dalam pemilu nanti. Namun sesungguhnya saya tidak akan memilih. Untuk dua
alasan. Pertama, saya tidak tahu siapa yang akan saya pilih. Kedua, saya
malas mengurus pindahan suara dan lain sebagainya ke konjen (daftar diri aja
belom hehe.. males banget sama yang beginian).
Alasan yang kedua sebenarnya yang paling utama. Kalau soal urusan sama
birokrasi saya adalah biang pemalas (mungkin karena "trauma" :-P).
Alasan yang pertama berbeda dengan skeptis atau frustasi politik atau hantu
belau. Sederhana kok: saya cuma nggak tahu mesti memilih siapa. Sebab
sekarang kita harus contreng nama, sedangkan saya sejak september nggak di
Jakarta, saya nggak tahu siapa saja yang jadi caleg di wilayah saya (pemilih
luar negeri). Dan saya malas cari info.
Tapi saya merasa tidak tepat untuk mempromosikan 'golput' dan
menyebarluaskan 'aura' skeptisisme (meski sebenarnya tidak skeptis, tapi
orang bisa menduga salah). Kalau memang tahu siapa yang mesti dipilih, lebih
baik memilih. Bila tidak kita akan terus menerus di luar sistem. Buat saya,
kita jadi tidak berhak untuk menghujat anggota DPR, mengajukan RUU,
kebijakan atau melakukan aktivitas lain yang berhubungan dengan politik
kalau kita tidak memilih. Kalau memang skeptis, tidak memilih karena
frustasi dan memang tidak mau tahu urusan politik, maka konsistenlah! :-)
Tapi nanti jangan berkoar-koar soal RUU nggak diterima, RDPU dicuekin dlsb,
kecuali barangkali bilang: "tuh kan gue bilang juga apa, mendingan nggak
usah milih!" atau cuma: "dasar brengsyek!".
Nah kalau skeptis tapi mau bersikap politik nantinya, maka tetaplah
"berpolitik", dengan cara: datang ke tps dan contreng semuanya. Atau lebih
provokatif: langsung tusuk kertasnya dan kembalikan ke kotak tanpa masuk ke
bilik suara :-). Dengan begitu, kita masuk ke dalam hitungan "voters turn
out", tapi kita bersikap untuk tidak memilih. Kita masuk ke dalam sistem dan
tetap menyatakan sikap kita.
Mungkin ada pertanyaan: tapi dengan begitu kita memberi legitimasi buat
pemenang pemilu dong karena "voters turn out" bertambah? Ya memang, karena
seperti yang saya bilang di atas: ini kalau kita mau tetap berpolitik. Kalau
memang tidak mau memberi legitimasi politik atau betul-betul tidak peduli
dengan politik, ya urusannya beda, memang tidak perlu datang ke tps dan
daftar sama sekali. Apalagi kalau anda memang kaum anarkhis, ya silakan
jauh-jauh saja dari tps, itu pilihan sikap yang lebih jelas. Jauh lebih
jelas ketimbang saya yang sebenarnya cuma MALES.
Itulah, alasan saya sederhana dan sama sekali tidak ideologis: jadi lebih
baik tidak terbuka menyatakan tidak memilih daripada ditafsirkan berbeda :-P
No comments:
Post a Comment