Tuesday, July 02, 2013

Bukan Cantik, Pink, dan Putri

Pada suatu Minggu sore yang pas untuk bermalasan. Melati berlari kecil menghampiri saya, menjinjing kantong plastik mini, “Mama, karena kamu cantik, aku kasih kamu hadiah.” Kaget. Terdiam sejenak. Pelan-pelan menutup buku yang tengah saya baca, sembari memilih respons yang tepat: melati tengah mengajak saya masuk ke dunia khayalnya; pernyataannya tidak tepat tapi saya tidak bisa begitu saja mengajaknya keluar dari dunia khayalnya dan menceramahinya. Jawab saya, “Terima kasih sayang, tapi mama nggak mau ah kalau dikasih hadiah karena cantik, mama maunya dikasih hadiah karena pintar. Soalnya pintar itu lebih penting lho daripada cantik.” Kalimat kedua mungkin nggak punya efek ke dia :-), tapi saya merasa perlu menambahkannya :-). 

Semakin lama rasanya semakin susah membendung konstruksi sosial (social construct) yang diterima anak-anak. Mulai dari soal gender, kemiskinan, difabilitas, dan banyak persoalan sosial lainnya. Banyak sekali konstruksi sosial yang ingin saya bongkar sedari awal untuk melati. Proyek ambisius kedengarannya. Tapi harus dilakukan.

Soal gender adalah yang paling sulit karena paling dekat dengan keseharian kita. Melati terlalu sering dipuji karena cantik. Terima kasih, bukannya saya sendiri tak mengagumi kecantikannya (ehem!), tapi saya mau dia menginternalisasi, otak adalah kualitas yang lebih penting dari fisik. Saya sendiri tak luput dari kesalahan. Waktu melati masih bayi-toddler, saya sering memanggilnya “anak cantik” dengan kegemasan standar emak-emak. Atau kadang keluar pujian spontan setelah membelikan baju perempuan yang lucu-lucu. Untunglah saya segera sadar, konstruksi sosial dinamakan “sosial” justru karena terbentuk dari pergaulan dan percakapan spontan sehari-hari. Nasehat dan bla bla bla dan sesi sharing-sebelum-tidur, nggak akan bisa dengan mudah mengubah konstruksi sosial yang terbentuk. Dan “serangan” makin lama makin kuat. Cerita di atas adalah salah satu pertanda adanya “serangan” yang telah terjadi :-). Pasti ada yang bilang ke melati, entah siapa, dia dikasih hadiah (coklat, es krim dll) karena cantik.

Tentu saja tidak salah menjadi cantik. Tapi banyak anak perempuan yang jadi lebih menghargai aspek fisik daripada kecerdasan karena begitu banyak orang yang lebih tertarik untuk mengomentari kecantikan daripada kepintaran. Bagi anak perempuan, bentuk ice-breaking yang paling sering terdengar adalah: “baju kamu cantik banget. Beli di mana, nak? Mama yang beliin ya?” Bukan: “kamu udah bisa apa sekarang? Coba hitung nih.” [Ini nyata, saya agak kaget juga ketika seorang anak lelaki kecil yang seumur melati dan duduk persis di sebelah melati diajak menghitung 5 jari oleh seorang tante. Tapi tidak untuk melati. Melati disapa dan dipuji karena “cantik banget” dan “permennya lucu”. Padahal melati sudah bisa menghitung sampai 110 dalam bahasa Inggris dan sampai 30 dalam bahasa Indonesia dan Jerman, tante]

Bukan berarti melati harus menjadi anak cerdas. Ini soal cara pandang tentang apa yang dianggap penting. Kalau anak perempuan didorong untuk berbicara soal film-film tentang putri dan perkawinan dengan pangeran tampan, bagaimana bisa berharap anak perempuan nanti lebih peduli ke sekolah pakai lip gloss yang mana ketimbang sudah baca buku apa. Kalau ini ditanamkan sejak kecil, jangan salahkan pubertas yang makin sulit untuk anak perempuan. Kepercayaan akan diri sendiri jadi bertumpu pada kondisi fisik. Saya mengalaminya dulu. Saat-saat yang tak mudah sewaktu masa puber saya juga dihiasi oleh kekecewaan karena saya “tidak putih” dan “tidak cantik.” Tidak soal NEM saya tinggi atau juara kelas. Yang jadi soal dalam kosmik saya waktu itu adalah kulit saya yang hitam dan jerawat saya yang banyak. Ini nyata.

Bukan cuma soal cantik versus cerdas. Peran perempuan juga bisa jadi titik serangan. Dapur bukan cuma urusan perempuan dan “kerja” bukan cuma urusan lelaki. Bagi saya dan FF ini cenderung mudah. Karena FF hobi memasak dan rajin mencuci piring. Sedangkan saya pada dasarnya …well..simply pemalas :-). Tapi pembagian peran ini langsung terasa bahkan ketika kita masuk ke toko mainan. Sadar nggak? Saya dan FF suka iseng mengamati bagaimana toko2 mainan, di Jakarta, Hanoi, bahkan Toys R Us di AS dan Singapura, menyusun mainan untuk anak perempuan dan laki-laki. Setrikaan, mainan kereta dorong bayi dan bayinya, bahkan salon2an untuk anak perempuan; dan lego, blok, mobil-mobilan untuk anak laki-laki. Bukan soal menyusunnya, karena persoalan grouping untuk display pasti ada :-), tapi soal labeling-nya: girls’ toys and boys’ toys. Juga di toko baju: pink untuk perempuan dan biru untuk laki-laki. Sejak bayi! Saya sempat "diingatkan" penjaga toko waktu mau membelikan baju biru untuk melati waktu itu: “loh bu, katanya anak ibu perempuan? itu untuk anak laki2.” Saya jawab, “ini warna favorit saya mbak,” sambil senyum manis. Tapi akibatnya lumayan nggak seru. Berbaju biru, hijau, atau coklat (pokoknya bukan pink), botak, nggak pake perhiasan, dan tanpa tindikan pada daun telinganya, bayi melati kerap disangka anak laki-laki :-).

Masih banyak “perbedaan” yang tak mudah untuk dijelaskan. Dan makin lama makin berkembang, seiring dengan masuknya anak ke dunia sosial. Misalnya soal-soal seperti kemiskinan dan difabilitas. Nggak mudah untuk menjelaskan kepada melati tentang pengemis kecil yang mengetuk pintu taksi kami. “Kenapa dia minta uang ke kita?” “karena dia nggak punya uang.” “kok dia nggak punya uang?” dst dst. Tantangannya, ada catatan penting bahwa kemiskinan adalah persoalan sosial dan bukan soal kemalasan semata, tapi tentu saja value soal “rajin bekerja dan berusaha” juga harus disampaikan.

Kenapa ada orang yang nggak punya tangan atau nggak bisa jalan juga perlu dijelaskan dengan hati-hati. Juga mengenai teman sekolahnya dan anak tante Dewi yang memiliki down syndrome. Begitu juga dengan perbedaan warna kulit dan agama. Buat saya yang tumbuh di society yang relatif berwarna kulit sama dan beragama sama, tantangannya baru terasa ketika saya terekspos pada dunia “luar”. Dan saya kira banyak orang di sekitar saya yang “kaget” atau gagap pada titik ini. Seperti pernah saya tulis di blog ini juga: ada yang menerimanya dengan tangan terlalu terbuka atau “takut” pada perbedaan sehingga melawannya sekuat tenaga dan berujung pada fanatisme.

Dalam konteks ini melati beruntung. Sejak dini dia sudah biasa melihat ras yang berbeda (bahkan pada kami! :-)) dan kultur kepercayaan yang berbeda. Di Hanoi dia juga sudah melihat banyak perbedaan. Sahabat kentalnya saja satu anak Israel bermata biru dari keluarga Yahudi konservatif dan satu anak Jepang dari keluarga Jepang yang sangat modern. Tidak terlalu banyak kawan dari Afrika, tapi ada beberapa. Melati merayakan natal sebagai kultur, sebagaimana ia merayakan Idul Fitri.

Kita memang tidak bisa mengubah dunia. Kita tidak bisa marah pada para tante, om, mbak, dan mas, bahkan aki dan nini yang tanpa sadar memasukkan nilai-nilai pada anak. Tapi kita bisa membongkarnya di rumah. Dengan percakapan, dengan sikap kita sendiri terhadap anak. Melalui obrolan, permainan, dll. Dan barangkali sedikit banyak kita perlu mendidik juga secara halus orang-orang di sekitar kita untuk memahami cara pandang ini. Ini PR yang menantang luar biasa. Tapi saya menikmati proses ini. Ini seperti laboratorium kecil tentang dekonstruksi dan pembelajaran tentang keberagaman. Kita sama-sama belajar, melatiku.

No comments: