Wednesday, February 22, 2006
Supir Taksi
Yang selalu membuat saya senang naik taksi adalah obrolan dengan supir taksi (walau saya selalu naik taksi sebagian besar sebenarnya karena saya sudah tidak mau menghadapi stress mengemudi di Jakarta yang macet, hanya menambah satu persoalan lagi dalam hidup yang sudah rumit). Semuanya selalu ingin saya tuliskan tapi saya seringkali keburu lupa. Tapi kali ini saya masih ingat obrolan tadi sore, waktu mau rapat LoGA di YAPPIKA. Dia cerita banyak sekali, mulai dari soal macet di Jakarta, sampai hukuman mati. Macet di Jakarta, menurut dia terjadi karena kebijakan pemerintah yang kacau. Juga soal sampah, tidak ada tempat sampah, sampah plastik yang tidak bisa hancur puluhan tahun, banjir. DPR naik gaji, padahal banyak orang nggak bisa makan. Hukum yang sangat tidak adil, menurut dia kok bisa ada orang yang memperkosa ibu hamil, terus membunuhnya kok dihukum cuma 20 tahun? Menurut dia seharusnya yang membunuh harus dihukum mati. Semuanya buat dia persoalan aparat penegak hukum. Dia benci sekali sama polisi, dua anak perempuannya sudah diwanti-wanti untuk tidak pacaran sama polisi :-).
Yang paling saya ingat adalah pernyataan dia mengenai orang miskin yang semakin miskin. Saya sangat tersentuh karena saya merasa dia sangat empowered dalam caranya sendiri. Banyak orang yang menyatakan ini termasuk saya sendiri, juga dalam rapat tadi pagi di INFID, tapi kesimpulan dan kalimat yang dia gunakan sangat sederhana dan riil.
“Sekarang udah nggak ada lagi ya mbak cerita mengenai anak tukang sate yang jadi insinyur. Anak tukang sate ya tetep jadi tukang sate. Lha orang bapaknya nggak bisa bayar sekolah untuk anaknya! Waktu saya muda dulu kayaknya ada tuh cerita anak orang miskin yang jadi kaya karena pinter. Sekarang sih mana bisa? Bayar sekolah aja nggak bisa!”
“Maksud bapak, yang miskin tetep miskin ya pak?
“Iya mbak, gimana mau sekolah? Makan aja susah! Udah gitu bayar sekolah juga makin mahal”
Pernah juga saya dapat supir taksi yang anaknya hampir lulus di FEUI tapi duitnya kurang untuk bayaran kuliah, hanya kurang 500ribu, karena dia sudah didispensasi banyak sekali sama fakultas dan dibantu sama beberapa orang. Saya suruh anaknya melamar ke PSHK. Cuma itu yang bisa saya perbuat sementara ini. Entahlah ditindaklanjuti atau tidak.
Lain waktu saya dengar cerita supir taksi kekesalan dia karena kelompok-kelompok Islam di kampungnya terlalu menguasai forum. Yang non-Islam disingkirkan, dia bilang. Kadang saya juga dapat cerita soal potensi PHK, langsung saya suruh ke LBH :-). Menarik sekali. Ah jangan jauh-jauh, kadang saya kangen dengar cerita Pak Saiman soal si Eka, si Iqbal, dan Si Tri, anak-anaknya. Atau cerita Ole dan Malik soal anak mereka yang lucu-lucu, sambil menunjukkan foto-foto di cellphone-nya, gaya deh :-). Mereka semua manusia-manusia yang bisa membuat hidup saya jadi punya tujuan.
No comments:
Post a Comment