Tadi malam saya diminta bicara soal pendidikan politik perempuan oleh kaukus perempuan parlemen. Saya bingung. Satu, karena ada distraction, dengan bas sebagai fasilitatornya: He’s English, Bas, English say ‘love’ quite often! Dua, isu ini sangat luas sehingga saya tidak tahu lagi mesti mulai dari mana. Tiga, buat saya mungkin semuanya terlalu biasa dan bisa diterima secara serta merta. Seharian saya bingung karena saya selalu berkomitmen untuk membuat minimal catatan kecil atau power point presentation bila diundang ke suatu acara dan maksimal tentu saja sebuah makalah yang serius. Tapi kali ini saya sedang tidak sanggup membuat makalah baru.
Maka saya datang dengan setumpuk bahan di tas dan file power point dan sebuah coret-coretan presentasi seperti biasa. Banyak ibu berjilbab dan bersanggul tinggi, yang pasti: berbedak tebal. Itulah ibu-ibu anggota parlemen seluruh
Panel saya kecil. Tapi menarik, karena saya bertekad membuatnya menarik, mungkin. Catatan kecil saya malam itu berisi beberapa hal.
Pertama, saya memang lagi sering terseret-seret ke isu perempuan. Dari dulu sebenarnya. Sebab, agaknya hampir jadi suatu kebiasaan, bila ada seorang perempuan yang aktif di ngo (untuk tidak menyebut diri saya “aktivis”, nggak berani), dia akan diseret juga masuk ke isu jender karena dianggap punya kesadaran jender yang baik.
Tapi sekarang saya terseret makin jauh. Mbak ani, mbak ery, happy bener sekarang ada saya yang bisa jadi “pemain cadangan” buat mereka :).
Kedua, bicara pendidikan politik perempuan itu jadi rumit karena faktor ‘budaya’. Tentu setiap bicara ‘budaya’yang saya maksud adalah kondisi struktural. Begitu sulitnya untuk bilang bahwa hak-hak perempuan adalah hak yang asasi dan membongkar persepsi soal “kodrat” perempuan. Pernah di suatu acara diskusi interaktif di televisi saya dinasehati oleh penelepon soal kodrat karena saya menolak persepsi umum soal kodrat. Saya hanya tersenyum, walau yang protes tidak hanya satu-dua penelepon. Tapi yang membuat saya terganggu adalah jika perempuan-perempuan yang mengelompokkan dirinya dalam barisan aktivis perempuan juga masih punya
Ketiga, saya jadi berefleksi dan menemukan betapa besarnya perbedaan pengetahuan dan akses informasi antara anggota parlemen perempuan yang satu dengan yang lainnya. Suatu fenomena yang sebenarnya ada di mana-mana, bahkan juga untuk politisi, tergantung jejaringnya mana yang lebih luas. Tapi bagi perempuan-perempuan legislatif ini jurang pemisahnya terasa lebih lebar dan kentara. Akses informasi yang minim di daerah pastinya jadi faktor yang kuat. Begitu juga
Keempat, saya merasa saya sering jadi orang yang ‘marah’. Sering mengkritik. Saya kira saya hanya marah karena pembaruan hukum yang lambat. Atau karena donor-donor yang kerja dengan template dan dibayar terlalu mahal tak sepadan dengan kerja mereka. Tapi ternyata saya marah pada banyak hal. Beberapa waktu belakangan ini memang ini sudah saya rasakan. Waktu makan siang dengan anggota parlemen uni eropa, waktu presentasi di usindo, waktu di world b(l)ank, waktu di aceh, dan lain-lain. Tapi tadi malam saya jadi berefleksi khusus soal kemarahan ini. Sebab si ibu moderator yang anggota dpr rupanya tersinggung waktu saya menyerang anggota dpr perempuan yang juga tidak mendukung perjuangan bersama ini. Kadang sikap kritis begini bisa menjadi tidak strategis, tapi saya
No comments:
Post a Comment