Saturday, October 20, 2007

Kumpul Lebaran

Saya baru kembali dari kumpul keluarga besar. Biasa, setiap Idul Fitri dan Idul Adha, keluarga papa pasti mengadakan acara kumpul keluarga besar. Besar memang, papa adalah anak tertua dari tujuh bersaudara. Masing-masing dengan pasangan plus tiga orang anak, kecuali satu pasang yang hanya mempunyai dua orang anak. Para anak pun sudah ada yang menikah dan punya anak. Jadi sekarang bukan hanya ada papa-mama, ibu-bapak, uwak, bibi, oom, tapi juga ada nenek-kakek, opa-oma, dan enin. Dan saya merindukan acara ini seperti biasanya.

Bahkan belakangan ini rasanya saya semakin merindukannya.Entah mengapa. Saya kira karena saya jadi banyak berefleksi mengenai berbagai nilai yang bertubrukan di dalam dunia saya dan dunia keluarga saya. Semakin lama semakin bertubrukan. Dan ini membuatnya menjadi menarik. Pada awalnya menakutkan, tetapi semakin saya dewasa rasanya justru menjadi semakin menarik.

Keluarga batih saya, saya sering mengklaim, adalah keluarga yang tidak bias jender. Kalau mau menyetir, mobil, saya harus mengerti sedikit tentang mesin (paling tidak tahu di mana harus mengecek air radiator, oli, accu, dan sekring), bisa mengganti ban, harus mau mencuci mobil, dan harus mau mengecek kondisi dasar mobil sebelum berangkat. Kalau belum bisa hal-hal itu dan tidak mau kotor, saya dilarang menyetir mobil, tidak seperti putri raja yang hanya tahu menggunakan mobil dan membiarkan orang lain mengurusnya Kebetulan juga kami tidak pernah mampu punya supir dan hanya bisa memiliki mobil jelek yang selalu rusak sehingga mau tidak mau saya memang jadi harus belajar banyak hehe…

Saya juga tidak dipaksa ke dapur. Seperti halnya abang dan adik laki-laki saya sering juga diminta ke dapur. Papa juga kadang memasak nasi, membuat kopi sendiri, membantu mencuci dan menyeterika.

Saya bangga dengan keluarga batih saya yang egaliter. Yang membentuk saya seperti yang sekarang. Tapi saya semakin sadar bahwa keluarga batih saya berbeda dengan keluarga besar papa. Atau mungkin tepatnya: keluarga batih saya punya nilai yang berbeda dengan nilai yang ada di masyarakat Indonesia pada umumnya. Bukan keluarga besar papa. Karena keluarga-keluarga batih di dalam keluarga besar papa punya nilai yang hampir serupa. Hanya saja ketika berkumpul, para perempuan menjadi kompak dan memasak bersama. Para lelaki mengobrol politik dan para perempuan bergosip. Tapi lelaki dan perempuan bisa “ngadu bola” bersama.

Tetapi memang ada nilai-nilai tertentu yang tidak bisa dihilangkan: soal peran perempuan dan agama. Begitu mengurat akar. Para perempuan di keluarga besar ini memang “perkasa” pemberani, kuat, dan pengambil keputusan. Tetapi bagaimanapun di masyarakat ini semua perempuan adalah “istri” dan “ibu”. Ia harus tetap melayani suami dan anak-anaknya, ia harus melahirkan, dipanggil untuk diminta membuat kopi atau mengganti baju kotor bayinya. Tentu saja yang bisa melahirkan memang hanya perempuan, tapi yang mengesalkan adalah segala sesuatunya tentang mengurus anak juga seakan melulu tugas perempuan. Yang berbeda hanya generasi saya dan sepupu-sepupu saya, dengan para suami yang juga menyuapi anak dan mencuci botol susu. Dan para suami yang tidak berteriak, "Bu, bikinin kopi dong!" sembari bergeming dari tempat ngobrolnya dengan bapak-bapak lain. Lumayan melegakan.

Kasihan para perempuan yang belum menikah atau yang sudah menikah namun belum punya anak, seperti saya. Seegaliter apapun keluarga ini, segagah apapun perempuan-perempuan di keluarga ini, ia tetap perempuan, saya tetap perempuan. Yang tak henti ditanya: kapan menikah? Kok belum punya anak? Saya didoakan secara khusus agar saya segera hamil, huahaha gimana bisa hamil kalau memang sengaja pakai kondom? Berharap kondom bocor?? Hahaha.. . Saya hanya ketawa di dalam hati. Tetapsaja, di tengah para perempuan gagah, pemberani, dan pengambil keputusan ini, nggak bisa dimengerti kalau “kawin bukan sekadar untuk punya anak” “Habis kawin pasti hamil” seakan jadi hukum alam. Aneh.. aneh… Entahlah, mungkin juga isunya bukan pada keluarga besar ini. Tetapi pada mama, sebab memang mama yang heboh. Yang lain sepertinya lumayan paham, justru mama yang berlebihan. Agaknya Mama yang merasakan tekanan ini, meski saya sendiri tidak. Mungkin saya harus maklum.

Yang juga mengejutkan soal peran perempuan adalah ketika ibu berpendapat soal menantu perempuannya: bagaimana ia tidak pernah masak untuk mertuanya, bagaimana ia selalu pulang jam 9 malam, bagaimana ia selalu bangun agak siang, dan lain sebagainya. Saya kira si mbak memang agak keterlaluan, tapi mendengar keluhan ibu soal si mbak yang tidak pernah memasak, saya jadi semakin merasa bersyukur saya tidak punya mertua di sini hehehe.. But above all, saya jadi semakin merasa berat untuk menjadi perempuan di masyarakat ini.

Saya dan ff memang mempunyai banyak perbedaan kultural yang membuat kami berbeda pendapat dan kebiasaan. Mulai dari soal makan di pinggir jalan sampai soal cara menyimpan makanan di kulkas. Tapi banyak hal pula yang rasanya -dengan pendidikan dan latar belakang saya- lebih nyaman buat saya.

No comments: