Friday, November 24, 2006

Ibu-Ibu Bersanggul dan Berjilbab

Tadi malam saya diminta bicara soal pendidikan politik perempuan oleh kaukus perempuan parlemen. Saya bingung. Satu, karena ada distraction, dengan bas sebagai fasilitatornya: He’s English, Bas, English say ‘love’ quite often! Dua, isu ini sangat luas sehingga saya tidak tahu lagi mesti mulai dari mana. Tiga, buat saya mungkin semuanya terlalu biasa dan bisa diterima secara serta merta. Seharian saya bingung karena saya selalu berkomitmen untuk membuat minimal catatan kecil atau power point presentation bila diundang ke suatu acara dan maksimal tentu saja sebuah makalah yang serius. Tapi kali ini saya sedang tidak sanggup membuat makalah baru.

Maka saya datang dengan setumpuk bahan di tas dan file power point dan sebuah coret-coretan presentasi seperti biasa. Banyak ibu berjilbab dan bersanggul tinggi, yang pasti: berbedak tebal. Itulah ibu-ibu anggota parlemen seluruh Indonesia: DPR, DPD, dan DPRD.

Panel saya kecil. Tapi menarik, karena saya bertekad membuatnya menarik, mungkin. Catatan kecil saya malam itu berisi beberapa hal.

Pertama, saya memang lagi sering terseret-seret ke isu perempuan. Dari dulu sebenarnya. Sebab, agaknya hampir jadi suatu kebiasaan, bila ada seorang perempuan yang aktif di ngo (untuk tidak menyebut diri saya “aktivis”, nggak berani), dia akan diseret juga masuk ke isu jender karena dianggap punya kesadaran jender yang baik.

Tapi sekarang saya terseret makin jauh. Mbak ani, mbak ery, happy bener sekarang ada saya yang bisa jadi “pemain cadangan” buat mereka :). Bu Yudha, mbak nia, dan lain-lain juga senang sekarang ada lagi yang bisa diajak ngomong dan advokasi kebijakan perempuan. Saya senang karena jejaring saya tambah luas dan saya makin banyak belajar substansinya. Tapi ini juga berarti ada tambahan satu lauk lagi di piring saya. Termasuk juga keterlibatan saya yang mendalam untuk membantu teman jaringan perempuan di Aceh. Saya tidak keberatan dengan ini semua, karena saya menganggap isu ini memang penting.

Kedua, bicara pendidikan politik perempuan itu jadi rumit karena faktor ‘budaya’. Tentu setiap bicara ‘budaya’yang saya maksud adalah kondisi struktural. Begitu sulitnya untuk bilang bahwa hak-hak perempuan adalah hak yang asasi dan membongkar persepsi soal “kodrat” perempuan. Pernah di suatu acara diskusi interaktif di televisi saya dinasehati oleh penelepon soal kodrat karena saya menolak persepsi umum soal kodrat. Saya hanya tersenyum, walau yang protes tidak hanya satu-dua penelepon. Tapi yang membuat saya terganggu adalah jika perempuan-perempuan yang mengelompokkan dirinya dalam barisan aktivis perempuan juga masih punya cara pandang yang sama. Tersembunyi, keluar secara samar-samar, tapi terasa ada denial untuk hal-hal yang diperjuangkannya sendiri. Misalnya waktu kita advokasi soal 30% perempuan di UU PA, juga soal cerai tidak bisa banding di UU PA. Yang paling parah adalah ketika diskusi rancangan qanun perlindungan dan pemberdayaan perempuan, malah salah seorang ibu bertanya “kenapa qanun ini kok hanya mengatur hak perempuan ya? Kan hak atas kesehatan, hak atas pendidikan, juga hak laki-laki. Sebaiknya tidak usah dibuat terlalu spesial begini lah…” Saya kaget betul di diskusi terfokus yang isinya hanya para aktivis perempuan aceh plus tiga orang tamu (termasuk saya) ada yang bicara begitu. Dan saya jadi makin menyadari beratnya pendidikan politik perempuan.

Ketiga, saya jadi berefleksi dan menemukan betapa besarnya perbedaan pengetahuan dan akses informasi antara anggota parlemen perempuan yang satu dengan yang lainnya. Suatu fenomena yang sebenarnya ada di mana-mana, bahkan juga untuk politisi, tergantung jejaringnya mana yang lebih luas. Tapi bagi perempuan-perempuan legislatif ini jurang pemisahnya terasa lebih lebar dan kentara. Akses informasi yang minim di daerah pastinya jadi faktor yang kuat. Begitu juga cara partainya mengelola keberadaan mereka alias bagaimana memperlakukan mereka di dalam struktur kepengurusan partai. Parahnya, ada yang terpilih karena mantan ibu pejabat, atau karena pengusaha kaya, karena dia adalah ‘ratu’, atau karena tak sengaja terpilih (karena sistem pemilunya dan rendahnya pengetahuan politik pemilih). Akibatnya jurang pemisahnya sangat terasa. Apa yang saya anggap sulit karena saya merasa semuanya pasti sudah diketahui oleh para politisi perempuan, ternyata tidak betul. Beberapa ‘peluru’ yang tidak saya keluarkan dalam presentasi saya karena saya anggap sudah jamak dan diketahui mereka, malah jadi bisa saya keluarkan dengan mudah dan dianggap baik oleh mereka. Refleksi saya: jangan buru-buru berasumsi soal pengetahuan mana yang umum dan diketahui.

Keempat, saya merasa saya sering jadi orang yang ‘marah’. Sering mengkritik. Saya kira saya hanya marah karena pembaruan hukum yang lambat. Atau karena donor-donor yang kerja dengan template dan dibayar terlalu mahal tak sepadan dengan kerja mereka. Tapi ternyata saya marah pada banyak hal. Beberapa waktu belakangan ini memang ini sudah saya rasakan. Waktu makan siang dengan anggota parlemen uni eropa, waktu presentasi di usindo, waktu di world b(l)ank, waktu di aceh, dan lain-lain. Tapi tadi malam saya jadi berefleksi khusus soal kemarahan ini. Sebab si ibu moderator yang anggota dpr rupanya tersinggung waktu saya menyerang anggota dpr perempuan yang juga tidak mendukung perjuangan bersama ini. Kadang sikap kritis begini bisa menjadi tidak strategis, tapi saya kan nggak bisa diam saja kalau ada sesuatu yang saya tidak sukai? Ini yang namanya berpegang pada prinsip. Saya jadi semakin memahami kenapa beberapa orang yang keras berpegang pada prinsip sering dimusuhi oleh orang di sekitarnya. Seperti Pak Yap, mungkin, walau tentu saja saya nggak berani menyamakan diri saya dengan orang sebesar dia. Dalam skala kecil mungkin seperti arbo, irfan, frank, yang selalu protes dan marah dan nggak mau kompromi pada hal-hal kecil yang prinsipil. Saya, rival, dan ery mendiskusikan ini dalam perjalanan ke Anyer kemarin. Mulai dari tukang parkir yang nggak pakai karcis sampai menyogok untuk dapat SIM. Saya sendiri masih lemah di beberapa hal. Tidak sekeras mereka. Saya masih sering merasa saya harus mengalah pada sistem. Menurut saya soalnya adalah, apakah kita mau selalu jadi anak manis dan disukai orang atau mau jadi orang yang memegang prinsip dan rela dimusuhi kadang-kadang. Mau licking ass atau kicking ass? :-) I like licking things I like and asses are obviously not included! hihihi

No comments: