Banyak cara untuk resisten. Bisa dengan kekerasan. Bisa juga dengan diam namun memupuk dendam di hati. Atau dengan gerakan ahimsa, seperti Gandi. Tapi masyarakat Samin memilih untuk keras kepala berlaku “bodoh”. Bagi penjajah mereka kelompok yang luar biasa bodoh, keras kepala, dan kurang ajar.
Saya tidak hendak menceritakan sejarah masyarakat samin, atau sedulur sikep. Karena sejarah dan keberadaan mereka yang luar biasa sudah banyak catatannya di web. Biar "ringkes", lihat saja hasil browsing terpilih di bawah ini:
Catatan ini hanya ingin mengungkapkan kekaguman saya. Saya beruntung bisa bertemu dua orang di antaranya. Dalam acara yang saya fasilitasi itu. Mas Gunritno dalam acara itu menolak berbahasa Indonesia. Maka kami menggunakan penerjemah. Meski di sela acara, ia biasa saja berbicara dan bercanda dalam Bahasa Indonesia. Itu hanya pernyataan sikap.
“Buat apa kita bicara soal pencatatan dan segala macam itu? Kami tidak membutuhkan negara, negara yang membutuhkan kami.” Ini salah satu kalimat yang saya catat ketika itu. Pernyataan senada datang juga dari yang lain, dari kawan-kawan Watu Telu, Kajang, Permalim, semuanya lah. Sebuah resistensi. Mereka di situ. Mereka ada. Selalu ada. Meski oleh negara mereka dianggap “tidak ada” semata karena mereka tidak bisa dikategorikan ke dalam kotak-kotak yang sudah diciptakan oleh negara: agama-agama, suku, dan lain sebagainya. Suatu ketika bahkan seorang pemuka agama Hindu diterjunkan ke sana oleh pemerintah. Alasannya, menurut pemerintah “agama” mereka mirip dengan Hindu. Maka mereka dipaksa masuk ke “kotak hindu”. Tapi mereka bukan Hindu.
Pernah juga, menurut cerita mas Gunritno, ada proyek sebuah universitas negeri yang lumayan terkemuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka adalah masyarakat tertinggal. Rekomedasi riset: buat proyek-proyek untuk memodernkan komunitas sedulur sikep! Ya, tentu saja, proyek. Maka cerita resistensi mesti berlangsung lagi. Masyarakat modern dengan segala hukumnya tentang progress, teknologi, dan rasionalitas modernisme. Yang tidak masuk dalam kategori ini harus dipaksa masuk.
Cerita ini sama saja sebenarnya dengan cerita masyarakat aborigin, indian, dan banyak suku-suku “asli” (selalu relatif) yang jadi habis, tertindas, extinct, kadang dipelihara sebagai objek studi atawa pariwisata. Ini adalah keharusan sejarah, kata sebagian orang pada saya. Ya, sejarah…
Bicara soal resistensi, pada suatu ketika di tengah kemarahan dan kemuraman saya pada negara ini, saya diskusi dengan frank. Kenapa negara yang kacau ini tidak menjadi “negara gagal”? Pemerintahnya disfungsi, gagal pada segala lini. Saya punya hipotesis bahwa civil society-nyalah yang membuat negara ini tidak gagal. Yang saya maksud civil society tentunya tidak hanya CSO atau LSM atau NGO atau dodol garut atau jambu klutuk. Melainkan masyarakat sipil secara luas: kelompok profesi, usaha ekonomi rakyat, petani yang makan nasi aking, komunitas-komunitas kecil yang bertahan hidup dengan caranya sendiri dan survive di tengah kegagalan pemerintah menyelenggarakan pelayanan publik dan memenuhi hak-hak dasar warganya.
No comments:
Post a Comment