Thursday, February 15, 2007

Cengeng

Barusan mbak mh datang. Pak Dan seperti datang lagi. Ada di sini. Di perpustakaan yang didirikan dengan namanya. Duduk bersama kita, murid-muridnya. Saya lihat mata mbak mh merah lagi. Menahan tangis. Terutama waktu cerita soal mimpinya di jam terakhir Pak Dan pergi. Saya juga hampir menangis lagi. Saya cuma malu karena banyak orang di perpustakaan itu.

Sebetulnya dia datang untuk menulis soal buku baru yang diluncurkan dua hari lalu. Tapi kami lantas bicara soal Pak Dan. Karena kami seperti disatukan oleh Pak Dan. Seperti ketika pada suatu senja Pak Dan berbicara dengan dua daniel lainnya di Hotel Mandarin, untuk bicara soal saya, pshk, dan "Partai Daniel" :-) (saya baru tahu cerita ini menjelang dia pergi dari salah satu daniel :-), lalu saya mulai menulis sebuah cerita tentang tiga daniel di sekitar saya itu, namun saya tidak sanggup menyelesaikannya karena saya tidak bisa berhenti menangis).

Pak Dan itu seperti matahari. Yang membuat planet-planet di sekitarnya berkumpul bersama dalam suatu orbit. Tanpa ada yang diplutokan. Orang-orang berkumpul karena six degress kami adalah Pak Dan. Mulai dari gm, dd, ds, nks, tml, ats, abn, hb, mh, sampai "anak-anak" semuda saya, rbt, rga, isa, bk, hk, dll. Semua berkumpul untuk sebuah nama berhuruf tiga: Dan.

Mbak mh bilang, kadang ketika sedang menulis tiba-tiba wajah pak Dan hadir menggantikan layar komputer yang menjadi kabur. Kemudian dia akan menitikkan air mata. Same here. Sama persis. Juga ketika saya punya beberapa pemikiran yang biasanya didiskusikan via email saja ke Pak Dan. Juga waktu saya happy karena abstrak saya diterima untuk LSA symposium lagi. Saya butuh mengirim email ke dia.

Luar biasa bagaimana seseorang bisa begitu berarti buat begitu banyak orang. Hanya dengan memberikan penghargaan-penghargaan kecil dan dorongan-dorongan. Itupun kadang hanya berupa sharing kekesalan atau sekadar bercerita mengenai sepotong cerita dari ribuan cerita yang ada di kepalanya.

Atau dengan menjemput di airport di seattle. Atau memberi uang 30 dolar untuk mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang nggak punya uang di akhir bulan.

Kecil saja yang dia lakukan. Dia hanya memberikan perhatian. Email setakpenting apapun dibalasnya. Pemikiran sesederhana apapun dikomentarinya. Untuk siapapun. Di matanya tidak ada muridnya yang bodoh. Dan semua generasi muda adalah orang yang potensial. Kecil saja. Tapi kami kehilangan itu semua.

Sebelum pergi mbak mh bilang pak dan pasti sekarang ada di sini sedang senyum melihat kita. Saya menanggapi ini dengan tersenyum saja. Entah pada siapa. Saya hanya tahu Pak Dan memang selalu ada buat kita.

No comments: