Sebabnya, bisa jadi karena terlalu sombong, merasa diri sudah sempurna. Kalau mencontoh orang lain, dianggap “kalah”. Bisa juga karena ada sekat-sekat tak terlihat yang sudah dibangun. Orang-orang dari barisan sana tidak patut diteladani, sedangkan dari barisan sini pasti sangat patut dicontoh karena sudah mumpuni. Alasan lainnya, sekadar karena memang tidak mau terus menerus belajar dan mencoba untuk menjadi orang yang lebih baik (walau "baik" itu juga relatif, paling tidak yang strategis untuk tujuan hidup).
Apapun sebabnya, saya kira banyak orang di sekitar kita yang sulit untuk bisa rendah hati untuk belajar dari orang-orang di sekitarnya. Kalau dikritik pun menjadi defensif dan agak marah. Memang susah untuk MAU belajar, dari manapun itu. Saya tiba-tiba ingin menulis tentang hal ini karena agak terganggu oleh seorang kawan di dekat saya. Dari dulu saya merasa dia selalu defensif setiap kali saya beri kritik.
Bicara soal rendah hati, tentu tidak mudah. Saya juga mengalami kesulitan itu. Tapi kemudian saya menemukan metode yang saya sebut “menaklukkan diri sendiri”. Entahlah namanya apa, pasti saya juga sebenarnya meniru orang lain, paling tidak dari buku yang pernah saya baca. Semakin lama saya malah semakin suka menekan serendah-rendahnya ego saya dan lama-lama proses ini jadi menyenangkan. Termasuk juga menekan berbagai ketidakmauan dan kemalasan saya. Tentu saja tidak sepenuhnya ini semua sukses. Bibit-bibit takabur, kesombongan, narsisme, dan kemalasan banyak tersebar dalam darah saya hehe... (menulis di Blog bisa jadi adalah bentuk narsisme ;-)) Tapi jadi menyenangkan untuk menekan itu semua (termasuk untuk mengontrol nafsu makan dalam rangka diet :-)).
Nah, bicara soal mau atau tidak mau: suka baca “Parodi”-nya Samuel Mulia di Kompas Minggu? Saya suka. Yang membuat saya suka karena kolom itu seperti cerita biasa. Kolom itu bukan seperti “Asal Usul”, apalagi tajuk rencana. Refleksi ringan saja, tapi kadang jadi menyentil keseharian kita yang begitu mendasar. Hari minggu kemarin, Samuel Mulia bicara soal uang. Katanya:
Uang tak dapat membeli kebahagiaan. Tentu. Karena kebahagiaan bukan kue apem, baju, atau telepon genggam yang ada di butik, toko, pasar, atau mal. Malah menurut IQ jongkok saya, penjual kebahagiaan dan pembelinya adalah saya sendiri.
Saya pernah punya sopir kantor yang punya anak empat, dan sengsara juga karena hasrat seksualnya berlebihan sampai bisa menyimpan istri lebih dari satu. Teman saya yang menganggur saja bisa merokok dan pakai narkoba, dan lalu sengsara.
Jadi, kalau ada orang kaya atau seperti saya yang keturunan pembanting tulang menjadi sengsara, jangan salahkan uangnya, salahkan manusianya. Kontrol ada di tangan manusianya, dan bukan uangnya. Kaya bisa sengsara, miskin ya bisa sengsara. Kaya bisa bahagia, miskin ya bisa bahagia. Jadi, kalau uang tak bisa membeli kebahagiaan, tak punya uang juga sami mawon.
Teman saya pernah menangis dan mengatakan ia sengsara karena cinta. Cinta kok menyengsarakan. Yang bisa membuat dirinya sengsara, ya dirinya sendiri. Uang dan cinta tak pernah salah, tetapi kita acap kali memilih mencari kambing hitam. Karena acap kali kita tak mau dijadikan kambing hitam, cinta dan uanglah yang dijadikan sate kambing.
Ringan kan? Tapi betul banget kan? Kadang kala kita (Kita?? gue kali! Hehe) merumitkan masalah. Nggak bisa konsentrasi menulis lah karena nggak ada ilham, ngaku-ngaku “bandel karena broken home” lah, selingkuh karena suami atau istri dulunya pernah selingkuh juga, dll deh. Kalau kita berada di luar anggapan “normal” menurut society, pasti kita akan mencari justifikasinya. Padahal sebenarnya semuanya tergantung pada diri sendiri. Semua pilihan belaka.
Masalah-masalah so-called “moralitas” adalah karena semakin banyak orang pintar yang bisa mencari justifikasi sedemikian rupa atas segala garis batas yang ditabraknya. Tapi karena itulah, buat saya kemudian ini bukan soal garis batas ataupun “moralitas”. Tapi pilihan masing-masing orang saja. Pilihan sadar dan rasional. Mungkin jadinya yang perlu dicari bukan justifikasi dengan ukuran norma agar ketidaknormalan itu bisa dimaafkan. Melainkan argumentasi dan alasan yang logis. Masalah beberapa orang di sekitar kita tidak mau menerimanya, ya terima saja. Itu konsekuensi atas pilihan.
(Lho, kok jadi ke sini? Udah ah)
No comments:
Post a Comment