Thursday, February 02, 2006

An Island with a Lake, in a Lake in an Island in a Big Lake

Hayo tebak, di manakah itu “An Island with a Lake, in a Lake in an Island in a Big Lake”?

Saya pergi ke sana, baru pulang kemarin sore. Itu pulau Samosir. Menarik sekali. Niatnya sih jalan-jalan sama ff. Tapi toh akhirnya kerja juga. Biasa lah. Saya di sana malah ketemu sama orang-orang amm, akhirnya jadi ngomongin mister loga-loga lagi… dan malam-malam dapat beberapa telepon soal respon kelompok hutan terhadap RUU ini. Paginya pun ada telepon dari Pak eska untuk breakfast meeting dan juga dari Bang fh yang minta bahan kajian dan banyak telepon dan sms soal kerjaan. Akhirnya saya harus mengetik beberapa email dan membuat catatan ringkas di laptop saya selama di ferry menuju Parapat dan mengirimnya dengan GPRS. Sambil komunikasi sama orang-orang kantor untuk persiapan ruu aceh dan cawahu. Luar biasa. Maksud saya, FF yang luar biasa. Mau memahami hidup saya yang seperti ini. Mungkin kalau saya pergi bulan madu, saya harus kubur ponsel saya dan beri nisan dengan tanda “Here lies the extraordinary gadget in my life - It changed my perspectives on some things, it shortens time and space in my life. I do not hate it, in fact I love it, but it has to spare me a little bit. I will dig this grave again and get it back”.

Pulau ini damai sekali. Saya jadi berpikir kalau saya mau ambil sabbatical leave dan menulis, saya akan menulis di sini. Tapi yang jadi membuat saya berpikir ada dua. Pertama, waktu kita mengunjungi Desa Tomok dan Desa Siallagan. Di Siallagan ada batu peradilan dan tempat memancung kepala orang. Setelah ‘diadili’ di meja rapat di bawah pohon besar, musuh akan disiksa di hadapan para raja lain yang diundang sampai penonton senang dan berteriak “horas” tiga kali. Setelah itu kepalanya akan diletakkan di batu yang bentuknya seperti bagian bawah guillotine lantas kepalanya dipenggal. Darahnya diminum oleh para raja (kecuali raja Tomok yang hanya mengusapkan darah di wajahnya) dan hati dan jantungnya dimakan. Kepalanya dipajang di pohon dan diletakkan di pinggir danau sebagai peringatan bagi musuh lainnya. Ngeri membayangkan kebiadaban itu, but what is ‘barbaric’ anyway? Waktu Nommensen datang, tradisi itu dihilangkan. Baru sekitar lebih dari seratus tahun lalu! Tapi si story teller menerangkan, mereka bukan kanibal. Jantung dan hati dimakan lebih untuk menunjukkan pembalasan dendam, bukan menikmati rasa jantung dan hati manusia lainnya. Betul nggak? Nggak tau ya… :-)

Di Tomok lain lagi. Story teller-nya menarik sekali gayanya. Saya kepingin juga jadi story teller mungkin nanti paling tidak buat anak saya deh :-). Asal kata desa Tomok itu adalah Mok Mok, artinya kira-kira, gemuk, montok mungkin. Karena katanya orang-orang di sana gemuk-gemuk. Sehingga yang jadi ukuran kecantikan adalah ukuran tubuh yang gemuk. Di sana marganya Sidabutar. Di makam Raja yang pertama dan kedua, ada ornamen seorang laki-laki berpeci. Unik. Karena mereka sebenarnya menganut animisme. Ternyata dia adalah seorang perantau dari Aceh yang sudah memeluk agama Islam dan ingin belajar di Tomok. Dia banyak bertukar pikiran, termasuk mempengaruhi soal apa yang haram dan apa yang tidak. Karena itu (agaknya) Raja Tomok tidak meminum darah musuh, dan hanya diusapkan di wajahnya. Si Tengku ini jadi dekat sekali dengan raja Tomok, dan menjadi ahli strategi perang di situ. Makanya patungnya dibuatkan secara khusus.

Ada banyak lambang empat payudara. Lucu ya. Katanya itu melambangkan kesuburan. Selain payudara perempuan berjumlah empat, ada banyak ukiran cicak di ornamennya. Saya kebetulan penggemar cicak dan tokek – gecko. Filosofinya, karena cicak bisa hidup di mana-mana, di langit-langit, 90 derajat di tembok/pohon, apalagi di lantai. Dan cicak tidak bisa sombong, dalam arti bertepuk tangan, karena ketika bertepuk tangan di langit-langit, dia akan jatuh. Pas banget. Saya selalu kuatir saya menjadi orang sombong.

Saya jadi berpikir soal para misionaris seperti Nommensen dan juga Tengku yang menjadi sahabat Raja Tomok Kedua itu. Para misionaris itu luar biasa. Di masa lalu, tanpa ada bahasa internasional yang bisa membuka jembatan komunikasi dia dengan penduduk setempat, dengan tantangan yang luar biasa, para misionaris itu datang ke tempat yang sangat jauh untuk ukuran jaman itu, sangat terpencil dengan kemungkinan dibunuh karena membawa ajaran yang baru dan asing. Sebagian sukses, walau menjadi martir seperti Nommensen. Sebagian mati dan gagal. Tapi mereka begitu luar biasa dengan kepercayaan pada Tuhan dan agamanya untuk menghadapi tantangan itu. Seperti juga cerita pendeta di Nias yang mengubah kehidupan di sana. Di Papua, dan di banyak tempat lainnya. Agak berbeda dengan pola-pola penyebarluasan agama lain (Islam?) yang lebih kepada proses asimilasi melalui niaga dan budaya. Ceritanya yang agak serupa pada masa kini adalah Pendeta Ardy yang mau saya kunjungi di Rote.

Kedua, saya diperkenalkan oleh Tante Boss kepada kawan-kawannya yang sangat menarik. Ada Kak Kikuk (ff senang sekali dengan nama ini) dan keluarganya dan juga Nina. Mereka sangat mengesankan dengan independensi mereka dan kehidupan mereka. Sama seperti Tante Boss. Berkaca pada orang-orang seperti mereka lah yang membuat saya percaya akan kekuatan perempuan yang luar biasa untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri dan untuk independensi yang dipilihnya. Saya juga pernah punya pemikiran seperti itu. Namun kemudian saya jadi agak ‘menceng’ (ini istilah baru di peeshaka gara-gara tukang parkir batak di Lippo karawaci). Akhirnya buat saya ini soal pilihan, seperti banyak pilihan lainnya dalam hidup manusia. Bukan soal kalah atau menang atas konstruksi-konstruksi sosial. Tidak ada kalah atau menang, bahkan. Ini soal bagaimana hidup ini mau dijalani oleh manusia sebagai makhluk sosial. Adanya pilihan-pilihan yang bisa dipilih secara bebas adalah independensi itu sendiri. Saya sudah yakin bahwa saya memilikinya. Dan saya sudah memilih secara independen untuk mengambil jalan sebelah sini.

Saya jadi bicara panjang lebar dengan ff soal pemikiran saya soal cinta dan perkawinan. Soal Treespotter dan Funny Guy yang bilang saya ‘dingin’ dengan segala pemikiran saya soal cinta dan perkawinan. Menurut dia saya terlalu tegang dengan bagian-bagian dari hidup saya yang kelihatan ‘tidak rasional’ (mungkin sama dengan ketegangan saya soal agama?) dan berusaha merasionalkannya. Pemahaman saya akan cinta yang kontekstual juga buat dia bagian dari upaya rasionalisasi saya yang berlebihan. Akibatnya, pemahaman yang seperti ini akan membuat saya punya justifikasi untuk berpaling, sebab berbeda konteks berbeda rasa. Buat dia masa itu sudah selesai. Buat dia bagian ini memang harus dipisahkan dari kehidupan yang umum. Seperti kotak sendiri. Cluster sendiri. Ya tapi toh pilihan saya untuk menikah juga karena saya mau punya kotak itu, saya mau punya ‘rumah’, ‘ruang’ untuk pulang, a home.

Anyway, menariknya lagi, selama di Tuk Tuk dan di desa Tomok itu, saya selalu disapa perempuan-perempuan di sana “Kakak ini dari mana? Kakak cantik sekali”. Tadinya saya agak GR, tapi setelah cerita Mok Mok itu, saya jadi sadar, mungkin itu karena saya memang ‘agak’ gemuk! hahaha

No comments: