Saya sedang sibuk luar biasa. Siang-malam, pagi-sore, pertemuan, nulis, telepon, email, sms. Tapi saya senang bukan kepalang. Sudah sempat curhat dengan dafi dan rival, dan juga frank. Ini soal LoGA. Passion saya untuk advokasi dan memikirkan Aceh sudah hampir sama tingkatnya dengan ketika saya advokasi amandemen konstitusi. Happy banget. Entah kenapa. Mungkin karena saya juga belajar banyak dari sini. Saya merasa saya belajar makin dalam soal analisis-analisis politik. Membaca situasi politik. Banyak belajar dari senior-senior saya. Ketemu banyak orang. Kalau ada tuduhan ini karena kedekatan saya dengan orang-orang GAM, SIRA, AMM, atau politisi ajaib-ajaib di DPR, sebenarnya enggak. It’s more than that. Frank bilang mungkin karena ini seperti menciptakan sebuah bangunan baru, persis seperti amandemen, makanya tingkatan semangat saya hampir sama dengan waktu 2000-2001 advokasi konstitusi baru. Ya mungkin. Tapi bukan hanya itu. Mungkin karena saya belajar banyak sekali.
Mungkin suatu saat nanti saya kepingin jadi lobbyist. Karena saya begitu enjoy dengan kerja-kerja ini dan mulai kreatif, walau masih harus terus belajar mengasahnya. Tapi itu bisa berarti memperjuangkan sesuatu yang tidak saya percayai karena saya dibayar :-)
Anyway, back to LoGA. LoGa akan menciptakan ruang-ruang politik baru di Aceh. Tadi pagi saya ketemu dengan delegasi dari EU untuk election monitoring di Aceh. Diskusinya menarik sekali. Karena saya bisa bebas mengemukakan segala analisis politik saya soal LoGA dan ruang-ruang politik yang akan terbangun darinya. Bagus karena konsultannya bermutu, tidak seperti beberapa konsultan asing yang dibayar mahal tapi tidak tahu apa-apa soal Indonesia dan bertanya soal hal-hal mendasar dan mencatat semua omongan saya dan make money out of it.
LoGA juga menarik bukan hanya karena situasi politiknya yang menarik. Tapi juga society-nya yang unik. Saya benci sekali hipokrit-hipokrit pendukung syariat Islam yang suka maksiat dan korupsi. Tapi mereka sangat unik. Tapi memang saya tertarik sekali dengan sejarah dan kondisi societies di banyak tempat di Indonesia. Seperti catatan-catatan saya soal ternate, kupang, tual, dan lain-lain. Saya hanya kurang belajar dan baca buku.
Tadi siang saya, mas Lili, mas Chalid, dan Agung pergi ke tempat “banteng bobo” :). Si “ibu” datang. Baru sekali loh gue ketemu dia langsung. Gila ya tu orang, bahasa yang dipakainya begitu luar biasa… anak-anak saya… bapak saya yang presiden republik Indonesia pertama.. LoL. Diskusi tadi menarik sekali. Saya agak keras, tapi kita berempat keras semua. Untunglah kita datang, kalau tidak itu akan jadi seperti rapat fraksi :-). Saya cukup yakin setelah itu PSHK tidak akan diundang lagi ke sana hahaha.. biarlah, I must say what I want to say – I must state what I believe. Budiman ada. Dulu saya agak kagum sama dia karena keyakinannya dan karena tulisan-tulisannya. Kemudian saya ragu karena keputusannya untuk menjadi banteng juga. Tapi tadi saya jadi makin ragu.
Dalam pertemuan tadi, dalam interaksi saya yang sedang mendalam dengan fraksi-fraksi dan partai-partai, saya jadi semakin banyak berpikir. Soal partai politik. Soal penumbuhan ideologi, soal ketaatan pada partai, soal membangun strategi politik. Saya dari dulu merasa saya tidak akan bisa masuk ke partai politik. Tapi saya di sisi lainnya percaya bahwa memang perjuangan politik yang paling konkrit adalah lewat partai. Sama seperti yang Pak Dan katakan beberapa kali dalam diskusi. Sama dengan diskusi saya dengan Rbt dkk waktu di Inggris. Ya saya sepakat. Mesti ada pemihakan politik yang jelas, sama seperti waktu Cak Munir alm memilih mendukung Amien Rais, di saat beberapa teman kecewa, saya malah salut karena saya meyakini hal yang sama. Saya percaya soal partai politik sebagai saluran perjuangan politik yang paling konkrit, tapi di saat yang sama saya yakin bahwa saya (yang sekarang paling tidak) bukanlah orang yang bisa masuk ke wilayah itu. Saya masih cinta independensi. Tapi benarkah tidak ada independensi dalam partai politik? Mungkin saya melihat contoh-contoh yang salah. Well.. si banteng bobo pastinya adalah contoh yang buruk hehehe. Mungkin yang paling penting adalah kepercayaan akan sesuatu, ideologis mungkin, kemudian membangunnya bersama. Mungkin persis seperti membangun sebuah organisasi seperti PSHK. Tapi toh partai politik nature-nya memang berbeda. Sebab dia berjuang dalam institusi-institusi politik yang konkrit, dia berjuang untuk kekuasaan-kekuasaan politik yang konkrit, bukan sekadar ide. Ide dipercaya bisa diwujudkan melalui institusi politik itu, makanya memang lebih efektif. Tapi karena itu di saat yang bersamaan dunia itu menjadi sangat “kasar” karena dia berurusan dengan kekuasaan yang konkrit. Kekuasaan memang begitu menggoda. Apakah saya suka kekuasaan? Entahlah. Rasanya tidak. Ini terdengar “sok” sekali. Entahlah, saya tidak mau mengklaim. Mungkin saya akan berubah. People do change. Tapi saya kadang bingung melihat bagaimana soal kekuasaan begitu merasuki pikiran sebagian orang. Sama seperti saya “eneg” sekali waktu ngobrol dengan salah seorang pejabat kecil di Kendari mengenai perasaan senangnya ketika dihormati. Sangat menarik.
Ya ya begitu banyak yang menarik dalam hidup saya belakangan ini. Salah. Banyak yang menarik dari seluruh hidup saya. Dan saya harus terus membuatnya menarik. Yang jelas, mengamati, membuat kesimpulan, dan berpikir mengenainya, adalah hal yang membuat hidup jadi lebih menarik. Saya bahagia dan bersyukur saya bisa berpikir, mendengar, melihat, membaca, berbicara, berjalan, mempunyai rasa. Saya mensyukuri segala hal kecil dalam hidup saya.
No comments:
Post a Comment