not to bring any furniture. We sold most of the stuff on craig’s list and gave out small stuff (e.g. wine glass, vases, bowls) to friends. The ones that no one did not want, we donated to a charity-foundation-run thrift store. Then we shipped books, clothing, basic cooking stuff, and Jasmine’s toys via fedex. And the rest, we took in our luggage. 

We love this apartment mostly because of the location and the equipment. The furniture is just okay. They are not tacky, really, just “standard”. But they are definitely much better than the tacky ones we saw in some other places we saw (fake crystal chandelier, green bathroom lamp, tacky patchwork-like wall mirror, to mention a few :-)). The standard furniture makes it easier for me to make up the rooms. Also, the whole apartment is just so bright (FF knows really really well which direction to choose, window placement, quality of the building), so it doesn’t have many issues to solve. I basically just needed to add colours and consider that we don’t live here forever so I don’t need to invest too much.
Colourful living room
Our favourite place is the living room. We see the West Lake (Tay Ho) from here. I just use some lampions I bought in Hang Ma street in the old quarter for colouring the room, in addition to colourful cushions I purchased in "Uma" and matching photo frames on the wall that I created myself. The photos were all taken by FF in Hanoi, I just wanted to avoid potential hassle of buying some else’s photos (although later on I found a nice little BW Hanoi photography shop in the old quarter… oh well I am sure it is more efficient to use our own photos ;-)). I just had to measure the right size of photo prints and the frames. They came up just right. Especially that I found the clothes for the frame (what are they in English? Canvas?) that match the colours of the cushions in the frame shop. I am glad.
View from my favourite corner in the living room
Room for Melati is another project. I want to make it comfortable for her, of course. A play room and bedroom in one. I use lampions again for decoration. This time the small ones. Colours are important in a child's room, but it also needs a character. I chose green as the main theme colour. So I added white-green toy-shelves and green round area mat that you can see once you step in to the room. I use one narrow wall between the door to the balcony and the window to display her art work at the kindergarten and created a book corner. I want her to love books.
Melati's room with my ad-hoc self-made tent :-)
Melati's art display in the room
The book corner, with DIY book shelves and organizers
I did not want to do much to the rest of the house as I already spent too much time to play around with this :-). So I just hang two posters with Uncle Ho's face from the 2011 national election on the corridor wall going to the bedrooms and one picture (taken again by FF) of the Vietnamese water puppets to decorate the dining-room-cum-kitchen. 

Where is the "family touch"? hmm... nowadays I tend to think that putting too many pictures of the family is a little bit dated :-). But on the other hand, it is also important to make the house more "homy". So I just added some pictures using DIY jar photo display on the bar in our kitchen.
Jar photo display
Lastly, apart from much light, a home, I believe, also needs some natural touch. Living in an apartment is a challenge. Luckily we do have balconies. Two very very nice balconies where you can see the lake (they are next to the living room), one balcony in Melati's room where you can "peek" at the lake and see the street below, and one in my study room where you can see the Quang Ba Lake (pond, actually), a junction, and nice big trees (my fav!).

Sunset seen from our main balcony, after the storm 29 Oct 2012
I am also aspired to have indoor plants to make our Hanoi home homy. I learned quite a lot about apartment gardening because of this idea. I now have peace lily, aglaonema, anthurium, and dracaena indoor, in addition to one huge indoor plant, whose name I don't know until now :-), given by the previous tenant. They really make a difference in the house.

Peace Lily in the bathroom
I also have two bougainvilleas, bamboo palms, lemon grass, red galangal, and, of course :-), jasmine plant in the balcony. I nursed the lemon grass and galangal myself. The problem is that our main balconies face the west and get very sunny in the summer. I need strong plants that can stand under strong and long sun in the summer. I was stunned by bali gardens with galangal and lemon grass and learned that as tropical plants they indeed strong enough for Hanoi's hot summer. Lemon grass is also good to prevent mosquitoes and other bugs, while we cannot find lavender here (I had asked and looked around until I gave up). So I nursed them myself in my kitchen, which also overlooks the lake so it gets quite good indirect sunlight like a greenhouse.

My little plant-nursery in the kitchen :-)

Baby lemon grass was ready to go to the pot in the balcony
I must add that I learned from failures as well. I moved the small lampions several times to know where they fit nicely. I changed the lay out of the living room twice to get the most comfortable lay out. My anthurium and peace lily almost died because I did not know that they cannot be put under direct sunlight. I spent quite much time on the internet to read and see some pictures for inspiration. Anyway, I could go on and on and on about this :-), because I like learning new things, so I better stop here and enjoy my home....
Beautiful and nice smelling Jasmine

Friday, September 28, 2012

Selamat dari jebakan

Hari ini saya berjumpa kembali dengan Mrs. Smith, setelah 2 tahun. Saya banyak dapat update dari dia. Saya jadi banyak bertanya tentang kawans lama saya. Kawans se-gang sebenarnya. Let’s say “Panitia 9” itu. Tapi juga “orang2 hukum” secara umum. Kami bertukar cerita tentang mereka karena sebagian memang orang-orang yang “terorbitkan” sewaktu kami advokasi konsbar dulu. Sebab lainnya karena dia pengen curhat juga soal kelakuan “orang2 hukum” pada saya yang “orang hukum”.

Dari cerita-cerita itu saya jadi berpikir, mungkin salah satu keputusan terpenting dalam hidup saya memang untuk pergi dari Indonesia (sementara atau tidak, that’s the question :-)).  Tentu banyak alasan untuk bilang begini. Tapi alasan yang menguat sehabis obrolan saya dengan Mrs. Smith adalah soal jebakan ketenaran. Maksud saya, “ketenaran” mendadak, dan beberapa pada usia yang relatif muda, membuat teman-teman saya yang potensial malah cenderung sekadar mencari popularitas ketimbang berkontribusi riil pada Reformasi. Tentu ini generalisasi. Ada juga yang masih ada di jalur yang benar. Tapi yang sangat saya sayangkan, upaya mendongkrak popularitas semata membuat orang jadi malas menganalisis, malas mencari informasi lengkap, malas berpikir strategis. Akibatnya, sebagian “layu sebelum berkembang”. Layu di sini tentunya perspektifnya layu untuk bisa mendukung perubahan. Orang-orang itu bisa melesat karirnya, tapi saya ingin menilai saya dan teman2 saya dari kacamata sumbangan bagi perubahan.

Di luar Indonesia pun, sesungguhnya kemalasan-kemalasan ini tentunya ada dan saya tetap kena. Jebakan batman yang saya berhasil saya hindari adalah upaya mencari popularitas itu. Nyaris jatuh juga, waktu saya jadi terlalu sibuk untuk ngomong sana-sini dan mulai malas riset dan menulis. Malas membaca dan malas menulis itu bisa jadi alasannya sibuk, tapi kesibukan kan sebenarnya juga bisa dikelola. Apalagi bila kita selektif dalam memilih isu yang ingin didalami. Pengelolaan ini bisa gagal bila nafsu ingin tenar membuat semua undangan bicara dan wawancara ingin dipenuhi. Akibatnya waktu untuk riset, menulis, dan berefleksi jadi terpakai. 

Saya waktu itu betul-betul nyaris jatuh karena sebenarnya saya punya kecenderungan yang cukup kuat untuk “pengen ngetop” :-P. Padahal saya bukan orang yang bisa berpikir cepat untuk membuat komentar yang bernas dan analisis yang dalam. Dan juga bukan orang yang punya long term memory. Saya selalu butuh waktu lama untuk bisa berpikir jernih dan melihat dari banyak sudut. Bila saya jatuh, bahaya sekali. Akan banyak komentar ngaco dan akan banyak kerusakan yang bisa saya timbulkan.

Proses sekolah lagi ini benar-benar seperti bertapa buat saya. Bukan cuma dipaksa membaca dan menulis, tapi juga jadi banyak berefleksi soal sifat, kelemahan dan capaian. Ini semedi atawa meditasi. Nggak akan bisa seperti Buddha yang bisa mencapai nirvana. Tapi mudah2an paling tidak jadi belajar tenang melihat rupa diri yang sebenarnya bopeng-bopeng, tanpa perlu membandingkan dengan rupa orang lain (anak kalimat terakhir ini penting).

Monday, September 17, 2012

Hantu

Selalu ada momentum-momentum (barangkali tiga. Atau empat) dalam hidup yang rasanya ingin dihilangkan saja. Kalau saja bisa. Ada bagian-bagian kelam yang ingin dipunahkan dari memori. Kalau saja bisa. Kadang mereka terkubur lama, terdiam, terlupakan. Tapi tidak hilang. Kadang mereka muncul tiba-tiba dan menghantui.

Mengerikan sekali membayangkan bila bagian-bagian ini bisa dibuat publik. Barangkali ini yang membuat kerja yang sifatnya terlalu publik jadi tak menarik. Buat saya mereka cuma hantu di kepala. Tapi bisa jadi mereka suatu saat mereka akan bangkit dan jadi zombie yang siap menerkam.

Saturday, July 14, 2012

Scientology dan Sunat

Gara-gara perceraian TomKat [oh so important news], saya jadi baca-baca tentang scientology. Lucu juga ya.

How can some people really believe that Xenu, the galactic dictator, existed?!? The first time I was rather interested in knowing more about scientology was after I watched one of the South Park episodes [yes, I am a fan, never missed an episode when I lived in the US, they are simply crazy! :-))]. But I didn’t dig more at that time. I actually did think that the South Park guys were exaggerating: about Xenu, the DC8 like space craft, the detonator, and the thetans. But my goodness! They are real – I mean, those funny things I just mentioned are really in the believe system! :-)

Tapi kemudian saya jadi berpikir: tidakkah ada juga orang-orang yang berpikir bahwa hanya orang-orang kurang waras (atau setidaknya kurang bernalar) yang bisa percaya bahwa ada seseorang yang mengklaim dirinya adalah anak sebuah zat yang ternyata menciptakan alam raya. Atau percaya bahwa seseorang yang bilang bahwa ada makhluk tak berwujud yang bernama malaikat jibril yang tiba-tiba bilang pada dirinya yang sedang menyepi di gua tentang adanya tuhan itu. Atau percaya bahwa ada orang yang bisa membelah lautan. Atau percaya bahwa ada suatu tempat yang namanya neraka dan surga, malah katanya di surga ada banyak bidadari (ada bidadara ganteng nggak ya untukkyu? :-D) dan segala macam yang indah-indah. Begitu percayanya sampai-sampai mereka rela mati bunuh diri (dan membunuh orang-orang lainnya) demi menjadi pengantin di surga sana.

Saya bisa heran kenapa tom cruise, john Travolta, dan para penganut scientology rela bayar ribuan dollar untuk mencapai tingkatan OT III dan mendapat cerita tentang Xenu. Tapi keheranan ini bisa dibandingkan dengan orang yang rela bayar puluhan juta untuk ke mekah untuk mengelilingi sebuah bangunan kotak, lari-lari kecil di antara dua bukit dan melempari sebuah batu. Dan bahkan, sumbangan para thetans ini kecil dibandingkan dengan pembayaran “nyawa” untuk sebuah kepercayaan akan surga.

Ya ya, silakan hujat saya. Mungkin saya juga perlu dijumroh :-). Saya menista agama. Kalau tulisan ini disebarluaskan, nasib saya bisa seperti si PNS Ateis dari Padang yang divonis 2,5 tahun penjara (setitik muncul rasa takut, betul! Kemudian saya jadi berefleksi sendiri betapa tak nyamannya punya rasa takut bahkan untuk menulis :-( saya jadi teringat kawan-kawan di Burma dan Vietnam to some extent waktu kami membuat laporan tentang rule of law for human rights in ASEAN beberapa waktu lalu. Kalau tidak atas nama ketertiban, agamapun bisa jadi alas untuk melarang orang untuk berbicara. Ah, kenapa?). Tapi coba lihat ini dengan kaca mata bening. Jangan dengan kaca mata yang ada gambar ayat-ayat al qur’an atau salib atau dewa-dewa hindu atau ron hubbard :-). Coba melangkah keluar dulu dari box (atau kloset yang menjebak, kalau kata South Park :-)). Lihat agama-agama (apapun itu, bukan hanya Islam, all organized religions, or believes) dan imaji-imaji ketuhanan, asal usul alam raya, serta “kehidupan” pascamati yang ditawarkannya: ngga masuk akal! :-) Kalau ada yang bilang: ya tapi al Qur’an paling masuk akal, atau hinduisme lebih logis itu artinya kaca matanya sudah nggak bening. Subconsciously. Karena “percaya”. Ya makanya mereka semua adalah “believes”, sistem kepercayaan. Sebenarnya nggak ada yang bisa dinalar :-). Makanya juga jadi pada rentan berantem :-).

Lalu saya jadi teringat pada subconscious saya yang punya latar belakang (baca: dibesarkan dan dididik secara) islam ketika membaca berita tentang putusan pengadilan di Jerman bahwa sunat anak laki-laki itu melanggar hak anak. Saya mencoba mendiskusikan argumennya dengan FF (biasa, kendala bahasa) dan sesungguhnya saya masih bingung apakah saya setuju atau tidak dengan putusan kontroversial ini. Saya sempat bilang [bicara subconscious kaca mata muslim saya] bahwa sebenarnya sudah banyak riset yang menggambarkan betapa baiknya sunat untuk kesehatan, mencegah penularan hiv dan segala macam. Ini pernyataan yang nggak nyambung, didorong oleh dukungan spontan saya karena komunitas tempat saya dibesarkan percaya pada sunat sebagai ritual. Sebab pertanyaan hukumnya (yang logis) adalah: apakah orang tua punya hak untuk menentukan agama (berikut ritualnya) apa yang harus dianut oleh anaknya sejak anaknya kecil (belum cukup umur secara hukum).

Kalau jawabannya ya, apakah itu setara dengan misalnya hak orang tua untuk menikahkan anaknya sejak kecil? Siapa yang menentukan hak anak itu apa saja? Melulu orang tua? Tapi ada “hak asasi” juga, melekat sejak lahir.

Dan kemudian, kenapa saya setuju dengan sunat anak laki-laki sementara saya tidak setuju dengan sunat perempuan?
  • Karena sunat perempuan melanggar hak-hak seksual perempuan? Melanggar karena apa? Karena tanpa si anak perempuan setuju, kelaminnya dipotong. Bedanya dengan sunat anak laki-laki? Apa anak laki-laki –yang berumur 9 tahun pun- memang sudah bisa memutuskan untuk dirinya sendiri, tanpa tekanan atau “dorongan” ;-) dari ortu dan lingkungan? (ah those toys and a lot of money that my brothers got in their circumcision parties always envy me! :-))
  • Karena sunat perempuan di beberapa tempat (seperti Nawal El Sadawi) dilakukan dengan “kejam”? Lalu apa tidak kejam memotong bagian dari penis laki-laki? Ya sekarang ada segala metode yang sudah dikembangkan supaya (katanya) tidak sakit, itupun karena sunat laki-laki oleh muslim dan yahudi memang dianggap “wajar” jadi malah dikembangkan metode-metodenya. 
  • Karena sunat anak laki-laki “terbukti” baik untuk kesehatan. Bahkan ada orang yang harus disunat karena menderita penyakit tertentu. Sedangkan sunat perempuan justru tidak baik untuk perempuan. Bahkan membuat perempuan tidak bisa menikmati kehidupan seksualnya. Mengukuhkan pandangan bahwa perempuan tidak punya hak untuk menikmati seksualitasnya. Sementara kalau sunat laki-laki “ok ok saja” (hmmmm….) untuk seksualitasnya. Nah, ini yang bener. 
TAPI hey, lantas saya harus jujur untuk melihat bahwa ranah argumen yang terakhir ini berbeda dengan argumen pengadilan di Jerman tadi. Pengadilan itu tidak menilai apakah sunat anak lak-laki baik untuk kesehatan atau tidak (bahkan kasus disidangkan karena ada anak yang terkena komplikasi pascasunat), melainkan apakah “sunat atas nama agama” yang dilakukan terhadap seorang anak atas permintaan orang tuanya berdasarkan agama melanggar hak anak. Dan jawaban pengadilan adalah YA, melanggar.

Begitulah. Maka setelah semalaman saya bertarung dengan subconscious saya sendiri, saya setuju dengan putusan pengadilan Cologne, meskipun Angela Merkel pun nggak setuju :-).

Monday, July 09, 2012

Pindah jalur

Sudah lama terjadi, tapi masih saja sering jadi pikiran: pindah jalurnya sebagian teman dari penggiat gerakan sosial menjadi politisi. Cerita lama. Tidak selamanya buruk. Bahkan pada situasi tertentu jadi migrasi yang strategis dan “wajar” dilakukan untuk suatu tujuan yang dipercaya. Soalnya pada definisi “situasi tertentu” itu. Parameternya berbeda buat tiap individu.

 Tantangan berikutnya setelah menetapkan hati pindah jalur adalah untuk tetap berpegang pada visi yang menyebabkan berjuang dan berpindah jalur itu. Dan lebih penting: menjaga moral. Apalagi di dunia politik yang hiruk pikuk jualan, korupsi, dan seringkali cacat moral.

Ini perenungan lama. Entah sudah berapa blogposts yang saya tulis untuk soal yang sama. Tapi saya tergugah lagi waktu baca ini (maaf kalau ga bisa terbuka karena butuh password). Soal seorang (mantan) kampiun pembela hak-hak rakyat dan seorang kampiun pembela hak rakyat. Yang satu saya sebut mantan karena pindah jalur dan harus berseberangan dengan si kampiun yang menurut saya masih kampiun. Si mantan membela mati-matian seorang koruptor meski menurut saya kasusnya bloon betul. Sedangkan si masih sekarang memimpin lembaga anti-korupsi. Masih adalah guru saya. Mantan adalah sahabat saya.

Dan buat saya tidak ada istilah mantan sahabat, jadi meski dia mantan kampiun, dia bukan mantan sahabat saya. Terakhir kami ngebir bareng dia belum pindah jalur (betapa lamanya saya tidak pulang!). Jadi saya belum sempat menumpahkan kegelisahan saya. Sedih juga setiap baca namanya di media membela kasus bloon-bloon.

Friday, July 06, 2012

Parenting mood

I don’t know why I never shared stories about coping with your toddlers’ “rebellious” (no, not naughty, the word rebellious is even too harsh as they only want to be independent) acts when I was in Jakarta. Two possible reasons.

First, I was not in the group at that time. I was a hard-working, hard-partying selfish woman. I have always been fond of children (and I do think children like me :-)) and want to be a kindergarten teacher even when I hardly had time for myself and had to work from 4am to 2am everyday, but I always avoided a group that discusses children’s behaviours and which soap should they use for the children (seriously?!).

Second, many of my friends in Jakarta rely on nannies or pembantu or, well, those women in the baby blue or pink uniforms with big emblems from the famous nanny companies (one child one sitter, usually, so 3 children equals 3 sitters.. oh well..). Many of my “friends” are the ones I usually encountered in the office (well colleagues, but they are all also friends), so obviously those friends don’t deal in the daily nitty-gritty of their children. They are busy in the office with me. They would call their children or the nannies from the office or from where the out-of-town event is and ask about this and that, but they don’t deal with the children directly.

For whatever reason, I sometimes do wonder why I heard very little from my friends about how “nakal” their children are. Is it because Jakarta children are just generally well-behaved and those stories from the English language blogs and websites only happen in those other countries? Or simply because I never heard the real stories because of one of the reasons above.

Melati:
  • Sleeps alone since she was born (except of course when she was a baby and we fell asleep together when I was breastfeeding her in the afternoons) 
  • Eats by herself in a highchair, no one has to chase her around to feed her while she plays (as I often see with the pembantus or the nannies with uniforms in Jakarta). If she refuses that, then she simply will not get any food. 
  • Does not eat those chiki-like snacks that are full of MSG. Her snacks are cut apples, raisins, pop-corn, milk-biscuits, cookies, cut cheese, etc. 
  • Is not allowed to watch TV at all at home. No ipad or any kind of tablet for her (I know some friends bought ipads for their balita children for education purposes). She can play with my iphone sometimes or watch youtube as I work, but very very limited, basically to make me able to do MY work. 
  • Brushes her teeth since she was 1 year old 
  • Does not like candies and juice because we did not make her like them. But she loves chocolate, ice cream, and ice tea :-) 
  • Since a month ago the little miss independent insists to take off her shoes, open the doors for everyone, get her own drinks (water, milk), take off her clothes, choose which clothes and diapers she has to wear, etc. 
  • Hit me and bit me everyday 3 weeks ago for the whole week whenever I asked her to take afternoon nap (she stopped now after I caught her hands and face whenever she tried to hit or bite me). Bit her friend at the kindergarten some weeks ago only to sit in the “thinking chair” as she was the only child who had not been on the chair. 
  • Bit her friend at the kindergarten 4 days in a row this week and she bit her very hard yesterday until the friend was bleeding! Broke my blackberry charger because she insisted that it was HER phone. 
  • Woke up in the middle of the night, walked into our bedroom and INSTRUCTED me (with that  tone and gesture!) to move back to her bed. 
  • Corrects me, ff, and her friends in saying some words. She even corrects me on how to pronounce Indonesian words and FF on how to pronounce German words! “Anak sok tau”, in short. If we don’t want to follow what she thinks is correct, she would scream like hell. 
  • Fell 3 times in a row around the swimming pool because she did not want to stop jumping and running around the slippery pool 
  • Since a week ago already floats in the swimming pool and moves her legs and blows bubbles into the water - she is able to swim, yay! 
  • Sets the ipod/iphone speaker volume higher (too high sometimes) by herself when she listens to her favorite songs and argues with us if we tell her not to.
  • Able to complete 24-piece puzzles by herself 
No, this is not to brag about her – I also wrote down the bad attitudes she is having now, which is my main point actually. I made the list above just to describe her and the way we are bringing her up. Wonder if it is different with the ways my Jakarta friends do it. I just wonder if I spend too much time on learning about parenting knowledge and on thinking about her than my friends do on their children. I read about democratic parenting, toddlers’ discipline, how not to spank (or “cubit” in my case) your child, and so on and so forth bla bla bla. But nowadays I am worried very much by the ways she insists on her opinion. She has my stubbornness and FF’s combined! She would have quarrels with my friends’ children whom we had playdate with only to insist on how to eat lychee or how to say “mama”. She is a dictator in the making! :-) I have to carefully reshape her character, really.

What I was trying to say by putting the above list is that we do apply some discipline. My mom often says that maybe she is "naughty" because I am "too soft" on her (she never saw me cubit melati, when she played with her food I told her to clean up the floor instead of cubit although I said it with a very angry tone). And I did see many friends would yell and cubit their children when they were "naughty" (naughty as in running around the guests like crazy or spilling some water onto the floor, seriously?! they are just children, guys!). But I don't believe in that kind of discipline. To me discipline is about setting the limits, not the (hard) way to set the limits. To me the way is the "democratic" way, to start introducing the values of respect and the ability to reason and choose, though of course with some parental "direction" (she is only 2,5 years old for goodness sake, B! :))).

But then again, I keep on having questions in my mind: is it the right way to do it? Is there anyway such thing as the right way of parenting? Maybe there is not, but why I never heard the same complaints from my friends? Are their children angels? Do I have too much parenting mood in my blood (just like all those blogger moms :-))?

Thursday, May 17, 2012

Kembali

Lama nggak nulis. Bukan sibuk, apalagi sombong. Tapi karena memang nggak bisa nulis. Ini serius.

Kalau kata pakar-pakar penulis, writer’s block bisa dilawan dengan menulis apa saja yang ada di kepala. Nggak usah mikir suntingan dan lain-lain. Sama, konsulton disertasi yg galak ituh (FF maksudnya) juga bilang begitu. Tapi nggak semudah itu kalau soalnya adalah hidup yang labil - sebut saja begitu rasa ini. Atau mungkin ini sebenarnya hanya rasa malas yang jadi terpelihara karena nggak ada tenggat waktu.  

Soal hidup yang labil ini juga barangkali hanya alasan yang dicari-cari sebenarnya. Entahlah. Labil ini gara-gara jiwa kegelisahan saya yang kadang mau meletup pecah. Tapi kadang saya merasa saya sudah terjinakkan total seperti anjing, kucing, dan kuda. Saya benci kucing, by the way. I am a dog person – who also loves horse. Tapi itulah, saya merasa seperti kucing: terdomestikasi. Wow, kaget sendiri ketika kata “terdomestikasi” yang menyembul dan terketik oleh tangan waktu saya mencoba mengekspresikan rasa ini. Coba lihat definisinya di Wikipedia:  
"Domestikasi merupakan pengadopsian tumbuhan dan hewan dari kehidupan liar ke dalam lingkungan kehidupan sehari-hari manusia. Dalam arti yang sederhana, domestikasi merupakan proses "penjinakan" yang dilakukan terhadap hewan liar. Perbedaannya, apabila penjinakan lebih pada individu, domestikasi melibatkan populasi, seperti seleksi, pemuliaan (perbaikan keturunan), serta perubahan perilaku/sifat dari organisme yang menjadi objeknya.” Ouch!

Tapi jangan salah, meski akar katanya "domestik," domestifikasi yang ini bukan salah pernikahan. Apalagi salah anak. Ini salah pengambilan keputusan, saya rasa. Keputusan untuk pindah dari Seattle.

Jadi begini soalnya (ini hasil analisis selama 3 bulan belakangan ini, setelah diwarnai malam2 sendiri yang sendu penuh rasa frustasi dan keinginan bunuh diri): salah ambil keputusan untuk menulis di tempat yang jauh dari kampus DAN SEKALIGUS jauh dari sumber rasa gelisah saya (yang ingin saya pelihara terus untuk tetap menjadi manusia). Jauh dari kampus artinya jauh dari diskusi sehat maupun psy-war tak-sehat-namun-membangun (“oh I just got feed back for my last chapter, and you?”) dengan sesama anak2 PhD (permanent head damage). Jauh dari kampus juga artinya jauh dari taman bacaan yang luar biasa yang disebut Law Library itu. Tapi yang bikin “gila” adalah karena pada saat yang sama saya juga jauh dari sumber kegelisahan saya: Indonesia. Saya terus membacai berita yang bikin mangkel, dongkol, dan kesel, tapi nggak bisa berbuat apa-apa. Mau nulis op-ed lagi kayak dulu sudah sangat susah. Saya sudah terlalu jauh berjarak dengan realitas. Berita di internet bisa memberikan informasi, tapi tidak bisa memberi saya potret yang utuh soal realita. Maka gagasan juga semakin susah dituangkan. Bahkan ekspresi dalam tulisan rasanya cenderung semakin kering.

Barangkali saya bisa berpura-pura tetap ada di Jakarta secara fisik dengan langganan TV Indonesia (ada loh di Hanoi, ini ibu-ibu arisan pada langganan buat nonton gossip!), twitting, dan ikutan segala forum internet serta ber-BBM dengan rajin. Tapi itu artinya saya juga tidak berpijak pada “realitas” dalam kosmik saya sendiri: Hanoi. Kehidupan sosial saya yang real ada di sini: ibu-ibu arisan, kolega frank, ortu teman2nya si melati, tetangga, bapak-bapak warung pho depan rumah yang sering ngasih cakwe gratis kalo saya makan pho di sana, dll. Kemudian, ada waktu kerja yang kepotong2 si melati. Ada kebosanan (atawa kemalasan) yang saya sembunyikan di balik kesibukan memenuhi hobi baru saya untuk interior designing, crafting, dan creative parenting; bahkan belakangan juga gardening! Kemudian saya ikut terbawa kumpul makan-makan yang berjudul arisan. Juga kerepotan membuat acara-acara di rumah untuk kolega frank atau teman dan keluarganya – sebagai bagian dari social life.

Tentu tidak salah punya social life, tapi ketika social life jadi yang utama dan segala kegelisahan terkubur terlalu dalam di tengah kesibukan ngurus anak (which I enjoy very much), maka sebenarnya saya sudah terdomestikasi. Bukan berarti Hanoi nggak bisa membangun kegelisahan. Kalau mau, saya rasa bisa puluhan blog post yang sudah saya tulis dari pengamatan saya tentang kondisi sosial dan politik di negara sosialis pasar bebas ini – luar biasa menarik. Tapi Vietnam bukan Indonesia. Saya mungkin bisa jadi pengamat, tapi saya tidak bisa jadi penggiat (aktipis gitu maksutnya :-)).

Saya jadi seperti berpijak di dua dunia yang berbeda. Surreal.

Lalu dari sini saya jadi merenung soal jalan yang mau saya ambil. Akhir tahun lalu sudah hampir pasti saya mau “belok” ke arah akademik. Pengamat itulah, barangkali. Apalagi sudah ada tawaran sebenarnya, untuk mengajar soal constitutional law in Asia di sebuah kampus kecil namun kaya raya dan cukup terkenal di Asia. Mereka dengan sabar ingin menunggu sampai “tahun depan” (=tahun ini!), yang saya janjikan sebagai waktu saya sudah mendapat PhD. Tapi ternyata menjadi “pengamat” dari jauh seperti ini bikin saya merasa pengen mati (literally).

Lalu sekarang saya bingung mau ke mana. Di persimpangan jalan, bahasa “nyastra”nya. Tapi lalu si suami raja rasional, logis, dan disiplin sedunia itu mengingatkan saya satu hal penting: yang penting lulus dulu, neng!

Thursday, January 05, 2012

Egois

Kemarin saya dapat beberapa email menanyakan kesediaan saya mendaftar suatu jabatan. Biasalah, semua ber-BB, jadi rupanya sembari rapat beberapa orang kirim email yang isinya sama tanpa berkoordinasi :-). Saya menolak, tentu saja. Kan dua hari lalu saya baru menghitung: umur melati sudah dua tahun, berarti sudah dua tahun sejak general exam saya dan saya masih belum selesai menulis. Ini buruk. Kalaupun dihitung “maternity leave,” sudah satu setengah tahun terlewat tanpa kemajuan berarti. Mbak SS bilang “disambi” aja. Haha. Saya hanya bisa tertawa pada ide ini. Sebab yang bilang adalah orang yang sekolahnya dulu disambi dan akhirnya nggak selesai. She knows best that it does NOT work. DW bilang ini “penugasan” sebagai anggota perkumpulan antikorupsi kita. Ini argumen pamungkas setelah saya menolak. Tapi jawabannya tentu saja tetap tidak.

Yang lucu, email kedua bahkan bilang kalau di Pansel pasti beres dan tim untuk bimbingan lolos pansel sudah siap. Sedangkan di DPR pasti juga mulus (masa' sih? :-P). Buat saya soal "bimbingan" dan pembacaan proses yang dilakukan untuk saya ini lucu bener. Karena dulu saya biasa melakukannya untuk orang lain :-).

Tapi lantas si kopiliburan bertanya di BBG: pejabat publik apa yang saya mau? Pertanyaan menarik. Bohong kalau dibilang saya belum pernah memikirkan pertanyaan yang sama. Beberapa kali pulak :-). Ini gara-gara saya beberapa kali dilamar partai. Juga karena pada 2009 nama saya dimasukkan oleh Om WW ke dalam “kabinet impian”nya sebagai Menteri Kehakiman. Norbert juga berapa kali bilang dia sangat ingin melihat saya jadi ketua MK nanti, bahkan sampai terakhir kami berjumpa di Seoul dua minggu lalu. Tentu saja ini membuat saya sedikit berpikir, apa benar saya mau jadi pejabat publik?

Respon saya yang pertama: saya kurang nasionalis dan agamis karena suami saya bukan orang Indonesia dan saya tidak “takwa” (Islam di KTP tapi saya kan agnostik). Jadi tidak mungkin disenangi kaum nasionalis maupun agamis :-P. Tapi argumen ini sudah patah karena ada mantan menteri yang istrinya bukan orang Indonesia dan ada beberapa pejabat yang bukan Islam.

Respon kedua, ini yang lebih benar: saya memang nggak mau karena saya nggak suka latar belakang dan privasi saya terinjak-injak. Seorang kawan bilang saya egois. Tapi kenyataannya memang begitu. Saya nggak punya ambisi jadi pejabat publik. Karena saya nggak siap dengan latar belakang yang dikorek-korek dan diutak-atik oleh jurnalis yang model suka cari-cari berita, memancing komentar-komentar aneh, dan memelintir kata-kata orang untuk membuat berita (I hate detikcom for this type of “journalism”). Orang yang jadi pejabat publik itu menurut saya nggak hanya harus siap dengan kerja keras, tanggung jawab, dan profesionalisme. Tetapi juga dengan kemungkinan-kemungkinan pembongkaran masa lalu atau isu-isu pribadi yang sebenarnya nggak mau kita perlihatkan. Buat saya, yang terakhir ini yang paling berat.

Saya merasa lebih nyaman kerja di belakang layar. Lobbying, atau advokasi, atau memberi masukan, atau melakukan riset, menulis, atau apa saja. Biarlah saya dibilang egois.

Tuesday, January 03, 2012

Dua tahun

Melati lagi hobi nyanyi! :-) Kebetulan kebisaan nyanyi ini datangnya menjelang natal. Jadi rumah kami seperti punya radio seperti di mall-mall yang nggak berhenti memperdengarkan lagu-lagu natal. Setiap hari sejak seminggu sebelum natal sampai sekarang. Sejak sekitar jam 7 pagi –waktu dia bangun tidur- sampai jam 9 malam –waktu tidurnya.

Melati “hafal” lagu santa claus is coming to town dan jingle bell. Di luar kedua lagu natal itu, dia hafal hampir semua nursery rhymes: twinkle little star, old mcdonald, humpty dumpty, ABC, five little monkey, I am a little tea pot, London bridge is falling down, ba ba black sheep, open shut them, the wheels on the bus, row row your boat. Dan yang baru dan dia bangga luar biasa: miss polly had a dolly. Lagu Indonesia juga banyak yang dia “hafal”: pada hari minggu, burung kakak tua, naik kereta api, balonku ada lima. Yang terbaru: potong bebek angsa.

Saya beri tanda kutip pada kata hafal karena tentu saja dia tidak betul-betul hafal. Dia hanya meniru bunyi. Dia menyanyikan “I love you you love me” seperti ini: “I love you, you mov me, we happy family.” Atau “melus balon hijau, dol!”. Atau “you watch out, you cry, you hmm hmmm pout, I am telling you why, Santa claus is coming to town”. Yang paling kocak: "jingle bell, jingle bell, jingle olebe, santa claus is coming wasyawasyawasya". Caranya menyanyi sangat menggemaskan! Apalagi kalau pakai gerakan (saya belajar dari sekolahnya dan youtube).

Arti kata-kata dalam lagu-lagu itu tentu saja kebanyakan dia belum tahu :-). Kecuali untuk beberapa nursery rhymes yang saya ajarkan dengan ekspresi seperti Miss Polly had a Dolly, waktu Miss Polly menelepon (so she called the doctor to come quick quick quick) dan dokter mengetuk pintu  (he knocked at the dor with a rat ta tata ta). I think she is an amazing little girl. Kosa kata bahasa Inggris dan bahasa Indonesia-nya sangat banyak. Bahasa Jerman masih terbatas, tapi dia paham ketika diberi instruksi bahasa Jerman (seperti: tolong ambil jamur, cabai, dan kacang polong itu, kemudian masukkan semuanya ke troli; tentu semua benda yang saya sebut ini versi mainan :-)). Ini karena dia menghabiskan waktunya kebanyakan dengan saya –ketimbang ff-  dan di sekolah yang berbahasa Inggris.

Sudah dua minggu belakangan ini dia senang bertanya: what’s that? Kami mulai kerepotan menjawabnya. Untunglah “why” belum masuk kosa katanya :-). Pertanyaan “what’s that” dan beberapa kosa kata sebenarnya dia dapatkan dari film anak-anak di youtube. Kami di rumah tidak menonton tivi kecuali ketika melati sudah tidur. Kami tidak mau dia menonton tivi. Tapi dia saya ijinkan bermain dengan iphone hanya ketika dia makan siang dan malam. Saya dan ff sering bertengkar tentang iphone ini, karena ff sangat anti tontonan dan kami sebenarnya jadi kurang konsisten dengan kebijakan soal “menonton”. Tapi seringkali saya butuh alat untuk membuat dia duduk diam dan makan agak banyak. Akibat positifnya, dia banyak menonton film anak-anak di youtube dan menyerap segala macam lagu dan film yang mengenalkan angka, huruf, bentuk, warna, dll. Dia sudah tahu semua huruf a-z, angka 1-10, warna utama, dan bentuk (circle, triangle, dll) sejak berumur 18 bulan. I kid you not. Tapi karena itu semua didapatnya dari film-film di youtube, sejauh ini huruf dan bentuk dia hanya tahu dalam bahasa Inggris. Sedangkan angka dan warna, dia juga sudah bisa dalam bahasa Indonesia dan Jerman.

Tapi saya memang tidak mau dia terlalu tergantung dengan elektronik. Tidak ada mainan berbatere di kamarnya kecuali “dapur” dengan kompor yang bisa mengeluarkan bunyi. Dia senang melukis, menggambar, bermain dengan play dough, lego, masak-masakan, mobil-mobilan, balok-balok, stiker, puzzle, dan tentunya bernyanyi dan menari :-). Kami beruntung karena (bukan) kebetulan dia lahir ketika saya sudah menjadi "work-at-home-mom". Setiap hari saya bisa bermain, menari, dan menyanyi berdua dengan melati. Dan ini juga menjadikannya mudah dibujuk dan tidak cengeng. Kalau dia menolak melakukan sesuatu (ganti popok, pakai kaos kaki, atau tidur siang), saya menjanjikannya untuk mengajarkan lagu baru atau menyanyikan lagu yang dia sukai saat itu. She’s a very cheerful girl, always singing and jumping around happily :-).

Kami seringkali terpingkal-pingkal ketika ia mencoba meniru beberapa lagu atau kata. Misalnya: "di sini aja ya" atau "hey, look! Ada green car!" atau bilang pada dirinya sendiri "well done, yasmin" setelah dia melakukan sesuatu. Atau siang ini ketika saya pura-pura tidur (untuk memancingnya tidur; seringkali keterusan) dan dia datang memasukkan balon ke mulut saya dan bilang “you can blow it”.

Betapa inginnya saya menulis melulu tentang dia. Tapi terlalu banyak hal kecil yang mengagumkan. Lagipula saya agak enggan menjadi model ibu-ibu yang tidak bisa berhenti bercerita tentang anaknya dan berpikir bahwa anaknya adalah anak tercantik dan terpintar sedunia (walaupun tentu saja saya menganggap melati adalah anak terpintar dan tercantik sedunia haha). Saya sempat tergoda untuk membuat photoblog (tentangmelati.blogspot sudah saya ambil :-p), tapi ya ampun, ini disertasi nggak selesai-selesai malah mau buat proyek distraction baru. Nanti lah.

Hari ini melati dua tahun umurnya. Sejak 2 bulan lalu, dia hobi bernyanyi happy birthday to you, dengan “dear [name]” yang dia ganti-ganti dengan apa saja yang dia lihat. Happy birthday dear balon, happy birthday dear pohon, happy birthday dear car, happy birthday kaos kaki, dan segala macam. Baru tadi pagi dia saya ajarkan versi Indonesia: lagu selamat ulang tahun dan panjang umurnya. Selamat ulang tahun, melati! Semoga sehat terus, tambah pintar, dan jadi anak yang berani serta kreatif. I love you sooooo much!