Baru kelar dengar Franz Kafka’s The Metamorphosis. Dengar, bukan baca. Ini hobi (nggak terlalu) baru saya: dengar audio book sambil olahraga - jogging atau brisk walking atau aerobic atau hula hooping. Saya tinggal di tepi danau. Genangan air besar sebenarnya :-). Tapi lumayan bagus juga kalau dari jauh. Dari dekat agak bau dan kadang ada ikan mati mengambang. Yang pasti jangan berenang! :-) Tapi danau ya danau. Mengelilinginya atau sekadar berada di dekat air selalu menyenangkan. Sama seperti kebiasaan kami di Seattle mengelilingi Green Lake setiap minggu :-).
West Lake photo session in summer
Kembali ke cerita awal (kebiasaan buruk cerita ngalor ngidul masih bertahan rupanya). Jadi sejak Februari 2012, saya mulai punya hobby jogging (sampai beli sepatu jogging yg seriues loh ;-)) sembari menikmati audio book. Jadi ada motivasi. Karena saya memilih cerita-cerita klasik dunia yang memang sesungguhnya belum pernah saya baca :-). Sekali jogging, kalau bukunya Charles Dickens atau Mark Twain bisa 1 atau 2 bab. Jadi deg-degan menunggu jogging keesokan harinya karena nggak sabar nunggu bab berikutnya :-).
Tapi the Metamorphosis jadi catatan menarik tersendiri. Karena membaca/mendengar cerita buku ini seperti terapi mengatasi phobia saya pada kecoak. Terjemahannya bagus. Ekspresi-ekspresi dan penggambaran kecoak bisa saya dapatkan dengan baik, OMG! Awalnya saya agak khawatir terbawa mimpi. Sebab memang mengerikan deskripsinya. Gregor, seorang pegawai rendahan yang ditindas manajernya, pada suatu ketika waktu bangun tidur menyadari bahwa ia berubah menjadi kecoak. Yang mengerikan adalah detail penggambaran pada bagian awal Gregor bangun tidur dan menjadi kecoak: tentang bagaimana kaki-kaki yang banyak yang bergerak tak tekontrol, ruas-ruas di badannya, wajahnya dengan mata dan sungut, dan upaya kecoak-Gregor untuk bangun dari posisi terlentang. Saya nyaris berhenti berlari dan mau muntah.
Tapi Kafka memang luar biasa dalam detail cerita ini. Saya kira pengamatannya pada hidup para kecoak, atau risetnya dan upayanya untuk membacai buku-buku soal kecoak, anatomi dan gaya hidupnya, sungguh luar biasa. Bagaimana Gregor jadi tidak suka dengan makanan segar yang dibawakan Greta, adiknya; atau bagaimana sebutir apel yang dilempar ayahnya malah jadi menempel di tubuh Gregor atau bagaimana Gregor terluka ketika memaksakan diri melewati pintu kamarnya yang menjadi terlalu sempit untuk seorang kecoak raksasa sepertinya. Semuanya terperinci secara mengerikan. He is my kecoak guru.

Source: http://indeziner.com/design/artist-worth-mentioned-cristiano-siqueira/
Idenya sendiri sangat original! Seseorang yang bangun-bangun berubah menjadi kecoak, bayangkan! Betapa brilian. Ilustrasi buku itu mestinya jadi logo di blog ini. Asalkan jangan bergambar kecoak.
Barangkali bisa banyak makna dari metamorfosis Gregor sang pekerja menjadi kecoak. Pasti lengkap sudah kajian filosofis maupun kritik sastra terhadapnya. Ini Kafka lho! ;-P Tapi buat saya daya pikat buku ini sederhana saja: kecoak. Pekerja yang biasanya dihinakan dan dianggap kecoak. Penumpang kereta setiap pagi ke kantornya, yang tiap hari berjejalan dan menjadi tak berkepribadian laksana kecoak. Gregor adalah seorang tulang punggung keluarga, kakak yang baik, anak yang berbakti. Tapi perlakuan para anggota keluarga berubah total ketika ia menjadi kecoak. Entah karena Gregor jadi tidak bisa lagi menjadi andalan keluarga. Atau ketakutan pada serangga kecil yang nggak jelas namun serupa monster. Apakah Gregor dicintai karena pendapatannya? Apakah kecoak tak pantas disayang? (tidaaaaaaaaaaak)
Begitulah #gregor.









