Saturday, January 03, 2009

Memori

Siang itu terik. Sangat panas. Di pantai barat Aceh, pertengahan 2008. Banyak rumah baru, dengan papan-papan nama donor. Sisa lumpur tsunami tinggal sedikit sekali. Seorang kawan bercerita bagaimana dia dan kawan-kawannya membersihkan lumpur untuk mencari mayat-mayat. Ia takjub melihat pantai barat yang sudah rapi. Ya, sudah hampir genap 4 tahun lalu tsunami itu. Warung makan sudah banyak lagi. Warung kopi apalagi. Dan ilalang dan beberapa pohon sudah tumbuh subur kembali. Seakan tidak pernah ada lumpur bercampur mayat di tempat ini.

Sore itu agak dingin di Seattle. Memasuki musim semi 2008. Tamu Arlene baru saja pulang. Seperti biasa sambil ngobrol saya membantunya membersihkan gelas dan piring kotor dan memasukkan mereka ke mesin pencuci piring.
“We were talking about cancer, her husband has to go through cancer treatment here in Seattle. So sad, I remember how I had to deal with it for Dan. It was a difficult period…. And we also talked about nursing home. Oh I really don’t want to live in a nursing home, you know.. a retirement house.”
"Yeah, Arlene, it wouldn't be nice to live among old people, feeling old, and…'"
"Yes, and realised that people around you die one by one and you started to think, when is my turn?? Even here I feel that way, b. My neighbours died one by one, and also friends of Dan and I…”


Malam ini, beberapa bulan kemudian, di apartemen saya di 22nd avenue north east. Salju baru meleleh. Saya teringat dua momentum itu. Yang terpisah ribuan kilometer dan puluhan hari. Tapi perbincangan saya dengan Arlene tentang masa tua masih sangat berkesan. Setiap saya melihat orang tua berleha-leha di depan rumah jompo di dekat apartemen ini. Setiap saya melihat nenek-nenek atau kakek-kakek naek bus pelan-pelan dengan lantai bus yang diturunkan oleh pak/bu supir. Atau yang jalan-jalan sendiri dengan kursi roda bermesin. Negara-negara barat memang sangat ramah terhadap lansia dan kaum difabel. Mereka bisa keluyuran ke mana-mana sendirian.

Arlene misalnya. Dia hidup sendiri di rumah dua lantai, dengan tangga menuju ke pintu utama rumahnya, plus sebuah basement tempat mencuci baju. Padahal dia harus menggunakan tongkat untuk berjalan. Setiap hari dia harus minum berbagai vitamin dan pain killer hanya untuk bisa jalan dan naik-turun tangga tanpa merasa terlalu sakit (dia memang lebih dulu masuk rumah sakit dan dioperasi daripada Pak Dan, meski akhirnya Pak Dan yang pergi lebih dulu). Arlene jarang masak, karena dia bilang buat apa masak kalau hanya untuk diri sendiri? Makanya Claire senang sekali saya sempat tinggal di sana. Sebab paling tidak saya jadi masak berdua Arlene, belanja untuk Arlene (sekarang dia hanya grocery shopping di amazon.com, sedih banget), dan beres-beres rumah sedikit (dia punya cleaning lady yang datang seminggu sekali, tukang sapu daun yang datang semau dia, dan tukang sampah yang bersedia naik tangga untuk mengambil sampah). Apakah itu karena anak-anaknya “durhaka”? Sama sekali tidak! Claire (dan juga Louie) sudah puluhan kali memaksa Arlene pindah atau memaksa Arlene menerima keluarganya untuk tinggal di rumah itu. Tapi Arlene selalu menolak. Privacy, kata Arlene. Saya selalu bilang: ah, ini dia different value orang barat dengan orang timur… :-), tapi yah, kita harus menghormati pilihan orang. Maka sampai sekarang saya menyambangi Arlene sesekali dan membawa makanan, gantian dengan Claire dan Howard, sekalian memberesi kamar kerja Pak Dan dan basement yang masih penuh “harta karun” peninggalan Pak Dan.

Tapi hidup Arlene yang "painful" secara fisik membuat saya tidak ingin mati tua. Tergantung pada pain killer, vitamin, kursi roda, tongkat, dan orang-orang di sekitar kita. Menjadi beban bagi orang lain adalah beban buat saya. Tapi saya kira yang paling “menyakitkan” adalah secara mental: melihat orang-orang yang kita cintai atau setidaknya kita kenal, mati terlebih dulu, satu per satu; dan membatin "kapan giliran saya?"

Dari dulu saya selalu ingin mati muda, bahkan lebih dulu dari papa dan mama. Untuk alasan yang egois sekali: saya tidak mau sedih ditinggal orang-orang yang saya cintai. Saya teringat pada “death becomes her” ataupun “highlander”. Menjadi tua itu menyakitkan karena kita melihat orang-orang meninggalkan kita. Namun ada lagi yang lebih menyakitkan: memori. Semakin banyak memori yang kita miliki. Mungkin sebagian akan hilang: pikun. Saya kira itu sebabnya manusia yang sudah tua perlu menjadi pikun. The burden of life’s memory is so damn heavy. The sweet ones and the bitter ones.

Ini yang membuat saya kemudian jadi teringat pada obrolan tentang ratusan ribu orang yang mati karena tsunami dan ribuan anak-anak yatim karena tsunami. Mereka menyimpan memori kehilangan dan bencana yang sangat besar. Tapi “bangsa” Aceh membuat “memori” baru pascakonflik. Secara tidak sengaja dibentuk oleh tsunami. Barangkali dengan cara itulah memori getir tentang perempuan-perempuan yang diperkosa serta orang-orang yang mati dipengggal dan disika karena konflik terkikis pelan-pelan. Kita bisa menangis dan “menggugat” Tuhan (bila percaya) atas matinya ratusan ribu orang dalam konflik, perang, ataupun bencana alam. Namun yang terberat adalah orang-orang dan anak-anak yang menyimpan memori tentangnya.

Manusia memang memerlukan pikun dan kematian. Bila tidak, dunia akan menyimpan memori yang luar biasa berat. Kematian membuat memori menjadi sejarah. Dan beban manusia yang hidup menjadi berkurang karenanya. Kita, termasuk saya sendiri, bisa bilang hidup ini indah. Tapi tidakkah kita (saya) menangis melihat kekejaman di Palestina, di Rwanda, di Bosnia, di Aceh, dan lain sebagainya? Lalu tiba-tiba saya merasa dunia begitu kelabu.

Ketika saya membolak balik coffee table book tentang “East Indie” atau film hitam putih tentang Hitler, olimpiade jadul, atau apa saja, saya merasa begitu kecil dalam lintasan sejarah. Orang-orang yang fotonya saya tatapi, yang tersenyum di depan kereta kuda di depan harmoni tahun 1900-an, sekarang tinggal tulang belulang. Saya juga akan menjadi tulang belulang atau menjadi debu (karena saya ingin dikremasi). Tapi saya memilih mati daripada menyimpan beban memori yang luar biasa besar, tentang hidup yang indah, kemudaan yang menakjubkan, dan orang-orang yang saya cintai yang pergi lebih dulu.

Saya jadi teringat Dorian Gray yang menyeringai tampan di depan lukisan dirinya yang tua. Kematian memang lebih baik untuk dirinya.

3 comments:

Anonymous said...

Maybe you heard it before, there's an old Yiddish (perhaps you should check Arlene :) saying "if you want to make God laugh, tell Him all your plan(s)'.

So far, Him is laughing at me all the way xixixixi...

-CikAYin

Anonymous said...

hmmm.. pepatahnya gw ngerti, tp kaitannya sama posting ini gw ga ngerti hehe.. sorry... maklum kapasitas otak kecil...

Anonymous said...

Mksdnya kl lo pengen mati cepet (plan) entar gak dikasih sama Tuhan (he's laughing). Masih jaka sembung ya?

-Cik Ayin