Thursday, May 03, 2007

Malam Jumat di Solo

Sepotong malam Jumat di Solo. Daripada cerita uu politik (yang membuat saya ada di sini) dan situasi politik di solo yang unik, lebih baik cerita soal pengalaman pertama saya melihat orang boyolali (kampungnya Sholikin) kungkum alias bertapa dengan cara berendam di air dan menyembah makam. Mistik.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Jakarta dengan segala konteksnya di kepala, buat saya ini pengalaman yang menakjubkan karena sangat tidak rasional. Untunglah saya nggak sendirian. Mas Hadar juga sama takjubnya dengan saya ;-).

Sebenarnya bukan hanya pemikiran yang timbul pada saat dan setelah itu. Tetapi juga gambaran akan tempat itu. Sebenarnya sama saja, ke manapun tempat baru, pasti saya akan luar biasa excited. Tapi saya jadi merasa pemandangan di sana sedikit romantik karena misalnya ada wajah mbah jawa penjual kembang setaman dengan kerut khasnya di balik cahaya lilin. Atau penjual obat-obatan atau daging ular, juga cerutu bikinan sendiri. Penjual barang ya banyak juga. Termasuk celana jeans dan vcd penari erotis perempuan. Lapak vcd itu yang paling ramai, tentu saja.

Lapak Penjual Rempah Obat

Lalu kami melangkah ke makam “someone” (don’t blame me for not remembering his name, nggak penting soalnya :-)). Ada juru kunci tua dengan dupa berasap putih di depannya, beberapa makam yang nisannya dibungkus kain, dan sebuah makam di tengah bangunan tua itu yang diberi atap khusus. Itulah makam si someone itu. Makam beratap khusus itulah yang paling ramai dikerubungi. Sama persis seperti lapak vcd erotis tadi. (saya kira persamaan antara lapak vcd erotis dan makam itu adalah pada adanya fantasi yang mereka tawarkan pada penikmatnya)

Ini foto makam itu. Saya minta ijin untuk memotret. Sayangnya tidak boleh pakai flash dan saya tidak terlalu "pede" untuk nangkring mencari angle yang lebih baik. Jadi sangat buram. Jangan berharap saya berhasil menangkap foto arwah si someone itu ya.. saya bukan "pemburu hantu":-) (percaya aja enggak...)

Lalu kami ke tempat orang tapa kungkum (sumpah, tadinya saya kira itu “kumkum” hihi.. “ndeso” kalau kata Tukul, diketawain deh gw sama Sholikin…). Ada yang buat laki-laki dan ada yang buat perempuan. Mereka telanjang saja di air, yang sebenarnya kotor dan agak dingin. Saya keliling tempat kungkum yang perempuan, yang isinya malah laki-laki. Di situ airnya kotor, banyak sampah mengambang (bungkus shampoo, sabun, dan lain-lain), dan kamar gantinya bau pesing. Jijay.

Lalu ke warung. Duduk saja berempat. Di seberang mas eko ketemu teman-temannya. “Pejabat,” kata Mas Eko belakangan menerangkan. “Dia itu Kepala Dinas. Biasa lah, mereka pasti ke sini kalau ada maunya. Mereka sedang ada kasus,” dia menambahkan cerita panjangnya selama kunjungan tadi. Dia dan asistennya sudah bercerita segala rupa adat istiadat mistik dan kelakuan orang sekitar yang menyembah makam untuk pesugihan. Termasuk mengiyakan pertanyaan saya mengenai apakah para “mistikus” itu menyembah makam sampai pagi dan kemudian sholat subuh. Tinggal saya yang menggeleng-gelengkan kepala karena tidak paham. Saya hanya bingung memikirkan apa yang mereka pikirkan ketika sekadar tidur-tiduran menatap langit-langit makam atau cuma nongkrong di pelataran tempat ziarah itu (nah, makanya jangan dipikirin, your life is your life and their lives are their lives…).

Duduk di tikar. Para bapak pejabat (tentu saja tidak ada ibu, makanya perempuan sulit “berpolitik” di dunia politik yang maskulin ini) kami diamkan saja, toh kami berdua "wong plembang" ini tidak paham juga bahasa jawa. Di sebelah kiri saya seorang bapak dipijat oleh pemijat yang naik sepeda ontel. Sepeda ontelnya disandarkan saja di tembok warung. Tak lama, jahe gepuk panas dan tahu goreng garing datang. Nikmat betul. Lalu datang segerombolan pengamen dengan dua ukulele, gitar, bas betot tua, dan kecrekan. Menyanyi lagu jawa atau lagu pop yang menjadi berirama jawa karena instrumen dan gaya menyanyinya. Dua ribu rupiah dan sebatang rokok, kami dapat tiga lagu plus mas eko yang menjadi penyanyi tamu.

Ngobrol ngalur ngidul mengenai mistik jawa, politik di solo, dan hantu belau. Di sebelah pak pemijat bersepeda ontel masih memijat kliennya, saya lirik jam tangan saya: “gila, sudah satu jam lebih!” “Ya memang, dua jam kira-kira sepuluh ribu saja kok,” mas eko menyahut.

Lalu kami harus pulang, karena besok masih ada acara di radio sebelum ke bandara. Malam itu saya hampir tidak tidur memikirkan jadwal saya yang sedang kacau karena seharusnya sejak kemarin sampai lusa saya ada di bogor untuk menyusun modul pelatihan politik untuk parlok, sementara jumat malam saya juga harus bertemu my king of england sebelum dia kabur ke kyoto sabtu pagi. Kemudian ada rapat yayasan koesnadi Sabtu jam 10 pagi dan rapat pp perkawinan penghayat minggu jam 10 pagi. Lantas menyiapkan perjalanan ke rapat board senin besok, fasilitasi kaukus perempuan parlemen aceh selasa dan rabu, sementara sebenarnya rabu siang saya harus berangkat ke sanggau.

Tiba-tiba saya teringat para penyembah makam, pengunjung yang tidur-tiduran menatap langit di pelataran situs, pejabat peminta lindungan mistik, dan pemijat bersepeda ontel. Lagu bengawan solo dengan iringan ukulele, bas betot tua, dan krecekan mendengung di telinga saya. Saya sendirian di kamar ini.

No comments: