Yang bikin marah, sakit hati, frustasi, adalah selalu ketidakberdayaan. Dalam skala yang paling rendah, ketidakberdayaan tentang banyak ketidakadilan yang saya cuma bisa tontoni di laptop, menggerogoti saya setiap hari. Setetes air mata yang jatuh setiap pagi setiap saya membuka gambar soal Palestina belakangan ini sama sekali nggak membantu. Tapi Palestina bukan satu2nya. Masih banyak, sangat banyak, sayangnya. Soal pengungsi Syiah di Sampang, Ahmadiyah, korban Lapindo. Kepala saya penuh dengan kemarahan sekaligus kebingungan: kenapa? Pantes ada generasi bunga yang mimpi dengan lagu imagine atau yang marah dengan we shall overcome, atau generasi berikutnya yg merengek-rengek dengan when the children cry [maaf ini tiba2 jadi bicara lagu karena nulis ini sambil denger lagu :-)]. Ada yang kerjanya cuma mimpi aja, sambil ngisep ganja, dan kemudian demonstrasi. Ya salah juga. Harus berbuat.
Lalu saya jadi membayangkan ketidakberdayaan yang luar biasa ketika kita disiksa, dikurung, dibantai, diperkosa. Salah satu yang belakangan jadi banyak saya pikirkan gara2 nonton film
The Act of Killing dan baca Tempo soal 1965-66. Dan pagi ini masuk lagi ke otak saya gara2 baca
tulisam Noam Chomsky soal Palestina. Rasa ketidakberdayaan lama-lama bisa meledak. Akhirnya jadi kekerasan, lalu di-label dengan terorisme. Ingin rasanya menyelesaikan sesuatunya dengan cara “beradab”, tapi apa itu “adab”? saya jadi ingat kuliah dosen gila favorit saya di UW, Wolcher. Orang2 di Suriah, di Palestina, dan yang lalu juga di Bosnia, harus banyak yang mati dulu sampai orang2 yang beradab akhirnya bersedia melakukan sesuatu. Ah, pantes banyak orang memilih mimpi, pakai baju2 bunga2, dan menghisap ganja.
Gila, terlalu banyak selentingan isu, kegelisahan, kemarahan, bahkan potongan2 peristiwa yang sudah lalu, di kepala saya belakangan ini. Begitu banyak yang mau saya tulis, terlalu banyak, sampai saya nggak mampu menuliskannya. Dunia lagi kelabu lagi buat saya. Dulu, saya selalu bilang, masa2 ketika saya melihat dunia sebagai kelabu selalu membuat saya nggak mau punya anak. Sekarang anaknya sudah ada :-). Barangkali saya cuma bisa mendidik dia supaya jadi “beradab”, entah apa itu beradab…. Saya mau dia jadi manusia yang bisa melihat manusia lain sebagai manusia. Bukan sebagai angka-angka statistik. Bukan sebagai laporan kematian sampai gencatan senjata harus jadi solusi. Bukan sebagai parameter kapan suatu berita bisa dinaikkan jadi berita.
Maaf, ini cuma posting nggak jelas. Saya cuma numpang curhat soal dunia yang kelabu.
No comments:
Post a Comment