Fesbuk bikin dunia persilatan kacau kumacau! Pertama, saya jadi punya alasan tambahan untuk menunda pekerjaan. Karakter nyata-namun-selalu-berusaha-dipendam untuk mengetahui urusan orang lain (=doyan gosip) jadi terpelihara subur dengan adanya fesbuk :-). Saya seringkali tergoda untuk ngecek si a anaknya udah berapa, mantan gebetan b istrinya cantik apa enggak (kayak ada pengaruhnya aja..), mantan pacar c sudah jadi bapak bapak tambun apa tetep keren :-), kenapa si d yang dulu cheer leader sekarang jadi gendut, etc.
Saya termasuk orang yang “terlambat” membuat fesbuk. Karena saya tahu saya akan sibuk dengan dia dan dia menjadi alasan tambahan untuk procrastination. Dan ternyata saya 100 persen betul :-)
Kedua, it drags me to the past! I mean (except from the losers :-P) who does not love her/his 15-19 years old life?! ;-) and it even drags me to my elementary school life! And my high school life was so wonderfully crazy. Walau kadang malu-maluin dengan baju jadul dan penampilan yang sungguh tak terawat :-), sweet banget melihat foto-foto aneh-aneh itu (ada yang sama bajaj segala). Dan lucu melihat bagaimana teman-teman itu sudah menjadi manusia-manusia yang sangat berbeda dengan saya. Meski saya tahu, misalnya waktu demonstrasi 1997-1998, di antara orang-orang yang mengacungkan senapan ke kami ada teman dekat saya waktu SMA yang kerjanya ngintipin gue pacaran :-); tapi lucu waktu liat foto-foto dia lagi dan chatting dengan dia. Semua sudah menempuh jalannya masing-masing. But we all do still love each other, I believe, for the tie among us is strong, i think mostly because of the “tough life” we had to get through (kehidupan memang “keras” di 70 masa lalu hehe tanya aja sama orang-orang yang tiap hari digebukin sama kakak kelas atau yang palanya digeprok pake paving block atau botol sama anak sma lain). Dan fesbuk membawa lagi cinta itu... Ada masa-masa lalu yang lain: di warwick, di depok. Tapi masa sma itu yang selalu membuat tersenyum, dan kadang terkekeh dan terbahak-bahak.
Ketiga, menambah satu cabang pikiran untuk pilihan-pilihan sulit :-): friend requests mau di-approve atau enggak? Hehe nggak penting ya? Bukannya sok populer, tapi soalnya adalah memang banyak orang yang tujuannya berfesbuk adalah memang mencari teman, sehingga mereka akan mengecek friend list temannya. Tapi yang jadi isu buat saya, kadang ada orang yang memang pingin berteman gara-gara aktivitas saya. Barangkali karena banyak juga aktivis dan politisi yang menggunakan fesbuk buat pekerjaan: menulis notes secara serius, tarok CV lengkap, friend list sampai 3,000 orang, foto dengan latar belakang bendera partai atau foto mbak mega :-), etc. Mereka pikir saya juga begitu. Padahal sama sekali tidak. Buat saya fesbuk memang buat “temen beneran.” Masalahnya saya memang rada pilih kasih :-), kalau wartawan atau aktivis lsm (termasuk temen minum kopi di solong atau anak partai baru di aceh) atau politisi atau anak-anak staf dpr atau anak-anak komnas dan donor-donor, sering saya “confirmed” saja. So, yes, i do background check dan itu nambah kerjaan hehe (salah sendiri nggak konsisten, katanya buat “pertemanan”...). Meski sudah sangat banyak friend requests yang saya “ignored,” gara-gara inkonsisten ini, saya sudah menemukan yang “aneh” dan menyebalkan. Beberapa harus saya “buang” dari friends list.
Karena nggak mau seperti kawan-kawan yang ingin “mempopulerkan diri” via fesbuk itu, saya nggak mau punya “friend” banyak-banyak. Tapi apa mau dikata, anak 70=18 kelas x 48 orang (itu baru anak L, blm anak S dan anak M, plus temen nongkrong di B, dan alumni sghn), anak 11=15 kelas x 40-an orang, anak fhui=200-an orang seangkatan (plus angkatan lain dan “adik-adik” yang pernah saya kasih pelatihan), teman di warwick, di seattle. Walau nggak semuanya pingin jadi temen gue :-) dan nggak semuanya punya fesbuk, liat aja statistiknya. Gila kan? Jadi, bukannya “sok ngetop”, tapi orang yang memang saya kenal memang pada dasarnya banyak karena sekolah-sekolah itu.
Fesbuk itu memang lucu. Sepupu tersayang gonta ganti status pacarannya yang putus nyambung putus nyambung sampai dunia per-lsm-an pada komentar (karena dia sudah terseret masuk ke dunia saya) dan tetehnya yang baik ini :-) jadi terpaksa ikut campur. Soal privacy level ini yang lucu. Buat saya tidak memasukkan status itu soal privacy, sama seperti saya tidak memasukkan religion dll. Tapi ada kawan yang istrinya bete gara-gara fesbuk. Juga ada yang protektif waktu melihat status atau wall suaminya dikomentari perempuan-perempuan langsung menambahkan komentar, seakan mengatakan: “stop it bitches, he is mine!” :-)
Fesbuk juga lucu karena beberapa komentar di media dan bantuan pemikiran advokasi buat kawan-kawan saya sampaikan via fesbuk (dan juga email, barangkali sebenarnya bukan fesbuk, tapi internet secara umum yang luar biasa). Seakan saya nggak pernah meninggalkan Jakarta :-). Dan buat saya yang senang berteman dan berjaringan ini, jadi menyenangkan untuk bisa dengan mudah “menyapa” orang (biasanya harus telepon atau sms). Menyenangkan untuk berpikir: siapa yang mau gue sapa hari ini? :-)
Fesbuk membuat saya (kita) berpikir. Berpikir soal manfaat (“mau dipakai buat kampanye :-)” atau “buat nambah kenalan” atau “ketemuan sama temen lama”). Berpikir soal pencitraan (mau bikin status, notes, links, yang seperti apa dan foto yang mana yang mau dipajang). Fesbuk membuat saya “berkaca”. Karena fesbuk membuat kita berhubungan dengan manusia-manusia lain dengan cara yang berbeda. I officially have put facebook in my “list of world’s most important inventions” :-P
4 comments:
Ha..ha..keren bip. ada tuh anak kantor yang topik pembicaraannya jadi mantaaaan terus setelah ber buku ikan:)
es
Haha, boleh gw tebak ga siapa tu orang? :-))
Tantangan baru buat kerjaan2 kantor yak hehehe
bs
Tantangan karena tu orang ngomongin mantan mulu ato karena jadi gak produktif maen buku ikan terus?
*mantan?siapa yang ngomongin mantan?
-gpd
karena maen buku ikan lah git. Btw, jd yg ngomongin mantan tuh elo.. :-P
Btw sadar ga bbrp politisi ada yg sampe bikin lebih dr 1 account krn i account "cuma" muat 5,000 orang hehehe niat banget yak.
bs
Post a Comment