Monday, December 29, 2008

Ideologi

Komentar rbt (kayaknya di kompas) soal tulisan saya di buku kumpulan tulisan soal kebangkitan bangsa bikin saya agak ‘terguncang’. Ujarnya: “Tulisan b mengenai hukum berupaya mendeskripsikan muatan neo-liberal dalam konstitusi kita.
Yang jadi soal, setelah secara baik melancarkan kritik ideologisnya, b ragu-ragu menjejakkan posisi ideologisnya sendiri. Akibatnya, ia kemudian berpaku pada pandangan liberal mengenai hukum yang dikritiknya sendiri sebelumnya (hal 191).” Tulisan itu, oleh bung rbt, dikategorikan sebagai salah satu dari beberapa tulisan yang “tidak berhasil merumuskan dan menyajikan simpulan secara solid.”

Saya nggak mau berdalih dan menolak kritik ini. Kritik itu harus dikunyah, diresapi, dan ditelan; jadi energi baru, kemudian ampasnya kita buang di wc, plung, flushed! :-) Persis kayak makan lah, makanan sehat kan seringkali nggak enak :-). Soalnya, semakin banyak terpublikasi, akan semakin banyak kritik dan semakin besar kemungkinan orang nggak suka dengan kita. Seperti saya bilang pada si gendat: kalau mau selalu disukai orang, kita nggak akan pernah punya pendapat (itu gara-gara dia jerih menulis keras karena disindir dalam pertemuan-pertemuan). Ini salah satu hal berharga yang paling berat saya pelajari ketika memimpin peesahaka. Tidak hanya dalam beropini tetapi juga membuat keputusan (internal ataupun eksternal), kemudian dibenci (termasuk oleh kolega sendiri), digosipin, dihakimi (salah satu kelompok bilang saya "aktivis kolaborator asing sok sosialis" wakakak), atau disukai. Jangan dipikirin siapa yang bakal suka dan siapa yang bakal benci, keputusan harus dibuat cepat dan sikap harus disampaikan. Dan kadangkala keputusan dan opini itu salah, ya terima saja. Yang terbaik adalah belajar dari kesalahan sendiri. Bagaimanapun, menjadi “berani” itu tidak mudah. Saya masih terus menerus belajar sampai sekarang dan mungkin sampai kapanpun (baru aja ngomong sama didi soal ini). Itu sebabnya “doa” (baca: harapan) saya pada tiap jabang bayi kawan-kawan yang baru lahir via sms selalu: “semoga dia menjadi anak yang cerdas, berani, etc etc”. Orang bisa luar biasa pintar dan rajin, tapi kalau dia tidak “berani” berpendapat (verbal, menulis, beropini), maka barangkali otaknya lebih baik dibikin jadi gulai otak sama Hannibal Lecter.

Anyway, (seperti biasa saya menulis ngalor ngidul) maka saya mengorek tulisan itu di peti penyimpanan tulisan (yang sebagian tidak selesai..) dan ya, saya tahu. Saya memang selalu tidak pandai membuat kesimpulan. Sama, kritik keras bas ke tulisan saya soal reading the progress of law reform juga begitu. Saya juga seringkali tidak fokus. Terlalu banyak hal yang ingin saya sampaikan. Bercabang. Persis. Bang D juga bilang begitu. Bu V juga bilang begitu (gila, abstract tesis gw dicoret-coret total!!). Sama saja dengan ketika saya menulis blog. Saya selalu ingin mengungkapkan terlalu banyak hal dalam satu tulisan.

Tapi yang membuat saya terguncang adalah soal keragu-raguan saya untuk “menjejakkan posisi ideologis” saya sendiri. Ah! Dan yang membuat saya makin terguncang (dan agak terkapar) adalah: setelah saya membaca tulisan itu lagi, saya sadar bahwa rbt 100 persen betul!

Saya selalu mengklaim diri saya “agak kekiri-kirian”, tapi tingkah polah dan cara pandang saya seringkali sebenarnya liberal. Dalam banyak hal. Saya jadi sadar. Bahkan ketika saya pertama kali mencoba merumuskan sorelam untuk peeshaka. Astaga!

Saya kira saya seringkali menjadi liberal ketika saya harus pragmatis dan berbicara soal sistem politik yang ada sekarang. Tuh kan, justifikasi lagi hehehe (kawan-kawan di fi pasti terkekeh kekeh nih kalau saya curhat soal ini: “tuh kan gue bilang juga apa, mendingan elo gabung sama kita!”). Saya jadi ingat refleksi saya waktu diskusi sama didi soal ideologi. Saya bilang ke didi: where am I? ok, I’ll give an example. I support labor (labour!) movement conducted by my comerads, but what I could really get my hands on was when some of them actually came to me and asked me to lobby the parliament and policy makers on certain policies instead of actually organise the movement in the field." Ada nggak ya “pragmatic leftist”? Hehehe. Ah, malu deh gw sama hantunya Tan Malaka atau yang bikin film dokumenter soal revolusi Bolshevik yang barusan saya tonton.

Makasih ya bung rbt, udah nampar gue! hehehe

2 comments:

Anonymous said...

Kyknya harapan lo terkabul, sehubungan dg para jabang bayi. S Chia bilang ma gw 'pls no more comments mom, you always ruin my performance..". Athar (no 2) selalu insist nyanyi lagu Benyamin doang, dimanapun kapanpun, berani tampil beda konteksnya :p

Soal ideologi, mungkin gak karena memang kita dikondisikan dengan ideologi yang gak solid (Pancasila?) serba ambigu, gak kanan tapi gak kiri juga jadi susah buat warganya untuk mau konsisten berideologi ttt.

ps
I'm an (un)experienced mum but never rejected FP with such excuse :-)
-Enci Ayin

Anonymous said...

Alhamdulillah, Puji Tuhan, :-). Andil loe dan fp pasti sangat besar utk itu.. Seorang kawan pernah curhat, sulit buat dia untuk percaya diri dan "berani", karena dari kecil dia dididik untuk tidak berpendapat dan dipukuli sama bokapnya yg menginginkan dia menjadi "tough man" (dengan cara yg salah). Mudah2an no 1, no. 2, dan no.3 loe itu :-) benar-benar menjadi cerdas, berani, dan berguna untuk orang banyak....