Wednesday, February 22, 2006

Vanity Fair

Saya pernah menulis di diary saya, mungkin pernah juga di sini (paling tidak waktu saya menulis soal filosofi ornamen cicak di Desa Tomok di Samosir), dan sering saya katakan ke teman-teman: kesombongan buat saya adalah awal “kehancuran”. Sombong dalam arti: gue paling hebat, gue paling pintar, orang-orang harus mencontoh gue, gue teladan, semua orang harus mendengar yang gue katakan. Saya susah payah menjelaskannya ke seorang teman, saya bilang “gue-gue-gue (hehe, nggak jelas banget ya); self-centred.” Tapi saya jadi sadar sebenarnya yang saya maksud adalah “vanity”. Saya baru sadar kata ini karena kemarin saya baru nonton “devil’s advocate” lagi, the devil said “Vanity is my favorite sin”. Sayangnya lagunya tour of duty, padahal seharusnya lagu “simpathy for the devil” lebih cocok, lebih baik lagu ini jadi theme song film ini daripada Interview with the Vampire. Ya gue sih seneng aja, kan dua-duanya rolling stone hehe, walaupun simpathy for the devil di "Interview" dinyanyiin sama GNR.

Mungkin karena tidak ada kata dalam bahasa Indonesia yang cocok untuk menggambarkan “vanity”. Saya percaya vanity itu akarnya dari banyak masalah. Saya bisa saja jadi membual (ah ya, kata ini yang tepat untuk “exaggerating”, bukan “melebih-lebihkan”! Saya memang gemar bahasa) karena vanity, saya bisa membenci orang (iri, sirik) karena mungkin ada orang yang saya anggap mengancam eksistensi atau popularitas saya, saya bisa berhenti belajar atau membuat tulisan yang tidak serius karena saya pikir saya sudah cukup pintar, saya bisa menilai seseorang begitu buruk karena saya pikir perilaku saya yang paling baik, saya bisa terjerumus melakukan hal-hal yang bodoh karena saya terlalu percaya pada pemikiran sendiri tanpa mau melihat apa yang orang lain mungkin pikirkan dan mengevaluasi diri. Ah, banyak sekali buah busuk dari kesombongan/vanity! Dan yang mengkhawatirkan adalah: saya masih punya vanity di dalam diri saya walau saya sudah berusaha menekannya sebisa mungkin. Walau saya berusaha menekannya misalnya dengan tujuan. Saya mau diwawancara di media, saya pikir, karena saya perlu menyampaikan apa yang saya pikir betul. Saya mau dibuat profilnya karena saya pikir profil itu juga media untuk menyampaikan apa yang saya pikir benar. Tapi benarkah begitu? Sempat ada saat-saat di mana saya menikmatinya. Itu vanity muncul, iya kan? Narsistik.

Tapi memang, saya senang kalau saya terpublikasikan hanya karena saya tahu papa dan mama bisa bangga. Hanya kebanggaan itu yang bisa saya berikan ke mereka. Saya semakin menyadari bahwa seorang anak tidak akan pernah bisa membalas apa yang diberikan orang tuanya kepadanya. Persis seperti yang saya sampaikan ke Wiwid waktu ayahnya meninggal. Buat ayah kamu bangga Wid, karena apa yang mereka berikan kepada kita memang tidak akan pernah bisa kita balas. Cinta saya ke mereka sangat, sangat, besar. Mungkin lebih besar dari yang mereka pikirkan. Tapi semuanya tidak akan bisa diekspresikan dengan kata, apalagi materi. Hanya kebanggaan yang bisa saya berikan. Saya hanya khawatir cinta saya yang sedemikan besar dan motivasi saya itu membuat saya akan kehilangan motivasi ketika mereka tidak ada lagi. People die. Tidak terelakkan. Makanya saya selalu kepingin saya mati muda, lebih dulu dari mereka. Supaya saya tidak merasakan kehilangan yang amat sangat. Egois banget. Tapi katanya “only the good die young”, seperti Cak Munir, Soe Hok Gie. And I’m not “the good”, so I guess I will not die young? :-)

Kembali ke soal kesombongan. Mudah-mudahan dengan menulis ini saya semakin mengevaluasi besaran vanity yang saya miliki. Saya agak kaget waktu teman-teman penggiat LoGA ada yang merasa terancam oleh kemunculan saya di media secara tidak terduga gara-gara berkunjung ke sarang banteng. Guys, I do not need and I did not expect that publicity. You can take that. I only want to work. That is all. Nothing more. Yes, I want to be known by MPs, but that is for lobbying purposes. I do not want to be an NGO celebrity, believe me, that is the least thing I want. Exactly because I know that the publicity could fertilize the tendency of vanity in me.

2 comments:

Unknown said...

heavy stuff... can't comment much :-(
but GNR did Sympathy for the Devil in Interview with the Vampire, not Dracula.

Vanity, is the quicksand of reason... some French guy said that.

Bivitri Susanti said...

yep. You're right. Maklum nulisnya pagi2 tuh udah ngantuk males nggali otak. Kan memory otka gw keciiil..... :-). Thanks. Gw ganti yak