Sompret Bodoh Yang-nggak-tertolong-lagi, disingkat sby. Maksa ya? Biar deh. Saya tidak punya misi khusus menulis ini. Hanya ingin mengungkapkan kekecewaan yang luar biasa. Pemicunya sepele saja: reshuffle kabinet. Remeh
kan? Tapi saya kadung muak dengan isu reshuffle ini. Tiga minggu kita dimainkan-mainkan oleh isu bodoh ini. Saya sudah menolak puluhan permintaan komentar soal reshuffle. Mau muntah.
Soal pak boss, tentu saja saya sudah dengar malam sebelumnya dari dia. Tapi malam itu rasanya semuanya memuncak. Seperti biasanya, Frank yang selalu rikuh menghadapi emosi saya, hanya diam dan meninggalkan saya sendirian. Saya tidak bisa tidur semalaman dan emosi luar biasa. Hanya karena reshuffle. Sepele ya? Bahkan mungkin hanya setengah pele, tidak sampai sepele. Tapi seperti seorang anak kuliahan hukum yang baru lulus: jadi saya selama ini kerja untuk apa bila semuanya adalah soal politik?? Segala teori dari bukunya Nonet dan Selznick yang saya terjemahkan atawa buku colin sumner yang saya review, dan bukunya unger yang saya bolak balik (dibolak balik doang loh, nggak di-review, masih untung dibaca beberapa halaman :-)), rasanya jadi campur aduk seperti cendol di kepala saya. Nggak ada lagi itu teori-teori, saya hanya merasa sangat lemah dan tidak berdaya. Malam itu saya kacau sekali.
Semua jadi memuncak karena belakangan ini banyak hal yang sedang ditabrak-tabrakkan di dalam kepala saya. Hukum Negara versus hukum adat dan yang tak terjangkau oleh hukum; pasal versus asal; advokasi Kebijakan versus community organizing, dll. Dari DPR lari ke komunitas adat, dari anggota DPR lari ke komunitas buruh, dari pejabat eselon satu lari ke manusia gerobak di pinggir kali; dari hotel berbintang lima lari ke rumah kumuh; dari gedung-gedung tinggi lari ke tanah perkebunan tempat petani tertindas. Dan saya, yang katanya belajar hukum dan katanya harus bisa memfasilitasi hukum negara dan warga negara supaya bisa socially responsible (hantu belau!), ada di tengah-tengah.
Lantas tiba-tiba malam itu semua mencapai titik kulminasinya. Saya hanya letih luar biasa, mungkin.
No comments:
Post a Comment