Pulang sehari dari Leiden, langsung ke Hanoi. Drastis sekali perbedaannya. Yang satu kota tua yang sangat tenang, dingin menyejukkan, sepi, tertib, penuh dengan pemandangan bangunan tua yang indah, dan mahal. Sementara yang lainnya panas, dengan jalanan yang penuh dengan motor dan mobil yang berseliweran ke semua arah dan berlomba membunyikan klakson, kotor, dengan taman dengan patung lenin, kutipan Ho Chi Minh di mana-mana, gedng-gedung peninggalan jaman kolonial Perancis, dan serba murah. Keduanya menyenangkan dengan cara yang berbeda.
Saya ke sini untuk seminar yang diselenggarakan oleh Partai Komunis Vietnam - tentu saja hanya ada satu partai di sini. Buat saya ini menarik karena belum pernah ke negara komunis atau sosialis manapun. Dan lebih menarik lagi karena yang mengadakan acara ini partainya. Kami bicara soal rule of law dan parlemen. menariknya karena sampai pulang saya tak habis pikir bagaimana mereka akan mengimplementasikan berbagai kritik soal representasi di negara komunis ini. Boleh-boleh saja dia maju dengan industrinya, mencampur sosialisme dengan pasar bebas dan segala macam, tapi pada akhirnya toh sistem pemilunya, sistem kepartaiannya, dan sistem pemerintahannya memang komunisme. Lucu juga bagaimana kami yang dari Indonesia, Malaysia, India, Jerman, Filipina, dan Thailand bicara demokrasi (meski Malaysia dan Thailand juga nggak bisa dibilang demokratis :-)) liberal sementara toh tuan rumahnya sendiri nggak bisa bicara soal sistem multikepartaian dan desentralisasi.Tapi di luar soal-soal serius itu, saya senang banget ada di sini. Dengan berisiknya, dengan pengendara motor tanpa helm namun bertopi lucu-lucu, dengan lalu lintasnya yang lebih gila dari Jakarta. Saya juga ke restoran bobby chin dengan a dan ketemu orang peranakan Indonesia-Jerman yang cantik yang bekerja sebagai pelayan di sana. Kalau di Jakarta dia pasti jadi selebriti :-). Saya beli baju vietnam yang seksi itu dan coffee makers; murah-murah banget!
Senang juga karena banyak bertemu teman baru. Mulai dari profesor Jerman yang heibat dan baik hati, mbak dari fes yang juga baik dan mengajak saya ke chocolate buffet (oh I so like it! Wish we have it here in Jakarta), anggota parlemen Malaysia yang menarik, kawannya Upen professor favorit di Warwick (Upen udah nggak di Warwick!), dll.
Seru lah.
No comments:
Post a Comment