Salah satu hal yang menarik dari pengalaman saya tinggal di Hanoi adalah pengalaman bergaul dengan “ibu-ibu.”Tanpa maksud mengecilkan ataupun membesarkan kata "ibu-ibu".
Saya sesungguhnya belum pernah benar-benar jadi “ibu-ibu.” Saya memang ibunya si melati, tapi yang saya maksud “ibu-ibu” sebenarnya bukan status dan bukan pula label biologis. Yang saya maksud sebenarnya para stay-at-home mums. Ibu-ibu yang memilih dan (yang terpenting) bisa memilih untuk bekerja melayani keluarga secara penuh waktu di rumah.
Di Hanoi saya banyak bergaul dengan ibu-ibu ini. Masalahnya dalam konteks saya ada dua. Pertama, saya sebenarnya tidak sepenuhnya stay-at-home mum, karena saya sebenarnya bekerja di rumah. I do have a home-office. Kedua, sedari kecil saya sesungguhnya punya keengganan luar biasa terhadap aktivitas “ngerumpi”: ngobrol ngalor ngidul tanpa tujuan dan terlalu lama. Kalaupun saya suka hang out, bisa jadi itu untuk tujuan kerja (networking) atau have fun misalnya dulu jaman2 clubbing dan "mabu’-mabu’an" :-P that’s my kind of fun :-). Tapi kalo cuma duduk, ngerujak, makan bakso, atau ngopi sambil ngegosipin si anu dan si itu, dari dulu saya paling nggak suka. Saya nggak suka gosipin orang, seriously! I do judge people, I actually think it’s rather inevitable :-P, but I just don’t like gossiping, kecuali mungkin gosip politik :-P.
Waktu awal di Hanoi, saya mendeskripsikan pertemanan ini ke Bas dengan bilang begini: saya nggak mau bilang saya lebih baik dari mereka atau mereka kurang dari saya, tapi mereka punya dunia yang sama sekali berbeda. Saya seringkali merindukan obrolan politik ngalor ngidul atau obrolan loncat2 namun bernas :-P seperti yang biasa kami lakukan di “smoking room” kantor dengan treespotter, rga, dll. Saya juga merindukan diskusi-diskusi dengan kritik tajam dan lontaran teori-teori atau buku baru yang kadang membuat saya ternganga-nganga. Tapi, sekali lagi, saya bukannya mengatakan mereka lebih rendah dari saya. Saya hanya berbeda dengan mereka. Bahkan mungkin: saya sangat membosankan bagi mereka.
Saya ada di wilayah nyaman saya cukup lama. Lebih dari 10 tahun. Barangkali totalnya bahkan sejak saya kuliah. Karena sejak kuliah sampai kerja, area kerja dan jaringan pertemanannya nyaris sama. Sempat pergi ke Inggris setahun. Tapi kemudian kembali ke wilayah nyaman, bahkan semakin mendalam. Waktu pergi ke Seattle, banyak yang berubah total. Tapi kehidupan sosial masih serupa, meski tak sama. Ada kelompok teman ibu-ibu, tetapi kebanyakan dari mereka juga kerja. Bukan tipe suka kongkow2 di hari kerja atau minum kopi lama-lama.
Yang di Hanoi ini berbeda. Dan unik. Karena ini Hanoi, daerah yang tak terlalu biasa untuk ditinggali dengan sukarela oleh pendatang seperti halnya Seattle. Yang tinggal di sini biasanya buat kerja. Sehingga ibu-ibu yang doyan kumpul bersama adalah mereka yang ikut suami kerja. Seperti saya sebenarnya, yang juga “ikut suami,” bedanya: saya juga kerja, meski tak berbayar. Banyak di antara ibu-ibu ini suaminya bukan orang Indonesia. Dan, barangkali kebetulan, atau mungkin juga tidak, banyak di antara para suami mereka yang posisinya cukup tinggi. Mungkin bukan kebetulan, bisa jadi karena biasanya ekspatriat di banyak negara memang diposisikan menduduki jabatan yang tinggi, sementara staf dialokasikan untuk orang “lokal.” Kan serupa dengan di Indonesia.
Bedanya dengan ibu-ibu di Indonesia, kami di sini adalah ekspatriat. Kami sesungguhnya ada di dalam kepompong yang terlindungi dari hiruk pikuk dunia sekitar. Dan juga tidak ada keluarga yang harus dikunjungi, kawan lama yang harus disambangi, dan reuni yang harus dihadiri. Kami hidup dengan “standar ekspatriat.” Di Hanoi, ini punya arti signifikan. Dan ini artinya kami ada di tingkat masyarakat kelas atas. Langsung lompat kelas. Kalau di Indonesia orang seperti saya, misalnya, ada di tingkat menengah, di sini saya ada di tingkat atas. Status kami bisa dipersamakan dengan kelompok orang-orang di sini yang mengendarai Bentley atau Porsche. Ini artinya pejabat partai dan pebisnis yang dekat dengan partai, yang sangat jamak punya mobil supermewah. Kenaikan tingkat sosial karena status ekspatriat.
Pembicaraan kami berisi: sudah ada ikan barramundi fillet yang pakai kulit di toko organic dekat rumah, harga baju-baju di Chula (sumpah ini butik keren banget!) di atas 200 dolar, gimana caranya nitip bikin tempe sama ibu yang di KBRI, kenapa sekolah di UNIS (United Nations International School) libur terus dan ke mana anak-anak kelas 8 akan camping. Saya menikmati untuk mengobservasi dan berefleksi dari mereka. Tapi seringkali nggak tahan dengan pembicaraan-pembicaraan dan kosa kata yang beredar. Sekali lagi, bukannya saya merasa lebih pintar, kami hanya berbeda (pasti mereka juga bosan sekali kalau kumpul dengan orang-orang sejenis saya).
Yang juga menarik adalah konflik-konflik yang timbul dan kegagalan saya untuk memahami kenapa konflik2 itu mesti ada :-). Saya sampai hampir semalaman nggak tidur cuma untuk mencoba memahami kenapa soal nonton bola RI-Vietnam yang nggak diatur oleh KBRI sehingga keluarganya terjebak di tengah supporter Vietnam membuat seorang ibu marah luar biasa. Sampai tulis status di BBM, di facebook, dan kirim email ke bu Dubes. Nah :-). Saya mencoba memahami karena saya diminta bantuan menjadi penengah untuk menulis email dengan bahasa yang sopan. Saya pusing menulis email yang seperti apa, karena buat saya it was totally not a big deal! :-). Atau soal ketua arisan yang diambil alih. Atau soal ibu dubes yang mau mengatur UNIS spring fair. Atau hal-hal lainnya. Bukannya saya mengecilkan semua hal itu, tapi alam semesta/kosmik/habitat kami ternyata memang berbeda. Tentu saja itu juga penting, dalam kosmik ibu tersebut.
Jadi justru di sinilah saya mulai paham dengan konsep “ibu-ibu”, paling kurang yang ada di kepala saya. Ibu-ibu yang suka arisan, suka kumpul makan-makan, dan suka belanja sama-sama. Di sini juga saya mulai paham kenapa ada ibu-ibu “sosialita.” Ini sungguhan. Dan saya baru sadar tentang adanya kelompok ini. I was a total alien, oh well a total dorky, actually. Ini kehidupan yang sama sekali berbeda dengan saya. Di Jakarta saya cuma kenal hidup yang beritme cepat, produktif, dan penuh. Sesekali diselingi acara perkawanan dan jalan-jalan. Tapi saya nyaris tidak bersentuhan dengan dunia “ibu-ibu”, apalagi selagi di sana saya belum punya anak. Jembatan ke dunia itu belum terentang. Kemudian di Seattle saya dipaksa beradaptasi dengan hidup yang beritme lambat, penuh teori dan apresiasi. Hanya di sini saya mengalami lompatan dimensi yang cukup signifikan. Saya takjub betul. Dan saya jadi mulai membacai berita-berita tentang sosialita di tanah air (makanya waktu awal di Hanoi saya sempat menulis soal sosialita :-)), dan mulai bisa menerima bahwa semua itu memang riil :-). Hidup saya dulu rupanya terlalu sempit di menara gading dan di seputar Senayan :-).
Kadang saya pusing. Karena tak biasa harus berpikir soal baju apa yang mau dipakai untuk arisan atau apakah saya mau menukar waktu untuk membaca setengah buku untuk ngopi-ngopi dengan ibu-ibu.
I love them though. They taught me about life in ways they probably will never realise. I probably was never on earth. From them I learn more about appreciation towards different "universe" eventhough it is not about the universe that I would fight for, but they made me realised more and more about the reality.
No comments:
Post a Comment