Thursday, October 11, 2007

Candu-candu

Ada seorang kawan lama, adik kelas, yang mengklaim dirinya sebagai Rasul Allah. Luar biasa. Anak-anak di kantor ribut. Dan milis-milis alumni kampus saya heboh. Ini deklarasinya:

*Dengan nama Allah, Yang Pemurah, Yang Pengasih*
Diumumkan kepada masyarakat Indonesia bahwa pada pertengahan tahun 2005 seorang rasul Allah telah dibangkitkan di tengah-tengah mereka.
Benarkanlah bahwa saya, ****** , adalah rasul dari Pemelihara semesta alam.
Barang siapa yang kepadanya telah sampai berita ini, wajib untuk mengimani dan mentaati rasulullah. Mudah-mudahan ketaatannya akan menjadi jalan bagi keampunan dan kecintaan Allah.
Barang siapa yang mengingkari, maka cukuplah Allah sebagai saksi. Dia yang akan menghakimkan antara kita, dan Dia lah sebaik-baik hakim.
Jakarta, 1 Oktober 2007 / 19 Ramadhan 1428

Sebagian kawan tertawa terbahak-bahak dan terkekeh kekeh. Sebagian lagi menganggapnya gila. Sebagian lagi mengolok-olok dan mencoba mengorek masa lalunya. Saya sendiri belum punya kesimpulan apa yang saya pikir mengenai anak itu. Saya hanya tak habis pikir bagaimana ia bisa mencapai kesimpulan itu. Apa yang dia alami? Apa yang dia pikirkan?

Lalu saya teringat Muhammad dan Yesus, juga para nabi dan rasul lainnya dalam agama-agama Samawi. Mereka juga pasti mendeklarasikan hal yang serupa. Dan semua orang pada zamannya juga menganggap mereka gila dan mentertawakannya. Kalau saya bicara ini sekarang, orang-orang fanatik pasti akan menghujat saya karena kepercayaannya yang membabi buta. “Muhammad itu berbeda, Ia membawa kebenaran”. Ya, sekarang, bagi ummatnya, dia membawa kebenaran. Tapi waktu itu?? Bayangkan di jaman jahilliyah dulu, tiba-tiba ada seseorang yang berkata: “saya adalah utusan Allah”. Persis seperti si kawan saya itu.

Saya jadi teringat lagi-lagi pada diskusi soal agama sebagai suatu realitas sosial, soal bukunya Sam Harris The End of Faith, soal bom bunuh diri dua hari yang lalu di Pakistan, soal biksu-biksu di Burma, soal perang di Irlandia dan di Palestina, dan lain-lain. Betapa banyak hal absurd. Betapa banyak perang dan pertumpahan darah karena kepercayaan pada agama. Sama halnya dengan banyaknya orang-orang tidak berdosa yang mati karena keputusan-keputusan politik demi kepentingan ekonomi, yang diambil di gedung ber-AC, oleh orang-orang yang harga jas-nya sama dengan gaji minimum buruh selama setahun di Indonesia sembari minum kopi mahal dan cerutu.

No comments: